A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 100 : Punishment for the Stupid Brother



Oh, lihat lah wajahnya yang panik itu.


Siapa yang menyangka kalau rencana untuk memancing adiknya Pangeran Draco bisa sukses besar seperti ini.


Memanfaatkan situasi, kami sukses membuat Pangeran, oh maaf. Drake untuk datang ke wilayahku secara sukarela dengan alasan mengungsi dari medan perang.


Bukan hanya Drake, tapi kami juga sukses menangkap adiknya Margarita, Putri Thysia ol Narsist yang siapa sangka sudah dalam keadaan mengandung anak pertamanya.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"


Menyaksikan Drake di tahan oleh pasukan pribadi Pangeran Draco, aku merasa tidak ada yang perlu aku lakukan. Thysia? Glory sudah mengurusnya. Di saat Glory membawa Thysia ke ruangan lain, Drake menjadi semakin putus asa.


"Menyerahlah, tidak ada lagi yang bisa kau perbuat"


"Grrr... Tidak akan!"


Dan... dia baru saja mengambil semacam kristal di sakunya yang kini mengeluarkan sebuah cahaya terang. Seolah beresonansi dengan kristal itu, seluruh dinding ruang kerjaku juga ikut mengeluarkan cahaya terang yang berasal dari Rune yang terukir di sana.


Setelah kristal itu pecah dan tidak lagi mengeluarkan cahaya, tidak ada yang berubah.


Semua tetap sama sampai-sampai Drake terperangah karenanya.


"Apa? Kenapa teleportasinya tidak bekerja!?"


"Wahai saudaraku yang bodoh, janganlah kau berpikir cara yang sama akan bekerja kepadaku untuk yang kedua kalinya. Bawa dia pergi!"


Menyaksikan Drake di seret pergi, kini hanya ada aku dan Pangeran Draco saja di ruangan ini.


"Aku anggap itu sudah selesai?"


"Semua belum berakhir sampai adik bodohku itu di seret kembali ke Drakon Kingdom. Tetap saja, terima kasih atas semua kerja sama Anda"


Memberikan salam hormat, kami berdua saling bertukar senyum atas keberhasilan kami.


Setelah sebulan lebih perencanaan, senang rasanya kalau rencana kami berjalan dengan sangat lancar.


Tok... Tok... Tok...


Memberikan izinku, Pangeran Argenti pun masuk ke dalam ruangan.


Setelah Pangeran Draco dan Pangeran Argenti saling bertukar salam, pembicaraan yang sebenarnya pun akhirnya bisa dilaksanakan.


"Jadi, Pangeran Argenti. Apa yang harus kita lakukan terhadap adikmu itu?"


"Aku sudah membicarakan ini dengan Margarita. Thysia kecil sebenarnya bukanlah gadis yang jahat, dia hanya anak yang penurut yang selalu menuruti segala permintaan Ibunda kami. Karena itulah..." menghadap kepada Pangeran Draco, Pangeran Argenti pun mengutarakan permintaannya "Pangeran Draco dari Drakon Kingdom. Selaku Pangeran dari Narsist Kingdom, saya memohon untuk memberikan suaka kepada ketiga adik saya"


"Oh, jadi Putri Margarita dan Putri kedua juga akan ikut?"


"Itu benar, mereka bertiga adalah adik saya yang tercinta. Selama mereka berada jauh dari sini, maka diriku bisa bertempur dengan tenang"


Apa yang Pangeran Argenti katakan itu memang benar.


Terlalu sering aku melihat di film orang yang tidak punya kekuatan tempur atau kemampuan lainnya malah ikut ke medan pertempuran hanya dengan modal wajah cantik mereka. Hasilnya sering kali mereka malah menjadi beban dan tidak jarang mereka malah di culik yang mana itu membuat si karakter utama kesusahan.


Tidak peduli seberapa ingin Putri Margarita untuk mencabik-cabik wajah Ibunya sendiri, dia yang tidak bisa apa-apa hanya boleh untuk duduk manis di tempat aman dan menunggu kabar baik.


"Begitu, jika memang itu yang Anda inginkan. Maka, saya, selaku Putra Mahkota dari Drakon Kingdom. Draco Blut Drakon akan mengabulkan permintaan Pangeran Argenti ol Narsist untuk memberikan suaka kepada ketiga Tuan


Putri dari Narsist Kingdom"


"Terima kasih atas kebaikan Anda"


Selesai melakukan formalitas dan semacamnya, Pangeran Draco melirik ke arahku.


Oh, ya ampun. Kenapa aku punya perasaan buruk akan hal ini?


"Penyihir Lavender, kalau boleh, bisakah Saya meminjam portal milik Anda?"


"Oh, Pangeran Draco. Jangan bilang kalau Anda ingin menggunakan portal pribadi Saya untuk mengirimkan para Tuan Putri langsung ke Drakon Kingdom?"


Senyumannya itu berarti iya yah...


