
"Pertama, mari kita bicara tentang Ayahmu yang menahan semua orang yang ada di kota ini"
Apa yang dia katakan membuatku seketika paham kenapa aku bisa dikirim ke tempat ini. Jika seluruh kota ini memang dipindahkan ke dunia ini oleh Papa, maka jelas sekali Papa ingin mengujiku atau semacamnya.
"Sebelum kita bicara mengenai Ayahku, bisakah aku tahu dengan siapa aku bicara?"
"Aku hanyalah seorang budak tanpa nama"
"Baiklah, aku akan memanggilmu pria tua kalau begitu. Jadi, pria tua. Apa sebenarnya hadiah dari menara ini hingga ayahku sampai melemparku ke tempat ini?"
"Hahahaha... kau gadis yang cepat tanggap juga. Di sini aku berharap kau bertanya kenapa dan bagaimana Ayahmu memindahkan kota ini ke tempat terkutuk ini"
"Heh, aku tidak peduli apa alasan Ayah memindahkan kota ini. Kalau soal bagaimana dia melakukannya, itu memang membuatku penasaran. Karena itulah setelah aku keluar dari tempat ini aku akan menanyakannya secara
langsung karena itu akan jauh lebih cepat dan lebih akurat"
"Masuk akal"
"Jadi, aku akan bertanya sekali lagi. Apa hadiah utama dari menara ini?"
Setelah itu si pria tua mulai bicara.
Tower of Challenge memiliki hadiah yang akan diberikan setiap penantang berhasil menyelesaikan 10 lantai. Hadiahnya bervariasi tergantung dari tema lantai dan metode yang digunakan untuk menaklukkannya.
Karena 10 lantai pertama merupakan Lantai para Kesatria, maka hadiah yang diberikan biasanya berupa senjata dan perlengkapan anti sihir.
Lingkaran sihir untuk keluar dari menara akan tersedia di lantai 10. Jika penantang ingin masuk kembali ke dalam menara, maka mereka bisa saja mulai dari awal atau memulai dari lantai terakhir yang mereka taklukkan.
"Kau boleh saja keluar dan masuk kembali ketika sudah siap. Tapi ingat, ada hadiah spesial bagi mereka yang menaklukkan seluruh menara ini dalam sekali jalan"
"Menarik. Tapi aku akan lewat untuk saat ini"
"Haha... sayang sekali"
"Aku penasaran. Apakah kau itu seharusnya Boss yang aku lawan atau hanya sekedar bonus?"
"Aku hanyalah bonus. Boss sebenarnya sedang berada di ruang sebelah bersiap untuk menunggumu"
"Oh, kalau begitu bisakah aku menantangnya?"
"Tentu, silakan"
Kemudian muncul sebuah pintu kayu tepat di belakang si pria tua. Karena tidak ada lagi yang harus di bicarakan, langsung saja aku melewati pintu itu.
"Sedikit peringatan, Ayahmu itu adalah tipe orang yang kejam pada siapa pun yang menentangnya"
Tidak membalikkan badan, aku hanya berjalan melewati pintu tanpa mengindahkan apa yang pria tua itu katakan.
...
Apa yang menantiku di balik pintu adalah seorang pemuda yang mengenakan topi jerami yang lebar dan membawa... kalau enggak salah namanya Odachi? Pokoknya itu pedang panjangnya melebihi dari tinggi dari pemuda itu sendiri.
Dengan pedang yang telah terhunus, pemuda itu langsung berlari ke arahku.
Cepat!
Menggunakan (Shadow Switch) di saat-saat terakhir, aku sukses menghindari tebasan pedangnya yang sangatlah cepat meski memiliki panjang yang berlebih.
Yang paling menyebalkan adalah serangannya berhasil membelah dua topi kerucut yang aku kenakan. Jika saja topi ini tidak terbuat dari [Magical Garments] maka aku pasti akan murka lebih dari ini.
(Root Bind)
Mencoba menahannya meski hanya sedetik, aku melancarkan (Aero Press) untuk menahannya di tempat.
Seperti dugaanku, pemuda itu berhasil membelah akar tanaman yang menahannya dengan satu ayunan. Yang tidak aku duga adalah pemuda itu yang kewalahan di bawah tekanan udara yang menahannya.
