
Tiga hari telah berlalu semenjak pertempuran di perbatasan antara Drakon Kingdom dengan Ferox Kingdom di mulai.
Korban yang berjatuhan dari pihak Drakon Kingdom masih dalam angka minimal sehingga kerugian mereka tidaklah terlalu besar.
Di sisi lain, sudah tidak terhitung berapa banyak Mobs yang berhasil di kalahkan di medan pertempuran.
Akan tetapi, pada akhirnya mereka hanyalah Mobs. Musuh yang sebenarnya masih belum menampakkan diri mereka.
...
Saat ini aku sedang beristirahat di rumah pribadi yang aku beli dengan hadiah dari berbagai macam Quest yang telah aku selesaikan bersama dengan teman-teman terbaik yang bisa aku dapatkan.
Selain diriku, terdapat wanita yang paling aku sayangi, Winzi.
Winzi tampak kelelahan meski tidak ikut bertarung di garis depan. Hal itu dikarenakan selama tiga hari ini dia secara aktif membantu di dapur umum untuk memberi makan para prajurit dan Petualang yang kelaparan.
Karena bala bantuan dari para Petualang lainnya telah tiba kemarin, membuat pembagian shift menjadi lebih lenggang sehingga aku bisa bersantai seperti ini meski hanya sebentar.
Meski begitu, bala bantuan dari pihak Kerajaan masih belum kunjung datang.
"Entah mengapa tempat ini sekarang menjadi ramai seperti ini"
"Haha... Meski kita membelinya untuk bisa bersantai, situasi seperti ini memang tidak biasa"
"Apa maksudmu? Bukankah kau membeli tempat ini dengan sangat sadar kalau tempat ini kapan saja bisa menjadi medan perang?"
Aku tidak bisa menyangkalnya.
Jika aku ingin tempat tinggal yang aman dan tentram. Aku pasti akan memilih tempat yang relatif terpencil namun tetap mudah untuk diakses dan jauh dari tempat berbahaya.
Jelas memilih rumah di dekat perbatasan antar kerajaan bukanlah pilihan yang bijak untuk tempat tinggal idaman.
"Meski ini adalah game, meski kau melakukan ini demi bisa melindungi orang banyak, berjanjilah. Kelak saat kita memilih tempat tinggal sejati, tempat itu akan jauh dari konflik dan mara bahaya"
"Hm, aku berjanji"
Kami lalu bergandengan tangan dengan jari-jemari kami saling mengunci satu sama lain. Apa yang ada pada pandanganku sekarang hanyalah sosoknya seorang. Perlahan... Wajah kami saling berdekatan...
"Winzi... Haus!"
Tanpa rasa malu sedikit pun, Feline menerobos masuk sambil meminta dibawakan air. Winzi yang tampak telah terbiasa dengan enggan bergerak menjauh dariku untuk pergi ke dapur mengambil air.
Melihat Winzi yang sudah pergi, Feline lalu tanpa ragu duduk menempel tepat di sampingku di sisi yang berlawanan dari Winzi sebelumnya.
"Kau benar-benar berani yah"
"Kenapa? Kau juga selalu melakukannya dengan Winzi kan? Bahkan kalian baru saja melakukannya. Jadi apa salahnya jika aku juga ingin melakukannya?"
"Dari mana pun kau melihatnya, tindakanmu itu sangatlah salah"
Tampak tidak mengindahkan perkataanku, Feline malah melingkarkan kedua lengannya kepadaku dengan sangat erat sambil menyandarkan kepalanya tepat di bahuku.
Feline menjadi sangat dekat sehingga aku bisa mencium aroma yang sangat wangi darinya. Apakah dia menggunakan parfume?
Tidak hanya itu, dia bahkan mulai mengeluarkan suara mendengkur selayaknya seekor kucing.
Winzi yang pergi ke dapur akhirnya kembali sambil membawa segelas air dingin. Selesai memberikan segelas air kepada Feline yang langsung menghabiskannya dalam sekali teguk, Winzi lalu kembali ke posisinya yang semula sambil meniru Feline dengan melingkarkan kedua lengannya kepadaku dan mulai menyandarkan kepalanya.
Karena tinggi badan kami yang berbeda jauh, bukannya bersandar pada bahuku, Winzi malah bersandar pada lenganku.
Mendapati dua wanita cantik di kiri dan kananku, aku jadi bingung apa yang sebenarnya telah aku perbuat sehingga aku sampai pada situasi ini?
