A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 48 : The Heirs of Drakon Kingdom



Pada sebuah aula yang megah dan penuh akan sejarah, terpajang sebuah singgasana yang sangat indah dan agung.


Singgasana tersebut sepenuhnya terbuat dari emas murni yang dihiasi oleh batu-batu permata nan indah dan berkilauan. Singgasana tersebut di posisikan sedemikian rupa agar membuat orang yang duduk di singgasana tersebut berada pada derajat yang lebih tinggi dari yang lain.


Duduk di atas singgasana tersebut adalah orang yang paling berkuasa di Drakon Kingdom.


Raja Krieger Blut Drakon.


Menghiasi rambutnya yang berwarna merah terang adalah sebuah mahkota emas yang dihiasi oleh sebuah permata berwarna biru tua yang sama dengan warna matanya. Dengan tatapan matanya yang tajam, membuat setiap orang yang jatuh dalam pandangannya menjadi takluk.


Berdiri di sampingnya adalah sang Putra Mahkota, Draco Blut Drakon.


Berbeda dari sang ayah, Draco memiliki rambut semerah bara api yang di sisir rapi. Matanya yang sebiru lautan di tambah dengan parasnya yang tampan membuat setiap wanita menjadi terhanyut dalam fantasi mereka.


Di hadapan mereka berdua adalah para bangsawan dan orang-orang penting lainnya. Masing-masing dari mereka berdiri di samping sebuah permadani merah yang terbentang dari pintu masuk menuju singgasana.


Alasan mereka semua berkumpul adalah untuk mendengarkan laporan terbaru dari pertempuran yang terjadi di perbatasan baru-baru ini.


"Masuk ke dalam ruangan, Komandan dari ordo kesatria ke-3. Komandan Onlay von Miller!"


Mengenakan Armor lengkap yang tampak berkilauan, Komandan Onlay berjalan dengan gagah sebelum akhirnya berhenti dan menundukkan kepalanya di hadapan sang Raja dan Putra Mahkota. Berjalan mengiringinya adalah dua orang kesatrianya yang paling setia.


"Lapor, hamba menghadap untuk memberikan laporan"


Suaranya lantang namun masih penuh sopan santun. Dengan satu anggukan kecil dari Raja Krieger, Onlay mendapatkan izin untuk lanjut berbicara.


Mendapatkan izin, Onlay lalu lanjut melaporkan segala yang terjadi di Hutan Barriere tanpa melewatkan satu pun detail.


Mendengarkan ini, ekspresi Raja Krieger yang awalnya tenang mulai menjadi murka.


"Jadi... Kau berkata bahwa orang-orang dari Narsist Kingdom berada tepat di perbatasan kita!"


Aura yang dipancarkan oleh Raja Krieger sangatlah mengintimidasi hingga membuat setiap orang di dalam ruangan baik itu bangsawan atau para penjaga gemetar ketakutan. Meski begitu, Pangeran Draco yang berada tepat di samping Raja tampak tenang seolah tidak merasakan apa-apa.


Berada tepat di bawah pandangan sang Raja, Komandan Onlay memaksakan dirinya untuk tetap lanjut bicara.


"Benar, para kesatria dari Narsist Kingdom yang berhasil kami tahan sekarang telah di tempatkan di penjara bawah tanah..."


Mendengarkan laporan lebih lanjut dari Komandan Onlay, aura yang dipancarkan oleh Raja Krieger mulai berkurang meski masih cukup terasa.


Meski begitu, tatapan tajamnya tetaplah sama.


Pandangannya yang awalnya terfokus pada Onlay kini mulai beralih menyapu para Bangsawan yang hadir dalam pertemuan ini.


Menyadari kalau mereka di bawah pandangan sang Raja, keringat dingin mulai membanjiri para Bangsawan yang gemetar ketakutan. Rasa cemas memenuhi diri mereka saat sang Raja hanya menatap mereka tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Onlay von Miller... Dirimu berakta bahwa engkau telah mengirimkan laporan segera setelah kau mengetahui keterlibatan Narsist Kingdom?"


