A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 64 : Tea Party



Setelah bergegas menuju kamar tamu tempat Canary menginap, aku lega karena aku masih bisa merasakan kalau Colette masih berada di ruang yang sama dengan Canary.


Oh, kalian ingin tahu bagaimana aku bisa tahu kalau itu Colette hanya dari keberadaannya?


Itu mudah.


Itu karena aku bisa merasakan sebuah keberadaan yang tidak aku kenali sedang berada dekat dengan Canary. Serta karena aku sudah tahu kalau Canary telah memanggil Colette kemari, mudah menebak identitas dari keberadaan yang aku rasakan itu.


Tanpa ragu aku lalu masuk ke dalam kamar Canary.


Melihat ke arah teras, aku menemukan sebuah pesta teh sedang di adakan. Pesertanya tentu saja adalah Canary dan seorang gadis yang tidak aku kenal.


Dari penampilannya, aku lihat tidak ada yang spesial. Bahkan Mana di dalam tubuhnya terbilang rendah dan hanya sedikit lebih tinggi dari orang kebanyakan.


Yang jelas aku bisa merasakan kalau gadis itu tampak sedang ketakutan akan sesuatu...


"Haha... Jadi kau yang bernama Colette"


Saat aku akhirnya dapat melihat wajahnya dengan jelas, aku menemukan kalau dia baru saja menangis. Ah, apakah Canary sudah memberitahukannya?


Itu tidak bisa dihindarkan, mengingat kalau penampilan Canary saat ini jauh dari kata normal menurut standar dunia ini.


Papa sempat memberitahukanku bahwa pengaruh dari Freedom 2 dapat mengubah struktur jiwa dan raga orang awam yang memainkannya. Itu telah dibuktikan langsung oleh Canary yang kini sudah tidak lagi bisa disebut


sebagai Manusia karena dirinya telah sepenuhnya menjadi seorang Elf.


Setelah pelayan yang berjaga menyiapkan kursi untukku, aku lalu duduk di sana tepat di antara Canary dengan Colette.


Selagi menunggu teh di siapkan, aku memperhatikan bahwa walau telah aku sapa Colette tetap saja diam dan malah menjadi semakin ketakutan.


"Canary, apakah beban karena pertempuran kemarin itu terlalu berat baginya?


"Maaf, Penyihir Lavender, saya rasa Colette bertingkah seperti ini karena takut akan dirimu"


"Benarkah? Padahal aku masih belum melakukan apa-apa kau tahu?"


Tidak peduli alasan apa yang membuatnya takut, kondisinya yang sekarang tidak memungkinkan dirinya untuk di ajak bicara.


Selagi menunggu agar kondisi Colette membaik, aku hanya menghabiskan waktu dengan berbincang santai dengan Canary sembari menikmati secangkir teh yang hangat serta camilan kue yang manis di mulut dan terasa lembut saat di kunyah.


Pada saat aku menghabiskan setengah camilan yang aku ambil, barulah Colette tampak sudah tenang dan akhirnya mampu memproses apa yang sedang terjadi.


"Oh, tampaknya kau sudah tenang. Baiklah, bagaimana kalau kita saling memperkenalkan diri?


Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender La Ciel"


"Umm... Alkemis, Colette. Tunggu sebentar, Penyihir Lavender!!?"


Dalam keterkejutannya, Colette langsung melihat ke arah Canary meminta penjelasan. Menurunkan cangkir teh yang baru dia minum, Canary pun mulai memberikan penjelasan singkat.


"...Kalau kita yang berada di dunia ini bisa pergi ke dunia sana, maka wajar jika orang dari dunia sana bisa datang ke sini"


"Apakah berpindah dunia memang semudah itu?!"


"Tentu saja tidak. Aku tidak bisa memberitahukan detailnya, tapi butuh waktu tahunan untuk bisa berpindah dunia dengan aman. Karena itulah pihak Freedom 2 menggunakan alat bantu yang hanya memindahkan jiwa seseorang


dan menampungnya ke tubuh lain"


"Apakah itu berarti tubuhku yang ada di sana adalah sebuah homunculus atau semacamnya?"


