
Kemarin sungguh merupakan hari yang bagus.
Bukan hanya aku berhasil mendapatkan resep untuk ** tapi aku juga mendapatkan resep untuk membuat obat yang cocok untuk mempercepat penyembuhan Wooho.
Log In, aku langsung memerintahkan Zweite untuk mencarikan bahan-bahannya di kota.
Karena hari masih pagi, aku memutuskan pergi ke tempat latihan di istana sambil ditemani Percy dan Victoria untuk melatih [Whip Skills] milikku.
Oh, tidak lupa aku mengganti Equipment menjadi yang memudahkanku untuk bergerak. Kalau tidak salah yang aku kenakan sekarang termasuk ke dalam set Equipment untuk pendekar pemula.
Maksudku, Penyihir yang menggunakan cambuk dan perisai itu bukan Penyihir kan!
•Skill [Whip Skills] telah mencapai level 5, mendapatkan 1SP•
•Mendapatkan (Prey) dan (Coil) dari [Whip Skills]•
Aku rasa begini saja sudah cukup.
Walau kemungkinannya kecil bagiku untuk terlibat dalam pertarungan jarak dekat, tapi kejadian saat di Tower of Challenge masih bisa terulang kembali.
Karena [Shield Skills] mengharuskanku untuk menerima serangan, mustahil bagiku untuk bisa melatihnya... Tunggu sebentar.
"Victoria, kemari sebentar"
•Skill [Shield Skills] telah mencapai level 5, mendapatkan 1SP•
•Mendapatkan (Shield Bash) dan (Taunt) dari [Shield Skills]•
Bagus, untuk sementara waktu aku akan terus berlatih sampai setidaknya mencapai level 20 dan membuka Skill berikutnya.
"Ka... Ma-Master, apakah ini benar adalah pertama kalinya Ma-Master menggunakan perisai?"
"Sesulit itukah bagi dirimu untuk memanggilku Master? Lupakan, sebentar lagi waktunya sarapan. Latihan kita sudahi sampai sini saja"
Tentu saja aku tidak bisa memberitahukannya kalau aku juga sedang berlatih menggunakan pedang cambuk dan perisai di dunia sana.
Membasuh diriku dengan handuk basah karena entah mengapa mereka tidak punya kamar mandi meski ini adalah sebuah istana, aku kembali mengenakan jubah Penyihir kesayanganku.
[Magical Garment] sungguh adalah Skill yang sangat berguna.
Hari ini Nenek di jadwalkan untuk sarapan bersama dengan Kepala Suku. Untungnya aku memiliki alasan untuk fokus menyembuhkan Wooho sehingga aku terbebas dari sarapan bermenu politik.
Tepat setelah aku sarapan sendiri di kamar, Zweite kembali dengan semua bahan yang aku butuhkan di tangannya.
Langsung saja aku mengeluarkan yang baru pertama kali ini aku gunakan setelah Lif membelikannya untukku.
Berdasarkan resep yang diberikan oleh Colette, hal pertama yang aku butuhkan adalah (Holy Water) yang aku masukkan ke dalam gelas beaker.
Selanjutnya aku mencampurkannya dengan serbuk dari (Morning Flower) dan daun dari (Scarlet Dew) yang sudah dihaluskan.
Meletakkannya ke atas kompor kimia, aku memanaskan gelas beaker dalam api kecil sambil terus menggerakkan pengaduknya dengan menggunakan [Psychokinesis] sehingga aku bisa sekaligus bisa menyiapkan material yang lainnya secara bersamaan.
Mengambil mortar, aku memasukkan (Superior Herb) serta (Magical Flower) yang aku bawa dari Dungeonku lalu menumbuknya hingga sehalus mungkin.
Setelah halus, aku lalu menambahkannya ke dalam gelas beaker yang masih di aduk.
20 menit kemudian...
\ ★★★★★
«Health Recovery : Large» «Wound Healing : Large» «Enhance Recovery : Medium»
Sebuah ramuan yang terbaik yang mampu memulihkan segala luka dan memperkuat penyembuhan alami tubuh selama seminggu penuh.
Syarat penggunaan : Hanya gunakan sebanyak 1x sehari setiap pagi.
Sempurna!
Sekarang, aku harus memproduksinya sebanyak mungkin.
Jika saja aku tidak punya Alchemy Formation maka aku tidak tahu harus bagaimana.
