A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 71 : Bloody Streets



Ibukota Drakon Kingdom, Draco.


Adalah sebuah kota yang indah nan megah sebagaimana sebuah kota tempat Istana sang Raja seharusnya berada. Itu adalah sebuah kota yang selalu damai nan tenteram berkat keamanannya yang terjaga. Saking amannya, bahkan para penduduknya tidak perlu takut berjalan di tengah malam sendirian.


Akan tetapi, pada hari itu kedamaian seakan sirna di Ibukota Draco.


Para Kesatria Kerajaan dengan persenjataan lengkap berlalu lalang di jalanan Ibukota.


Orang-orang yang melihat ini jelas heran kenapa para Kesatria yang biasa berjaga di sekitar Istana bisa berada di jalanan umum. Ada yang menyangka kalau mereka dikerahkan untuk menyambut invasi dari musuh. Ada juga yang


menyangka kalau mereka sedang menuju Ferox Kingdom untuk membantu tetangga mereka.


Semua dugaan itu salah.


Itu karena apa yang menjadi tujuan dari para Kesatria itu bukanlah berada di luar wilayah Ibukota melainkan di dalam Ibukota itu sendiri.


Para kesatria Kerajaan itu sekarang tidak sedang mencegah ada musuh yang masuk ke dalam Ibukota. Melainkan mereka mengepung seluruh Ibukota untuk mencegah siapa pun untuk keluar. Dan target utama mereka adalah Distrik Bangsawan.


Seperti namanya, Distrik Bangsawan adalah distrik di mana para Bangsawan berdiam. Letaknya tepat mengelilingi Istana yang juga memisahkan Istana Kerajaan dengan Distrik Umum.


Alasan kedatangan mereka adalah satu.


"Atas nama Pangeran Pertama\, Draco Blut Drakon. Marquis *** *** dinyatakan bersalah atas segala tindak kejahatan dan tindakan tercela yang telah dia lakukan selama ini. Sebagian tindak kejahatan itu berupa\, Korupsi\,


penggelapan pajak\, pencucian uang\, dan masih banyak lagi. Atas semua tindak kejahatan yang telah disebutkan dan yang belum disebutkan\, maka dengan ini Marquis *** *** telah di copot dari gelarnya dan akan di tahan sampai waktu pengadilan tiba. Mohon menyerah dengan damai"


Sembari mengumumkan hal ini, para Kesatria Kerajaan itu telah mengepung kediaman bangsawan yang bersangkutan. Tentu saja penjaga pribadi dari bangsawan itu mencoba untuk menghalau Kesatria Kerajaan untuk menerobos masuk dengan cara membarikade sekeliling rumah dan mengurung diri mereka di dalam.


Sedangkan si pemilik rumah yang menjadi target dari Kesatria Kerajaan mengurung diri di dalam rumah bersama dengan istri dan anak-anaknya. Mereka tidak mampu dan tidak berani untuk melangkahkan kaki mereka keluar bahkan satu langkah saja.


Sambil meringkuk ketakutan mereka duduk bersama agar tetap tegar sekaligus untuk memikirkan bagaimana caranya mereka bisa kabur dari situasi ini.


Sayang, Kesatria Kerajaan tidak punya niat untuk menunggu.


Setelah berkali-kali memberikan peringatan namun tidak mendapatkan jawaban, mereka pun memaksa masuk dengan cara menghancurkan barikade dan melawan prajurit yang berjaga.


Para prajurit pribadi bangsawan yang sejatinya hanyalah prajurit biasa yang gagal dalam seleksi untuk menjadi Kesatria jelas tidak bisa berkutik saat dihadapkan dengan para Kesatria Kerajaan yang di pilih dari Kesatria yang paling elite seantero Drakon Kingdom.


Hanya dalam hitungan menit mereka sudah berhasil menembus pertahanan dan sukses melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam rumah.


