
Istana Nirvana.
Adalah sebuah istana tempat kediaman para anggota Keluarga Kerajaan dari Narsist Kingdom.
Terbuat seluruhnya dari batu marmer putih seperti susu, setiap permukaan istana baik itu bagian luar maupun bagian dalam istana semuanya berhiaskan emas dan permata yang di buat sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah karya seni yang indah. Sehingga membuat Istana Nirvana pantas untuk disebut sebagai rumah para Dewa.
Tentu saja yang menghuni istana ini bukanlah dewa yang sebenarnya melainkan hanya seseorang yang mengaku-ngaku sebagai dewa.
Duduk di atas singgasana yang 100% terbuat dari emas mulia serta berhiaskan berlian putih nan indah adalah pemilik dari istana ini, sang Raja dari Narsist Kingdom.
Raja Pulchritudo ol Narsist.
Mengenakan jubah kerajaan yang di sulam dari benang emas, mahkota dikepalanya sepenuhnya di ukir dari berlian murni.
Wajahnya tampan tanpa ada sandingannya.
Mata peraknya tampak seperti batu permata sementara rambut pirangnya yang panjang dan lurus tampak seperti helaian sutra.
Duduk dengan sombongnya di atas singgasana emasnya, Raja Pulchritudo termenung sendirian sambil mengamati pantulan dirinya pada lantai yang sepenuhnya terbuat dari bahan yang memiliki fungsi yang sama seperti kaca.
Mengamati bayangannya sendiri membuat hati Raja Pulchritudo menjadi tenang kembali.
Dia yang adalah seorang Dewa tidaklah seharusnya dibebani oleh urusan dunia.
Akan tetapi, dia yang seharusnya adalah seorang dewa malah harus pusing memikirkan konflik dunia yang tidak ada akhirnya.
Pertama dia tidak senang karena ada ras yang hanya dengan terlahir saja sudah memiliki paras yang mampu melampaui dirinya. Tanpa perlu melakukan apa-apa mereka sudah dikaruniai oleh tubuh yang awet muda serta umur yang panjang dan bahkan keabadian adalah hal yang wajar bagi mereka.
Lalu ada juga ras barbar yang walau memiliki karakteristik yang sama seperti Manusia, tapi mereka sejatinya hanyalah hewan buas tak beradab yang tanpa malu berusaha untuk meniru Manusia yang adalah ras yang jauh lebih superior dari mereka.
Terakhir, adalah sebuah ras yang walau mereka berbagi karakteristik yang sama dengan ras pertama. Tapi ras yang satu ini jauh lebih menjijikan karena tidak hanya memiliki tubuh abadi serta paras yang cantik dan rupawan, mereka juga memegang kekuatan yang luas biasa yang mampu mengguncang dunia.
Membayangkan ras-ras tersebut saja sudah membuat Raja Pulchritudo muak.
Apalagi sekarang ras-ras tersebut telah berani untuk menginjakkan kaki kotor mereka ke kerajaan suci miliknya!
"Sungguh tidak bisa di maafkan!!!"
Bam! Tinjunya menghantam pegangan singgasananya dengan sangat keras.
Untungnya singgasana tersebut terbuat dari emas yang tidak di sangka kokoh jadinya singgasana itu tidaklah rusak atau bahkan tergores ketika menerima hantaman dari Raja Pulchritudo yang sedang kesal.
Suara amukan Raja Pulchritudo bergema keras di ruangan yang kosong.
Menyandarkan punggungnya sambil melihat ke arah langit-langit yang penuh akan permata yang memancarkan cahaya putih nan suci. Hati Raja Pulchritudo menjadi tenang kembali setelah tahu kalau keindahan di depan matanya ini hanyalah miliknya seorang.
"Kenapa aku tidaklah abadi?" "Kenapa aku tidaklah awet muda?" "Kenapa ras sesat itu memiliki segala yang tidak aku punya?" "Kenapa aku, yang adalah seorang Dewa. Harus terlahir di dalam tubuh yang fana?"
Semua itu adalah pertanyaan yang selalu saja terngiang-ngiang di kepalanya.
Setelah termenung cukup lama, akhirnya kesendiriannya di ganggu oleh kedatangan seorang pria tua yang mengenakan jubah keagamaan berwarna putih bersih dan berhiaskan oleh perak dan juga permata berwarna biru langit yang indah.