"Itu benar... Yang Mulia"


"Lalu, mengapa diriku sama sekali tidak pernah mendengar hal ini?"


Pandangan sang Raja kini tertuju pada penasihatnya yang berdiri tidak jauh darinya. Badannya yang kurus membuatnya terlihat seperti hewan kecil yang berada di hadapan seekor singa.


Merasa tidak punya pilihan lain, si Penasihat hanya menjawab dengan penuh terbata-bata.


"Mo-mohon ma-maaf, Yang Mu-lia... Pihak istana, ti-tidak pernah sekalipun, menerima kabar dari perbatasan"


"Tidak sekalipun?"


"Be-benar sekali... Yang Mulia"


Tanpa perlu mengatakannya sekalipun, semua orang di ruangan bisa tahu kalau sang Raja tengah marah besar. Terlebih, para bangsawan yang wilayah mereka berada dekat dengan perbatasan serta mereka yang bertugas dalam mengurus alur informasi di Kerajaan. Pakaian mewah mereka telah basah sepenuhnya oleh keringat mereka sendiri.


Di tengah itu semua, sang Putra Mahkota tampak tenang bahkan tersenyum riang. Dengan langkah ringan, dia maju menghadap sang Raja yang tengah murka.


"Ayahanda, Putramu ini merasa kalau ini adalah sebuah bukti akan betapa pentingnya proposal yang telah diriku ajukan beberapa waktu lalu"


Dengan senyuman lebar di wajahnya, Putra Mahkota tampak seperti seorang anak kecil yang meminta mainan kepada ayahnya.


"Apakah kau sadar akan berapa banyak nyawa yang akan melayang jika proposalmu itu direalisasikan?"


"Itu adalah pengorbanan yang perlu..."


Mendengar percakapan antara sang Raja dan Putra Mahkota, seketika semua orang seakan membeku.


Tidak pernah ada yang menyangka kalau Pangeran mereka yang murah senyum sanggup untuk merencanakan sesuatu yang pasti akan membuat darah tertumpah dengan senyuman di wajahnya.


Sebagian bangsawan menjadi khawatir akan masa depan Kerajaan mereka, sedangkan sebagian lainnya merasa lega ketika mengetahui kalau penerus Raja yang selanjutnya adalah seseorang yang sanggup memerintah Kerajaan ini dengan tegas.


Seolah tertarik dengan reaksi mereka, senyuman sang Putra Mahkota tampak semakin cerah. Masih menghadap sang Raja, dia menunggu jawaban.


"...baiklah, jika ini berhasil, maka posisimu sebagai penerusku akan menjadi tidak terbantahkan. Namun, jika saja kau gagal..."


"Ayahanda bisa tenang, Putramu ini tidak akan gagal"


Dengan begitu, telah diputuskan bahwa apa pun proposal yang diajukan oleh sang Putra Mahkota, itu adalah sesuatu yang akan mengubah Kerajaan ini sepenuhnya.


Merasa dirinya telah tidak dibutuhkan lagi, Komandan Onlay menunggu agar dirinya diizinkan untuk undur diri...


"Tak perlu terburu-buru... Masih ada sesuatu yang membutuhkan kehadiranmu"


Atas perintah sang Raja, Komandan Onlay mengurungkan niatnya dan beralih ikut berjejer di antara para bangsawan lainnya.


Dengan izin dari sang Raja, orang selanjutnya dipersilahkan untuk memasuki ruangan.


"Masuk ke dalam ruangan, perwakilan dari Union. Headmaster Sebastien!"


Yang memasuki ruangan adalah seorang pria lanjut usia yang mengenakan jas rapi serta sebuah Rapier tergantung di pinggangnya. Meski sudah berumur, badannya tetap terlihat tegap dan berotot. Rambutnya yang telah memutih


terasa serasi dengan tampangnya yang garang.