Melihat para Kesatria Kerajaan yang menerobos masuk, membuat para pekerja di sana gemetar ketakutan dan dengan patuh menyerah ketika diperintahkan.


Dalam sekejap mereka berhasil menemukan target mereka yang sedang bersembunyi di dalam ruang kerjanya bersama dengan seluruh keluarganya.


Diiringi oleh tangisan istri dan anak-anaknya, si bangsawan pun di tahan oleh Kesatria Kerajaan.


Pemandangan ini tidak terjadi di satu tempat ini saja. Melainkan ini terjadi hampir di seluruh Distrik Bangsawan.


Banyak sekali bangsawan yang terbukti korup di tahan dan seluruh harta mereka di sita. Seluruh karyawan yang bekerja di kediaman para bangsawan tersebut terpaksa harus mencari pekerjaan lain sementara keluarga dari


bangsawan yang di tahan kini telah kehilangan status mereka sebagai bangsawan dan berakhir menjadi rakyat jelata.


Distrik Bangsawan yang awalnya adalah distrik paling aman serta terjaga kini dipenuhi oleh darah merah yang menghiasi jalanan. Sebuah distrik yang awalnya indah dan tenteram kini dibanjiri oleh isak tangis serta


rintihan yang memilukan.


Penyebab kenapa semua ini bisa terjadi, orang yang menjadi pelaku utama yang menggerakkan seluruh Kesatria Kerajaan ini adalah satu.


Pangeran Pertama dari Drakon Kingdom, Pangeran Draco Blut Drakon.


Berdiri dengan percaya diri di atas balkon Istana Kerajaan, dia memandang rendah ke arah Distrik Bangsawan yang sekarang sedang dipenuhi oleh Kesatria Kerajaan.


Dia berdiri diam di sana memandangi hasil dari perintah yang telah dia berikan.


Selagi Pangeran Draco sedang berdiri diam di sana, adiknya yang adalah sang Pangeran Kedua, Drake Blut Drakon. Datang menghampirinya dengan ekspresi kesal di wajahnya.


"Draco, apa yang kau pikir telah kau lakukan!?"


Menanggapi adiknya yang berteriak kepadanya, Pangeran Draco tetap bersikap tenang. Malahan dia terlihat seakan dia merasa kasihan kepada adiknya itu. Dengan matanya masih setia memandang pemandangan di bawahnya, Pangeran Draco menjawab pertanyaan dari adiknya.


"Wahai adikku, Drake. Alangkah baiknya jika engkau tidak menaikkan suaramu seperti itu. Juga, lain kali panggil aku dengan sebutan 'Kakak' atau setidaknya panggil aku dengan gelarku"


"Tch, mana mungkin aku bisa bersikap sopan kepada pembunuh berdarah dingin sepertimu!"


"Oh, astaga. Sebuah tuduhan berat yang engkau tunjukkan kepadaku. Apakah dirimu memiliki alasan untuk menyebut kakakmu sendiri dengan sebutan kasar itu?"


"Kau, apakah pemandangan yang sedang kau lihat sekarang tidak cukup untuk membenarkan perkataanku!?"


Menanggapi emosi adiknya yang kian meninggi, Pangeran Draco tetap menjaga sikap tenangnya. Dengan sebuah gerakan yang anggun, Pangeran Draco membalikkan badannya dan akhirnya bertatap muka dengan adiknya.


"Wahai adikku Drake, apakah engkau berpikir aku melakukan semua ini tanpa alasan?"


"Memangnya alasan apa yang kau miliki sehingga dengan dinginnya kau membantai para Bangsawan yang dengan setia telah melayani Kerajaan?!"


Mendengar ini, tawa pun pecah dari mulut Pangeran Draco.


"Hahahahaha..."


Melihat kakaknya yang tiba-tiba saja tertawa, membuat bulu kuduk Pangeran Drake berdiri. Menggali jauh ke dalam ingatannya, Pangeran Drake merasa kalau ini adalah pertama kalinya dirinya melihat kakaknya tertawa lepas


seperti ini.


Bahkan ini adalah pertama kalinya dia melihat kakaknya tertawa.


Puas tertawa, Pangeran Draco pun memberikan sebuah seringai penuh arti kepada adiknya.


"Oh, Drake, adikku yang bodoh..."


Mendapatkan ejekan dari kakaknya, jelas saja itu memancing emosi dari Pangeran Drake. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Pangeran Draco selanjutnya membuat Pangeran Drake terdiam seribu bahasa.


"...Secantik itukah pelacur yang diberikan oleh Narsist Kingdom kepadamu?"


Mendapati adiknya tidak mampu berucap, Pangeran Draco pun melanjutkan perkataannya.


"Janganlah engkau berpikir aku tidak mengetahui kalau di kediamanmu sekarang hampir setengah penghuninya sekarang adalah pelacur murahan yang engkau kumpulkan dari segala wilayah. Dan janganlah engkau berani berpikir kalau aku tidak mengetahui kalau selama setahun ini dirimu selalu bertukar surat dengan gadis dari Narsist Kingdom yang engkau temui saat perjamuan dulu"


"Me-memangnya kenapa! Apakah salah untuk bertukar surat dengan seorang gadis?!"


"Jika itu hanyalah sekedar surat cinta maka tidak akan ada masalah. Tapi kau, seorang Pangeran dengan bodohnya malah membeberkan informasi internal Kerajaan kita yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh siapa pun! Terlebih jika itu adalah Kerajaan yang sekarang ini tengah berperang dengan Kerajaan di seluruh benua termasuk Kerajaan ini!"


Menerima bentakan dari kakaknya untuk pertama kalinya, keringat dingin mengalir di punggungnya.


Tatapan menghakimi dari kakaknya cukup untuk membuat Pangeran Drake untuk menelan seluruh perkataan yang hendak dia ucapkan.


Belum lagi aura yang Pangeran Draco keluarkan membuat Pangeran Drake tidak lagi memiliki keberanian untuk melawan kakaknya.


"Tindakan bodohmu itu sudah cukup untuk mengecapmu sebagai seorang penghianat yang mana membuatmu pantas untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan para bangsawan di bawah sana"


"La-lalu, apakah itu berarti kau akan menahanku sekarang?"


"Itu adalah niatanku... Jika bukan karena bujukan Ayahanda yang masih menaruh rasa sayangnya kepadamu, aku pasti sudah melemparmu ke dalam penjara..."


Memandang rendah kepada adiknya sendiri, Pangeran Draco pun mengumumkan hukuman yang akan diterima oleh adiknya itu.


"Drake Blut Drakon, atas nama Pangeran Pertama dari Kerajaan ini, serta atas izin dari ayahanda kita, Raja Krieger Blut Drakon. Telah mencabut hakmu sebagai seorang kandidat pewaris takhta Kerajaan dan mulai sekarang kau


tidak lagi diizinkan untuk meninggalkan kediamanmu sampai hukumanmu di cabut"


Mendengar kalau dia tidak lagi berhak bersaing dalam perebutan takhta, sama saja dengan mengatakan kalau posisinya sebagai seorang Pangeran tidak lagi berlaku.


Menyadari kalau mimpinya untuk menjadi seorang Raja telah menjadi mimpi belaka, sebuah mimpi yang sudah dia damba-dambakan sejak lahir kini tidak lagi berada di dalam genggamannya.


Kakaknya yang adalah seorang Pangeran Pertama jelas memiliki kesempatan paling besar dalam meraih posisi yang kini sedang Ayahnya duduki. Belum lagi Pangeran Draco adalah seorang pribadi yang cerdas baik dalam bidang akademik maupun dalam ilmu berpedang. Memiliki kharisma selayaknya seorang Pangeran dalam dongeng yang membuatnya disukai banyak orang baik itu pihak bangsawan maupun rakyat jelata.


