A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 105 : Battle of Nirvana (1)



Berdiri di atas teras Istana adalah Raja Pulchritudo ol Narsist.


Mata peraknya memandang ke kejauhan dengan rasa kesal dan jijik tercampur di dalamnya.


Tepat di luar dinding Ibukota adalah pasukan Aliansi yang sudah tiba dan bersiap untuk menggempur Ibukota Narsist Kingdom.


Fakta kalau pasukan Aliansi sudah tiba di depan pintunya sungguh membuat mulutnya terasa pahit.


Sudah berapa kali dia memerintahkan agar pasukannya menghadang pasukan Aliansi sebelum mereka bisa sampai di Ibukota. Akan tetapi, berkat bawahannya yang tidak becus, membuat pasukan Aliansi yang menjijikan itu berhasil mengotori halamannya dengan kaki mereka yang kotor.


"Senor!" tanpa menyembunyikan rasa kesalnya, Raja Pulchritudo memanggil Paus Senor yang sedari tadi berdiri tidak jauh darinya. "Ya, Yang Mulia" mengambil posisi bersujud, Paus Senor menundukkan kepalanya menunggu


perintah.


Walau Paus Senor sudah bersujud dengan anggunnya, hal itu tidak masuk ke mata Raja Pulchritudo yang sejak tadi tidak pernah mengalihkan pandangannya dari pintu gerbang.


"Katakan, apa yang sedang aku lihat sekarang?"


"Yang Mulia, apa yang Yang Mulia pandang sekarang adalah dinding suci dari Kerajaan Yang Mulia yang melebihi Kerajaan para Dewata"


Mencoba untuk memuji Raja Pulchritudo seperti biasanya, sayang bagi Paus Senor karena sekarang adalah hal yang terburuk untuk itu.


"!" merasakan Aura membunuh yang besar dari Raja Pulchritudo, mau tidak mau Paus Senor harus menggigil ketakutan karena dirinya tidak tahan menerima Aura yang kuat dari orang yang dia layani.


"Jika kau berkata itu adalah sebuah dinding suci... lalu kenapa! Kenapa para makhluk biadab itu bisa menyentuhnya!!!"


Tanpa memedulikan tata krama dan citranya sebagai seorang penguasa, Raja Pulchritudo membentak Paus Senor bagaikan orang yang sudah kehilangan akalnya.


Di bawah tekanan yang dikeluarkan Raja Pulchritudo, Paus Senor yang sudah mulai berkeringat dingin terburu-buru berusaha untuk menjelaskan.


"Yang Mulia..." sayang, Raja Pulchritudo tidak sedang merasa ingin mendengarkan dan langsung menyelanya "Anak-anakku hilang, Istriku yang pengecut telah kabur ke ujung Kerajaan, dan bahkan Jenderalku kini hanya


tersisa satu!" masih menolak untuk menghadap ke arah Paus Senor, Raja Pulchritudo akhirnya memberikan titahnya.


"Senor ol Ballena" memendam amarahnya, Raja Pulchritudo kini memberikan titah Kerajaan "Pergi lah ke medan pertempuran dan buktikan kesetiaanmu kepadaku!".


Menerima perintah dari sang Raja, Paus Senor hanya bisa menjawab "Keinginanmu adalah Perintah bagi Hamba" sebelum akhirnya pamit pergi meninggalkan Raja Pulchritudo yang masih setia memandang ke kejauhan.


...


"Bangsat!"


Mengucapkan kata-kata vulgar, Paus Senor menghentak-hentakkan kakinya selayaknya seorang anak kecil yang sedang merajuk.


Tanpa memedulikan para Maid dan Royal Guard yang sedang menontonnya dalam diam, Paus Senor mengeluarkan rasa frustrasinya di lorong Istana.


"Kenapa?! Kenapa harus aku yang disalahkan!??... Aku bukanlah Jenderal! Aku bukanlah penasehat Raja! Aku hanyalah seorang Paus! Seorang Paus dari agama buatan! Kenapa aku harus menerima semua kesalahan dan hinaan!?!?"


Mengacak-ngacak rambutnya yang sudah mulai langka, pakaian mahalnya kini menjadi kusut dan tidak lagi terlihat cantik.


Tanpa memedulikan pandangan para Royal Guard yang mengarah kepadanya, Paus Senor berjalan menyusuri lorong Istana untuk menuju ruang persenjataan.


