
Pada sebuah kafe yang damai dan ramai oleh pengunjung, terlihat sepasang pemuda dan pemudi sedang duduk bersama sembari berbincang santai dengan ditemani oleh minuman dingin yang menyegarkan.
Si pemuda memiliki wajah yang tampan namun terkesan kekanak-kanakan serta tubuh atletis yang tersembunyi di balik jaketnya yang tebal. Rambutnya yang kecokelatan tampak dibiarkan berantakan dengan harapan untuk
membuat penampilannya sedikit lebih ganas.
Sedangkan si pemudi tampak biasa saja dengan rambut hitam panjang yang tergerai lurus serta dirinya mengenakan jaket tebal yang serasi dengan si pemuda. Penampilannya benar-benar biasa saja dan tidak memiliki kesan apapun sehingga kau mungkin akan langsung lupa padanya dalam kurun waktu kurang dari sehari.
Duduk di samping jendela kaca, membuat mereka mampu melihat pemandangan orang-orang yang berlalu-lalang untuk menjalankan aktiftas mereka masing-masing.
Jika melihat dari luar, maka kau akan menduga kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sedang menikmati acara kencan yang manis. Namun, jika kau melihat ke arah bawah, maka kau akan menemukan sebuah koper besar dan sebuah tas ransel tergeletak tidak jauh dari kaki mereka. Oleh karena itu, daripada sepasang kekasih yang sedang berkencan, lebih tepat menyebut mereka sebagai sepasang kekasih yang sedang liburan
bersama atau bahkan mereka sebenarnya adalah pasangan baru yang sedang berbulan madu.
Akan tetapi, jika kau mendekat dan mendengar topik macam apa yang tengah mereka bicarakan, maka kau akan menemukan bahkan topik yang menjadi bahan pembicaraan mereka itu jauh dari kata romantis.
"Apakah sekarang kau percaya dengan apa yang Penyihir Orchid ucapkan?" tanya di pemuda dengan tatapan yang serius.
Menerima pertanyaan itu, si pemudi hanya bisa menatap ragu ke balik jendela.
Tepat di seberang kafe tempat mereka sekarang berada, terdapat seorang pria berpakaian selayaknya seorang pesulap sedang melakukan atraksi demi menyenangkan para penontonnya. Hanya dengan jentikan jarinya, sebuah api pun tercipta. Hanya dengan lambaian tangannya, anginpun berhembus yang hampir menerbangkan topi salah satu penontonnya. Dan hanya dengan satu kata saja, dia mampu mengisi segelas air yang awalnya kosong dengan air yang jernih dan sedap saat di minum.
Menyaksikan trik-trik yang memukau sontak membuat para penonton menjadi kegirangan dan mulai mengisi sebuah kotak yang telah pesulap itu sediakan dengan lembaran uang.
Melihat orang-orang melemparinya dengan uang, membuat si pesulap semakin bersemangat dalam melakukan aksinya.
Jika di lihat sekilas saja, maka dia tidak ada bedanya dengan pesulap jalanan lainnya yang tengah melakukan trik murahan demi bisa meraih hati penontonnya.
Akan tetapi, bagi si pasangan pemuda dan pemudi, apa yang 'pesulap' itu tengah lakukan sekarang bukanlah sekedar tipuan mata melainkan sebuah sihir yang sebenarnya.
"Hah... Meski aku tidak bisa menggunakan sihir, bukan berarti aku tidak bisa merasakannya. Terlebih, dengan apa yang sudah tersebar di internet, bahkan aku yang menolak untuk percaya harus di paksa untuk melihat kenyataannya" menatap lurus pada pemuda yang ada di hadapannya, dia pun berkata "Kesar, apa yang ingin kau lakukan sekarang?".
Di hadapkan dengan pertanyaan seperti itu, si pemuda yang bernama Kesar langsung menjawab dengan tegas "Pertama kita harus mengumpulkan kawan-kawan kita yang lain. Aku sudah meminta Gibran untuk menghubungi
anggota Guild sementara kita akan bertemu dengan Doragon dan yang lain untuk mendiskusikan langkah apa yang akan kita ambil kedepannya".
