A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 113 : The Great Alliance (2)



Dengan (Aurora) yang menari-nari di angkasa, sebuah kubah cahaya berdiri menutupi seluruh kawasan Ibukota.


Berkumpul mengelilingi seluruh Ibukota adalah para Penyihir dari Sol Ciel dan juga para Peri (Fairy) bawahan dari Ratu Titania.


Mereka saling bekerja sama untuk menciptakan sebuah penghalang untuk mengurung Iblis (Demon) yang mengamuk. Walau penghalang yang mereka dirikan tidak mampu untuk menyegelnya secara penuh, tapi setidaknya itu cukup untuk mencegah Iblis (Demon) itu untuk menciptakan lebih banyak kerusakan.


Bang! Boom! Suara hantaman keras terdengar jelas setiap kali Iblis (Demon) itu menjatuhkan tentakelnya pada permukaan dinding penghalang yang mengurungnya. Bang! Setiap hantaman yang diterima membuat kubah


cahaya bergetar hebat yang mana ini membuat para Penyihir dan juga Peri (Fairy) yang bertugas untuk menjaga kubah cahaya untuk tetap berdiri menjadi berkeringat dingin.


Tidak ada yang tahu sampai berapa lama lagi mereka bisa bertahan. Sampai pihak pusat memberikan perintah, tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk mundur karena nasib Benua ini adalah taruhannya.


Menggenggam Staff mereka lebih kuat lagi, Mana pun mereka alirkan agar Kubah cahaya masih tetap bisa berdiri dan menahan semua hantaman yang diterima.


Sementara para Penyihir dan Peri (Fairy) disibukkan dengan kubah cahaya, para Kesatria dan juga Petualang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pertempuran panjang yang akan datang.


Menyiapkan perlengkapan, memperbaiki senjata yang rusak, hingga berkumpul bersama kawan untuk membahas strategi. Ada banyak yang harus mereka lakukan sebelum pertempuran terjadi.


Perintah sudah diberikan.


Setelah ini mereka harus bisa melukai Iblis (Demon) itu sebanyak mungkin sehingga ukurannya bisa berkurang sampai tidak lebih besar dari sebuah rumah satu lantai.


Memandang sosok Iblis (Demon) yang ukurannya jauh lebih besar dari sebuah Istana, tidak sedikit yang bertanya-tanya bagaimana caranya untuk bisa mengecilkan ukuran sebesar itu hingga tidak lebih besar dari sebuah rumah satu lantai?


Di tengah hiruk-pikuk para Kesatria dan juga Petualang, terlihat Jenderal Boreas dari Narsist Kingdom sedang berbincang dengan seorang Wanita yang juga adalah mantan rekan kerjanya.


"Dan disini aku mengira kau sudah mati. Tidak pernah aku menyangka kalau seseorang dengan kaliber seperti dirimu bisa dengan mudahnya mengkhianati Kerajaanmu sendiri dan masih bisa muncul tanpa merasa malu"


Menerima cacian dari mantan rekan kerjanya, Oriens tidaklah merasa kesal dan malah membalasnya dengan sebuah seringai mengejek.


"Kau juga sama, tidak pernah aku menyangka kalau seseorang dengan kaliber seperti dirimu masih bisa dengan santainya menarik tali busur sementara para bawahanmu berubah menjadi makhluk buruk rupa yang tidak berakal"


Sontak aliran angin deras serta hawa panas mengelilingi mereka berdua. Tatapan mereka saling mengunci satu sama lain seolah tidak ada yang mau mengalah. Tidak akan mengherankan jika sedetik kemudian mereka berdua


sudah mulai saling beradu senjata.


Untungnya hal ini hanya berlangsung dalam waktu singkat karena mereka berdua masih sadar diri dan tahu dalam situasi macam apa mereka sekarang.


"Jadi, apakah kau punya niatan untuk kembali?"


"Tidak!" jawab Oriens singkat dan tegas "Aku sudah kehilangan rasaku kepada Kerajaan terkutuk ini semenjak mereka membuat penduduk tidak bersalah untuk mendapatkan nasib yang sama dengan para prajurit bodoh di medan perang".