"Hmm... Sekarang kau mengatakannya, aku sendiri bahkan tidak tahu bagaimana caranya mereka melakukan itu"


"Jadi Anda bahkan tidak mengetahuinya?"


Yah, mau bagaimana lagi.


Walau sekarang misteri tentang Freedom 2 kembali bertambah, tapi seperti kata Nenek, itu tidak ada hubungannya denganku.


"Mari kita sisihkan itu dulu, Alkemis Colette. Aku dengar \ buatanmu itu menggunakan material yang berasal dari Dungeon milikku"


"Ah, itu... Apakah tidak boleh?"


"Tentu saja boleh, alasan kenapa aku membuka Dungeon itu untuk umum memang agar mereka yang menantangnya bisa mendapatkan keuntungan sementara aku mendapatkan hiburan... Yang ingin aku tahu itu adalah resep lengkap dari yang telah teruji kemampuannya"


Atas perkataanku, ekspresi Colette menjadi gelap. Tampaknya dia masih trauma karena telah merenggut banyak nyawa yang tidak bersalah.


Walau ada banyak yang ingin aku komentari, tapi itu bukanlah kewajibanku. Kewajiban untuk menyembuhkan traumanya sudah jatuh ke tangan Canary yang merupakan figur kakak perempuan bagi semua Otherworlder.


"Aku tahu ini memang berat bagimu. Tapi apa yang kau rasakan bukanlah urusanku. Apa yang aku inginkan adalah resep dari bom yang telah meluluhlantakkan seluruh kota"


"...Apa yang ingin kau lakukan setelah mendapatkan resepnya?"


"Aku simpan. Tentu saja, jika ada waktu atau memang perlu, aku akan membuatnya"


"...Bagaimana kalau aku bilang tidak?"


Sambil tersenyum, aku bangkit dari tempat dudukku lalu berjalan mendekat kepadanya secara perlahan sebelum akhirnya membisikkan ke telinganya "Memangnya itu adalah sebuah pilihan?" yang tentu saja aku melakukan itu


sambil melepaskan sedikit Mana milikku untuk mengintimidasinya.


Hasilnya... Sukses besar!


Colette langsung ketakutan setengah mati sampai-sampai dirinya hampir saja terjungkal kebelakang jika saja aku tidak menahan pundaknya. Yang mana itu malah membuatnya tambah ketakutan. Colette sempat melirik ke arah


Canary untuk meminta bantuan... Yang di balas dengan sebuah gelengan kepala.


Sendirian tanpa ada yang bisa membantunya, Colette langsung menuliskan semuanya dari bahan-bahan hingga cara pembuatannya di atas kertas yang sudah di sediakan oleh Pelayan.


Melihat kertas yang berisi tulisan ceker ayam, aku mulai membaca semuanya dari atas sampai bawah.


"Hmm... (Fire Salamander's Heart)? Yang ini akan susah"


"(Fire Salamander) yah, kalau tidak salah mereka sudah cukup langka dan sulit untuk ditemui"


Pada saat aku dan Canary sibuk membahas resep yang diberikan, Colette yang masih gemetaran mengangkat tangannya.


"Permisi... Kamar mandinya di mana?"


Tampaknya dia baru saja membasahi dirinya sendiri.


...


Ahh... Ya ampun, bagaimana bisa menjadi seperti ini???


Aku awalnya datang ke sini karena ingin menemui Kak Canary yang selama ini ingin aku temui sekaligus untuk melepaskan semua beban yang menumpuk di dadaku selama ini.


Siapa mengira kalau aku akan mendapatkan fakta bahwa game yang selama ini aku mainkan bukanlah sekedar game belaka serta hal-hal yang mengejutkan lainnya.


Terutama Penyihir Lavender.


