
Aku hampir tidak bisa mengingat nama asliku.
Awalnya aku hanyalah seorang gadis desa biasa. Pekerjaan sehari-hariku adalah membantu ibuku
dalam mengurus pekerjaan rumah tangga sementara ayahku pergi bertani.
Kehidupanku berubah saat aku dipinang oleh seorang pedagang yang lewat di desaku.
Tentu aku menerimanya dan sejak saat itu kehidupanku menjadi lebih baik.
Aku bisa makan hingga kenyang, mengenakan pakaian yang bagus, serta tidur di ranjang yang empuk.
Umurku masih 17 tahun saat aku melahirkan putra pertamaku.
Aku dan suamiku sangat menyayanginya.
2 tahun kemudian kami dikaruniai oleh seorang putri yang imut.
Kehidupanku menjadi semakin baik.
Dikelilingi oleh suami setia serta kedua anakku tampan dan manis, tidak ada lagi yang ingin aku harapkan.
Namun, semua itu berubah saat aku menemani suamiku dalam salah satu perjalanannya.
Kami diserang oleh bandit yang ganas. Mereka membunuh semua pria termasuk suamiku. Bahkan penjaga yang kami sewa tidak berdaya di hadapan para bandit itu.
Untungnya anak-anak kami titipkan kepada orang tua suamiku jadi mereka aman.
Meski tidak dibunuh, nasibku tidaklah lebih baik dari kematian.
Bersama dengan sahabat baikku yang juga sedang menemani suaminya, kami berdua disekap dan dijadikan bahan pemuas nafsu para bandit terkutuk itu!
Dengan tangan kami yang diikat dengan rantai yang dingin, mereka memperlakukan kami dengan sesuka hati.
Tiap hari kami dipermalukan dan diperlakukan layaknya sebuah mainan.
Tidak peduli sekeras apa aku menangis, tidak peduli seperti apa aku memohon, penderitaanku tetap tidak berkurang.
Bahkan sahabat baikku yang biasanya pendiam berteriak dengan keras tiap kami para bandit itu menyentuh dirinya.
Aku bahkan tidak punya waktu untuk menolongnya karena aku juga bernasib sama seperti dirinya.
Kulitku yang awalnya mulus sekarang penuh luka lebam dan lecet. Pergelangan tanganku pun menjadi memerah karena terus diikat oleh rantai yang berkarat.
Aku hanya memakan sepotong roti keras setiap harinya. Berkat itu tubuhku kian mengurus dan tenagaku kian melemah.
Bahkan rambutku yang awalnya panjang dan indah sekarang menjadi sangat pendek karena dipotong oleh para bandit sialan itu untuk dijual.
Pakaian yang awalnya aku kenakan sudah tidak ada lagi. Sebagai gantinya aku diberikan sebuah kain yang jauh dari kata layak pakai. Tidak butuh waktu lama bagi kain tersebut untuk kotor oleh keringat dan cairan yang tidak ingin aku sebutkan yang membuat kain tersebut menjadi sangatlah bau dan sangat tidak nyaman untuk dikenakan.
Berhari-hari diperlakukan seperti ini, harapanku untuk hidup mulai menghilang.
Meski aku tidak menginginkannya, tapi skill [Sexual Knowledge] yang aku dapatkan demi suamiku malah meningkat dengan sendirinya.
Suatu hari, mereka membawa 3 gadis lainnya. Mereka masih muda, salah satu di antara mereka bahkan masih anak-anak.
Namun, mereka tidak diperlakukan seperti kami. Melainkan disimpan untuk dijual kemudian.
Perbudakan masih sangatlah laris di luar sana.
Tidak peduli di kerajaan mana kau menuju, kau pasti bisa menemukan budak dimana-mana.
Namun, mereka hanya memperbolehkan budak kriminal atau budak hutang untuk dijual. Korban penculikan oleh bandit seperti diriku ini seharusnya tidak diperbolehkan diperjualbelikan sebagai budak.
Meski begitu, nasibku tetaplah tidak berubah.
Tiap hari diperlakukan sebagai barang bersama, sungguh sebuah mukjizat aku tidak hamil oleh mereka.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku seperti ini. Suatu hari semua bandit itu menghilang. Biasanya selalu ada 2 bandit yang menjaga kami. Tapi hari ini mereka semua pergi karena katanya ada buruan besar dan semua orang ikut berpartisipasi.