Tidak peduli seberapa enggannya dirinya untuk maju ke medan perang. Adalah mustahil untuk menentang perintah sang Raja.


Dengan perasaan enggan Paus Senor memasuki ruang persenjataan untuk mengambil Armor yang akan melindungi dirinya di garis depan.


"Apa-apaan?!"


Baru saja Paus Senor masuk ke dalam ruangan, hal yang tidak di sangka menyapa dirinya.


Ruang persenjataan, yang, seperti namanya, haruslah berisikan berbagai persenjataan dengan kualitas tertinggi yang layak bagi Keluarga Kerajaan.


Namun, bukannya deretan pedang dan tombak yang dia temui. Malah galeri seni yang dia dapat.


Lukisan matahari tenggelam di atas sebuah danau yang indah. Sebuah pot tanah liat yang berwarna putih seperti susu. Hingga sebuah patung seorang wanita cantik yang sedang membawa sebuah gentong air.


Segala jenis karya seni terpajang dengan rapi di dalam galeri seni yang indah dan menawan.


Mengusap kedua matanya tapi pemandangan yang ada di hadapannya tetap tidak berubah. Sempat mengira kalau dia salah tempat, Paus Senor segera menarik seorang Royal Guard untuk ditanyai...


"Katakan, apakah benar ini adalah ruang persenjataan?!"


"Itu memang benar, akan tetapi, atas perintah Pangeran Pertama. Ruangan ini telah di sulap menjadi galeri seni pribadinya"


"Apa?!" masih tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar, Paus Senor langsung bertanya "kalau begitu di mana semua senjata dipindahkan?".


"Maaf, perihal hal itu hanya Pangeran Pertama yang mengetahuinya"


"Tch!" tidak menyembunyikan rasa kesalnya, Paus Senor segera menyuruh Royal Guard itu untuk kembali ke tempatnya sementara dirinya mencari di mana Pangeran Pertama sekarang berada.


Pangeran Pertama dari Narsist Kingdom, Cultura ol Narsist.


Mewarisi wajah dari sang Ayah dan mata dari sang Ibu, dia adalah seorang pria tampan sama seperti sang Ayah serta memiliki obsesi yang serupa seperti Ibunya.


Sebagai Pangeran Pertama suatu Kerajaan, maka wajar jika Pangeran Cultura di didik sebagai calon Raja berikutnya.


Hanya saja, berkat Raja Pulchritudo yang menolak untuk hidup dan mati sebagai makhluk fana. Dia tidak mengangkat Pangeran Cultura ataupun putranya yang lain sebagai seorang penerus tahta dengan delusi kalau dia yang akan hidup selama-lamanya akan terus memerintah Kerajaannya sehingga sesuatu seperti penerus sama sekali tidak dibutuhkan.


Karena itulah Pangeran Cultura tumbuh menjadi anak yang bebas karena tidak ada satupun beban di pundaknya.


Dengan semua waktu luang yang dia miliki, Pangeran Cultura mengejar apa yang telah menjadi obsesinya yaitu kesenian.


Jika sang Ibu, Ratu Impar ol Narsist terobsesi untuk menjadi wanita tercantik sejagat. Pangeran Cultura bercita-cita untuk mengumpulkan seluruh karya seni terbaik dari seluruh dunia dan memajangnya di museum pribadinya yang hanya dia seorang yang bisa menikmatinya.


Sudah tidak terhitung berapa banyak sebenarnya museum pribadinya ini.


Semuanya tersebar dan tersembunyi sehingga sulit untuk menghitungnya.


Dan, baru saja Pangeran Cultura membuat ruangan 'Tidak berguna' di Istana Nirvana sebagai tempat menyimpanan pribadinya.


"Hm♪ Hm♪ Hm♪" bersenandung riang adalah Pangeran Cultura yang baru saja pulang dari tempat pelelangan dengan sebuah mangkok keramik di tangan.


Tidak sabar untuk memajang rampasan kecilnya ke dalam museum barunya, Pangeran Cultura melihat sang Paman, Paus Senor datang menghampirinya dengan ekspresi kesal di wajahnya.


Sebagai keponakan yang baik, tentu saja Pangeran Cultura akan menyapa Pamannya itu.


"Paman Senor! Sungguh tidak menyangka akan bertemu dengan Paman di hari yang indah ini!"


Memberikan sapaan terbaik yang bisa dia berikan. Sayang, salam sapanya tidak di dengar oleh Paus Senor yang langsung melemparkan sebuah pertanyaan kepadanya.


