A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 93 : Fiancé...? How Sweet



Duduk di ruang kerja, aku membaca laporan terbaru dari medan perang.


Sungguh, baru juga aku bangun tidur sudah disuguhkan beginian.


"Narsist Kingdom pasti sedang kacau sekarang"


Sudah beberapa hari telah berlalu semenjak pertempuran di Benteng tidak bernama selesai. Dengan kekalahan total dari pihak Narsist Kingdom, sudah dipastikan kalau mereka tidak akan berani macam-macam untuk sementara waktu.


Bagaimana tidak?


Dua dari empat Jenderal terbaik mereka telah gugur dan lebih dari 70% pasukan mereka juga telah binasa.


Yang menambah parah adalah setelah sukses memukul mundur pasukan Narsist Kingdom, pihak Aliansi tidak membuang kesempatan dan langsung balik menyerang Narsist Kingdom.


"Satu benteng dan sedikitnya lima desa telah jatuh ke pihak Aliansi, desa tidak terlalu berharga tapi benteng itu yang menjadi masalahnya"


Ada total 10 benteng yang membentang melindungi perbatasan Narsist Kingdom. Enam di antaranya berada di perbatasan antara Narsist Kingdom dengan Sanguine Kingdom sedangkan empat lainnya berada di daerah Ancient


Desert.


Dari enam benteng yang berbatasan langsung dengan Sanguine Kingdom, satu di antaranya telah jatuh ke pihak Aliansi. Dengan ini mereka punya jalur akses untuk bisa menyerbu Narsist Kingdom.


Heh, aku tidak bisa membayangkan kondisi internal Narsist Kingdom yang sekarang.


Namun, jika ada yang menggangguku, itu adalah...


"Pangeran Draco, jika boleh berkenan, apa yang sekiranya membuat para Bangsawan untuk mengirimkan putra dan putri mereka ke wilayahku?"


"Bukankah itu sudah jelas, wahai Penyihir Lavender. Wilayah Anda berada di bagian paling ujung dari Narsist Kingdom. Terlebih lagi wilayah ini berada jauh dari Ibukota serta objek militer lainnya. Walaupun Ibukota runtuh


sekalipun, tetaplah mustahil bagi wilayah ini untuk terdampak oleh perang sehingga secara otomatis wilayah ini menjadi wilayah teraman yang ada di seluruh Kerajaan"


"Hah... Ditambah dengan reputasi wilayah ini yang kian hari kian bertambah. Wajar saja kurasa jika mereka ingin menitipkan keturunan mereka kepadaku"


Bersandar pada kursiku yang nyaman, aku kembali melihat daftar anak-anak Bangsawan yang kini dan akan berdiam di Kota Pelabuhan.


Senang rasanya ketika tahu kalau banyak orang menaruh rasa percaya mereka kepadamu. Sungguh senang rasanya karena dengan ini kondisi perekonomian di sini kian membaik sementara ekonomi di wilayah lain yang berdekatan dengan medan perang menjadi kian memburuk.


Jika ada yang perlu dipermasalahkan adalah dengan ini aku harus memajukan rencana mengubah pantai untuk menjadi objek pariwisata.


Walau terkesan setengah jadi, tapi sekarang sudah banyak anak gadis sedang berjemur di pantai sementara para lelaki sibuk bermain dengan pasir dan ombak.


Karena para anak Bangsawan itu tidak datang sendirian tapi juga membawa Pelayan beserta Pengawal mereka, aku terpaksa membuat kompleks perumahan baru karena sejak awal kota ini sudah penuh serta tidak mungkin juga aku meminta anak-anak Bangsawan itu untuk tinggal di hotel murahan.


Untungnya tokoku yang ada di Drakon Kingdom sudah selesai sehingga aku bisa memanggil Quin kemari untuk menjadi mandor untuk pembangunan kompleks perumahan yang baru.


Jika mau aku bisa saja menggunakan sihirku untuk membangun kompleks itu sendirian. Hanya saja karena aku sedang menyamar, itu menjadi mustahil. Berkat itu aku harus rela membuang uang untuk menyewa arsitek serta


tukang dari Narsist Kingdom untuk membangun kompleks perumahan itu.


"Untungnya yang datang baru sepuluh keluarga. Tapi karena yang lain masih dalam perjalanan, pembangunan harus dipercepat lagi"


"Jika kau melakukan itu maka para pekerja harus bekerja lembur kau tahu"


"Tenang saja, kurang lebih setengah tukang yang bekerja adalah Golem jadi aku bebas memperkerjakan mereka siang atau malam"


Tampak puas dengan jawabanku, Pangeran Draco kembali duduk dengan santai sambil menyeruput teh yang baru saja diseduh oleh Meno.