Walau aku hanya mendengar namanya dari Forum, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk mengetahui seberapa berbahayanya orang itu.


Berita mengenai dirinya yang mampu mengalahkan seekor Naga jelas bukanlah sesuatu yang bisa di anggap enteng!


Aura intimidasi yang aku rasakan merupakan bukti nyata betapa berbahayanya seseorang bernama Penyihir Lavender itu.


Yang membuat aku menjadi semakin kepikiran adalah resep dari sekarang sudah berada di tangannya dan aku tidak punya kuasa untuk meyakinkannya untuk tidak membuatnya terlebih menggunakannya di tempat yang banyak orangnya.


"Nona Colette, silahkan baju gantinya"


"Ah, iya, terima kasih"


Aku sekarang berada di kamar mandi. Karena alasan yang tidak ingin aku katakan, aku harus mengganti bajuku.


Memasukkan baju kotorku ke dalam keranjang cuci, aku menerima baju ganti dari Maid yang menemaniku ke kamar mandi.


"Kau serius?"


Baju ganti yang aku terima merupakan sebuah kemeja putih dengan rok pendek berwarna cokelat. Selain itu ada juga dasi kantoran serta sebuah blazer kantoran yang sama-sama berwarna abu-abu. Walau aku tidak membutuhkannya, aku juga mendapatkan kaos kaki panjang tipis berwarna hitam serta sepasang sepatu hak tinggi dari bahan kulit.


Terakhir, adalah sebuah topi baret.


"Aku ini di suruh cosplay atau apa sih?!"


Pada saat aku meminta pada si Maid untuk mengambilkan baju yang lain, aku hanya mendapatkan tatapan yang seolah mengatakan "Pakai saja" yang mana membuatku curiga sekaligus takut kalau ini semua adalah perintah dari Penyihir Lavender.


Melihat kalau sejak awal aku memang tidak punya pilihan, aku pun hanya pasrah dan mulai berpakaian.


"Silahkan kacamata dan sarung tangannya"


...Serius?


Melihat kedalam cermin, aku menemukan sesosok 'wanita' yang mengenakan kemeja putih ketat dengan sebuah dasi terikat rapi di leherku yang dilapisi oleh blazer yang biasa di kenakan oleh wanita kantoran yang berwarna


Karena ini adalah pertama kalinya aku mengenakan sesuatu seperti ini, aku sangat tidak nyaman karena rok yang aku kenakan sekarang sangatlah pendek dan ujungnya jauh dari lututku. Untungnya aku juga diberikan sepasang kaos kaki panjang yang panjangnya melewati lutut hingga mencapai pahaku.


Dilengkapi dengan sepatu hak tinggi, sarung tangan kulit, topi baret di kepala serta mengenakan kacamata trendi. Lengkap sudah cosplayku sebagai guru perempuan atau seorang boss wanita.


Sumpah aku benar-benar tidak tahu mengapa aku harus mengenakan pakaian ini dan kenapa Penyihir Lavender bisa memilikinya.


Yang jelas aku harus mengenakan pakaian ini sampai aku diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


Melihat ke arah cermin, aku semakin menyadari bahwa buah dadaku memang telah membesar. Bulan ini saja ukurannya naik dua angka yang membuatku tekor saat membeli bra baru.


"Hmm...?"


Melihat ke kepalaku, aku menemukan beberapa helai rambutku sudah mulai beruban.


"Gawat!"


Bagaimana ini?! Apakah ini karena aku terlalu stress akhir-akhir ini?


Aku pernah dengan kalau orang yang mengalami stress berkepanjangan bisa cepat beruban atau bahkan mengalami kebotakan dini.


"Permisi, apakah ada masalah?"


Mendengar aku berteriak, si Maid langsung menanyakan keadaanku. Tidak punya alasan untuk menyembunyikannya, aku pun memberitahukannya alasan kenapa aku berteriak.


Aku tidak bisa melupakan raut wajah si Maid pada saat itu.


...