Hanya untuk memastikan, aku menembakkan (Wind Slice) hanya untuk di tangkis oleh ayunan pedangnya meski dia melakukannya dengan susah payah.
Jadi begitu, kalau serangan secara langsung pasti akan langsung di tangkis sedangkan serangan tidak langsung sangatlah efektif kepadanya.
(Ground Hole)
Terjatuh ke bawah, aku meningkatkan tekanan dari (Aero Press) agar dia tidak bisa bangkit. Barulah aku dengan cepat mengaktifkan (Dual-Casting) (Metal Stakes) untuk menusuknya dan (Metal Wall) untuk menutup lubang
yang terbuka.
Karena tempat yang sempit di tambah dengan pasak besi yang menahan gerakannya, aku berharap dia akan diam di sana untuk selamanya.
Hanya untuk berjaga-jaga...
(Flaming Ground) dan (Fire Pillar)
Karena lingkaran sihir telah muncul, bisa dipastikan kalau pemuda itu sudah matang di bawah sana.
Baiklah, mari kita lihat apa yang ada di lantai sepuluh!
...
Tidak peduli dari mana kau melihatnya, tempat ini adalah sebuah koloseum.
Berdiri di hadapanku adalah seorang Kesatria Wanita yang memiliki rupa yang cantik serta mengenakan sebuah Light Armor keemasan lengkap dengan pedang dan perisai dengan warna yang sama.
Sekarang aku mengingatnya lagi, ini pertama kalinya aku berhadapan dengan Boss perempuan.
Sisihkan itu, tempat ini sangatlah buruk.
Selain tidak adanya sesuatu yang bisa aku gunakan untuk melawan si Boss, di luar arena aku mendapati 4 buah tiang dengan kristal biru yang bersinar di puncaknya. Tiang-tiang tersebut ditempatkan sesuai dengan arah mata
angin yang menciptakan semacam penghalang di dalam arena ini.
Tanpa aku sadari, kini aku hanya mengenakan pakaian biasa. Lebih tepatnya cosplay Penyihir yang aku kenakan sebelum aku dikirim ke tempat ini.
Hanya untuk jaga-jaga... (Fire Shoot) ...tch, benar-benar tidak berguna yah.
Si Boss segera menerjang ke arahku dengan perisainya yang ditempatkan di hadapannya. Aku mencoba menghindar dengan (Shadow Switch) seperti biasa, namun gagal berkat tiang-tiang sialan itu yang menonaktifkan sihirku.
Tak ayal aku mencoba untuk menghindar ke samping dengan cara melompat dengan sekuat tenaga. Untungnya aku masih sempat menghindar meski harus berguling di atas tanah.
Tidak berhenti begitu saja, si Boss segera mengayunkan pedangnya dengan cepat yang secara refleks aku tangkis dengan menggunakan Staff di tanganku.
Tunggu, aku masih punya staff?!
Jangan bilang...!
(Nature Serpent)
Seekor ular kayu raksasa muncul dari bawah tanah dan dengan rahangnya yang lebar menerkam si Boss bulat-bulat.
Jadi begitu, jadi hanya sihir tingkat ketiga yang mampu digunakan.
Itu sudah semakin jelas karena aku masih tidak mampu menggunakan (Thorn Bullet) untuk menembaki si Boss.
Sementara si Boss masih disibukkan oleh (Nature Serpent) aku harus memikirkan cara untuk bisa melawannya hanya dengan [Forest Magic].
Hmm... pertama-tama aku butuh sesuatu untuk melindungiku.
(Nature Protection)
Tanaman merambat mulai tumbuh dari bawah kakiku dan mulai menyelimuti seluruh tubuhku. Tanaman tersebut dengan cepat membentuk semacam baju zirah yang berbentuk seperti sebuah gaun perang yang indah dan mudah untuk digerakkan.
Selanjutnya aku menggunakan (Nature Creation) untuk membuat sebuah cambuk berduri sebagai senjata dan sebuah perisai kayu untuk pertahanan.
