
Namaku adalah Doragon.
Aku sudah bermain game Freedom 2 semenjak game ini pertama kali diluncurkan. Aku bahkan juga bermain game Freedom yang pertama saat aku masih kecil dulu.
Menyeimbangkan antara kuliah dan game memang susah. Tapi untungnya kampus yang aku masuki tidaklah ketat atau bahkan terbilang santai. Berkat itu aku bisa bermain sesuka hatiku.
Meski begitu, setelah setahun aku bermain game ini, aku semakin meragukan kalau ini adalah sebuah game.
Semua hal tampak nyata.
Baik itu lingkungan, orang-orang, bahkan hewan (Mobs) yang ada disini tampak sangat nyata dan hidup.
Jika saja aku tidak terbangun dengan mesin VR saat aku Log Out, aku pasti sudah mengira kalau aku berada di dunia lain.
Mari kita sisihkan itu dulu.
Saat ini aku sedang berada di rumah pribadiku. Rumah ini aku beli dengan uang yang aku kumpulkan dari menyelesaikan Quest.
Rumahku tidaklah besar namun nyaman untuk ditinggali.
Letaknya berada dekat dengan hutan Barriere.
Hutan Barriere merupakan pembatas alami antara Drakon Kingdom dengan Ferox Kingdom.
Berbeda dari Drakon Kingdom yang merupakan kerajaan Manusia. Ferox Kingdom adalah sebuah kerajaan yang penduduk utamanya adalah ras Beastman.
Hutan Barriere sangatlah luas.
Meski kau berjalan lurus sekalipun, membutuhkan waktu paling sebentar 5 hari hanya untuk mencapai Ferox Kingdom. Itupun belum termasuk para Mobs berbahaya yang menghuni hutan ini.
Alasan aku memilih berdiam didekat hutan ini adalah karena jika ada sesuatu berbahaya yang ingin memasuki Drakon Kingdom, aku bisa bergerak dengan cepat dan menghadangnya jika aku mampu.
Aku berhutang banyak dengan kerajaan ini.
Meski kerajaan ini bukanlah tanah lahirku, tapi rasa nasionalismeku terhadap Drakon Kingdom jauh lebih besar ketimbang negara asliku.
Ada alasan untuk ini. Tapi karena terlalu panjang, aku tidak akan menceritakannya.
Drakon Kingdom saat ini sedang dalam keadaan damai. Namun tidak dengan kerajaan lainnya.
Di luar sana, Narsist Kingdom sedang mengibarkan bendera perang terhadap Sanguine Kingdom.
Alasannya pun sangatkah sepele!
Hanya karena seorang Pemain (Otherworlder) memiliki rupa yang sama dengan Raja mereka, mereka menjadi murka dan mengejar Pemain malang itu sampai membuatnya lari ke Sanguine Kingdom yang berbatasan langsung dengan Narsist Kingdom.
Setelah beberapa kejadian berikutnya, bendera perang pun berkibar antar kedua kerajaan.
Meski begitu, aku tahu kalau itu hanyalah alasan belaka.
Penyebab sebenarnya perang terjadi adalah karena Narsist Kingdom memang sejak lama ingin menghancurkan Sanguine Kingdom.
Alasannya...
Mereka iri dengan warga dari Sanguine Kingdom yang memiliki wajah cantik/tampan serta memiliki umur yang panjang sejak lahir.
Ya, alasan yang sangat konyol jika kau bertanya kepadaku.
Sanguine Kingdom merupakan kerajaan yang dipenuhi oleh ras-ras berumur panjang seperti Vampir, Elf, dan Dwarf.
Sedangkan Narsist Kingdom adalah kerajaan Manusia sama seperti Drakon Kingdom. Namun, berbeda dengan Drakon Kingdom yang menerima perbedaan ras dengan tangan terbuka, Narsist Kingdom justru merasa kalau ras Manusia adalah ras yang paling superior dan ras lainnya hanyalah kesalahan tuhan belaka.
Meski saat ini perang besar-besaran belum dimulai, tapi konflik bersenjata dalam skala kecil sudah sering terjadi di daerah perbatasan mereka.
Memang benar kalau ini adalah konflik dari negara lain dan tidak berhubungan langsung dengan Drakon Kingdom.
Akan tetapi, jika perang besar memang akan terjadi, ini akan mempengaruhi negara-negara lainnya dan pada akhirnya perang dunia pun dimulai.
Hal yang membebaniku adalah nasib para Pemain.
