
Berjalan di tengah gurun yang panas dan gersang, aku terus memegangi topi kerucutku agar tidak tertiup oleh angin yang berhembus kencang.
Walau sudah mengenakan jubah yang telah dilengkapi dengan fitur untuk mengatur suhu pemakaianya, namun panas yang menyengat dari sang mentari tetap tidak mampu untuk dibendung sepenuhnya.
Berjalan bersama diriku adalah muridku Luna, serta para Pelayan dan budakku yang biasanya.
Terkecuali si kembar Trita dan Vier. Karena mereka berdua sekarang masih di pinjam oleh Nenek sebagai Pengawalnya.
Walau aku bilang 'berjalan' tentu saja aku tidak bermaksud berjalan dengan kedua kaki. Melainkan kami sekarang sedang menunggangi (Forest Golem) yang sengaja aku bentuk hingga rupanya menyerupai seekor kuda.
Alasan kenapa aku sampai repot-repot membuat Golem berbentuk kuda adalah agar kami tidak perlu repot memikirkan kesehatan dan stamina tunggangan kami karena kami harus memaksa mereka berjalan tanpa henti melewati Ancient Dessert yang kering nan gersang.
Sedangkan alasan kenapa kami sampai berjalan di tengah padang gurun begini adalah demi bisa menyusup ke dalam Narsist Kingdom tanpa diketahui oleh para penjaga perbatasan.
Menurut info dari Bleach, terdapat sebuah terowongan rahasia di tengah Ancient Dessert yang terhubung dengan gorong-gorong yang mengarah langsung ke kota kuno yang berada di bawah Ibukota Narsist Kingdom yang sekarang.
"Luna, seberapa jauh lagi kita?"
Dengan peta dan Kompas di tangannya, Luna pun mulai memperkirakan posisi dan arah tujuan kami.
"Jika perkiraanku benar, kita akan sampai setelah dua atau tiga hari perjalanan lagi"
Itu berarti masih lama yah.
Karena angin yang berhembus kencang membawa butiran-butiran pasir gurun, aku harus menyipitkan mataku agar tidak kelilipan. Aku bahkan harus melilitkan kain di sekitar mulutku sebagai masker agar butiran debu tersebut tidak terhirup olehku.
Memandang kedepan, hanya ada hamparan pasir luas yang terlihat.
Tidak terlihat adanya sesuatu yang bisa digunakan sebagai patokan untuk menentukan posisi kami yang sesungguhnya. Bahkan Glaza yang sedari tadi aku suruh mengawasi dari angkasa juga tidak menemukan sesuatu di tengah gurun yang luas ini.
Pasrah akan situasi yang sekarang, aku hanya memacu golem kudaku agar melaju sedikit lebih cepat.
Malam telah larut.
Berbeda dari siang hari yang membakar kulit, suhu gurun di malam hari sangatlah dingin hingga mampu untuk membuatmu mati kedinginan.
Kami sekarang sedang berkemah di tengah gurun.
Berkat para Pelayanku yang tidak membutuhkan istirahat, mereka dengan senang hati membangun perkemahan sederhana sebagai tempat bagi aku dan muridku untuk beristirahat.
Sedangkan kedua budakku, Victoria dan Glory bertugas untuk menyiapkan makan malam.
Terima kasih berkat yang bisa menampung banyak hal, kami bisa membawa perbekalan sebanyak mungkin tanpa perlu takut itu akan membebani kami.
Yang menambah bagus lagi adalah kami bisa membawa persediaan makanan segar tanpa perlu takut kalau itu akan membusuk karena waktu di dalam itu seolah terhenti.
Berkat ini aku bisa merasakan kemewahan yang tidak banyak orang bisa rasakan.
Memakan makanan segar di tengah gurun yang tandus.
Jika saja aku sekarang sedang berada di dunia sana tanpa adanya item sihir atau semacamnya untuk bisa menyimpan makanan segar, aku mungkin akan terjebak memakan makanan kaleng.
