
Aku tidak percaya dengan apa yang sekarang sedang terjadi.
Aku yang tetap Log In meski tahu kalau kondisi avatarku tidak memungkinkan untuk berburu seperti biasa, mendapati diriku di panggil oleh Kepala Suku Singa. Kebetulan aku sekarang sedang berada di Ibukota untuk
menjalani pengobatan, melihat kalau tidak ada lagi yang bisa aku kerjakan, aku pun menyanggupi panggilan tersebut.
Karena aku sudah menerima hadiah atas jasaku di medan perang, aku tidak tahu atas alasan apa aku di panggil.
Masuk ke ruang pertemuan, aku mendapati dua sosok perempuan yang belum pernah aku lihat sebelumnya namun pernah aku dengar di forum.
Satu perempuan... Atau mungkin lebih tepatnya dikatakan sebagai seorang gadis kecil berambut merah tua yang mengenakan jubah khas Penyihir berwarna putih bersih sambil mengenakan sebuah topi segitiga yang tampak
kebesaran untuk seseorang seukuran dirinya. Dia juga membawa sebuah Staff yang saat ini sedang diletakkan di atas lantai di sampingnya yang kemungkinan besar juga terlalu tinggi jika di bawa olehnya.
Di samping gadis tersebut adalah seorang perempuan berambut ungu gelap berusia sekitar 18 tahun yang mengenakan jubah Penyihir yang berwarna hitam kelam serta sebuah topi segitiga yang lebih kecil dari yang
dikenakan oleh si gadis kecil. Di samping perempuan tersebut adalah sebuah Staff yang bagian kepalanya terlihat seperti sebuah sangkar yang menampung sebuah bola kristal yang memancarkan cahaya keunguan yang saat
melihatnya membuatku terasa ingin menundukkan kepalaku kepadanya.
Jika dilihat sekilas, mereka berdua berasal dari ras Manusia yang jarang terlihat di wilayah Beastman seperti ini.
Akan tetapi, aku tahu.
Dari informasi yang aku dapatkan di forum, si gadis kecil sebenarnya bukan seorang gadis biasa melainkan seorang Nenek-nenek yang sudah punya dua orang cucu. Sedangkankan si perempuan bukanlah seorang Manusia melainkan seorang Half-Demon yang mana merupakan sebuah ras yang tidak bisa dipilih oleh Otherworlder seperti diriku karena termasuk sebagai ras terlarang.
Identitas mereka yang sebenarnya adalah Penyihir dari Sol Ciel yang telah menunjukkan kemampuan mereka pada pertempuran di Hutan Barrier beberapa waktu yang lalu.
Aku juga dengar kalau mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju Sanguine Kingdom. Maka wajar jadinya kalau mereka harus melewati Ferox Kingdom tempat di mana aku sedang berada.
Tapi... Kenapa aku harus di panggil ke sini?
...
Tanpa sadar diriku sudah di bawa ke ruang perawatan yang biasa.
Yang tidak biasa adalah aku tidak lagi di rawat oleh Embak Kucing yang biasa merawat diriku. Melainkan aku sedang di rawat oleh sang Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender.
"Jadi, bisakah kau katakan kepadaku, kenapa kau mau menjadi orang yang mengaktifkan bom tersebut?"
"I-itu, aku terpaksa... A-aku kalah undian..."
Walau suaranya rendah, tapi aku bisa merasakan semacam kekuatan dari setiap kata yang dia ucapkan. Setiap patah kata yang terucap dari mulutnya serasa menyihir diriku sehingga secara spontan aku akan menjawab setiap
perkataannya dengan jujur... Ini bukan karena aku jarang berinteraksi dengan perempuan cantik... Sial, kapan terakhir kali aku berbicara dengan perempuan di dunia nyata selain adik dan ibuku?!
"Oh, begitu. Lalu, kenapa kalian tidak menggunakan budak saja?"
"I-itu karena ada yang me-menganggap kalau itu terlalu ke-kejam"
"Hmm... Jadi karena itu kalian memilih mengorbankan anggota sendiri yang bisa bangkit kembali dari kematian ketimbang menggunakan budak sekali pakai"
Entah karena dia memang tipe orang yang suka bicara, Penyihir Lavender terus saja mengajukan pertanyaan kepadaku selagi dirinya mencoba untuk menyembuhkan diriku.
