A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 87 : The Girl Who Can't Cook



Namaku adalah April Benita, 16 tahun.


Kedua orangtuaku adalah pemilik dari sebuah Rumah Makan Sederhana yang kalau boleh aku katakan cukup populer dan selalu dipenuhi oleh pelanggan yang ingin mengisi perut mereka.


Terima kasih karena kemampuan kedua orangtuaku dalam hal memasak yang membuat Rumah Makan kami menjadi populer. Saking hebatnya kemampuan memasak mereka, membuat banyak orang memohon untuk menjadi murid mereka.


Walau aku adalah seorang Putri dari pemilik Rumah Makan, sayangnya aku tidak mewarisi bakat memasak mereka.


Tidak peduli seberapa keras aku belajar, entah mengapa semua masakanku selalu berakhir sebagai kegagalan.


Kadang masakanku menjadi hambar, terkadang terlalu asin, dan pernah sekali masakanku memiliki rasa campur aduk yang membuat Ayahku yang pada saat itu mencicipinya berakhir terjebak di toilet selama dua jam penuh.


Sungguh, yang aku bisa hanyalah memasak air, mie instant, dan telur rebus. Selain itu maka akan selalu berakhir dengan kegagalan.


Berkat itu aku terjebak menjadi seorang pramusaji di Rumah Makan milik keluargaku sendiri.


Aku ingin sekali bisa memasak. Bukan hanya agar aku bisa membantu orangtuaku di dapur, melainkan agar aku bisa mewarisi resep keluarga yang telah diturunkan secara turun temurun sejak jaman Nenek Buyutku.


Sekali lagi, tidak peduli seberapa banyak aku meluangkan waktu luangku untuk belajar memasak. Itu semua hanya akan berakhir sia-sia.


"April...!!! Mau main game bareng?!"


Ucap salah satu teman sekelasku dengan keras padahal hari masih pagi dan dia baru sampai ke dalam kelas. Di tangannya adalah sebuah lembar promosi yang entah dia ambil dari mana. Pada lembar promosi itu menunjukkan


sebuah game VR yang bernama Freedom 2.


Jujur ini bukan pertama kalinya dia mengajak (Memaksa) orang lain untuk mencoba game baru bersamanya. Pada akhirnya dia akan selalu berakhir asyik sendiri dan lupa untuk bermain bersama.


"Ini game apa lagi?"


Berpura-pura untuk tertarik seperti biasa, aku sukses untuk membuat temanku itu menjadi bersemangat dan mulai menjelaskan tentang game baru tersebut.


"Ini game VRMMORPG. Tapi rumor mengatakan kalau game ini super realistis sampai ada peringatan bagi mereka yang bermental lemah di sarankan untuk tidak memainkan game ini!"


Apakah ini game horror? Tapi penjelasannya yang selanjutnya menarik perhatianku.


"Di sini kau juga bisa bermain sebagai ras lain yang bukan manusia seperti Peri, Putri Duyung, Vampire, Manusia Kucing, Putri Duyung, Elf, Dwarf, Putri Duyung, oh, apakah aku sudah menyebutkan kalau kau bisa bermain


sebagai Putri Duyung di sini?!"


"Kau hanya ingin bermain sebagai Putri Duyung kan? Apakah sebegitu pengennya kau berubah menjadi buih-buih di lautan?"


"Hei! Aku bukan gadis yang patah hati! Dengar, di sini kau tidak hanya bisa bertarung saja. Kau juga bisa bermain sebagai pekerja produksi seperti Penempa dan Tukang Kayu... Kau bisa menjadi seorang Koki di sini"


Mendengar hal ini, aku pun menjadi tertarik untuk mencobanya.


...


"Adek... Ayo makan!"


"Nanti! Belum lapar!"


Menolak suruhan untuk makan dari Ibuku, aku segera mengambil perlengkapan VR ku dan mencoba untuk kembali Log In... Hanya untuk mendapati kalau pintu kamarku di dobrak secara paksa dan aku pun di seret ke dapur untuk


makan.