Ngomong-ngomong soal Meno.


"Meno, apakah kau sudah bertemu dengan sepupumu?"


Sebagai mantan pemilik wilayah ini, tentu saja Paman Meno tanpa membuang waktu langsung mengirimkan putra bungsunya kesini. Mau bagaimana lagi kan? Wilayah barunya berada sangat dekat dengan Ibukota. Jika pertempuran sampai ke Ibukota, maka mustahil wilayahnya untuk tidak terkena dampaknya.


Sebagai orang yang wilayahnya direbut, aku jadi penasaran bagaimana perasaan Meno ketika melihat keturunan dari orang yang merebut wilayah Keluarganya.


"Aku hanya melihatnya, dari kejauhan"


Yah, mau bagaimana lagi.


Soalnya kalau sampai sepupunya itu mengenali wajahnya, maka rencana besar yang sedang aku susun akan kacau berantakan.


"Ah, benar juga..."


Seolah teringat akan sesuatu yang menarik, Pangeran Draco meletakkan cangkirnya ke atas meja sebelum berbicara.


"Kalau tidak salah saingan cinta 'Adik'mu itu sebentar lagi akan datang kan?"


Ohh... Benar juga!


Dara Blanco.


Biarawati dari Agama Narsist sekaligus tunangan resmi dari Pangeran Argenti.


Dia yang mendengar tunangannya mau direbut oleh gadis yang tidak jelas asal-usulnya langsung tancap gas untuk menemui si pelakor ini.


"Hehe, bukan sebentar lagi, dia sudah berada di Kota ini"


...


Turun dari kereta kuda adalah sesosok gadis muda yang teramat-amat cantik walau setengah wajahnya tertutup oleh topeng putih yang polos.


Rambut peraknya terlihat berkilauan ketika terkena cahaya mentari. Matanya yang berwarna sama juga tidak kalah indahnya jika dibandingkan dengan sebuah permata. Senyumannya ramah membawa ketenangan hati kepada semua orang.


Apa yang dia kenakan adalah sebuah pakaian keagamaan berwarna putih bersih yang pada bagian jahitannya berhiaskan benang emas yang membentuk sebuah pola yang suci nan indah.


Berbeda dari penduduk Narsist Kingdom yang lain, tidak terlihat adanya perhiasan meriah yang dia kenakan. Hal ini memberikannya kesan sederhana dan menolak untuk berfoya-foya yang mana ini malah menambah nilai kecantikan alaminya.


Namun, jika ada satu hal yang bisa disebut sebagai 'Aksesoris' yang dia kenakan. Itu adalah sebuah koin emas yang dikalungkan di lehernya. Bukan sekedar koin emas biasa, tapi pada permukaan koin emas tersebut terukir


wajah dari Raja Narsist Kingdom.


Semua orang dari Narsist Kingdom pasti sudah bisa menebak identitas dari gadis tersebut hanya dari koin emas di kalungnya.


Biarawati dari Gereja Narsist.


Dan nama dari gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Dara Blanco.


Dengan dikawal oleh dua orang Biarawati lainnya, Dara akhirnya tiba di Kota Pelabuhan.


Tujuannya kemari hanyalah satu, dan tujuannya itu berdiri tepat di hadapannya.


Mengenakan gaun hitam dengan hiasan bulu gagak, sebuah topeng hitam yang memberikan kesan misterius menutupi setengah wajahnya, emas dan permata menghiasi dirinya.


Dari semua perhiasan yang dia kenakan, sebuah kalung dengan permata berwarna putih adalah yang paling mencolok.


Perlu diingatkan kalau Luna menggunakan ilusi untuk menyembunyikan wujud Setan (Devil)nya sehingga kini dia terlihat seperti Manusia pada umumnya.


Tidak menyembunyikan ekspresi tidak suka di wajahnya, Luna yang masih menggunakan nama Selene menyambut kedatangan Dara sambil ditemani oleh Percy dan Zweite yang berdiri di belakangnya sebagai Maid yang setia.


"Selamat datang di Kota Pelabuhan. Perkenalkan, Saya adalah Selene von Verloren. Adik dari Baron Malika von Verloren"


"Senang bertemu dengan Anda, Nona Selene. Perkenalkan, Saya adalah Biarawati dari Agama Narsist, Dara Blanco. Mohon bantuannya selama saya tinggal di kota yang indah ini"


Saling bertukar senyuman, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Dara. Tapi yang jelas adalah ketidaksenangan Luna yang terpampang jelas bagi semua orang.