Waktu pun berlalu.
Mereka harusnya sudah datang sambil membawa barang jarahan atau bahkan gadis baru. Namun, itu tidak pernah terjadi.
Yang datang bukanlah sekumpulan pria busuk seperti biasa, melainkan seorang gadis cantik yang berpakaian seperti seorang Penyihir.
Otherworlder? Apakah aku akhirnya selamat?
"Si-siapa?"
"Tenanglah, para bandit itu sudah tiada"
Ahh... Akhirnya, aku bisa selamat.
Otherworlder itu akhirnya melepaskan kami semua dari rantai yang mengikat kami. Selanjutnya hal yang tidak aku bayangkan terjadi.
Dia dengan santainya memunculkan 2 buah Golem yang terbuat dari batu dari dalam bayangannya.
Kedua Golem itu lalu mengangkat kami semua keluar dari dalam Goa tempat kami ditahan selama ini.
Setelah itu, kami pun diantar menuju kota... Atau itu yang aku kira.
Bukannya membawa kami menuju kota, gadis Otherworlder itu malah membawa kami masuk jauh ke dalam hutan.
Sahabatku pun memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Permisi, kenapa kita masuk ke dalam hutan?"
Gadis Otherworlder itu dengan santainya menjawab seolah itu adalah hal yang biasa.
"Hm? Tentu saja, karena rumahku ada di sini"
Meski dia terdengar santai saat mengatakan itu, entah mengapa rasa takut menjalar di seluruh tubuhku. Terlebih ketika mengingat kalau hutan yang kami masuki ini adalah Hutan Ibis yang terkenal akan legendanya mengenai orang-orang yang masuk terlalu dalam terjami tidak akan pernah terlihat lagi.Sahabatku yang juga mulai panik, kembali bertanya dengan suara yang bergetar.
"Kenapa kau tidak membawa kami ke kota?"
Apa yang kami terima adalah sebuah senyuman yang jauh dari kata manis.
Akar-akar tanaman tiba-tiba saja tumbuh dengan cepat dan menjerat tubuh kami dengan erat. Hal tersebut membuat mustahil bagi kami untuk bergerak. Pada saat aku mencoba untuk melawan, akar-akar itu malah terasa semakin kencang yang membuatku mulai kesulitan untuk bernafas .
"A... Apa ini!"
"Bukankah kau akan membebaskan kami?!"
"Huaaa... Mamaaaa!"
Tanpa memedulikan rintihan kami, Otherworlder itu, tidak! Penyihir itu membawa kami jauh ke dalam hutan.
Rumor mengenai Penyihir yang tinggal di rumah kecil jauh di dalam hutan ternyata adalah benar. Tapi, tidak seperti yang aku bayangkan. Rumah Penyihir ini cukup besar dengan 2 lantai dan kebun luas tidak jauh darinya.
Whoo... Whoo...
Seekor (Forest Owl) terlihat bertengger dengan bangganya di atas dahan sebuah pohon sambil memandang rendah kepada kami.
Meski pencahayaan di tempat ini hampir tidak terasa, berkat [Night Vision] yang aku dapatkan selama aku disekap oleh para bandit sialan itu, aku bisa melihat segalanya. Termasuk ekspresi menakutkan yang terus diperlihatkan oleh Penyihir itu.
Perlahan, dia berjalan mendekat... Ke arahku.
"Ugh... Apa yang kau inginkan?!"
"Tenang saja, aku hanya ingin mencoba eksperimen kecil"
Penyihir itu lalu mengarahkan telapak tangannya ke hadapanku.
Lalu....
"Kyaaaaahhhh....!!!"
Sakit, ini adalah rasa sakit yang paling menyakitkan yang pernah aku rasakan seumur hidupku!
Kepalaku menjadi kosong. Aku tidak bisa memikirkan apa pun lagi. Telingaku tidak mampu mendengar dengan jelas. Aku bahkan tidak bisa merasakan kaki dan tanganku lagi.
"Kajahakaojahaja...!!!"
Sakit, hanya itukah yang aku rasakan. Seolah-olah tubuhku terasa di gencet oleh besi panas dari segala penjuru.
