A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 94 : City Development is Troublesome



Ketika hari masih pagi, mengenakan gaun santai berwarna biru, Luna bersantai di balkon di lantai dua yang berhadapan langsung dengan halaman belakang yang ditumbuhi oleh rumput hijau serta taman bunga yang indah.


Ditemani oleh Mana yang sedang mengenakan seragam Maid sama seperti kakaknya, Luna menikmati teh pagi sambil menonton dua orang yang sedang bersama di halaman belakang.


"Selamat pagi"


Ikut bergabung bersama Luna adalah Dara yang hanya mengenakan daster putih polos dengan seorang Biarawati yang berperan sebagai Pelayannya.


"Selamat pagi juga, bagaimana tidurmu?"


"Syukurlah, aku tidur seperti bayi"


Duduk bersama dengan Luna, mereka berdua mulai mengobrol santai sembari Mana menyiapkan teh untuk Dara. Melihat pemandangan mereka yang mengobrol akrab seperti ini, susah membayangkan kalau sebenarnya mereka sedang terlibat cinta segitiga dengan seorang Pangeran dari suatu Kerajaan.


Cring... Krang...


Asyik mengobrol santai, perhatian Dara teralihkan oleh suara besi yang saling beradu yang berasal dari halaman belakang di bawah mereka.


"Oh, mereka..."


Apa yang Dara lihat adalah pemandangan Lavender dengan pakaian selayaknya seorang pendekar pedang lengkap dengan sebuah pedang di tangan kanannya serta sebuah perisai kayu di tangan kirinya.


Mengayunkan pedangnya, apa yang awalnya terlihat seperti pedang pendek biasa tiba-tiba saja memanjang hingga terlihat seperti cambuk yang meliuk-liuk seperti ular yang sedang mengincar mangsanya.


Menyambut ayunan pedang Lavender adalah Pangeran Draco yang juga berpakaian seperti pendekar pedang lengkap dengan sebuah Longsword yang dia pegang dengan kedua tangannya.


Snake Sword, seperti namanya adalah sebuah pedang yang memiliki ruas-ruas pada bilah pedangnya yang bisa memanjang bagaikan ular. Kelemahan utama pada jenis pedang ini adalah sulit untuk menggunakannya untuk bertahan tapi sebagai gantinya serangan pedang ini juga sulit untuk ditangkis.


Meski begitu, Pangeran Draco dapat dengan mudahnya menangkis serangan dari Lavender dan bahkan langsung balik menyerang dengan kecepatan penuh.


"!" dengan refleks cepat Lavender sukses mengangkat perisainya untuk menyambut tebasan pedang yang diarahkan kepadanya. Akan tetapi, serangan dari Pangeran Draco tidak sampai situ saja. Tepat setelah serangan


pertamanya berhasil di tangkis, dia pun melanjutkan dengan serangan kedua yang diarahkan tepat ke arah perut Lavender.


Menghindar dengan melompat ke belakang, Lavender sukses menghindarinya. Hanya untuk disambut oleh serangan ketiga yang mengincar lehernya dari sisi kanan.


Dara yang melihat kemampuan berpedang Pangeran Draco hanya bisa dibuat takjub olehnya. Secara bersamaan dia juga memuji refleks Lavender yang mampu untuk terus menghindari semua serangan yang diarahkan kepadanya.


Belum lagi keahliannya untuk menggunakan Snake Sword yang tidak populer karena susah untuk digunakan. Fakta kalau Lavender mampu mengayunkan pedang itu dengan baik membuktikan kalau dia sudah terbiasa dengan


pedang itu.


"Sungguh sebuah seni berpedang yang luar biasa. Kemampuan Tuan Leaf setara atau bahkan melebihi seorang Kesatria Kerajaan"


"Jujur aku juga sempat dibuat terkejut karena itu. Karena itulah setelah Kakak mengetahui kalau Tuan Leaf ahli dalam berpedang, dia langsung memintanya untuk menjadi instruktur berpedangnya"


"Jadi begitu, jadi Tuan Leaf memang bukan rekan bisnis biasa yah"


Masih minum teh bersama, mereka berdua bersantai menikmati pagi sembari menonton Lavender dan Pangeran Draco yang saling bertukar serangan.


Walau mereka saling menyerang seolah ingin saling membunuh, tapi senyuman di wajah mereka berdua menunjukkan kalau mereka berdua sedang bersenang-senang.


Melihat ekspresi mereka berdua, sesuatu terlintas di pikiran Dara.