Selagi menunggu agar makanan siap untuk disajikan, aku kembali memperhatikan peta yang aku dapatkan dari Bleach.
Selain kami harus menemukan sebuah pintu gorong-gorong tua di tengah padang pasir, masalah setelah kami menemukannya juga tidaklah sesepele itu.
Sebagaimana jalur rahasia kebanyakan, jalan yang harus kami lalui nantinya adalah sebuah labirin seluas seluruh kota.
Labirin tersebut penuh dengan kelokan yang membingungkan dan jalan bercabang yang bisa mengarahkanmu ke tempat yang tidak engkau inginkan.
Hal yang bisa aku lakukan sekarang adalah berusaha keras untuk mengingat jalur yang benar dan menghafalkannya di luar kepala.
Selagi aku melakukan ini, Luna sedang sibuk membaca sebuah buku dengan wajah yang tersipu malu.
Pada saat aku bilang 'buku', yang aku maksud adalah setumpuk kertas yang di jilid seadanya dengan tali tanpa ada sampul keras yang melindunginya.
Jika kalian bertanya darimana dia mendapatkan buku itu, itu adalah buku yang sama yang ditulis oleh Milim saat aku dan Luna pulang kerumahku untuk mengambil Equipment.
Untuk apa isi dari buku tersebut, yah, menilai dari Luna yang sedari tadi tidak bisa diam saat membacanya, aku menduga itu ada hubungannya dengan rasnya.
"Master, makan malam sudah siap"
Oh, bagus.
Menyudahi urusanku sekaligus menyadarkan Luna dari fantasinya, kami pun mulai menikmati makan malam kami yang nikmat.
...
Hari telah berlalu.
Setelah istirahat selama semalaman, kami memutuskan untuk berangkat pagi-pagi sekali bahkan sebelum matahari masih belum terbit.
Dengan suhu yang masih menusuk, kami memacu Golem Kuda kembali melewati pasir yang masih diselimuti oleh kristal-kristal embun yang berkilau.
"Master, terdapat pergerakan di atas pasir"
Apa ini, baru juga berangkat sudah ada masalah saja.
Atas peringatan dari Glory, kami pun mengurangi laju kami. Mengirim Glaza kedepan, aku pun akhirnya mengetahui apa masalahnya.
Itu adalah seekor kalajengking.
Seekor kalajengking raksasa sebesar dua meter yang dipersenjatai oleh sepasang capit tajam dan sebuah sengat yang jarumnya saja sebesar kepala orang dewasa.
[Identify]
"Heh, (Sandcastle Scorpion) Percy dan Victoria, maju. Luna, kau bantu mereka dari kejauhan"
""SIAP!""
"Baik, Guru"
Dengan gagah berani Percy dan Victoria memacu Golem Kuda mereka dengan kecepatan penuh. Tepat sebelum mereka berhadapan dengan kalajengking itu, mereka berdua sama-sama melompat dari Golem Kuda dan mendarat tepat di hadapan Kalajengking itu.
Kryaaaa!!!
Mengeluarkan suara yang aneh, kalajengking itu tampak marah dan mulai menyerang Percy dan Victoria.
(Stand) (Defense Up)
Menguatkan pertahanannya, Percy mengangkat Bucklernya tinggi demi menyambut serangan capit yang datang kepadanya.
Sementara itu, Victoria bergerak ke samping kalajengking itu dengan kapak di kedua tangannya lalu mengayunkannya dengan sekuat tenaga ke arah ekor kalajengking itu.
(Heavy Swing)
Dengan ayunan kuatnya Victoria sukses memotong bersih ekor kalajengking yang membawa sangat yang beracun.
Kryaaaaa...!!!!
Murka, kalajengking itu mulai mengarahkan capit tajamnya berusaha untuk mendapatkan Victoria. Sayang, apa yang dia kira Victoria ternyata tidak lebih dari (Minor Illusion) yang dihasilkan oleh Luna yang berdiri di jarak yang aman.
(Sharp Edge)
Dengan perhatiannya kembali teralihkan oleh Percy, Victoria yang asli kembali berhasil memotong bersih dua kaki belakang kalajengking itu dengan kedua kapaknya.