Namanya adalah Senor ol Ballena.
Dengan efek Halo di atas kepalanya, membuatnya pantas untuk disebut sebagai Paus dari Agama Narsist.
Merupakan saudara dari Ratu Narsist Kingdom saat ini. Membuatnya memiliki hubungan yang dekat dengan Raja Pulchritudo.
Atas kedatangan Paus Senor. Raja Pulchritudo tidak lagi melamun dan kini memberikan kesan berwibawa seraya dirinya duduk tegap di atas singgasananya sambil memasang ekspresi seolah dia tahu akan segalanya.
"Paus Senor" ucapnya dengan tenang namun lantang. "Apa yang membawamu kemari?" membuat gestur yang berlebihan, sikapnya ini akan di pandang tinggi oleh para penduduk Narsist Kingdom.
"Wahai Yang Mulia yang tinggi nan mulia..." nadanya khidmat seraya dirinya bersujud di hadapan Raja Pulchritudo "...Hambamu ini datang untuk membawakan sebuah kabar yang tidak mengenakkan kepada Yang Mulia".
Jika saja Paus Senor bukanlah kerabat dari Raja Pulchritudo maka kepalanya kini sudah terguling di atas lantai kaca.
Tidak ada yang mampu atau bahkan berani untuk menyalahkannya.
Bagaimana tidak?!
Masalah yang dia pikul sudah menumpuk terlalu banyak. Tapi, bukannya berkurang masalah yang dia miliki malah akan bertambah?
Menahan dirinya untuk tidak menghabisi saudara iparnya sendiri, Raja Pulchritudo pun meminta Paus Senor untuk terus melanjutkan.
Masih dalam posisi bersujud, Paus Senor pun berkata...
"Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia.
Hamba datang kemari untuk memberitahukan bahwa putra Yang Mulia, Pangeran kedua. Pangeran Argenti ol Narsist. Beserta Putri pertama, putri kedua, dan putri ketiga. Putri Margarita ol Narsist. Putri Maysara ol Narsist.
Dan Putri Thysia ol Narsist.
Kini keberadaan mereka tidak lagi ditemukan di dalam wilayah Narsist Kingdom dan telah dinyatakan menghilang"
"APA!!!" bangkit dari singgasananya, perasaan murka terpancar jelas dari seluruh pori-pori tubuh Raja Pulchritudo.
Dunia rasanya bergetar hanya dengan pancaran Aura yang dia keluarkan.
Paus Senor yang masih dalam posisi bersujud tidak berani mengangkat kepalanya dan hanya bisa menunggu agar amarah Raja Pulchritudo segera mereda.
"Jelaskan..." suaranya tidak lagi terdengar berwibawa. Yang terdengar hanyalah suara auman binatang buas yang memandang rendah kepada seonggok daging di bawah kakinya.
Menelan air liurnya, Paus Senor mulai menjelaskan segala yang terjadi.
...
Berjalan dengan wajah cemberut di lorong istana adalah Paus Senor yang baru saja selesai bertemu dengan sang Raja.
Di dalam hatinya dia tiada hentinya mengutuk sang Raja bodoh karena berani-beraninya mengancam dirinya hanya karena membawakan sebuah berita.
Jika saja dia memiliki kekuatan tempur yang lebih besar dari Raja Pulchritudo, maka pasti sudah sejak lama orang narsis tidak berotak itu lengser dari jabatannya.
Melangkahkan kakinya dengan keras dia berjalan jauh melewati lorong dan aula hingga sampailah dia pada sebuah jalan buntu yang di ujungnya terdapat sebuah lukisan besar yang memakan seluruh ruang di dinding.
Itu adalah lukisan dari Ratu Narsist Kingdom, Ratu Impar ol Narsist di saat beliau masihlah remaja dan mengenakan gaun emas yang mewah dan megah.
Yakin tidak ada yang mengikutinya, Paus Senor mengangkat tinggi cincin di tangan kanannya yang mengeluarkan cahaya kemerahan ketika di arahkan ke hadapan lukisan itu.
Drrrrtt.... seketika dinding itu bergerak dan menampakkan sebuah jalan rahasia di baliknya.