"Winzi, apakah kau tidak masalah dengan Feline?"
"Pada suatu titik aku sudah menyerah..."
"Yay... Dapat izin dari istri pertama!"
Ya tuhan... Aku sudah tidak sanggup untuk berkata apa-apa lagi.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan dari pintu depan. Pada situasi seperti ini, itu pasti adalah Yari atau pak Weise yang datang untuk memberi laporan. Akan tetapi, aku tidak dalam situasi untuk berdiri dan membukakan pintu.
"Pintunya tidak dikunci! Masuk saja!"
"Hei, Feline!"
"Baiklah, permisi..."
Apa yang masuk dari pintu bukanlah Yari atau pun pak Weise. Melainkan Pelayan dari Penyihir Lavender, Percy. Mungkin karena Equipment miliknya sedang di perbaiki, dia hanya mengenakan Light Armor yang terbuat dari
bahan kulit yang biasa dikenakan oleh para pemula.
Dengan langkah yang tegap, dia berjalan menuju ruang tamu dan melihat keadaan kami yang sekarang.
"...kedatanganku kemari adalah untuk mendiskusikan rencana yang telah dibuat sebelumnya. Tapi karena tampaknya kalian sedang sibuk, aku akan datang la..."
"Tidak apa-apa, katakan saja. Kami menyimak"
"Hei, Feline. Ini masalah serius"
"Lanjutkan saja, kami mendengarkan"
"Kau juga, Winzi!?"
"Baiklah..."
Meski rada canggung, kami akhirnya berhasil menyelesaikan diskusi kami dengan cukup lancar. Karena masih ada banyak waktu sebelum waktu untuk melaksanakan Quest khusus tiba, kami lalu berbincang bersama tentang
masalah yang sepele.
"Eh, jadi kau itu adalah seorang Golem?"
"Itu benar, Master menciptakanku sebagai tameng yang melindunginya dari segala mara bahaya yang menghampirinya"
Sungguh tidak bisa dipercaya.
Dari setahun lebih aku berada di sini, aku telah melihat berbagai macam Golem.
Baik itu Golem buatan sampai Golem liar yang berkeliaran sebagai Mobs di reruntuhan kuno telah aku temui. Meski begitu, mereka semua memiliki ciri yang sama. Yaitu, mereka pasti akan berwujud seperti robot.
Bahkan yang paling mendekati sosok manusia hanyalah boneka manekin yang telah di buat sedemikian rupa untuk mirip dengan manusia yang digunakan oleh seorang Puppeteer untuk bertarung sekaligus menjadi pelayannya atau
golem dari tanah liat yang dibuat oleh seorang Otherworlder yang sangat antusias untuk menciptakan harem golem miliknya sendiri.
Sayang, walau penampilannya mungkin mirip dengan manusia atau ras humanoid lainnya, tapi pada akhirnya mereka hanyalah Golem biasa yang hanya bisa menerima perintah sederhana dan tidak memiliki kesadaran sendiri.
Ini adalah pertama kalinya aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri kalau ternyata terdapat Golem yang sangat menyerupai Manusia baik itu dari segi penampilan maupun caranya berbicara dan bahkan memiliki kesadaran dan kehendaknya sendiri.
"Aku tahu kalau Penyihir Lavender itu memiliki kemampuan untuk menciptakan Golem. Tapi, kau..."
"Memang benar kalau Master memiliki Golem buatan masal seperti yang kalian lihat di awal pertempuran. Tapi, kami adalah Golem khusus buatannya yang bertugas sebagai Pelayanannya yang setia"
Sekali lagi aku menjadi tersadar akan betapa menakjubkannya kemampuan dari seorang Penyihir itu. Meski aku memiliki bonus sebagai seorang Otherworlder. Aku akan berpikir dua kali sebelum menantang seorang Penyihir.
Hal ini membuat perkataan Turbo mengenai Penyihir menjadi benar adanya.
Membangun sebuah benteng dalam sekejap mata, memiliki ratusan Golem yang bertarung tanpa rasa takut, serta yang paling baru, Golem yang sangat manusiawi.
Belum lagi...
Aku menatap ke balik jendela.
Di seberang jalan, terdapat sosok Penyihir Lavender. Dia mengenakan jubah hitam dengan ornamen emas sambil mengenakan sebuah topi segitiga khas Penyihir serta sebuah Staff yang sangat mengintimidasi di tangannya.
Dari semua yang dia kenakan, Staff itu adalah yang terasa paling berbahaya dari semuanya.
