A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 32 : My First Guest... What the...!!!



Apa yang ada di hadapanku sekarang adalah sebuah Staff yang tampak seperti pohon yang dipelintir. Dengan batang berwarna coklat kegelapan serta terdapat kristal ungu yang bercahaya di permukaan Staff itu.


Di bagian dalam kepalanya yang berbentuk seperti sangkar, terdapat sebuah bola kristal berwarna ungu gelap serta terdapat rantai transparan yang melilit hampir seluruh bagian Staff.


Mesti samar, aku bisa merasakan aura yang menyelimuti Staff tersebut.


Tanpa banyak basa-basi lagi, [Appraisal]!


\ ★★★★★


«Greater Mana Enchant : EX Large» «Greater Mana Saving : EX Large» «Greater Magic Enchant : EX Large» «Magic Resistance : Large» «Order : Large» «Conquer : Large» «Aura of Dominator»


Sebuah Staff yang tercipta demi satu tujuan, mendominasi.


Selain memperkuat kemampuan sihir pengguna, Staff ini mampu untuk mendominasi makhluk lain yang lebih lemah dari pengguna dan dengan bebas memerintah mereka sesuka hati.


Saat di sentuh, pengguna akan langsung diselimuti oleh aura yang membuat setiap makhluk lemah tunduk kepadanya serta mencegah agar diri pengguna tidak ditundukkan oleh orang lain.


Syarat penggunaan : Memiliki skill yang berhubungan dengan mendominasi makhluk lain.


Efek samping : Jika orang yang tidak memenuhi syarat memegangnya, maka orang tersebut akan segera kehilangan kesadarannya dan berubah menjadi boneka tanpa pikiran.


"Hahahahaha.... Aku memang hebat!..... 'uhuk' 'uhuk' .... Hah, darah?"


Seketika aku batuk darah, namun yang membuatku heran adalah warna darahku. Warnanya tidaklah merah melainkan hitam seperti aspal.


"Oh iya, aku bukan manusia"


Semenjak menjadi Half-Demon, aku tidak pernah melihat darahku sendiri. Lagi pula mana ada orang yang akan menyayat diri mereka sendiri hanya karena penasaran setelah berganti ras.


"Master! Apakah Anda baik-baik saja!?"


Lif berlari menghampiriku sambil membawa sebuah kain putih yang tampak seperti sebuah selimut ditangannya. Ekspresinya tampak cemas.


Aku tahu kenapa dia cemas, tapi kenapa pakai bawa-bawa selimut segala?


Oh, benar juga, aku biasa gak pake baju pas ritual.


Tidak butuh waktu lama sampai Lif akhirnya sampai menghampiriku dan menyelimuti tubuh polosku dengan menggunakan selimut yang dia bawa.


"Master, apakah Anda membutuhkan Potion?"


"Ya, aku butuh dan "


Setelah menenggak habis kedua botol Potion yang disuguhkan kepadaku, aku merenungkan apa yang baru saja terjadi.


Aku bisa menduga alasan kenapa aku sampai batuk darah setelah melakukan ritual adalah karena efek samping dari melakukan sesuatu yang di luar kemampuanku.


Perlu diketahui kalau seseorang berusaha menggunakan senjata yang di luar kemampuannya maka orang tersebut tidak akan mampu mengangkat senjata tersebut. Jika dipaksakan maka ada kemungkinan kalau dia hanya akan


melukai dirinya sendiri.


Dalam kasus menciptakan sebuah item, biasanya item yang dibuat akan gagal dan tidak bisa digunakan. Dalam kasus lain, item yang akan mereka buat akan meledak.


Sedangkan dalam kasusku, aku berhasil, tapi sebagai gantinya aku melukai diriku sendiri dan bahkan Mana ku hampir terkuras habis.


Jika dalam istilah game pada umumnya, efek samping dari membuat Staff ini adalah aku harus kehilangan HP dan MP ku!


Sambil dibopong oleh Lif, aku berjalan menuju Staff yang saat ini sedang mengambang dengan angkuhnya di atas altar.


Sesampainya di sana, aku memerintahkan Lif untuk menjauh. Setelah yakin Lif sudah menjauh, aku lalu mengulurkan kedua tanganku dan menyentuh .


