
Bagaimana ini, aku tersesat.
Padahal Mama sedang sakit dan tidak bisa bekerja. Papa juga masih belum pulang sampai sekarang.
Kalau begini terus, Mama, Mama mungkin bisa mati!
Karena keluarga kami yang miskin, kami tidak mampu untuk membeli obat dari apoteker.
Papa ku adalah seorang Petualang. Papa selalu pulang sambil membawa uang. Tapi suatu hari Papa tidak pernah pulang.
Karena uang kami semakin menipis, Mama mesti bekerja.
Aku tidak tahu apa pekerjaan Mama, tapi tiap hari pasti ada laki-laki yang datang ke rumah dan berduaan dengan Mama di dalam kamar.
Setelah itu pasti ada suara-suara yang terdengar dari dalam kamar.
Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tapi setelah itu Mama pasti mendapatkan uang.
Sekarang, Mama sedang sakit dan tidak bisa bekerja.
Agar Mama bisa cepat sembuh, aku berniat mencari material obat di dalam hutan.
Karena aku tidak tahu tumbuhan apa saja yang harus aku ambil, aku mengambil semua tumbuhan yang mirip dengan yang papa sempat tunjukkan kepadaku.
Sambil menghindari Mobs mengerikan yang berkeliaran, aku terus mengambil material yang aku temukan.
Tanpa aku sadari, aku sudah tersesat.
Tempat aku berada sekarang sangatlah gelap.
"Uhh... Dingin"
Aku pengen punya baju hangat seperti anak-anak lain. Cuman, mama gak punya uang buat beliin. Baju sekarang pun juga sudah sobek dan penuh tambalan.
Grrrrrr....
Hah, apa itu!
Mobs? Papa bilang kalo ada Mobs harus sembunyi!
Karena tidak ada pilihan lain, aku hanya bersembunyi di balik pohon yang tebal. Aku hanya duduk di sana sambil berharap Mobs mengerikan itu segera pergi menjauh. Tanpa aku sadari, aku sudah menangis.
"Hicks... Hicks... mama..."
Sebagai anak laki-laki, aku tidak boleh menangis.
Tapi... Tapi... aku takut!
Aku hanya bisa menangis dalam diam. Takut jika aku bersuara, aku akan menarik perhatian para Mobs mengerikan.
Papa pernah bilang, kalau di dalam hutan itu berbahaya jadi tidak boleh berisik.
Mama juga bilang kalau aku masih terlalu muda untuk masuk ke dalam hutan karena itu berbahaya.
Tapi, demi Mama, aku...
"Oh, apa yang dilakukan oleh anak kecil ditempat seperti ini?"
Saat aku tidak tahu harus bagaimana lagi, aku mendengar ada yang menyapaku.
Saat aku memalingkan badan, aku melihat seorang kakak perempuan dengan topi kerucut sedang memandangiku dengan mata ungunya yang menyala serta senyuman lembut di wajahnya.
Meski tersenyum, entah mengapa, kakak ini tampak menyeramkan.
Tapi, mungkin saja kakak ini adalah seorang Petualang yang datang ke hutan ini untuk berburu. Kalau begitu, aku bisa minta bantuan.
"Hicks... Kak, aku tersesat..."
"Kasihan... Hei, bagaimana kalau ke rumah kakak dulu aja? Tempatnya gak jauh kok dari sini. Nanti kakak kasih apel, mau?"
Mendengar tawaran dari kakak yang baik hati ini, aku pun menurutinya.
...
Seperti yang aku duga, hutan bagian barat jauh lebih berbahaya ketimbang bagian hutan lainnya.
Selain suasananya yang dingin dan gelap, Mobs yang menghuni tempat ini pun jauh berbeda dari yang sebelumnya.
Tapi, kalau (Poisonous Snake) masih mending, bukannya (Poisonous Spider) adalah Mobs terlemah di hutan ini?
Maksudku, memang mereka punya racun yang berbahaya.
Cuman, asal gak kegigit gak ada masalah kan?
Lagian dah berapa kali aku nginjak nih Mobs. Ya salah mereka sendiri sih kecil jadinya susah ngeliatnya.