Dengan seorang Pangeran Pertama yang seperti itu, jelas membuat Drake yang meski adalah seorang Pangeran Kedua memiliki kesempatan kecil dalam menyaingi kakaknya.


Tentu saja Drake sudah berusaha keras.


Dia telah mencoba segala hal yang mungkin bisa melampaui prestasi kakaknya itu. Sayang, tidak peduli apa yang dia lakukan, dia pasti akan dibanding-bandingan dengan kakaknya.


Itu masih tidak masalah.


Kalah dari kakaknya yang penuh dengan prestasi masih sangat wajar dan bisa untuk dimaklumi.


Mungkin saja semua kebaikan telah diturunkan kepada kakaknya dan hanya meninggalkan sedikit untuk dirinya.


Akan tetapi, semenjak adik perempuannya lahir, pandangannya berubah seketika.


Putri Pertama Drakon Kingdom, Wyrms Blut Drakon.


Sejak usia belia dia telah menunjukkan kecerdasannya yang menyaingi bahkan seorang pelajar. Dalam usianya yang masih kurang dari lima tahun, Putri Wyrms sudah mampu membaca dan menulis dengan lancar dan indah.


Dalam usianya yang ke enam tahun, Putri Wyrms sudah fasih dalam berbicara dengan anggun sepantasnya seorang Putri Kerajaan.


Semua orang membanjirinya dengan pujian sampai-sampai menjulukinya sebagai Jenius yang hanya lahir setiap seribu tahun sekali.


Di apit oleh kakak dan adik yang luar biasa, membuat dirinya seakan biasa saja.


Emosinya pecah ketika Drake mendengar gunjingan orang-orang di sekitarnya.


"Pangeran Draco adalah lelaki yang tampan dan berkarisma. Sedangkan Putri Wyrms itu bukan hanya cantik namun juga cerdas. Sungguh betapa luar biasanya Kerajaan ini karena telah di anugerahi oleh Pangeran dan Putri yang bisa di andalkan"


"Itu benar, aku bisa melihat masa depan yang cerah bagi Kerajaan ini"


"Itu mengingatkanku, apa yang sedang Pangeran kedua lakukan sekarang?"


"Pangeran Drake? Benar juga, sudah lama aku tidak mendengar kabar darinya"


"Ini hanya rumor, tapi katanya Pangeran Kedua suka mengelilingi dirinya dengan para gadis muda yang dia pungut dari jalanan"


"Gadis jalanan?! Oh, astaga, tidak bisakah dia menggaet setidaknya satu atau dua putri bangsawan kelas rendah untuk masuk ke dalam kamarnya?"


"Aku mendapatkan informasi ini dari mulut Putraku sendiri, katanya setelah Pangeran Kedua menyentuh putri seorang Baron, sebuah rumor buruk menyebar yang membuat semua gadis bangsawan lainnya sepakat untuk


menjauhi Pangeran Kedua"


"Oh, dan rumor apakah itu?"


"...katanya Pangeran Kedua mimisan dan pingsan hanya dari melihat tubuh polos seorang gadis"


"Bah, seelok itukah tubuh si putri Baron itu?!"


"Dalam standar kita, biasa saja"


"Bwahahaha... Bukan hanya tidak punya prestasi apa-apa, tapi dia bahkan tidak mampu menyentuh perempuan. Pangeran macam apa dia?"


"Heh, pasti selagi dia di dalam kandungan Baginda Ratu dia tidak mendapatkan nutrisi yang cukup"


"Kau mengatakannya. Pangeran dan Putri Pertama sama-sama memiliki rambut merah mirip seperti rambut Baginda Raja. Hanya Pangeran Kedua seoranglah yang memiliki rambut biru seperti Baginda Ratu"


"Tampaknya darah dari Baginda Raja hanya mengalir tipis di nadinya"


Mendengar semua ejekan yang ditujukan kepadanya jelas membuat darahnya mendidih. Mendengarkan semua itu setiap harinya tentu adalah siksaan bagi dirinya.


