
"Tarik busur kalian!"
Atas perintahnya, lebih dari 500 prajurit yang berjaga di atas dinding Ibukota menarik busur mereka dengan kencang.
Jenderal Boreas yang memberikan perintah tentu juga telah menarik busurnya hingga mencapai batasnya.
"Bidik sasaran!"
Mengarahkan busur mereka ke udara, setiap prajurit berusaha untuk mengincar para pasukan Aliansi yang datang menyerbu mereka. Berbeda dari para prajurit lainnya, apa yang menjadi target Jenderal Boreas bukanlah para pasukan Aliansi melainkan sesosok Elf yang berdiri di kejauhan.
Dengan matanya yang tajam, Jenderal Boreas bisa melihat kalau lawannya juga telah menarik busurnya. Dengan efek cahaya putih serta angin hijau yang menyelimutinya, jelas sekali kalau sang Pangeran Elf telah serius dengan
mengaktifkan Skillnya.
Tidak mau kalah, Jenderal Boreas juga ikut mengaktifkan Skillnya sendiri.
Whoosh... angin hijau mulai berhembus menyelimuti anak panahnya hingga membentuk sebuah pusaran angin yang membuatnya tampak seperti sebuah tombak angin ketimbang anak panah.
Mengikuti sinyal dari Jenderal mereka, setiap prajurit yang ada mulai menirunya dengan mengaktifkan Skill mereka masing-masing.
Tanpa memedulikan para pemanah yang telah bersiap di atas dinding, para pasukan Aliansi tetap melaju kencang sambil meneriakkan teriakan perang yang menggebu-gebu.
Ketika mereka sudah semakin mendekat, Jenderal Boreas akhirnya memberikan perintahnya.
"Tembak!!!"
Walau hanya ada sekitar 500 prajurit yang memegang panah, tapi jumlah panah yang dilepaskan dua kali lipat dari yang sebelumnya. Semua berkat Skill yang para prajurit aktifkan yang membuat anak panah yang mereka lepaskan bertambah banyak di udara.
Ribuan anak panah melayang tinggi di udara sebelum akhirnya jatuh ke bawah sambil membentuk busur yang indah.
Melihat ribuan anak panah yang hendak menghujani mereka, tentu saja pasukan Aliansi tidak tinggal diam.
Mengarahkan Staff mereka ke udara, puluhan pengguna sihir bekerja sama untuk mengaktifkan (Wind Shield) yang bagaikan sebuah payung di saat hujan, (Wind Shield) yang mereka aktifkan sukses melindungi mereka serta
rekan-rekan mereka dari hujan panah yang mengincar mereka.
"Heh, trik murahan" tidak terkesan akan keberhasilan pasukan Aliansi dalam menghalau serangan dari prajurit bawahannya, Jenderal Boreas yang sedari tadi dalam posisi membidik akhirnya membebaskan anak panahnya.
(Eye of Storm)
Whooosh....!!! bagaikan sebuah pusaran badai anak panah yang Jenderal Boreas lepaskan melaju lurus melewati pasukan Aliansi langsung menuju barisan belakang yang jaraknya berkilo-kilo meter jauhnya.
Pasukan Aliansi yang melihat ini bergegas untuk menghentikan laju anak panah itu.
Bagaimanapun caranya, mereka harus melindungi barisan belakang yang adalah pusat komando mereka bahkan jika itu berarti nyawa adalah taruhannya.
Berbagai macam tembakan sihir mereka arahkan pada anak panah itu berharap untuk meledakkannya di tengah udara. Sayang, tidak ada satupun dari usaha mereka yang membuahkan hasil karena anak panah itu masih melesat lurus tanpa ada halangan yang berarti.
Di saat rasa frustrasi mulai melanda, cahaya harapan pun akhirnya datang juga.
(Firmament Arrow)
Whooosh!!! Melepaskan anak panahnya sendiri, Pangeran Lapelis menembakkan sebuah anak panah yang dilapisi oleh pusaran angin yang tidak kalah dengan anak panah yang ditembakkan oleh Jenderal Boreas.
Jika ada yang menjadi pembeda, itu adalah kelipan cahaya putih yang juga ikut melapisi anak panah milik Pangeran Lapelis. Tanda kalau anak panah itu telah mendapatkan (Blessing) dari Penyihir Rosemary yang
meningkatkan kekuatannya lebih jauh lagi.
Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya kedua anak panah saling beradu di angkasa.
Booom..!!!
Ledakan besar tercipta yang tidak akan pernah di sangka kalau yang beradu adalah dua buah anak panah yang ditembakkan dari sebuah busur panah.
Gelombang angin menerpa desar seolah hendak menyapu segalanya.
Pasukan Aliansi yang tidak beruntung dan tepat berada di bawah pusat ledakan harus menundukkan diri mereka sampai setara dengan tanah jika tidak ingin terkena efek ledakan yang sangat dahsyat. Mencoba menahan dengan
Skill bertahan masing-masing, usaha mereka terbukti tidaklah begitu efektif mengingat yang sedang beradu sekarang adalah sebuah Skill tingkat ketiga yang ditembakkan oleh dua orang dengan kekuatan yang setara.
Kekuatan mereka berdua itu setara, jika bukan karena salah satu dari mereka mendapatkan sedikit bantuan.
Mengira kedua anak panah akan saling menghancurkan, betapa terkejutnya Jenderal Boreas ketika sebuah anak panah melesat cepat tepat di depan wajahnya. "!" dengan refleks cepat Jenderal Boreas memiringkan kepalanya dan sukses menghindari anak panah yang hendak menancap di wajahnya.
"Waah!!!" betapa beruntungnya Paus Senor karena panah itu melesat cukup jauh darinya sehingga dia tidak berada dalam bahaya namun itu tetap cukup untuk membuatnya terkejut hingga membuatnya terjungkal ke belakang.
Akan tetapi, hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada para prajurit yang berjaga di balik gerbang.
"Argghh!!!"
Menengok ke belakang, terdapat setidaknya puluhan prajurit yang tewas berbaris dalam sebuah garis lurus dengan sebuah anak panah kini tertancap kuat di atas tanah tepat di belakang mereka.
Masih terkejut sekaligus terguncang karena kalah dalam beradu panah, Jenderal Boreas merasakan sensasi basah di pipinya. Meletakkan tangannya di pipinya, barulah Jenderal Boreas baru menyadari walau anak panah tadi
tidak mengenainya secara langsung, tapi pipinya tetap tersayat dan kini darah segar mengalir dari luka yang terbuka.
Terkejut, malu, dan rasa murka mengalir di dalam hatinya.
Sudah menjadi pengetahuan umum kalau ilmu memanahnya adalah yang terbaik di seluruh Narsist Kingdom. Sudah bosan telinganya mendengar pujian dari orang-orang yang melihatnya melepaskan anak panahnya.
Dan karena ilmu memanahnya lah yang mampu membawanya menjadi salah satu 4 Jenderal Besar dari Narsist Kingdom.
Sekarang, di tengah medan perang yang menentukan nasib Narsist Kingdom. Sambil disaksikan oleh ribuan pasang mata, ilmu memanah yang selalu dia bangga-banggakan berhasil dikalahkan.
"Jenderal Boreas! Apa maksudnya ini!? Bagaimana bisa kau dikalahkan oleh pemanah dari ras hina itu!?!"
Seolah tidak memedulikan suasana hati Jenderal Boreas, Paus Senor yang bersusah payah bangkit karena Armor yang dia kenakan terlalu berat bagi dirinya malah menanyakan sebuah pertanyaan yang sangat menghina bagi
Jenderal Boreas.
"Lihatlah! Orang-orang hina itu sudah semakin dekat dengan dinding! Lakukan tugasmu dengan serius atau apakah 4 Jenderal Besar memang selemah itu!!!"
Tidak tahu darimana dia mendapatkan kepercayaan diri itu, Jenderal Boreas menahan dirinya untuk tidak mendorong Paus Senor dari atas dinding. Bertarung antara kawan sendiri bukanlah pilihan bijak untuk situasi saat ini. Berusaha untuk tidak mendengarkan apa yang Paus Senor ocehkan, Jenderal Boreas kembali menaruh perhatiannya kepada pasukan Aliansi yang kian mendekat.
Hanya tinggal masalah waktu sebelum akhirnya mereka tiba di depan pintu gerbang yang kini sedang terkunci. Tidak terlihat adanya prajurit Narsist Kingdom yang berdiri di depan gerbang, itu karena semua prajurit ditempatkan di belakang gerbang.