"Apakah Pangeran yakin? Bukannya menolak, hanya saja portal tersebut terhubung langsung dengan kediaman hamba yang mana itu berada di dalam daerah yang padat akan Mana. Takutnya itu bukanlah tempat yang cocok untuk ditempati oleh orang awam. Bahkan jika hanya sekedar lewat saja sudah berbahaya"


Terkecuali mereka orang yang kuat atau menerima semacam perlindungan, mustahil orang biasa bisa bertahan di dalam pusat Dungeonku.


Alasan kenapa para budak yang aku beli bisa bertahan di sana adalah karena mereka memiliki segel budak milikku yang membantu mereka untuk bisa bertahan di daerah yang padat akan Mana.


Yah, walau ada kemungkinan besar kalau kelak ras mereka akan berubah sebagaimana para budakku yang pertama. Tapi kurasa itu adalah hal yang tidak perlu aku sebutkan.


"Ah, kalau itu tenang saja. Banyak reruntuhan kuno yang memiliki ruangan yang padat akan Mana. Demi mengatasinya kami menggunakan sebuah Item yang mampu membuat kami bisa bertahan di dalam daerah padat akan Mana selama itu tidak lebih dari sehari"


Oh, masalah terselesaikan?


"Sebelum lupa, apa yang akan engkau lakukan terhadap para gadis yang di bawa oleh adikmu itu?"


"Hmm... Bagi pelayan biasa, diriku rasa menitipkan mereka di sini sudah lebih dari cukup. Akan tetapi, bagi mereka yang sedang mengandung. Mau tidak mau mereka juga harus di bawa pulang"


Begitu, kalau begitu ceritanya aku harus segera mempersiapkan segalanya.


Sungguh, aku harap aku di bayar untuk ini.


...


Singkat cerita beberapa hari telah berlalu.


Berada di bawah basemen Mansion di Kota Pelabuhan, kami semua berkumpul di depan sebuah batang pohon yang terbelah dua dan memancarkan cahaya berwarna ungu cerah.


Tanpa perlu disebutkan lagi itu adalah portal yang aku pasang dan terhubung langsung dengan kediamanku di Dungeon Ibis.


Bersamaku adalah Pangeran Argenti beserta ketiga Tuan Putri yang kini sudah siap beserta beberapa Pelayan pribadi mereka yang membawakan semua barang-barang mereka.


Putri Kedua Narsist Kingdom, Maysara ol Narsist.


Sama seperti Margarita, dia juga mengenakan cadar serta kerudung yang menutupi seluruh kepalanya sehingga mustahil untuk melihat wajahnya. Alasan kenapa dia berpakaian seperti itu adalah karena dia juga menerima


perlakuan yang sama dengan kakaknya Margarita.


Sedang untuk Putri Ketiga, Thysia ol Narsist.


macam-macam.


Selain mereka ada juga Pangeran Draco beserta para pengawalnya yang kini sedang menahan Drake.


Tidak mengenakan apa-apa selain ****** *****, tangan dan kakinya di pasung serta mulutnya pun dibekam. Dia yang dulunya adalah seorang Pangeran kini tampak seperti seorang buronan berbahaya yang sedang di tahan oleh


kesatuan kriminal.


Terlihat kalau Putri Thysia dan Drake saling beradu pandang dengan cemas.


Itu adalah sebuah pemandangan yang romantis jika saja tidak ada benjolan pada celana Drake yang merusak segalanya.


Menyadari hal ini, Putri Margarita dengan paksa memalingkan wajah adiknya sementara Pangeran Draco memerintahkan bawahannya untuk menutupi mata Drake dengan kain.


"Apakah semua sudah siap?"


Melihat mereka semua mengangguk, tanpa membuang waktu lagi aku pun membimbing mereka melewati portal yang terbuka.


Apa yang menyambut kami adalah pemandangan hutan yang menyala violet terang yang sudah sangat familiar bagiku. Namun, pemandangan semacam ini jelas adalah yang pertama kalinya bagi mereka.


"Wow... Aku tidak percaya ada hutan seperti ini di Drakon Kingdom"


"Indah sekali!"


"..."


Melihat kalau mereka baik-baik saja, kurasa item yang mereka kenakan memang sangat membantu.


Walau benar kalau ini adalah pertama kalinya si ketiga Tuan Putri datang kemari, hal yang sama tidak bisa dikatakan terhadap para Pangeran.


Beberapa hari yang lalu mereka berdua sudah datang ke sini untuk melihat-lihat sekaligus untuk memastikan apakah kediamanku ini aman untuk dilewati atau tidak.


Tidak hanya itu, mereka juga memanfaatkan kesempatan itu untuk menghantarkan kelompok pertama terlebih dahulu. Yang aku maksud dengan kelompok pertama adalah para gadis malang yang sedang mengandung anak dari Drake dan juga para Koleksi gadis non Manusia milik Pangeran Argenti.


Serius, aku sudah mendengar dari Luna kalau Pangeran Argenti memang gemar mengumpulkan banyak gadis non Manusia dari segala penjuru Kerajaan untuk dijadikan Pelayan di Mansionnya. Tapi tidak aku sangka kalau jumlah


mereka sudah melebihi ratusan.


