A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 61 : The King of Beastman



Menengok ke kiri dan ke kanan, terlihat deretan rumah adat yang terbuat dari kayu serta beratapkan jerami yang memberikan kesan kuno pada tempat ini.


Meskipun tempat ini secara teknis adalah sebuah Ibukota, namun pemandangan yang aku lihat meneriakkan kalau tempat ini adalah sebuah perkampungan adat.


Walau begitu, masih terdapat beberapa bangunan modern yang terlihat berdiri di tengah-tengah bangunan adat yang tentu saja membuatnya teramat-amat sangat mencolok.


Orang-orang yang berlalu-lalang pun terbilang sedikit hingga membuat jalan sangatlah lenggang. Hal yang tidak mungkin bisa kau temukan di Ibukota atau bahkan kota kebanyakan. Terlebih mereka yang berlalu-lalang kebanyakan hanyalah wanita dan anak-anak. Tidak jarang juga aku melihat para lansia di antara mereka.


Walau Nenek sudah memberitahukan kepadaku bahwa tempat ini sebenarnya adalah Ibukota dari Ferox Kingdom, Animalis. Aku masih tidak bisa menyangkal kalau aku berasa sedang berada di sebuah desa terpencil yang baru di


sentuh oleh budaya modern.


"Katakan, wahai Pangeran kecil. Tidak kah kau berpikir kalau arsitektur kota ini tidak merata?"


Duduk di hadapanku adalah seorang Beastman kecil yang merupakan Pangeran dari suku Singa. Dia yang baru aku selamatkan dari tangan para penculik tampak memiringkan kepalanya tanda kalau dia tidak mengerti dengan apa yang baru saja aku tanyakan.


"Hah, lihat kesekelilingmu... Tidakkah pemandangan rumah adat dan bangunan modern itu terlalu timpang bagimu?"


Melihat sekeliling seperti yang aku katakan, Leon tampaknya masih tidak mengerti akan pertanyaan yang aku tanyakan.


"Sudah... Dia itu masih muda, terlalu berlebihan rasanya jika kau menanyakan pertanyaan sulit seperti itu"


Mendengar Nenek yang sebenarnya berusaha untuk membelanya, Leon malah merasa kesal.


"Aku mengerti apa yang dia katakan! Yang tidak aku mengerti itu memangnya apa yang aneh!?"


"Oh, jangan bilang kalau kau belum pernah pergi ke kota yang lain?"


"...belum"


"Heh, jadi begitu. Maaf, aku yang bodoh karena menanyakan pertanyaan itu kepada seorang anak kecil yang hanya tahu halaman rumahnya sendiri... Kurasa aku harus bertanya pada salah satu kakakmu..."


"Kau!"


"Tenanglah kalian berdua!"


Hehe, lihatlah wajah marahnya itu.


Tidak peduli seberapa dia berusaha untuk terlihat garang, aku hanya bisa melihat wajah seekor kucing rumahan yang... Hah, bocah ini bahkan tidak terlihat imut bagiku.


"...kau juga Lavender, kau seharusnya sadar kalau kau ini sudah dewasa..."


Ya, ya, ya... Terserah Nenek saja.


Sekarang, kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku mencari masalah dengan seorang anak kecil yang juga merupakan seorang Pangeran.


Jawabannya mudah.


Saat kami singgah di kota sebelumnya, kami menyerahkan anak-anak lain yang telah kami selamatkan kepada penjaga. Tentu saja terjadi keributan setelah itu.


Singkat cerita, kami mendapatkan hadiah dan mendapatkan Quest untuk mengantarkan kembali si kucing kecil kembali ke Papa dan Mamahnya.


Nah, di sini hal yang menarik terjadi.


Leon Leo, dia menderita semacam kelainan pada tubuhnya yang mencegahnya untuk bisa naik level. Walau begitu, dia tepat bersikeras untuk berlatih dan bahkan akan melakukan apa saja agar dirinya bisa menjadi kuat. Perjalanannya untuk menjadi kuat malah membuatnya di tangkap oleh bandit yang untungnya telah aku selamatkan bersama anak-anak lainnya.


Aku dan Nenek telah memberitahukannya dengan jelas kenapa dia tidak akan pernah bisa naik level. Tapi... yang namanya bocah pasti tetap ngeyel.


