A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 41 : Battle of Barriere Forest (1)



Tepat pada dini hari.


Walau mentari masih belum menampakkan wujudnya. Terlihat sudah sebuah pasukan yang berkumpul di depan sebuah benteng yang sepenuhnya terbuat dari tanaman berduri.


Pepohonan di sekitar benteng telah di tebang demi membangun sebuah barikade sederhana sekaligus untuk memperlebar tempat mereka berpijak ketika menghadang Wave yang akan datang.


Dengan barikade di hadapan mereka, serta sebuah benteng tanpa gerbang di belakang mereka. Pasukan gabungan prajurit Kerajaan dengan Petualang merasa lebih aman dan percaya diri.


Tidak hanya mereka, terdapat juga pasukan yang sepenuhnya terdiri dari (Stone Golem) dan (Wooden Golem) yang di panggil oleh Penyihir Lavender yang juga ikut bertarung bersama mereka.


Alasan kenapa mereka bisa ke sisi lain benteng meski tidak adanya pintu gerbang sebagai akses keluar masuk, semuanya berkat sebuah portal jarak pendek yang dibuat oleh Penyihir Cardinal.


Komandan Onlay, sebagai pimpinan para prajurit Drakon Kingdom berdiri dengan penuh wibawa dari atas benteng mengamati setiap pergerakan yang terlihat.


Ketua Party Petualang The Guardian, Doragon. Sebagai perwakilan para Petualang berdiri dengan gagah berani tepat di barisan paling depan.


Mengenakan sebuah Steel Armor yang kokoh, sebuah Kite Shield dengan simbol sebuah benteng di lengan kiri serta sebuah Shortsword dengan bilah berwarna merah di lengan kanan. Sosoknya tampak seperti seorang kesatria atau bahkan seorang pahlawan yang mampu membuat kagum semua orang yang memandangnya.


Di samping kanannya terdapat seorang pria dengan Light Armor serta membawa sebuah Lance berdiri dengan senyum semringah di wajahnya.


Sedangkan di samping kiri Doragon terdapat sesosok gadis kucing yang mengenakan Leather Armor dengan corak hitam malam serta membawa sepasang Dagger yang juga berwarna hitam di kedua lengannya.


Mereka adalah Yari dan Feline. Rekan satu Party serta sahabatnya yang paling setia.


Berdiri di bagian terdepan, Doragon memandangi para Mobs dari berbagai spesies yang dengan perlahan berjalan menghampiri mereka.


Tanah bergetar di hadapan pasukan yang tampak tak terhingga.


Setiap Mobs yang ada memiliki mata merah menyala serta mulut yang menampakkan taring-taring tajam dengan air liur yang tak hentinya mengalir seolah mereka sedang dihadapkan dengan hidangan yang lezat.


Jarak antar kedua pasukan hanya tinggal 500 meter lagi.


Para prajurit serta Petualang yang baru pertama kali melihat Mobs sebanyak ini tampak berkeringat dingin karena tekanan yang diberikan oleh para Mobs itu. Tangan dan kaki mereka bergetar hebat seolah ingin segera kabur dari kenyataan ini.


Jarak antar kedua pasukan hanya tinggal 400 meter lagi.


"TEGARKANLAH DIRIMU! KUATKAN JIWAMU! KERAHKAN SEMUA DARAH DAN KERINGAN YANG KALIAN


MILIKI! TAKDIR KERAJAAN INI BERGANTUNG KEPADA KALIAN SEMUA WAHAI PARA PEMBERANI!"


"""YAAAAAAA....!!!!"""


Komandan Onlay meneriakkan sebuah pidato yang diperkuat oleh Skill [Commander] yang memiliki efek untuk memusnahkan segala jenis rasa takut yang mereka miliki serta mengangkat semangat semua orang yang mendengarnya.


Jarak antar kedua pasukan hanya tinggal 300 meter lagi.


Tampak sudah tidak sabar lagi, para Mobs mulai berlari menghampiri prasmanan saji yang disediakan di hadapan mereka.


Jarak antar kedua pasukan hanya tinggal 200 meter lagi.


"PEMANAH, TEMBAAAKKK!!!!"


Puluhan hingga ratusan anak panah ditembakkan secara bersamaan.


Dengan bantuan Skill, anak panah yang dilepaskan menjadi jauh lebih cepat dan berbahaya dari yang biasanya.


Setiap anak panah mampu menembus kulit hingga cangkang keras yang dimiliki oleh sebagian besar Mobs yang membuat mereka terluka parah atau bahkan gugur seketika.