Dengan sepiring makanan di hadapanku, aku pun di suruh untuk menghabiskannya selagi Ibuku berdiri tepat di belakangku dengan sebuah handuk di tangannya.


"Ya ampun dek... Kamu itu sudah gede, sudah cantik macam Emakmu ini... Tapi ya kalo habis mandi ya rambutmu ini dikeringkan dulu"


Dengan Ibuku yang berusaha untuk mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk, aku pun berusaha untuk menelan sepiring makanan yang disuguhkan kepadaku meski aku tidak merasa lapar.


Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa tidak nafsu makan. Bahkan pernah sekali karena saking tidak merasa lapar, sampai-sampai seharian aku tidak makan ataupun minum sedikitpun hingga membuat kedua orangtuaku


khawatir.


Berkat itu mereka akan melakukan apapun untuk memaksaku makan bahkan jika itu berarti mendobrak pintu kamarku dan menyeretku ke dapur untuk makan seperti saat ini.


"Kulitmu juga pucat begini... Habis ini berjemur sana biar sehat mumpung masih pagi"


Melihat tanganku sendiri, kulitku yang awalnya sawo matang kini tampak pucat seperti orang yang sedang sakit.


Sebagai pembelaan, setiap hari aku sudah berjemur sambil menyapu halaman Rumah Makan sehingga mustahil aku kekurangan sinar matahari. Hanya saja akhir-akhir ini kulitku kian lama kian memucat dengan sendirinya. Ayahku bahkan berniat untuk pergi membawaku ke dokter untuk memeriksa kesehatanku meski aku tidak merasa sedang sakit.


"Aduh dek, kamu ini mandi pake sampo apa sih..."


Mendapati rambutku masih tetap basah tidak peduli seberapa keras dia berusaha untuk mengeringkannya, Ibuku menjadi frustrasi hingga dia mulai mengelap rambutku dengan kasar hingga mulai terasa sakit.


Segera bangkit dari kursi, aku mengamankan rambutku sebelum dibuat rusak oleh usapan handuk yang kasar.


Bukannya aku tidak mengerti dengan rasa frustrasi Ibuku, aku juga merasa aneh sendiri karena entah sejak kapan rambutku yang awalnya biasa saja kini akan selalu terasa basah meski aku tidak menyentuh air sedikitpun.


Walau memang aku akui waktu mandiku itu cukup lama, tapi aku bersumpah itu tidak ada hubungannya dengan tekstur rambutku.


Tepat di saat aku sibuk menghalau Ibu yang masih mencoba untuk mengeringkan rambutku, Ayahku yang seharusnya sedang sibuk bersiap untuk membuka Rumah Makan datang masuk ke dapur.


"April, itu temanmu ada datang berkunjung"


"Teman? Siapa?"


"Katanya namanya Feline"


Feline? Apakah maksudnya Feline yang itu?!


Mendapatkan alasan yang tepat, aku pun akhirnya bisa lolos dari cengkraman handuk Ibuku. Tiba di depan Rumah Makan yang sebenarnya adalah bagian depan dari rumahku, duduk di salah satu meja yang berada dekat dengan pintu masuk adalah seorang gadis yang mengenakan baju training berwarna hitam dengan corak putih sedang duduk dengan santai.


Gadis itu memiliki rambut hitam sebahu dengan tatapan mata yang tajam. Di tangannya adalah sebuah gelang besi dengan motif kucing yang sekilas terlihat artistik.


Namun, entah mengapa aku bisa merasakan ada hal yang tidak beres dari gelang tersebut.


Jujur aku tidak pernah bertemu dengan Feline secara langsung sebelumnya.


Yang aku tahu dia itu adalah seorang Pemain terkenal yang tergabung ke dalam sebuah Party bernama The Guardian yang namanya sudah dikenal oleh seluruh Pemain yang ada.


Satu-satunya interaksiku dengannya adalah melalui forum.


Jadi aku tidak tahu apakah orang yang ada di hadapanku saat ini adalah Feline yang asli atau bukan. Tidak, bahkan jika dia memang benar-benar adalah Feline. Memangnya apa tujuan yang dia miliki sampai-sampai


menemuiku secara langsung seperti ini?