Tidak mampu lagi menahan rasa sakit yang menyiksa, aku akhirnya kehilangan kesadaranku.
Saat aku sadar... Aku sudah menjadi budak.
Bukan budak karena hukum, namun budak yang sebenarnya.
...
Hari? Minggu? Aku sudah tidak tahu lagi.
Tempat ini sangatlah gelap dan dingin. Terlebih jika kau tidak mengenakan sehelai pakaian pun.
Aku merasa dipermalukan dan harga diriku terasa diinjak-injak. Bahkan namaku pun telah dirampas.
Namun, aku tidak bisa berbuat apa pun.
Orang yang memperbudakku, Masterku, Lavender. Menanamkan semacam sihir yang membuatku tidak bisa melawannya dan menjadikanku budak abadinya.
Dia tidak memperbolehkan kami untuk mengenakan pakaian. Dan aku harus bekerja dari pagi hingga malam tanpa mendapat bayaran apa pun.
Saat bangun tidur, aku membasuh diriku di sungai yang dingin. Setelah itu aku makan bersama sahabatku. Makanan yang kami makan cukup layak untuk budak, sebuah ikan segar dan sayuran dari hutan.
Untuk ikan, kami harus menangkapnya sendiri. Begitu juga dengan sayuran, kami harus mencarinya sendiri di dalam hutan. Tentu saja kami tidak pergi jauh karena takut akan Mobs.
Meski begitu, sayuran yang bisa kami makan hanyalah sebagian kecil dari yang kami kumpulkan. Kebanyakan kami serahkan kepada Pelayan Master, Lif.
Setelah makan kami langsung bekerja di kebun.
Kami mengurus kebun tanaman herbal milik Master. Tidak banyak yang harus kami lakukan. Hanya menyirami dan menyingkirkan rumput liar dan terkadang memberikan pupuk yang terbuat dari dedaunan kering.
Namun, ukuran kebun milik Master cukup besar untuk ditangani oleh 2 orang.
Aku dan sahabatku mengurus kebun Master dari pagi? hingga siang? Setelah itu barulah kami makan siang.
Menu makanan kami masih sama, ikan dan sayuran.
Tiga gadis lainnya bekerja di dalam rumah Master. Dari yang mereka katakan, mereka mengurus tahanan yang berada di bawah basemen.
Aku terkejut saat mereka bilang kalau salah satu dari tahanan tersebut adalah seorang anak laki-laki yang umurnya sama dengan si kecil.
Master memanggilnya begitu karena dia memang yang paling muda di antara kami.
Aku tidak tahu mengapa, tapi Mobs tidak mendekati rumah Master dalam jarak tertentu.
Saat sore? Kami kembali pulang dan menyerahkan hasil pencarian kami kepada Lif.
Pada saat aku ingin pergi mandi untuk membersihkan diri, aku melihat Master sedang dimandikan oleh si kecil.
Aku hampir tidak pernah melihat Master mandi sendiri. Kalau tidak si kecil, pasti Lif yang memandikannya.
Aku dengar kalau para bangsawan juga tidak pernah mandi sendiri dan selalu dimandikan oleh Pelayannya.
Apakah Master sejatinya adalah seorang bangsawan?
Oh tidak, aku tidak boleh menatap Master terlalu lama. Nanti aku bisa dihukum.
Hukuman dari Master adalah hal yang mesti dihindari.
Beberapa waktu lalu, salah satu gadis yang bekerja di dalam rumah tidak sengaja memecahkan botol Potion milik Master dan berakhir dicambuk dengan menggunakan tanaman berduri oleh Master.
Melihat dia merintih kesakitan membuatku bersumpah untuk tidak pernah membuat Master marah.
Sejak aku menjadi budak Master, tubuhku menjadi lemah dan terasa sakit bila digerakkan. Jika aku dihukum dengan kondisiku yang sekarang, aku yakin aku tidak akan mampu lagi untuk bergerak seumur hidupku.
Selain Lif, Master memiliki 4 Pelayan lainnya.
Mereka adalah Percy, Zweite, Trita, dan Vier.
Percy orangnya cukup tegas saat bertugas namun agak santai saat sedang tidak melakukan apa-apa. Zweite adalah yang paling baik di antara mereka, bahkan lebih baik daripada Lif. Zweite bahkan sering menyelipkan daging segar untuk kami makan.