Untuk sementara kebanyakan dari mereka akan ditempatkan di Kota Gata. Hanya sedikit dari Pelayan Pangeran Argenti yang tetap tinggal di dalam Dungeon Ibis untuk menyambut kedatangan Pangeran mereka.


Dan...


"Apa itu?!"


"Itu... Bukankah itu Sister Dara?"


Dara Blanco. Biarawati dari Agama Narsist sekaligus 'Tunangan' asli dari Pangeran Argenti.


Berdasarkan perjanjian yang kami buat, aku bebas untuk melakukan apa pun terhadapnya asalkan Pangeran Argenti bisa terlepas darinya.


Sebagai orang yang selalu menepati janjinya, aku pun mengabulkan permintaan Pangeran Argenti.


Tergantung di antara kedua pohon, adalah Dara yang kini tidak mengenakan sehelai pakaian. Kedua tangan dan kakinya kini terikat pada semacam jaring laba-laba yang dihasilkan oleh salah satu Pelayan Pangeran Argenti yang


bernama Aranea.


Bagaikan serangga yang terjebak pada jarang laba-laba, sosok Dara saat ini terlihat menyedihkan.


Tepat di bawahnya adalah sungai yang dingin. Bahkan jika Dara entah bagaimana bisa meloloskan diri dia akan langsung tercebur ke dalam sungai yang sebenarnya tidak begitu dalam.


Tentu saja aku tidak langsung menggantungnya begitu saja.


Terlihat banyak bekas luka lecet dan lebam di seluruh permukaan tubuhnya yang dulunya mulus. Wajah cantiknya kini sudah tidak ada lagi karena sudah penuh dengan bekas pukulan dan cakaran. Jika dia membuka mulutnya, akan terlihat kalau beberapa giginya sudah hilang.


Apa? Kalian bilang aku terlalu kejam?


Hahaha... Maaf saja, aku tidak pernah menyentuhnya bahkan sejari pun!


Semua itu bukanlah perbuatanku melainkan perbuatan para Pelayan Pangeran Argenti yang sudah dendam kesumat kepada Dara.


Pada saat aku berkata mereka bebas melakukan apa saja kepada Dara... Oh, mengingat kembali ekspresi yang mereka buat pada saat itu membuatku kembali merinding.


Dan, hasilnya seperti yang kalian lihat sekarang.


Masih belum berhenti sampai di situ, mereka bahkan sekarang masih menertawakannya sambil melempari Dara yang tidak berdaya menggunakan lumpur dari sungai yang aku yakin ada beberapa batu yang tercampur di sana.


Meneteskan air matanya, Dara tidak kuasa berteriak karena jaring laba-laba yang menutup mulutnya.


Setelah aku menjelaskan itu, Pangeran Argenti pun menerima tatapan tajam dari ketiga adiknya.


"Hei, aku sendiri juga tidak tahu akan berakhir seperti ini kau tahu?!"


Melihat sekali lagi, Dara yang menyadari keberadaan Pangeran Argenti berusaha untuk memberontak. Tapi seketika terhenti ketika sebuah tamparan keras dilayangkan kepadanya oleh sekumpulan Arachne yang senantiasa berjaga di atas pohon tempat jaring itu di pasang.


Oh, jika kalian menanyakan tentang kedua Biarawati yang menemani Dara sebagai pengawal. Tenang saja, mereka sudah di urus oleh Milim.


Ngomong-ngomong soal Milim, kalian telah melewatkan betapa senangnya dirinya ketika mengetahui kalau Luna bukan lagi seorang bayi kecil. Saking senangnya Milim sampai tidak mau melepaskan Luna sampai semalaman suntuk.


"Baiklah, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya. Kereta kuda sudah menunggu. Mari kita segera berangkat karena diriku yakin kalau kediaman baru sementara kalian sudah menunggu!"


...


Melewati bagian Utara Dungeon Ibis yang masih disambangi oleh para Petualang yang tidak berpartisipasi dalam peperangan, kami terus melaju hingga akhirnya tiba di pintu masuk kota baru yang saat ini masih dalam proses


pembangunan.


Setelah berbulan-bulan lamanya, kota baru ini sudah semakin jadi.


Rumah serta pertokoan berjejer rapi sepanjang jalan. Wajah para penduduknya kini sudah tidak lagi muram dan bahkan gelak tawa anak-anak pun bisa terdengar di telinga.


Mendapatkan kehidupan baru di kota baru ini, para pengungsi dari Narsist Kingdom kini akhirnya bisa hidup dengan tenang jauh dari bawah bayangan Raja dan Ratu mereka yang durjana.


Melewati kota ini, tujuan kami adalah rumah Walikota Kota Gata.


Dengan bantuannya maka ketiga Tuan Putri bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak dan aman sementara Pangeran Draco bisa menitipkan adik kriminalnya untuk sementara waktu sembari menunggu jemputan yang akan membawanya ke Ibukota datang.


Bersantai di kursiku, aku melamunkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya.