
Ketika Penyihir Orchid dan yang lain akhirnya keluar dari reruntuhan, dari kejauhan mereka sudah bisa melihat cahaya yang berkilau dari kejauhan.
Menilai dari arah cahaya itu berasal, tidak diragukan lagi kalau cahaya itu berasal dari arah Ibukota Narsist Kingdom.
Ketika cahaya itu semakin membesar, begitu juga aura menekan yang mereka rasakan seolah dunia ini sendiri sedang bergetar.
Setelah itu, cahaya itu tiba-tiba saja menghilang dan semua kembali menjadi sedia kala.
"Tampaknya sudah selesai... Victoria!"
Memerintahkan Victoria untuk kembali ke wujud Naganya, pertama Victoria melepaskan Armor yang dia kenakan sebelum akhirnya dia bisa menggunakan [Dragonification].
Melihat Penyihir Orchid sudah naik ke atas tubuh Victoria terlebih dahulu, Doragon dan yang lain pun segera menyusulnya. Ketika semua orang sudah naik, Victoria lekas lepas landas dan terbang menuju Ibukota dengan
kecepatan penuh.
...
Kembali ke beberapa menit yang lalu.
Penyihir Cardinal dan Ratu Titania yang telah mengerjakan formasi penyegelan selama berhari-hari akhirnya menyelesaikan tugas mereka.
Dengan wajah pucat Penyihir Cardinal menyapu keringat yang ada di wajahnya sebelum akhirnya menoleh ke arah Ratu Titania yang ada di seberangnya.
Wujud Ratu Titania yang sekarang sangatlah jauh berbeda dengan wujudnya yang sebelumnya. Wujud seorang Ratu yang penuh dengan wibawa kini sudah tiada, yang ada hanyalah seorang anak kecil yang rapuh dan kini sedang tertidur dengan pulas bagaikan seekor bayi.
Melihat penampilan Ratu Titania yang seperti ini, Penyihir Cardinal menjadi tidak tega untuk membangunkannya dan memilih untuk memasang segelnya seorang diri. Sembari membawa sebuah objek persegi yang isinya dipenuhi oleh pemandangan seperti sebuah galaksi, Penyihir Cardinal pun berjalan keluar dari tenda dengan tertatih-tatih.
"Ketua!"
Penyihir Caldera yang tetap setia menjaga pintu masuk tenda seketika menyambut Penyihir Cardinal dan segera membantunya untuk berjalan.
Menerima bantuan dari Penyihir Caldera, Penyihir Cardinal lalu menunjukkan objek yang ada di tangannya lalu berkata "Bawa aku menuju pohon itu...".
Mendengar suara lemah dari Ketuanya, ingin sekali Penyihir Caldera untuk berkata agar Penyihir Cardinal beristirahat saja sementara dirinya yang akan mengurus sisanya.
Akan tetapi, setelah melihat tekad yang masih membara di mata Penyihir Cardinal, Penyihir Caldera pun menelan kata-katanya dan segera menuruti permintaan dari ketuanya.
Setelah meminta Penyihir lainnya untuk mengurus Ratu Titania yang masih berada di dalam tenda, Penyihir Caldera lalu segera membawa para Penyihir lainnya untuk mengawal Penyihir Cardinal menuju tempat Iblis (Demon) sedang di tahan.
"Oh, Penyihir Cardinal! Apakah segelnya telah selesai... Hei, apakah kau tidak apa-apa?"
Sambut Raja Leonidas yang berubah menjadi cemas ketika melihat keadaan Penyihir Cardinal yang sekarang.
"Aku tidak apa-apa, yang penting sekarang kosongkan area. Penyegelan akan segera dilaksanakan"
Walau dirinya merasa sedikit bersalah untuk membiarkan Penyihir Cardinal memaksakan dirinya, tapi mengingat masalah ini adalah sesuatu yang tidak lagi bisa di tunda, maka Raja Leonidas segera memerintahkan semua orang
untuk menyingkir dari sekitaran pohon Iblis (Demon) dan menyuruh mereka untuk berjaga agar tidak ada yang bisa mendekat dan mengganggu ritual penyegelan.