Kemarin malam saat kami bermalam di sebuah penginapan, aku mendapati dirinya sibuk mengayunkan pedang sampai lewat tengah malam. Walau sudah ngos-ngosan, dia tetap saja melakukan itu sampai Nenek menegurnya dan menyuruhnya untuk segera pergi tidur.


Sekarang kalian paham kan?


Tidak peduli berapa kali di bilang percuma tapi dia tetap saja melawan.


Jika ini cerita punya genre Shounen, usahanya itu kelak pasti akan terbayarkan. Dia mungkin akan mendapatkan sebuah kekuatan dahsyat yang akan mengantarkannya ke puncak dunia. Sayang, genre tersebut tidak akan


pernah ada di cerita ini.


Usahanya akan selamanya menjadi percuma dan hanya buang-buang waktu semata.


"Jujur, kenapa kau sangat ngotot untuk bertambah kuat? Apakah kau ingin menjadi pahlawan atau semacamnya?"


"Aku hanya ingin bisa bertarung bersama Ayahku di medan perang. Apakah itu salah?!"


"Hmm... Tidak juga, yang pasti kau akan kena omel oleh Ayahmu itu karena telah seenaknya kabur dari rumah dan sampai di culik oleh bandit"


"Ugh..."


Menghabiskan waktu dengan mengerjai si bocah (Omelan Nenek tidak termasuk) aku menikmati perjalanan ini sampai akhirnya kami sampai di depan Istana para Beastman.


...


Pertanyaan singkat... Apa yang kalian pertama kali bayangkan saat mendengar kata istana?


Pasti yang pertama kali terlintas di kepala kalian adalah sebuah bangunan megah tempat di mana penguasa suatu kerajaan tinggal.


Bangunan tersebut biasanya terbuat dari susunan batu yang kokoh dan beberapa bahkan dilapisi oleh marmer warna-warni.


Aku harap kalau pandangan kita sama karena itu juga lah yang pertama kali aku bayangkan saat mendengar kata istana.


Sebagai seorang yang bercita-cita menjadi seorang Penyihir yang kelak akan mempermainkan nasib seorang Putri cantik, tentu saja aku bermimpi untuk bisa menginjakkan kakiku ke dalam sebuah istana nan megah.


Sekarang, diriku berada tepat di depan istana para Beastman.


"...Istana?"


"Kenapa? Apakah kau tidak pernah melihat sebuah Istana sebelumnya?"


Tanpa memedulikan si bocah kucing, aku menatap kepada Nenek meminta penjelasan.


"Menurut adat Beastman, ini adalah bangunan termegah dalam budaya mereka..."


Begitu... Megah menurut adat mereka yah...


Untuk penggambaran singkat, apa yang ada di hadapanku sekarang adalah sebuah tenda raksasa yang sekilas seperti sebuah tenda sirkus... Oh, siapa yang aku bohongi!


Tidak peduli dari mana kau melihatnya, apa yang ada di hadapanku sekarang tidak lain adalah sebuah tenda sirkus!


Yang menjadi pembeda adalah tenda ini tidak bermotif garis-garis merah putih melainkan berwarna kecokelatan yang telah usang. Ukiran adat serta hiasan tradisional lainnya tentu membuat tenda itu terlihat lebih bermartabat dan semacamnya, tapi itu tetap tidak mengubah fakta kalau apa yang mereka sebut sebagai istana adalah sebuah tenda sirkus raksasa.


"Tuan muda, Anda telah kembali!!!"


"Oh, Tuan muda, kemana saja kau selama ini!!!"


Dua orang pelayan Beastman dengan penuh haru menyambut kepulangan si bocah kucing. Walau terlihat dia tidak senang akan hal ini, tapi bocah itu tidak punya kuasa untuk melawan dua orang pelayan yang jelas jauh lebih


kuat darinya.


Selagi si bocah kucing berada dalam pelukan kedua pelayannya, seorang pemuda Singa dengan mengenakan pakaian adat yang berbeda dari yang lain datang menghampiri kami.


"Terima kasih, wahai para Penyihir La Ciel. Selaku Putra kedua dari Kepala Suku Singa, Leonel Leo. Saya mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah mengembalikan adik saja dengan selamat"


"Perkenalkan, Nama saya adalah Cardinal La Ciel. Selaku pemimpin dari Sol Ciel, saya menerima ucapan terima kasih..."