"Mereka... Bukankah mereka terlihat sangat dekat?"


Menjawab ini, Luna tidak bisa menjawabnya. Dia hanya bisa diam sambil memberikan ekspresi seolah sedang kesusahan.


Melihat ini, Dara seolah paham akan situasinya dan memilih untuk tidak bertanya lebih jauh lagi.


Setelah itu tidak ada lagi dari mereka yang berbicara. Mereka hanya diam di sana sambil menikmati teh sampai pada akhirnya waktu sarapan telah tiba.


...


•Skill [Whip Skills] telah mencapai level 15, mendapatkan 1SP•


•Mendapatkan (Stab) dari (Whip Skills)•


•Skill [Shield Skills] telah mencapai level 15, mendapatkan 1SP•


•Mendapatkan (Defense Up) dari (Shild Skills)•


•Skill [Demon Magic] telah mencapai level 5, mendapatkan 1SP•


•Mendapatkan (Devil Creation) dari (Demon Magic)•


•Skill [Whip] telah mencapai level 5, mendapatkan 1SP•


•Skill [Shield] telah mencapai level 5, mendapatkan 1SP•


•Skill [Power Boost] telah mencapai level 10, mendapatkan 1SP•


•Skill [Footwork] telah mencapai level 20, mendapatkan 2SP•


•Persyaratan telah terpenuhi, skill [Nimble Movement] berhasil terbuka•


•Skill [Sixth Sense] telah mencapai level 5, mendapatkan 1SP•


Hah... Tidak aku sangka Pangeran Draco ternyata sekuat itu.


Saking kuatnya sampai-sampai aku harus rela menghabiskan total 4SP untuk mendapatkan Skill passive [Whip] dan [Shield] untuk berharap bisa mengimbanginya walau hanya sedikit. Dan lihatlah itu, mereka langsung naik level hanya dalam sekali latih tanding!


Selanjutnya [Footwork] akhirnya telah naik level dan bahkan naik tingkat. Aku harus menghabiskan 4SP lagi untuk mendapatkan [Nimble Movement] yang membuat gerakanku menjadi lebih lincah.


Baiklah, setelah mandi dan sarapan, aku menyarankan agar Luna mengajak Dara jalan-jalan berkeliling kota sebelum akhirnya aku mengizinkan mereka untuk bermain di pantai bersama anak-anak Bangsawan lainnya.


Jangan cemas, tentu saja aku sudah menyiapkan pakaian renang untuk mereka berdua.


Dan apakah kau tahu? Toko Pakaian yang belum lama ini dibuka juga telah menjual berbagai macam jenis pakaian renang yang sontak saja langsung populer dan baru sehari mereka hampir kehabisan stock.


Yah, kurasa reaksi mereka wajar saja mengingat ini adalah pertama kalinya mereka melihat pakaian seperti itu. Jika ada model fashion terbaru, mustahil bagi warga Narsist Kingdom untuk bisa melewatkannya.


Kembali ke topik awal, setelah menghantarkan Luna dan Dara pergi, aku kembali ke kantorku untuk mengurus beberapa hal.


Salah satu hal yang harus aku urus adalah biaya pembangunan kompleks perumahan yang tidak aku sangka akan melebihi anggaran yang telah ditentukan.


Yah, mau bagaimana lagi.


Setelah pasukan Aliansi berhasil merangsek masuk ke dalam wilayah Narsist Kingdom, membuat mereka memfokuskan sumber daya terutama bahan bangunan untuk memperkuat pertahanan mereka. Oleh sebab itulah harga bahan bangunan kini naik dan susah untuk di dapat.


Kalau masalah kayu aku masih bisa mengakalinya dengan cara menebang hutan terdekat (Jangan ditiru), pasir tidak perlu ditanyakan lagi, tapi kalau bahan-bahan bangunan lainnya seperti batu dan semen susah mendapatkannya.


Aku sampai harus meminta bantuan Dean untuk membantuku mendapatkan bahan bangunan yang tentu saja dengan senang hati dia berikan dengan beberapa syarat. Untungnya syarat yang dia berikan itu sangatlah murah jadi aku setuju saja.


Toh, kalau mereka berani macam-macam aku hanya tinggal memberitahukan mereka kalau selokan mampet itu rawan banjir.


Walau semua bahan bangunan telah berhasil di dapat. Sekarang adalah masalah biaya.