Penyihir Cardinal juga memerintahkan agar para Penyihir lain untuk segera menyingkir. Akan tetapi, Penyihir Caldera yang tidak tahan untuk membiarkan Ketuanya sendirian saja memaksa untuk tetap tinggal.
"Diriku tidak peduli akan seberapa besar bahaya yang akan datang. Sebagai murid dari Penyihir Asterids, mustahil bagi diriku untuk meninggalkan Ketua sendirian saja ketika keadaan Ketua seperti ini"
Melihat kalau Penyihir Caldera benar-benar ngotot untuk tetap tinggal, Penyihir Cardinal pun hanya bisa menghela nafasnya.
"Terserah kau saja kalau begitu... Tapi, sebaiknya kau lapisi tubuhmu dengan Mana setebal mungkin untuk mengurangi dampaknya"
Menuruti saran dari ketuanya, Penyihir Caldera mulai melapisi tubuhnya dengan Mana.
Setelah yakin kalau sekarang hanya terdapat dirinya serta Penyihir Caldera, Penyihir Cardinal pun memulai proses penyegelannya.
Memegang objek persegi itu dengan kedua tangannya, Mana pun mulai dia alirkan yang membuat galaksi yang tergambar di dalam objek itu mulai memancarkan cahaya terang.
Tanpa perlu membaca mantra, tanpa perlu menggambar formasi sihir, objek itu dilepaskan begitu saja ke udara. Semua mantra telah dibacakan, formasi sihir yang kompleks juga telah di gambar dengan sempurna.
Kau hanya perlu mengalirkan sedikit Mana ke dalam objek itu, maka semua mantra dan formasi sihir yang telah tertanam di dalamnya akan aktif dengan sendirinya.
Ketika objek itu terlepas dari tangan Penyihir Cardinal, objek itu melayang dengan cepat menghampiri pohon raksasa yang di dalamnya terdapat sesosok Iblis (Demon) yang masih meronta berusaha untuk terbebas dari belenggu yang menahannya.
Pada saat objek itu akhirnya menyentuh permukaan pohon, sebuah ledakan senyap tercipta dan seketika objek itu membesar hingga menutupi seluruh permukaan pohon.
"Ugh!" berada dekat dengan objek tersebut, Penyihir Caldera merasakan sebuah tekanan luar biasa menyerang dirinya. Rasanya bagaikan berada di sebuah daerah yang padat akan Mana serta gravitasi di sekitarnya mendadak
menjadi lebih berat yang membuatnya merasa ditekan dengan keras ke atas tanah.
Jika saja Penyihir Cardinal tidak memperingatkannya terlebih dahulu untuk melapisi tubuhnya dengan Mana, maka kondisinya yang sekarang pasti bisa menjadi lebih buruk.
Melihat ke arah Penyihir Cardinal, betapa terkejutnya Penyihir Caldera ketika menyadari kalau Penyihir Cardinal telah tidak sadarkan diri.
"Ketua!"
Dengan sigap Penyihir Caldera segera mendekap ketuanya dengan erat dan dengan mengerahkan segenap tenaganya, dirinya berusaha untuk membawa ketuanya pergi ke tempat yang aman.
Akan tetapi, tekanan yang dikeluarkan oleh objek itu menyusahkan usaha Penyihir Caldera untuk membawa ketuanya menjauh ke tempat yang aman. Hal yang sama juga dirasakan oleh pasukan Aliansi yang berjaga jauh dari objek itu berada.
Bahkan ketika jarak mereka kilometer jauhnya, tekanan yang kuat tetap mereka rasakan sehingga membuat mereka kesusahan bahkan untuk berdiri saja.
Dari sekian banyak orang, hanya terdapat dua orang saja yang tidak terpengaruh oleh tekanan yang objek itu keluarkan.
Mereka adalah Raja Leonidas dan Raja Pulchritudo.