Jika ini adalah sebuah Event game, ini terlalu berat!
Event besar pertama yang aku alami adalah sebuah Wave yang terjadi secara bersamaan di seluruh dunia.
Wave adalah sebuah Event dimana semua Mobs di suatu daerah yang biasanya tidak saling berinteraksi berkumpul dan bersama-sama menyerang desa atau kota terdekat.
Itu terjadi saat bulan kelima aku bermain.
Freedom 2 sangatlah tidak populer dan banyak Pemain yang meninggalkannya. Hasilnya hanya ada sedikit Pemain yang berpartisipasi.
Akibatnya, banyak kota dan desa hilang dari peta dan banyak NPC (Locals) yang kehilangan nyawa. Aku tahu mereka hanyalah kumpulan data. Akan tetapi, hatiku tetap tidak bisa menerimanya.
Event besar kedua terjadi 5 bulan setelah gelombang kedua datang.
Jumlah mereka tidaklah banyak, namun bantuan tetaplah bantuan.
Meski begitu, Event kedua adalah sebuah bencana alam.
Badai angin, banjir, gempa, dan longsor terjadi dimana-mana secara bersamaan. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain membantu menolong mereka yang terkena musibah.
Pada akhirnya, banyak nyawa melayang.
Sekarang, gelombang ketiga sudah tiba. Berkat usaha keras kami, jumlah orang yang bermain game ini meningkat dengan pesat.
Secara keseluruhan, mereka jauh lebih baik jika dibandingkan dengan angkatanku.
Jika kami semua bekerja sama, kami pasti bisa mengatasi Event ketiga yang pasti akan datang.
Akan tetapi, melihat kondisi saat ini, Event ketiga pastilah sebuah Event perang.
Ini sangatlah tidak baik.
Tidak ada yang baik dari perang.
Pastinya Event ini terlalu berlebihan bagi kami semua.
Aku berharap aku bisa mencegah Event ini sebelum semuanya terlambat. Akan tetapi, apa yang bisa aku lakukan?
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan"
Sebelum aku sadar, sudah ada seorang gadis kecil menuangkan secangkir teh herbal tepat dihadapanku.
Gadis itu memiliki rambut dan mata berwarna perak.
Wajahnya yang imut serta tubuhnya yang mungil membuatku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.
Dia adalah Winzi, kekasihku.
Kami sudah bersama semenjak kami masih sekolah menengah. Dan sekarang kami kuliah di kampus yang sama.
Aku tahu apa yang kalian pikirkan. Tapi biar aku luruskan sesuatu.
Ras Winzi adalah Dwarf. Jadi wajar saja baginya untuk memiliki tubuh yang mungil.
Meski begitu, Winzi sejatinya memang memiliki tubuh yang mungil bahkan di dunia nyata. Meski umur kami hanya berselisih setahun, namun penampilan Winzi tetap seperti seorang gadis kecil. Tingginya bahkan hanya sedikit di atas 150cm.
Setiap kali kami jalan bersama, kalau bukan dianggap sebagai adik-kakak, orang-orang pasti akan memandangi kami dengan pandangan yang menusuk.
Bahkan tak jarang aku disapa polisi.
Oleh karena itu, saat bermain game ini Winzi memilih untuk bermain sebagai seorang Dwarf.
Berkat itu, tubuhnya kembali menyusut hingga kurang dari 140cm.
Akan tetapi, berkat itu pandangan menusuk yang ditujukan kepada kami menjadi berkurang secara drastis. Setiap kali kami jalan bersama, yang orang-orang lihat bukanlah seorang pria yang menggandeng seorang gadis kecil.
Melainkan seorang pria yang berjalan bersama kekasih Dwarf nya.
"Aku tahu kita sedang liburan. Tapi aku tetap tidak bisa berhenti memikirkan apa yang akan terjadi"
Sambil tersenyum, Winzi dengan santainya duduk di sampingku sambil menyeruput secangkir teh herbal seduhannya sendiri.
Melihat senyumannya, dengan sangat terpaksa aku meminum bagianku.
"Santai saja, kau tidaklah sendiri, ada banyak orang yang memperjuangkan hal yang sama dengan kita"
"Yah, kau benar. Terima kasih"
"Sama-sama. Juga, pastikan kau menghabiskan teh mu. Itu baik untuk pikiran"
"..."
Kami menghabiskan waktu kami dengan bersantai di ruang keluarga sambil mengobrol santai. Ya, kami tinggal bersama. Meski ini hanyalah game, ini bisa menjadi sebuah latihan untuk masa yang akan datang.
