
Tanpa terasa satu bulan telah berlalu semenjak aku menjadi seorang Walikota dari Kota Pelabuhan di Narsist Kingdom.
Selama itu sudah banyak perkembangan yang terjadi.
•Skill [Whip Skills] telah mencapai level 10. Mendapatkan 1SP•
•Mendapatkan (Extend) dari [Whip Skills]•
•Skill [Shield Skills] telah mencapai level 10. Mendapatkan 1SP•
•Mendapatkan (Shield Rush) dari [Shield Skills]•
•Skill [Identify] telah mencapai level 10. Mendapatkan 1SP•
•Skill [Inscription] telah mencapai level 10. Mendapatkan 1SP•
•Skill [Sleepless] telah mencapai level 5. Mendapatkan 1SP•
•Skill [Clear Mind] telah mencapai level 10. Mendapatkan 1SP•
•Skill [Magical Garment] telah mencapai level 15. Mendapatkan 1SP•
Mencari waktu luang untuk melatih semua Skill yang bisa aku latih, aku juga harus disibukkan oleh pembangunan kota Pelabuhan yang kian hari kian membaik dan mulai membuahkan hasil.
Kota yang dulunya kotor kini sudah bersih bersinar hingga benar-benar tampak seperti sebuah kota baru yang jauh berbeda dari penampilannya yang sebelumnya. Terlebih setelah beberapa renovasi serta pembangunan yang terjadi.
Berkat usaha dari Juni, kini bisnis kuliner menjadi semakin diminati oleh kalangan Ibu-Ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak punya pekerjaan selain menunggu suami mereka pulang melaut. Sudah cukup banyak warung dan rumah makan yang di buka dan penuh akan pelanggan yang kelaparan.
Kebanyakan Menu yang dihidangkan adalah makanan laut yang sudah ditingkatkan dan jauh lebih sedap dari yang sebelumnya.
Mereka yang awalnya hanya merebus atau membakar ikan yang mereka tangkap kini mulai memasaknya dengan berbagai macam cara serta menambahkan bumbu-bumbu lainnya ke dalam masakan yang tentu saja membuat masakan mereka menjadi jauh lebih sedap dari yang selama ini mereka rasakan.
Perlahan namun pasti, rumor mengenai makanan laut khas Kota Pelabuhan mulai tersebar ke wilayah lainnya yang membuat banyak orang yang penasaran untuk datang ke Kota Pelabuhan hanya untuk mencicipi hidangan yang
selama ini di sebut sebagai makanan orang miskin.
Bersamaan dengan semakin banyaknya orang yang datang ke Kota Pelabuhan, itu juga mendorong pertumbuhan industri kerajinan tangan seperti aksesoris serta ukiran-ukiran yang menarik lainnya.
Semua ucapan terima kasih diberikan kepada Asesori yang telah mengajarkan tentang bagaimana caranya untuk membuat aksesoris yang cantik menggunakan cangkang kerang dan material lainnya. Tidak lupa Asesori juga mengajarkan tentang pahatan kayu yang membuat banyak penduduk lansia yang tertarik dan mulai menjadi seorang pemahat demi bisa mencari penghidupan di usia mereka yang sudah semakin senja.
Dan... Yang paling menarik perhatian orang-orang adalah aksesoris yang terbuat dari Mutiara yang menjadi incaran utama para gadis kaya raya dan para Wanita Bangsawan.
Walau awalnya terjadi kendala, tapi industri pembuatan garam juga mulai semakin berkembang. Terlebih setelah industri kuliner yang semakin menjamur, membuat produk garam menjadi semakin diminati. Untuk memenuhi
permintaan yang kian hari kian meninggi, ladang pembuatan garam semakin meluas dan sekarang hampir sepanjang garis pantai kini berubah menjadi ladang garam.
Serius. Aku bahkan harus menolak permintaan mereka untuk mengubah seluruh garis pantai menjadi ladang garam karena aku masih butuh sebagian pantai sebagai objek wisata yang akan dibuka nantinya.
Ngomong-ngomong Mania sekarang sibuk membuat alat yang mampu mengubah air laut agar menjadi air siap minum. Setelah alat itu selesai, maka para penduduk kota tidak perlu jauh-jauh mencari air tawar di sungai yang letaknya sekitar 5 Km dari kota.
Terakhir adalah perubahan yang paling besar sekaligus paling penting untuk kota ini.
Dermaga yang awalnya bobrok dan tidak terawat kini sedang menjalani renovasi besar-besaran.