Walau Potion ini tidak akan langsung menyembuhkan kondisi Wooho sepenuhnya, setidaknya dengan ini proses penyembuhannya bisa dipercepat.
•Skill [Alchemy] telah mencapai level 20, mendapatkan 1SP•
Baiklah, dengan ini aku hanya harus menyerahkannya kepada Wooho dan pekerjaanku secara teknis sudah selesai.
"Tampaknya dirimu sudah menyelesaikan pekerjaan kecilmu"
Nenek yang sedari tadi sudah menunggu di depan kamar akhirnya masuk dan menyapaku. Dari tampangnya Nenek sepertinya ingin memintaku untuk menemaninya ke suatu tempat.
"Pekerjaanku baru bisa dilanjutkan setelah Wooho Log In kembali. Jadi, mau pergi ke mana kita sekarang?"
"Baguslah kalau kau sudah mengerti. Kita akan pergi ke Colosseum"
Colosseum? Apakah Nenek mau menonton Gladiator atau semacamnya?
Tanpa banyak bertanya aku segera merapikan dan langsung pergi mengikuti Nenek ke Colosseum yang berada tidak jauh dari istana.
...
Bagaimana aku harus menjelaskannya yah.
Kalian semua pasti tahu dengan Colosseum di Roma kan? Kalau begitu aku tidak perlu menjelaskan secara mendetail seperti apa bentuk Colosseumnya kan?
Pokoknya sesampainya kami di sana kami langsung membeli tiket (Aku yang bayar) dan duduk di bangku penonton... Ini bangku VIP kan?!
Aku dan Nenek sekarang berada di ruang VIP yang berada tepat di atas bangku penonton untuk umum yang mana memberikan pemandangan yang lebih jelas ke arah arena.
Apa yang sedang aku duduki sekarang adalah sebuah sofa empuk yang dilapisi oleh bulu yang lembut dan halus. Di hadapanku adalah sebuah meja pendek yang terbuat dari marmer putih serta dipenuhi oleh hidangan yang lezat
dan minuman yang menyegarkan.
Karena semua Pelayanku berdiri tidak jauh di belakang kami sebagai penjaga, hanya aku dan Nenek saja yang duduk dengan santai menikmati pertunjukkan yang sedang dilaksanakan.
Ngomong-ngomong Victoria aku suruh untuk duduk tepat di sampingku selayaknya peliharaan setia. Saat aku bilang disampingku itu bukan di atas sofa melainkan di atas lantai.
Jujur aku tidak pernah tertarik akan Colosseum ataupun semacamnya.
Walau aku tahu kalau konsep 'Arena' sangatlah populer atau bahkan wajib ada di setiap game RPG sebagai sarana ajang PvP resmi, aku tidak pernah menemukan diriku merasa tertarik karena menurutku menjelajahi dunia luas
dan bereksperimen dengan apa yang kau miliki itu jauh lebih menarik ketimbang saling bertarung satu sama lain.
Sekarang, saat aku akhirnya disuguhkan dengan pertarungan antar Gladiator yang sebenarnya...
"Membosankan"
Tidak peduli dari mana aku melihatnya, pertarungan antar kedua Gladiator yang sedang ditampilkan sekarang teramat-sangat membosankan hingga aku ingin dibuat tertidur karenanya.
Serius, pertarungan di dalam Dungeonku jauh lebih menarik dari ini. Bahkan aku mendapatkan untung dari mereka sedangkan aku merasa malah buang-buang uang hanya untuk menonton... Dua bocah yang mengayunkan tongkat sambil setengah telanjang.
Yang menambah parah adalah tubuh mereka yang jauh dari kata berotot.
Jika saja mereka memiliki tubuh yang terlatih, maka setidaknya aku bisa sedikit menikmati pemandangannya. Maksudku, memang apa menariknya menonton dua cowok cungkring berkeringat?
"Bersabarlah, ini hanya sekedar pertarungan pengisi saja. Pertarungan yang sebenarnya baru akan dimulai tengah hari nanti"
"Kalau begitu ceritanya, memangnya siapa yang akan bertarung hingga membuat Nenek membuang-buang uangku seperti ini? Juga, tidak bisakah kita datang tengah hari nanti tepat sebelum pertarungan utama di mulai?"
"Jangan berkata begitu. Uang itu tidaklah terbuang percuma. Karena apa yang akan kita lihat nanti adalah hadiah dari Kepala Suku Leonidas"
"Tunggu sebentar, hadiah apa tadi?"