Lupakan itu, Mobs yang harusnya diwaspadai bukanlah mereka, melainkan (Forest Bear) yang bisa dengan mudah dijumpai di tempat ini.
Kalau aku menggunakan skill ku yang biasa, aku bisa saja mengalahkan mereka dengan mudah.
Hanya saja saat ini aku sedang melatih [Light Magic] dan [Wind Magic] milikku.
Alasannya sederhana, level mereka terlalu rendah!
(Light Control) (Wind Blow) (Light Shoot) (Wind Slice)
Kombo inilah yang sering aku pakai. Itupun terkadang harus diulang berkali-kali hanya untuk mengalahkan satu ekor (Forest Bear).
Tapi setidaknya aku bisa mendapatkan (Forest Bear's Hide). Dengan ini aku bisa punya karpet yang bagus.
Selain itu, aku juga bisa mendapatkan material baru seperti (Paralyze Root), (Magical Herb), dan (Honey).
Untuk (Honey) aku mendapatkannya dari sarang (Forest Bee).
Jujur mereka menyusahkan, jika bukan karena (Wind Blow) cukup efektif terhadap mereka, aku pasti sudah menembakkan [Fire Magic] tanpa peduli jika hutan ini terbakar.
•Skill [Light Magic] telah mencapai level 5. Mendapatkan 1SP•
•Mendapatkan (Light Lance) dan (Light Heal) dari [Light Magic]•
•Skill [Wind Magic] telah mencapai level 10. Mendapatkan 1SP•
•Mendapatkan (Wind Shield) dari [Wind Magic]•
•Skill [Appraisal] telah mencapai level 10. Mendapatkan 1SP•
Akhirnya dapat sihir penyembuhan!!!
Meski begitu, aku tidak pernah terluka (Eksperimen [Alchemy] tidak termasuk) kayaknya aku bakal jarang pake sihir ini.
Whoo! Whoo!
"Hah? Anak kecil?"
Bagaimana bisa ada anak kecil ditengah hutan seperti ini? Anak tersesat?
Eh bentar... anak tersesat, ditengah hutan, dan aku adalah Penyihir!
Oke, mari culik... jemput anak malang itu!
...
"Lihat, disana rumah kakak, baguskan?"
"Wah... Rumah kakak besar sekali..."
Hahaha... Akhirnya aku bisa merasakan adegan 'Penyihir jahat menculik anak kecil' secara langsung.
Saat aku pertama kali melihat anak ini, aku merasa seperti melihat sebuah ranting kayu ketimbang anak kecil.
Dia adalah seorang bocah laki-laki berumur sekitar 6-8 tahun.
Badannya kurus tapi perutnya buncit tanda kekurangan gizi. Pakaian yang dia kenakan sudah compang-camping dan jauh lebih pantas disebut sebagai kain keset ketimbang baju.
Aku menemukannya menangis ketakutan dibawah bayangan pohon.
Saat aku melihat hal ini, hal yang pertama kali terlintas di kepalaku adalah...
Ah... Eksperimen macam apa yang akan aku lakukan terhadap anak ini!
"Silahkan minum, kau haus kan"
"Terima kasih kak"
Setelah itu aku mulai mendengarkan cerita dari anak kecil ini.
Dari ceritanya, dia berasal dari desa Shrew. Sebuah desa terpencil yang dekat dengan kota Gata yang sekaligus menjadi tempat pembuangan bagi mereka para kriminal dan berandalan dari seluruh penjuru negeri ini.
Ayahnya adalah seorang Petualang(?) Yang sekarang pasti sudah mati. Sedangkan ibunya adalah seorang pelacur.
Yang paling hebat adalah, anak ini terlalu polos untuk menyadari betapa hancurnya keluarganya itu.
Dengan latar belakangnya yang seperti ini, tidak ada alasan lain bagiku untuk tidak menggunakannya dengan baik. Maksudku, memangnya ada yang mau repot-repot nyari anak miskin yang hilang?
Bahkan, mungkin saja ibunya akan berterimakasih karena telah meringankan bebannya.
Haha... Wahai anak kecil yang tidak aku ketahui namanya, berbahagialah, mulai sekarang kau adalah barang milikku!
"Oh, tehnya sudah habis. Sini kakak isi ulang lagi"
"Terima kasih kak, kakak orangnya baik"
"Haha... Sama-sama"
Baiklah, tinggal campurkan dan semuanya selesai.
...
Saat aku tersadar, aku sudah berada di dalam sebuah ruangan yang sangat gelap. Meski aku telah membuka mataku sekalipun, aku tetap merasa seperti aku sedang menutup mataku.
"A-apa ini? T-tali?"
Tidak hanya itu, kedua tangan dan kakiku pun sedang dalam keadaan terikat di udara.
Entah mengapa, aku merasa seperti sebuah jemuran.
Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Apa yang aku lakukan hingga aku mendapatkan perlakuan seperti ini?
Ingat, ingat apa yang terjadi baru-baru ini... Ah!
Aku ingat sekarang.
Saat aku sedang tersesat di hutan, ada seorang kakak yang baik menolongku dan mengajakku datang ke rumahnya.
Setelah dikasih teh dan menceritakan ceritaku, aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi.
Apa yang terjadi, siapa yang melakukan ini, apakah Kakak itu baik-baik saja?
"Oh... Tampaknya kau sudah bangun..."
"Suara ini, kakak! Apakah kakak baik-baik saja?!"
"Haha... Hahahahaha.... Ahahahahaha...!!!"
Yang kudengar sekarang hanyalah suara tawa. Suara tawa yang sangat mengerikan dan memekikkan telinga. Mendengarnya saja sudah cukup untuk membuat pikiranku kacau balau.
"Ka... Kak?"
"Hahaha... Lucu sekali... Tidak kusangka ada anak sepolos ini"
Pa!
Seketika seluruh ruangan diterangi oleh cahaya obor yang menyala dengan sendirinya. Berkat itu aku sekarang dapat melihat dengan cukup jelas.
Aku berada di sebuah ruangan yang sepenuhnya terbuat dari batu. Apa yang mengikat tangan dan kakiku bukanlah tali, melainkan semacam tanaman merambat yang mengikat kencang dan menggantungku di ujung ruangan.
Di bagian tengah ruangan, terdapat sosok kakak perempuan yang tadi aku temui.
Namun, dia bukanlah kakak yang baik hati.
Yang ada di hadapanku sekarang adalah sesosok perempuan yang jauh dari kata baik hati.
Kedua matanya seolah memandang rendah diriku dalam kesenangan.
Senyuman yang terpancar di wajahnya nampak menikmati seluruh situasi ini.
"Kak... Kenapa?"
"Kenapa, kau bilang kenapa? Bukankah sudah jelas! Kau, sekarang, adalah, milikku"
"A-apa yang kakak bilang!"
"Mulai hari ini, kau adalah mainanku, bahan percobaanku, dan juga sumber kesenanganku"
"Kenapa? Kenapa kakak melakukan ini? Aku kira kakak adalah orang baik?"
"Hahaha... Bagaimana bisa kau masih sepolos ini? Apakah kedua orang tuamu tidak pernah mengajarimu untuk tidak mudah percaya pada orang asing? Oh, maaf. Aku lupa kalau ibumu sibuk melayani para pria mabuk dan ayahmu sudah lama meninggal"
"A... Apa yang kakak katakan?!"
Setelah itu aku tidak lagi mengerti apa yang kakak itu katakan.
Namun, satu hal yang aku tahu. Sejak saat itu, hidupku sudah tamat.
Kakak selalu melukaiku hanya untuk menyembuhkanku.
Kakak lalu memaksaku untuk meminum berbagai macam minuman aneh.
Satu minuman membuat darahku terasa mendidih. Minuman lainnya membuat tubuhku mati rasa. Sedangkan yang lainnya membuatku merasa ingin memeluk kakak bagaimanapun caranya.
Tidak peduli seberapa parah luka dan rasa sakit yang aku rasakan, kakak selalu akan menyembuhkanku. Meski begitu, ada luka yang butuh waktu lama untuk sembuh atau bahkan masih belum sembuh sampai sekarang.
Rasa sakit ini, aku tidak ingin merasakannya lagi.
Mama, papa, tolong....