A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 111 : Battle of Nirvana (7)



Jauh sebelum dirinya menjadi seorang Paus dari Agama Narsist, Senor hanyalah seorang arkeolog biasa yang menghabiskan hari-harinya meneliti benda-benda peninggalan dari zaman kuno.


Masuk ke dalam reruntuhan, dirinya bersama dengan rekan-rekannya yang lain pergi menghadapi bahaya karena kau tidak akan pernah tahu apa saja yang ada di dalam reruntuhan yang sudah terbengkalai selama berabad-abad.


Jika mereka beruntung, maka reruntuhan itu tidak akan berisi apa-apa selain barang rongsokan yang memiliki nilai sejarah.


Jika sedang sial, maka reruntuhan tersebut akan penuh dengan Mobs atau Golem berbahaya yang akan menyerang jika melihatmu atau juga dipenuhi oleh berbagai macam mekanisme jebakan yang akan merenggut nyawamu jika kau salah melangkah.


Dengan pekerjaan yang berbahaya seperti ini, tidak jarang Senor pergi bersama satu tim ekspedisi dengan jumlah ratusan anggota namun harus pulang dengan jumlah yang kurang dari setengahnya.


Alasan kenapa Senor bisa selalu pulang dengan selamat adalah karena kepribadian pengecut yang dia miliki.


Menolak untuk maju lebih dulu, dirinya selalu diam di belakang sambil membantu mereka yang terluka dengan [Light Magic] yang dia kuasai.


Berkat itu tidak perlu bagi dirinya untuk menantang bahaya dan baru akan memasuki reruntuhan ketika itu sudah dipastikan aman oleh pengorbanan rekan-rekannya yang lain.


Meski pekerjaan ini berbahaya, Senor harus tetap melakukannya karena ini adalah satu-satunya cara baginya untuk bisa menafkahi adiknya satu-satunya setelah kedua orangtuanya yang juga merupakan seorang arkeolog harus berakhir terkubur di dalam reruntuhan yang mereka jelajahi.


Hari-harinya dia jalani dengan penuh kekhawatiran kapan dia akan bernasib sama seperti kedua orangtuanya dan rasa takut untuk tiba-tiba saja meninggalkan adik perempuannya yang tidak tahu apa-apa selain menjajakan


dirinya sendiri untuk hidup sendirian di dunia yang kejam ini.


Nasibnya berubah drastis ketika dirinya menemukan sebuah buku tua di dalam reruntuhan yang dia jelajahi.


Awalnya buku itu hanyalah buku tua biasa yang memiliki sampul hitam yang sudah kusam serta tertutup oleh debu dan sarang laba-laba.


Menggunakan [Appraisal] Senor tetap tidak mampu untuk mencari tahu apakah itu hanyalah buku biasa atau sebuah buku sihir.


Mencoba untuk membukanya, Senor menemukan kalau buku tersebut di segel dengan rapat sehingga mustahil bagi dirinya untuk bisa membukanya.


Menolak untuk menyerah, Senor memutuskan untuk membawa buku itu pulang untuk bisa menghabiskan waktu luangnya untuk mencari tahu cara untuk membuka buku tersebut. Sedikit dia tahu kalau keputusannya itu membuat adiknya yang penasaran untuk menyentuh buku tersebut.


...


Dengan cahaya yang memenuhi seluruh ruangan, membuat tidak seorangpun yang mampu melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Yang pasti bersamaan dengan cahaya ini mereka mendengar suara rintihan tidak manusiawi dari tentakel yang rersiksa lalu binasa oleh cahaya terang nan suci ini.


Paus Senor yang menjadi target utama dari cahaya ini juga tidak bernasib lebih baik.


"Aaaarrgghhh...!!!"


Suara kesakitan terdengar di telinga semua orang.


Bermandikan oleh cahaya suci, Paus Senor menemukan kulit keriputnya perlahan mengelupas hingga otot-otot tubuhnya yang telah menghitam terlihat jelas oleh pandangan mata. Seluruh rambut di tubuhnya kini telah tiada dan


begitu juga dengan kelopak matanya.


Tidak lagi mampu untuk menutup mata, Paus Senor di paksa untuk menatap langsung kepada cahaya suci yang membakar jiwa dan raganya.


Deg! Mendengar suara detak jantung, butuh waktu bagi Senor untuk sadar kalau itu bukanlah detak suara jantungnya. Deg! Deg! Deg! Dengan suara detak menjadi semakin keras, membuat Paus Senor akhirnya sadar


kalau suara detak jantung tersebut berasal dari buku hitam yang kini sedang dia peluk erat di tangannya.


"ApAKaH kAu mEnGIngiNKaN KEkuATan?"