Setelah jadi, dermaga ini rencananya akan cukup besar sampai sebuah kapal pesiar bisa berlabuh di sana. Tentu saja kapal... Atau mungkin lebih tepatnya perahu kecil yang biasa digunakan oleh para Nelayan untuk melaut juga akan diperbaharui secara perlahan.
Perahu yang selama ini mereka gunakan maksimal hanya bisa menampung 5 orang kru kapal. Rencananya di masa depan perahu yang mereka gunakan akan mampu menampung hingga 12 sampai dengan 20 orang kru untuk bisa meningkatkan jumlah ikan yang mampu mereka tangkap.
"Hmm... Haruskah aku mencari seseorang yang bisa mengajari mereka bagaimana cara menangkap ikan yang paling efektif?"
Selagi aku memikirkan itu, aku melirik ke arah Meno yang juga berada di ruangan yang sama denganku.
Duduk di meja yang telah disediakan, dia tampak sibuk menghitung pendapatan sekaligus pengeluaran kota ini dalam kurun waktu satu bulan. Itu benar, daripada dia tidak punya kerjaan, aku menyuruhnya untuk mengurus akuntansi kota ini.
Hitung-hitung belajar.
Sedangkan untuk adiknya, Mana. Dia saat ini sedang belajar pengetahuan dasar sekaligus tata krama Bangsawan yang diajari langsung oleh Zweite.
Belajar bersama Mana adalah Luna yang selama sebulan ini terus saja bertukar surat dengan Pangeran Argenti. Sungguh, anak itu sekarang benar-benar tampak seperti gadis yang sedang kasmaran. Karena ada kemungkinan besar kalau dia akan berakhir bersama dengan Pangeran Argenti, sangatlah penting baginya untuk belajar bagaimana caranya untuk bertingkah selayaknya gadis Bangsawan.
Oh, karena secara teknis saat ini aku adalah seorang Bangsawan, maka seharusnya aku juga belajar bagaimana caranya bertingkah seperti Bangsawan?
Tenang saja.
Kalau masalah itu aku sudah belajar langsung dari ahlinya.
Siapa lagi kalau bukan sang Putri Elf, Canary Ast Regenward.
Daripada dia bosan diam di rumah saja, aku selalu datang menemuinya di saat sedang aku senggang. Selama itu kami selalu berbincang tentang berbagai hal dan aku pun jadi belajar banyak darinya.
Melihat salah satu dokumen yang berada di atas mejaku, itu adalah informasi terbaru mengenai keadaan di medan perang.
Sudah sekitar seminggu lamanya semenjak pertempuran di perbatasan antara Narsist Kingdom dengan Sanguine Kingdom yang sudah menemui jalan buntu.
Setelah gagal menembus pertahanan dari benteng pihak Aliansi, keadaan bertambah buruk bagi pihak Narsist Kingdom karena bala bantuan dari pihak Aliansi sudah tiba yang mana itu membuat mereka kalah jumlah dengan
perbandingan 30 – 70.
Untuk membalasnya, kemarin bala bantuan dari Narsist Kingdom yang di pimpin langsung oleh salah satu dari Empat Jenderal lainnya yang membuat perbandingan menjadi 40 – 60 yang walaupun mereka masih kalah jumlah,
tapi perbedaan antar pasukan menjadi tidak terlalu timpang.
Tetap saja alur pertempuran menjadi stagnan dengan tidak ada yang mampu memecahnya.
Menyisihkan medan perang yang jauh di sana, aku harus kembali fokus akan apa yang ada di hadapanku saat ini.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk" Mendapatkan izin dariku, orang yang mengetuk pintu pun masuk ke dalam ruangan. Dia adalah seorang gadis muda berpakaian Maid yang belum pernah kau temui sebelumnya. Itu wajar saja, mengingat aku baru saja
membelinya.
Itu benar.
Terima kasih berkat Pamannya Meno yang membawa seluruh Pelayannya bersamanya, membuat Mansion ini menjadi kosong melompong tanpa ada yang mengurusnya.
Sebagai seorang Bangsawan, memiliki enam orang Pelayan saja tentu bukanlah sebuah pilihan.
Selain itu membuat mengurus rumah menjadi kurang efektif, itu juga akan membuatku diremehkan oleh para Bangsawan lainnya karena tidak mampu untuk membayar gaji Pelayan yang banyak.
Mengingat latar belakangku, akan sangat sulit untuk mencari Pelayan yang setia yang tidak akan membocorkan identitasku begitu saja. Untungnya ada Dean yang dengan senang hati mau 'Meminjamkan' sekitar 30 anak buahnya untuk bekerja sebagai Pelayanku.