Sedangkan Trita dan Vier adalah sepasang gadis kembar yang memiliki kepribadian yang sama. Mereka sering berlarian kesana-kemari dan terkadang mengajak si kecil bermain bersama dengan mereka.
Melihat itu semua, aku masih tidak percaya kalau mereka semua adalah Golem ciptaan Master.
Hari di mana aku melihat Master menari-nari sambil telanjang di atas sebuah altar masih segar seperti baru kemarin aku melihatnya.
Lekukan tubuh Master yang indah, serta tarian Master yang mampu membuatmu terpana saat melihatnya tertanam dengan jelas di ingatanku.
Sekarang, hari kemungkinan sudah malam.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan yang ada, kami kembali ke dalam gubuk kecil yang menjadi kediaman kami.
Gubuk ini sangat kecil untuk ditiduri oleh 4 orang sekaligus.
Beralaskan dedaunan kering, kami harus berdesak-desakan sambil berebut satu-satunya selimut yang disediakan untuk menghindari dinginnya angin malam.
Meski aku telah mendapatkan [Cold Resistance] sekali pun, aku masih ingin tidur di bawah hangatnya sebuah selimut.
Selain [Cold Resistance] aku masih memiliki satu skill lagi yang membantuku dalam menghadapi dinginnya malam.
[Nudist]
Sebuah skill yang hanya dimiliki oleh orang yang paling tidak bermoral yang menolak untuk berpakaian.
Meningkatkan semua status milik pengguna selama mereka tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Membuat pengguna tahan terhadap suhu panas dan dingin. Membuat pengguna tahan terhadap penyakit. Dan membuat siapa pun yang melihat pengguna menjadi tergoda untuk melakukan tindakan seksual.
Syarat mendapatkan : Tidak mengenakan pakaian selama seminggu penuh.
Aku menghabiskan 3SP hanya untuk skill ini.
Awalnya aku tidak ingin mengambilnya, tapi karena aku adalah seorang budak, aku tidak bisa menentukan skill apa yang hendak aku miliki.
Setelah Master mengetahui kalau aku memenuhi syarat untuk mendapatkan skill ini, dia dengan segera membuatku mengambilnya.
Hah... Terkadang aku iri terhadap si kecil.
Pekerjaan yang dia lakukan sangatlah ringan dan bebas akan beban. Dia juga diizinkan untuk tidur bersama dengan Lif di dalam rumah Master yang hangat.
Sambil menyingkirkan tangan sahabatku dari wajahku berkat gaya tidurnya yang berantakan, aku berusaha untuk tidur dan melupakan semua penderitaan yang aku miliki.
Namun... Penderitaanku masih belum berakhir.
Tidak lama setelah Master kembali dalam penjelajahannya, Master kembali membuat seorang Pelayan baru bernama Quin.
Aku tidak tahu orang seperti apa dia sebenarnya, tapi sepertinya dia orang yang ceria dan mudah tertawa.
Melihat Quin dan para Pelayan Master lainnya bersenang-senang membuat sebuah bangunan sementara aku sibuk membersihkan sisik ikan di sungai membuatku iri.
Perbedaan antara Pelayan dan budak sangatlah besar di sini.
Meski kami melayani tuan yang sama, tapi perlakuan yang kami dapatkan bagaikan siang dan malam.
Saat aku memikirkan hal itu, aku melihat si kecil berlari dengan tergesa-gesa ke arah Lif dan yang lainnya.
Setelah itu mereka semua pergi menuju rumah Master.
Jujur, aku cukup penasaran akan apa yang mereka bicarakan. Tapi karena aku tidak punya hak untuk mengetahuinya, aku hanya menahan rasa ingin tahuku dan kembali ke arah gubuk sambil membawa ikan untuk dimasak.
Pada saat aku dan sahabatku sedang menikmati makan siang? kami, saat itukah awal semuanya terjadi.
Hari yang awalnya tenang tiba-tiba saja berubah.
Pohon-pohon tampak bergoyang dengan liarnya seolah ditiup oleh badai yang kencang. Bersamaan dengan itu, sebuah pusaran angin tercipta di atas rumah Master.
Aku dan sahabatku bersembunyi di dalam gubuk kecil kami berharap kami tidak terseret ke dalam pusaran angin tersebut.