Terdengar suara yang menyebutkan kata-kata dengan bahasa yang normalnya tidak bisa dimengerti oleh makhluk hidup biasa. Akan tetapi, di dalam jiwanya yang terdalam, Paus Senor bisa mengerti dengan apa yang suara itu


sebutkan.


"Apakah kau menginginkan kekuatan?" itulah yang suara itu bisikkan kepadanya.


Normalnya Paus Senor yang penakut tidak akan mau menuruti apa yang suara itu katakan kepadanya. Malahan dia akan langsung melempar buku itu jauh-jauh dan tidak akan mau lagi untuk menyentuhnya atau bahkan mendekatinya.


Hah... Jika saja dirinya menjadi lebih pemberani maka Paus Senor pasti sudah membuang jauh-jauh buku tersebut ketika Impar pertama kali datang kepadanya dan mengatakan kalau dia bisa mendengar buku itu berbicara kepadanya.


Jika saja dirinya menjadi lebih tegas, maka dia pasti akan menolak ajakan adiknya untuk melakukan apa yang buku itu pinta.


Sayang, dirinya yang pengecut serta terlalu sayang kepada sang adik membuatnya terjerumus ke dalam lubang yang gelap dan dalam tanpa adanya jalan untuk bisa keluar.


Dan sekarang, Paus Senor yang berada di ambang kematian akhirnya mampu mendengar suara yang selama ini membisikkan kata-kata manis ke dalam telinga adiknya yang tercinta.


Memilih untuk menjadi budak Iblis (Demon) atau sirna sambil bermandikan cahaya.


Jelas sekali apa yang akan dipilih oleh Paus Senor yang adalah seorang pengecut dari awal sampai akhir.


...


Di ruang tahta.


Berdiri tertegun di pintu masuk adalah Turbo, Sisteen, beserta para Kesatria yang masih tersisa.


Mereka yang datang untuk bertempur harus rela menyingkir dari panggung karena pertempuran yang terjadi di sana memang di luar jangkauan mereka.


Boom! Clang! Crash! Kabooom!!!


Dua pedang saling beradu namun apa yang terdengar bagaikan medan perang yang berkecamuk.


Mengayunkan pedang yang berlapiskan kilatan petir biru adalah Pangeran Draco yang walau kini terlihat compang-camping namun api semangat masih menyala di matanya. Sementara yang menjadi lawannya adalah Raja Pulchritudo yang mengenakan zirah emas serta membawa sebilah pedang dari berlian. Berbanding terbalik dengan Pangeran Draco yang sudah terluka, Raja Pulchritudo tampak baik-baik saja mengecualikan bekas terbakar pada


permukaan zirah emasnya.


"Seni berpedangmu memang patut dipuji..." ucap Raja Pulchritudo dengan sombongnya "Namun itu masih belum cukup" meski gerakannya santai, namun Aura berbentuk bulan sabit yang melayang dari pedangnya bukanlah hal


yang bisa di ajak bercanda.


"Tch..." menggunakan (Flash Step) langkah Pangeran Draco menjadi cepat bagaikan kilatan petir itu sendiri. Boom! Tidak mengindahkan ledakan yang terjadi di belakangnya, Pangeran Draco kembali merangsek maju sambil mengaktifkan (Thunder Strike) yang membuat ayunan pedangnya bagaikan sebuah sambaran petir.


Duuuarrr!!!


Sukses memotong Aura yang mengitari seluruh tubuh Raja Pulchritudo, sayang serangannya berhasil di sambut dengan sebuah pedang berlian yang membuatnya tidak bisa mendaratkan serangan pada sasarannya.


Menyaksikan semua itu dari kejauhan, betapa takjubnya Turbo karena rangkaian serangan yang baru saja dilihatnya terjadi dalam hitungan detik.


"Jadi ini pertarungan antara Penguasa?" terpukau atas pertarungan yang sedang berlangsung, Turbo tidak menyadari kalau lantai yang dia pijak telah bergetar. "Hm?" yang menyadarinya hanyalah Sisteen yang memiliki


kepekaan tinggi atas lingkungan sekitarnya.


Meski begitu, dia tidak begitu curiga karena mengira getaran itu terjadi karena pertarungan sengit yang ada di hadapannya.


Drrrrrrrttt.....


Barulah setelah getaran kian menjadi Sisteen baru sadar kalau ada sesuatu yang salah.


Tentu saja Raja Pulchritudo dan Pangeran Draco juga menyadari kejanggalan ini hingga mereka yang sedang asyik bertarung dengan terpaksa harus berhenti di tempat.


"Gempa?!" bingung akan apa yang sedang terjadi, betapa terkejutnya semua orang ketika sebuah (Portal) terbuka yang kemudian tim yang di pimpin oleh Penyihir Rosemary keluar dari dalam dengan ekspresi panik di wajah


mereka.


