
Pernahkah kalian merasa sangat kesal terhadap seseorang sehingga kalian ingin pergi membakar rumahnya ketika dia sedang tertidur pulas?
Karena inilah yang sedang aku rasakan sekarang.
Baru sehari, aku ulangi, baru satu hari kami pergi melewati perbatasan dari Ferox Kingdom demi bisa menuju Sanguine Kingdom yang sudah lama tertunda karena banyak hal.
Baru sehari aku menikmati perjalanan yang damai, sudah ada masalah yang menanti.
Yup, benar sekali!
"Astaga... Apakah mereka tidak tahu apa yang namanya menyamar?"
Melihat dari mata Glaza, aku menemukan sekelompok orang yang tampak seperti pengembara atau bahkan Petualang sedang menuju ke arah Ferox Kingdom dengan menunggangi kuda masing-masing.
Semua tampak normal... Jika kau melihat dari jarak 100 Km jauhnya.
"Jika mereka ingin berpura-pura sebagai Petualang, setidaknya mereka harus berpakaian seperti Petualang"
"Kalau boleh jujur, bahkan aku sendiri juga tidak tahu harus berkata apa"
Jika aku harus menjelaskan seperti apa 'Penyamaran' mereka, bayangkan seorang kesatria yang mengenakan zirah berkilauan lalu kesatria itu membalut dirinya dengan kain agar menutupi fakta kalau dia mengenakan zirah.
Itu sama saja tidak ada gunanya kan?
Belum lagi kain yang mereka kenakan bukanlah kain tebal usang yang biasa dikenakan oleh para pengelana melainkan kain sutra mahal yang hanya mampu di beli oleh bangsawan dan pedagang kaya.
"Setidaknya gunakan jubah dasar bodoh"
Total ada 10 dari mereka.
Untuk pemimpinnya... tampaknya itu sangat mudah untuk dikenali.
"Nenek..."
"Selain Pemimpin mereka, habisi semua"
Mendapat persetujuan dari Nenek, aku mengetuk langit-langit dengan Staffku sebanyak dua kali sebelum akhirnya keluar dari kereta.
Berjalan menuju kelompok 'Pengembara' itu, Victoria dan Glory yang baru turun dari kereta segera berjalan tiga langkah di belakangku diiringi oleh si kembar dan Percy yang mengambil posisi di sampingku.
Seperti biasa, Zweite naik ke atas atap dan mengambil posisi menembak.
"Serahkan Pemimpin mereka padaku, sisanya terserah kalian saja"
"""Siap!"""
Selesai memberi perintah, aku berhenti sekitar 10 Meter dari kelompok itu. Melihat kami yang berhenti. Mereka juga ikut berhenti.
Seorang pria muda yang mengendarai kuda putih segera maju dan mulai bicara. Perlu aku ingatkan, terdapat sebuah zirah emas berkilau yang 'tersembunyi' di balik sutra yang dia kenakan.
"Ehem... Wahai Penyihir yang terhormat, apa kiranya alasan engkau untuk menghalangi perjalanan kami?"
(Luminous Ring)
Tiga buah cincin cahaya muncul dan mengekang pria muda tersebut sehingga membuatnya terjatuh dari kudanya dan membuat kepalanya menghantam tanah dengan keras.
"""Tuan muda!!!"""
"Jadi dia itu Bangsawan? Terserahlah, maju!"
Atas perintah dariku. Selain Percy yang tetap berjaga di sampingku, semua Pelayan dan Budak milikku segera maju dengan senjata di tangan.
Yang pertama kali bertindak adalah Victoria dan Glory yang dalam sekejap sudah sampai di hadapan formasi musuh.
Victoria dengan Gauntlet miliknya langsung mencakar wajah salah seorang kesatria yang masih duduk di atas kuda dan sukses mencabik bersih kepalanya menjadi beberapa bagian.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, Glory menyilangkan kedua pedangnya bagaikan gunting dan mengarahkannya tepat ke leher kesatria lainnya.
Tanpa perlu aku jelaskan lagi, sebuah kepala seketika melambung tinggi ke udara.
"Sera..."