Sebelum itu, memangnya dari mana dia bisa mendapatkan alamatku?


Tampak menyadari kedatanganku, gadis yang mengaku sebagai Feline itu pun menoleh ke arahku sebelum akhirnya melambaikan tangannya sambil mengucapkan salam.


"Halo, Juni, kan? Perkenalkan, namaku di sana adalah Feline. Sedangkan namaku di sini adalah Yasmin"


"...Juni. Nama asli April. Jadi, siapa kau sebenarnya dan kenapa kau bisa tahu alamatku?"


"Kan sudah aku bilang kalau aku itu Feline... Kalau soal alamat itu rahasia"


Bangkit dari tempat duduknya, Feline atau bisa aku sebut Yasmin berjalan dengan santai ke arahku. Waspada, aku mundur selangkah sambil meraih botol kecap yang berada di atas meja tepat di sampingku untuk jaga-jaga.


"Tenang saja, aku di sini hanya untuk..."


Belum sempat Yasmin selesai bicara, dengan cekatan dia segera menggeser kepalanya ke samping. Berkat itu sebuah piring plastik yang terbang dengan cepat ke arahnya meleset dan berakhir menghantam meja di


belakangnya sebelum memantul ke dinding dan berakhir tergeletak di atas lantai yang masih belum di sapu.


Pelaku yang melempar piring itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ayahku sendiri yang kini sudah membawa sebuah pisau khusus daging di tangannya. Tepat di sampingnya adalah Ibu yang kini sedang menggenggam sampu


dengan ekspresi siap tempur di wajahnya.


"Aku tidak tahu siapa kau tapi jangan berani kau maju selangkah lagi"


Selagi Ayah mengancam Yasmin dengan pisau daging, Ibu segera meraihku dan menyuruhku untuk berlindung di belakang mereka.


Melihat ini, Yasmin hanya bisa mendesah lelah...


"Ya ampun, padahal aku ke sini hanya untuk menawarkan pekerjaan... April, di Freedom 2 kau bermain dengan ras Naiads kan?"


"...Itu benar. Semua orang juga tahu itu... Memangnya kenapa?"


"Naiads. Sang gadis air. Mereka adalah ras Roh (Spirit) yang memiliki ciri-ciri paras cantik, kulit pucat, serta rambut mereka yang selalu tampak basah"


Apa yang Yasmin katakan itu memang adalah ciri-ciri dari ras Naiads yang adalah ras yang aku mainkan di dalam game Freedom 2. Alasan kenapa aku memilih ras ini adalah karena paksaan dari temanku yang kini mungkin


masih asyik berenang bersama ikan.


Akan tetapi, kenapa Yasmin menyinggung itu sekarang?


"Melihat dari penampilan... Kurasa tidak perlu disebutkan lagi. Oh, iya. Sebagai ras Roh (Spirit) kau tidak perlu makan. Jadi, bagaimana dengan nafsu makanmu?"


Selesai Yasmin mengatakan itu, Ayah dan Ibu sama-sama menoleh ke arahku.


"Dasar ******! Memangnya kau mau menyebut putriku sebagai seorang siluman!"


Dengan murka Ayah mengancungkan pisau dagingnya tepat ke arah Yasmin seolah untuk mengancamnya. Akan tetapi, Yasmin masih tampak biasa saja seolah dia tidak merasa terancam sama sekali.


"Tuan Benita tenang saja. Walau benar ras putri Anda itu sekerang sudah berubah. Dia masih..."


Sekali lagi, Yasmin kembali tidak sempat untuk menyelesaikan kalimatnya karena sekarang sebuah kursi sedang melayang tepat ke arahnya. Dan sekali lagi dia dengan mudahnya menghindar... Dia hilang ke mana?


"Ghah!"


Tiba-tiba saja pisau daging yang sedang Ayah pegang terlepas dari genggamannya. Bersamaan dengan itu Ayah seketika tersungkur di atas lantai dengan Yasmin yang sekarang sudah berdiri di atas tubuh Ayah sambil menahan


pergelangan tangannya yang tadi digunakan untuk menggenggam pisau daging.