Menyusul mereka adalah rombongan gadis-gadis muda yang anehnya memiliki wajah yang sama persis satu sama lain.


"Mereka... Jangan bilang?!"


Hanya dengan sekilas saja Raja Pulchritudo langsung bisa menyadari kalau gadis-gadis muda itu adalah keturunannya. Hendak bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi, dia tidak sempat karena Penyihir Rosemary


sudah memberikan perintahnya.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan! Tempat ini akan segera runtuh! Cepat pergi dari sini!!!"


Kembali menggunakan (Portal) kali ini Penyihir Rosemary menciptakan sebuah (Portal) yang terhubung langsung dengan barisan belakang dari Pasukan Aliansi.


Tanpa menunggu jawaban, dia langsung melompat yang lalu di susul oleh rombongan gadis-gadis muda yang di kawal oleh Zweite dan Percy. Setelah mereka selesai melompati (Portal), barulah giliran Glory, Clara, Luna untuk melompat dan pada akhirnya Feline yang berada di paling belakang.


"Turbo! Sisteen! Ayo!" dengan dorongan terakhir dari Feline, barulah Turbo dan Sisteen bergerak yang di susul oleh Pangeran Draco. "Mundur!" mendapatkan perintah dari Pangeran mereka, barulah para Kesatria berani untuk bergerak melompati (Portal) yang terbuka lebar.


Setelah yakin kalau semua bawahannya sudah aman, barulah Pangeran Draco menoleh kepada Raja Pulchritudo yang masih berdiri diam mengamati segala perabotan di ruang tahta berjatuhan serta dinding Istana yang mulai


retak karena tidak mampu untuk menahan guncangan yang memang begitu dahsyatnya.


"Raja Pulchritudo!"


Di panggil oleh seorang Pangeran dari Kerajaan seberang yang baru saja beradu pedang dengannya. Kini dia memiliki dua buah pilihan.


Apakah dirinya akan tetap di dalam Istana miliknya hingga akhir, atau apakah dirinya harus melupakan semua yang baru saja terjadi dan ikut dengan musuhnya.


Raja Pulchritudo adalah seorang pribadi yang arogan, punya harga diri tinggi, suka merendahkan orang lain. Dan yang paling penting, dia adalah seorang narsistik yang hanya peduli dengan dirinya seorang tanpa memedulikan apa yang terjadi kepada orang lain.


Dan yang paling terakhir, dia bukanlah orang bodoh yang keras kepala.


...


"Ada apa ini?!" teriak Allucard yang sedang sibuk melawan Einherjar yang tiada hentinya berdatangan.


Melepaskan tombak darah dari telapak tangannya, Allucard segera meraih Oriens karena sedari tadi [Intuition] dan [Danger Sense] miliknya berteriak dengan sangat keras.


Hal yang sama tampaknya juga dirasakan oleh Oriens karena kini ekspresi cemas terlihat di wajahnya.


"Kau merasakan itu?"


"Ya, tampaknya hal buruk akan segera terjadi"


Tepat setelah dia mengatakan itu, sebuah guncangan dahsyat menerpa mereka semua. Berada jauh di dalam tanah, rasa takut akan langit-langit yang bisa runtuh kapan saja menerpa mereka semua.


"Ini bukanlah gempa biasa, sebaiknya kita segera keluar dari sini!"


"Aku tahu!" mengeluarkan sebuah batu kristal dari miliknya, Allucard segera memerintahkan semua orang segera berkumpul di sekitarnya dalam radius 10 meter.


Menuruti perintahnya, Yari beserta Kesatria lainnya yang sedang bertarung segera mundur dan membentuk formasi melingkar dengan Allucard berada di tengahnya.


Melihat semua orang sudah berkumpul, Allucard pun segera mengaktifkan batu kristal di tangannya dan mereka semua pun diselimuti oleh cahaya kebiruan yang terang.


Sedetik kemudian sosok mereka tidak lagi terlihat dan para Einherjar pun kehilangan target mereka.


...


Di atas gerbang Selatan, Jenderal Boreas yang sudah mulai kehabisan anak panah batal menembakkan anak panahnya karena sebuah gempa dahsyat baru saja terjadi yang sontak saja membuat medan pertempuran yang sedang panas-panasnya terhenti seketika.


Demikian juga dengan Pangeran Lapelis, batal mengambil sebuah panah semi-transparan dari quivernya, Pangeran Lapelis kini memandang heran ke arah kejauhan.


Bahkan pasukan Narsist Kingdom yang sudah dalam keadaan hilang kendali oleh artefak yang mereka kenakan seketika berdiri mematung sambil memandangi Istana Nirvana yang menjadi pusat gempa.


"Ggggrararoaroaora...!!!"