"Ghhhh.... Jangan berani melawan kau tongkat sialan!!!"


Dengan menggunakan Mana ku yang baru saja pulih, aku berusaha menekan yang menolak diriku.


"Kau adalah ciptaanku! Maka dengarlah perintah tuanmu ini!"


Sebuah ledakan Mana terjadi dengan aku yang sebagai pusatnya. Selimut yang menyelimuti tubuhku sekarang telah terbang entah ke mana. Menggunakan [Mana Manipulation] aku mengumpulkan semua Mana yang berada di sekitarku untuk lebih menekan yang tidak hentinya melawan.


1 jam kemudian...


"Heh, jinak juga kau akhirnya"


Terdapat sebuah Staff yang menyala keunguan di genggaman tanganku. Aku tidak lagi merasakan perlawanan datang darinya. Sebaliknya, aku bisa merasakan sebuah aura yang awalnya menyelimuti sekarang menyelimuti seluruh bagian tubuhku.


Dengan itu aku bisa mengetahui segala fungsi dari skill yang Staff ini miliki.


Tentu saja aku tidak akan mengatakannya sekarang. Selain karena terlalu panjang, aku juga sedang lelah.


Mau tidur.


...


..


.


Baiklah, hari baru rencana baru.


Semua persiapan telah siap, sekarang aku hanya menunggu para pengunjung untuk berdatangan.


Akan tetapi, dari informasi yang Lif dapatkan, Hutan Ibis telah menjadi area terlarang dan tidak boleh dikunjungi. Bahkan jika aku menunggu selama apa pun, tidak akan ada yang datang.


Itu jika hutan ini sendiri tidak berubah.


Dengan perubahan sebesar ini, pihak Union pasti tidak akan tinggal diam. Lambat laun mereka pasti akan mengirimkan sebuah tim untuk datang menyelidiki.


Ping!


Oh, panjang umur.


Terdapat semacam alarm yang memberitahukan jika ada penyusup yang memasuki wilayahku. Jika itu berbunyi, berarti aku memiliki tamu.


Sekarang, mari kita lihat siapa mangsa pertama kita... LOE BECANDA!!!


...


Atas perintah Baginda Ratu Cascade, aku datang jauh-jauh ke Drakon Kingdom untuk menyelidiki Hutan Ibis.


Hutan Ibis... Telah lama aku tidak mendengar nama ini.


Awalnya adalah sebuah hutan biasa, namun setelah itu terdapat seekor iblis mengerikan yang menghuni hutan itu dan menumpahkan banyak darah di sana.


Karena saat itu aku masih muda, aku tidak bisa datang ke sana. Akan tetapi, dari berita yang aku dengar, satu batalion yang dipenuhi oleh elite dari Drakon Kingdom datang dan menyerbu hutan itu.


Hasilnya iblis tersebut berhasil dibantai dan teror yang terjadi di hutan itu telah berhenti.


Akan tetapi, sisa-sisa dari kekuatan iblis itu masih tersisa di hutan tersebut. Hal tersebut membuat Hutan Ibis menjadi tempat angker yang bisa menyesatkan siapa pun yang memasukinya.


Itu tidak berubah selama berabad-abad... Sampai 'anak' itu tiba.


Dari penjelasan yang diberikan oleh seorang Otherworlder bernama Turbo, aku bisa menebak siapa gadis yang menjadi penyebab utama akan perubahan yang di alami oleh Hutan Ibis.


Jika tebakanku ini benar... Hehe, 'anak' itu tidak akan lolos dengan mudah!


Serius, sampai merubahnya sedrastis itu. 'Anak' itu memang keterlaluan.


Sambil ditemani oleh nak Turbo dan nak Alfred, kami bertiga menginjakkan kaki kami ke Hutan Ibis.


"Oh, tidak kusangka... Hutan ini telah menjadi sebuah Dungeon!"


"Apa!"


"Nyonya Cardinal, apakah Anda serius?"


Tidak salah lagi, aura yang diberikan oleh hutan ini setara dengan aura yang diberikan oleh Dungeon. Terlebih dengan kualitas Mana yang berada di tempat ini terlihat jauh lebih pekat dan murni jika dibandingkan dengan


tempat yang lain.


