
Kalau tidak salah konsep gaya berbusana Kota ini adalah 'Sederhana namun mewah'. Tapi bukankah 'Pakaian' ini terlalu sederhana?
"Selene... Apakah kau yakin tidak ada yang kurang dari pakaian ini?"
Memperhatikan Selene yang juga sedang berganti baju, Selene lalu memiringkan kepalanya seolah tidak mengerti dengan apa yang baru saja aku tanyakan.
"Apanya yang kurang? Aku lihat bagian atas dan bawahnya sudah lengkap"
"Bukan itu masalahnya..."
Tidak peduli dari mana kau melihatnya, apa yang mereka berikan padaku tidak lebih dari selembar pakaian dalam yang berwarna putih. Bukan hanya itu, tapi ukurannya juga sepertinya salah karena pakaian ini tidak mampu untuk menutupi dada dan daerah sensitifku secara sepenuhnya.
Aku bahkan sampai mulai menyesal untuk mengenakannya mengira kalau ini hanyalah bagian dari set pakaian yang diberikan dan bukan seluruh pakaian.
"Ah, kau mungkin salah mengira itu sebagai pakaian dalam. Tapi kalau kau perhatikan lebih dekat lagi bahan yang digunakan itu berbeda dari pakaian dalam yang biasanya"
Memang benar kalau bahan yang digunakan terasa berbeda daripada bahan kain yang pernah aku ketahui. Kain? Ini terasa elastis dan tidak gatal walau bersentuhan langsung dengan kulit.
"Aku lupa namanya, tapi Bikini yang kau kenakan itu terbuat dari bahan anti air yang sempurna untuk digunakan berenang di dalam air"
"Ohh... Hei, apa yang kau kenakan itu?!"
Berbeda dari Bikini milikku, apa yang Selene gunakan jauh lebih tertutup yang mana itu sangat berbanding terbalik dengan bikini yang mereka suruh untuk kenakan.
(Author Note : Dara memakai Micro Bikini sementara Luna/Selene memakai School Swimsuit)
Walau memang benar kalau bagian belakangnya terbuka lebar, tapi bagian depannya tertutup sempurna yang mana kalau bisa aku juga ingin itu pada Bikini milikku.
"Jangan tanya aku, ini juga pertama kalinya aku mengenakannya"
Setelah kami bolak-balik mempertanyakan tentang pakaian bernama Bikini ini, Pelayan Selene yang bernama Zweite segera meminta kami bergegas untuk pergi ke pantai karena tampaknya kami sudah terlalu lama berada di dalam ruang ganti.
Walau aku merasa tidak yakin untuk berpenampilan seperti ini di hadapan umum, tapi karena Pelayan Selene yang bernama Percy sudah mengamankan pakaianku, membuatku tidak punya pilihan lain menuruti kemauan mereka.
Hanya menggunakan sandal sebagai alas kaki, aku pun akhirnya menginjakkan kakiku ke pantai untuk pertama kalinya.
"Whoaa..."
Pasir putih yang halus, senandung ombak yang merdu, serta pemandangan lautan luas yang indah tiada tara membuatku tidak bisa tidak merasa takjub akan keindahan pantai yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya.
Melihat ke arah pantai, tampak kalau pantai ini sudah ramai oleh pengunjung yang semua perempuan yang ada di sini juga sedang mengenakan Bikini yang menunjukkan banyak kulit sedangkan para lelaki hanya menggunakan celana pendek biasa.
Dari wajah para perempuan yang aku lihat, mereka tampaknya biasa saja atau bahkan bangga ketika diri mereka memamerkan kulit mereka yang mulus kepada semua orang. Mereka bahkan tampaknya semakin bangga ketika
semakin banyak lelaki yang datang menghampiri mereka untuk berkenalan atau bahkan hanya untuk mengagumi mereka dari kejauhan.
Tidak hanya sekedar pamer tubuh saja, mereka bahkan sampai sengaja berbaring di atas pasir sambil membuat pose yang mengundang semakin banyak mata untuk tertuju kepada mereka.