Mobs yang mati atau terluka harus rela diinjak-injak oleh rekan dan kerabat mereka yang tidak berhenti atau mengurangi kecepatan meski dihujani oleh ratusan anak panah.


Jarak antar kedua pasukan hanya tinggal 100 meter lagi.


"AHLI SIHIR, SEKARANG!!!!"


Kali ini giliran puluhan sihir yang ditembakkan ke arah para Mobs.


Pasukan ahli sihir (Mage) yang berjaga di barisan paling belakang mengangkat tinggi Staff yang mereka bawa dan darinya sihir pun dilepaskan.


Bola api, bilah angin, jarum air, hingga kerikil keras ditembakkan tanpa ampun yang berhasil mengurangi jumlah Mobs yang menyerbu lebih jauh lagi.


Akan tetapi, itu semua masih belum cukup untuk menghentikan laju para Mobs yang datang bagaikan gelombang tsunami yang ganas.


Jarak antar kedua pasukan hanya tinggal 10 meter lagi.


"PERISAAAAIIII....!!!!"


Kali ini giliran Doragon yang memberikan perintah. Yari dan Feline mundur sedikit ke belakang demi memberikan ruang bagi mereka yang membawa perisai (Tanker) bisa maju ke depan.


Sebelum kedua pasukan akhirnya bertemu, para (Stone Golem) yang memiliki tubuh besar dan keras maju terlebih dahulu.


Dengan tubuh mereka yang melebihi 2 meter serta lengan mereka yang bagaikan gada atau bilah pedang. Mereka tanpa ragu menghadang para Mobs yang melaju dengan cepat.


Suara dentuman keras terdengar saat para Mobs dan Golem akhirnya saling bertubrukan.


Mobs yang lemah harus menerima tubuh mereka diremukkan oleh (Stone Golem) yang perkasa. Sedangkan Mobs yang jauh lebih kuat dengan mudahnya menghancurkan tubuh (Stone Golem) bagaikan seorang anak kecil yang


menghancurkan kastil yang terbuat dari pasir.


Mobs yang mampu melewati (Stone Golem) masih harus menghadapi (Wooden Golem) yang sudah siap menghadang mereka.


Melihat daging yang remuk serta serpihan batu dan kayu yang mulai berserakan, para Prajurit serta Petualang hanya melihat dalam diam.


Saat melihat pasukan Golem sudah tidak bisa lagi menahan laju para Mobs, Doragon akhirnya memberikan perintahnya.


"MAJUUU!!!"


"""AAAAaaaAaaAaa.....!!!"""


Tanpa ragu semua orang yang ada mengangkat senjata mereka dan maju menghadapi para Mobs di hadapan mereka.


Hari pertama dari sebuah pertempuran yang nantinya disebut sebagai Pertempuran di Hutan Barriere akhirnya dimulai.


...


Dengan mengaktifkan (Heavy Slash) yang memperkuat seranganku, aku sukses membelah seekor Mobs dengan sekali tebas.


Bekas tebasan pedang pada tubuh Mobs itu tampak terbakar dengan asap yang mengepul yang diiringi bau daging yang matang.


Itu adalah efek khusus dari Shortsword yang aku miliki.


\ ★★★★★


«Flame Edge : Large» «Burn Touch : Medium»


Sebuah pedang pendek yang ditempa oleh seorang Blacksmith terkenal bernama Bronze.


Dengan menggunakan baja khusus yang hanya bisa ditemukan di kawasan gunung berapi yang membara, tercipta sebuah pedang yang mampu membakar siapa pun yang menyentuhnya.


Syarat penggunaan : minimal memiliki [Fire Resistant 10]


Selanjutnya, datang seekor Mobs dengan wujud anjing yang berjalan dengan dua kaki serta bersenjatakan sebuah kapak batu, (Kobold).


Aku lalu mengaktifkan (Quick Slice) yang mempercepat ayunan pedangku untuk memotong lengannya yang membawa kapak yang dilanjutkan dengan mengayunkan pedangku tepat ke lehernya.


Sukses memenggal si (Kobold), aku lalu mendapati seekor Mobs dengan wujud menyerupai anak kecil dengan kulit hijau, (Goblin). Berlari tepat ke arahku dengan pedang karatan di tangannya.


Tidak sempat menghindar, aku mengangkat perisai yang terpasang di tangan kiriku sambil mengaktifkan (Stand) yang berfungsi mengurangi dampak serangan yang aku terima.