Mendengarkan rencana dari kekasihnya, si pemudi yang bernama Diah hanya bisa tersenyum sambil berkata "Sesuai perintahmu, Ketua".
Bahkan jika dia tidak memiliki kedudukan yang sama dengan yang dia miliki di dunia sana, meski reputasinya di sana sama saja dengan tidak berarti apa-apa, melihat sang kekasih menolak untuk diam saja dan memilih untuk
mengambil tindakan membuat Diah tidak bisa untuk tidak terus menemaninya.
Setelah membayar pesanan mereka, Kesar dan Diah segera keluar dari kafe dan berjalan menyusuri jalanan kota yang ramai.
Meski tidak ada seorangpun dari mereka yang adalah seorang pengguna sihir, tapi berkat pengalaman mereka di dunia sana membuat mereka menjadi sensitif terhadap Mana.
Walau samar, tapi jelas terasa kalau terdapat Mana yang tersebar di udara.
Ini aneh karena sebelumnya mereka tidak bisa merasakan apa-apa. Walaupun memang benar konsentrasi Mana di sini jauh lebih tipis ketimbang yang ada di sana, yang mana ini membuat penggunaan sihir skala besar itu menjadi mustahil, tapi bukan berarti sihir-sihir yang remeh tidak bisa dilakukan.
Pesulap yang ada di seberang jalan adalah contoh yang terbaik untuk itu.
Meskipun kecil, tapi sihir tetaplah sihir. Mengetahui mereka bisa menggunakan sihir, orang macam mana yang tidak akan merasa bersemangat?
"Jika saja orang-orang bodoh itu tidak mengupload apa-apa ke internet dan pamer ke publik, maka masalah ini tidak akan terjadi" keluh Diah sembari mengutuk orang-orang seperti si pesulap tadi.
"Janganlah seperti itu, orang biasa pasti akan langsung kegirangan ketika mengetahui kalau sihir itu nyata dan mereka bisa menggunakannya. Dan sebagaimana tradisi jaman sekarang, kalau terdapat hal yang unik dan menarik, maka haram hukumnya jika tidak menyebarkannya ke internet demi meraih pujian banyak orang"
"Tch, tradisi bodoh, apakah mereka tidak memikirkan apa yang terjadi jika masyarakat umum menyadari kalau sihir itu benar-benar nyata adanya? Apakah mereka takut akan adanya kerusuhan di masyarakat? Atau apakah mereka tidak takut kalau pemerintah atau organisai gelap lainnya akan mendatangi mereka dan membedah tubuh mereka?"
"Itu adalah dugaan yang mengerikan yang kau ucapkan di sana. Tapi, yah... Aku tidak bisa menyangkal kalau itulah yang mungkin akan terjadi"
Manusia itu pintar, namun juga bodoh di saat yang bersamaan.
Jika mereka melihat ada yang berbeda dari mereka, atau jika mereka melihat sesuatu yang tidak bisa mereka pahami, maka tidak sedikit dari mereka yang akan langsung menolaknya tanpa alasan yang logis.
Penolakan mereka bisa berupa penolakan verbal hingga ke kasus ekstrim di mana mereka akan melenyapkan 'Perbedaan' itu agar membuat hati mereka damai kembali.
Sudah sering terjadi pertumpahan darah hanya karena perbedaan paham, keyakinan, budaya, hingga perbedaan warna kulit pun bisa mereka jadikan alasan untuk mengangkat senjata.
Diskriminasi terhadap kaum yang berbeda dari mereka sudah menjadi penyakit permanen yang terus saja menggerogoti dunia ini selama berabad-abad lamanya.
Jika perbedaan sepele seperti warna kulit saja lebih dari cukup untuk membuat darah tertumpah, apa yang akan terjadi jika kini muncul orang-orang yang mampu melakukan hal yang diluar nalar manusia biasa?
"Hah, mengurus mereka yang pamer sihir saja sudah bikin aku sakit kepala, lalu apa yang terjadi kepada mereka yang memilih ras selain Manusia? Apakah mereka juga akan berubah ras di sini?"