Belum sempat kesatria itu memberikan arahan, sebuah anak panah melayang dan bersarang tepat di dalam mulutnya yang terbuka.
Karena kejadian yang tiba-tiba serta tidak ada lagi yang memberi perintah, membuat kesatria lainnya menjadi lamban dalam bertindak.
Memanfaatkan itu, Victoria dan Glory sudah selesai membantai lawan kedua mereka.
"Sisain aku dong!" "Aku juga mau!"
Si kembar yang merasa datang terlambat dengan segera mengayunkan senjata mereka masing-masing. Dua orang kesatria malang yang baru saja menghunuskan senjata mereka harus rela kehilangan nyawa di tangan dua anak kembar.
Dua orang kesatria lainnya yang tersisa merasa kalau mereka pasti akan kalah langsung membuang senjata mereka dan mulai memacu kuda mereka mencoba untuk kabur secepat mungkin.
Zweite yang melihat ini jelas tidak akan membiarkan mereka.
Dua anak panah dilepaskan secara bersamaan dan keduanya sukses mengenai dua lawan yang berbeda tepat di belakang kepala mereka.
Dengan ini pertarunganpun selesai...
"LEMAH! Kalian itu sebenarnya kesatria atau bukan sih!"
Selagi Glory mencoba menenangkan kuda-kuda para kesatria yang mulai berontak, aku menatap tajam ke arah si Pemimpin yang di seret oleh Victoria ke hadapanku.
"K-kau! Apa kah kau tahu s-siapa diriku ini!"
"Percy, tampar"
Satu tamparan dari Percy langsung membuatnya terhempas dan kehilangan kesadarannya.
"...Serius?"
...
Setelah semua selesai, aku memerintahkan kepada para Pelayanku agar menjarah semua Equipment dari para kesatria itu. Setelah selesai, aku lalu memerintahkan mereka untuk membakar mayat-mayat yang berserakkan di
tempat yang jauh dari sini.
Tidak lupa aku sudah menjadikan semua kuda yang ada termasuk kuda putih si Pemimpin sebagai makhluk panggilanku dan kemudian mengirimnya kembali ke rumahku agar Lif bisa merawatnya.
Sementara para Pelayan dan budak melakukan tugas mereka masing-masing, aku dan Nenek memperhatikan tahanan kami yang masih belum sadarkan diri.
Tentu saja aku sudah melepas semua Equipment miliknya dan hanya menyisakan selembar kain usang untuk menutupi burung pipitnya serta menahannya dengan tanaman merambat agar dia tidak bisa lari.
"Apakah Nenek mengetahui kenapa badut seperti mereka bisa berada di luar sini?"
"Selain pengalih perhatian, aku tidak bisa memikirkan alasan lainnya"
"Serius, bahkan Equipment yang mereka kenakan masih memiliki lambang dari Narsist Kingdom"
Tidak mau menunggu menunggu lebih lama lagi, langsung saja aku melemparkan bola air yang aku ciptakan dengan (Aqua Control) tepat ke wajahnya.
"...Kau serius?"
"Apakah kau menggunakan obat bius atau semacamnya?"
"Lihat pipi itu? Percy hanya menamparnya sekali"
"Jadi kau berkata satu kali tempeleng saja sudah cukup untuk melumpuhkannya?"
Pada saat aku dan Nenek tidak tahu harus bagaimana, Zweite datang menghadap sambil membawa sebuah buku kecil di tangannya.
"Buku harian?"
Menerima buku harian tersebut, tanpa sungkan aku langsung membukanya.
Hari sekian tanggal sekian... Latihan di barak seperti biasa.
Hari sekian tanggal sekian... Terdapat keributan di rumah utama. Penyebab adalah Kepala Keluarga yang gugur dalam tugas.
Hari sekian tanggal sekian... Pembicaraan tentang penerus sah masih terus berlanjut.
Hari sekian tanggal sekian... Bla, Bla, Bla, Putra pertama Putra kedua. Bla, Bla, Bla, Putri pertama. Bla, Bla, Bla... Oh!
"Jadi begitu..."
"Apakah kau sudah mengetahui sesuatu?"