Di tambah dengan efek khusus yang perisaiku miliki, serangannya bukanlah apa-apa.


\ ★★★★


«Impact Reduction : Medium» «Damage Reduction : Small» «Knockback Enchant : Small»


Sebuah perisai yang ditempa oleh seorang Blacksmith terkenal bernama Bronze.


Di tempa dengan teknik khusus yang membuatnya mampu mengurangi efek kerusakan yang diterima dan memberikan tambahan saat memukul mundur lawan.


Syarat penggunaan : Tidak ada.


Pada saat pedang karatan itu menghantam Kite Shield milikku, pedang itu seketika patah yang membuat (Goblin) itu terkejut. Tidak membuang kesempatan, aku kembali mengaktifkan (Heavy Slash) dan sukses membelah (Goblin) itu menjadi dua.


Pertarungan masih belum berakhir.


Aku lanjut melawan para Mobs yang tiada hentinya berdatangan.


Menangkis serangan mereka lalu membelah mereka dengan pedangku sudah menjadi sebuah gaya bertarung yang meresap ke dalam tubuhku hingga semuanya terasa alami.


Tidak jarang aku menggunakan (Massive Knockback) yang memungkinkanku untuk memukul mundur semua lawan yang ada di hadapanku dengan menggunakan hantaman perisai. Aku melakukan ini untuk mendapatkan sedikit ruang untuk bernafas.


Dengan sedikit waktu luang yang aku dapat, aku melihat kondisi medan pertempuran saat ini.


Para Prajurit dan Petualang saling bahu-membahu menghadapi serbuan Mobs. Pasukan Golem sudah hampir tersapu bersih dan hanya sedikit yang tersisa dan masih bertarung tanpa mengenal lelah atau rasa takut.


Dari kejauhan, aku bisa melihat sosok temanku, Yari. Sedang memutar tombaknya dengan lincah yang mengakibatkan Mobs di sekitarnya terluka parah atau bahkan mati.


Di sisi lain, aku juga melihat sosok Feline yang berlarian kesana-kemari dengan sepasang belati hitam di tangan yang dia gunakan untuk menyayat bagian vital para Mobs yang ada.


Tidak lama aku mendapati seekor Mobs yang berada tidak jauh dariku terbakar oleh sebuah bola api yang datang dari kejauhan. Meski (Fire Shoot) adalah sihir yang paling umum, tapi entah mengapa aku bisa mengetahui


kalau (Fire Shoot) tadi ditembakkan oleh pak Weise yang berdiri di antara para Ahli Sihir lainnya.


Memiliki rekan setia yang berjuang bersama tentu adalah sebuah hal yang selalu diimpikan oleh setiap orang.


Sungguh aku sangat bersyukur dengan diriku yang sekarang.


Baiklah... Saatnya aku kembali serius.


"JANGAN GENTAR! LANJUT BANTAI MEREKA SAMPAI TIDAK ADA YANG TERSISA!!!"


"Huuooooo...!!!!"


...


Berdiri dari atas dinding yang baru saja berdiri, aku mengarahkan pandanganku pada pertempuran yang sedang berlangsung.


Pada saat itu, seorang prajurit muda menghampiriku untuk memberikan laporan.


"Lapor Komandan, pertarungan berjalan dengan lancar. Prajurit dan Petualang yang terluka telah di bawa ke tenda medis dan saat ini kita masih belum mendapati adanya korban jiwa"


"Bagus. Berapa lama lagi sebelum pergantian pertama?"


"Siap, shift pertama akan dilakukan dua jam lagi"


"Aku menerima laporanmu. Kau boleh pergi sekarang"


"Siap, laksanakan!"


Setelah melihat prajurit muda itu pergi, aku kembali mengalihkan pandanganku pada medan perang yang ada di hadapanku.


Sudah lebih dari 20 tahun aku melayani Kerajaan ini.


Ini bukan pertama kalinya aku menghadapi serbuan Mobs seperti ini.


Strategi terbaik untuk bertarung dengan perlindungan benteng seperti ini adalah dengan membagi pasukan menjadi dua lalu memerintahkan mereka untuk bertarung dalam shift.


Dengan begini kami bisa bertarung dalam jangka waktu yang lama selama persediaan kami memungkinkan.


Sungguh, aku sangat berterima kasih kepada Penyihir yang menciptakan benteng ini. Sudah berkali-kali aku meminta kepada sang Baginda Raja untuk membangun sebuah benteng di perbatasan.