Alasan kenapa mereka berdua tidak terpengaruh karena mereka secara konstan terus menyelimuti tubuh mereka dengan Aura sehingga mereka sanggup untuk menahan tekanan yang objek itu keluarkan.
Dengan tatapan mata yang tajam mereka menatap lurus ke arah objek itu yang mulai bergerak.
Objek yang awalnya hanya sebesar genggaman tangan kini telah membesar hingga mampu untuk menutupi sebuah pohon raksasa. Di hadapan kubus besar yang menampilkan pemandangan galaksi di dalamnya, rumah-rumah yang berdiri tidak jauh dari sana bagaikan sebuah kerikil kecil belaka.
Dan objek yang sedari tadi diam sembari terus saja mengeluarkan aura yang menekan, tiba-tiba saja bergerak.
Apa yang awalnya berbentuk kubus raksasa, kini tiba-tiba saja berubah bentuk menjadi segi enam, lalu berubah lagi hingga berbentuk seperti berlian, kemudian berubah lagi menjadi berbentuk piramid.
Wujudnya terus saja berubah-rubah menjadi berbagai macam bentuk dan rupa. Namun, satu hal yang tetap sama, yaitu pemandangan yang ada di dalamnya tetap saja menampilkan sebuah galaksi yang memancarkan cahaya kelap-kelip bintang.
"Sungguh sebuah formasi yang mengerikan, pantas saja butuh waktu yang tidak sedikit untuk menyusunnya"
Komentar Raja Pulchritudo yang mengagumi sekaligus menakuti hasil kerja dari Penyihir Cardinal dan juga Ratu Titania. Sebagai seseorang yang mengaku-ngaku sebagai Dewa, dia dengan percaya diri dapat memproklamasikan kalau formasi yang ada di hadapannya sekarang cukup kuat untuk bahkan membuat kaum Dewata manapun untuk bergetar ketakutan.
Ketika objek itu selesai mengambil berbagai macam wujud, pada akhirnya objek itu menetap pada sebuah wujud. Yaitu, bentuk sebuah bola dengan dua buah cincin berputar mengelilinginya.
Sedetik setelah objek itu mengambil wujud ini, sebuah cahaya terang yang membutakan mata terlepas dengan objek itu sebagai pusatnya.
Atas cahaya ini, dengan terpaksa Raja Pulchritudo memalingkan mukanya sekaligus menutupi matanya dengan lengannya.
Ketika dia akhirnya mampu membuka mata, pemandangan sebuah pohon raksasa tidak lagi bisa terlihat. Pemandangan objek besar itu juga tidak lagi ada seolah menghilang begitu saja. Dan tekanan yang objek itu pancarkan juga ikut menghilang sehingga orang-orang yang akhirnya mampu kembali berdiri tegak sembari mengamati area sekitarnya tampak masih tidak yakin akan apa yang sebenarnya baru saja terjadi.
Apa yang tersisa hanyalah sebuah kawah besar yang berada tepat di jantung Ibukota Narsist Kingdom.
Raja Pulchritudo yang menyaksikan pemandangan ini hanya bisa terdiam tidak tahu harus mengatakan apa.
...
Penyihir Caldera yang menyaksikan bagaimana objek itu bekerja dari jarak paling dekat akhirnya bisa bernafas lega.
Terduduk lemas di atas tanah, tampak sekujur tubuhnya telah basah oleh keringat dan nafasnya juga tampak terengah-engah. Berada di dekapannya adalah Penyihir Cardinal yang masih tidak sadarkan diri.
Sukses membawa Penyihir Cardinal jauh dari bahaya, Penyihir Caldera yang telah sukses menunaikan tugasnya kini hanya bisa terduduk di atas tanah yang kotor karena kakinya sudah menolak untuk bergerak bahkan hanya sedikit saja.
Untungnya dia tidak akan berada lama di sana karena dari kejauhan dia bisa melihat sosok Penyihir Rosemary beserta Clara, Luna, dan juga Milim telah bergegas menuju ke arahnya.