Awalnya dia hanya bertanya tentang keadaan terbaru dari medan perang ataupun tentang kehidupan di Ferox Kingdom pada umumnya. Sampai pada akhirnya pertanyaannya merujuk pada informasi pribadi seperti...
"Bukankah Otherworlder pada sejatinya adalah Manusia biasa. Kenapa kau memilih ras Beastman, terutama suku Burung?"
Meski awalnya aku terkejut karena dia tahu kalau Otherworlder sejatinya adalah Manusia, tapi suaranya yang masuk ke dalam telingaku mencegahku untuk menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan lainnya.
"I-ini sedikit memalukan... Dulu, a-aku punya peliharaan burung hantu bernama Wooho..."
"Ah, jadi begitu. Peliharaanmu itu mati dan sebagai penghormatan atau karena perasaan sentimental kau pun memutuskan untuk mengambil wujud dan nama peliharaanmu itu yah"
...aku tidak bisa menyangkal perkataannya.
Meski aku merasa sedikit kesal karena dia seolah meremehkan kematian peliharaan yang sudah aku anggap sebagai sahabat, aku yang sekarang... Bahkan aku yang berada dalam keadaan prima sekalipun tidak akan punya
kuasa untuk melawannya.
Aku tidak tahu apakah ini memang sifat bawaanku atau apa. Tapi entah mengapa setiap kali aku menemui orang yang jauh lebih kuat dariku, aku merasa bodoh untuk melawan dan berakhir menuruti setiap perkataan mereka.
Karena hal ini pula aku tidak mampu melawan saat Kepala Suku Bearnard memerintahkanku yang kalah dalam undian untuk menjadi tumbal di pertempuran terakhir.
Pada saat Penyihir Lavender bergerak ke belakang diriku sambil mengajukan pertanyaan yang selanjutnya, terjadi sedikit perubahan dalam caranya berbicara.
"Jika... dan hanya jika... Jika saja kondisimu ini menjadi permanen, apa yang akan kau lakukan?"
Merasakan kalau dia benar-benar serius menanyakan ini, secara refleks aku menoleh kebelakang. Karena aku adalah seorang Burung Hantu, saat aku berkata 'menoleh kebelakang' aku tidak memutar seluruh tubuhku melainkan hanya memutar leherku 180° selayaknya burung hantu pada umumnya.
Apa yang kulihat adalah wajah seorang wanita cantik dengan mata ungu yang menyala serta bibir merah yang menggoda. Tato di pipinya tidak mengurangi kecantikan miliknya melainkan menambah pesona dirinya.
Tampak tidak bergeming meski kepalaku berputar sepenuhnya, dia hanya menatap langsung kepadaku menungguku untuk menjawab pertanyaannya.
Merasa jelas kalau pertanyaan kali ini berbeda dari yang sebelumnya, aku pun mencurahkan segala pikiranku untuk menjawabnya dengan seserius mungkin.
"Jika memang begitu... Maka mungkin aku hanya akan pasrah menerima nasib diriku"
"Oh, kau tidak berusaha untuk mencari obat atau semacamnya?"
"Haha, kalau ada waktu luang mungkin iya. Tapi aku tidak akan membuang waktu dan energi kepada apa yang terlihat tidak mungkin dan mulai mengejar tujuanku yang lain"
"Dan tujuan apakah itu?"
"Ibuku dulu sering berkata padaku 'Sebagai makhluk sosial, kita harus mencoba untuk setidaknya berguna bagi orang banyak' beliau lalu menambahkan 'Jika kau merasa suatu pekerjaan itu mustahil bagimu, maka jangan di
paksakan. Carilah pekerjaan lain yang kau rasa lebih cocok bagi dirimu. Asal itu berguna bagi Negara, tidak peduli sekecil apa pun itu, pekerjaan tetaplah pekerjaan'... heh, walau awalnya aku tidak mengerti apa yang Ibuku katakan saat itu, tapi sekarang, tampaknya aku sudah mulai mengerti apa yang beliau maksud"
Sebuah senyuman kecil pun tercipta di wajahnya "Hehe, kau punya Ibu yang baik yah".
Aku membalasnya dengan senyumanku sendiri... yang mana itu tidak akan terlalu jelas karena apa yang aku miliki bukanlah bibir melainkan paruh.
Setelah kami saling pandang sebentar, Penyihir Lavender pun segera mengalihkan pandangannya ke arah dinding yang ada di samping kami.