Setelah sampai di posisi di mana Komandan Onlay sebelumnya berdiri, Sebastien lalu memberikan salam hormat di hadapan sang Raja.


"Lapor, hamba menghadap atas perintah Yang Mulia"


"Bagus, alasan kenapa kau dipanggil kemari adalah untuk mengatakan segala yang engkau ketahui perihal seorang Penyihir yang baru-baru ini berdiam di Kerajaan ini"


Mendengar kata 'Penyihir' ruangan seketika dipenuhi oleh suara para bangsawan yang saling berbisik satu sama lain.


Ini bisa dimaklumi.


Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa keberadaan seorang Penyihir bisa membawa dampak baik maupun dampak buruk kepada sebuah Kerajaan.


Terlebih, bagi seorang Penyihir yang jarang keluar dari kampung halaman mereka, memilih untuk menetap di suatu Kerajaan. Adalah sesuatu yang jarang dan mustahil untuk di lewatkan.


Berbeda dari yang lain, Komandan Onlay tampak mengetahui siapa sebenarnya Penyihir yang Raja maksud dan mengapa kehadirannya masih dibutuhkan.


"Diam!" hanya dengan satu kata, seluruh ruangan seketika kembali hening. Setelah yakin tidak ada lagi yang membuat suara, sang Raja memerintahkan Headmaster Sebastien untuk berbicara.


"Lapor, identitas dari Penyihir tersebut sudah diketahui. Penyihir itu bernama Lavender La Ciel..."


Sebastien dengan teliti menyebutkan apa saja informasi mengenai Lavender yang telah diketahui oleh Union. Termasuk laporan terbaru mengenai hubungannya dengan Sol Ciel dan Hutan Barriere yang baru saja dia ambil


alih.


"...sekian informasi yang telah kami ketahui. Penampakan terakhir dari Penyihir Lavender adalah berita mengenai dia bersama dengan Penyihir Cardinal tengah melewati Hutan Barriere untuk menuju Ferox Kingdom"


"Onlay... Apakah yang dia katakan itu benar adanya?"


"Benar, Yang Mulia"


Mengetahui kalau Penyihir yang kemungkinan bisa menjadi Penyihir Kerajaan pergi menuju Kerajaan tetangga memang sedikit mengkhawatirkan. Akan tetapi, mengingat situasi yang sekarang, kemungkinan besar mereka pergi ke Ferox Kingdom hanya untuk numpang lewat.


Tujuan mereka yang sebenarnya adalah kembali ke Sanguine Kingdom di mana markas dari Sol Ciel berada.


Mengingat Dungeon 'Miliknya' berada di dalam Kerajaannya, Raja Krieger menduga kalau Penyihir Lavender akan kembali dan saat itulah kesempatan untuk mengangkatnya menjadi Penyihir Kerajaan menjadi ada.


Benar, Raja Krieger berniat untuk menjadikan Penyihir Lavender sebagai Penyihir Kerajaan.


Tentu saja dia sudah menyiapkan sebuah hadiah yang sangat menggiurkan bagi Penyihir mana pun. Bahkan jika tawarannya di tolak sekalipun, Raja Krieger masih berharap untuk setidaknya menjaga hubungan pertemanan


dengan Penyihir Lavender.


Akan tetapi, tampaknya tidak semua orang sepemikiran dengannya.


"Yang Mulia, apakah Anda akan diam saja saat seseorang mengambil alih wilayah Kerajaan kita!?"


"Benar sekali!"


"Hanya karena dia itu Penyihir, bukan berarti mereka bisa seenaknya di Kerajaan lain!"


"Terlebih Penyihir itu adalah seekor Half-Demon! Kita harus memusnahkannya secepat mungkin!"


"Itu benar!"


"Yang Mulia..."