Hanya saja, para bangsawan kotor itu selalu mencari cara untuk menolak permintaanku dengan alasan itu hanya akan membuang-buang uang. Mereka bahkan sampai mengganti semua Equipment yang aku miliki dengan Equipment yang memiliki performa pas-pasan tapi terlihat mewah.


Aku bersumpah, jika aku selamat dari pertempuran ini. Aku akan menampar mereka tepat di wajah dan melengserkan mereka dari jabatan mereka masing-masing!


Sembari berusaha menyembunyikan isi hatiku, aku kembali memfokuskan perhatianku pada apa yang ada di hadapanku.


...


Tanpa terasa sekarang sudah waktunya pergantian shift kedua.


Setelah istirahat yang cukup, aku pun kembali ke medan pertempuran.


"(Orc)!!!"


"Ada (Hobgoblin)!!!"


"Bahaya, (Ogre) telah muncul!!!"


Melihat ke depan, aku akhirnya melihat Mobs yang menjadi sumber perhatian.


Makhluk besar dengan kepala seperti babi hutan, seekor (Goblin) dengan tubuh mencapai hampir 3 meter, serta seekor raksasa dengan tubuh kekar serta memiliki sepasang tanduk di kepalanya.


Jumlah mereka ada banyak. Senjata yang mereka bawa jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya.


Yang paling penting, tubuh mereka yang besar dan mengintimidasi membuat tidak sedikit orang menjadi takut karenanya.


"FOKUSKAN SERANGAN! JANGAN BIARKAN PARA MOBS BARU ITU MENDEKAT!!!"


Atas perintah dari Komandan Onlay, panah dan sihir mulai membombardir mereka. Hal itu jelas membuat mereka murka.


Tanpa memedulikan apa yang ada di hadapan mereka, para Mobs bertubuh besar itu menerjang menembus pertahanan dengan laju yang mengerikan.


"TAHAN MEREKA BAGAIMANAPUN CARANYA!!!"


Setelah memberi perintah, aku segera maju menghadapi salah satu (Ogre) yang datang sambil membawa sebuah Greatsword yang tampak berbahaya.


Mengangkat Greatsword itu dengan kedua lengannya yang kekar, (Ogre) itu mengayunkan pedangnya ke arahku tanpa sedikit pun menurunkan kecepatannya.


Jelas mustahil bagiku untuk menerimanya secara langsung.


Mengaktifkan (Sprint) yang mempercepat gerakanku, aku berlari menghampiri (Ogre) itu yang masih mengangkat tinggi pedangnya. Aku menundukkan badanku sambil mengangkat perisaiku tepat di hadapanku.


Tidak menyangka akulah yang datang menghampirinya, reaksi (Ogre) itu menjadi lambat yang memberikanku sebuah kesempatan.


Tanpa membuang waktu, aku langsung mengaktifkan (Shield Rush) serta (Bull Crash) secara bersamaan. Kedua skill ini memiliki efek serupa untuk memperkuat kerusakan yang diberikan saat aku menggunakan perisaiku


sebagai senjata.


Sasaranku adalah kaki si (Ogre).


Pada saat (Ogre) itu baru saja mengentakkan kakinya, aku menyerangnya tepat di lutut dengan kecepatan penuh. Dengan kami yang saling beradu dalam kecepatan tinggi, membuat dampak seperti dua buah truk yang saling


bertabrakan.


Suara keras terdengar.


Aku merasa lengan kiriku hendak patah saat dampak yang dihasilkan dari tabrakan tadi tidak mampu sepenuhnya diredam oleh perisai milikku. Akan tetapi, kondisiku jauh lebih baik.


Kaki (Ogre) yang aku tabrak patah hingga posisi kakinya menjadi aneh dengan sebuah tulang putih mencuat ke permukaan sambil diiringi oleh darah merah yang mengalir dengan deras.


Tidak mampu menjaga keseimbangannya, (Ogre) itu terguling-guling di atas tanah dengan sangat keras hingga tubuh kekarnya menjadi penuh dengan luka.


Melihat ini dengan sejenak, aku tidak berbalik atau menghentikan lajuku.


Menyerahkan (Ogre) itu kepada para Petualang yang berada di belakangku, aku maju menghadapi seekor (Orc) yang ada di hadapanku.


Senjata yang dia pakai adalah sebuah pisau daging yang besarnya seperti sebuah Golok


Aku mempercepat lajuku lalu melompat tinggi hingga posisiku sejajar dengan kepala si (Orc) itu.


Melihat ini jelas (Orc) itu berusaha menebasku dengan pisau dagingnya. Akan tetapi, aku tidak akan membiarkannya.