"Tampaknya dari mana pun kau berada, Putra bungsu akan selalu melakukan tindakan bodoh demi mendapat pengakuan"
Belum selesai aku menjelaskan kepada Nenek, sang pangeran tidur sudah terbangun dari mimpi indahnya.
"Ugh... Di mana aku..."
"Akhirnya kau bangun juga"
"Apa... Ah, Penyihir! Tunggu, mana Armor Keluargaku! Ini, Aku diperkosa oleh Nenek-nenek!!!"
Jika saja Nenek tidak menahanku, bukan hanya sekedar tamparan yang akan dia dapat, tapi sebuah pukulan kuat hingga membuat kepalanya menjadi semangka remuk.
Setelah membuatnya tenang (Dengan paksa tentunya) kami mulai menginterogasinya tentang alasan apa dia datang ke Ferox Kingdom sambil membawa pasukan bersamanya.
Jawaban yang dia berikan sama seperti yang aku baca di buku harian yang di bawa oleh salah satu kesatrianya.
Singkat cerita, Ayahnya yang seorang bangsawan 'terkemuka' mendapatkan tugas untuk berjaga di Kota Ayu yang adalah sebutan mereka untuk (Ultima Arca).
Seperti yang kalian tahu sendiri, setelah Ayahnya yang adalah seorang Kepala Keluarga sirna bersama dengan (Ultima Arca) membuat posisi Kepala Keluarga menjadi kosong. Sama halnya dengan cerita klasik lainnya, karena sang Ayah masih belum menunjuk pewaris sahnya, membuat semua anak-anaknya memperebutkan posisi tersebut.
Sang Putra pertama mengaku kalau sudah sewajarnya dia yang mewarisinya, Putra kedua protes karena dia merasa telah berjasa banyak bagi keluarga, sedangkan Putri pertama sekaligus anak tertua mengatakan kalau
adik-adiknya masih terlalu muda dan masih banyak lagi.
Sedangkan orang yang ada di hadapanku ini alias si Putra bungsu merasa kalau dirinya tidak akan punya kesempatan untuk menjadi Kepala Keluarga kecuali dia melakukan sesuatu yang besar.
"Karena dari itu engkau datang jauh-jauh ke Ferox Kingdom untuk menculik setidaknya satu Beastman yang nantinya akan kau jadikan budak untuk menghantarkan kalian masuk ke dalam Sanguine Kingdom?"
"Tentu saja. Kau pikir para binatang kotor itu... Agh!"
"Dan... Dia pingsan lagi. Jadi, apakah Nenek sudah selesai dengan orang ini?"
"Aku sebenarnya ingin menanyakan soal situasi internal mereka, tapi tampaknya anak ini tidak tahu banyak... Lakukan saja sesukamu"
"Baiklah, kalau Nenek memaksa... Victoria, makan orang ini"
"Apa!"
"Kenapa, bukankah Naga itu suka makan Manusia?"
"Itu memang benar, tapi hanya Naga tidak beradab saja yang melakukan itu"
"Dan bukankah budak yang membantah perintah Masternya sama saja dengan tidak punya adab? Makan atau aku kekang lagi mulutmu selama sebulan penuh"
Victoria melirik Nenek untuk meminta pertolongan. Sayang, sesuai perjanjian yang kami buat, Nenek tidak akan mengomentari apa pun yang aku lakukan terhadap para budakku asal aku tidak terlalu berlebihan.
"Maaf, jika saja itu adalah hal lain, aku pasti akan menghentikannya. Sayang, kali ini aku tidak menemukan sesuatu yang bisa aku bantah"
"Kau pasti bercanda..."
Merasa dikhianati, Victoria hanya bisa pasrah selagi dirinya mulai mendekati tubuh yang sekarang sedang tergeletak di atas tanah.
"Tunggu sebentar..." Sebelum Victoria meraih makanannya, aku mencoba beberapa hal sampai akhirnya orang menyusahkan ini bangun juga.
"Ugh, Nenek tua sialan! Apakah kau tidak tahu apa yang akan terjadi padamu ketika sang Baginda mengetahui..."
Tidak memedulikannya, aku langsung mempersilahkan Victoria untuk menikmati makan siangnya.