Nenek tidak mau berkata lebih jauh lagi dan hanya diam menikmati pertandingan yang ada di hadapannya. Walau Nenek tidak mengatakan apa-apa lagi, aku sudah bisa menebak apa maksudnya.
Sebagai hadiah karena telah menyelamatkan Putranya, Kepala Suku Leonidas Leo menghadiahkan kepada kami Gladiator terbaik yang mereka miliki.
Yang mana itu akan dibuktikan dengan pertarungan utama yang akan dilaksanakan tengah hari nanti.
Mengetahui hal ini, aku...
"Buat apa aku punya Gladiator?"
...
Pada akhirnya waktu yang telah dinanti-nantikan telah tiba.
Seluruh Colosseum berteriak keras menyambut pertarungan terakhir sekaligus acara utama pada hari ini. Antusiasme para penonton patut dimaklumi. Itu dikarenakan kedua Gladiator yang akan bertarung adalah dua Gladiator yang dinobatkan sebagai Gladiator Wanita terkuat dan tercantik seantero Ferox Kingdom.
Yup, mereka berdua itu perempuan.
Keluar dari gerbang barat adalah seorang gadis Manusia yang diperkirakan baru berusia sekitar 20 tahunan. Dia memiliki rambut pirang pendek dengan kedua matanya yang tertutup kain putih selayaknya kelas Priest yang
biasa ada di game RPG jadul.
Walau matanya tertutup, namun tampaknya itu tidak berpengaruh apa-apa karena dia berjalan dengan penuh percaya diri ke tengah arena seolah dia bisa melihat segalanya dengan jelas.
Armor yang dia kenakan adalah sebuah Bikini Armor berwarna putih yang lebih tertutup ketimbang dengan yang sedang dikenakan oleh Victoria sekarang. Senjata yang dia gunakan hanyalah sepasang Gauntlet yang seluruh
permukaannya dipenuhi oleh tonjolan-tonjolan bulat yang tersusun sejajar satu sama lain.
Dengan senyum penuh percaya diri di wajahnya, dia melambaikan tangannya ke arah penonton yang mana membuat sorakan para penonton semakin menjadi.
Keluar dari gerbang barat adalah lawannya pada pertarungan kali ini.
Dia adalah seorang gadis Beastman berdarah campuran dari suku... Macan kumbang? Pokoknya dia memiliki rambut hitam panjang serta tubuhnya yang eksotis serta berotot penuh akan bekas luka yang terlihat jelas karena
Bikini Armor yang dia kenakan memiliki level keterbukaan yang sama dengan milik Victoria.
Kulit eksotis, tubuh kekar yang dihiasi oleh bekas luka di tambah dengan tampangnya yang sangar membuatnya menjadi perwujudan sejati dari istilah 'Wanita ganas'.
Senjata yang dia gunakan adalah sepasang pedang kembar berwarna putih susu dan tampaknya kedua pedang tersebut terbuat dari tulang atau taring dari Mobs.
Sama seperti lawannya, gadis Beastman itu melambaikan kedua tangannya tinggi ke udara untuk menghibur para penonton yang sekarang sedang menyaksikannya dengan penuh semangat.
"Jadi gadis macan itulah yang akan menjadi hadiahku"
"Oh, apa yang membuatmu sangat yakin kalau dia yang akan KAU dapatkan?"
"Di lihat dari mana pun, gadis Beastman itu setidaknya dua kali lebih kuat dari gadis Manusia itu. Juga, memangnya Nenek butuh budak?"
"Bagus, tampaknya kemampuan observasimu itu telah meningkat pesat"
Dengan sudah diketahuinya hasil dari pertarungan ini, hilang sudah minatku untuk menontonya.
Karena aku tidak bisa pergi dan tidak mau buang-buang uang begitu saja, aku akan tetap bertahan. Setidaknya sampai aku tahu seberapa kuat sebenarnya gadis Beastman itu.
Dengan suara dentingan bel, pertarungan pun di mulai.
...
Dengan sinyal yang sudah dijatuhkan, kedua Gladiator pun langsung berhadapan.
Yang pertama kali membuat gerakan adalah si gadis Manusia. Dengan keahliannya pada ilmu bela diri, dia menendang tanah dengan keras hingga meninggalkan awan debu yang melayang di belakangnya.
Seolah menyambut serangan ini, si gadis Panther menyilangkan pedang kembarnya hingga membentuk huruf X di hadapannya.
!!!Ting!!!