Aku sangat bersyukur akan hal ini. Namun aku juga tidak bisa sepenuhnya mempercayai orang-orang ini. Karena itulah aku harus mengeluarkan uang untuk membeli budak yang pastinya akan sangat setia kepadaku dan mau
menuruti semua keinginanku.
Tenang saja, aku hanya membeli lima dan yang ada di hadapanku ini adalah salah satunya.
Memberikan salam hormat yang masih kaku, Maid itu pun mengutarakan alasan kedatangannya kemari.
"Master, ada utusan yang hendak meminta izin untuk menemui Master"
"Oh, Apakah mereka adalah saudagar lainnya?"
"Bukan, kali ini mereka mengaku sebagai utusan dari Pangeran dari Drakon Kingdom, Draco Blut Drakon"
Mendengar ini, bukan hanya aku tapi Meno yang sedari tadi sibuk juga terkejut mendengarnya. Maksudku, apa yang dilakukan Pangeran Draco di sini? Bukankah dia seharusnya masih berada di benteng baru itu?
"Baiklah, katakan kepada mereka kalau jadwalku kosong besok lusa"
Menerima perintah dariku, Maid itu pun segera undur diri untuk menyampaikan perintahku kepada para utusan itu. Setelah Maid itu pergi, aku pun mengambil lonceng kecil yang ada di atas meja lalu membunyikannya.
Tidak lama kemudian seorang pria tua berpakaian Butler yang rapi masuk ke dalam ruangan sambil memberikan sebuah salam yang terlatih. Tidak perlu dipertanyakan lagi dia adalah salah satu Pelayan yang 'Dipinjamkan' oleh
Dean.
"Apakah Master memanggil?"
"Baru saja ada utusan yang mengaku di utus oleh Pangeran Draco dari Drakon Kingdom. Tolong selidiki apakah yang mereka katakan itu benar adanya"
"Perintah Master siap hamba jalani"
Dengan begitu Butler tadi lalu pamit undur diri.
Terima kasih berkat pelajaran dari Canary, aku tahu kalau di kalangan Bangsawan ada prosedur khusus jika ingin bertamu ke rumah orang lain.
Sebagai seorang Bangsawan, sangatlah penting untuk menjaga gambaran orang terhadapku. Aku yang sekarang tidak boleh menerima sembarang orang untuk bertemu secara langsung denganku.
Karena itulah Pangeran Draco mengirim seorang utusan kemari dan karena itu juga aku menunda pertemuan sampai besok lusa sehingga aku akan punya waktu untuk menyelidiki latar belakang mereka yang sebenarnya.
"Dan di sini aku mengira tidak akan ada hal mengejutkan yang akan terjadi... Meno, untuk pertemuan besok lusa kau juga akan ikut"
"Baik"
Dengan itu aku pun menyudahi pekerjaanku untuk hari ini.
...
Keesokan harinya aku terbangun ketika sinar mentari pagi menyapaku tepat di wajah.
Membuka mata aku menemukan sosok Zweite yang berpakaian selayaknya Maid baru saja membuka gorden kamar. Tahu kalau aku tidak bisa tidur lebih lama lagi, dengan terpaksa aku pun bangkit dari tempat tidur yang empuk dan terasa nyaman karena seprainya menggunakan bahan sutra yang lembut.
Tidak menggunakan [Magical Garment] aku membiarkan Zweite untuk membantuku berpakaian.
Apa yang aku kenakan tidak lebih dari jubah mandi berwarna violet karena setelah ini aku akan pergi mandi sebelum akhirnya sarapan dan setelah itu barulah aku akan mengenakan pakaian yang sebenarnya.
Berjalan menuju kamar mandi yang entah mengapa berada di ujung lorong yang jauh dari kamar utama tempat aku tidur, aku menyaksikan pemandangan lautan yang tenang dari balik jendela yang memanjang sepanjang lorong.
Setibanya di kamar mandi, menunggu di sana adalah Victoria yang tidak mengenakan apa-apa. Walau seluruh ruangan dipenuhi oleh uap dari air yang baru di panaskan, tapi semua uap ini tidaklah mampu untuk menyamarkan tubuh Victoria sehingga aku bisa melihat tubuh polosnya dengan sangat jelas.
Zweite kembali membantu melepaskan jubah mandi yang aku kenakan.
Dengan tidak adanya selembar benang yang menutupi tubuh indahku, perlahan aku mencelupkan ujung kakiku ke dalam kolam air yang luasnya setara dengan sebuah kolam renang. Merasa suhu airnya sudah pas, aku pun mencelupkan seluruh tubuhku ke dalamnya.