Aku tidak tahu apakah Yasmin tadi benar-benar menghilang atau pergerakannya yang terlalu cepat untuk aku ikuti. Yang jelas apa yang baru saja dia lakukan bukanlah hal yang lumrah dan bisa dilakukan oleh Manusia biasa.


"Adek, lari!"


Di dorong oleh Ibu ke arah dapur, Ibu terlihat hendak tetap tinggal demi bisa mengulur waktu agar aku bisa kabur.


"Kau serius?"


Walau Feline menampilkan ekspresi malas, tapi dia tetap meluncur maju dengan tangan yang terkepal. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah Ibuku yang sudah siap dengan sapu di tangan.


Melihat apa yang terjadi kepada Ayah, jelas Ibu tidak punya kesempatan!


Berharap agar bisa menghentikan Feline, aku pun menembakkan (Aqua Shoot) tepat ke arahnya. Sebuah lingkaran sihir berwarna biru tercipta tepat di depan telapak tanganku yang menciptkan sebuah bola air yang kemudian meluncur dengan cepat bagaikan sebuah peluru yang mengarah langsung ke arah Feline.


Dan sekali lagi, hanya dengan menggeser tubuhnya sedikit Feline sudah bisa menghindari serangan dariku.


Berkat itu seranganku meleset dan berakhir menghancurkan sebuah kursi yang ada di jalurnya hingga berkeping-keping.


Meski seranganku meleset, itu berhasil untuk membuat Feline berhenti.


"Lihat, kau bisa menggunakan Skill kan"


Tepat setelah Feline mengucapkan itu, barulah aku tersadar akan apa yang baru saja aku lakukan. Melihat aku yang baru saja menggunakan sihir, membuat Ibu melihatku dengan ekspresi terkejut dan tidak percaya.


Akan tetapi. Orang yang paling terkejut dan tidak percaya adalah diriku sendiri.


...


Setelah semua sudah tenang, Rumah Makan akan di tutup untuk hari ini karena berkat serangan Yasmin tangan Ayah menjadi terkilir serta beberapa perabotan hancur setelah pertarungan berakhir.


Duduk di meja makan di dapur, bersama dengan Ayah yang baru di obati kami sekeluarga mendengarkan penjelasan dari Yasmin.


Walau aku sendiri telah mampu menggunakan sihir yang seharusnya mustahil di dunia ini, masih susah rasanya untuk mempercayai kalau game yang selama ini aku mainkan ternyata adalah nyata serta fakta kalau dunia ini dan


dunia di Freedom 2 saling terhubung satu sama lain.


Belum lagi ketika Yasmin memberitahukan kalau apa yang aku lakukan di dunia sana akan berpengaruh dengan diriku di dunia ini. Itu juga lah yang membuat diriku semakin lama semakin dekat dengan avatarku yang adalah


seorang Naiads.


Awalnya aku masih tidak mempercayainya sampai Yasmin melepaskan gelang di tangannya.


"Siluman Kucing!?!"


Tepat setelah Yasmin melepaskan gelangnya, sepasang telinga kucing muncul di atas kepalanya serta sebuah ekor berbulu hitam panjang menyembul dari bagian belakangnya.


Tidak salah lagi.


Orang yang ada di hadapanku sekarang tidak lain dan tidak bukan adalah Feline.


Ini semua sungguh sulit untuk dipercaya.


Game yang aku mainkan ternyata adalah nyata. Fakta kalau game dan dunia nyata saling terhubung. Aku yang mampu menggunakan sihir serta rasku yang kini menjadi Naiads dan bukan lagi Manusia.


Semua


hal ini sungguh sulit untuk dipercaya. Tapi tidak peduli seberapa keras


aku ingin menyangkalnya, kenyataan adalah kenyataan.


"Jadi, apakah ada cara untuk mengembalikan putri kami menjadi seperti semula?"


Tanya ayahku dengan pergelangan tangannya di balut dengan bidai. Untungnya isi P3K di rumah kami cukup lengkap serta aku yang sekarang mampu menggunakan (Aqua Heal) sehingga kami tidak perlu pergi ke dokter.