Hanya dengan meliriknya saja, membuatku seolah ingin bersujud kepadanya. Bukan hanya itu, aku bahkan sering melihat para Petualang yang tampaknya dari Gelombang ke-3 langsung bersujud ketika mereka memandangi sosok Penyihir Lavender.
Selama tiga hari ini, Penyihir Lavender tidak pernah menginjakkan kakinya di medan pertempuran. Lebih tepatnya dia bahkan tidak melangkahkan kakinya selangkahpun selama tiga hari ini.
Hal itu dikarenakan dia sekarang tidak dalam keadaan yang memungkinkannya untuk melakukan itu.
Berdiri di atas sebuah lingkaran sihir yang besar nan kompleks, Staff yang dia pegang terus memancarkan cahaya keunguan yang terkesan mengerikan. Rambutnya yang panjang tampak berkibar oleh sebuah hembusan angin yang tidak tampak. Matanya tertutup seperti orang yang sedang tertidur. Namun, mulutnya tanpa henti terus merapalkan sebuah mantra yang sunyi.
Pemandangan ini membawa kesan mistis yang mana sangat mirip dengan gambaran Penyihir di media kebanyakan.
Penyihir Lavender sudah berada dalam posisi seperti itu selama tiga hari penuh.
Tidak ada laporan mengenai orang yang melihatnya menghentikan rapalannya untuk beristirahat.
Jika yang dikatakan oleh pak Weise itu benar, maka Penyihir Lavender berniat untuk mengambil alih hutan Barriere demi bisa mendapatkan keunggulan dalam pertempuran kali ini.
Aku awalnya tidak mempercayai itu. Akan tetapi, setelah melihat semua yang telah dia lakukan. Dalam hati aku mempercayai kalau Penyihir Lavender memang memiliki kemampuan untuk melakukan itu.
Kalau kita membuat ini sebagai alur dari Quest, maka kami harus menahan musuh sampai seorang NPC penting menyelesaikan sebuah ritual yang mampu mengantarkan kemenangan mutlak. Kalau hanya sampai situ saja, maka tidak akan ada masalah.
Namun, dalam beberapa game. Ada cerita di mana musuh akan masuk ke wujud terakhirnya atau memanggil seekor makhluk raksasa yang membuat kami para Pemain harus berusaha mati-matian untuk mengalahkannya.
Tanpa terasa waktu telah berlalu cukup lama.
Percy yang puas mengobrol bersama kami, pamit undur diri untuk mengambil Equipment miliknya yang telah selesai diperbaiki.
Karena Winzi dan Feline masih belum melepaskan pelukan mereka, aku hanya bisa melihat sosok Percy yang menghilang dari balik pintu depan.
...
Pada bagian depan tenda tersebut, terdapat sebuah spanduk yang bergambarkan pedang yang menghunjam bumi.
Itu adalah tenda Blacksmith milik Guild Iron Sword.
Alasan kedatanganku ke sini adalah untuk mengambil Equipment milikku yang katanya telah selesai diperbaiki.
Sejak adanya Sechs, aku bisa menyerahkan urusan Equipmentku kepadanya. Sechs bahkan telah berhasil meningkatkan kualitas Equipment milikku sehingga membuatnya lebih kuat dan tahan lama.
Akan tetapi, dengan pertempuran sekaliber ini. Wajar saja jika daya tahan Equipmentku menjadi berkurang hingga harus diperbaiki.
"Permisi... Aku ingin mengambil Equipment!"
Apa yang ada di hadapanku adalah seorang lelaki yang diperkirakan baru berumur 20 tahunan.
Dia tidak memiliki rambut dan mengenakan setelan khas Blacksmith.
Namanya adalah Smith.
Aku menyerahkan perbaikan Equipment milikku kepadanya karena katanya dia adalah Blacksmith terbaik yang dimiliki oleh Guild Iron Sword.
"Oh, Nona Percy... Yah. Equipment kan?... Sebentar, aku ambilkan..."
"Kau tampak tidak enak badan. Apakah kau sudah istirahat yang cukup?"
"Kau pikir... Ini salah... Siaapppa!"
Bang!
Smith dengan kencang menjatuhkan sebuah kotak kayu yang berisikan Equipment milikku di atas meja. Aku bahkan merasa mendengar suara kayu yang retak namun aku tidak mengindahkannya.
Mengambil kembali Equipment milikku, aku memeriksanya dan menemukan tidak ada cacat sedikitpun dan performanya kembali seperti sedia kala.