Berjalan melewati dinding, Paus Senor langsung di sambut oleh deretan tangga yang menuju jauh ke bawah. Di temani oleh lampu-lampu yang berjejer rapi di dinding, Paus Senor berjalan turun dengan santainya sementara
dinding di belakangnya kini telah kembali seperti sedia kala.
Terus berjalan turun, Paus Senor akhirnya tiba di tujuannya.
Berbeda jauh dari bagian istana lainnya yang penuh akan ornament yang cantik nan mewah. Tempat ini sangat jauh dari kata mewah dan bahkan pantas untuk menyebut ruangan ini sebagai menakutkan.
Dengan dinding abu-abu polos serta lantai batu yang keras. Ruangan ini hanya diterangi oleh cahaya lampu remang-remang yang mengingatkan akan ruangan penjara. Kesan itu diperkuat oleh keberadaan pintu-pintu besi yang berjajar rapi dengan sebuah pintu ganda di bagian ujung ruangan.
Jika ada yang bisa disebut sebagai dekorasi di ruangan ini. Itu adalah deretan patung kesatria yang membawa tombak yang panjang dan tajam yang berjejer rapi tepat di samping setiap pintu besi yang ada.
Mengintip ke dalam pintu ganda, apa yang terlihat di dalam adalah pemandangan seorang pemuda yang usianya tidak lebih dari 15 tahun sedang terlibat dalam adegan panas bersama dengan puluhan gadis serta wanita belia yang kisaran umur mereka sekitar 12 sampai 25 tahun.
Jika orang lain melihat wajah pemuda itu, maka semua orang pasti akan beranggapan kalau pemuda itu memiliki paras yang sama dengan Raja Pulchritudo.
Mereka memang tidak salah.
Itu dikarenakan identitas dari pemuda itu tidak lain dan tidak bukan adalah Pangeran Ketiga dari Narsist Kingdom, Pangeran Pulchritudo ol Narsist II.
Dari bentuk wajah, warna mata, hingga warna rambutnya semua sama persis seperti Raja Pulchritudo ketika beliau masih muda.
Jika ada yang berbeda itu adalah kau tidak akan bisa menemukan ekspresi sombong seperti yang biasa di pasang oleh Raja Pulchritudo.
Yang ada hanyalah ekspresi kosong dengan mata yang memandang ke kejauhan terlihat seperti ikan mati serta mulutnya yang menganga tiada hentinya meneteskan air liur yang membuatnya terlihat seperti seorang idiot.
Sedangkan identitas dari para perempuan yang sedang sibuk menggerayanginya adalah para putri bangsawan serta saudagar kaya yang kedapatan berdosa karena telah melawan titah dari Yang Mulia Raja atau mereka yang memiliki kekuatan yang berbahaya bagi Kerajaan makanya mereka segera di singkirkan dan putri mereka di bawa ke sini.
Tanpa mengenakan sehelai pakaian, tubuh setiap perempuan itu telah basah oleh keringat serta cairan lainnya yang tidak perlu lagi disebutkan cairan apakah itu.
pinggang mereka di atas tubuh Pangeran Ketiga yang setiap tangan dan kakinya di pasung di atas kasur yang selalu mengeluarkan suara berderit yang keras.
Melihat wajah dari setiap perempuan itu, Paus Senor menghela nafasnya dengan berat.
Jika saja setiap dari mereka tidak memiliki wajah yang di bakar atau di coret dengan pisau. Maka Paus Senor pasti telah menyeludupkan satu atau dua gadis untuk dia nikmati sendiri.
Sayang, berkat obsesi dari adik perempuannya. Membuat gadis dengan wajah yang mulus dari Narsist Kingdom menjadi langka atau bahkan tidak ada lagi.
Kembali menghela nafasnya dengan berat, Paus Senor mundur dari pintu besi itu dan berjalan menuju lorong yang panjang.
Melewati pintu-pintu besi yang berjejer rapi dengan jarak yang sama satu sama lain, membuat perjalanannya terasa monoton dan membosankan.
Di saat dia sedang berjalan, dia mendapati dua orang petugas medis dengan kerah di leher mereka sedang menggendong seorang bayi perempuan yang baru saja dilahirkan.
Mengintip ke dalam ruangan. Dapat terlihat sesosok perempuan yang sedang terbaring lemas di atas ranjang.