Mengaktifkan (Shield Throw) aku melempar perisaiku yang tepat mengenai lengannya yang memegang pisau daging dan berhasil membuat (Orc) itu menjatuhkan senjatanya. Aku lalu menangkap kembali perisai yang memantul kembali kepadaku.


Dikarenakan efek pantulan dari perisai itu yang cukup kuat, membuatku memutar tubuhku untuk bisa menangkapnya dengan aman.


Dengan momentum yang sama, aku mengaktifkan efek khusus dari pedangku yaitu «Flame Edge».


Seketika pedangku diselimuti oleh api merah yang membara.


Dengan satu ayunan memutar aku sukses memotong leher (Orc) itu dan meninggalkan sebuah luka bakar yang masih menyala.


"Ikuti Doragon!"


"Kita bisa, kita pasti bisa menang!"


"Haaaa...!!!"


Heh, melihatku menghadapi dua Mobs bertubuh besar dengan mudahnya jelas membangkitkan semangat pasukan.


Meski begitu, gerakan yang aku lakukan menguras cukup banyak stamina. Kurasa aku akan menahan diri untuk sementara waktu agar aku tidak kehabisan tenaga terlalu cepat.


"Gerakan yang keren! Kali ini saksikan diriku bersinar!"


Yari yang sempat-sempatnya menepuk pundakku dari belakang segera maju sambil memutar tombak yang dia bawa dengan penuh gaya.


Dia tidak sembarangan memutar tombaknya.


Itu adalah sebuah skill yang kalau tidak salah dia sebut sebagai (Whirlwind). Seperti namanya, tombaknya berputar dengan sangat kencang hingga menciptakan efek mirip seperti sebuah angin puyuh yang menghempaskan Mobs kecil di sekitarnya.


Sembari menghabisi para Mobs kecil, Yari berlari lurus ke arah (Ogre) yang mendekat.


(Ogre) kali ini membawa sepasang Greatsword di kedua lengannya yang kuat.


Tidak gentar, Yari mempercepat langkahnya sambil menampakkan senyuman lebar di wajahnya.


"Rasakan ini!!!"


Yari menghentikan skill (Whirlwind) yang membuat sebuah hembusan kuat yang menghempaskan segala yang ada di sekitarnya.


Meski begitu, (Ogre) yang memiliki tubuh yang besar dan berat tidak terlalu terpengaruh akan hal itu. (Ogre) itu hanya menyilangkan kedua Greatsword miliknya untuk melindungi diri dari hembusan angin yang sangat kuat.


Melihat wajah Yari yang tersenyum, tampaknya memang itulah tujuannya.


Yari dengan cepat bergerak maju sembari menundukkan tubuhnya hingga hampir sejajar dengan tanah. Tombaknya mulai memancarkan cahaya kebiruan. Yari lalu mengayunkan tombaknya dengan kuat hingga sukses memotong rapi salah satu kaki dari (Ogre) itu.


Kehilangan satu kakinya membuat si (Ogre) dengan terpaksa bersujud di atas tanah yang secara bersamaan menurunkan posisi kepalanya.


"Tamat sudah"


Mata tombak Yari menancap dengan mantap pada bagian belakang (Ogre) itu menembus langsung ke otaknya.


Tanpa mampu membuat suara apa pun, (Ogre) itu pun tumbang ke atas tanah dengan darah yang tidak berhenti berceceran dengan deras.


"Heh, butuh lebih dari badan yan... Ouch ... siapa, ah! Hei Feline! Hati-hati kalau melompat-lompat!"


"Maaf, sengaja!"


Meski aku tidak bisa melihat wujudnya, namun aku bisa menebak kalau Feline baru saja membuat kepala Yari menjadi sebuah pijakan.


Skill kesukaan milik Feline adalah (Invisible) yang dia dapat saat memaksimalkan Skill [Stealth].


Dari namanya yang sudah jelas, skill itu membuatnya tidak terlihat oleh mata telanjang.


Jika aku memperhatikan dengan seksama, kau akan melihat pemandangan Mobs yang mati begitu saja dengan sebuah luka sayatan di leher atau tengkuk mereka.


Bahkan aku baru saja menyaksikan dua ekor (Hobgoblin) yang mati secara bersamaan oleh sebuah luka sayatan di tengkuk mereka.


Melihat para sahabatku yang bertarung membuatku mereka tidak enak kalau aku diam saja.


"Heh, kurasa aku juga harus sedikit serius"