Memang benar kalau hampir setengah pekerja yang adalah Golem yang aku buat sendiri serta budak pekerja yang murah meriah. Hanya saja itu tidak menghilangkan fakta kalau masih ada pekerja Manusia yang punya keluarga


untuk dinafkahi serta para arsitek yang sudah untuk digantikan. Terlebih karena aku harus membayar waktu lembur hingga pengeluaranku pun menjadi membengkak.


Aku bisa saja mengurangi biaya dengan meminta mereka membuat bangunan asal jadi. Tapi karena itu nantinya akan menjadi kediaman orang-orang dari kalangan atas, aku jadi tidak boleh pelit dan harus menghiasi perumahan


itu dengan berbagai macam dekorasi dan hiasan lainnya yang tentu saja jauh dari kata murah.


Walau memang benar kalau kondisi perekonomian kota ini kian membaik, tapi itu ada batasnya.


Belum lagi karena perang juga membuat harga bahan pokok juga ikut naik.


Kalau ikan aku memang punya, hanya saja penduduk kota ini juga butuh gandum dan nasi serta sayur mayur lainnya yang harus aku impor dari daerah lain.


Yang menambah parah adalah para pengungsi yang mulai berdatangan yang tentu saja malah menambah berat beban yang harus kota ini tanggung.


Untuk yang satu ini aku harus meminta bantuan dari Pangeran Argenti yang tentu saja langsung dikabulkan dengan syarat dia ingin menghabiskan malam bersama dengan Luna. Aku tidak punya alasan untuk menolaknya jadi aku kabulkan saja.


Yah, untuk saat ini rasanya itu saja yang harus aku pikirkan.


Melihat Meno dengan rambut acak-acakan sedang pusing memikirkan akuntansi kota ini, aku jadi bersyukur dan lega karena telah memberikan pekerjaan itu kepadanya. Duduk di tempatnya yang biasa, ada Pangeran Draco yang biasa sekarang sedang bersantai sambil minum teh tapi kini dia juga sedang sibuk dengan beberapa dokumen di hadapannya.


Untung saja dia mau membantuku walau secara teknis masalah kota ini bukanlah tanggung jawabnya. Aku juga bersyukur karena memiliki orang yang berpengalaman untuk membantu meringankan pekerjaanku.


Sungguh, aku ini Penyihir, bukan pegawai pemerintah. Kenapa aku harus mengurus kota seperti ini?


Jika saja aku punya bawahan yang lebih berpengalaman dan bisa dipercaya... Masalah bisa dipercaya atau tidaknya bisa di urus nanti, asal aku punya bawahan yang kompeten saja aku sudah bersyukur.


Oh iya, ngomong-ngomong soal bawahan...


"Pangeran Draco, kalau tidak salah ingat, bukankah baru-baru ini kau membersihkan beberapa Bangsawan di Kerajaanmu?"


"Tidak apa-apa, hanya saja aku penasaran. Apakah kau sudah mempersiapkan pengganti mereka sebelumnya?"


"Ah..."


Menghentikan pekerjaannya, Pangeran Draco pun mulai menjelaskan.


"Aku sudah menyiapkan pengganti mereka jauh-jauh hari. Mereka aku pilih dari orang-orang berkompeten yang aku percaya. Meski beberapa dari mereka tidak memiliki prestasi yang nyata, tapi kemampuan mereka masih lebih


baik daripada Bangsawan gemuk yang hanya kompeten mengenai perut mereka sendiri"


"Begitu, jadi, apakah kau memiliki saran tentang bagaimana caranya untuk bisa menemukan personel yang kompeten dan bisa dipercaya?"


"Oh, jadi itu yang ingin kau tanyakan... Untuk masalah itu, aku tidak punya saran yang bagus. Itu dikarenakan orang yang kompeten dan bisa dipercaya itu sejatinya susah untuk ditemukan. Untuk bisa mendapatkannya, kau


haruslah memiliki kemampuan untuk menilai seseorang serta usaha keras untuk bisa menemukannya. Sisanya adalah masalah keberuntungan"


"Jadi singkatnya 'Usaha sendiri' yah..."


Ini menyusahkan....


Walau untuk saat ini aku sendiri masih bisa mengurus Kota ini dengan teratur, tapi kedepannya ketika Kota ini sudah semakin besar, maka menambah personel menjadi tidak terelakkan.


"Ngomong-ngomong, Penyihir Lavender. Aku dengar kau memiliki sebuah Dungeon dan membuka sebuah bisnis di Kota Gata?"


"Ya, itu memang benar"


"Kalau boleh bertanya, kalau kau berada di sini, maka siapa yang mengurus semua itu ketika kau pergi?"