Para bangsawan tiada hentinya menyuarakan pendapat mereka seakan mereka sedang kesetanan. Pemandangan mereka yang terdiam ketakutan sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah pemandangan orang-orang yang berpakaian kelewat mewah berseru seperti para buruh yang meminta kenaikan gaji.


"DIAM KALIAN SEMUA!!!"


!!!!Bang!!!!!


Hanya dengan satu hentakan saja, seluruh istana seakan terkena gempa bumi. Mereka yang tidak berdiri dengan benar seketika terjatuh ke lantai setelah terkena guncangan itu.


Para bangsawan yang awalnya ribut seketika kembali terdiam seribu bahasa. Keringat dingin telah sepenuhnya membanjiri mereka setelah mereka tersadar akan apa yang baru saja mereka lakukan.


"Mo-mohon maaaf atas kelancangan kami!"


"""!Mohon Maaf atas kelancangan kami!"""


Satu-persatu mereka bersujud memohon ampun di hadapan sang Raja.


Menyaksikan ini, Raja Krieger hanya bisa pasrah dan mulai menganggap kalau proposal dari putranya memanglah perlu.


"Mungkin ada dari kalian yang tidak menyadari ini... Hutan Ibis dan Hutan Barriere bukanlah bagian dari Drakon Kingdom"


Atas perkataan sang Raja, banyak bangsawan yang memiliki tanda tanya di kepala mereka. 'Hutan Ibis dan Hutan Barriere bukanlah bagian dari Drakon Kingdom? Mustahil!' seperti itulah isi kepala mereka pada saat ini.


"Ayahanda, biar Putramu ini yang melanjutkan"


"Silakan..."


Dengan persetujuan dari sang Raja, Putra Mahkota lalu menceritakan kepada para hadirin sedikit sejarah dari Drakon Kingdom.


Dulu sekali, Hutan Ibis hanyalah hutan biasa. Namun! Setelah seekor Iblis (Demon) menempatinya dan menjadikan hutan itu sebagai sarangnya, semuanya berubah.


Saat itu Kota Gata masih belum berdiri. Yang ada hanyalah padang rumput kosong biasa.


Pada saat Drakon Kingdom akhirnya menyadari bahwa terdapat Iblis yang bersemayam di hutan itu, Raja Drakon Kingdom pada saat itu segera mengirim pasukan elite untuk menaklukkan Iblis tersebut.


Tentu saja si Iblis tidak akan tinggal diam. Dengan pasukannya sendiri, dia berhadapan dengan pasukan dari Drakon Kingdom secara langsung.


Setelah pertempuran yang cukup lama, Raja Drakon Kingdom pada saat itu akhirnya mengutus salah satu Putranya untuk pergi dan menaklukkan Iblis tersebut.


Dengan bersenjatakan artefak kebanggaan Drakon Kingdom, sang Pangeran berangkat maju ke medan pertempuran.


Pada akhirnya, tidak ada lagi kabar mengenai Pangeran tersebut setelah dia memasuki hutan. Begitu juga dengan Iblis yang bersemayam di sana.


Orang-orang akhirnya beranggapan bahwa Pangeran mereka berhasil menghabisi si Iblis dengan mengorbankan nyawanya sendiri.


Meski begitu, banyak orang masih pesimis bahwa Iblis itu masih hidup.


Terlebih dengan kondisi Hutan itu yang sekarang dipanggil dengan Hutan Ibis telah berubah sepenuhnya. Banyak orang mulai menghilang saat memasuki hutan tersebut. Rumor mengatakan mereka melihat penampakan Mobs yang berbahaya di dalam sana.


Hal itu memberikan kesan bahwa Hutan Ibis telah di kutuk oleh si Iblis yang sedang memulihkan luka-luka yang dia derita saat melawan Pangeran.


Demi menenangkan mereka, sebuah kota yang berfungsi sebagai benteng didirikan di dekat hutan tersebut sebagai pencegahan jika saja Iblis itu benar-benar masih hidup.