Ketika kedua petugas medis itu mendapati sosok Paus Senor, mereka segera menundukkan kepala mereka untuk memberikan hormat.
Tanpa memedulikan kedua petugas medis itu, Paus Senor terus saja berjalan sampai akhirnya dia tiba di tempat tujuannya yang berada tepat di ujung lorong.
Berbeda dari pintu lain yang hanya berupa pintu besi yang polos. Pintu yang ada di hadapannya adalah sebuah pintu yang berhiaskan emas dan permata yang tampak sangat kontras dengan seluruh ruangan yang ada.
Dengan adanya dua patung kesatria yang berjaga di depan pintu tersebut. Jelas sekali kalau apa pun yang ada di balik pintu tersebut adalah sesuatu yang sangat penting.
Tanpa perlu mengetuk atau memberitahukan kedatangannya. Paus Senor langsung meraih gagang pintu tersebut dan membukanya lebar-lebar.
"Ugh!"
Apa yang pertama kali menyambutnya adalah aroma darah dan obat-obatan yang saling bercampur aduk hingga menciptakan sebuah bau yang sangat merangsang hidung siapa pun yang menghirupnya.
Tidak peduli sudah berapa kali dia memasuki ruangan ini, Paus Senor tetap tidak bisa terbiasa akan bau yang tidak sedap ini dan segera menghirup parfum yang selalu dia bawa.
Berbeda jauh dari bau yang menyengat, seluruh interior ruangan ini mengingatkan kita akan toko budak yang pernah Drake kunjungi sebelumnya.
Namun, yang menjadi pembeda sekarang adalah sosok yang berada di balik dinding kaca.
Mengenakan gaun mewah yang penuh dengan renda adalah puluhan anak gadis yang masing-masing memiliki karakteristik yang sama hingga sekilas mereka tampak seperti deretan boneka porselen.
Mata perak dan rambut emas.
Sekilas mereka terlihat seperti deretan boneka yang di desain berdasarkan wajah Raja Pulchritudo jika saja beliau adalah seorang gadis muda.
Namun, apa yang tampak seperti deretan boneka sebenarnya bukanlah boneka melainkan gadis-gadis muda yang hidup dan bernafas.
Usia mereka tidak lebih dari 10 tahun.
Dengan tampang yang polos mereka semua bermain satu sama lain tanpa memedulikan kalau mereka sekarang sedang terkurung dari balik dinding kaca.
Melihat pemandangan ini, bukannya terlihat imut, Paus Senor malah bergidik ketika mata perak itu menatap kepadanya dengan pandangan penuh rasa penasaran.
Mempercepat langkahnya, Paus Senor hendak segera pergi dari tempat ini menuju ruangan selanjutnya di mana adiknya telah menunggu.
...
Duduk di depan kaca yang sebening kristal adalah Ratu dari Narsist Kingdom, Ratu Impar ol Narsist.
Terlihat perlengkapan rias berbagai rupa tersusun rapi di hadapannya.
Walau ini sebenarnya memang tidak perlu lagi untuk disebutkan, setiap perlengkapan rias yang dia gunakan adalah barang-barang terbaik yang terbuat dari material khusus nan langka dan di ramu dengan teknik paling modern yang menjamin kualitasnya.
Harga riasan termurah yang Ratu Impar miliki sudah lebih dari cukup untuk membeli sebuah rumah beserta tanah-tanahnya.
Jari-jemarinya yang lentik dengan lembut dan terampil mulai memoles wajahnya dengan riasan untuk menutupi tanda-tanda penuaan yang mulai muncul di wajahnya.
Seperti yang di harapkan oleh riasan mahal, Ratu Impar yang usianya hampir mencapai kepala lima kini terlihat seperti seorang wanita paruh baya.
Sayang, ini masih belum cukup baginya!
Apa yang Ratu Impar inginkan adalah wujud seorang gadis muda belia!
Kulit kencang nan mulus, wajah yang bebas dari noda, jerawat dan juga tanpa kerutan sedikitpun, tubuh muda tanpa adanya cacat sama sekali. Serta tentunya adalah paras yang cantik dan juga rupawan.
Itulah tubuh yang di damba-dambakan oleh sang Ratu dari Narsist Kingdom.
Segala macam cara telah dia lakukan demi menggapai tubuh idamannya itu.