Setelah mendengar ini, Alfred dan Turbo jadi sama-sama tegang dan meningkatkan kewaspadaan mereka masing-masing.


Alfred bisa disangka, tapi Turbo, dia akan menjadi petarung yang tangguh.


Tapi bagaimana bisa 'anak' itu bisa mendapatkan ? Benda itu bukanlah sesuatu yang bisa dipungut di pinggir jalan. Dia tidak mungkin membuatnya kan?


"Kalian berdua, kita masuk"


Alfred dan Turbo berada di depan. Sedangkan aku berjalan di belakang mereka.


Untuk menjelajahi Dungeon, terlebih yang masih belum terjamah, sebaiknya dilakukan oleh Party 6 orang yang masing-masing memiliki peran yang berbeda-beda. Dan salah satu yang paling wajib adalah Thief atau Scout.


Dengan kemampuan Thief dan Scout untuk mendeteksi dan melucuti jebakan, maka tingkat kelangsungan hidup Party tersebut akan meningkat pesat.


Akan tetapi, karena kami terburu-buru, kami tidak bisa memiliki satu pun Thief atau Scout dalam Party kecil ini. Meski kami punya sekalipun, tapi jika kami terpaksa harus bertarung dengan seorang Forest Dwellers, kecuali dia memiliki kemampuan yang tinggi, Thief itu pasti akan mati.


Yah, aku yakin sekali jika 'anak' itu melihatku, pertarungan tidak akan terjadi.


Tapi... 'anak' itu tidak memasang jebakan kan? Tidak, anak nakal itu pasti akan memasangnya!


"Mobs!"


Atas peringatan Alfred, kami semua berhenti dan melihat Mobs yang datang menghampiri kami.


(Purple Slime)


Seperti namanya, itu adalah seekor slime yang berwarna ungu. Slime terkenal sebagai Mobs terlemah di antara semua Mobs. Akan tetapi, terdapat beberapa pengecualian seperti (Giga Slime) yang memiliki kemampuan untuk


memusnahkan sebuah kota kecil dalam semalam.


Ada juga 'Slime' bangsat itu...


"Slime ungu? Ini pertama kalinya aku melihatnya"


"Kalau tidak salah kalau warnanya berbeda maka Slime itu memiliki kemampuan... Whoa!"


Dengan gesit Turbo berhasil menghindari sebuah cairan yang disemburkan oleh (Purple Slime). Saat cairan tersebut mendarat di atas sebuah batu, terdengar suara mendesis dan batu itu pun segera mencair sambil


menimbulkan bau yang menyengat.


"Cairan asam!"


(Cold Air)


Melihat kalau (Purple Slime) ternyata adalah sejenis Slime yang mampu menyemburkan asam, aku segera membekukannya dengan menggunakan [Ice Magic].


Kurang dari sedetik, slime itu berubah menjadi sebuah balok es.


Perlahan Alfred mendekati Slime yang telah membeku itu lalu menginjaknya dengan keras yang membuat Slime itu hancur berkeping-keping.


Darinya kami mendapatkan (Small Magic Core). Sebuah drop yang umum untuk Slime.


Setelah itu kami melanjutkan penjelajahan.


Melihat sekeliling, aku akhirnya mengetahui kalau pohon-pohon yang ada di sini bisa bersinar karena mereka menghisap Mana yang ada di udara bagaikan menghisap oksigen. Mana itu lalu tersimpan di bagian tubuh mereka yang menyerupai kristal yang lalu menghasilkan cahaya yang berwarna keunguan.


(Mythical Tree)


Jika para penyihir lainnya mengetahui hal ini, mereka pasti akan berbondong-bondong datang kesini hanya untuk mengambil ranting atau bahkan menebang seluruh bagian pohon untuk dijadikan sebagai Staff atau Wand.


Benar juga, pohon di sini bisa di tebang atau tidak sih?


Kesampingkan soal pohon, bahkan Material yang berada di sini juga bisa dengan mudah mengundang banyak orang yang serakah dan haus akan keuntungan.