Kenapa cambuk? Karena ini adalah satu-satunya senjata yang pernah aku gunakan. Kapan? Saat menghukum budakku, tentu saja.
Melempar jauh Staff yang kini tidak berguna, aku menyaksikan si Boss yang dengan sekuat tenaga berhasil memenggal (Nature Serpent) dengan ayunan pedangnya.
Aku hanya melihat sedikit luka di tubuh si Boss tanda bahwa (Nature Serpent) tidak terlalu efektif untuk melawannya.
Membelakangi si Boss, aku langsung mengayunkan cambukku dan sukses melilit leher si Boss yang sedang lengah. Sebelum Boss itu sempat melakukan sesuatu, aku menarik keras cambukku dan membuat si Boss jatuh ke belakang dengan darah merah mengalir dari lehernya.
Menarik kembali cambukku, aku kembali memecut si Boss yang kini terbaring di atas tanah.
Tidak lagi lengah, si Boss sukses menangkis menggunakan perisainya dan dengan cepat bangkit kembali dan mulai menerjang ke arahku.
Aku mencoba untuk menyerang kakinya namun berhasil dihindari dengan cara melompat sekaligus mengayunkan pedangnya tepat ke arahku. Mengangkat perisai, aku menerima serangannya yang sangatlah kuat dan tidak seharusnya dapat di tahan oleh Penyihir sepertiku.
Menendang perutnya dengan sekuat tenaga, aku mundur ke belakang sembari mengayunkan kembali cambukku berkali-kali dengan liar.
Dengan lihainya si Boss menangkis semua serangan yang aku berikan kepadanya.
Dengan begitu kami jadi terlibat adegan kejar-kejaran di mana aku yang selalu berusaha untuk menjaga jarak sedangkan si Boss yang selalu berusaha untuk mendekat.
(Dual-Casting) (Nature Serpent)
Si Boss sekarang harus berhadapan dengan dua (Nature Serpent) sekaligus.
Memanfaatkan ini, aku selalu menyerang jika ada celah sembari memulihkan tubuh (Nature Serpent) yang terluka agar mereka bisa menjadi perisaiku lebih lama lagi.
Tentu saja si Boss tidak akan patuh begitu saja saat disuruh untuk melawan musuh baru yang aku ciptakan untuknya. Berkali-kali si Boss berusaha untuk tidak menghiraukan (Nature Serpent) yang ada di hadapannya untuk
menerjang langsung ke arahku. Namun tindakannya selalu saja terhalang oleh (Nature Serpent) lainnya.
Gerakan si Boss yang awalnya cekatan kini mulai melambat dan penuh akan celah.
Dan... dia baru saja di lahap oleh salah satu (Nature Serpent).
Entah mengapa aku jadi berharap untuk melihatnya keluar dari perut (Nature Serpent) seperti yang biasa ditunjukkan di film-film.
Tapi karena ada lingkaran sihir yang muncul, kurasa itu berarti tidak ada lagi yang harus aku lakukan.
"...Oh?!"
Menyadari kalau tiang-tiang penganggu itu tidak lagi berfungsi sehingga aku kembali bisa menggunakan sihirku, aku melihat semacam podium yang muncul begitu saja tidak jauh dari lingkaran sihir yang akan membawaku ke
lantai berikutnya.
Tepat di atas podium tersebut terdapat sebuah gelang emas yang dihiasi oleh intan permata berwarna biru cerah yang berkilauan.
Aku mencoba menggunakan [Appraisal] namun tetap saja gagal.
Walau tidak tahu apa fungsi yang sebenarnya dari gelang tersebut, aku tetap menyimpannya dan berjalan menuju sebuah lingkaran sihir lainnya yang berbeda jauh dari yang sebelum-sebelumnya.
Itu dapat terlihat jelas dari lingkaran sihir itu yang berwarna hitam pekat serta mengeluarkan sebuah aroma yang tidak mengenakkan seperti yang biasa tercium dari dalam selokan yang tersumbat oleh sampah dan semacamnya.
Walau aku sangat enggan untuk menginjakkan kakiku ke dalam lingkaran sihir tersebut, tapi aku bisa menduga kalau itu adalah lingkaran sihir yang aku butuhkan untuk bisa keluar dari tempat ini.