"Katakan! Di mana aku menyimpan semua senjata di ruang persenjataan?!"


Mendapati sang Paman mengeluarkan kata yang tidak sopan, Pangeran Cultura sempat ingin membenarkan perkataan Pamannya namun tidak jadi setelah melihat ekspresi yang Pamannya buat sekarang.


Karena Cultura tidak ingin berlama-lama, dia pun dengan santainya memberitahukan segalanya.


"Maksud Paman rongsokan jelek tidak berguna itu? Karena Adikku, Argenti menginginkannya jadi aku berikan semua kepadanya"


Mendengar nama Pangeran Argenti yang telah seminggu ini menghilang. Rasa kesal di dalam diri Paus Senor pun menghilang dan digantikan oleh tanda tanya.


"Pangeran Kedua? Apakah Pangeran Cultura mengetahui keberadaannya sekarang?"


Menggelengkan kepalanya, Pangeran Cultura menjawab kalau terakhir kali dia bertemu dengan adiknya itu adalah 10 hari yang lalu.


"Sepuluh hari yang lalu?" menggumamkan hal ini, dugaan Paus Senor yang sempat menduga kalau Pangeran Kedua yang saat ini sedang menghilang sebenarnya telah mengkhianati Kerajaan dan bergabung dengan pasukan Aliansi kini semakin menjadi.


Tidak hanya membawa ketiga saudari serta saudara iparnya, Pangeran Argenti ternyata juga telah membawa seluruh persenjataan di dalam Istana bersamanya.


Demi memastikan kalau bukan itu saja yang Pangeran Argenti bawa, Paus Senor segera meninggalkan Pangeran Cultura begitu saja dan langsung bergegas menuju ruang harta.


Menyaksikan sang Paman yang berlari di lorong Istana, Pangeran Cultura yang tidak sempat untuk menegurnya hanya bisa geleng-geleng kepala sebelum akhirnya melupakan segalanya dan kembali berjalan menuju museum barunya.


Sesampainya di dalam ruang harta yang berada jauh di dalam Istana Nirvana. Paus Senor menghembuskan nafas lega. Melihat tumpukan emas dan permata di hadapannya, pikirannya menjadi tenang.


Hanya untuk memastikan, Paus Senor memeriksa semuanya dan menemukan kalau tidak ada satupun koin yang hilang dari ruang harta.


Berjalan keluar ruang harta dengan hati yang riang, selanjutnya dia kembali depresi karena dia masih tidak memiliki Armor yang bisa melindunginya di garis depan.


Tidak punya pilihan lain, Paus Senor terpaksa untuk kembali ke dalam ruang harta demi 'meminjam' beberapa kantong emas sebelum akhirnya dia pergi ke toko senjata yang berada tidak jauh dari Istana Nirvana.


...


Mengenakan Light Armor berwarna hijau daun, sebuah ornamen emas menghiasi armor miliknya hingga membentuk sebuah pola yang sangat cantik. Di tambah dengan berbagai macam batu permata yang menghiasi tubuhnya di sana-sini, membuat penampilannya menjadi sangat mencolok kemanapun dia berada.


Terlihat kalau pria tersebut juga membawa sebuah busur emas yang panjangnya setara dengan tubuhnya.


Identitas asli dari pria tersebut adalah Jenderal terakhir dari Empat Jenderal besar dari Narsist Kingdom.


Jenderal Angin dari Utara, Boreas El Borras.


Dengan ekspresi penuh percaya diri, dia memandangi para pasukan Aliansi yang hanya tinggal masalah waktu sebelum mereka meniup trompet perang.


Tanpa takut kalau dia akan menjadi target mudah, Jenderal Boreas menampakkan dirinya seolah mengumumkan kalau gerbang Ibukota berada di bawah perlindungannya dan siapapun yang berani untuk menyentuhnya harus mampu untuk melewati hujan panahnya.


Menghampiri Jenderal Boreas adalah seorang prajurit yang datang untuk membawakan berita.


"Lapor, atas titah Yang Mulia Raja, Paus Senor ol Ballena datang untuk memberikan bantuannya"


"Oh?" terkejut sekaligus tertarik akan berita yang datang secara tiba-tiba ini. Untuk pertama kalinya semenjak dia berdiri di atas sana, Jenderal Boreas mengalihkan perhatiannya dari pasukan Aliansi untuk menatap langsung kepada prajurit yang membawakannya berita itu.