"Kau juga sudah mendengarnya kan? Itu semua bukanlah salah Yang Mulia Raja melainkan karena..." berusaha untuk membela tanah airnya, perkataannya harus di potong dengan keras oleh Oriens "Aku tidak peduli ini salah


siapa! Fakta kalau darah para penduduk telah tertumpah tetap tidak akan pernah berubah!".


Suasana hening pun menyelimuti mereka berdua.


Ingin sekali Jenderal Boreas untuk mengucapkan sesuatu namun mulutnya menolak untuk membuka. Kata-kata yang ingin dia ucapkan malah tertahan di tenggorokkannya sehingga suasana hening perlahan berubah menjadi sedikit canggung.


Tidak ingin berlama-lama lagi, Oriens pun segera bangkit dan pergi menjauh meninggalkan Jenderal Boreas yang masih berdiri diam si sana. Tapi, sebelum dia benar-benar pergi, Oriens membalikkan badan dan mengatakan


sesuatu kepada Jenderal Boreas.


Mendengarkan apa yang Oriens katakan, Jenderal Boreas hanya bisa tersenyum kecut sambil memperhatikan sosok Oreins yang semakin menjauh.


...


Dari sekian banyak tenda yang berdiri sebagai tempat untuk beristirahat di medan perang, ada satu tenda yang kini diselimuti oleh suasana yang canggung.


Duduk di atas kursi adalah Doragon yang ditemani oleh Feline dan juga Weise yang selama pertempuran berlangsung dia berada di garis belakang bersama dengan pasukan pengguna sihir lainnya.


Wajah Doragon tampak sedang kesusahan ketika melihat sosok kawannya yang kini sedang duduk bersujud di hadapannya dengan dua orang gadis menemaninya di kiri dan kanan.


Tidak mengenakan Armor karena sedang diperbaiki, kedua gadis itu mengenakan seragam Kesatria yang memberitahukan kalau mereka berdua adalah Kesatria yang berasal dari Drakon Kingdom. Karena kebanyakan hanya keturunan Bangsawan saja yang bisa bergabung bersama ordo Kesatria, tidak heran ketika melihat kedua gadis itu yang memiliki paras cantik selayaknya wanita bangsawan.


Melihat dari cara mereka duduk saja, sudah tampak jelas disiplin yang telah diajarkan kepada mereka sejak mereka masih kecil. Melihat kedua gadis itu menempel erat para Yari, Doragon mulai merasakan pusing menyerang dirinya.


"Pertama-tama, bisa jelaskan kenapa kau diam-diam pergi bersama dengan Pangeran Draco?"


Menampilkan senyuman tidak bersalah, Yari pun menjawab dengan lantang.


"Yah, kau tahu. Aku selalu penasaran bagaimana rupa para gadis dari Narsist Kingdom karena mereka selalu digadang-gadang sebagai sebuah Kerajaan yang mengutamakan kecantikan di atas segalanya. Di saat aku secara tidak sengaja menguping pembicaraan Allucard yang hendak menyusup ke dalam Narsist Kingdom, siapa diriku kalau tidak ikut menumpang?"


Merasakan perutnya mulai bergejolak, Doragon sudah tidak tahu harus bagaimana menghadapi kawannya sejak masa SMA ini.


Sudah sejak lama Doragon tahu kalau Yari itu sejatinya adalah seorang Playboy yang tidak bisa menjaga matanya untuk tidak melirik setiap gadis mulus yang lewat di hadapannya. Sudah tidak terhitung berapa banyak masalah


yang menimpanya karena kebiasaannya ini.


Pernah hampir dikeluarkan karena menggoda putri Kepala sekolah yang sudah memiliki pacar seorang anak Pejabat, Doragon berharap kalau Yari akan bisa menahan diri setelah kejadian itu.


Namun, tampaknya harapannya itu memang sudah ditakdirkan untuk tidak pernah terkabul.


"Lalu, bisa kau perkenalkan kepadaku dengan dua Kesatria yang bersamamu?"


"Ah, perkenalkan, mereka adalah..." belum sempat Yari selesai bicara, kedua gadis yang bersamanya langsung memperkenalkan diri mereka sendiri. "Perkenalkan, namaku adalah Cielo. "Dan namaku adalah Tierra" kami


berdua sudah berhutang budi kepada Tuan Yari sehingga kami pun berniat untuk membalas budi dengan menyerahkan jiwa dan raga kami kepadanya".