Suara logam saling beradu bergema keras ke seluruh arena ketika si gadis Panther berhasil menahan pukulan kuat dari si gadis Manusia.
Tidak berhenti hanya dengan satu pukulan, si gadis Manusia segera melayangkan pukulan selanjutnya dengan menggunakan tangannya yang lain. Tidak berniat untuk menangkisnya, si gadis Panther menghindari pukulan
tersebut dengan jarak setipis kertas lalu membalasnya dengan sebuah tebasan menyamping yang mengincar perut lawannya.
Demi bisa menghindar, si gadis Manusia mengambil satu langkah mundur kebelakang dan sukses menghindari perutnya untuk tidak terbuka lebar. Memanfaatkan momentum, si gadis Manusia lalu kembali menendang tanah
dengan kuat dan kembali melayangkan sebuah pukulan kuat yang mengarah lurus ke wajah gadis Panther.
Sekali lagi si gadis Panther berhasil menangkis pukulan tersebut hanya saja kali ini dia hanya menggunakan sebilah pedang saja.
Bukan hanya sekedar menangkis, si gadis Panther lalu mengubah sudut pedangnya sehingga pukulan dari si gadis Manusia melenceng melewatinya. Bersamaan dengan itu, menggunakan pedangnya yang lain si gadis Panther berniat menebas lengan si gadis Manusia yang terulur lurus meminta untuk di tebas.
Mengetahui kalau dia tidak lagi punya waktu untuk menarik kembali tangannya, si gadis Manusia menyiapkan mentalnya dan memastikan kalau setidaknya pedang tersebut menebas pelindung lengannya.
Suara logam kembali bergema ketika pedang dari si gadis Panther sukses mengenai pelindung lengan dari si gadis Manusia dan meninggalkan bekas tebasan yang dalam namun tidak ada darah yang tertumpah.
Dalam sekejap si gadis Manusia langsung melayangkan sebuah tendangan memutar yang mengenai tepat di dada bagian samping si gadis Panther.
Darah segar mengalir dari sudut mulut si gadis Panther yang masih tetap berdiri meski sempat terdorong beberapa langkah kebelakang.
Sorak-sorai para penonton pecah ketika mereka melihat pertarungan ini.
Kedua Gladiator saling bertatapan untuk beberapa detik sebelum mereka akhirnya kembali melanjutkan pertukaran serangan mereka.
Di atas para penonton yang mulai memanas, aku hanya menonton dengan malasnya sambil mengelus rambut Victoria yang tidak di sangka terasa mulus di atas pangkuanku seakan dia adalah seekor kucing.
"Hah... Ternyata hasil akhirnya memang sudah ditentukan sejak awal yah..."
"Oh, apakah itu terlalu jelas?"
"Aku akui mereka berdua adalah pertarung handal. Tapi mereka adalah aktris yang buruk"
Tersenyum tipis, Nenek lalu menjelaskannya kepadaku.
Dulu ajang Gladiator memang dilaksanakan dengan melakukan petumpahan darah yang sebenarnya. Akan tetapi hal tersebut mulai memudar karena para penonton yang datang mulai merasa bosan karena pertarungan selalu saja
berakhir dalam sekejap mata.
Belum lagi mencari budak untuk menggantikan Gladiator yang telah gugur itu susah dan memakan banyak biaya.
Oleh karena itu, dibuat sebuah kesepakatan antara pihak penyelenggara dengan para Gladiator untuk menentukan alur pertarungan hingga siapa yang akan menjadi pemenang. Serta menjamin kalau yang kalah hanya akan menderita luka dan nyawa mereka tidaklah terancam.
Berkat segalanya yang telah direncanakan sebelumnya, membuat pertarungan menjadi lebih lama dan kian menarik yang membuat para penonton menjadi senang dan membuat bangku Colosseum menjadi penuh kembali.
"...Kalau kau mau menikmati pertarungan yang sebenarnya, sebaiknya kau menunggu sampai malam tiba karena pada saat itulah pertarungan antar Otherworlder dilaksanakan"
"Tentu saja, tentu saja mereka akan dengan senang hati saling bunuh-bunuhan..."
Kembali ke pertunjukkan di hadapanku, aku terus saja mengelus rambut Victoria sambil terkadang menggaruk bawah dagunya untuk mengusir rasa bosanku... Ini anak mendengkur yah?
Kembali ke arena.
Setelah adu serangan yang berkelanjutan, pada akhirnya 'pertarungan' antara si gadis Manusia dengan si gadis Panther mencapai puncaknya.