"Seriusan... Dari mana sebenarnya kau... Mendapatkan monster itu!"
"Ini adalah barang drop dari Mid-Boss sebuah Dungeon yang Master kalahkan beberapa waktu lalu"
"Drop dari Boss!?... Ha... Wajar saja susah..."
Sekarang kau mengatakannya lagi. Saat aku pertama kali menyerahkan Equipment ini kepada Sechs, malamnya terdengar suara keras dari Workshop dan besoknya kau bisa menemukan banyak perabotan yang pecah atau rusak terkena hantaman palu.
Setelah menyelesaikan Equipment ini Sechs dengan tegas mengatakan untuk tidak merusaknya dalam waktu dekat.
Apakah mengerjakan Drop dari Boss sesusah itu?
"Halo, kami mau ambil Equipment!" "Paman, Equipment kami mana?"
Si kembar, Trita dan Vier datang dengan senyuman ceria di wajah mereka. Dari perkataan mereka, si kembar tampaknya juga menyerahkan Equipment mereka untuk di perbaiki.
"Kalian yah... Hei!... Ambilkan pesanan no.167... dan no.168!!!"
Smith berteriak meminta Blacksmith yang lain untuk mengambilkan sesuatu. Tidak lama datang seorang pemuda yang mengantarkan dua buah kotak kayu sebelum akhirnya kembali bekerja.
Apa yang ada di dalam kedua kotak itu tentu adalah Equipment milik si kembar.
Sechs sudah membuatkan mereka berdua Armor dan senjata yang baru.
Sekarang Trita telah mengenakan Light Armor yang terbuat dari besi yang ringan dan bersenjatakan sebuah Long Sword yang dibuat khusus hanya untuknya.
Vier juga sekarang telah mengenakan sebuah Light Armor dari bahan kulit dengan desain yang memudahkannya untuk bergerak. Tombaknya juga telah di ganti dengan Halberd karena Vier jauh lebih sering mengayunkan tombaknya dengan liar ketimbang melakukan gerakan menusuk.
"Yay... Armornya baru lagi!" "Hore... Pedangku kinclong lagi!"
Hah, dasar mereka berdua. Selalu saja membuat keributan.
"Sepertinya tempat ini lebih ramai dari yang biasanya"
"Oh, ketua... Ini Equipmentmu... Sekarang aku mau Log Out dulu... Bye"
Tepat setelah menyerahkan kotak kayu kepada Turbo, Smith lalu melakukan gerakan seperti sedang menyentuh sesuatu di udara sebelum akhirnya dia terjatuh begitu saja di atas tanah dengan mata tertutup.
Jika saja Master tidak memberikan pengetahuan tentang Otherworlder, aku pasti akan mengira dia pingsan karena kelelahan.
"Dasar si Smith. Tidak bisakah dia pergi ke tendanya terlebih dahulu?"
"Mau bagaimana lagi, tampaknya dia sangat kelelahan"
"Dia seharusnya tidak bekerja terlalu keras... Jadi, Nona Percy. Datang untuk mengambil pesanan juga?"
"Benar. Aku ingin bisa tampil prima untuk Quest yang akan datang"
"Oh, jadi Nona Percy juga ikut berpartisipasi yah?"
"Mau bagaimana lagi, karena mustahil bagi Master dan Nyonya Cardinal untuk turun tangan, maka kami lah yang harus maju mewakili Sol Ciel"
Pada saat aku dan Turbo sibuk berbincang, Zweite datang dengan ekspresi cemas tampak seolah sedang mencari sesuatu. Sama seperti kami, Zweite juga memiliki Equipment baru.
Zweite mengenakan sebuah Light Armor yang terbuat dari (Shadow Wolf's Hide) serta sedikit tambahan dari (Diamond Bear's Hide).
Berkat itu, Light Armor miliknya memiliki warna dominan hitam dengan corak kebiruan. Untuk desain, Sechs merancangnya berdasarkan sebuah tokoh pemanah yang cukup populer. Kalau tidak salah namanya adalah Robin Hood?
Sedangkan untuk busurnya, itu dibuat oleh Quin dengan menggunakan (Mythical Wood) yang menjamin kekuatannya.
"Percy, apakah kau melihat Trita dan Vier? Aku kehilangan jejak mereka beberapa waktu yang lalu"
"Si kembar? Bukankah mereka ada... Hei, dimana mereka?"