Dan sekarang, setelah posisinya sebagai seorang Pangeran sudah tidak ada lagi, membuat emosi Drake mencapai puncaknya.


"Draco... kau...!!!!"


Dengan geraman selayaknya hewan buas, Drake menghunuskan pedangnya. Yang menjadi targetnya tidak lain dan tidak bukan adalah kakaknya sendiri.


"Dasar bodoh"


Masih berdiri dengan tenang, Pangeran Draco tetap tidak bergeming meski sebuah pedang yang tajam kini sedang di arahkan kepadanya.


Sikap percaya dirinya itu dia dapatkan karena tahu kalau pedang adiknya tidak akan pernah bisa menggapainya.


"Apa!?"


Baru mengambil dua langkah maju, Drake dikejutkan oleh lima sosok berpakaian serba hitam yang muncul dari bayang-bayang.


Mereka semua mengenakan baju hitam tebal serta menutupi wajah mereka dengan topeng polos yang membuat mustahil untuk bisa mengetahui identitas atau bahkan jenis kelamin mereka.


Kelima sosok tersebut dengan sigap memisahkan Drake dari pedangnya dan dengan mudahnya berhasil menahannya di atas lantai.


Dengan lima orang yang menahannya secara bersamaan, mustahil bagi Drake untuk bisa meloloskan diri.


"LEPASKAN AKU!"


Tidak peduli seberapa keras dia berontak, Drake masih tidak mampu untuk membebaskan dirinya dari cengkeraman kelima orang berpakaian hitam itu.


Masih berdiri di tempatnya, Pangeran Draco memandang rendah kepada sosok adiknya yang berada di atas lantai


"Sudah berakhir"


Dengan ini Drake secara resmi telah kehilangan posisinya di Drakon Kingdom. Fakta kalau dia hendak menyerang saudaranya sendiri yang juga adalah anggota Keluarga Kerajaan adalah sebuah tindak kejahatan yang tidak akan


pernah bisa di ampuni.


Mengetahui hal ini...


"Grrr.... «Transfer»!"


Sebuah cahaya terang seketika menyinari seluruh tubuh Drake. Hal ini membuat kelima orang yang menahannya kian menguatkan genggaman mereka seakan cahaya terang itu tidak berpengaruh apa-apa bagi mata mereka.


Namun, mereka hanya bisa pasrah ketika mengetahui kalau mereka sekarang telah menggenggam udara kosong. Apa yang seharusnya adalah Drake kini digantikan oleh sebuah permata ruby yang sedetik kemudian retak dan


hancur berkeping-keping.


Melihat sosok adiknya yang sudah tidak ada lagi, Pangeran Draco hanya bisa mendesah lemah.


"Tidak pernah aku sangka kalau mereka akan memberikan trik menyusahkan ini kepada adikku yang bodoh"


"Maafkan atas kelalaian kami"


Sambil bersujud, kelima sosok berpakaian hitam itu pun meminta ampunan kepada Pangeran Draco. Suara yang terdengar dari balik topeng tetap tidak mampu memberitahukan akan siapa sebenarnya yang berada di balik topeng


tersebut.


"Tidak masalah. Yang terpenting sekarang adalah adikku yang bodoh itu bisa saja terkirim langsung ke Narsist Kingdom. Tapi untuk jaga-jaga, sisir seluruh pelosok Kerajaan dan jaga semua perbatasan. Cari dia sampai


dapat!"


"""SIAP!"""


Setelah para sosok berpakaian hitam itu kembali menghilang ke dalam bayang-bayang, Pangeran Draco kembali menyaksikan Distrik Bangsawan sama seperti sebelumnya.


Keesokan harinya.