Setelah saling bertukar salam, mereka pun saling berbincang sembari Selene menuntun Dara untuk menuju Mansion tempat dia tinggal yang tentu saja juga akan menjadi tempat Dara bermalam selama dia berada di Kota ini.


Selama perjalanan mereka hanya berbincang mengenai beberapa topik acak yang tidak terlalu penting. Itu hanya sekedar basa-basi biasa. Sebuah perbincangan untuk mencairkan suasana sembari berusaha untuk mengenal


satu sama lain.


"Maaf kalau apa yang akan aku katakan mungkin terdengar kasar, tapi aku dengar kalau Kota ini sangatlah kotor dan tidak terawat. Syukurlah kalau semua rumor itu ternyata salah"


"Tidak apa-apa, saat pertama kali aku dan kakakku datang kemari Kota ini memang seperti yang di deskripsikan. Jika bukan karena kerja keras Kakakku maka Kota yang Anda lihat sekarang mungkin akan jauh berbeda"


"Sungguh sebuah prestasi yang luar biasa yang Baron Malika berhasil capai. Apa yang Baron Malika lakukan patut untuk menjadi contoh bagi semua Bangsawan di Kerajaan kita yang tercinta ini"


"Anda terlalu memuji"


Menunjukkan hasil latihannya, Luna sukses bersikap dan berbicara layaknya seorang gadis Bangsawan pada umumnya. Tapi di dalam hatinya Luna sedikit merasa kurang percaya diri karena orang yang ada di sampingnya mampu tampil jauh lebih anggun dan jauh lebih beradap seolah itu adalah hal yang alami baginya.


Sadar akan perbedaan mereka berdua, Luna berusaha untuk menekan perasaannya dengan cara mengganti topik pembicaraan.


"Pembangunan kota ini sedang gencang dijalankan. Sayang, karena kondisi Kerajaan saat ini membuat kami terpaksa untuk mempercepat proses pembangunan. Akibatnya, kami membutuhkan semua bantuan yang kami butuhkan"


Menunjukkan rombongan kereta yang membawa barang bangunan di kejauhan. Dara mengangguk paham sebelum akhirnya memberikan ekspresi jijik di wajahnya yang cantik.


Mengikuti arah pandangannya, dapat terlihat di antara para pekerja yang membawa bahan bangunan terdapat beberapa pekerja yang berasal dari ras yang bukan Manusia.


Setelah melaksanakan perintah dari Lavender dan mendapatkan hasil yang di inginkan, Luna kembali mengajak Dara untuk melihat produk kota yang lain.


Melihat toko aksesoris yang mereka lewati, Luna pun mulai memperkenalkan produk andalan Kota Pelabuhan yang sukses membuat Dara tertarik.


Setelah berjanji untuk mengajak Dara berkeliling kota di lain hari, mereka pun sampai juga di Mansion yang sekaligus berfungsi sebagai Kantor Walikota.


...


Hari sudah sore dan sebentar lagi waktunya makan malam.


Siang tadi aku sibuk menyambut kedatangan Dara Blanco serta beberapa hal lainnya. Dara kini sedang beristirahat di kamar tamu sementara dua Biarawati yang ikut bersamanya berada di kamar pribadi mereka yang berada tepat di sebelah kamar Dara.


Dan kini aku sedang berada di ruang kerja dengan Luna berada di hadapanku.


"Jadi, Luna, apa pendapatmu mengenai saingan cintamu itu?"


"Hah... Bisakah Guru tidak mengebutnya begitu?" meski tampak enggan, Luna tetap mengutarakan pendapatnya mengenai Dara.


"Seperti yang telah dideskripsikan oleh Pangeran Argenti sebelumnya, Dara selalu tampil sempurna dan memberikan kesan baik terhadap semua orang yang dia temui. Karena kami baru berbincang sebentar, aku masih tidak tahu banyak tentang kepribadiannya yang sebenarnya selain fakta kalau dia sangat membenci ras yang bukan Manusia... Jika ada yang harus kukatakan, itu adalah sebuah perasaan aneh ketika aku pertama kali bertemu dengannya"


"Oh, dan perasaan macam apa yang kau rasakan?"


"Bagaimana menyebutkannya yah... Perasaan tidak senang? Sebuah perasaan seperti kau melihat sesuatu yang tidak seharusnya berada di sana tapi itu ada di sana?"


Oke, aku tidak mengerti dengan apa yang baru saja Luna sebutkan.