Kondisi mereka berdua kini jauh dari kata baik-baik saja.
Si gadis Panther kini penuh akan luka memar di sekujur tubuhnya yang mana membuat kulit cokelatnya berhiaskan memar berwarna biru.
Kondisi si gadis Manusia juga tidak lebih baik. Luka bekas sayatan tersebar di seluruh penjuru permukaan tubuhnya. Kulit putihnya kini tidak lagi. Darah segar yang mengalir dari luka yang terbuka tidak hanya membasahi
kulitnya namun juga mewarnai kembali Bikini Armornya menjadi berwarna kemerahan.
Walau begitu, mereka berdua sama-sama tersenyum.
Kedua Gladiator saling berhadapan dengan posisi yang seakan siap untuk menerjang satu sama lain.
Keheningan menyapu seluruh Colosseum ketika semua penonton sama-sama menahan nafasnya karena ketegangan yang mereka rasakan.
Tidak ada yang tahu apakah mereka telah menahan nafas selama beberapa detik atau bahkan beberapa menit.
Yang pasti tidak ada di antara mereka yang berani untuk bersuara.
Pada akhirnya, penantian mereka pun akhirnya terbayarkan.
Dengan waktu yang hampir bersamaan, kedua Gladiator sama-sama menendang tanah dengan kuat sehingga asap debu yang besar tercipta di belakang mereka.
Sebagai bagian dari peraturan, penggunaan Skill di larang di dalam arena Colosseum.
Meski begitu, kemampuan dari kedua Gladiator tersebut sangatlah tinggi sehingga serangan yang mereka lancarkan bisa setara dengan Skill.
Asap debu tebal membumbung tinggi ketika serangan mereka berdua saling bertemu.
Tidak mampu melihat apa yang sebenarnya terjadi, para penonton kembali menjadi tegang.
Beberapa saat kemudian, sorak-sorai yang sangat meriah menggema di seluruh penjuru Colosseum.
...
Dengan suara bising dari para penonton yang masih belum mereda juga, aku turun dari bangku VIP menuju ke dalam arena demi mengambil hadiahku.
Tentu saja fakta kalau pemenang dari pertarungan ini akan diberikan sebagai hadiah kepada orang yang menyelamatkan putra dari Kepala Suku mereka telah diumumkan.
Berdiri di tengah arena adalah pemenang dari 'pertarungan' ini.
Di mana-mana pemenang di Colosseum akan mendapatkan kebebasannya. Karena itulah yang menjadi penyemangat mereka karena tahu kalau setiap kemenangan yang mereka raih berarti mereka selangkah lebih dekat dengan kebebasan.
Akan tetapi, walau tahu apa yang menanti mereka bukanlah kebebasan melainkan perbudakan lainnya, para Gladiator tetap bertarung dengan sepenuh hati.
Pada saat aku akhirnya menginjakkan kakiku di arena, seorang laki-laki cantik menyuguhkan sebuah kerah hitam kepadaku.
Tentu saja aku melewatinya begitu saja.
Maksudku, jika saja itu adalah kerah dengan level yang sama dengan yang sekarang dikenakan oleh Victoria, maka dengan senang hati aku akan menerimanya.
Tapi apa yang mereka tunjukkan kepadaku hanya sedikit lebih baik dari yang mereka jual di toko.
Ya, mereka menjual kerah budak seakan itu hanyalah aksesoris belaka.
Walau aku bisa mendengar suara ribut dari... Seluruh penjuru, aku tidak memedulikannya.
Pada akhirnya aku tiba di hadapan hadiah milikku.
Dia adalah seorang gadis Beastman berdarah campuran dari suku Macan Kumbang.
Terlihat memar kebiruan menghiasi kulitnya yang eksotis. Meski begitu, ekspresi yang dia berikan adalah sebuah ekspresi yang seolah mengatakan kalau dia telah siap menerima apa pun masa depan yang akan dia jalani.
Meskipun aku bukanlah penggemar Gladiator, tapi aku akan tetap menghormati ketetapan hatinya.
(Submit)
...
..
.
Mengenakan Armor baru, aku sekarang tidak lagi berada di Colosseum ataupun di pasar budak. Percaya atau tidak, aku sekarang berada tepat di depan rumah Kepala Suku yang secara teknis adalah istana di Kerajaan ini.
Alasan kenapa aku bisa berada di sini adalah untuk menemani Master baruku.