"Bisakah kau meminta beliau untuk datang ke sini?"


Menuruti perintah dari sang Jenderal, prajurit itu menjawab "Siap laksanakan!" sebelum akhirnya berpaling dan bergeras menjemput Paus Senor.


Memperhatikan prajurit itu bergegas pergi, wajah Paus Senor terlintas di kepalanya.


Senor Ol Ballena.


Sudah berapa kali Jenderal Boreas berpapasan dengannya.


Meski jarang bertemu, dari pengamatannya, Jenderal Boreas berhasil tahu kalau Paus Senor itu adalah seorang pribadi yang congkak, tamak, seorang penipu ulung, serta seorang pengecut besar.


Orang sepertinya dapat dengan mudahnya memberikan perintah yang tidak masuk akal dari belakang layar namun rencana yang dia susun selalu berakhir dengan sukses besar.


Akan tetapi, ketika orang seperti itu di suruh untuk terjun langsung ke medan perang, mereka akan menjadi yang paling pertama untuk kabur dan apapun yang akan keluar dari mulutnya hanyalah sesuatu yang akan berguna


untuk menyelamatkan dirinya sendiri namun bukan dengan orang-orang di sekitarnya.


"Apakah Yang Mulia tidak ingin memenangkan peperang ini?"


Mempertanyakan keputusan dari orang yang dia layani, terdengar suara langkah berat mendekat ke arahnya.


Ketika Jenderal Boreas memalingkan wajahnya ke sumber suara itu... "Pffft..." sebuah tawa hampir saja lolos dari mulutnya.


Meskipun kelakuannya itu tidaklah sopan, tapi itu juga tidak bisa disalahkan.


Melangkah dengan canggung adalah sebuah Armor seputih marmer. Walau tidak ada ornamen emas yang menghiasinya, tapi pola yang terukir di atas Armor tersebut serta sebuah jubah biru yang berkibar di belakangnya sudah lebih cukup untuk memberikan kesan mewah pada Armor tersebut.


Penampilan Armor tersebut memang sedap untuk dipandang.


Sayang, orang yang berada di dalam Armor tersebut telah merusak semuanya.


Yang mengenakan Armor tersebut tentu saja adalah Paus Senor sendiri.


Karena dirinya mengambil jalur sihir, membuatnya memiliki fisik yang lemah. Di tambah dengan fakta kalau dia tidak memiliki [Armor Skills] membuatnya tidak mampu untuk menahan beban dari Armor yang dia kenakan sehingga berjalan pun susah baginya.


Sambil cengar-cengir menahan tawa, Jenderal Boreas menyambut kedatangan Paus Senor dengan riang gembira.


"Selamat siang, Paus Senor... Sungguh senang rasanya karena kehadiran dirimu di medan perang ini tentunya akan menaikkan moral semua prajurit yang ada"


Tahu benar kalau Jenderal Boreas sedang menghina dirinya, ekspresi kesal dia tampilkan yang semuanya ditutupi oleh helm yang dia kenakan.


Memang benar kalau penampilannya saat ini memang terlihat konyol. Tapi, dari semua Armor yang di jual di toko, hanya ini Armor yang bisa melindungi dirinya secara maksimum.


Tidak punya pilihan lain, mau tidak mau dia harus mengenakan Armor berat dan panas ini jika tidak ingin terkena panah nyasar.


"Jenderal Boreas, bagaimana situasi sekarang?"


Sadar kalau Paus Senor berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan, Jenderal Boreas hanya bisa menahan tawa sambil mengatakan situasi terbaru kepada Paus Senor.


Mendengarkan penjelasan dari Jenderal Boreas, Paus Senor hanya menganggukkan kepalanya dengan canggung. Senang karena pertempuran masih belum di mulai, dirinya juga merasa jengkel karena itu berarti dia masih harus


berada di dalam Armor pengap ini jauh lebih lama lagi.


Memperhatikan tingkah Paus Senor, Jenderal Boreas hanya bisa menghembuskan nafas kecewa.


Menjadi salah satu dari 4 Jenderal Besar adalah sebuah kehormatan besar baginya.


Hal ini membuktikan kalau dia memiliki Kekuatan, ketenaran, dan kuasa yang tinggi di Narsist Kingdom.


Akan tetapi, dari 4 Jenderal Besar, kini hanya dia sendiri yang tersisa.