Dengan seringai lebar di wajahnya, Yari tampak malu-malu setelah mendengarkan perkataan tulus dari Cielo.


Mendengar ini, Doragon tidak bisa menahan dirinya untuk tidak meletakkan tangannya di wajahnya. Sementara itu, Feline yang berada di sampingnya malah menganggukkan kepalanya seolah dia mengerti dengan apa yang Cielo


maksud. Sedangkan untuk Weise, sebagai seorang yang paling dewasa di Party ini sekaligus sebagai seseorang yang berkewajiban untuk memberikan bimbingannya sebagai seorang profesor, tidak mungkin dia bisa tenang saja setelah melihat salah satu anak muridnya bertindak seperti ini.


"Nak Yari, sebenarnya apa yang telah kau lakukan sehingga kedua gadis muda ini merasa berhutang kepadamu?"


Karena ditanya, maka Yari dengan penuh semangat mulai bercerita.


Ini semua berawal dua hari setelah rombongan Pangeran Draco sedang melintasi gurun yang tandus demi bisa tiba di Narsist Kingdom.


Di tengah jalan mereka sedang sial karena terjebak di badai pasir yang mengurangi jarak penglihatan mereka. Merasa tidak aman untuk terus melaju, Pangeran Draco pun memerintahkan kepada para bawahannya untuk


berlindung sambil menunggu agar badai pasir mereda.


Karena tidak adanya goa atau tempat lainnya untuk bisa dimanfaatkan sebagai tempat perlindungan, mereka pun memutuskan untuk mendirikan tenda saja dan masuk ke dalamnya untuk menghindari gempuran badai pasir yang ganas.


Ketika semua orang sedang sibuk mendirikan tenda, Cielo, Tierra, serta tiga Kesatria Wanita lainnya malah sial karena tenda yang mereka bawa malah terbang terbawa oleh angin. Ketika ketiga rekan mereka memilih untuk


berlindung bersama Kesatria Wanita yang lain, Cielo dan Tierra yang tidak kebagian tempat merasa resah dan ragu untuk ikut berlindung di tenda yang sama bersama para Kesatria pria.


Di saat mereka sedang bingung tidak tahu harus bagaimana, Yari mendatangi mereka dan menawarkan untuk berlindung bersama di dalam tenda pribadi miliknya. Awalnya sempat merasa ragu, setelah Cierod dan Tierra tahu


kalau Yari hanya seorang diri, akhirnya mereka mau di ajak untuk satu tenda dengannya.


"Dan pada saat itulah kalian bertiga menjadi semakin dekat hingga batas antara pria dan wanita pun kalian lewati?"


Atas perkataan Feline, Yari pun segera menyangkalnya "Jangan asal bicara! Memangnya apa pandanganmu terhadap diriku hingga membuatmu berpikir seperti itu?" melihat Yari menyangkalnya, Cielo dan Tierra juga ikut


mendukungnya "Benar sekali! Saat itu Tuan Yari sama sekali tidak melakukan tindakan tidak senonoh kepada kami berdua!". "Iya, Tuan Yari hanya mengajak kami bicara sambil menceritakan tentang semua Petualangan yang pernah dia jalani!".


Melihat Cielo dan Tierra membela Yari dengan sangat keras, membuat Feline yang berniat bercanda malah menjadi kehabisan kata-kata.


"Mari kita sisihkah masalah itu dulu, kalian menolak untuk bersama Kesatria lainnya tapi kenapa kalian malah setuju untuk tidur di tenda yang sama dengan Yari?"


Saling bertatap muka sejenak, mereka pun memilih untuk berbicara yang sebenarnya "Karena Yari hanya sendiri dan kami ada berdua, kami pikir jika dia berani berbuat macam-macam maka kami bisa dengan mudah menendangnya keluar dari tenda".


Meski sakit, Yari tetap melanjutkan ceritanya.


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, di dalam tenda mereka hanya berbincang santai sembari sekali-kali Yari menceritakan kisah petualangannya dengan penuh semangat. Melihat tingkah Yari yang bercerita dengan seringai lebar di wajahnya, sontak membuat Cielo dan Tierra tidak lagi menaruh rasa curiga kepadanya.