Yang sampai terlebih dahulu tentu saja adalah Penyihir Rosemary yang terbang kemari dengan menggunakan jubahnya yang bisa dibentuk menjadi sepasang sayap putih nan indah.
"Nenek!" teriaknya seraya dirinya mendarat dengan tergesa-gesa.
Melihat sang Nenek yang sedang terbaring tidak sadarkan diri, pandangannya pun seketika tertuju pada orang yang mendekap Neneknya.
"Penyihir Caldera, bagaimana kondisi Nenek sekarang?"
"Ketua tidak apa-apa, beliau hanya kehabisan Mana. Setelah istirahat selama beberapa hari beliau pasti bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala"
Tidak lama kemudian, barulah Milim dan Luna yang melayang bersama datang menyusul mereka. Yang terakhir datang tentu saja adalah Clara yang sudah ngos-ngosan karena hanya dirinya seorang lah yang harus berlari
menggunakan tenaganya sendiri.
Ketika semua orang sudah berkumpul, bersama-sama mereka pun menandu Penyihir Cardinal kembali ke tenda untuk beristirahat.
...
Sejenak keadaan menjadi damai.
Para pasukan Aliansi yang awalnya masih sibuk bertempur melawan Monster yang ganas tiba-tiba saja dibuat terkejut karena Monster yang mereka lawan seketika berhenti di tempat sebelum akhirnya terkapar begitu saja.
Mereja juga sempat waspada ketika sebuah tekanan dahsyat menerpa mereka semua. Sekali lagi, mereka harus dibuat heran ketika tekanan itu datang dan menghilang begitu saja.
Ketika semua orang mulai bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi, sebuah perintah dari pusat datang untuk memerintahkan mereka semua agar segera mundur kembali ke Ibukota.
Barulah ketika mereka sampai di Ibukota, mereka mendapatkan penjelasan kalau musuh mereka telah tiada dan pertempuran pun dinyatakan telah berakhir. Itu terbukti dari pohon raksasa yang menahan Iblis (Demon) yang menjadi lawan mereka telah hilang dari pandangan dan para Monster ganas yang menjadi bawahan Iblis (Demon) juga telah mati secara mendadak.
Dengan semua bukti itu, para pasukan Aliansi pun teryakinkan kalau pertempuran telah berakhir dan merekalah pemenangnya.
"""!!!...HOOORRREEEEEE...!!!"""
Sontak saja teriakan penuh suka cita bergema di seluruh wilayah Ibukota.
Terlihat banyak sekali prajurit yang menangis terharu dan tidak sedikit juga dari mereka yang memeluk erat rekan mereka sembari melampiaskan rasa bahagia yang meluap-luap di hati mereka.
Suasana perayaan seketika menyelimuti semua orang seraya mereka menanggalkan Equipment mereka dan mulai membuka gentong anggur untuk dinikmati bersama.
Alunan musik yang meriah mulai dimainkan sementara makanan lezat dan minuman yang nikmat mulai dibagikan. Semua orang tersenyum dan tertawa riang berpesta seolah tiada hari esok.
Dan begitulah, dengan di pimpin oleh Raja Leonidas dari Ferox Kingdom, sebuah pesta kemenangan segera diselenggarakan dan tidak ada lagi yang bisa menghentikannya.
Di tengah hiruk pikuk pesta, suasana di dalam sebuah tenda terlihat damai dan tentram.
Duduk termenung di samping ranjang, adalah Penyihir Rosemary yang tiada hentinya menatap wajah Neneknya yang tampak pucat sementara matanya masih terpejam.
Karena apa yang Penyihir Cardinal alami bukanlah penyakit melainkan hanya kelelahan yang ekstrim, membuat Penyihir Rosemary tidak punya kuasa apapun terkecuali menunggu Neneknya agar pulih dengan sendirinya.
Meskipun kondisi Neneknya ini jauh lebih baik ketimbang sang Kakak yang terkapar karena telah menggunakan sebuah artefak terlarang, tapi dirinya masih tidak bisa tidak merasa cemas ketika dua anggota keluarganya berada
dalam kondisi koma dalam kurun waktu yang berdekatan.