Jika saja aku tidak harus meminum cairan terkutuk ini, kehidupanku pasti akan sangat sempurna.
Ring♪ Ring♪
Saat kami sedang bersantai, sebuah kristal berwarna biru tua yang berada di atas meja berdering.
Tanpa terburu-buru, aku menyentuh permukaan kristal itu.
"Hallo, apakah aku mengganggu?"
Seperti yang kalian duga, kristal tersebut adalah sebuah Item yang memiliki fungsi yang sama dengan telepon rumah.
Nama Item tersebut adalah aku mendapatkannya sebagai hadiah dari Union setelah berperan besar saat Event pertama.
Meski begitu, ada dua kekurangan dari Item ini.
Pertama, kau tidak bisa mengetahui siapa yang berada di sisi lain kecuali dari suaranya.
Kedua, kau hanya bisa berbicara maksimal selama 5 menit dan tidak bisa diperpanjang dengan cara apa pun. Oleh karena itu, Item ini hanya dipakai untuk mengirimkan pesan yang penting dan singkat.
Jika disederhanakan, adalah sebuah telegram yang mampu menghantarkan suara.
Aku mengenal dengan siapa aku berbicara sekarang.
Namanya adalah Weise. Dia adalah anggota satu Party dengan kami dan sekaligus Dosen dari kampus kami.
Sangat jarang kau bisa bermain bersama dengan Dosen seperti dia. Terlebih Weise adalah Dosen muda yang ramah dan perhatian kepada para Mahasiswa yang ikut mata pelajarannya. Ngomong-ngomong mata pelajarannya adalah Sejarah.
"Tenang saja, kami hanya sedang bersantai. Apakah ada masalah?"
"Untungnya saat ini tidak ada masalah. Aku menghubungimu hanya untuk memberitahukan kalau musim kawin kucing sudah lewat. Jadi dek Feline bilang kalau dia bakal mengunjungi kalian paling sebentar 2 hari lagi"
"Oh, kalau begitu aku harus segera menyediakan kamar yang nyaman untuknya"
Berita ini disambut ceria oleh Winzi.
Wajar saja, soalnya Winzi dan Feline adalah sahabat baik sekaligus teman seangkatannya di kampus. Feline juga adalah anggota Party kami.
Perlu diketahui kalau ras Feline adalah Beastman berdarah campuran dengan penampilan menyerupai kucing hitam.
Terlebih, Feline termasuk dalam kategori Pemain yang menerima [Animal Instinct] nya dengan senang hati. Akibatnya kepribadiannya menjadi mirip seperti seekor kucing ketimbang Manusia.
Meskipun sebagai seorang darah campuran [Animal Instinct] nya seharusnya tidaklah separah yang berdarah murni. Tapi entah karena kebetulan atau apa, kepribadian asli dari Feline sangatlah cocok dengan rasnya yang sekarang.
Berkat itu dia selalu saja bersikap dan berperilaku seperti seekor kucing.
Misal, dia selalu memilih makanan seafood saat makan. Pada saat siang hari dia sering ketahuan tidur di sembarang tempat dan begadang sepanjang malam. Menurut Winzi, waktu mandinya berkurang dari yang awalnya dua kali sehari menjadi paling banyak tiga kali seminggu.
Yang paling parah, semua hal diatas sampai terbawa ke dunia nyata dan membuat cukup banyak masalah.
Aku tidak tahu apakah ini adalah efek samping dari mesin VR yang terhubung dengan otak penggunanya secara langsung atau memang karena Feline yang terlalu terbawa peran karakternya.
Tapi setidaknya dia masih bisa berpikir waras dan tidak terbawa nafsu saat musim kawinnya telah tiba dan memilih untuk bersembunyi di suatu tempat terpencil.
Setelah berbincang sebentar dengan Weise, dia pun menutup panggilannya.
Setelah itu tidak ada hal penting yang patut untuk diceritakan. Aku hanya bersantai dengan Winzi sebelum dia memutuskan untuk segera menyiapkan kamar untuk Feline yang akan datang berkunjung.
Yah, aku yakin kamar tersebut akan menjadi tidak berguna karena Feline pasti lebih memilih untuk tidur di sofa atau atap rumah ketimbang di atas ranjang yang empuk.
...
Namaku adalah Allucard.
Aku bekerja sebagai seorang Bounty Hunter demi menumpas kejahatan dan menghukum mereka yang bersalah.