Dengan adanya dinding kokoh yang mampu menahan segala serangan dari luar, Jenderal Boreas ingin pasukannya untuk fokus dalam bertahan.
Akan tetapi, tampaknya rekannya tidak memiliki pemikiran yang sama dengannya.
"Apa yang kau tunggu! Cepat kirimkan prajurit untuk untuk mencegat mereka sebelum mencapai dinding! Tidakkah kau tahu kalau dinding Narsist Kingdom adalah sebuah dinding suci yang menjaga rakyat Ibukota dari makhluk hina seperti mereka?! Jika kau membiarkan mereka menyentuh dinding Ibukota bahkan hanya sejari saja, itu sama saja sebagai sebuah penghinaan bagi Yang Mulia! Apakah kau ingin..."
"Oh, astaga, bisakah kau diam!"
Dengan kesabaran yang sudah mulai terkuras, Jenderal Boreas membentak Paus Senor sebelum dia bisa berkata lebih banyak lagi.
Sedetik saja Jenderal Boreas terlambat untuk menyela, maka sekarang Paus Senor pasti sedang berada tepat di depan gerbang untuk menyambut kedatangan pasukan Aliansi.
"Prajurit! Cepat bawa Paus Senor pergi dari sini!"
Dengan dua orang prajurit mengawalnya pergi, Paus Senor tertawa girang karena rencananya untuk membuat dirinya sendiri di usir oleh Jenderal Boreas telah sukses besar yang membuatnya kini punya alasan yang kuat untuk tidak berada di garis depan.
Tidak lagi memedulikan Paus Senor yang sudah pergi dari hadapannya, Jenderal Boreas kini bisa kembali fokus untuk menangani masalah yang ada di hadapannya.
"Tembak!"
Kembali memberikan perintah, ribuan anak panah kembali melayang dan menghujani para pasukan Aliansi yang masih maju menerjang ke depan.
Sekali lagi para pengguna sihir melemparkan (Wind Shiled) untuk menangkis semua serangan yang datang.
Berbeda dari sebelumnya, jarak yang semakin mendekat membuat kekuatan anak panah yang dilepaskan menjadi lebih kuat. Sehingga apa yang awalnya bisa di tangkis dengan sempurna kini tidak lagi bisa di gapai.
Walau sedikit, tapi anak panah dari prajurit Narsist Kingdom sukses melewati perlindungan dari (Wind Shield) dan sukses mengenai pasukan Aliansi yang menjadi incarannya.
Di sinilah Jenderal Boreas baru menyadari ada yang salah.
Memang benar anak panah yang prajuritnya lepaskan sukses mengenai pasukan Aliansi. Hanya saja semua panah itu pada akhirnya berhasil di tangkis oleh pasukan itu sendiri atau melewati mereka begitu saja.
Jenderal Boreas melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Jangan bilang!?"
Demi membuktikan kecurigaannya, Jenderal Boreas segera menarik kembali busur panahnya, mengaktifkan (Gale Blast) Jenderal Boreas menembakkan sebuah anak panah yang dilapisi oleh gumpalan angin tepat ke tengah-tengah pasukan Aliansi.
Booom!!!
Ledakan besar tercipta yang menghempaskan segalanya.
Asap debu beterbangan yang membuat sulit untuk melihat. Tapi teriakan penuh semangat pasukan Aliansi tetap terdengar dan tidak lama kemudian pemandangan pasukan Aliansi kembali terlihat menembus awan debu tanpa
ada luka di tubuh mereka.
Dan ketika asap debu mulai mereda, dapat terlihat hanya pengguna sihir saja yang terkena dampak dari serangan yang Jenderal Boreas lepaskan.
Mereka adalah pengguna sihir yang sama yang sedari tadi mengaktifkan (Wind Shield) untuk menahan hujan panah yang prajuritnya tembakkan.
"Tembak!!!"
Kembali memerintahkan prajuritnya, hujan panah kembali terjadi dan kini hasilnya sangat jauh berbeda dari yang sebelumnya.
Dengan tidak adanya pengguna sihir yang mengaktifkan (Wind Shield) hujan panah tidak lagi terhalang dan kini mampu mengenai target mereka.... Hanya untuk menembus tubuh para Pasukan Aliansi begitu saja.