Setelah salam sapa yang berlangsung selama beberapa menit, kami akhirnya diperbolehkan untuk masuk ke dalam istana untuk menghadap kepada Kepala Suku.


...


"Datang menghadap, Pemimpin dari Sol Ciel, Cardinal La Ciel. Mengiringi beliau, Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender La Ciel"


Sesaat setelah nama kami di umumkan, Nenek memasuki ruangan dengan aku yang berjalan tiga langkah di belakangnya.


Sebelum kelupaan, si bocah kucing sudah di bawa pergi oleh kakaknya ke suatu tempat untuk menemui Ibunya yang selama ini telah cemas akan dirinya.


Ruangan yang kami masuki sebenarnya cukup luas, namun karena di penuhi oleh berbagai macam ornamen dan perabotan lainnya membuat ruangan ini terkesan penuh sesak. Satu-satunya tempat yang lenggang adalah tepat di


tengah ruangan.


Di sana hanya terdapat sebuah permadani berwarna kecokelatan yang penuh akan motif tradisional khas suku Singa. Di atas permadani tersebut di letakkan dua buah bantal duduk yang mengisyaratkan kami untuk duduk di


lantai.


Menggunakan posisi duduk ala orang-orang Jepun, aku duduk tepat di sebelah kanan Nenek.


Secara hampir bersamaan, kami bersama-sama memberikan salam penghormatan kepada orang yang berada di hadapan kami.


Duduk bersila dengan punggungnya yang tegak lurus adalah seorang Beastman berdarah murni dari suku Singa. Surai hitam lebat di lehernya bagaikan mahkota yang memperjelas kedudukannya di antara kaumnya.


Tubuhnya yang tegap dan besar bagaikan seekor beruang membuat pakaian yang dia kenakan terasa sesak yang membuatnya mau tidak mau menampilkan otot dadanya yang sekeras baja.


Sepasang gigi taring putih tajam menyembul keluar dari mulutnya yang tengah tertutup. Mata Predatornya memandangi kami seolah berusaha untuk mengukur kekuatan kami yang mana aku tidak menyukainya.


"Terima kasih"


Hanya itu yang dia ucapkan sembari sedikit menundukkan badannya kepada kami. Walau aku merasa dia ingin menunduk lebih rendah lagi, tapi itu adalah sebuah tindakan yang tidak layak bagi seorang Pemimpin sepertinya.


Walau dia hanya sedikit menundukkan badan, tapi itu sudah cukup untuk menunjukkan betapa dia merasa bersyukur dan secara bersamaan masih menjaga wibawanya.


"Kami terima rasa terima kasihmu. Wahai Kepala Suku Singa, Leonidas Leo"


Mendengar jawaban Nenek, Leonidas kembali menegakkan badannya dan menatap lurus ke arah Nenek.


"Sungguh aku tidak akan pernah menyangka kalau seorang Ciel yang telah menyelamatkan Putra bodohku dari tangan orang yang jahat. Terlebih dia adalah sang Pemimpin dari Sol Ciel yang legendanya telah menyebar luas


selama berabad-abad lamanya"


"Anda terlalu memuji. Diriku bahkan bingung apakah ini adalah takdir atau hanya sekedar kebetulan, tapi aku sendiri bersyukur karena telah mencegah anak itu dari nasib buruk yang mungkin akan di alaminya"


Seperti biasa, setelah salam sapa membosankan penuh pujian untuk mengawali obrolan, barulah mereka akhirnya masuk ke topik utama.


"Tuan Leonidas, apakah engkau mengetahui bagaimana bisa para bandit Manusia itu bisa berada jauh di dalam wilayah Anda tanpa diketahui?"


"Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana bisa para bandit jahanam itu bisa menyelinap masuk tepat di bawah hidung kami. Namun, kalau perihal alasan mereka beraksi di wilayah kami, aku bisa menebaknya"


"Oh, dan alasan apakah itu?"


"Kemungkinan besar, mereka adalah suruhan dari Narsist Kingdom"


Narsist Kingdom, lagi!


Ya ampun, mereka suka sekali mencari masalah. Kemarin di Drakon Kingdom, sekarang di Ferox Kingdom.


Aku tahu kalau sekarang masih dalam keadaan perang, tapi tidak bisakah mereka hanya berperang secara langsung dan tidak memakai taktik tersembunyi seperti ini?