Tidak pernah di sangka, monster tanpa akal yang hanya tahu bagaimana caranya mengamuk seketika lari terbirit-birit berusaha untuk pergi sejauh-jauhnya dari Istana Nirvana. Mereka tampak benar-benar putus asa hingga Pintu Gerbang yang sudah babak belur dihajar peluru Tank mereka hancurkan hingga berkeping-keping karena menghalangi jalan mereka.


Tidak ada lagi yang mampu menghalangi mereka, para monster seketika berhamburan keluar tanpa memedulikan para prajurit yang ada di sekitar mereka seolah-olah kabur adalah satu-satunya yang ada di dalam kepala mereka.


Menyaksikan semua ini, perasaan tidak enak pun muncul di benak Jenderal Boreas.


Menoleh ke arah Istana yang sedang bergetar hebat, betapa terkejutnya Boreas ketika menyaksikan Istana Nirvana yang telah berdiri dengan megahnya selama ratusan tahun kini mulai runtuh dengan sebuah retakan besar terlihat pada dinding Istana yang membuat jantung Jenderal Boreas seakan terhenti karena syok hebat yang dia rasakan.


Hal yang sama juga terjadi pada setiap prajurit Narsist Kingdom yang ada.


Melihat retakan besar pada dinding Istana membuat rasa keputusasaan melanda hati mereka semua.


AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA


Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan yang menggema keras seakan berasal dari dasar bumi yang terdalam. Yang membuat merinding adalah tiada seorangpun yang tahu apa arti dari teriakan itu.


!!!Boooooom!!!


Pada akhirnya Istana Nirvana meledak dan hancur berkeping-keping hingga tidak lagi bisa dikenali.


Apa yang muncul dari dalam Istana adalah sebuah gumpalan daging berwarna hitam seperti aspal dengan urat nadi berwarna merah gelap tampak berdenyut-denyut di permukaan daging tersebut. Tampak mulut yang menganga lebar menampakkan deretan gigi yang tajam dan mengerikan. Serta mata merah menyala tumbuh dari seluruh permukaan daging tersebut sehingga membuatnya tampak lebih menjijikan sekaligus lebih mengerikan.


Bersamaan dengan itu, tumbuh juga sekitar ratusan tentakel berlendir yang tebal dan panjang menjulur keluar dari gumpalan daging itu. Boom! Boom! Boom! Bagaikan bayi yang sedang merajuk, gumpalan daging itu menghentak-hentakan tentakelnya ke atas tanah hingga menghancurkan rumah-rumah yang masih berdiri di sana hingga rata dengan tanah.


Tidak sampai disitu, asap hitam pekat keluar dari tubuh gumpalan daging tersebut. Setiap hal yang disentuh oleh asap tersebut seketika meleleh menjadi gumpalan lendir hitam yang beracun.


TuNDukLaH kEPadAkU!!!


Mengucapkan sesuatu yang tidak bisa dipahami, suara yang gumpalan daging itu keluarkan cukup untuk membuat prajurit paling pemberani menjadi seorang pengecut.


"AAAaaaaaa!!!" tidak lagi memedulikan apapun, setiap prajurit yang ada hanya ingin menjauh sejauh-jauhnya dari makhluk mengerikan yang menghancurkan Istana Kerajaan mereka.


Menjatuhkan senjata mereka ke tanah, para prajurit berlarian tanpa peduli bahkan jika mereka harus mendorong rekan mereka dan menginjak-injak tubuh mereka.


Menyaksikan tingkah memalukan dari bawahannya, Jenderal Boreas tidak bisa menyalahkan mereka karena dia juga ingin melakukan hal yang sama.


"Jenderal Boreas El Borras" memanggilnya adalah seorang Beruang yang mengenakan Armor yang kokoh. Menurunkan Kapak yang dia bawa, tampak Beruang itu tidak berniat untuk bertarung melawannya. "Perkenalkan, aku adalah Kepala Suku Beruang dari Ferox Kingdom, Bearnard Ursa". Setelah memperkenalkan dirinya, Bearnard pun menjelaskan maksud kedatangannya.


"Karena situasi yang mendadak ini, peperangan tidak lagi bisa dilanjutkan. Atas nama Pasukan Aliansi aku menyarankan agar kita melakukan gencatan senjata sampai Makhluk itu bisa dikalahkan"


"Hmm... Benci mengatakannya tapi aku setuju denganmu. Sebenci-bencinya aku dengan kalian, aku lebih membenci Makhluk yang menghancurkan Istana suci kami"


Dengan kedua belah pihak telah setuju untuk gencatan senjata, mereka pun sama-sama memerintahkan kepada pasukan masing-masing untuk mundur ke garis belakang.


Sementara itu terjadi, teriakan para warga yang berusaha untuk kabur bergema keras di seluruh Ibukota yang akan menyayat hati semua orang yang mendengarnya.