Langsung saja...
...
Terbangun dari tidurku, aku mendapati kalau aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.
"Apakah ini akar?"
Menyadari kenapa aku tidak bisa bergerak, aku menyingkirkan akar tanaman yang melilitku. Menghirup udara bebas, aku kembali menyadari kalau aku sekarang berada di sebuah ruangan yang berdindingkan beton yang dihiasi oleh semacam lingkaran sihir dan simbol-simbol magis yang baru pertama kali aku lihat.
Ruangan ini hanya diterangi oleh cahaya lilin yang remang-remang serta tersusun rapi mengelilingiku yang tampaknya sejak tadi berada di dalam semacam kepompong yang terbuat dari tanaman.
Sumpah, siapa sih yang bikin aku begini?
Tapi... mengingat kalau tanaman yang melilitku berwarna violet, kurasa aku melakukan ini pada diriku sendiri?
Di saat aku sedang membebaskan diri, aku mendapati sebuah gelang emas terpasang di pergelangan lengan kiriku.
Juga... tato seperti akar tanaman yang seharusnya hanya ada pada diriku di dalam dunia sana kini juga terdapat pada tubuhku yang ada di sini.
"Selamat malam, Nona Muda. Tuan Besar sudah menunggu Anda di ruangannya"
Tanpa aku sadari, kini terdapat seorang Pelayan yang berdiri di depan pintu yang terbuka. Sukses melepaskan diri dari kepompong yang melilitku, aku mengikutinya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Sesampainya di ruang kerja milik Papa, sudah terlihat Papa yang sedang duduk di balik meja kerjanya sambil menampilkan senyuman yang lebar. Terdapat juga Mama yang berdiri setia di samping Papa dengan tampang cemas bercampur lega.
"Tiga jam. Hebat juga dirimu bisa menaklukkan sepuluh lantai hanya dalam waktu tiga jam"
"Oh, apakah antara tempat itu dengan dunia ini memiliki perbedaan waktu karena aku merasa sudah berhari-hari di sana"
"Hahaha... itu benar. Jika dihitung, kau sudah berada di sana selama tiga hari"
Jadi begitu. Perbedaan waktunya jika di sana sehari maka di sini baru lewat sejam. Tetap saja...
"Jadi, bisakah Papa menjelaskan padaku kenapa aku harus dikirim ke sana?"
"Itu mudah. Aku hanya ingin melihat seberapa kuat dirimu yang sekarang. Perlu diketahui kalau kau telah memenuhi ekspektasiku. Terlebih saat melawan penjaga lantai sepuluh. Kemampuanmu untuk menciptakan baju
perang patut dipuji... Meski kemampuanmu dalam menggunakan cambuk harus dilatih lagi"
"Bukankah alasan itu terlalu dangkal? Jika ingin mengujiku, tidak bisakah Papa membuatku bertarung dengan salah satu Pelayanmu? Aku bisa merasakan ada beberapa dari mereka yang setara jika tidak lebih kuat dariku"
"Haha... kemampuan persepsimu juga tidak bisa diremehkan. Memang benar itu bisa jadi alternatif yang masuk akal. Akan tetapi, bukankah cara itu terlalu membosankan? Juga, yang aku inginkan adalah melihatmu dalam pertarungan hidup dan mati. Duel dengan Pelayan tidak akan bisa memenuhi hal itu"
Aku sama sekali tidak bisa protes akan alasan Papa. Itu karena aku juga akan melakukan hal yang sama jika berada dalam posisinya.
"Juga, itu adalah gelang yang indah yang kau dapatkan. Kemampuannya untuk menetralkan sepuluh sihir akan sangat berguna bagimu"
"Papa bisa tahu?"
"Oh, tampaknya kau masih harus melatih kemampuanmu dalam menilai benda"
Papa lalu mengambil pena dan mulai menulis sesuatu di atas kertas. Mama tampaknya tidak senang akan apa yang baru saja Papa tulis.
Selesai menulis, Papa kembali menghadap ke arahku.
"Lavender, mulai besok kau akan berlatih langsung dariku demi bisa menguasai kekuatanmu yang sebenarnya"
Oh!