"Meski aku tidak ingin mengatakannya, setelah melihat berita tentang maraknya hewan buas yang lepas di tengah kota, maka besar kemungkinan itulah yang akan terjadi"
"Syukurlah kita memilih ras Manusia..." terhenti dari langkahnya, sontak Diah pun terpikir dengan kawannya yang memilih ras selain Manusia "Apa yang akan terjadi kepada Feline? Dan juga kak Canary?".
Merasakan seseorang menggenggam tangannya dengan erat, Diah tidak terkejut ketika menemukan kalau Kesar lah yang kini sedang menggenggam tangannya. Merasakan maksud baik dari kekasihnya itu, hati Diah pun sontak berdetak dengan kencang.
"Untuk itu kau tidak usah khawatir, kak Canary sudah menghubungi kita di forum untuk meminta kita berkumpul di kediamannya. Setelah bertemu dengannya, barulah kita bisa tahu apakah dia akan baik-baik saja atau tidak"
"Yah, kau benar. Kita tidak akan pernah bisa tahu sampai kita melihatnya dengan mata kepala kita sendiri"
Setelah menenangkan diri, Diah dan Kesar pun segera melanjutkan perjalanan mereka.
Melihat alamat yang Canary berikan itu berada di kota sebelah, membuat mereka berdua harus mengendarai bis antar kota sebelum akhirnya menyewa taksi untuk bisa sampai di alamat yang di tuju.
Tanpa membuang waktu lagi, mereka pun segera berjalan menghampiri terminal bis terdekat.
...
Perjalanan dari kota tempat mereka berada sekarang dengan kota tempat Canary berada berjarak sekitar 5 jam perjalanan. Oleh karena itu, penting bagi Kesar dan Diah untuk menyiapkan perbekalan seperti makanan ringan serta minuman untuk dinikmati selama perjalanan.
Oleh karena itulah, Kesar dan Diah memutuskan untuk singgah sebentar di kios-kios pedagang yang berada tepat di samping terminal bis sembari menunggu waktu keberangkatan mereka tiba.
"Apakah kita juga harus membelikan oleh-oleh untuk Kak Canary?"
"Tentu saja! Bukankah itu wajib untuk membawa buah tangan saat ingin bertamu ke rumah orang"
Melihat-lihat kios yang menjajakan makanan tradisional, Diah sedang bingung untuk memilih jajanan macam apa yang mungkin akan disukai oleh Canary. Sementara itu Kesar sedang berada di kios sebelah asyik melihat-lihat
hasil kerajinan tangan masyarakat lokal.
Ketika Kesar akhirnya menengok apakah Diah sudah selesai memilih oleh-oleh, betapa terkejutnya dirinya ketika melihat dua buah bingkisar besar yang sedang Diah bawa.
"Beli sebanyak itu memangnya buat apa?"
"Kau ini, yang bakal ada di sana bukan hanya Kak Canary saja kan? Yang lain juga bakal ada jadi ini buat bagi-bagi"
Tidak bisa menyangkal perkataan kekasihnya itu, Kesar hanya bisa pasrah meraih dompetnya.
Selesai membeli jajanan serta oleh-oleh, terlihat kalau jam keberangkatan mereka sudah semakin dekat. Langsung saja Kesar dan Diah bergegas menuju bis yang akan mereka tumpangi. Kebetulan ketika mereka sampai di sana,
kernet bis sedang sibuk menyimpan bawaan penumpang ke dalam bagasi. Setelah ikut menitipkan barang bawaan mereka, mereka berdua pun segera masuk ke dalam bis dan duduk di kursi kosong yang kebetulan berada dekat dengan pintu keluar.
Ketika Kesar dan Diah duduk di kursi mereka, masuklah tiga orang penumpang lainnya. Tampaknya mereka adalah satu keluarga yang terdiri ayah, ibu, dan anak lelaki mereka. Yang membuat keluarga mereka sedikit berbeda dari keluarga lainnya adalah si ayah yang memiliki tubuh yang pendek yang bahkan jauh lebih pendek dari anak lelakinya yang adalah seorang murid SMP.