Karena kolam air ini hanya sedalam lututku, aku harus merebahkan diri sehingga hanya kepalaku yang muncul di atas air. Setelah yakin tubuhku telah terandam semua, barulah aku membasahi wajah dan rambutku sebelum
akhirnya keluar dari air dan duduk tepat di pinggir kolam.
Melihat diriku yang sudah tenang, barulah Victoria yang sebelumnya hanya berdiri akhirnya bergerak menghampiriku dengan sabun serta handuk kecil di tangannya.
Mengaplikasikan sabun yang dia pegang kepada handuk kecil itu, dengan handuk yang sudah disabuni Victoria lalu mengelap tubuhku dari atas hingga ke bawah. Karena kedua tangannya berbentuk seperti cakar yang bersisik, membuat gaya mengelapnya terasa canggung karena dia takut untuk secara tidak sengaja melukai kulitku dengan cakarnya yang tajam.
Sementara Victoria mengelap tubuhku dengan sabun, secara bersamaan Zweite membersihkan rambutku dengan sampo dengan penuh kehati-hatian.
Karena tidak ada yang bisa aku perbuat selagi tubuhku dibersihkan, aku hanya melamun sembari memandangi tubuh Victoria yang kecil. Melihat ke bagian bokongnya, terlihat kalau ekornya yang sebelumnya aku potong agar tidak mencolok kini mulai tumbuh kembali.
Aku tahu kalau cicak dan kadal punya kemampuan untuk menumbuhkan ekor mereka yang hilang. Tapi tidak aku sangka kalau seekor Naga juga punya kemampuan yang serupa.
Selesai membersihkan tubuhku, Zweite dan Victoria lalu bekerja sama untuk mengeringkan tubuhku dengan handuk lainnya yang masih bersih dan kering. Dengan tubuhku yang sudah kering, Zweite kembali memakaikan jubah mandi kepadaku sebelum akhirnya kami sama-sama berjalan menuju ruang makan untuk sarapan.
Sudah menunggu di ruang makan adalah Luna yang saat ini hanya mengenakan sebuah babydoll berwarna hitam yang hampir transparan. Terlihat dia meletakkan wajahnya di atas meja makan dengan ekornya yang menjuntai
lemah seolah rasa kantuk masih menyelimutinya.
Karena rambutnya masih basah, aku asumsikan kalau dia sudah mandi.
Ah, ngomong-ngomong ini Mansion punya total 3 kamar mandi. Satu kamar mandi utama untuk pemilik Mansion, satu kamar mandi untuk tamu, dan satu lagi untuk para Pelayan.
Duduk di bangku utama, aku diam menunggu dengan sabar sembari para Pelayan yang lain menyiapkan meja makan.
Terlihat Butler dan Maid sama-sama sedang sibuk menata menu sarapan kami di atas meja sembari di awasi oleh Glory yang mengamati mereka dengan kedua matanya yang tajam. Walau hanya akan ada dua orang saja yang menikmati sarapan, tapi porsi yang dihidangkan cukup banyak hingga cukup untuk dinikmati oleh 5 orang.
Heh, aku tidak tahu apa yang Luna sebenarnya pikirkan. Tapi berkat apa yang dia kenakan membuat para Butler tidak bisa fokus bekerja sehingga mereka hampir saja membuat kesalahan di sana-sini.
Dengan sarapan yang sudah selesai dihidangkan, aku dan Luna yang masih mengantuk pun mulai menikmati sarapan pagi yang tenang ini.
...
Melewati siang hari yang membosankan dan penuh dengan pekerjaan yang tidak pernah aku sangka akan aku jalani, kita sudah tiba di malam hari di mana aku baru saja selesai makan malam.
Berdiam diri di ruang santai yang menghadap langsung ke arah lautan luas, aku mendengarkan laporan dari salah seorang Butler yang sebelumnya sudah aku perintahkan untuk memeriksa identitas sebenarnya dari orang yang
mengaku sebagai Pangeran dari Drakon Kingdom.
"Jadi, mereka adalah yang asli?"
"Itu benar, tidak diragukan lagi kalau Beliau adalah Pangeran Pertama dari Drakon Kingdom. Pangeran Draco Blut Drakon"
Begitu, jadi dia benar-benar datang kemari yah.
Untuk bagaimana dia bisa datang ke sini, kurasa itu wajar saja mengingat aku sudah memberikan rute melewati jalur gorong-gorong ke dalam salah satu laporanku kepada Nenek. Kurasa Nenek yang memberikan informasi itu
kepada Pangeran Draco.