Percy yang menyerang dari depan, Victoria yang selalu berpindah-pindah, dan ilusi yang membingungkan dari Luna membuat kalajengking itu akhirnya kewalahan.
Pada akhirnya kalajengking itu jatuh juga dan berakhir sebagai barang drop belaka.
Walau ini pertama kalinya aku melihat Luna bertarung secara sesungguhnya, tapi penggunaan ilusinya sudah sangat bagus hingga mampu secara efektif membingungkan lawannya.
"Kumpulkan barang dropnya dan kita akan kembali berangkat!"
Walau di awal kami sempat menemui kendala kecil, perjalanan kami kemudian lancar tanpa ada halangan sama sekali.
Saking lancarnya aku sampai di buat bosan karenanya.
...
Tanpa terasa dua hari sudah berlalu.
Saat ini posisi kami sudah sangat dekat dengan tujuan kami. Hanya menunggu waktu sampai kami akhirnya menemukan pintu masuk menuju gorong-gorong yang akan menuntun kami untuk menyusup kedalam Narsist Kingdom secara diam-diam.
"Master, terdapat reruntuhan di depan!"
Memerintahkan Glaza untuk memeriksa tempat yang Glory maksud, benar saja terdapat semacam reruntuhan kota kuno yang tertimbun oleh pasir.
Memasuki kawasan reruntuhan, kami menemukan bangunan-bangunan kuno yang dulunya mungkin di huni oleh kalangan menengah ke bawah karena ukuran rumahnya yang kecil serta arsitekturnya yang terbilang cukup sederhana.
Walau lebih dari setengahnya telah tertimbun oleh pasir, tapi masih banyak bangunan yang berdiri kokoh tanda kalau tempat ini masih ada.
"Berpencar, cari apa pun yang terlihat seperti pintu masuk!"
"""SIAP!"""
Merasa kalau ini adalah tempatnya, aku pun memerintahkan para Pelayan dan Budakku untuk berpencar dan mencari pintu masuk menuju gorong-gorong yang di maksud.
Setelah berjam-jam mencari, Zweite akhirnya menemukan pintu yang selama ini kami cari-cari.
"Tidak terkunci, baiklah, Percy, kau jalan di..." belum sempat aku selesai memberikan perintah, Glaza yang masih terbang di luar tiba-tiba saja melihat sesuatu mendekat dari kejauhan.
"Luna, buat jalan masuk ini tidak terlihat sekarang!"
"B-Baik! (Minor Illusion)"
Menggunakan [Illusion Magic] miliknya, Luna membuat seolah pintu masuk menuju gorong-gorong ini tidak pernah
ada. Dengan kami semua masih berada di dalamnya, tentu saja ini juga sekaligus membuat kami tidak lagi terlihat.
Sedangkan untuk Golem Kuda yang masih ada di luar, aku langsung membuat mereka berlari menjauh meninggalkan area ini secepat mungkin.
Masih mengaktifkan (Vision Sharing) aku menyaksikan sosok yang mendekat dari mata Glaza.
Apa yang mendekat adalah satu grup prajurit berkuda yang tampaknya sedang berpatroli. Mereka melaju santai mendekati reruntuhan ini sebelum akhirnya berhenti ketika mendapati kalau terdapat jejak kaki kuda di atas pasir.
Dari 5 orang prajurit yang ada, tiga orang di antara mereka langsung memacu kuda mereka mengikuti arah dari jejak kaki yang mereka temukan. Sementara dua prajurit yang tersisa mulai menyisir area reruntuhan jaga-jaga kalau masih ada orang di sekitar.
Oh, sial! Jejak kaki kami masih ada!!!
"Guru..."
"Shhh..."
Berusaha untuk tidak ribut, kami menunggu dalam diam agar kedua prajurit itu menyerah dalam pencarian mereka dan pergi menjauh.