Dengan kemenangan terakhirku, aku akhirnya diserahkan sebagai hadiah kepada orang yang katanya telah berjasa menyelamatkan putra bungsu dari Kepala Suku yang di culik oleh bandit Manusia.
Sebagai budak sejak masih belia, pergi dari satu tuan ke tuan lain sudah wajar bagiku.
Kalau di tanya apa yang membuatku bersyukur akan tuanku yang sekarang, itu adalah karena dirinya merupakan seorang Penyihir (Witch) dari Sol Ciel.
Belum lagi dari penjelasan seniorku, Master adalah cucu tertua dari pemimpin Sol Ciel yang sekarang. Yang berarti kalau Masterku yang sekarang memiliki kedudukan yang sama dengan putri Kepala Suku atau dalam istilah dari Kerajaan lain, Master adalah seorang tuan Putri!
Jika ada yang aku sesalkan, itu adalah fakta kalau Master memiliki darah Iblis (Demon) di dalam tubuhnya.
Sudah menjadi pengetahuan umum kalau ras Iblis (Demon) adalah ras terlarang yang merupakan musuh segala umat karena katanya dulu ras Iblis (Demon) pernah hampir menghancurkan seluruh benua ini.
Aku tidak tahu detil lengkapnya, yang pasti banyak orang yang tidak suka dengan Master.
Secara bersamaan mereka juga tidak punya nyali untuk memusuhinya secara terang-terangan karena kedudukan yang Master miliki mencegah mereka untuk melakukan itu.
Melihat Master dan Nyonya Besar selesai bertukar salam dengan Kepala Suku, mereka pun masuk ke dalam kereta kuda kayu yang seakan di ambil langsung dari alam.
Sedangkan untuk kuda yang menarik kereta tersebut... Aku takut untuk menyinggungnya.
Kursi pengemudi sudah di isi oleh dua Pelayan Master yang bernama Percy dan Zweite. Sedangkan kursi Pelayan yang berada di bagian belakang kereta juga sudah di isi oleh Pelayan Master yang lainnya yang bernama Trita
dan Vier yang merupakan anak kembar.
Itu menyisakan satu tempat lagi yang akan aku tempati bersama dengan seniorku.
Duduk meringkuk, aku berusaha untuk membuat diriku sekecil mungkin agar bisa muat di dalam loteng kereta yang sangat sempit dan pengap ini.
Aku melihat sendiri bagaimana Master menggunakan Skill sihirnya untuk menciptakan sebuah loteng tersembunyi di atas kereta kudanya. Loteng ini jika di lihat dari luar tampak seperti kalau kereta ini memiliki bagian atap yang tinggi sehingga orang luar tidak akan tahu jika ternyata ada ruang tersembunyi di kereta ini.
Mengecualikan celah kecil agar ada udara yang bisa masuk, tempat ini tertutup dengan rapat sehingga susah bagiku untuk bisa merasa nyaman di sini. Terlebih ketika kereta mulai berjalan dan melewati jalan yang tidak rata.
Berkali-kali kepalaku membentur atap yang pendek.
Jika ingin masuk atau keluar, aku harus melalui pintu kecil tersembunyi yang berada di bagian atas atap sehingga jika ingin masuk ataupun keluar aku harus memanjat naik kereta.
Berbeda dengan diriku yang berusaha untuk mencari posisi yang nyaman, seniorku, seekor Lizardman berdarah campuran yang bernama Victoria. Tampak dengan tenang berbaring dengan posisi menyamping sambil memejamkan matanya seolah dia sedang tertidur.
Jujur, aku merasa iri akan tubuhnya yang mungil.
"Senior... Bisakah aku menanyakan sesuatu?"
Melihat Senior diam saja, aku mengira kalau dia benar-benar telah tertidur. Sampai senior membuka matanya dan menampakkan sepasang mata yang menyala merah di dalam ruang yang gelap.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Kalau boleh tahu, bagaimana Master mempelakukan budak-budaknya?"
Seolah tidak tertarik dengan pertanyaanku, Senior hanya menjawabnya dengan singkat serta nada yang terdengar malas.
"Jika suasana hatinya sedang baik dan kau tidak membuat kesalahan apa pun, maka kau akan di sayang. Jika kau sedang sial dan membuat kesalahan baik itu sekecil apa pun, maka hukuman yang kau dapatkan"
"Jadi seperti pada umumnya yah..."
Pada saat aku menyaksikan Master menolak **