Walau aku senang karena kesan pertama yang Dara tunjukkan sudah sesuai ekspetasi. Tapi, sebuah perasaan seperti kau melihat sesuatu yang tidak seharusnya berada di sana tapi itu ada di sana? Apakah yang dia maksud


itu seperti kau melihat kamarmu yang tertata rapi tapi kemudian kau menemukan sebuah benda yang tidak pernah kau lihat sebelumnya ada di antara barang-barangmu?


Wow, itu akan seram kalau memang itu yang Luna maksud.


Aku memang sempat bertemu dan berbincang dengan Dara sebentar. Impresi yang aku dapat darinya adalah seorang anak yang kelewat sempurna sehingga jadinya terasa aneh.


Dunia ini tidaklah sempurna sehingga tentu saja tidak ada individu yang sempurna.


Tidak peduli seberapa sempurna penampilan mereka, pasti ada saja satu atau dua kekurangan yang orang itu miliki.


Sekarang, aku harus mencari tahu 'Kekurangan' macam apa yang gadis bernama Dara ini miliki.


"Pangeran Draco, kalau boleh tahu apa pendapatmu mengenai Sister Dara?"


Sejak tadi duduk di atas sofa, Pangeran Draco pun mengutarakan pendapatnya.


"Aku hanya sekali berpapasan dengannya. Kami sempat berbincang sebentar tenang ini dan itu. Kalau boleh aku sebutkan, aku tidak menyukainya. Hampir sama seperti yang Nona Luna sebutkan, aku merasa ada yang salah


dari gadis itu tapi aku tidak tahu apa yang salah"


Sekarang ini menjadi menyusahkan.


Atas permintaan dari Pangeran Argenti, cepat atau lambat aku harus menyingkirkan gadis itu bagaimanapun caranya.


Jika saja dia adalah gadis lugu biasa, maka akan mudah untuk mengurusnya.


Akan tetapi, dengan perasaan tidak enak yang kami rasakan. Rasanya tidak baik kalau aku menyingkirkannya begitu saja. Salah-salah aku malah akan melukai diriku sendiri.


"Kalau begitu, Luna. Tolong terus temani dia selama dia tinggal di sini"


"Baik"


"Pangeran Draco, kalau boleh bisakah aku meminjam beberapa 'Bayangan' milikmu untuk sementara waktu?"


"Hehe, tidak perlu. Aku sendiri juga penasaran dengan anak itu sehingga aku sudah mengirim seseorang untuk terus mengintainya"


Bagus, dengan ini aku hanya tinggal menunggu waktu hingga ada perkembangan lebih lanjut.


Tok... Tok... Tok...


Setelah aku berikan izin, masuk seorang Maid yang memberitahukan kalau sudah waktunya untuk makan malam.


...


Di ruang makan, duduk bersama di meja makan adalah aku sebagai tuan rumah serta Luna yang adalah adikku. Bergabung bersama kami adalah Pangeran Draco alias Leaf Buoy dan Dara Blanco sebagai tamu.


Untuk Pangeran Draco, aku memperkenalkannya sebagai mitra bisnis yang sangat penting bagi Kota ini. Karena itulah aku memberikannya izin untuk tinggal di Mansion ini serta untuk ikut makan malam bersama kami.


Maksudku, tidak mungkin kan aku memperkenalkannya sebagai Pangeran dari Kerajaan lain, kan?


"Sister Dara, bagaimana menurutmu mengenai makanan khas Kota ini?"


Menunjukkan tata krama di meja makan yang terbilang sempurna, Dara membawa garpu yang dia pegang ke mulutnya untuk menikmati hidangan ikan yang menjadi menu utama malam ini.


"Tidak pernah aku sangka kalau ikan bisa terasa seenak ini. Bukan hanya rasanya, dari tadi hanya aroma sedap yang tercium serta daging ikan ini terasa sangat empuk. Yang paling penting adalah aku tidak menemukan adanya tulang-tulang yang mengganggu pada ikan ini"


Sudah sejak lama Kerajaan ini menolak untuk mengonsumsi ikan karena aroma yang amis, rasa yang hambar, serta tulang yang membuat sakit ketika terkunyah. Langkahku benar untuk menyewa seorang koki berpengalaman


untuk membantu mempopulerkan hidangan laut terutama ikan pada Kerajaan ini.