Setelah badai pasir mereda dan rombongan mereka akhirnya bisa melanjutkan perjalanan, mereka bertiga pun berpisah dengan Cielo dan Tierra kembali bersama dengan Kesatria lainnya sementara Yari sendiri bergabung bersama Allucard yang juga adalah seorang Otherworlder yang sama seperti dirinya.


Sebagai Putri seorang Bangsawan yang selalu di didik dengan ketat, membuat mereka sangat jarang untuk bisa berinteraksi dengan santai tanpa memedulikan status orang lain serta tidak perlu untuk mencari tahu apa maksud tersembunyi dari apa yang orang lain katakan. Dan setelah mereka bergabung dengan Ordo Kesatria, membuat mereka semakin jarang untuk bisa berinteraksi dengan lawan jenis terkecuali dengan rekan mereka sesama


Kesatria yang memiliki status yang serupa dengan mereka.


Oleh karena itu, Yari yang mampu menemani mereka tanpa ada maksud tersembunyi adalah sesuatu yang baru bagi mereka.


Meski begitu, mereka masih belum berani untuk mendekatinya karena mereka berdua masih belum yakin apa yang sebenarnya mereka rasakan.


Sampai pada akhirnya rombongan mereka dicegat oleh seekor kalajengking raksasa yang membuat mereka berdua tidak lagi mampu untuk melepaskan sosok Yari dari pandangan mereka. Menyaksikan bagaimana Yari beraksi secara langsung telah benar-benar memikat hati mereka berdua.


Dari bagaimana Yari mengayunkan tombaknya dengan gagah hingga ekspresi bersemangat yang Yari tampilkan di saat dia bertarung telah benar-benar tertanam kuat di dalam hati kedua gadis muda itu. Keraguan di hati mereka seketika sirna dan semuanya pun menjadi jelas.


Sejak saat itu mereka berdua selalu berusaha mencari kesempatan untuk dekat Yari.


Baik itu di saat istirahat, mereka berdua akan mendekati Yari untuk makan bersama dengannya. Di saat perjalanan mereka akan berjalan dekat dengannya. Saat malam hari mereka akan mengakali rekan-rekannya untuk mendirikan tenda di dekat tenda Yari.


Hingga tindakan mereka ini tampak jelas di mata rekan-rekan mereka dan pada akhirnya Cielo dan Tierra pun dilaporkan kepada Pangeran Draco karena perilaku mereka ini di anggap melanggar disiplin Kesatria.


"Lalu, bagaimana reaksi Pangeran Draco?"


Di tanya seperti itu, pipi Cielo dan Tierra pun menjadi merah merona sementara Yari malah memasang tampang malu-malu.


Melihat tingkah mereka bertiga, Doragon pun merasakan sebuah firasat buruk.


"Yah, tentu saja aku, lebih tepatnya kami bertiga mendapatkan hukuman"


"Dan hukuman apakah itu? Perlukah kami sebagai rekan satu Partymu merasa khawatir?"


"Tentu saja tidak! Hukuman ini hanya jatuh kepada kami bertiga. Hanya saja..." tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya, Yari pun sampai terdiam untuk beberapa saat. Sampai pada akhirnya Doragon pun memaksanya untuk bicara dan Yari pun akhirnya mau bicara. "...katakan saja di masa depan namaku akan menjadi Yari von Dragoon".


"Hmm???" tentu saja tanda tanya muncul di atas kepala semua orang.


Ketika Feline dan Weise mulai paham apa yang sebenarnya Yari coba katakan, Doragon hanya merasakan kalau firasat buruknya kian menjadi.


"Maaf, apa tadi kau bilang?"


"Seperti yang tadi aku katakan, namaku kelak akan menjadi Yari von Dragoon"


"Makanya aku bertanya, bagaimana bisa kau akan mendapatkan nama Keluarga sementara... Jangan bilang!"


Melihat ekspresi Yari yang seolah baru saja selesai membuat sebuah keisengan, Doragon pun tidak tahu harus berbuat apa.