Sungguh, apa sih niatan 'anak' itu yang sebenarnya?


...


Beberapa waktu telah berlalu.


Karena awalnya aku sendiri awalnya juga adalah seorang Forest Dwellers, berjalan di dalam hutan bagaikan berjalan di halaman belakang rumah bagiku.


Mustahil bagiku untuk bisa tersesat di dalam hutan.


Kami terus berjalan lurus tanpa berbelok atau berputar arah.


Selama itu kami terus di serang oleh Mobs-Mobs yang baru kami temui untuk pertama kali. (Glowing Hare), (Violent Hound), dan bahkan (Mad Trent).


Mereka semua adalah Mobs yang lemah bagi kami namun akan terbukti susah untuk dilawan oleh para pemula. Tapi, selain mereka aku masih bisa merasakan satu lagi Mobs yang mengintai kami dari kejauhan.


Mereka berada di atas pohon, bersembunyi dari pandangan kami.


Kesampingkan mereka, tampaknya kami telah tiba di sebuah tempat yang merepotkan.


Daun-daun kering serta ranting pohon berserakan dimana-mana. Jarak antar pohon juga semakin berjauhan yang memberikan kesan sebuah tempat terbuka yang luas.


Tidak hanya aku, kami semua merasakan aura buruk dari tempat ini.


"Boss?"


"Kemungkinannya besar"


"Di depan!"


Apa yang menghampiri kami adalah seekor serigala yang sangat besar. Seluruh tubuhnya berwarna hitam legam serta terdapat asap hitam yang menyelimuti tubuhnya yang memberikan kesan kalau serigala ini bukanlah makhluk hidup biasa.


(Shadow Wolf King)


Aaauuuuu....!!!!


Dengan lolongannya, pertarungan pun dimulai.


(Blessing)


Aku menggunakan [Luminous Magic] untuk melindungi sekaligus memperkuat Alfred dan juga Turbo. Setelah


mengetahui kalau tubuh mereka dilapisi oleh lapisan cahaya yang tipis, mereka pun segera bergerak menuju serigala itu.


Tapi...


Bersamaan dengan mereka yang bergerak menuju (Shadow Wolf King), seketika muncul puluhan serigala-serigala lainnya yang muncul dari balik bayang-bayang dan berniat untuk menerkam mereka berdua.


"Mengganggu!"


Dengan satu tebasan dari Greatsword miliknya, Alfred mampu memusnahkan semua (Shadow Wolf) yang datang kepadanya. Sedangkan Turbo harus menggunakan (Sword Dance) untuk memusnahkan lawan yang ada di hadapannya.


Masih ada jarak yang cukup jauh antara mereka dengan (Shadow Wolf King). Sepanjang itu terdapat puluhan (Shadow Wolf) yang siap menghadang.


Untuk membantu mereka, aku menggunakan (Luminous Sphere) dan menembakkan total 10 bola cahaya yang masing-masing sebesar kepala pria dewasa ke arah para (Shadow Wolf) itu.


Bola-bola cahaya yang aku tembakkan melesat dengan kecepatan tinggi melewati Alfred dan Turbo dan langsung mendarat pada tubuh (Shadow Wolf) yang ada di hadapan mereka.


Seketika mereka menghilang tanpa mengeluarkan suara sedikit pun sesaat setelah mereka terkena serangan dariku.


Melihat ini, (Shadow Wolf King) menjadi murka dan mulai menerjang langsung ke arahku. Gerakannya sangatlah cepat dan setiap kali dia bergerak dia akan meninggalkan jejak berupa asap hitam di belakangnya.


"Tidak akan aku biarkan!"


(Grand Line)


Dengan satu tebasan, sebuah dinding dari gelombang kejut tercipta yang memisahkan antara aku dan (Shadow Wolf King). Melihat jalannya telah terputus, (Shadow Wolf King) mengalihkan perhatiannya kepada orang yang menghalangi jalannya, Alfred.


Grrrrr....


"Heh, ayo maju!"


Pertarungan sengit pun terjadi antara mereka berdua. Sementara itu, Turbo sibuk membasmi (Shadow Wolf) yang sedari tadi terus bermunculan tiada henti dengan tujuan agar mereka tidak mengganggu pertarungan antara Alfred


dengan (Shadow Wolf King).