Tanpa aku sadari si kembar telah menghilang dari pandanganku. Pada saat aku dan Zweite mulai mencari keberadaan mereka, kami mendengar suara cengengesan dari balik meja.
"Hehehe..." "Hihihi..."
Saat kami menengok ke balik meja, kami mendapati sosok Trita dan Vier yang sedang asyik mencoret-coret wajah Smith yang sedang tertidur menggunakan arang.
Ya ampun... Apa yang mereka sebenarnya lakukan?
"Trita! Vier! Hentikan sekarang juga!"
"Baik...." "Oke..."
Setelah itu Zweite pamit sambil membawa si kembar yang pergi dengan ekspresi puas di wajah mereka.
"Bagaimana aku mengatakannya yah... Maaf atas perbuatan mereka?"
"Tidak apa-apa. Lagi pula ini bisa menjadi pelajaran bagi mereka yang Log... Tidur sembarangan"
Tampak dia memang tidak terlalu mempermasalahkannya, Turbo lalu memerintahkan anggotanya yang sedang senggang untuk membawa tubuh Smith ke tempat yang aman tanpa menghapus 'riasan' yang ada di wajahnya.
Karena urusanku disini telah selesai, aku pun kembali ke tenda Master dan bersiap untuk Quest yang akan aku terima.
...
"Tampaknya semua sudah berkumpul"
Komandan Onlay berbicara sambil menghadap pada sebuah papan kayu. Di permukaan papan tersebut terdapat sebuah peta sederhana yang tampaknya baru saja di gambar.
Selain Komandan Onlay, ada setidaknya 12 orang lagi yang berada di dalam ruangan.
Mereka adalah Doragon beserta anggota Partynya kecuali Winzi.
Turbo yang di dampingi oleh Sisteen dan Nos.
Serta Penyihir Cardinal dengan keempat Pelayan pribadi dari Penyihir Lavender.
Mereka semua berkumpul demi membicarakan strategi untuk sebuah Quest yang akan mengakhiri pertempuran ini.
Sebagai Pemimpin dari rapat strategi ini, Komandan Onlay kembali melanjutkan perkataannya.
"Tim pengintai telah berhasil mengetahui posisi pasti musuh serta jumlah pasukan yang mereka miliki. Aman dikatakan kalau musuh terdiri dari setidaknya 100 kesatria dengan Armor lengkap. 10 orang Perapal Mantra
(Caster) yang ahli dalam [Illusion Magic]. Dan yang paling utama adalah seorang Uskup yang merupakan pimpinan mereka"
Mendengar ini, semua orang di dalam ruangan tampak terkejut akan jumlah musuh yang terbilang sedikit. Tapi, mengingat jumlah Mobs yang digunakan oleh musuh, bisa dikatakan kalau pasukan utama mereka adalah para Mobs. Sedangkan kesatria dan Perapal Mantra itu hanyalah pengawal pribadi dari si Uskup.
Komandan Onlay pun menjelaskan strategi yang akan dilancarkan untuk menyerang jantung musuh.
Sebuah tim elite akan dikirim dengan tujuan utama untuk menghabisi si Uskup. Tim tersebut akan terdiri dari orang-orang yang sekarang berada di ruangan ini.
Sebagai Komandan utama, Onlay jelas tidak bisa ikut. Sedangkan Penyihir Cardinal tidak bisa ikut karena posisinya yang tidak memungkinkannya untuk bisa terlalu banyak ikut campur dalam konflik antar Kerajaan.
Oleh karena itu, hanya ada 11 orang yang akan menjalankan Quest ini.
Tentu mereka tidak akan pergi dengan 11 orang saja. Komandan Onlay telah memerintahkan satu batalion sebagai pengawal sekaligus pengalih perhatian.
"Dengarkan, kita tidak tahu seberapa kuat sebenarnya musuh yang kita hadapi. Tapi! Kemampuannya untuk mengendalikan Mobs sesuka hati adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi kita semua. Oleh karena itu, fokuskan untuk memisahkan mahkota terkutuk itu dari kepala musuh kalau perlu hancurkan!"
Mendapati tidak ada yang keberatan, Komandan Onlay melanjutkan dengan detail yang lebih terperinci.
Rapat dilaksanakan sampai sore hari.
Setelah istirahat sebentar, satu Party beranggotakan 11 orang berangkat di bayangan malam dengan satu batalion yang terdiri dari 1.000 orang maju terlebih dahulu di hadapan mereka.
Pertempuran di Hutan Barriere sebentar lagi akan mencapai puncaknya!