"Aku tidak percaya mereka bisa pamer tubuh seperti itu"
"Aku juga, awalnya mereka protes karena pakaian yang kurang bahan, tapi setelah kakak membisikkan 'Ketika mengenakan Bikini, kau bisa memamerkan lekuk tubuhmu serta kulit mulusmu kepada orang banyak dan membuktikan kalau tubuhmu itu jauh lebih superior dari tubuh mereka' yang mana itu sukses membuat para gadis Bangsawan yang awalnya protes kini jadi berlomba-lomba pamer badan seperti yang kau lihat sekarang"
"Itu..."
Bukannya aku tidak bisa mengerti mengenai perasaan mereka.
Sebagai warga Narsist Kingdom, sudah sepantasnya kami untuk mengejar kecantikan seumur hidup kami. Baik itu kecantikan wajah, kecantikan dalam berpakaian, kecantikan dalam bersikap, hingga kecantikan dalam seni.
Jika itu mampu untuk membuat kami tampil semakin cantik di hadapan semua orang maka kami tidak punya alasan untuk tidak mengejarnya.
Akan tetapi, setelah Baginda Ratu menutup akses kami akan kecantikan wajah, membuat semua warga Narsist Kingdom untuk mengejar kecantikan dalam hal yang lain.
Kami mengenakan gaun mewah yang mencolok, rumah kami bangun dengan desain yang belum pernah dijumpai sebelumnya, jika kami memiliki sebuah karya maka akan kami pamerkan kepada semua orang.
Semua hal kami lakukan hanya agar kami bisa terlihat tampil beda dari orang lain.
Meski aku tahu semua itu, tapi tidakkah memamerkan tubuhmu itu akan membuatmu terlihat seperti wanita murahan?
Berdasarkan ajaran Agama Narsist... Ajaran Agama Narsist... Huh, apakah Ajaran Narsist punya peraturan yang melarang untuk memamerkan anggota tubuh? Hmm... Aku harus membacanya sekali lagi.
"Sister Dara..."
Apa yang Zweite serahkan kepadaku adalah sebotol cairan bening dengan butiran berwarna ungu yang cantik melayang di dalamnya.
"Apa ini?"
"Itu adalah yang berfungsi untuk mencegah kulit anda terbakar oleh cahaya matahari"
Menunjuk ke kejauhan, aku melihat seorang bocah lelaki dengan kulit merah menyala sedang menangis keras dan para orang-orang yang sepertinya adalah Pelayannya sedang berusaha keras untuk menenangkannya.
Jika ini untuk mencegahku berakhir seperti itu, maka dengan senang hati aku pun menerimanya.
"Sekarang tolong berbaring di atas tikar dan biarkan Saya mengoleskan ini pada tubuh Anda"
"Maaf?"
...
Berbaring tengkurap di atas tikar yang telah digelar di atas pasir adalah Luna dan Dara yang saling berbaring bersebelahan.
Dengan payung besar di atas kepala mereka, mereka berdua menikmati pijatan tangan yang sedang mengoleskan pada permukaan kulit mereka yang putih dan mulus.
Percy bertugas untuk melayani Luna, sedangkan Zweite sedang memanjakan Dara dengan gerakan tangannya yang terlatih. Saking enaknya pijatan dari Zweite, Dara sampai memejamkan matanya dengan damai dan bahkan sampai sempat untuk tertidur.
Karena desain Bikini mereka yang berbeda, membuat Dara memiliki lebih banyak permukaan kulit yang terekspos pada cahaya matahari. Hal ini membuat Luna yang memiliki desain Bikini yang lebih tertutup selesai lebih cepat
ketimbang Dara yang butuh usaha ekstra agar seluruh permukaan kulitnya terlindungi oleh cahaya matahari.
Pada saat Percy sedang mengoleskan tabir surya pada wajah Luna, Dara yang sudah dalam posisi telentang tiba-tiba saja bertanya.
"Sudah berapa jauh hubungan kalian?"
Walau sempat terkejut karena ditanyai tiba-tiba, Luna yang paham akan apa yang Dara maksud memilih untuk menjawab dengan jujur.
"Kami sudah tidur bersama... Kau?"