Bertempat di alun-alun kota didirikan sebuah panggung yang terbuat dari kayu. Para penduduk sekitar awalnya tampak biasa saja karena alun-alun kota memang sudah biasa digunakan untuk mengadakan pesta rakyat atau perayaan lainnya sehingga pemandangan sebuah panggung yang di bangun itu sudah biasa.


Namun, panggung yang sekarang sedang di bangun bukanlah panggung biasa.


Itu dikarenakan panggung kali ini tidak ditujukan untuk mengadakan pentas. Melainkan sebuah panggung untuk melaksanakan hukuman.


Baru pada saat hari penghakiman tiba barulah para penduduk Ibukota Draco menyadari maksud sebenarnya dari panggung tersebut.


"PENGUMUMAN! Dengan ini upacara penghakiman para koruptor dan penghianat akan dilaksanakan!"


Atas pengumuman yang dikumandangkan oleh seorang Kesatria para warga setempat pun segera berkumpul.


Alun-alun kota seketika dipenuhi oleh warga yang penasaran dan datang untuk menonton. Tidak terelakkan kalau gosip mulai menyebar di antara para warga atas siapa sebenarnya yang akan di hukum.


Namun tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk berhasil menebak siapa saja yang akan di hukum. Mengingat, kemarin baru saja terjadi 'pembersihan' besar-besaran di Distrik Bangsawan.


Beberapa saat kemudian, para Kesatria Kerajaan mulai membawa beberapa orang untuk naik ke atas panggung.


Melihat sosok yang berada di atas panggung, sontak membuat semua orang tercengang melihatnya.


Itu karena semua sosok yang ada di sana adalah para Bangsawan yang selama ini melayani Kerajaan ini selama turun-temurun. Peringkat mereka bahkan tidak main-main. Peringkat paling rendah yang ada di sana adalah seorang Viscount sedangkan yang tertinggi adalah seorang Duke.


Duke! Bahkan rakyat jelata yang tidak berpendidikan pun tahu kalau itu adalah gelar Bangsawan tertinggi karena kekuatan mereka tepat berada di bawah Raja. Jelas saja ini membuat orang bertanya-tanya kejahatan apa yang


mungkin mereka lakukan hingga mendapatkan perlakuan seperti ini.


Belum lagi melihat apa yang mereka kenakan sekarang.


Para Bangsawan yang biasanya mengenakan pakaian serba mewah kini hanya memiliki kain usang untuk menutupi tubuh gemuk mereka.


Semua Bangsawan itu lalu disuruh untuk berlutut ke hadapan para warga yang menonton. Sontak ini membuat semua orang tercengang karena walau terpaksa, ini adalah pertama kalinya mereka melihat ada Bangsawan yang


menundukkan kepala mereka kepada rakyat jelata.


Salah seorang Kesatria Kerajaan yang bertugas pun mulai membacakan segala kejahatan yang para Bangsawan itu telah perbuat.


Para warga yang mendengarkan hal ini sontak langsung naik pitam.


Bagaimana tidak, walau secara umum mereka telah mengetahui kalau tidak semua Bangsawan itu adalah orang baik-baik, tapi mereka tidak pernah menyangka kalau para Bangsawan yang selama ini mereka hormati ternyata sebejad itu.


"Hukum mereka!"


"Penggal mereka!"


"Gantung! Gantung!"


Sorak penuh kebencian para warga pun seketika memenuhi alun-alun kota. Tidak sedikit dari mereka yang mulai melempari batu atau bahkan mencoba naik ke atas panggung untuk menghukum para Bangsawan itu dengan tangan mereka sendiri.


Para Kesatria pun mulai kewalahan untuk menghentikan sikap para warga yang mulai beringas.


Tidak punya pilihan lain, pihak Kesatria pun memutuskan untuk segera melaksanakan proses pengeksekusian secepat mungkin sebelum para warga menjadi kian beringas.


Hari itu, Ibukota dari Drakon Kingdom kembali berwarna merah.