"...dan begitulah para hadirin sekalian, awal kisah terbentuknya Kota Gata. Dengan begitu kita semua bisa mengetahui. Meski Hutan Ibis termasuk ke dalam wilayah Kerajaan kita, hutan itu termasuk ke dalam kawasan


terlarang yang tidak bisa kita sentuh.


Bahkan, jika, dan hanya jika, kita bisa mengalahkan Penyihir Lavender dan mengklaim kembali Hutan Ibis, kita tetap tidak akan bisa melakukan apa-apa terhadap hutan itu.


Lagi pula, aku dengar bahwa pendapatan Kota Gata meningkatkan drastis semenjak Hutan Ibis menjadi sebuah Dungeon. Bukankah itu sama saja artinya bahwa tindakan dari Penyihir Lavender telah membantu menyejahterakan Kerajaan ini?


Lalu, soal item terkutuk yang mampu mengendalikan pasukan Mobs, bukankah lebih baik jika item tersebut diserahkan kepada Penyihir Lavender, kepada Sol Ciel? Jika itu mereka, mereka pasti mampu menangani dan


menjaga item tersebut dengan aman. Bayangkan, jika Kerajaan lain mengetahui jika Drakon Kingdom memiliki sebuah item seperti itu? Apakah mereka tidak akan menaruh kecurigaan kepada kita? Apakah kalian ingin hubungan antar Kerajaan yang telah dibangun selama puluhan tahun runtuh hanya karena sebuah item?"


Tidak ada yang mampu menyangkal perkataan Pangeran Draco. Mereka semua hanya bisa tertunduk malu atas tindakan mereka yang kekanak-kanakan.


Puas, Pangeran Draco lalu kembali ke tempatnya semula dan membiarkan sang Raja untuk kembali memimpin.


"Seperti yang telah kalian dengar, tindakan dari Penyihir Lavender sampai saat ini hanya memberikan keuntungan bagi Drakon Kingdom. Diriku juga percaya bahwa apa yang dia lakukan terhadap Hutan Barriere juga akhirnya akan


memberikan dampak positif bagi kita semua"


Merasa topik ini sudah selesai, Raja Krieger lalu mempersilahkan Headmaster Sebastien untuk mundur sebelum akhirnya memanggil orang selanjutnya.


"Sekarang, katakan kepadaku. Apa tindakan yang akan kita ambil terhadap para pengungsi yang datang ke Kerajaan kita yang tercinta? Serta, berapa banyak pasukan yang harus kita kirim untuk membasmi para orang narsis itu?"


...


Masih di dalam Istana, pada sebuah ruang belajar, terdapat pemandangan seorang guru sedang mengajari muridnya.


Sang murid yang merupakan seorang gadis yang baru saja menginjak usia 12 tahun tampak sedang belajar dengan tekun.


Mengenakan sebuah gaun berenda yang lucu, serta sebuah kacamata kecil yang menutupi matanya yang sebiru lautan, gadis itu tampak menyimak apa yang dikatakan oleh gurunya sembari menyapu rambut merahnya yang terlalu panjang hingga terkadang menutupi pandangannya.


Nama gadis itu adalah Wyrms Blut Drakon.


Putri pertama sekaligus urutan kedua dari jajaran penerus Drakon Kingdom.


Meski masih sangat muda, kecerdasannya sudah diakui oleh banyak orang. Di tambah dengan karakternya yang penurut, membuatnya sangat disukai oleh para Pelayan serta para penjabat yang bekerja di dalam Istana.


"Apakah Wyrms disini!"


Orang yang masuk dengan cara yang sangat tidak sopan hingga mengganggu jadwal belajar seorang Putri Kerajaan. Tidak lain dan tidak bukan adalah kakaknya sendiri.


Pangeran kedua dari Drakon Kingdom, Drake Blut Drakon.