"...Pegangan tangan"
Mendengar suara Dara yang seolah hendak menangis, membuat hati Luna sempat tergerak sebelum akhirnya dia disadarkan oleh sebuah cubitan di pipinya.
Menengok ke samping, terlihat Percy yang sedang memelototinya.
Walau dia sedang mengenakan topeng, tapi sepasang mata ungu bisa terlihat jelas dari lubang matanya yang menandakan kalau yang sedang berada di hadapannya sekarang bukanlah Percy melainkan Gurunya, Lavender.
"Selene... Kapan pertama kali kau bertemu dengannya?"
Di bawah tatapan Lavender, Luna pun menelan ludahnya sebelum menjawab "Satu atau dua bulan yang lalu, di Kasino". Setelah itu Luna pun menceritakan tentang bagaimana cara dia dan Pangeran Argenti bisa bertemu, tentang Pangeran Argenti yang tiba-tiba saja membawanya kembali ke kediamannya, saat Pangeran Argenti mengambil saat pertamanya, tentang bagaimana mereka tinggal bersama selama seminggu penuh, hingga
saat di mana dia di lamar dengan sebuah cincin dari berlian.
Mendengar ini, air mata pun mulai mengalir.
"Kenapa... Padahal aku sangat cinta padanya..."
Walaupun dia berusaha untuk menahannya, tapi air mata tetap mengalir dengan jelas. Agar penampilan Dara tidak terlihat oleh orang banyak, Zweite pun memosisikan payung besar di kepala mereka agar menutupi mereka semua
dari pandangan orang-orang.
Luna yang kebingungan kenapa Dara tiba-tiba saja menangis hendak meminta penjelasan kepada Gurunya. "Sunscreen" jawab Lavender singkat dengan menggunakan mulut Percy.
Sadar kalau ini ternyata adalah ulah Gurunya, Luna pun hanya bisa diam memperhatikan apa sebenarnya yang hendak Gurunya lakukan... Atau begitulah yang dia inginkan sampai Lavender memaksanya untuk melemparkan
beberapa pertanyaan yang telah dia siapkan sebelumnya.
Menerima secarik kertas berisikan daftar pertanyaan, Luna pun mulai membacanya satu-persatu.
"Kalau boleh tahu, kapan pertama kali kau bertemu dengan Pangeran Argenti?"
Berada di bawah pengaruh Lavender, Dara pun mulai bercerita...
"Itu adalah saat aku masih sangat muda... Paus Senor mengumumkan kalau Pangeran Argenti akan berkunjung ke Gereja... Aku beserta anak-anak yang lain segera dikumpulkan untuk menyambut kedatangannya..."
Dari saat dia pertama kali melihat sosok Pangeran Argenti yang masih muda, saat ketika dia jatuh cinta pada pandangan pertama, dia yang entah karena alasan apa dijodohkan dengan Pangeran Argenti, saat di mana dia
menghabiskan waktu bersama dengan Pangeran Argenti, saat di mana dia berusaha mengejar-ngejar Pangeran Argenti yang entah karena alasan apa mulai menjauhinya, hingga di saat dia mendengar kabar kalau Pangeran
Argenti telah meminang seorang gadis lain yang bukanlah dirinya.
Mendengar ini Luna sampai tidak tahu harus berkata apa. Di sisi lain, Lavender sedang memasang senyuman lebar di wajahnya.
Kini sudah waktunya untuk membaca pertanyaan berikutnya.
"Bagaimana pendapatmu mengenai Ras selain Manusia? Misalnya Beastman dan Elf?"
Meski sudah tahu akan sikap yang dia berikan ketika melihat ras yang bukan Manusia. Tapi mendengarkan pendapatnya secara langsung tetaplah sesuatu yang harus Lavender lakukan.
Dan apa yang terlontar dari mulut Dara selanjutnya adalah sesuatu yang bahkan membuat Lavender terkejut.
"Beastman kotor itu tidak lebih dari binatang tak tahu diri yang mencoba untuk meniru Manusia. Sedangkan Elf adalah makhluk hina yang berani mencuri kecantikan dan keabadian yang seharusnya dimiliki oleh ras Manusia.