Yang memberitahukan kalau dia adalah sang ayah adalah karena kumis dan jenggot hitam tebal yang memenuhi hampir seluruh wajahnya.
Tampak juga sang ibu sedang memasang tampang kesal sementara sang ayah juga demikian, pertanda kalau hubungan mereka berdua saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sementara sang anak sedari tadi hanya sibuk memandangi smartphone miliknya dan berkali-kali hampir tersandung karenanya.
"Kalau sampai anak kita kecanduan HP seperti itu, ingatkan untuk menyita atau bahkan mengancurkan HPnya biar dia gak lagi megang HP terus"
Mendengar perkataan Diah, Kesar hanya bisa menjawab "Iya" dengan nada malas sebelum akhirnya matanya melirik ke arah perut Diah.
"Kita masih harus berusaha lebih keras lagi" bisik Diah yang menyadari arah tatapan Kesar yang sontak membuatnya langsung mengalihkan pandangannya.
Setelah bis penuh dengan penumpang, sopir bis pun segera menutup rapat pintu bis dan langsung menyalakannya.
Dengan ini dimulai sudah perjalanan Kesar dan Diah untuk menemui Canary.
...
Sudah satu jam berlalu semenjak bis telah berangkat.
Dengan hanya menyisakan empat jam perjalanan lagi, sudah banyak penumpang yang terlihat bosan dan bahkan ada yang sampai pergi ke alam mimpi.
Demi bisa mengisi kebosanan, Kesar dan Diah menyibukkan diri dengan cara mencari informasi terbaru dari smartphone mereka sambil menikmati cemilan yang telah mereka beli.
Selain beberapa kejadian aneh seperti seseorang yang tiba-tiba saja menghilang begitu saja, gempa kecil yang hanya bisa dirasakan oleh satu sampai dua rumah saja, hingga hewan-hewan yang mampu bicara.
Karena mereka sudah bisa menebak identitas sebenarnya dari kejadian-kejadian aneh tersebut, maka Kesar dan Diah sudah tidak heran lagi.
Orang yang menghilang mungkin saja adalah seorang Pemain dengan tipe Assassin yang memiliki Skill yang memungkinkannya untuk bergerak secara sembunyi-sembunyi. Gempa kecil mungkin saja adalah seseorang yang
menguasai [Soil Magic] yang tengah menguji sihir yang baru saja dia dapatkan. Sedangkan hewan-hewan yang bisa bicara, besar kemungkinan kalau mereka adalah Pemain dengan ras Beastman berdarah murni yang penampilan mereka memang tidak ada bedanya dengan binatang yang sebenarnya.
Jika ada kejadian yang baru, itu baru terjadi sekitar 30 menit kemudian.
Memasang ekspresi terkejut, Diah segera menunjukkan Kesar apa yang ada di layar smartphonenya.
Itu adalah sebuah berita darurat yang membicarakan tentang sebuah tragedi yang menimpa sebuah pusat perbelanjaan yang berada di daerah XXX.
"Pemirsa, telah terjadi kebakaran hebat di pusat perbelanjaan kota XXX. Total sudah lebih dari 20 mobil pemadam kebakaran yang telah dikerahkan untuk melawan si jago merah..."
"Kota XXX? Bukankah itu..." belum selesai Kesar bicara, terdapat seorang penumpang yang berteriak dengan keras "Lihat! Ada kebakaran!" yang sontak mengagetkan seluruh isi bis.
Mengikuti arah yang dia tunjuk, benar saja. Dapat terlihat asap hitam tebal yang membumbung tinggi di udara.
Jaraknya tidaklah begitu jauh dari jalan tol tempat bis mereka melaju sekarang. Karena itulah kau masih bisa mendengar suara sirine pemadam kebakaran hingga mobil ambulan yang sedang bergegas menuju lokasi kebarakan.
Ketika para penumpang yang lain sedang terfokus pada asap hitam itu, Kesar dan Diah kembali menonton berita yang sedang diputar.