Menggantikan Doragon, Feline pun maju untuk bertanya "Diriku mengerti kalau hukuman untuk menggoda Kesatria miliknya adalah untuk bekerja di bawah pengawasannya. Akan tetapi, sepengetahuanku hanya mereka yang berjasa saja yang mendapatkan penghormatan untuk membangun Keluarganya sendiri. Juga, bukankah kurang pantas rasanya jika Yari, yang secara teknis terhitung sebagai bawahan Doragon untuk menjadi yang pertama di angkat sebagai Bangsawan sebelum atasannya?".


Atas pertanyaan ini, Cielo pun mulai menjelaskan.


"Untuk itu Nyonya Feline tenang saja. Tuan Yari hanya akan di angkat sebagai Ksatria Penghormatan saja. Tuan Yari tidak akan mendapatkan wilayah dan hanya Bangsawan di nama saja. Sampai Tuan Yari membuat sebuah prestasi besar, pada saat itu barulah dia akan dianugerahkan sebuah wilayah untuk dikelola dan juga gelar Bangsawan yang sebenarnya.


Sementara itu, atas prestasinya selama ini, Tuan Doragon sudah direncanakan untuk di angkat sebagai seorang Baron dan akan ditugaskan untuk mengelola sebuah wilayah"


"Hm, apa?!" sontak saja berita ini mengejutkan bukan hanya Doragon tapi juga Feline dan Weise.


"Apakah kau yakin berita itu benar?"


"Apa yang saya ucapkan telah diucapkan secara langsung oleh Pangeran Draco di saat Beliau memberitahukan hukuman kami"


Mendengar kalau hal ini keluar langsung dari mulut Pangeran Draco, Doragon mendapati kalau tubuhnya menjadi lemas dan dia pun hanya bisa duduk pasrah di atas kursi. Sementara itu wajah Feline malah menjadi berbunga-bunga sambil bergumam "Aku akan menjadi istri Bangsawan..." dan Wiese juga menjadi tidak kalah bersemangatnya "Hoho, itu artinya peran Penasehat akan jatuh ke tanganku yah...".


Ketika semua orang sedang diselimuti oleh kebahagiaan dan sukacita. Doragon sendiri malah pusing memikirkan bagaimana cara menjelaskan semua ini kepada Winzi.


...


Beralih ke dalam tenda lainnya, tenda yang satu ini berisikan empat orang sosok Penyihir yang duduk bersama di sebuah meja yang penuh dengan kertas dan buku yang berhamburan.


Mereka adalah Penyihir Lavender dan Penyihir Rosemary, beserta kedua murid mereka, Luna dan Clara.


Duduk di meja yang sama, mata mereka tertuju pada lembaran kertas yang tersebar di atas meja.


"Bagaimana dengan yang satu ini?" tunjuk Penyihir Rosemary pada salah satu lembaran kertas yang berisikan lingkaran sihir yang rumit dan sulit untuk dimengerti. Membacanya sekilas, Penyihir Lavender langsung melemparnya "Tidak bagus! Memang benar (Fairy Coffin) itu kuat tapi persiapannya terlalu ribet".


"Kalau yang ini?" menyerahkan kertas lainnya, Penyihir Lavender kembali menolaknya.


Sudah berjam-jam mereka seperti ini.


Penyihir Rosemary akan menyarankan satu atau dua kertas berisikan lingkaran sihir kepada Penyihir Lavender yang akan membacanya sekilas lalu menolaknya. Sementara itu Clara sibuk menyortir semua buku berisikan


lingkaran sihir yang telah tercatat sebelum menyerahkannya kepada Gurunya sementara Luna sibuk membereskan semua kertas yang Gurunya lempar.


"(Three Stone Sealing) (Five Finger Mountain) (Anti-Magic Sealing Formation) semuanya memang bagus namun tidak ada yang sesuai untuk situasi saat ini! Mary, apakah kau tidak tahu ada sihir penghalang yang jauh lebih berguna lagi?"


"Biarpun kakak menanyakan itu, diriku juga tidak tahu banyak mengenai sihir penghalang. Juga, bukankah Nenek menyarankan agar Kak Lavy untuk mengulur waktu? Kenapa repot-repot mencari sihir penyegelan?"