Sedangkan untuk Makhluk lainnya, mereka tidak lebih dari makhluk hina yang mencoba untuk meniru, menggantikan, hingga memusnahkan Manusia yang adalah ras pilihan Dewa yang maha kuasa!"
Terkejut akan jawaban tidak terduga yang keluar dari mulut Dara, Luna sampai bergidik sendiri mengingat kalau apa yang Dara ucapkan kemungkinan besar adalah apa yang Agama Narsist ajarkan kepada anak-anak mereka.
Jika seluruh penduduk Kerajaan memiliki pemikiran seperti ini, maka wajar saja jika para Ras selain Manusia akan merasa tersiksa ketika hidup di Kerajaan ini.
Seketika dia teringat kepada temannya di kediaman Pangeran Argenti...
Hanyut ke dalam dunianya sendiri, Luna pun tersadar setelah Lavender memaksanya untuk menanyakan pertanyaan selanjutnya.
"Apa sebenarnya itu Agama Narsist dan bagaimana itu bisa terbentuk?"
...
Ketika aku tersadar, aku sudah menemukan kalau pandanganku terhalang oleh sesuatu.
Mengambilnya, baru aku sadar kalau itu ternyata hanyalah sebuah handuk kecil biasa. Tapi, entah kenapa aku bisa merasakan aroma bunga dari handuk itu.
"Ah, kau sudah bangun?"
Melihat ke sumber suara, aku menemukan Selene yang sedang memakan buah semangka dengan santainya. Melihat sekeliling, barulah aku ingat kalau aku saat ini sedang berada di pantai.
Kalau ingatanku benar, tadi aku sedang... Ah, benar. Zweite tadi sedang mengoleskan sesuatu bernama tabir surya ke kulitku agar kulitku tidak terbakar oleh matahari. Setelah itu aku kehilangan kesadaranku, apakah aku ketiduran?
"Mau?"
Tanya Selene yang menawarkan sebuah semangka yang baru saja dipotong kepadaku. Tidak punya alasan untuk menolaknya, aku pun menerimanya dengan senang hati.
Mengambil gigitan kecil, aku sudah bisa merasakan sebuah perasaan manis yang menyegarkan di mulutku.
"Ini garamnya"
"Garam?"
"Begini caranya..."
Apa yang Selene serahkan kepadaku adalah sebuah piring kecil yang di atasnya terdapat semacam kristal-kristal kecil berwarna putih. Menunjukkan caranya, Selene pun mengambil sejumput dari kristal bernama garam itu dan menaburkannya kepada semangkanya.
Sambil menggigit bagian yang telah ditaburi garam, Selene pun memaksaku untuk melakukan hal yang sama. Menurutinya, aku juga ikut menaburkan garam kepada semangkaku dan mulai menggigitnya.
"Hmn?" rasa asin dan manis bercampur di dalam mulutku.
Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, tapi karena rasanya yang enak aku jadi tanpa sadar telah menghabiskan semangka bagianku.
"Hehe, tenang saja, masih ada banyak"
Melihat Percy yang membawakan satu nampan semangka yang telah dipotong-potong, aku pun dengan senang hati mengambilnya.
Dengan itu aku dan Selene pun menghabiskan waktu dengan menikmati semangka di pantai sembari melihat pemandangan matahari yang mulai tenggelam di lautan.
Aku tertidur sampai sore?
...
Sehabis makan malam, aku kembali ke ruang kerjaku.
Mengecualikan Glory dan Victoria yang senantiasa berdiri di belakangku, hanya ada aku sendiri di ruangan ini.
Dengan di tangan, aku mulai memberikan laporan rutin kepada Nenek.
"Jadi begitu, sebuah agama yang berdasarkan satu orang. Dengan tujuan untuk menyebarkan propaganda kalau Manusia itu adalah ras yang paling sempurna. Sayang sekali kedua Biarawati yang aku interogasi tadi siang
memiliki peringkat yang rendah sehingga mereka tidak tahu banyak. Tapi, apa pun yang sebenarnya mereka sembunyikan pasti bukanlah sesuatu yang baik"
"Aku setuju, oleh karena itu, pada saat Pasukan Aliansi berhasil masuk ke dalam Ibukota Narsist Kingdom, aku menyarankan mereka untuk langsung menyerbu Katedral sebagai target utama ketimbang menyerbu Istana Kerajaan"
"Hmm... Apakah kau yakin? Walaupun itu adalah agama yang sesat, tapi menyerang bangunan keagamaan..."