"Dilaporkan kalau kebakaran terjadi karena pertengkaran antar pelajar yang salah satu pelajarnya dilaporkan melemparkan semacam bola api yang mengenai toko pakaian bekas yang dari sana api mulai menyebar hingga akhirnya melahap hampir seluruh pusat perbelanjaan"
Mendengar hal ini, Kesar dan Diah sudah tidak heran lagi.
"Jadi konflik sudah terjadi yah..."
"Hal seperti ini memang sudah tidak bisa terhindarkan lagi, cepat atau lambat hal ini memang pasti akan segera terjadi"
"Tetap saja, dengan skala sebesar ini, mustahil orang itu bisa lolos begitu saja"
"Jika sampai orang itu tertangkap, terkecuali pihak pemerintah mengumumkannya secara blak-blakan, maka mulai sekarang masyarakat umum akan menyadari akan betapa berbahayanya sihir itu dan kerusuhan pasti akan segera
terjadi"
"Pada akhirnya adegan seperti di film Mutant itu akan menjadi kenyataan..."
"Berdoa saja kalau tidak ada ilmuan jenius yang mampu menciptakan robot pembunuh atau semacamnya"
Ketika mereka sedang asyik bersikusi, tiba-tiba saja berita yang sedang mereka putar memberitahukan sebuah fakta yang tidak mengenakkan.
"Saat ini pihak kepolisian sedang mengejar pelaku yang sedang lari menuju arah jalan tol, dilaporkan total 3 orang warga serta seorang anggota polisi terkena luka bakar ketika dalam proses pengejaran... Baiklah, pemirsa, apa yang Anda lihat sekarang adalah siaran langsung dari adegan pengejaran yang di ambil dari helikopter kami, mari kita saksikan bersama-sama"
Layar pun berganti menunjukkan pemandangan jalanan yang ramai.
Di sana terlihat seorang pemuda sedang berlari kencang sembari diikuti oleh selusin anggota polisi yang mengejar sambil memberikan tembakan peringatan.
Dor! Dor! Dor!
Sontak saja suara tembakan itu mengejutkan semua orang.
Terlebih Kesar dan Diah yang kini menyadari kalau posisi pelaku pembakaran kini sudah berada sangat dekat dengan mereka. Terlebih orang itu sekarang sedang mencoba kabur ke arah jalan tol tempat mereka sekarang berada.
Kembali menonton siaran langsung, Diah sontak membesarkan volumenya dan mengangkat smartphonenya tinggi hingga semua penumpang di belakangnya bisa melihatnya.
"Baiklah pemirsa, dapat kita dengar kalau tembakan peringatan telah dilepaskan. Tapi, tampaknya pelaku masih tidak mau menyerah dan... Oh! Astaga! Pelaku telah melepaskan sebuah bola api dari telapak tangannya yang
mengenai salah seorang anggota polisi yang mengejar!"
Jelas saja semua orang dibuat terkejut karena hal ini.
Seorang anggota polisi telah tersungkur di atas tanah dengan tubuh yang terbakar. Beberapa rekannya yang lain segera berusaha untuk membantunya memadamkan api yang menggerogoti tubuhnya sementara sisanya lanjut
mengejar namun kali ini mereka tidak lagi memberikan ampun.
Dor!
Satu tembakan kembali dilepaskan. Namun, kali ini itu bukanlah sebuah tembakan peringatan melainkan tembakan yang sebenarnya.
Sedetik kemudian si pelaku terjungkal dengan keras ke atas aspal yang panas setelah kakinya terkena timah panas dari anggota polisi.
Meski begitu, tampak si pelaku masih belum menyerah.
Bola-bola api kembali dia lemparkan ke arah para polisi yang mengejarnya. Untungnya kali ini mereka berhasil menghindarinya dengan cara berlindung di balik kendaraan atau bersembunyi di samping bangunan yang kokoh.
Lalu, setelah si pelaku berhenti melemparkan bola api...
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Puluhan tembakkan langsung dilepaskan yang sontak menghujani tubuh si pelaku.