Menemani Penyihir Rosemary adalah Penyihir Caldera, Clara, Luna, dan juga Milim yang berdiri diam mengelilingi kasur dengan ekspresi cemas di wajah mereka. Bahkan Milim yang biasanya suka bercanda juga tahu kalau saat
ini bukanlah saat yang tepat untuk melemparkan candaan atau bersikap seperti dirinya yang biasa.
Ketika suasana hening menyelimuti seisi tenda, tiba-tiba saja pintu tenda tersingkap dan seorang Penyihir lainnya masuk ke dalam tenda.
Sontak saja semua mata tertuju pada sosok Penyihir tersebut.
Tampak sudah menanti kedatangan Penyihir itu, Penyihir Rosemary tampak diam saja namun terdapat perasaan lega yang terpancar di wajahnya. Sementara itu, Clara, Luna, dan Milim tampak keheranan dengan kedatangan Penyihir ini.
Yang menjadi pembeda adalah jika Clara benar-benar tidak tahu siapa sebenarnya Penyihir tersebut dan kenapa bisa dia masuk ke dalam tenda ini begitu saja, Luna dan Milim merasa heran karena mereka bisa merasakan aroma yang familiar dari Penyihir tersebut namun mereka masih tidak yakin apa itu.
Di tengah semua itu, hanya Penyihir Caldera sendiri saja yang tampak benar-benar terkejut akan kemunculan Penyihir itu yang tiba-tiba.
"Nyonya Orchid!? Engkau telah kembali?!"
Teriaknya seraya dirinya segera menghampiri Penyihir Orchid seolah ingin memastikan apakah ini adalah nyata atau tidak.
Sontak saja reaksinya ini mengejutkan yang lainnya.
Menanggapi Penyihir Caldera yang mendatanginya secara tergesa-gesa, Penyihir Orchid hanya tersenyum ringan sebelum akhirnya mengutarakan akan tujuannya datang kemari.
"Bagaimana keadaan Ibunda?" mendengar suara Penyihir Orchid yang tegas dan lantang, Penyihir Caldera segera mengumpulkan ketenangannya kembali dan mulai menjelaskan secara mendetail akan apa saja yang sebenarnya telah terjadi.
Ketika Penyihir Caldera tengah menjelaskan, sebuah senyuman cerah merekah di wajah Milim seraya dirinya menggoyang-goyangkan tubuh Luna yang ada di sampingnya.
"Itu Nyonya besar♥ Itu Nyonya besar♥"
Ucapnya yang senang setelah mengetahu identitas sebenarnya dari Penyihir tersebut. Tanpa mengindahkan Milim yang menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan kuat, pandangan Luna masih terpaku pada sosok Penyihir Orchid
yang adalah orang tua dari Gurunya.
Ketika Penyihir Caldera telah menyelesaikan penjelasannya, Penyihir Orchid sudah berada tepat di samping ranjang dengan tangannya dengan lembut mengelus kepala sang Ibunda yang kini tengah tidak sadarkan diri.
"Hah, baik dirimu maupun si kecil sama-sama terlalu memaksakan diri kalian"
Mendengar ucapan dari sang Bibi, Penyihir Rosemary tidak tahu harus berkata apa. Sementara Nenek dan Kakaknya telah mengerahkan segenap kekuatan mereka pada Pertempuran kali ini, hanya dirinya seorang yang seakan tidak mengerahkan segenap kemampuan yang dia miliki.
Seakan menyadari apa yang keponakannya sedang pikirkan, Penyihir Orchid pun segera menasehatinya.
"Rosemary, itu bukan salahmu karena tidak berusaha lebih keras. Melainkan itu adalah salah mereka sendiri yang berusaha terlalu keras"
"Akan tetapi, Bibi, jika saja diriku bisa lebih banyak membantu, maka Nenek dan Kak Lavy tidak mungkin akan berakhir seperti ini"
Atas perkataan Penyihir Rosemary, Penyihir Orchid segera menggelengkan kepalanya.