"Semua ini berkat kerja keras dari Koki yang aku kerjakan. Jika bukan karena jasanya yang tidak kenal pamrih, maka mungkin mustahil bagiku seorang untuk mempopulerkan hidangan laut kepada semua orang"


"Sungguh sebuah Koki yang luar biasa yang Anda miliki. Ingin rasanya bagiku untuk terus merasakan masakannya setiap hari"


"Pujian dari Anda akan saya sampaikan. Juga, Sister Dara tenang saja. Selama Anda berdiam di tempat saya, maka Saya akan menjamin untuk selalu menjamu Anda dengan hidangan yang terbaik"


"Aku akan sangat menantikannya"


Berganti topik, aku pun menanyakan pendapatnya mengenai kekalahan Narsist Kingdom yang terjadi baru-baru ini.


Menghentikan gerakan garpunya, Dara menelan makanan di mulutnya lalu diam untuk sesaat.


"Itu sangat disesalkan..."


Hanya mengatakan itu, Dara lalu menyatukan kedua tangannya sambil memejamkan kedua matanya seolah berdo'a... Tunggu, dia memang sedang memanjatkan do'a.


Saling bertukar pandang dengan Pangeran Draco dan Luna, kami hanya diam menanti Dara untuk selesai memanjatkan do'a nya.


Melihatnya memanjatkan do'a dengan khusyuk seperti ini, aku bisa menjamin kalau jika orang biasa melihat ini. Mereka pasti akan langsung terpincut dengan penampilannya yang sangat mencerminkan seorang gadis suci (Saint) seperti halnya yang di sebutkan di dalam cerita.


Yah, itu tidak akan berpengaruh bagi kami.


Selesai berdo'a, barulah Dara melanjutkan perkataannya.


"Itu sungguh sangat disesalkan... Bagi semua prajurit yang gugur dengan gagah berani aku berharap mereka diberikan ketenangan jiwa atas semua jasa mereka pada Kerajaan suci ini. Bagi Keluarga yang mereka tinggalkan, aku berharap kalau mereka semua diberikan ketenangan hati karena tahu kalau putra dan suami mereka gugur dalam nama Yang Mulia"


Oke... Aku tahu kalau dia mengatakan semua itu dengan sangat tulus dari lubuk hatinya yang terdalam... Tapi, tidakkah dia sadar kalau apa yang barusan dia katakan itu terdengar salah bagaimana pun kau mengatakannya?


Jika saja itu dikatakan oleh petinggi pemerintahan atau sejenisnya, aku bisa memakluminya karena mereka hanya peduli akan hasil dan tidak peduli sedikit pun akan semua nyawa yang hilang dalam prosesnya.


Akan tetapi, bukankah Dara itu seharusnya adalah seorang Biarawati?


Lihat, walau mereka tidak mengatakan apa-apa, tapi Pangeran Draco dan Luna juga setuju denganku.


"Oh, Jenderal Occidens El Occiduus, keduapuluh Istri dan Selirnya kini pasti sedang bersedih akan kepergiannya. Dan kelimapuluh putra dan putrinya sekarang pasti juga merasakan hal yang sama setelah kehilangan sosok


seorang Ayah di usia mereka yang masih muda"


...aku tidak ingin berkomentar apa-apa.


Hei, Luna! Aku tahu perasaanmu tapi tolong berhenti membayangkan yang tidak-tidak.


"Sister Dara, kalau boleh tahu, bagaimana menurutmu tentang pasukan lawan yang kini sedang menginvasi Kerajaan kita yang tercinta ini?"


Terima kasih Pangeran Draco karena telah mengganti topik pembicaraan.


Atas pertanyaan ini, ekspresi Dara berubah menjadi suram untuk pertama kalinya.


"Sungguh, sungguh tidak bisa terbayangkan. Bagaimana bisa orang-orang sesat itu tidak mampu mengerti. Jika saja mereka mau menerima ajaran Narsist, maka semua pertumpahan darah yang percuma ini tidak akan pernah terjadi..."


Umm... Aku yakin benar kalau itu bukan penyebab utama atau bahkan salah satu penyebab kenapa peperangan ini bisa terjadi.


Malahan, bukannya Kerajaan ini yang memicu peperangan ini?


Setelah melontarkan beberapa pertanyaan lainnya, aku jadi tahu benar kalau gadis bernama Dara ini tidak tahu apa-apa dan bahkan pantas untuk disebut sebagai gadis yang polos.


Gadis polos yang di ajarkan ajaran yang sesat sehingga pandangannya kepada dunia menjadi bengkok yang mana itu membuatnya sangatlah berbahaya.


Selesai makan malam, aku kembali ke kamarku sambil memikirkan tindakan apa yang harus aku ambil untuk menyingkirkan gadis itu karena sekarang aku tahu kalau menyingkirkannya adalah keputusan yang paling tepat..