"Apakah kau dengar itu, wahai Pangeran keras kepala!"
Bingung kepada siapa dia bicara, aku lalu mendengar sesuatu seperti orang yang terjatuh dengan keras hingga mengucapkan kata "Ouch!" yang mana terdengar seperti suara bocah lelaki.
...ada yang menguping!
Sial, jika saja Skill milikku masih bisa digunakan, aku pasti bisa mendeteksi keberadaannya meski dalam keadaan mata tertutup.
Tidak lama kemudian masuk seorang bocah singa berdarah murni yang mengenakan pakaian adat Beastman yang biasanya hanya dikenakan oleh keluarga dan kerabat dari Kepala Suku.
Karena aku sudah berada dalam posisi duduk, maka aku hanya perlu menundukkan kepalaku untuk memberikan rasa hormat.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Dari ekspresi dan nada bicaranya, terlihat jelas kalau dia tampak sangat kesal... atau lebih tepatnya cemberut?
Berbeda jauh dari si Singa kecil, orang yang berada di belakangku tampak sangat senang seolah dia memang sedang bersenang-senang.
"Bagaimana aku bisa tahu? Itu mudah, aku hanya memiliki Skill yang sesuai. Semua orang pasti tahu itu... Oh, maaf. Hampir semua"
Atas ejekan dari Penyihir Lavender, si Singa Kecil seketika mengamuk.
"Kau! Kenapa kau selalu saja mengejekku! Aku tahu! Aku tahu kalau aku tidak akan pernah bisa menaikkan levelku! Aku tahu kalau aku tidak akan pernah bisa menjadi kuat! Aku tahu itu! Aku tahu!"
Air mata mulai menetes sembari dia mengeluarkan segala perasaan yang dia pendam selama ini.
"Aku tahu... Kau tidak perlu melakukan itu... Kau tidak perlu mengejekku terus menerus..."
Sekarang dia hanya terus menangis sembari berusaha mengusap air mata yang berguguran.
Jujur, walau aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, aku mulai merasa kasihan kepada anak kecil yang ada di hadapanku ini... Tapi, orang di belakangku jelas merasakan hal yang berbeda.
"Kalau kau tahu, kenapa kau masih saja keras kepala..."
Berbeda dari nada mengejek yang dia keluarkan sebelumnya, kali ini Penyihir Lavender berbicara dengan serius lebih dari yang sebelumnya. Tanpa perlu berbalik sekalipun, dengan jelas aku rasakan tekanan yang dia
keluarkan.
"...Pada saat Ayahmu itu memintaku untuk menyembuhkan Wooho, kau pasti berpikir 'kalau dia bisa di sembuhkan, aku pasti juga bisa kan?' walau sudah dengan jelas aku beritahukan kalau kondisimu itu tidak akan pernah bisa disembuhkan"
"Kenapa! Apa yang berbeda! Bukankah kami sama-sama tidak bisa menggunakan Skill!"
"Tentu saja berbeda!"
Atas bentakkan dari Penyihir Lavender, si Singa Kecil pun seketika mundur kebelakang dengan ketakutan tergambar jelas di wajahnya. Jika saja kedua tangan Penyihir Lavender sekarang tidak berada di atas pundakku, aku pasti juga akan ikut berusaha untuk menjauh darinya.
"Alasan kenapa Wooho bisa disembuhkan adalah karena dia memang sedang 'sakit' makanya dia bisa disembuhkan. Sedangkan kondisi dirimu itu memang sudah seperti itu sejak kau lahir. Kau tidak akan pernah bisa memperbaiki apa yang memang tidak sedang rusak"
Si Singa Kecil pun menjadi terdiam untuk sementara waktu, sebelum akhirnya dia mulai membuka mulutnya untuk membalas perkataan dari Penyihir Lavender meski terbata-bata.
"Bukankah kau sudah mendengar apa yang Wooho katakan?
'Jika kau merasa suatu pekerjaan itu mustahil bagimu, maka jangan di paksakan. Carilah pekerjaan lain yang kau rasa lebih cocok bagi dirimu. Asal itu berguna bagi Negara, tidak peduli sekecil apa pun itu, pekerjaan tetaplah pekerjaan'
Alasan kenapa kau ingin menjadi kuat adalah untuk bisa membantu Ayahmu bukan?"
Si Singa Kecil pun mengangguk.