Alasan aku memilih Occupation ini adalah untuk menyalurkan hobi dan impianku sejak kecil. Namun, setelah berada dalam pekerjaan ini cukup lama aku menjadi terbawa dan mulai menganggap kalau ini bukan lagi sebuah hobi melainkan pekerjaanku yang sebenarnya.
"Aku tanya sekali lagi, apa tujuan sebenarnya dari Raja kalian hingga dia ingin memulai perang?!"
Cuih! "Persetan!"
Saat ini aku sedang menginterogasi mata-mata dari Narsist Kingdom yang mencoba menyusup kedalam Sanguine Kingdom tempat aku tinggal.
Reaksi mereka yang tidak kooperatif memang sering aku dapatkan.
Tapi tenang saja, [Interrogation] dan [Torture Knowledge] baru saja naik tingkat menjadi [Interogator] dan [Torture Mastery].
Jadi kau bisa mengharapkan hasil yang memuaskan... Atau tidak.
"Tch, jadi masih tidak berguna yah"
Seperti yang diharapkan dari tumbal sekali pakai. Mereka bahkan tidak tahu siapa yang menyewa mereka.
Sambil menjilat tanganku yang berlumuran darah, aku memutuskan untuk pergi dan mencari informasi di tempat lain.
Tidak seperti di awal-awal, sekarang aku tidak lagi jijik saat meminum darah. Bahkan aku mulai memiliki darah favorit yang biasa aku minum saat sedang merayakan sesuatu atau hanya karena aku ingin meminumnya.
Aku lupa bilang, ras ku adalah Vampir.
Jujur, menjadi Vampir tidaklah semudah yang kau bayangkan. Selain harus menahan [Bloodlust] yang membuatku harus meminum darah untuk tetap waras, sinar matahari terasa jauh lebih menyakitkan dari yang bisa kau bayangkan.
Butuh waktu 6 bulan waktu game bagiku hanya untuk mendapatkan [Sun Resistance] dan masih lama bagiku sebelum menaikkan levelnya ketingkat dimana aku bisa berjalan dibawah sinar matahari dengan bebas.
Untungnya Sanguine Kingdom berada di daerah dataran tinggi yang membuatnya sering diselimuti oleh kabut yang tebal.
Berkat itu ras yang lemah akan matahari seperti diriku bisa berjalan di siang hari asalkan kabut masihlah tebal.
Gaya arsitektur di kerajaan ini sangat mirip dengan gaya arsitektur di Inggris pada masa Victoria.
Hal ini sangat serasi dengan ras dan pakaian yang aku kenakan sekarang.
Sambil memakai setelan rapi lengkap dengan Trench Coat, Monocle, dan topi tinggi. Aku berjalan dengan tegap di jalanan yang diselimuti oleh kabut yang lembab.
Selain Vampir seperti diriku, jalanan di Sanguine Kingdom juga dipenuhi oleh ras berumur panjang lainnya seperti Elf, Dwarf, dan Spirits.
Hampir tidak ada Manusia yang terlihat.
Alasannya cukup sederhana, tidak ada Manusia yang mampu bertahan lama tinggal di kerajaan ini yang dimana lingkungannya terlalu keras dan berbahaya bagi mereka yang lemah.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk sampai di tempat tujuanku.
Itu adalah sebuah bar kumuh di gang terpencil yang jarang didatangi orang.
Pada saat masuk kedalam, hal pertama yang menyambutku adalah aroma alkohol yang menusuk bercampur dengan aroma darah yang nikmat.
Salah satu keunggulan dari ras Vampir adalah penglihatan dan penciuman yang tajam.
Berkat itu aku menjadi tersiksa setiap kali aku mengunjungi tempat seperti ini.
Mengabaikan para pemabuk yang memenuhi setiap kursi yang ada, aku berjalan menuju bartender dan duduk di kursi paling ujung yang tidak ditempati oleh orang lain.
"Biasa"
Tanpa mengatakan apapun, bartender yang berasal dari ras Elf dengan santainya menyiapkan sebuah gelas yang berisi cairan merah gelap yang mengundang selera.
Selain itu, aku juga menerima secarik kertas yang berisikan informasi yang aku butuhkan.
Tanpa perlu terburu-buru, aku dengan santainya minum sambil mendengarkan percakapan orang-orang disekitarku.
Seperti itu, aku menghabiskan sepanjang hari untuk duduk di dalam bar sebelum akhirnya aku beranjak pergi setelah membayar minumanku dan sedikit tip.