Walau hanya ada dua, dan walau mereka berdua terlihat lemah, tapi kami tidak bisa begitu saja menyingkirkan mereka karena itu sama saja memberitahukan kalau kami ada di sini. Bahkan walau kami berhasil menutupi jejak kami setelah menghabisi semua prajurit yang ada, fakta kalau satu tim prajurit yang menghilang masih akan tetap ada.
Selagi kedua prajurit itu tengah mencari di tempat lain, aku menyempatkan diriku untuk menggunakan (Aero Control) untuk menghilangkan jejak kami yang mengarah ke dalam gorong-gorong.
"Semuanya, cepat masuk ke dalam. Aku akan menyegel jalan masuk ini"
Setelah semua orang melewati jeruji besi, aku lalu menggunakan (Nature Creation) untuk membuat tembok yang menutupi seluruh jalan ini hingga tidak lagi bisa untuk dilewati sebagai langkah pencegahan terakhir.
Untuk Glaza yang masih ada di luar, nanti aku hanya tinggal memanggilnya lagi dengan menggunakan [Summoning Magic] jadi tidak masalah walau dia di tinggal sekalipun.
Tidak lagi mengindahkan para prajurit yang masih mencari di luar, kami pun mulai memasuki kawasan labirin kuno yang berliku-liku.
...
Berjalan di dalam lorong yang gelap, aku menggunakan (Light Control) untuk menciptakan bola cahaya yang berfungsi sebagai sumber penerangan.
Walau aku memiliki [Night Vision] tapi tampaknya Luna tidak memilikinya sehingga dia masih membutuhkan sumber cahaya untuk melihat dalam gelap.
Berjalan beriringan, Percy yang adalah seorang Tanker berjalan paling depan dan Victoria berjalan di barisan paling belakang.
Melihat peta di tangan, aku berusaha untuk mengarahkan kami melewati labirin yang membingungkan ini.
"Hmn?"
Setelah beberapa saat berjalan, aku mulai mendengar suara air yang mengalir.
Tampaknya kami sudah dekat dengan bagian di mana selokannya masih dialiri oleh air. Meski begitu, aku masih tidak bisa mencium aroma busuk khas selokan yang kotor.
Pada akhirnya kami tiba di bagian selokan yang masih dialiri oleh air. Berbeda dari bayanganku, air yang mengalir di sini masih jernih hingga lebih tampak seperti aliran sungai ketimbang aliran selokan.
"Victoria, minum"
"Tunggu sebentar, apa?!"
"Aku bilang, minum!"
"Kau serius?... Hah, rasanya manis?!"
Begitu, bahkan air selokannya saking bersihnya hingga bisa di minum. Pantas saja para warga yang 'terbuang' bisa hidup dengan damai di bawah sini.
Menurut peta, kami hanya harus mengikuti arah aliran air ini berasal.
Kembali melanjutkan perjalanan, kami berjalan menyusuri aliran air demi bisa sampai di tujuan kami. Sepanjang jalan aku tidak bisa menemukan satupun benda yang bisa disebut sebagai sampah. Sepanjang aliran air sangatlah
bersih dan tampak terawat melebihi gorong-gorong kota modern.
Sembari berjalan, aku terus memperhatikan pergerakan para prajurit di luar dengan menggunakan penglihatan Glaza.
Tampaknya prajurit yang mengejar jejak kaki kuda di atas pasir telah kembali dan bergabung dengan prajurit lainnya.
Mereka tampak membicarakan sesuatu sebelum akhirnya kembali melanjutkan patroli mereka.
Hah, di saat-saat seperti inilah aku berharap kalau aku memiliki keahlian dalam membaca gerakan mulut. Dengan begitu setidaknya aku bisa mengetahui apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
Meski begitu, aku tetap memerintahkan Glaza untuk mengikuti mereka dari kejauhan.
Kembali menaruh perhatianku pada jalan di depan mata, Percy yang berjalan di bagian paling depan tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.
"Master, terdapat bayangan seseorang di depan"
"Oh, berapa banyak?"
"Hanya satu, anak kecil"
Bocah lokal yah.