Tidak diam saja, sambil mengaktifkan (Protection Field) agar menjauhkan para (Shadow Wolf) itu dariku, aku juga menembakkan (Luminous Bullet) untuk meringankan beban Turbo.


Untuk (Shadow Wolf King) aku serahkan sepenuhnya kepada Alfred. Seorang Headmaster sepertinya pasti sanggup untuk menanganinya sendiri.


Waktu berlalu, pertarungan mulai mencapai akhirnya.


"AaaaaAaaaaa....!!!!"


Grraaaaaaa...!!!


Dengan teriakan masing-masing, Alfred dan (Shadow Wolf King) menumpahkan segala yang mereka miliki dalam satu serangan ini.


Hasilnya.... Tubuh (Shadow Wolf King) perlahan menghilang dan hanya menyisakan drop yang berceceran di atas tanah.


Sedangkan untuk Alfred...


"Hahaha.... Sudah lama aku tidak bergerak sebanyak ini!"


Yah, dia baik-baik saja.


"Headmaster Alfred, Nyonya Cardinal, ada kotak harta!"


Tidak jauh dari tempat Turbo berdiri, terdapat sebuah kotak harta yang terbuat dari kayu. Penampilannya tidaklah terlihat mewah untuk ukuran hadiah setelah mengalahkan Boss, tapi masih memberikan kesan baru.


Biasanya kau harus berhati-hati sebelum membuka kotak harta, terlebih yang berasal dari Dungeon. Tapi, kotak harta hasil dari mengalahkan Boss sudah dipastikan 100% bebas dari jebakan.


Pada saat kotak itu dibuka, apa yang nampak adalah selusin lebih pakaian anak-anak dengan berbagai model. Dari yang memiliki motif bunga, hewan, hingga piyama dengan model kelinci berwarna merah jambu.


Melihat ini, tidak ada yang mengatakan sepatah kata pun.


Yang pasti, Alfred dan Turbo perlahan menjauh dari Cardinal yang meski wajahnya tampak tenang, namun amarahnya bisa dirasakan dengan jelas.


"Akan aku beri 'anak' itu pelajaran!"


...


"Hahaha... Itu balasan dari saat aku berumur 5 tahun!!!"


Ha... Aku sudah bersenang-senang.


Sekarang, meski cuman ada 3 orang, tapi kaliber mereka terlalu tinggi untuk bagian Utara. Jika itu bagian barat atau selatan, maka mungkin akan lain ceritanya.


Ini juga pertama kalinya aku menyaksikan gaya bertarung dari (Shadow Wolf King). Strategi yang dia gunakan adalah menyibukkan lawan-lawannya dengan menggunakan para kroco sambil menyerang langsung anggota mereka yang berdiri di garis belakang.


Jika melawan pemula atau Petualang tingkat menengah, strategi ini mungkin akan berhasil. Namun akan tidak berguna saat melawan lawan yang tangguh.


Yah, kurasa tidak apa-apa, lagian dia juga hanyalah Boss pertama dan yang terlemah.


Oh iya, jika kalian bertanya dari mana aku mendapatkan semua pakaian itu, semua itu adalah hasil karya dari Quin yang tidak punya kerjaan dan iseng bikin pakaian dengan berbagai macam model dan ukuran.


Sumpah itu anak, Workshop miliknya sudah terlihat seperti butik ketimbang sebuah workshop.


Tapi, memikirkannya selain lagi, kurasa tindakan isengnya bisa berguna untuk hal semacam ini. Bayangkan kau sudah susah-susah menjelajahi Dungeon hanya untuk dihadiahi sebuah pakaian dengan renda-renda yang imut.


Hehe, aku jadi tidak sabar.


Baiklah, kurasa sudah saatnya.


"Lif, tolong antar mereka ke hadapanku"


"Siap"


"Oh, juga katakan kepada semua budak untuk bersikap seperti biasa apa pun yang terjadi"


Semua persiapan sudah siap, sudah saatnya bagiku untuk tampil bagaikan Penyihir yang agung!