"kalau begitu jangan paksakan diri untuk mencoba membantunya di medan pertempuran. Kau bisa membantunya dengan cara mengurangi bebannya dalam memerintah suatu Kerajaan. Kau bisa membantunya dalam mengurus dokumen, memberinya nasehat dalam hal diplomasi, dan masih banyak hal lainnya yang tidak membutuhkan Skill. Bukankah itu juga alasan kenapa orangtuamu memberikanmu buku untuk di baca ketimbang pedang untuk diayunkan?"
Sekarang aku akhirnya paham.
Entah karena alasan apa, anak yang ada di hadapanku sekarang mengalami kondisi yang sama seperti diriku. Yang menjadi pembeda adalah kondisi ini sudah dia alami sejak lahir dan mustahil untuk disembuhkan.
Tampaknya alasan Penyihir Lavender menanyai bagaimana jika kondisiku ini permanen dan apa yang akan aku lakukan selanjutnya adalah untuk mengajari anak ini yang tidak mau menerima kenyataan.
Meski caranya cukup keras, tapi niatannya baik.
Pada saat si Singa Kecil terdiam seribu bahasa, seorang gadis Singa datang dan langsung meminta maaf sembari membawa pergi si Singa kecil. Kurasa dia adalah kakaknya.
Pada saat mereka berdua akhirnya pergi, kini aku kembali hanya berudaan dengan Penyihir Lavender.
"Kurasa lain kali kau harus lebih lembut terhadap anak kecil"
"Heh, semua orang pasti sudah memperlakukannya dengan sangat lembut. Berkat itu dia menjadi keras kepala hingga membuatnya di culik bandit. Karena itu, satu omelan keras dibutuhkan untuk memecahkan kepalanya yang
sekeras batu"
"Begitu..."
Walau ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan, tapi tampaknya Penyihir Lavender tidak mau berbincang lebih lama lagi.
Aku pun hanya terduduk diam sembari tubuhku sedang di obati.
...
Ahh... Akhirnya selesai juga... Untuk hari ini, tentunya.
Kondisi si Wooho itu cukup parah sehingga satu kali pengobatan tidak akan cukup untuk mengobatinya.
Terlebih karena [Luminous Magic] milikku masih sangat rendah yang mana membuat pengobatan menjadi lebih sulit dari yang sebelumnya.
Tapi, yah... Lumayan buat naik level.
•Skill [Luminous Magic] telah mencapai level 10, mendapatkan 1SP•
•Mendapatkan (Luminous Ring) dari [Luminous Magic]•
Walau tidak seberapa, naik level tetap naik level.
Tetap saja, menyembuhkan Wooho adalah tugas tersulit yang pernah aku dapatkan selama ini. Selain kondisinya yang tidak biasa, fakta bahwa [Luminous Magic] bukanlah keahlianku membuat tugas ini menjadi lebih bikin sakit kepala.
Karena hari sudah larut, aku pun kembali ke kamar yang telah di sediakan oleh Kepala Suku. Di sana aku mendapati sosok Nenek yang sedang tertidur dengan pulasnya di atas ranjang jerami dengan Victoria yang dengan setia berjaga di sampingnya.
Dengan mulutnya yang kini telah terbebas, hal pertama yang Victoria ucapkan kepadaku adalah...
"Shh... Jangan berisik"
Tanpa perlu diberitahupun aku tidak akan berani membangunkan Nenek yang sedang tertidur.
Pada saat aku berpikir apa yang harus aku lakukan kepada Victoria, Zweite masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi makanan.
"Master, sudah waktunya makan"
Tidak peduli dari mana aku melihatnya, hanya terdapat seonggok daging ukuran jumbo yang telah di masak hingga berwarna kecokelatan.
Aku tidak melihat adanya sajian lainnya di atas nampan tersebut. Tidak ada sayur-sayuran, tidak ada kacang-kacangan, dan bahkan tidak ada kentang, roti atau makanan yang mengandung karbohidrat lainnya.
Hanya ada daging dan daging saja.
"Zweite, jangan bilang hanya ada daging?"
"...Saya sudah meminta pisau dan garpu"
Woi!!!
...
Saat aku Log Out, aku kembali merasakan lapar di perutku.
Walau aku sudah makan satu steak daging ukuran jumbo, tapi itu di dunia sana dan bukan di dunia sini. Tidak seperti di sana yang sudah gelap, langit di sini masih terang menderang.
Beranjak dari tempat tidurku, aku menuju ke ruang makan.