Meski Percy berkata kalau dia melihatnya, tapi aku sama sekali tidak bisa melihat ada seseorang di depan. Apakah anak itu kabur setelah melihat keberadaan kami?
Itu mungkin saja. Maksudku, jika kau telah sembunyi sepanjang hidupmu, kau pasti akan merasa waspada terhadap setiap asing yang kau temui.
Namun, secara bersamaan, keberadaan anak itu juga menandakan kalau kami sudah dekat dengan hunian terdekat.
"Glory, bisakah kau melacak kemana anak itu pergi?"
"Akan hamba laksanakan"
Berganti posisi dengan Percy, Glory dengan penciumannya yang tajam memimpin jalan sembari dia melacak keberadaan anak yang tadi.
Karena tampaknya Glory telah mencium sesuatu, itu artinya anak tadi benar-benar berada di sini.
Walaupun Glory berasal dari suku Panther, yang mana tidak berspesialisasi dalam hal penciuman sebagaimana suku Anjing, namun penciuman yang dia miliki masih lebih tajam dari orang biasa. Dengan kemampuannya Glory mulai membimbing kami.
Setelah berjalan cukup lama, Glory pun menghentikan langkahnya.
"Master..."
"Ya, kita sudah tiba"
Walau aku tidak bisa melihat mereka, tapi keberadaan mereka jelas terasa.
Bersembunyi di balik kegelapan, para warga lokal telah mengepung kami dan mulai memperhatikan setiap gerak-gerik kami.
Merasakan bahaya, para Pelayanku segera masuk ke dalam posisi bertahan dengan aku dan Luna berada di tengah.
"Guru, kita tidak akan langsung bertarung dengan mereka kan?"
"Tenang saja, kita datang ke sini bukan untuk mencari musuh"
Meski aku berkata begitu, jika mereka menyerang terlebih dahulu maka aku tidak akan tinggal diam.
Baiklah, mari kita coba kemampuan negosiasiku.
"Aku adalah Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender La Ciel! Kedatangan kami kemari bukan untuk menjadi lawan kalian, melainkan untuk menjadi sekutu. Jadi, keluarlah dari persembunyian kalian dan bawa kami menuju pimpinan kalian!"
Setelah yakin kalau mereka mendengarkanku, kami pun memutuskan untuk menunggu.
Beberapa saat kemudian, tampak sekelompok orang yang datang menghampiri.
Mereka mengenakan Leather Armor yang tampak tua dan seharusnya sudah tidak layak pakai lagi. Di tangan mereka terdapat pedang dan tombak yang tampak murahan atau bahkan lebih tepat kalau menyebutnya sebagai senjata yang dibuat oleh Blacksmith pemula.
Setiap dari mereka masih sangatlah muda. Bahkan yang tertua umurnya pasti tidak terlalu jauh dengan Luna.
Berhenti beberapa meter di depan kami, pemuda paling tua yang berperan sebagai pemimpin mereka mulai bicara, dengan gugup tentunya.
"Si-siapa kalian d-dan apa m-mau kalian!"
Oh, astaga. Apakah mereka tidak mendengar apa yang baru saja aku katakan?
"Sekali lagi aku memberitahukan. Aku adalah Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender La Ciel. Aku adalah penyihir dari Sol Ciel. Kedatanganku kemari bukanlah untuk mencari masalah dengan kalian. Melainkan untuk menyelesaikan
masalah kalian. Jadi, tolong, bawa kami menuju pimpinan kalian sehingga kami bisa membicarakannya dengan damai"
Mereka tampak tidak tahu atau bahkan mungkin tidak mengerti akan apa yang baru saja aku katakan. Setelah berbisik satu sama lain, mereka akhirnya mencapai sebuah kesepakatan.
"I-ikut dengan kami. Namun jangan sekali-kali berbuat m-macam-macam!"
Ya ampun, sungguh meyakinkan.
Sudahlah, yang penting dengan ini aku mendapatkan pemandu menuju tempat hunian mereka dan bahkan mendapatkan janji untuk bisa menemui pimpinan mereka.