Memiliki mata dan rambut sebiru lautan yang dia warisi dari ibunya, paras yang tampan, serta posisinya sebagai seorang Pangeran Kerajaan, membuatnya digemari oleh para gadis bangsawan meski tidak sebanyak kakak tertuanya, Draco.


Walaupun Drake itu tiga tahun lebih tua dari adiknya Wyrms, namun dia malah berada pada urutan terakhir dalam warisan.


Menanggapi sikap tidak sopan dari kakaknya, Wyrms hanya menyapanya sambil menampilkan senyuman yang tidak pernah memudar dari wajahnya.


"Wahai kakanda, apakah kakanda tidak takut akan amarah Ibunda jika mengetahui sikap kakanda yang tidak sopan ini?"


"Cukup dengan senyuman menjijikkan itu! Aku datang kesini untuk bertanya!"


"Pertanyaan apakah itu?"


"Tch, berhenti tersenyum dan katakan kepadaku! Bagaimana bisa kau yang jauh lebih muda dariku malah mendahuluiku dalam hak waris!"


Putri Wyrms melirik ke arah pintu yang baru saja di dobrak yang menampilkan beberapa penjaga istana yang tidak tahu harus apa. Selanjutnya dia melirik ke arah gurunya yang hanya bisa terdiam karena tidak bisa melanjutkan pelajaran.


Dengan senyuman yang sama di wajahnya, Putri Wyrms akhirnya menatap lurus kepada kakaknya.


"Diriku rasa fakta tentang kakanda yang masih tidak menyadari apa yang baru saja kakanda lakukan sudah merupakan jawaban yang paling jelas..."


"Diam kau dasar cacing!"


Tidak tahan dengan ekspresi serta perkataan dari adiknya sendiri, Pangeran Drake yang dikuasai oleh amarah menerjang langsung ke arah adiknya dengan tangan kanannya yang terkepal.


Para penjaga yang melihat ini segera berusaha untuk menghentikan Pangeran Drake. Sayang, mereka terlalu jauh hingga tidak sempat melakukannya.


Hanya tinggal satu inci lagi sebelum kepalan tangannya mendarat di wajah adiknya yang masih saja tersenyum. Akan tetapi, tanpa dia sadari sosok adiknya telah menghilang dan tangannya hanya meninju udara kosong.


Di saat yang sama, karena tidak bisa menghentikan lajunya, membuat kaki Pangeran Drake menyenggol kursi yang awalnya di duduki oleh Putri Wyrms yang akhirnya membuatnya terjatuh dengan keras di lantai.


"Agh..."


Menahan rasa sakit, Pangeran Drake mendapati bahwa adiknya telah berdiri di sampingnya sambil membenarkan posisi kacamatanya dan menatap rendah ke arah Pangeran Drake yang sekarang sedang terduduk di atas lantai.


Sesaat kemudian, para Penjaga Istana segera menahan Pangeran Drake untuk mencegahnya berbuat lebih jauh lagi.


"Tidak hanya mengganggu waktu belajarku, kakanda bahkan berusaha untuk melukai diriku. Ibunda tidak akan senang dengan hal ini, tahu?"


Melihat ekspresi tidak bersalah dari adiknya, Pangeran Drake menjadi sangat murka.


"Dasar cacing! Hei, kalian! Lepaskan aku! Apakah kalian lupa aku ini siapa!"


"Maafkan kami, tapi kami hanya menjalankan perintah"


"Kalau begitu aku perintahkan lepaskan tangan kalian dariku! Aku ini Pangeran kalian!"


Menonton kakaknya di arak dengan paksa ke luar ruangan, Putri Wyrms melambaikan tangannya dengan senyuman manis di wajahnya.


Setelah Pembantu Istana membereskan kembali ruang belajar yang sedikit berantakan, Putri Wyrms lalu melanjutkan kembali belajarnya yang sempat tertunda.