"Tunggu... Apa yang kadal ini ingin lakukan!? Tunggu, aku bilang tunggu... Aghkkasajkdjijasinosnfdksmd...!!!"
...
Melanjutkan perjalanan kami, aku dan Nenek kembali membahas tentang orang-orang dari Narsist Kingdom yang baru saja kami temui.
"Menurut cerita anak itu, Narsist Kingdom sekarang sedang disibukkan dengan perebutan pewaris di antara para bangsawannya. Jika itu benar maka wajar saja jika sampai sekarang mereka belum melakukan pergerakan yang
mencolok"
"Itulah yang terjadi jika terlalu berharap tinggi kepada satu hal saja... Meski begitu, pasti ada beberapa rumah bangsawan yang tidak terpengaruh. Mereka pasti atau bahkan telah melakukan pergerakan dengan harapan bisa
mendahului para bangsawan lainnya yang masih disibukkan dengan masalah internal rumah mereka masing-masing"
"Kau benar, aku menduga kalau penculikan kemarin adalah ulah salah satu rumah bangsawan tersebut. Yang harus kita cari tahu sekarang adalah pergerakan macam apa lagi yang telah mereka lakukan"
"Itu akan susah... Walau sekarang mereka masih berfokus pada Ferox Kingdom, masih tidak menutup kemungkinan kalau ada dari mereka yang menyerang langsung ke Sanguine Kingdom yang adalah tujuan utama mereka"
"Itu adalah sebuah kemungkinan yang tidak bisa dilewati..."
Dengan begitu aku dan Nenek menghabiskan sisa perjalanan kami sibuk memikirkan segala kemungkinan yang ada.
Pada malam harinya, kereta masih tidak berhenti.
Keunggulan utama dari (Sleipnir) selain kecepatan mereka adalah stamina mereka yang seakan tidak berujung. Di catat mereka mampu melaju dengan kecepatan penuh selama sebulan tanpa henti.
Karena yang mengemudi adalah Percy yang adalah seorang Golem yang juga tidak membutuhkan istirahat, membuat kami mampu terus berjalan baik itu siang ataupun malam.
Di dalam kereta yang melaju, aku dan Nenek berbaring di atas kursi untuk beristirahat.
Aku sangat bersyukur membuat interior kereta ini cukup luas sehingga aku bisa tidur dengan posisi biasa tanpa perlu melipat tubuhku atau semacamnya.
Tidak hanya itu, aku bahkan masih punya cukup ruang untuk membuat Victoria tidur bersamaku dan menjadikannya sebagai guling.
Jujur, aku baru tahu kalau rambutnya itu halus dan lembut sisiknya tidak di sangka terasa nyaman untuk di elus serta suhu tubuhnya yang dingin membuatnya enak saat di peluk.
Apalagi tubuhnya yang kecil membuatnya sangat sempurna untuk dijadikan sebagai guling.
Membuatnya membelakangiku, aku menjepit ekornya di antara kedua kakiku sambil menyandarkan daguku di atas kepala agar tanduknya tidak menyakitiku saat sedang tidur.
Seperti biasa aku menonaktifkan [Magical Garment] sehingga aku tidur hanya dengan baju lahirku. Walau hanya membuat sedikit perbedaan, aku juga memerintahkan Victoria untuk melepaskan Bikini Armor miliknya sehinga kami berdua sama.
Jika kalian bertanya, Nenek sedang tertidur di sebelah sambil mengenakan piyama bermotif (Slime) berwarna biru yang termasuk dalam hadiah yang aku berikan ketika Nenek mengalahkan Boss pertama Dungeonku.
Karena semua Pelayanku tidak butuh istirahat, mereka tetap di posisi semula jadi tidak perlu di bahas lagi.
Sementara itu, budak baruku, Glory.
Dia sedang tidur sendirian di dalam loteng kereta yang belum lama ini aku buat. Atas saran Nenek, aku memberikannya selembar kain sebagai selimut.
Karena aku tidak punya keperluan khusus di dunia sana, aku memutuskan untuk diam lebih lama lagi sambil merasakan sensasi dingin yang nyaman.
Saat itu juga...
!!!...Boooom....!!!