Melihat hal ini, prajurit Narsist Kingdom jadi terheran akan apa yang baru saja mereka lihat sementara hal ini membuat Jenderal Boreas yakin akan dugaannya.
"Mereka hanyalah ilusi! Tidak ada dari mereka yang nyata!"
Tepat setelah Jenderal Boreas mengatakan itu, pasukan Aliansi yang hampir saja menenyentuh dinding Ibukota tiba-tiba saja menghilang begitu saja.
Pasukan berjumlah 10.000 prajurit menghilang begitu saja dan hanya meninggalkan beberapa ratus pengguna sihir serta seorang Penyihir yang berdiri tegak dengan Staff yang menyala kelabu di tangannya.
Mengenakan jubah hitam serta topi kerucut yang sedikit kebesaran, terlihat sepasang sayap di punggungnya serta sebuah ekor panjang menyembul dari pantatnya.
"Setan(Devil)!"
Tidak sengaja meneriakkan itu, ucapan Jenderal Boreas jelas membuat seluruh prajurit menaruh perhatian mereka kepada sosok di Penyihir yang dengan ayunan Staffnya, sosoknya kini menghilang dari pandangan mata.
Dengan ini jelas sudah apa yang sebenarnya terjadi.
10.000 pasukan yang maju menyerang tidak lain hanyalah sebuah ilusi yang diciptakan oleh Penyihir tadi sebagai pengalih perhatian sementara para pengguna sihir ikut maju untuk menangkis semua serangan yang datang untuk mencegah agar ilusi tidak terbongkar terlalu cepat.
Karena ilusi mereka sekarang sudah terbongkar. Tidak ada lagi alasan untuk tetap mempertahankan ilusi tersebut dan Penyihir itupun segera pergi karena tugasnya telah selesai.
Sekarang, walau karena ilusi sudah berhasil dia bongkar. Hanya tertinggal satu pertanyaan lagi.
"Jika mereka hanyalah ilusi, lalu di mana pasukan mereka yang sebenarnya?"
Tidak butuh waktu lama sebelum pertanyaannya terjawab.
Booom! Booom!
Dua tembakan saling bersahutan.
Gerbang Ibukota Narsist Kingdom yang kokoh dan indah karena berhiaskan ukiran emas baru saja menerima peluru yang ditembakkan oleh dua buah Tank yang wujudnya baru saja tampak seolah muncul dari udara kosong.
Menerima serangan dari Tank, ukiran emas yang indah kini sirna sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah dinding baja polos yang sedikit penyok serta terdapat bercak hitam di tempat kedua peluru itu mendarat.
Melihat penampakkan Tank yang baru pertama kali ini mereka lihat di sepanjang hidup mereka, para prajurit dari Narsist Kingdom menjadi keheranan sekaligus takut ketika membayangkan apa yang terjadi pada tubuh mereka
jika saja tembakkan itu diarahkan kepada mereka.
Belum cukup hanya dengan Tank saja, apa yang muncul selanjutnya membuat mata mereka terbelalak.
Muncul dari sisi kiri dan kanan adalah pasukan yang jika di hitung jumlah mereka dapat dengan mudah melewati angka 100.000 ribu.
Dengan kedua pasukan mendekat dari kedua sisi, membuat prajurit Narsist Kingdom kini harus melindungi dua titik secara bersamaan.
Bingung dan panik melanda karena pasukan yang jauh lebih banyak sudah berada tepat di depan mata.
Sementara prajuritnya jatuh ke dalam kepanikan, Jenderal Boreas sendiri kini menggertakkan giginya menahan amarah serta rasa malu karena dirinya masuk ke dalam jebakan musuh.
Booom! Booom!
Dua buah tembakkan kembali bersahutan dan pintu gerbang kembali mendapatkan serangan.
Serangan ini cukup untuk menyadarkan Jenderal Boreas dari lamunannya.
Dengan perasaan kesal di hatinya, Jenderal Boreas menarik tali busurnya. Anak panahnya membidik salah satu Tank dengan akurat dan pusaran angin yang melapisi anak panahnya memiliki kekuatan yang cukup untuk menembus sebuah gunung yang besar.
(Dirt Wall)! (Stone Wall)!