"Aku menyerahkannya kepada Pelayanku. Ngomong-ngomong mereka adalah Golem yang aku buat serta Setan (Devil) yang aku panggil"


"Kalau begitu, kenapa kau tidak membuat Golem atau memanggil Setan (Devil) lainnya untuk membantumu mengurus kota ini?"


Untuk itu tentu aku juga sudah memikirkannya.


Hanya saja itu mustahil!


Alasan pertama adalah aku butuh lingkaran sihir yang ada di Dungeon Ibis untuk bisa melakukan keduanya! Aku bisa saja membangun portal teleportasi untuk kembali ke sana untuk membuat atau memanggil Pelayan baru.


Hanya saja alasan yang kedua membuatku menahan diri untuk tidak melakukan itu.


"...Kalau Kota ini adalah wilayah sejatiku, maka sudah sejak lama aku melakukannya. Hanya saja kelak aku akan menyerahkan kembali tanah ini kepada Meno"


Terkejut ketika namanya dipanggil secara tiba-tiba, Meno yang dari tadi pusing sendiri seketika menghentikan pekerjaannya dan menatap langsung ke arahku.


Oh, ya ampun. Setelah ini aku harus memaksanya tidur sebentar.


"Aku tahu kalau kau kelak akan menyerahkan wilayah ini kepada Nona Meno. Hanya saja apa hubungannya dengan tidak memanggil Pelayan baru?"


"Itu karena jika itu adalah Pelayanku sendiri, ketika aku pergi maka mereka sudah pasti akan ikut pergi. Jika aku menyuruh mereka untuk menempati posisi penting, maka setelah aku pergi maka posisi itu juga pasti akan


langsung kosong!


Memang ada pilihan untuk meninggalkan mereka untuk terus mengurus kota ini ketika aku pergi. Tapi itu sama saja dengan memanjakan Meno yang membuatnya tidak akan pernah bisa menjadi mandiri"


"Ah, begitu... Akan susah kalau memang begitu caranya"


Setelah berdiskusi lebih jauh lagi, aku tidak bisa menemukan solusi apa-apa selain menunggu keajaiban terjadi.


...


Sementara Lavender sedang pusing karena pekerjaannya, Luna dan Dara sedang bersenang-senang berkeliling kota yang sedikit demi sedikit menjadi semakin indah.


Sembari di kawal oleh Percy dan Zweite mereka berdua bebas berjalan ke mana pun mereka mau selama itu masih berada di dalam kawasan kota.


Walau arsitektur bangunan di sini masih kalah jauh dari yang berada di Ibukota, tapi jalanan yang bersih serta bebas sampah membuat banyak orang untuk betah berada di Kota ini. Terlihat juga beberapa toko yang baru di buka dan ramai akan pengunjung.


Penasaran, Dara yang mendatangi Toko tersebut dibuat takjub oleh beragam cinderamata yang di pajang di sana.


Dari ukiran kayu, aksesoris dari kerang, hingga lukisan yang menunjukkan pemandangan lautan di jual di sana.


"Ini adalah toko oleh-oleh yang menjual produk yang hanya bisa kau temukan di Wilayah ini. Ukiran kayu yang ada di sana dibuat berdasarkan legenda makhluk raksasa yang konon katanya menghuni lautan dan memiliki besar


seperti sebuah pulau. Sedangkan kalau lukisan yang ada di sana..."


Memberikan penjelasan selayaknya seorang pemandu profesional, penjelasan dari Luna sukses membuat Dara menjadi tertarik. Ketika mereka pergi dari toko untuk melihat-lihat ke tempat lain, pemilik toko melambaikan tangannya kepada mereka dengan senyum lebar di wajahnya sambil memeluk erat sekantung uang di tangan satunya.


Sehabis dari toko oleh-oleh, mereka berjalan sebentar sebelum akhirnya tiba di sebuah toko pakaian. Walaupun toko pakaian itu sedang ramai oleh pengunjung, tapi mereka berdua langsung diperbolehkan untuk masuk karena


kedatangan mereka memang sudah dinanti oleh pegawai toko.


"Woah..."


Melihat beragam model pakaian yang terpajang di toko, sukses menggelitik jiwa perempuan Dara.


Sejak tadi dia tiada hentinya mengamati sekaligus bertanya tentang pakaian yang dia lihat baik itu dari segi desain hingga kain jenis apa yang digunakan. Karena Luna tidak tahu banyak mengenai pakaian, maka dia menyerahkan semuanya kepada pegawai toko yang dengan setia menjawab semua pertanyaan dari Dara dengan senyuman di wajahnya.