Pada saat aku kembali ke teras kamar tempat Kak Canary dan Penyihir Lavender sedang berbincang ria sambil menikmati sebuah pesta teh sederhana, terdapat satu lagi peserta yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.


Dia tampak seperti gadis kuliahan dengan rambut hitam pendek sebahu serta tubuh yang terlihat langsing meski di tutupi oleh jaket olahraga yang longgar.


Menyadari kedatanganku, gadis itu langsung menoleh ke arahku.


Bahkan dari jauh sekalipun aku mampu merasakan tatapan matanya yang tajam seolah mengukur setiap inci dari tubuhku.


Karena semua yang terjadi hari ini, aku yakin sekali kalau gadis itu bukanlah gadis biasa.


Berbeda dari diriku yang waspada kepadanya, gadis itu malah tersenyum.


"Halo Colette, lama tidak bertemu!"


"Tunggu, suara ini... Feline!?"


Aku tidak pernah menyangka. Dari semua orang dia adalah Feline.


Sekarang aku melihatnya dengan lebih jeli lagi. Jika rambutnya di panjangkan serta ditambahi hiasan kuping serta ekor kucing, maka akan terlihat sosok Feline yang pernah aku temui di dalam game.


"Feline... Aku tidak pernah menyangka akan melihatmu di sini"


"Haha... Aku juga sama. Sosokmu itu cukup berbeda dengan yang ada di sana. Terlebih dadamu itu, lebih kecil dari yang ada di sana"


"Sudahlah! Ini juga sedang dalam masa pertumbuhan. Serius, makin hari mereka makin membesar"


Atas perkataanku, entah mengapa Kak Canary dan Penyihir Lavender menjadi tertarik.


"Jadi begitu, bagian tubuhmu yang berubah adalah bagian dada yah. Mengingat di sana kau dirumorkan memiliki payudara yang besar, maka ini mungkin..."


"Benarkah? Heh, aku kira cuman ras saja yang bisa berubah, ternyata anggota tubuh yang di ubah saat membuat karakter juga termasuk"


Pada saat aku tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka diskusikan, Feline membisikkan kepadaku sebuah fakta.


Tubuh fisik Pemain (Otherworlder) di dunia nyata akan berubah hingga menyerupai tubuh karakter mereka di dalam game.


Hal ini juga lah yang menjadi alasan kenapa Kak Canary yang terlahir dari keluarga Manusia biasa bisa menjadi seorang Elf seperti karakternya di dalam Freedom 2.


Mengetahui hal ini, aku teringat akan kejadian di kamar mandi barusan.


Rambut karakterku aku buat menjadi berwarna abu-abu agar mirip dengan karakter game yang menjadi panutanku. Apa yang aku kira uban ternyata adalah rambutku yang mulai berubah warna sesuai dengan warna rambut karakterku.


Kak Canary yang awalnya Manusia biasa kini adalah seorang Elf.


Penyihir Lavender... Kalau tidak salah di aitu Half-Demon kan? Aku lihat telinganya sedikit meruncing serta dia juga memiliki tato di sekujur tubuhnya seperti yang dirumorkan.


Untuk Feline...


Seolah mengetahui apa yang aku pikirkan, Feline lalu menyingsingkan lengan jaketnya yang menampakkan sebuah gelang perak dengan ukiran kucing yang saling mengejar satu sama lain.


Pada saat gelang itu dilepaskan, terlihat telinga manusia milik Feline berubah menjadi lebih kecil seperti telinga bayi sedangkan di atas kepalanya muncul sepasang telinga segitiga yang mungil seperti telinga anak kucing. Penasaran, aku melihat ke arah belakang tubuh Feline dan menemukan sebuah ekor pendek yang berwarna hitam berjuntai dari area atas pantatnya.


"Feline, kau..."