Baru saja Jenderal Boreas hendak melepaskan anak panahnya, muncul dinding tanah dan batu yang saling bertindihan di kedua sisi yang mana dinding-dinding itu akhirnya membentuk sebuah tangga raksasa yang mampu
menggapai puncak dinding tempat di mana dia dan pasukannya berada.
"Serbu...!!!"
Teriakan perang berkumandang dengan pasukan Aliansi yang kini mulai menaiki tangga batu untuk menggapai puncak dinding.
"Tch..." tidak ingin dipermalukan lebih jauh lagi, Jenderal Boreas mengubah sasarannya dan kini mengincar salah satu tangga batu yang berada pada sisi bagian kanan.
Whooosh...!!! anak panahnya melesat kencang dan dengan tepat mengenai bagian tangga tempat pasukan Aliansi baru saja melangkah. Booom! Ledakan besar tercipta yang sontak menghempaskan pasukan Aliansi yang berada di atasnya.
Setelah asap debu mereda, terlihat jelas kalau tangga itu kini tidak lagi mampu untuk digunakan yang dengan terpaksa membuat pasukan Aliansi untuk menghentikan langkah mereka.
"Heh... Rasakan" baru saja Jenderal Boreas tersenyum bangga, senyumannya seketika sirna ketika suara pertarungan sudah pecah di sisi bagian kiri.
Memalingkan wajahnya, terlihat kalau pasukan Aliansi sudah berhasil menaikki dinding dan kini sedang terlibat pertarungan dengan prajurit yang berjaga di sana.
Kembali menarik tali busurnya, Jenderal Boreas berniat untuk memutus tangga yang terakhir sehingga jumlah pasukan Aliansi yang sampai di atas dinding tidak akan bertambah banyak.
Sayang, sebelum bisa membidik, Jenderal Boreas di paksa untuk mengambil langkah menghindar. Whoosh...! sukses menghindari sebuah anak panah yang melayang ke arahnya, Jenderal Boreas terkejut ketika melihat kalau Pangeran Lapelis masih dalam posisi menembak dengan busur yang sudah di tarik kencang.
Whooosh...! sebuah anak panah kembali melesat kencang. Mengaktifkan (Wind Shield) Jenderal Boreas mampu menahan serangan anak panah yang tidak diperkuat oleh sihir.
Membidik sasarannya, sebuah serangan balasan ditembakkan yang di balas oleh anak panah lainnya.
Dengan kedua anak panah yang beradu di udara, pertarungan antara dua pemanah jitu akhirnya dimulai.
...
Sementara pertarungan sengit tengah terjadi di atas dinding Ibukota.
Puas Senor yang terbebas dari tugasnya di garis depan kini bergegas pergi kembali ke Katedral Narsist.
Masih mengenakan Armor yang berat itu, dengan tertatih-tatih Paus Senor berlari menyusuri jalanan yang kosong karena seluruh penduduk tengah bersembunyi di dalam rumah masing-masing takut untuk keluar.
Booom! Booom! Booom!
Tanpa memedulikan pertempuran sengit yang terjadi di belakangnya, Paus Senor yang telah basah oleh keringat kini akhirnya sampai di depan Katedral yang megah bagaikan sebuah Istana Kerajaan.
"Paus Senor!"
Di sambut oleh Pendeta serta Biarawati yang berjaga di depan pintu, tanpa memberikan salamnya Paus Senor segera mengeluarkan perintahnya.
"Lepaskan para Einherjar! Dan tutup seluruh pintu dan jendela Katedral!"
Suaranya menggema gencang menggetarkan seluruh jiwa orang yang mendengarnya.
Terkejut akan sikap Paus mereka yang berbeda dari yang biasanya, membuat para Pendeta dan Biarawati menjadi terdiam di tempat mereka.
"Urgh... Apakah kalian tuli! Aku bilang lepaskan para Einherjar dan tutup semua akses masuk ke dalam Katedral!"
Setelah mendengar perintah Paus mereka untuk yang kedua kalinya, mereka akhirnya tersadar dan mulai bergerak untuk melaksanakan perintah yang diberikan kepada mereka.
Selagi para bawahannya sedang sibuk, Paus Senor sendiri segera bergegas menuju ke sebuah jalur rahasia yang ada di dalam Katedral yang terhubung langsung dengan Istana Nirvana.
Dengan pintu rahasia yang terkunci, sosok Paus Senor sudah tidak lagi terlihat.