Namun, hal yang lebih buruk terjadi.
•Memulai proses mengubah Hutan Ibis menjadi Dungeon•
Apa! Dungeon?!
Jangan bercanda, Dungeon adalah sarang para Mobs berbahaya dan sumber malapetaka bagi siapa pun yang ada di sekitarnya.
•Memindai semua Makhluk Hidup dan Mobs yang ada•
•Memulai mengubah semua Makhluk Hidup dan Mobs yang ada berdasarkan sifat dan jenis mereka•
Tepat setelah pengumuman itu selesai, rasa sakit yang teramat sangat menyerang seluruh tubuhku.
"Khh... AaaaaaaaaaaaAaAAaaaaaaaaAaaaaaaa.....aaaaAaAaaaaaaaaaaaa......!!!"
Aku sudah tidak tahu apa-apa lagi. Rasa sakit yang aku rasakan sangatlah kuat melebihi apa yang aku rasakan sebelumnya.
Tubuhku terasa panas. Tulang-tulangku terasa diremukkan dan ditata ulang dengan paksa. Daging dan darahku terasa mendidih bagai dimasak oleh tungku yang membara.
Tanpa aku sadari... Kesadaranku telah menghilang.
...
Saat aku sadar, aku masih berada di dalam gubuk.
Aku berusaha untuk membuka mataku namun terasa berat. Saat aku mencoba untuk berdiri, hanya rasa sakit seolah ditusuk oleh seribu jarum yang aku rasakan.
Aku ingin sekali kembali tertidur dan berharap rasa sakit ini menghilang seiring bergantinya hari.
Namun, itu terlalu bagus untuk diharapkan.
"Hei, bangun. Nanti Master marah!" "Hei, bangun, nanti dihukum Master!"
Aku mendengar suara Vier tepat di sampingku. Sedangkan suara Trita terasa cukup jauh. Kurasa dia sedang membangunkan sahabatku.
Meski mereka berusaha untuk membangunkanku, tapi tubuhku terlalu lemah untuk melakukan itu.
"Trita, yang ini gak mau bangun!"
"Yang ini juga sama"
"Hmm... Bagaimana kalau kita seret saja?"
"Ide bagus!"
Seret? Ah sudahlah, dengan kondisiku yang sekarang aku tidak mungkin untuk berjalan. Jika diseret di tangan atau kakiku maka... Eh!?
Aku merasa ada sesuatu yang menempel di bagian pantatku... aku bisa merasakan sebuah tangan menggenggamnya dengan erat dan...
"Aaahhhh...!!!"
"Kyaaaaaa....!!!"
Ini sakit! Jika terus begini aku bisa merasakan kalau itu bisa terlepas!
"Dia akhirnya bangun juga!" "Yang ini juga baru bangun!"
Sakit...!!! Aku tidak bisa menahannya lagi!!!
"Aaaahh... saya mohon! Di mana saja asal jangan di situ!"
"Copooot... Nanti bisa copooot!!!"
"Ah berisik, oke aku seret di rambut aja"
Setelah itu Vier segera menjambak rambutku yang pendek dan kembali menyeretku. Meski sakit, tapi ini tidak lebih sakit dari yang sebelumnya.
Aku akhirnya bisa bernafas lega. Tapi rasa sakit di bagian pantatku masih terasa. Karena penasaran, aku mencoba melihatnya.
Saat itulah aku menyadari apa yang sebelumnya ditarik oleh Vier.
Ekor.
Ekor putih pendek dengan ujung yang ditumbuhi bulu berwarna hitam tumbuh di bagian belakang tubuhku.
Letaknya tepat di bagian atas pantatku dan ekor tersebut bergoyang-goyang atas kehendakku.
Begitu... Aku sudah berhenti menjadi Manusia...
Saat aku menoleh ke arah sahabatku yang diseret di bagian kakinya, aku melihat dengan jelas kalau dia juga memiliki ekor yang tumbuh di bagian belakangnya.
Berbeda dari milikku, ekornya panjang dan penuh rambut berwarna keemasan seperti warna rambutnya.
Jujur, aku iri... Karena ekornya jauh lebih indah dari milikku.
"Haha... Haha... Haha... Haha..."
"Trita, yang ini rusak atau apa?" "Ntah, yang ini kerjanya cuman nangis doang"