Sungguh tawaran yang tidak bisa di tolak. Terlebih aku juga ingin tahu sihir apa yang Papa gunakan untuk memindahkan seluruh kota beserta penghuninya ke tempat aneh hanya dalam semalam.
"Terima kasih. Tapi... bisakah aku melihat jadwalku. Soalnya aku juga masih harus membantu Nenek di dunia sana"
"Tenang saja. Aku juga telah mempertimbangkan hal itu..."
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Mama memegang pundak Papa tampak meminta izin untuk mengatakan sesuatu.
Dengan satu anggukan dari Papa, Mama mulai bicara.
"Malika, apakah kau benar-benar serius ingin mempelajari sihir? Jika kau mau, kau bisa saja hidup seperti gadis pada umumnya"
Aku pikir Mama mau bilang apa, ternyata cuman itu.
"Mama... aku sudah lama bermimpi untuk menjadi seorang Penyihir. Sekarang aku sudah mewujudkan mimpiku itu. Dengan itu aku memiliki sebuah mimpi baru, yaitu untuk bisa menguasai sihir sebanyak yang aku bisa. Juga, dari dulu aku penasaran. Memangnya apa yang terjadi hingga Mama yang seorang keturunan Penyihir bisa benci dengan sihir?"
"Itu..."
Mama lalu mulai bercerita.
Sebagai seorang dari Sol Ciel, terlebih sebagai putri tertua dari Pemimpin Sol Ciel saat ini. Mama memiliki tugas untuk pergi menyelesaikan semua masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh Penyihir biasa.
Tugas yang Mama biasa jalankan adalah mengatasi permasalahan yang diakibatkan oleh sebuah sekte sesat yang saat itu sedang merajalela.
Sekte sesat tersebut selalu melakukan hal-hal tabu seperti ritual terlarang hingga pemanggilan Setan (Devil).
Selama itu Mama terus saja melihat akibat terburuk dari penyalahgunaan sihir.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya Mama lihat karena Mama sama sekali tidak mau membicarakannya.
Yang jelas, itu semua mencapai puncaknya saat Mama di suruh untuk menyelidiki sebuah kota yang menghilang secara misterius.
Di sana Mama hanya menemukan sebuah lahan kosong serta seekor Slime hitam pekat yang ternyata adalah Iblis penyebab hilangnya...
"Tunggu sebentar! Bukankah kota yang Mama maksud adalah kota Herausforderung tempat Tower of Challenge berada kan?"
Mama mengangguk.
"Bukankah kota itu adalah kota yang Papa kirim ke tempat aneh yang baru saja aku kunjungi?"
Mama kembali mengangguk.
"Terus... Mama bilang pelaku yang mama temui adalah seekor Slime...?"
"Haha... jadi itu yang kau khawatirkan"
Papa tertawa girang seolah tahu apa yang ingin aku tanyakan.
Jujur, aku tidak suka akan apa yang ingin Papa katakan.
"...Dugaanmu itu benar"
Papa lalu mengubah sebagian tubuhnya menjadi semacam cairan lendir berwarna hitam pekat seperti aspal.
Aku lalu menatap tajam ke arah Mama meminta penjelasan.
"...diriku dikalahkan olehnya... jadi..."
"Ahh... jadi itu penyebab Nenek membenci Papa... Dia tidak mau punya menantu seekor Slime"
"Hahahaha... lebih tepatnya diriku disebut sebagai Black Ooze. Tapi memang benar kalau rasku ini masih satu Familia dengan makhluk rendahan yang disebut sebagai Slime"
"Jadi..."
Aku melihat tanganku. Jika Papa adalah seekor Slime, maka...
"Haha, tenang saja. Sudah biasa bagi anak dari kaum Iblis untuk memiliki ras yang berbeda dari orang tua mereka. Dirimu yang sekarang jelas memiliki ras dan kemampuan yang berbeda dari diriku ini"
Hah... untung saja.
Tidak peduli bagaimana aku menghormati Papa, Slime itu agak...
Karena pembicaraan telah selesai, aku diizinkan untuk kembali ke kamarku untuk istirahat.