"Walau tidak lama lagi aku akan kehilangan kemanusiaanku seutuhnya, tapi aku tidak akan mempermasalahkannya karena tidak peduli ras apa yang aku miliki, aku adalah aku"


Sungguh cara berpikir yang sangat positif. Jika itu aku maka aku pasti akan terus bersembunyi di dalam kamar atau kabur ke tempat terpencil karena takut akan pandangan yang orang lain akan berikan kepadaku. Terlebih


jika perubahanku terdengar oleh pihak pemerintah. Bisa-bisa aku dijadikan objek percobaan oleh mereka.


Aku bersyukur karena ras yang aku pilih adalah Manusia dan bukan ras lainnya.


Tunggu sebentar, penampilan Feline tadi tidak ada bedanya dengan Manusia pada umumnya.


Baru saat dia melepas gelang itu...


Secara refleks aku langsung menoleh ke arah Penyihir Lavender. Yang lalu dia balas dengan sebuah senyuman menggoda.


"Ilusi bukanlah keahlianku. Feline menerima gelang tersebut dari Ayahku setelah Feline setuju untuk bekerja di rumah ini"


Begitu...?


"Oh, apakah Canary belum memberitahukan kepadamu sebelumnya? Tempat kita berada sekarang adalah kediaman keluargaku"


Sekali lagi informasi memenuhi kepalaku yang membuatku tidak tahu harus berkata apa. Setelah menghabiskan satu teh hangat barulah aku kembali sanggup berpikir dengan jelas.


Walau takut, aku masih harus menanyakan ini.


"Selain ras dan penampilan, apakah masih ada perubahan lainnya?"


"Hmm... Aku rasa ini"


Kak Canary lalu memunculkan pusaran angin dari telapak tangannya. Yang lalu diiringi oleh Penyihir Lavender yang membuat semua kue yang ada di atas meja melayang begitu saja.


Feline...


"Jangan tatap aku seperti itu. Aku ini murni fisik, sihir bukanlah keahlianku"


Dengan penuh rasa antisipasi, aku lalu menatap kepada kedua tanganku sendiri. Mencoba mengingat perasaan saat aku menggunakan sihir di dalam game, aku mulai merasakan sesuatu mulai berjalan dari jantung menuju kedua telapak tanganku.


Kemudian...


"[Lightning Magic] yah"


Dari kedua telapak tanganku muncul percikan listrik berwarna keemasan serta sensasi menggelitik yang menandakan kalau ini bukanlah mimpi atau ilusi.


"Aku, aku benar-benar bisa menggunakan sihir!"


...


Saat ini hari sudah malam.


Berbaring di dalam kamarku yang sederhana, aku kembali mengingat semua yang terjadi.


Dengan di antar oleh sopir yang sama yang membawaku menemui Kak Canary, aku sampai di rumah sebelum senja tiba.


Pemandangan Ayah dan Ibu yang menerimaku dengan wajah penuh kecemasan tidak pernah bisa aku lupakan. Terlebih saat mereka melihatku mengenakan cosplay wanita kantoran sambil membawa tas-tas penuh akan baju baru berbagai gaya termasuk baju yang tadi aku kenakan saat berangkat dan sudah di cuci bersih oleh Maid di rumah Penyihir Lavender, membuat mereka membayangkan yang tidak-tidak.


Barulah saat aku mengatakan aku hanya pergi berbelanja dengan teman-teman perempuanku yang kaya raya mereka baru bisa tenang.


Tentu saja itu semua hanya alasan karena tidak mungkin aku menceritakan semua yang terjadi hari ini. Bisa-bisa aku di bawa ke rumah sakit jiwa oleh


mereka.


Kebetulan baju-baju baru ini adalah pemberian dari Kak Canary sebagai caranya untuk menenangkan hatiku.


"Sungguh..."


Walau sekarang aku tidak bisa lagi beralasan 'Ini semua hanya game' entah mengapa aku malah menjadi tenang meski tahu kalau dosa milikku tidak akan pernah di ampuni oleh Tuhan yang maha esa.


Maksudku, kalau Iblis itu nyata adanya, itu berarti Tuhan dan Malaikat juga pasti ada kan?