Jenderal Dataran dan Jenderal Laut telah gugur di medan perang sementara Jenderal Matahari gugur di tangan penyusup yang telah sukses membuat mereka kehilangan banyak sekali reruntuhan yang berharga.


Posisi 4 Jenderal Besar tidak boleh dibiarkan kosong untuk waktu yang terlalu lama. Secara bersamaan, orang yang bisa mengisi posisi itu harus di pilah dengan sangat ketat dan tidak boleh sembarangan.


Uang dan koneksi tidak bisa mengisi posisi itu.


Hanya kekuatan sejati serta prestasi militer yang besar saja yang bisa membuatmu terpilih untuk menjadi salah satu dari 4 Jenderal Besar.


Berkat perang yang sedang berkecamuk, membuat pihak Kerajaan tidak punya waktu untuk memilih pengganti dari 4 Jenderal besar yang telah gugur dalam bertugas.


Karena kini hanya tinggal dia seorang. Membuat semua tanggung jawab jatuh ke tangannya.


Mengharapkan rekan yang bisa di andalkan untuk meringankan pekerjaannya, sungguh kecewa dirinya ketika Yang Mulia malah mengirimkan seorang badut kepadanya.


Memandang kembali ke arah pasukan Aliansi yang masih bersiap, nafas berat keluar dari mulutnya.


...


Tanpa terasa hari sudah hampir berakhir ketika mentari berganti menjadi rembulan.


Paus Senor yang sudah melepaskan helmnya sedang sibuk mengelap keringat di jidatnya. Sementara Jenderal Boreas sedang bersantai sambil mengelap batu permata koleksinya.


Ketika mereka sedang sibuk oleh urusan masing-masing, terdengar suara yang selama ini mereka tunggu.


Suara terompet bergema di udara, kemudian di susul oleh suara genderang yang menggebu-gebu.


"Akhirnya..." bangkit dari kursinya, Jenderal Boreas segera kembali ke atas gerbang dengan busur di tangan. Secara bersamaan Paus Senor segera mengenakan kembali helmnya dan bergegas menyusul Jenderal Boreas sambil beberapa kali hampir tersandung.


Tidak mengindahkan penampilan Paus Senor, matanya yang tajam memandang lurus ke arah pasukan Aliansi.


Total lebih dari 10.000 pasukan sudah berbaris rapi dengan senjata di tangan.


Walau jumlahnya terbilang sedikit untuk pasukan yang terdiri dari gabungan 3 Kerajaan, tapi jumlahnya tetap jauh lebih banyak dari prajurit miliknya yang totalnya tidak lebih dari 5.000 pasukan.


Pada barisan terdepan adalah pasukan yang mengenakan Armor yang beragam sementara pasukan yang berada di barisan belakang mengenakan Armor yang seragam.


Mudah di tebak kalau barisan terdepan adalah pasukan Otherworlder yang tidak bisa mati sementara yang berada di barisan belakang adalah prajurit dari Kerajaan lawan.


Memposisikan para Otherworlder di barisan terdepan adalah langkah yang pintar.


Berada di posisi yang rawan akan bahaya, sungguh bijak untuk menempatkan mereka yang tidak peduli akan nyawa mereka sendiri untuk menerima segala serangan.


Dengan matanya yang tajam, Jenderal Boreas memandang jauh ke barisan paling belakang dari pasukan Aliansi.


Di sana dapat terlihat dua sosok yang harus dia waspadai.


Penyihir Cahaya Suci, Rosemary La Ciel.


Pangeran dari Ras Elf, Lapelis Ast Regenwald.


Sayang dirinya tidak menemukan sosok Ratu para Peri (Fairy), Titania. Atau Pangeran Vampire, Verfolger Pes Sanguine.


Masih mewaspadai kedua sosok yang tidak ada di sini, Jenderal Boreas kembali mengalihkan perhatiannya kepada dua sosok petinggi lawan yang dapat terlihat di matanya.


Penyihir Rosemary masih satu hal, tapi Pangeran Lapelis adalah sosok yang paling dia taruh perhatiannya.


Memiliki senjata yang sama, kemampuan memanah Pangeran Lapelis sudah sangat terkenal dan tidak jarang dirinya sering disanding-sandingkan dengan Pangeran Elf itu.


Merasakan sudah saatnya untuk membuktikan siapa pemanah terbaik di seluruh Benua, Jenderal Boreas mulai menarik busur panahnya dengan seringai besar di wajahnya.