Sudah berada di meja makan, adalah Papa dan Mama yang sudah menghabiskan setengah dari sajian yang ada di hadapan mereka.
"Tumben bangun, kalau tahu begitu kita seharusnya bisa makan siang bersama"
Setelah mengatakan itu, Papa segera memerintahkan Pelayan untuk menyiapkan porsi makananku.
Duduk di kursiku yang biasa, aku memutuskan untuk membicarakan tentang apa yang terjadi selagi menunggu makananku untuk tiba.
"Ah, kerusakan pada jalur Mana yah... Jika kau menguasai (Regeneration) dari [Holy Magic] maka kau akan dengan mudah menyembuhkan prajurit berani itu"
"[Holy Magic]?! Sayangnya [Luminous Magic] milikku levelnya masih rendah"
Sial, jika tahu begini maka aku akan dengan rajin meningkatkan levelku.
"Lalu, soal Putra dari Kepala Suku Singa. Berdasarkan penjelasanmu, jika dia ingin bisa menaikkan levelnya, maka dia harus rela mengganti tubuhnya dengan yang baru karena tubuhnya yang sekarang mustahil untuk bisa diperbaiki"
"Jadi memang mustahil yah... Soal mengganti tubuhnya, apakah aku harus memindahkan jiwanya ke tubuh baru untuk bisa melakukan itu?"
"Benar sekali. Kau bisa melakukan itu dengan cara menggunakan (Grabs Souls) dari [Demon Magic]... Kau setidaknya punya Skill itu kan?"
"Tentu saja aku punya... Level berapa?"
"Level 15"
Tch, masih lama yah.
Pada akhirnya makan siangku pun tiba. Tidak seperti sajian daging yang belum lama ini aku makan, makan siang di rumah adalah makanan dengan porsi seimbang yang berupa nasi, sayur, dan ayam panggang.
Sedangkan untuk minumannya adalah jus jeruk dingin serta sebuah puding sebagai makanan penutup.
Aku pun mulai menyantap makan siangku sementara Papa sudah hampir menghabiskan bagiannya sedangkan Mama sudah selesai makan dan piringnya telah dibersihkan oleh Pelayan yang berjaga.
"Mali... Lavender, Mama tahu kalau kau sudah serius dalam mempelajari sihir dan sudah terlambat bagi Mama untuk menghentikanmu. Tapi, tidak bisakah kau tidak mengikutsertakan kawanmu dalam dunia ini? Terlebih di berita banyak orang yang memainkan game yang kau mainkan berhenti karena terkena tekanan mental"
"Kawan? Siapa?"
"Yang Ibumu maksud itu adalah si Putri Elf dan si gadis Beastman"
"Ahh... Mereka yah! Sebagai pembelaan, itu Papa yang suruh"
Seketika Mama memelototi Papa dengan pandangan yang tajam. Bisa terlihat kilatan petir menyambar di belakang Mama saat dia melakukan itu.
Aku bersumpah kalau itu bukan SFX melainkan petir asli karena aku bisa melihat pergerakan Mana di sekitar Mama saat itu terjadi.
"Tenanglah, biar aku jelaskan dulu..."
Sementara Papa menjelaskan, aku pun dengan tenang menikmati makan siangku.
"...Oh benar, bicara soal mereka, si Putri Elf sekarang sedang menerima seorang tamu. Tampaknya tamu tersebut adalah seorang Alkemis"
"Alkemis!"
Aku pun segera memerintahkan seorang Pelayan untuk mencegah jika kalau Alkemis tersebut hendak beranjak pergi karena aku ingin menemuinya.
Sementara itu aku juga mulai menghabiskan makananku dengan cepat.
"Jangan terburu-buru... Memangnya Alkemis itu siapa sampai kau bergegas begitu?"
"Nyam... Nyam... Kalau aku benar... Nyam... Nyam... Dia adalah orang yang... Nyam... Nyam... Mampu membuat Bom... Nyam... Yang menghancurkan... Nyam... Ultima Arca... Nyam... Habis, aku berangkat dulu!"
"Ultima Arca!!?"
Selesai menghabiskan makananku, aku segera beranjak pergi ke rumah tamu tempat di mana Canary diizinkan tinggal.
Karena aku pergi dengan cepat, Papa yang terkejut setelah mendengar hancurnya Ultima Arca berusaha untuk menghentikanku namun gagal.