"Nenek tidak usah khawatir, para Otherworlder itu pasti akan langsung paham dan dengan senang hati akan menyerbu Katedral itu dan memenggal kepala Paus mereka"
"Hah, jika itu yang kau pikir adalah yang terbaik, aku akan menyampaikan ini kepada Rosemary"
"Terima kasih"
Dengan satu masalah sudah selesai, sekarang waktunya untuk beralih ke masalah lainnya.
Masih berhubungan dengan Agama Narsist, topik kali ini berkaitan erat dengan Dara.
"Mereka menjodohkan seorang anak yatim piatu dengan Pangeran mereka sendiri?"
"Itu benar, jika saja anak itu diadopsi oleh keluarga Bangsawan terlebih dahulu sebelum dijodohkan aku masih bisa memakluminya, hanya saja yang satu ini masih tidak memiliki Keluarga dan sudah disandingkan dengan Pangeran Kedua"
"Hmm... Ini jelas bukanlah hal yang lumrah. Apakah kau tahu seperti apa kepribadian dari anak itu?"
"Fanatik"
Jawabku singkat yang langsung membuat Nenek paham dengan segalanya.
Penjelasan singkatnya adalah, Paus Senor selaku otak dari seluruh Agama Narsist hendak memiliki kuasa penuh akan Narsist Kingdom. Mengawinkan adiknya sendiri dengan Raja Narsist Kingdom saja tidak cukup. Karena dia yang tidak punya keturunan (Katanya) dia sampai mengumpulkan anak-anak yatim piatu dari segala penjuru Kerajaan dan menjejali kepala mereka dengan ajaran Agama Narsist sampai akhirnya mereka mendapatkan kandidat yang paling cantik serta yang paling setia kepada mereka.
Setelah kandidat di dapat, mereka pun disuguhkan kepada para Pangeran untuk mengikat mereka dengan hubungan pernikahan.
"Narist Kingdom punya 3 orang Pangeran. Aku tidak tahu di mana yang ketiga, hanya saja yang Pertama sudah beristri sedangkan calon mempelai Pangeran Kedua saat ini sedang berada di tanganku"
"Aku tidak akan bertanya bagaimana kau bisa mendapatkan gadis malang itu dan apa yang akan kau lakukan kepadanya, yang ingin aku tahu adalah apa yang ingin kau lakukan terhadap Agama Narsist ini?"
"Bukankah itu sudah jelas? Sebuah agama sesat yang ada semata-mata untuk mengendalikan sebuah Kerajaan dari balik layar tidak pantas untuk dibiarkan begitu saja. Ada lebih baiknya untuk menghancurkan Agama ini
secepatnya"
Tampak berpikir sejenak, Nenek pun akhirnya berkata...
"Baiklah, aku akan meminta Rosemary untuk fokus menghancurkan Agama ini bagaimanapun caranya. Kau bisa tenang dan lanjutkan saja apa yang ingin kau lakukan"
"Tentu saja"
Dan... Panggilan pun berakhir.
Sumpah, setelah pulang nanti hal pertama yang akan aku lakukan adalah mengutak-atik item sialan ini agar berhenti boros Mana.
Hah, kapan yah kira-kira aku bisa pulang?
Kalau aku tidak salah ingat di basement sekarang sudah penuh dengan objek percobaan yang menunggu untuk membantuku menaikkan level.
Aku juga ingin kembali bersantai sambil menonton usaha para Petualang malang yang berpikir kalau mereka bisa menaklukkan Dungeon buatanku.
Dan yang lebih penting...
"Ini sudah saatnya pembukaan toko kan? Ahh... Padahal ini adalah tokoku sendiri. Bagaimana bisa aku melewatkannya?!"
Pasrah akan keadaan, aku pun memilih untuk pergi tidur saja.