"Kau salah paham, semua orang memiliki tugasnya masing-masing. Kau sudah berhasil menjalankan tugasmu dengan baik dan benar sementara Ibunda dan Lavender lah yang terlalu banyak bekerja sehingga mereka membebani diri mereka sendiri"
Setelah mendengar perkataan Bibinya, Penyihir Rosemary pun menjadi terdiam.
Seketika suasana kembali menjadi hening.
Ketika Penyihir Caldera sedang memikirkan apa yang harus dia katakan, tiba-tba saja pintu tenda kembali terbuka. Kali ini yang masuk adalah Victoria yang sedang membawa satu kotak penuh buah di tangannya.
"Buah Iblis?! Kenapa kau membawa Buah Iblis kemari!?"
Ketika Penyihir Caldera hendak menghentikan Victoria, Penyihir Orchid segera menenangkannya.
"Tidak apa-apa, akulah yang memerintahkannya untuk membawanya kemari"
"Akan tetapi, kenapa Nyonya Orchid membutuhkan buah terkutuk itu?"
"Sebagaimana tanaman obat pada umumnya, jika kau tidak tahu bagaimana cara mengolahnya maka hanya racun yang akan kau dapatkan. Akan tetapi, ketika kau berhasil mengolahnya dengan benar, bahkan tanaman paling beracun sekalipun dapat menjadi sebuah obat mujarab yang bisa menyelamatkan banyak nyawa"
Seolah untuk mendemontrasikannya, Penyihir Orchid segera meraih Buah Iblis tersebut beserta yang juga dibawakan oleh Victoria beserta bahan-bahan lainnya yang juga telah di pinta olehnya.
Setelah menyiapkan semuanya, Penyihir Orchid segera melakukan pekerjaannya.
Meremas Buah Iblis untuk mengambil airnya, air tersebut segera di saring sebelum akhirnya dicampurkan dengan bahan-bahan lainnya.
Sontak saja semua orang berkumpul di belakangnya untuk mengintip karena penasaran akan apa yang sebenarnya sedang dia persiapkan.
Setelah satu jam lamanya, Penyihir Orchid akhirnya selesai.
Apa yang dia pegang sekarang adalah sebatang lilin yang memiliki warna pelangi yang indah. Meletakkan lilin itu di dalam gelas kaca, Penyihir Orchid lalu menyalakannya dan meletakkannya di meja kecil yang berada di samping ranjang.
Dengan nyala api warna-warni, sebuah aroma yang memanjakan hidung seketika tersebar di dalam tenda.
Menghirup aroma ini, seketika semua orang mendapati kalau tubuh mereka perlahan menjadi segar kembali dan rasa lelah yang mereka rasakan seketika sirna begitu saja.
"Nyonya Orchid, ini..."
"Dengan ini pemulihan Ibunda bisa dipercepat. Diriku memperkirakan kalau Ibunda akan sadar setidaknya dua atau tiga hari lagi"
Mendengar hal ini, Penyihir Caldera akhirnya bisa bernafas lega. Begitu juga dengan Penyihir Rosemary, ketika dirinya mengira kalau tidak ada yang bisa dilakukan, siapa yang menyangka kalau terdapat solusi seperti ini.
Dengan ini dia kembali tersadar kalau masih banyak yang harus dia pelajari.
Ketika senyuman bahagia terpancar di wajah semua orang, Milim yang merasa ini adalah kesempatan emas, akhirnya maju untuk menyapa Penyihir Orchid.
"Halo♥ Perkenalkan♥ Hamba adalah Milim♥ Bawahan dari Putri Nyonya♥ Sementara yang berdiri di sana adalah Luna♥ Murid tersayang dari Putri Nyonya yang tercinta♥ Salam kenal♥"
Atas perkenalan yang mendadak dari Milim, Penyihir Orchid merasakan sakit kepala setelah mengetahui kalau putrinya memiliki murid dan bawahan seorang Succubus.