Dari menjaga gaya hidupnya, melakukan perawatan rutin, mengonsumsi atau menggunakan ramuan pencegah/penghambat penuaan. Hingga cara yang ekstrim seperti sihir dan ilmu terlarang telah dia jalani.
Berada di dalam sebuah kamar yang kecil bagi kaum bangsawan namun masih berhiaskan emas dan permata. Ratu Impar duduk di depan meja riasnya tanpa memedulikan tulang belulang yang berserakan di bawah kakinya.
Ketika Paus Senor masuk ke dalam ruangan, bahkan dia yang sudah tidak asing dengan darah dan kematian tidak mampu untuk menahan mual di mulutnya.
Apa yang dia lihat adalah sebuah pemandangan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang terkena gangguan mental.
Berada tepat di tengah-tengah kamar yang mewah terdapat sebuah lingkaran sihir yang rumit yang di gambar menggunakan darah yang kini telah menghitam. Tepat di sekitar lingkaran sihir tersebut adalah tulang belulang
anak-anak yang diperkirakan usia mereka tidak lebih dari 5 tahun.
Tidak jauh dari lingkaran sihir adalah sebuah altar batu yang penuh akan ukiran Rune yang memancarkan Aura yang tidak mengenakkan. Duduk manis di atas altar adalah sebuah buku dengan sampul kulit berwarna hitam serta
memiliki urat-urat merah darah pada permukaan buku tersebut.
Tanpa adanya judul maupun ilustrasi pada sampul buku tersebut, membuat susah untuk mengetahui apa isi dari buku misterius itu.
Akan tetapi, Paus Senor yang pertama kali menemukan buku itu jauh di dalam reruntuhan kuil kuno, tahu benar apa sebenarnya isi dari buku tersebut.
Lebih tepatnya dia tahu apa yang bersemayam di dalam buku itu.
"Oh, Kakanda. Apa yang membawamu kemari?"
Masih tidak berpaling dari meja riasnya, Ratu Impar melihat Kakaknya yang terpantul dari kaca yang sebening kristal.
Dengan tangannya yang masih sibuk merias wajahnya sendiri. Ratu Impar dengan sabar menunggu kakaknya untuk berbicara.
Mendengar suara yang merdu namun dingin keluar dari mulut adiknya sendiri. Paus Senor jadi tidak kuasa untuk berbicara.
Bukan karena takut, tapi sedih karena sosok adiknya yang manis dan polos kini telah tiada karena ulahnya sendiri.
"Ada apa? Tidak mau bicara?"
Tahu kalau dia tidak bisa terus diam, Paus Senor pun memaksakan dirinya untuk bicara.
Apa yang keluar dari mulutnya adalah berita yang sama yang baru saja dia sampaikan kepada Raja Pulchritudo.
Mendengarkan dalam diam, ekspresi Ratu Impar tetap tidak berubah walau baru saja mendengar kalau empat buah hatinya baru saja menghilang tanpa jejak.
Selesai menyampaikan berita, Paus Impar diam sambil menunggu jawaban dari sang adik.
Namun, apa yang keluar dari mulut Ratu Impar bukanlah sesuatu yang dia bayangkan.
"Kakanda... Aku dengar ada seorang Baron baru yang sedang naik daun" tidak tahu apa yang adiknya coba katakan, Paus Senor tetap diam dan mendengarkan "...seorang Baron Wanita. Seorang diri mampu mengubah kota yang jorok itu menjadi sebuah pusat bisnis yang terus berkembang".
Tentu saja Paus Senor tahu siapa yang Ratu Impar maksud.
Menggunakan adiknya sendiri, wanita yang entah darimana asalnya berhasil merayu Pangeran Argenti untuk memberikannya sebuah wilayah dan gelar kebangsawanan.
"Apakah yang Adinda maksud adalah Baron Verloren?"
Menurunkan peralatan riasnya. Untuk pertama kalinya Ratu Impar kini berbicara langsung kepada Paus Senor.
"Baron Malika von Verloren... Aku dengar dia adalah seorang wanita yang cantik dan juga cerdik. Semua pencapaian yang berhasil dia raih membuat reputasinya menyebar ke seluruh penjuru Kerajaan"
Memberikan sebuah senyuman manja di wajahnya, Ratu Impar pun berkata...
"Kakanda, diriku ingin bertemu dengannya"