"Menarik... Dan apa alasan mereka untuk menculik anak-anak kalian?"


"Nyonya Cardinal, Anda pasti tahu kenapa"


Nenek mungkin tahu, tapi aku tidak tahu!


"...perbatasan yah"


Perbatasan apa lagi?!


"Seperti yang Anda tahu, musuh sebenarnya dari Narsist Kingdom adalah Sanguine Kingdom. Akan tetapi, Kerajaan tersebut di kelilingi oleh pelindung alami yang mencegah mereka yang punya niatan buruk untuk mampu


memasukinya.


Oleh karena itu, para Narsist sialan itu membutuhkan [Beast Instinct] kami untuk bisa menembus pertahanan Sanguine Kingdom"


Ooh... Begitu!


Aku ingat Nenek pernah mengatakan kalau seluruh wilayah dari Sanguine Kingdom diliputi oleh semacam tabir ilusi yang akan menyesatkan siapapun yang mencoba untuk masuk secara ilegal. Hal itulah yang memaksa Narsist


Kingdom untuk menyerang Ferox Kingdom terlebih dahulu walau secara geografis Sanguine Kingdom jauh lebih dekat dengan mereka.


Dengan Ferox Kingdom yang ada di bawah kendali mereka, maka mereka dapat dengan leluasa memperbudak para Beastman dan memperkerjakan mereka sebagai pemandu agar mereka bisa menyerbu Sanguine Kingdom yang adalah musuh bebuyutan mereka.


Dan... Sebagai rencana cadangan.


Narsist Kingdom mencoba untuk menculik anak-anak Beastman yang nantinya akan mereka latih sebagai budak mereka yang patuh jaga-jaga kalau mereka tidak mampu untuk menaklukkan Ferox Kingdom atau untuk memperdaya Sanguine Kingdom yang merasa kalau Narsist Kingdom masih sibuk dengan Ferox Kingdom sementara Narsist Kingdom sebenarnya sudah mengirim pasukan mereka ke dalam wilayah Sanguine Kingdom secara diam-diam.


Haha... Aku ingin sekali melihat wajah bocah kucing itu ketika mengetahui kalau tindakan bodohnya itu untuk bisa mendapatkan pengakuan dari Ayah yang dia hormati hanya membuatnya berakhir menjadi alat bagi Narsist Kingdom yang adalah musuh yang sedang Kerajaannya lawan.


Jika saja dia tidak berada di ruang sebelah dan jika saja kain yang memisahkan antar ruangan sedikit lebih tipis lagi, setidaknya aku mungkin bisa melihat bayangannya.


"...Untuk sementara ini, aku sudah memerintahkan para prajurit yang ada di perbatasan dan yang berada di dalam wilayah Kerajaan untuk meningkatkan kewaspadaan lebih tinggi lagi. Tapi karena kebanyakan prajurit sudah di


kirim ke medan pertempuran, bisa di bilang kami sedang kekurangan personel"


"Itu adalah masalah yang sulit. Jadi, apakah ada perkembangan terbaru di medan perang?"


"Mungkin Nyonya Cardinal telah mendengarnya, tapi setelah kami menghancurkan benteng berjalan mereka, tidak terlihat ada pergerakan terbaru dari pasukan Narsist Kingdom"


"Begitu, kehilangan benteng itu pasti adalah sebuah pukulan telak bagi mereka"


"Itu benar, dan itu juga berlaku bagi pihak kami. Setelah pertempuran tersebut, lebih dari setengah Otherworlder yang ikut bertempur masih belum tersadar dari tidur panjang mereka"


Itu tidak bisa dielakkan.


Bagaimana tidak? Tidak semua orang sanggup menerima kenyataan kalau mereka baru saja membumihanguskan sebuah kota yang di huni oleh orang biasa serta anak-anak yang tidak bersalah.


Bahkan berita di dunia sana saja mengatakan kalau banyak 'gamer' yang meminta konseling massal untuk memulihkan trauma mental mereka.


"Ngomong-ngomong soal Otherwordelr..."


Leonidas lalu memerintahkan salah seorang anak buahnya untuk melakukan sesuatu. Setelah orang tersebut pergi selama beberapa menit, dia lalu kembali sambil membawa seseorang...


"Ya ampun!"