"Kalau di lihat-lihat, aksesoris yang ada pada semua pakaian yang ada di sini tidak seperti yang ada di Ibukota..."


"Itu disebabkan oleh Walikota Malika yang hendak mempopulerkan model berbusana yang baru yang dia beri nama sebagai 'Sederhana namun mewah'. Walau awalnya cukup banyak orang yang mencemooh model berbusana ini,


tapi lambat laun mulai banyak orang yang mengikuti model berpakaian 'Sederhana namun mewah' setelah Walikota Malika berkali-kali terlihat menggunakannya ketika dia sedang melakukan inspeksi rutin"


"Sederhana namun mewah..."


Menjadi tertarik, Dara pun membeli beberapa lembar pakaian terbaik yang toko ini miliki dan langsung membayarnya secara penuh.


Sedikit dia tahu alasan kenapa model berbusana ini ada adalah karena Lavender sudah muak untuk mengenakan pakaian meriah hanya untuk pergi jalan-jalan.


Dia bahkan sampai protes kepada Putri Margarita karena semua model busana yang dia ciptakan itu terlalu rumit dan susah untuk dikenakan.


Tepat sebelum mereka berdua pergi, pegawai toko menyerahkan dua buah bingkisan yang berisikan pesanan dari Lavender yang ditujukan kepada Luna dan Dara.


Bersamaan dengan bingkisan itu terdapat juga sebuah pesan yang bertuliskan "Selamat bersenang-senang di pantai♪" yang membuat tujuan akhir acara jalan-jalan mereka menjadi sudah diputuskan.


Setelah itu mereka kembali berkeliling kota sembari Luna memberikan penjelasan mengenai semua fasilitas yang tersedia. Ketika hari sudah siang, mereka berdua singgah sebentar ke salah satu restoran yang belum lama ini


dibuka.


Mengaku sebagai murid terbaik dari Koki Juni, restoran ini selalu ramai oleh pengunjung semenjak hari pembukaan.


Setelah kenyang, mereka pun akhirnya berjalan menuju pantai yang kini telah terbuka sebagai objek wisata.


"Nona Selene, kalau boleh bertanya. Bangunan apakah itu yang berada di tengah lautan?"


Baru saja mereka hendak melewati dermaga untuk menuju kawasan pantai berpasir, Dara dibuat heran oleh sebuah bangunan batu berbentuk menara setengah jadi yang dibangun tepat di atas batu besar yang berada di tengah lautan.


Melihat apa yang Dara maksud, Luna pun segera memberikan penjelasannya.


"Itu adalah semacam menara pengawas. Nanti setelah jadi akan ada obor besar yang akan dinyalakan di puncaknya di saat malam hari untuk memberitahukan kepada para Nelayan tentang di mana posisi Dermaga di


tengah gelapnya malam. Kakak membangun itu karena banyaknya keluhan tentang Kapal Nelayan yang karam karena menabrak batu karang saat malam hari"


"Ohh..."


Setelah puas mendengar penjelasan dari Luna, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju pantai.


...


Di saat Luna dan Dara sedang bersenang-senang, kedua Biarawati yang bertugas untuk mengawal Dara kini sedang berada di dalam situasi yang genting.


Alasannya? Haruskah aku mengatakannya?


"Lepaskan kami!"


"Apakah kau tidak takut akan murka Yang Mulia?"


Untuk pertama kalinya aku ingin berterima kasih kepada pamannya Meno karena telah repot-repot membuatkan sebuah penjara bawah tanah lengkap dengan tempat penyiksaan yang siap untuk digunakan.


Sungguh, bahkan semua peralatannya masih ada dan meminta untuk aku gunakan.


Sukses mencegah mereka untuk mengawal Dara hari ini, aku kembali sukses membuat mereka memakan makanan yang telah dibumbui obat tidur sehingga mudah bagiku untuk membawa mereka ke tempat ini.


Setelah menelanjangi mereka berdua dan mengikat mereka ke meja penyiksaan dengan posisi tubuh mereka membentuk huruf X aku pun mengambil cambuk yang diletakkan di dinding ruangan.


Melihat ini, teriakan mereka kepadaku menjadi semakin menjadi.


"Baiklah, aku sedang stress hari ini karena semua pekerjaan yang ada... Jadi, bisakah kalian berdua menemaniku sekaligus menceritakan kepadaku beberapa hal tentang kalian dan juga gadis bernama Dara itu?"