Dengan puluhan timah panas yang bersarang di sekujur tubuhnya, membuat si pelaku tidak lagi mampu untuk bergerak dan kini dia telah terbaring lemas di atas kubangan darahnya sendiri.
Pemandangan ini jelas saja membuat seisi bis terdiam.
Tidak ada yang mampu berbicara setelah melihat seseorang kehilangan nyawa secara langsung seperti ini. Bahkan pembawa berita mulai berbicara dengan nada yang bergetar seolah dia masih tidak percaya akan apa yang
baru saja dia lihat.
Yang menambah parah adalah mereka baru saja melewati jalan tempat si pelaku mengakhiri pelariannya.
Menengok dari jendela, kau dapat menemukan para anggota polisi yang kini sedang mengelilingi tubuh si pelaku yang masih tergeletak begitu saja di tengah jalan.
"Huuekkk!" terdengar suara muntahan dari seorang penumpang yang tidak kuasa melihat pemandangan mengerikan seperti ini. Beberapa penumpang lainnya juga tampak memalingkan wajah mereka tidak mau untuk melihat lebih dari ini.
Tentu saja hal yang sama tidak dirasakan oleh Kesar dan Diah.
Mereka yang telah terbiasa dengan pemandangan seperti ini bahkan tidak mengedipkan mata mereka sedikitpun. Malahan, pandangan mereka terpaku pada tubuh si pelaku sampai tidak lagi bisa terlihat.
Atas kejadian ini, hanya ada satu hal yang terlintas di pikiran mereka.
Ini hanyalah permulaan.
Mengingat jumlah Pemain yang memainkan Freedom 2, setidaknya akan ada lebih dari 5 ribu orang yang akan membangkitkan kekuatan mereka. Dan dari 5 ribu orang tersebut, tidak diketahui ada berapa banyak dari mereka yang akan bertindak gegabah yang mana akan menyebabkan kejadian seperti ini terulang kembali.
"Kita harus cepat sebelum semua terlambat"
Mengangguk, Diah pun memegang erat tangan Kesar seolah mengatakan kalau dia akan selalu menemaninya apapun yang akan terjadi kedepannya.
"Bah! Dasar anak bodoh! Hanya karena dia bisa main api dia sampai gegabah seperti itu!"
Memecah keheningan di dalam bis, adalah si pria pendek yang duduk bersama istri dan putranya di bangku paling belakang.
Tampaknya dia memasang ekspresi kesal sekaligus kecewa akan apa yang si pelaku telah lakukan.
Si istri tampak berusaha untuk menutup mulut suaminya sementara si anak tampak lemas dengan wajah yang pucat serta sedang memegang erat sebuah kantong plastik di tangannya.
Walau ucapan pria itu terkesan tidak sensitif, namun tidak ada seorangpun yang berani menegurnya karena wajahnya yang sangar membuat mereka tidak kuasa untuk menegurnya.
Tiba-tiba saja pandangan pria itu tertuju kepada Kesar dan Diah yang duduk di bangku paling depan. Awalnya dia tampak biasa saja sampai akhirnya tiba-tiba saja ekspresinya berubah cerah dengan mata yang berbinar-binar.
"Ohh... Apakah kau nak Sisteen!? Kalau begitu yang ada di sampingmu itu adalah nak Turbo kan?!" teriaknya dengan keras yang sekali lagi mengejutkan semua penumpang.
Tentu saja yang paling terkejut adalah Kesar dan Diah yang identitas mereka bisa diketahui oleh si pria pendek itu.
Langsung saja mereka sama-sama berusaha untuk mengingat kembali apakah mereka pernah bertemu dengan pria ini di dunia sana karena hanya itulah satu-satunya penjelasan tentang bagaimana pria itu bisa mengenali mereka
berdua.
Dan yang pertama kali menemukan jawabannya adalah Kesar.
"Kau, apakah kau jangan-jangan adalah pak Bronze!"
"Hahaha... Sungguh sebuah kebetulan kita bisa bertemu seperti ini!"
Dengan pertemuan yang tidak di sangka ini, perjalanan mereka menjadi sedikit lebih berwarna.