Orang tersebut terlihat berasal dari ras burung. Hanya saja aku tidak mampu mengetahui dari spesies mana dia berasal karena dia telah kehilangan semua bulu di tubuhnya di tambah dia sekarang di lilit oleh perban putih yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Biar aku perkenalkan, dia adalah prajurit berani yang telah mengorbankan dirinya untuk meledakkan benteng berjalan di pertempuran terakhir"


Oh, jadi dia adalah Wooho!


"Melihat dari penampilannya yang sekarang, itu menandakan bahwa bahkan bagi seorang Otherworlder sekalipun tidak mampu lolos dari efek samping bom tersebut?"


"Itu benar, mereka seharusnya akan pulih sepenuhnya setelah bangkit dari kematian. Tapi..."


Jelas kalau kematian sekalipun tidak mampu menyelamatkannya dari efek samping bom yang dibuat dari gadis Bernama Colette itu.


Heh, mengetahui kalau salah satu bahan utama dari bom tersebut berasal dari Dungeon milikku, membuatkun semakin penasaran akan proses pembuatannya.


"...Apakah kalian masih memiliki Bom yang lain?"


Leonidas lalu menggelengkan kepalanya "Hanya ada satu bom yang berhasil di buat... Sementara yang membuatnya kini masih belum sadar dari tidurnya".


"Mengetahui kalau ciptaannya telah merenggut banyak nyawa orang tidak bersalah... Kau, namamu Wooho kan?"


Wooho yang sedari tadi diam terpaksa ikut dalam pembicaraan setelah Nenek memanggilnya.


"I-iya"


"Apakah engkau mengetahui sesuatu tentang si Alchemist Colette?"


"M-maaf, saya ti-tidak tahu... Ta-tapi, Ka... Nyonya Canary telah berjanji akan mengurusnya..."


"Canary? Sang Putri Elf?"


Oh, Canary!


Itu berarti aku tinggal menanyainya saat aku Log Out nanti.


Setelah menanyai pertanyaan lainnya yang berkaitan dengan Colette, topik pun beralih menjadi bagaimana caranya untuk menyembuhkan kondisi Wooho yang sekarang.


Tampaknya tidak hanya kondisi fisiknya yang terluka, tapi bahkan jalur Mana miliknya juga ikut terkena dampaknya. Hal itu membuat Wooho tidak mampu menggunakan sebagian besar Skill yang dia miliki. Katanya dia tidak kehilangan Skillnya, hanya saja beberapa Skill miliknya seolah terkunci dan tidak mampu lagi untuk di akses.


"Kami sudah memberikannya Potion terbaik yang bisa kami berikan, bahkan Nenek Yada, guru dari Alchemist Colette, telah memberikan pengobatan terbaik miliknya namun tetap tidak bisa mengembalikan kondisi Wooho seperti semula"


"Yada! Si Alkemis abadi?"


"Nenek mengenalnya?"


"Tentu saja, dia hanya lima tahun lebih muda dari diriku. Aku masih ingat saat kami pertama kali bertemu, dia hanyalah gadis Manusia biasa yang mempelajari [Alchemy] demi bisa menyelamatkan Ibunya yang sakit parah..."


Baiklah, singkat cerita si Nenek Yada ini tidak hanya berhasil menyembuhkan ibunya yang sakit tapi juga berhasil menemukan sebuah ramuan yang mampu memberikannya umur yang panjang hingga dia mendapatkan gelarnya sebagai Alkemis abadi (Immortal Alchemist).


"...Kalau dia saja tidak mampu..."


Nenek lalu mulai memeriksa Wooho dengan seksama.


Tampak Nenek telah mengaktifkan [Mana Sight] untuk bisa melihat jalur Mana milik Wooho. Melakukan hal yang sama, aku mampu melihat bahwa jalur Mana milik Wooho memang rusak parah. Jika di samakan, itu seperti pipa yang penuh akan retakan di sana-sini yang membuat banyak Mana yang merembes keluar dari retakan tersebut.


Walau kondisinya memang parah, tapi tidak separah si Bocah Kucing. Meski akan memakan waktu yang cukup lama, tapi kondisi Wooho masih bisa untuk disembuhkan.


Tanpa aku sadari Nenek sudah menatap ke arahku dengan sebuah tatapan yang tidak aku senangi.


"Lavender... Bagaimana jika kita mulai berlatih dengan [Luminous Magic]?"