"Oh, apakah kau menyarankan Kakakmu ini untuk melawan gumpalan daging itu secara langsung? Sehari dua hari mungkin tidak masalah. Tapi apakah kau benar-benar berpikir diriku akan mampu untuk terus melawannya selama


lima hari penuh?"


Walaupun mereka saling berdebat, namun tangan mereka tidak pernah berhenti bekerja.


Tidak akan butuh waktu lama sebelum mereka akhirnya akan kehabisan bahan referensi. Ketika tumpukkan buku sudah mulai menggunung, seseorang masuk ke dalam tenda mereka dengan penuh semangat.


"Tuanku♥"


Masuk ke dalam tenda adalah Milim yang melayang sambil membawa setumpuk kertas di tangannya yang lalu menyerahkannya kepada Penyihir Lavender. "Ini kan!" baru juga membaca kertas paling atas, mata Penyihir Lavender langsung terbelalak melihatnya.


Penasaran akan apa isi dari kertas itu, Penyihir Rosemary mendapati sebuah lingaran sihir yang ditulis menggunakan Rune yang tidak dia ketahui.


"Bahasa apa ini? Diriku tidak mengenalinya?"


"Tentu saja, ini adalah Bahasa Iblis (Demon) jadi wajar kalau kau tidak bisa membacanya"


Dengan mata yang bercahaya, Penyihir Lavender fokus membaca semua kertas yang Milim berikan kepadanya dengan sangat teliti hingga panggilan dari Penyihir Rosemary tidak lagi didengarnya.


Melihat kalau Kakaknya tidak bisa diganggu lagi, dia pun memilih bertanya langsung kepada Milim "Sebenarnya apa isi dari semua itu?".


"Hihihi... ♥ Senang kau bertanya♥ Semua itu adalah sihir khas Ras Iblis (Demon) yang sudah diwariskan secara turun temurun♥ Karena aku mengingatnya maka aku menuliskannya untuk Tuanku pelajari♥"


Menampilkan seringai sombong di wajahnya, Milim hanya merasa senang karena dirinya bisa berguna bagi Tuannya.


Mengangguk paham, Rosemary pun memilih untuk menunggu sampai Penyihir Lavender selesai membaca semuanya. Di sisi lain, Luna dan Clara hanya bisa bernafas lega karena kini akhirnya mereka bisa beristirahat.


Beberapa waktu telah berlalu.


Selesai membaca semua kertas yang Milim berikan, senyuman lebar pun tercipta di wajah Penyihir Lavender.


Dari tumpukkan kertas yang ada di hadapannya, Penyihir Lavender hanya mengambil tiga lembar kertas sementara yang lainnya dia sisihkan ke sisi lain meja.


Meletakkan ketiga lebar kertas itu ke atas meja, Penyihir Lavender pun mendeklarasikan "Aku akan menggunakan ketiga sihir ini!" yang sontak membuat seluruh mata tertuju pada ketiga kertas itu.


Karena Luna dan Clara sama-sama tidak mengerti Rune terlebih Rune dari ras Iblis (Demon), mereka hanya melihat tiga lingkaran sihir yang rumit dan sulit untuk dimengerti. Meski Penyihir Rosemary juga tidak paham dengan


tulisan ras Iblis (Demon). Tapi, dia yang paham tentang lingkaran sihir serta penempatan Rune langsung bisa paham kalau ketiga lingkaran sihir yang Penyihir Lavender tampilkan adalah sebuah lingkaran sihir yang mudah digunakan dan efeknya pun bisa dibilang sangatlah simpel.


Sementara itu, ketika Milim menengok ke atas meja, dia yang paham karena dia sendiri yang menggambar lingkaran sihir itu langsung memiliki seribu pertanyaan di dalam kepalanya.


"Tuanku♥ Maaf kalau lancang♥ Tapi bukankah ketiga lingkaran sihir ini walau digunakan secara bersamaan sekalipun rasanya masih belum cukup baik untuk menahan orang itu♥"


"Memang benar kalau mereka bertiga termasuk ke dalam deretan terbawah dari semua lingkaran sihir yang kau berikan. Akan tetapi itu hanya berlaku kalau mereka digunakan secara terpisah!"


Dengan ekspresi bangga di wajahnya, Penyihir Lavender pun mulai menjelaskan rencananya.