Sedangkan untuk apa alasannya datang jauh-jauh ke dalam wilayah musuh, kurasa itu juga bisa dengan mudah dijelaskan.
"Dia kemari untuk adiknya yah... Sudah berapa jauh penyidikan kita mengenai Pangeran Drake?"
"Semua ada di sini"
Menyerahkan sebuah dokumen, aku pun menerimanya dan mulai membacanya. Isi dari dokumen itu adalah semua yang perlu aku ketahui.
"Kerja bagus... Lalu, bagaimana dengan Dara Blanco? Informasi terbaru apa yang sudah kau dapatkan?"
Dara Blanco, tuangan dari Pangeran Argenti.
Atas permintaan dari Pangeran Argenti, aku memiliki kewajiban untuk mengurus tunangan yang tidak dia inginkan itu.
"Lapor, kabar terakhir memberitahukan kalau Sister Dara sedang menuju kemari. Diperkirakan dia akan sampai kurang dari seminggu lagi"
"Begitu, jadi dia sudah mendengar kabar tentang Selene yah"
Heh, perempuan macam apa yang akan tetap diam setelah mengetahui kalau tunangannya telah melamar gadis lain di belakangnya. Alasannya datang kemari pasti untuk memastikan sekaligus 'meminta' agar Selene berhenti
menggoda tuangannya itu.
"Butuh waktu yang cukup lama juga... Pastikan untuk menyiapkan 'Sambutan' yang pantas untuknya. Terakhir, pastikan jadwalku untuk besok kosong demi menyambut Pangeran Draco"
"Siap, laksanakan"
Setelah menyaksikan Butler itu pergi, barulah aku juga beranjak pergi.
Tujuanku kali ini adalah kamar pribadi Luna yang berada tidak jauh dari kamarku sendiri.
Meski sudah banyak hal yang terjadi, aku masih tidak lupa peranku sebagai Guru dari Luna. Meluangkan waktuku sebisa mungkin aku mengajari Luna tentang sihir. Sedikit demi sedikit Skill Luna meningkat hingga ke tahap dia mungkin sudah mampu untuk melawan Boss pertama Dungeon Ibis sendirian.
Dan untuk menu latihan hari ini...
Tanpa mengetuk pintu aku langsung masuk ke dalam kamar Luna.
Di sana sudah terdapat Luna dengan sebuah menara kayu di hadapannya... "Ah!" ...terkejut akan kedatanganku, menara kayu di hadapannya seketika runtuh dan setetes air mata pun muncul di sudut matanya.
"Jika segitu saja sudah cukup untuk menggoyahkan konsentrasimu, maka jalanmu untuk menguasai [Psychokinesis] masih sangat panjang"
"Ha... Padahal sebentar lagi selesai..."
Tanpa perlu aku perintah sekalipun, Luna kembali berusaha untuk menyusun tumpukkan balok kayu di hadapannya hingga menjadi sebuah menara. Tentu saja dia melakukannya tanpa boleh menyentuh balok-balok kayu itu.
Duduk di atas kasur Luna, aku hanya diam di sana sambil memperhatikan muridku yang sedang berusaha keras.
Setelah semua pertarungan yang telah aku lewati selama ini, aku jadi menyadari betapa bergunanya Skill [Psychokinesis] itu. Tidak sekali atau dua kali Skill itu menyelamatkanku dan membantuku dalam menghadapi lawan yang tangguh.
Oleh karena itu, aku ingin muridku juga bisa menggunakan Skill ini dengan lihai.
"Berhasil!!!"
Teriak Luna yang setelah satu jam lamanya akhirnya berhasil menyusun balok-balok kayu itu hingga menjadi sebuah menara. Dia teramat-amat sangat senang akan hal ini hingga dia terbang kesana-kemari mengelilingi
kamarnya.
Demi merayakannya, aku meraih Luna yang lewat di hadapanku untuk mengusap rambutnya dengan lembut sembari membanjirinya dengan pujian.
Mendapatkan pujian dari diriku yang jujur saja aku sendiri sadar kalau aku jarang memuji orang lain dengan tulus, membuat Luna memancarkan sebuah senyuman yang indah.
Selagi Luna sedang mabuk oleh keberhasilannya, menggunakan (Nature Creation) aku menciptakan balok-balok kayu berbagai bentuk yang jauh lebih besar, lebih berat, dan lebih banyak dari yang sebelumnya.
Balok-balok itu cukup banyak dan besar hingga memakan setidaknya sepertiga dari kamar Luna dengan berat masing-masing balok berkisar 5 Kg.
Melihat semua balok ini, Luna lalu menatapku dengan pandangan yang kosong.