"Tidak bisa. Kalau saja bisa dan ada caranya, aku pasti sudah menggunakannya sejak lama"


Apa yang Yasmin katakan itu cukup masuk akal.


Ini kembali mengingatkanku kalau ini adalah dunia nyata.


Tidak seperti di anime atau film-film kebanyakan yang di mana walau kau telah berubah menjadi monster raksasa yang menjijikan sekalipun, asal kau punya penawarnya maka kau bisa kembali seperti sedia kala seolah tidak


pernah ada yang terjadi.


Mendengar ini Ayah menjadi terdiam dan bahkan Ibu sampai tidak mampu untuk membuka mulutnya. Yang Ibu lakukan hanya terus membelai punggungku dengan pandangan sedih di matanya.


Setelah sempat hening untuk sementara waktu, aku pun memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang sedari tadi ingin aku tanyakan.


"Apa alasan sebenarnya kau datang ke sini?"


Seolah baru ingat kenapa dia datang ke sini, Yasmin pun tersenyum kepadaku sambil berkata... "Apakah kau tahu dengan Penyihir Lavender?".


...


Log In kembali ke Freedom 2, aku menyadari kalau hari sudah malam.


Mengingat semua hal yang Yasmin... Feline katakan tadi pagi, kini aku melihat game, tidak, dunia ini dengan cara yang sangat berbeda.


Melihat warung milikku sendiri, seketika aku terbayang semua hal yang terjadi hingga aku akhirnya bisa mendirikan Rumah Makan milikku sendiri. Walau skalanya masih lebih kecil ketimbang dengan Rumah Makan keluargaku,


mengingat ini adalah hasil dari jerih payahku sendiri membuatku merasa lebih nyaman berada di warung kecil ini.


"Hmn? Pelanggan?"


Aku biasanya hanya buka dari siang sampai sore waktu game... Dunia ini. Jadi janggal rasanya jika melihat ada orang yang menunggu di depan warung malam-malam begini.


Penasaran, aku pun memutuskan untuk mengeceknya.


Membuka pintu warung, terlihat seorang gadis muda dengan rambut pirang panjang bergelombang yang tubuhnya penuh dengan perhiasan serta pernak-pernik lainnya yang membuat penampilannya secara keseluruhan terlihat ramai.


"Oh, Asesori? Ada perlu apa malam-malam begini?"


"Ah! Mbak Juni! Aku kira mbak tutup loh..."


Tanpa meminta izin Asesori sontak main masuk begitu saja ke dalam warung sebelum duduk dengan santai di meja yang kosong.


"Ya ampun, padahal aku berniat untuk libur hari ini"


"Ayolah mbak Juni... Satu porsi saja, sudah keroncongan ini!"


Tidak punya pilihan lain, aku pun pergi ke dapur untuk memasakkan Asesori makanan kesukaannya.


Tidak seperti di dunia nyata... Maksudku di dunia sana, diriku yang ada di sini bisa memasak atau bahkan terbilang jago dalam hal memasak. Berkat ini aku akhirnya bisa menyalurkan hasrat terpendamku untuk memasak makanan enak sesuka hatiku.


Sayang sekali hal ini hanya bisa terjadi di dalam game... dunia ini.


Entah mengapa kemampuan memasakku ini sudah tidak tertolong di dunia sana. Bahkan setelah ras ku berubah sekalipun tapi kemampuan memasakku tetap sama saja.


"Mbak Juni tampak sedang galau, emang ada apa?"


Karena posisi dapur terlihat jelas dari meja pelanggan, membuat setiap pelanggan yang ada mampu melihatku saat sedang memasak makanan.


Menilai akan lebih baik jika aku membicarakan ini dengan seseorang, aku pun


memutuskan untuk menceritakan masalah ini kepada Asesori.


Tentu saja aku tidak bisa menceritakan semuanya. Karena itulah aku harus hati-hati dalam memilih kata-kataku.


"...Tadi pagi ada utusan dari Penyihir Lavender yang menawarkan pekerjaan kepadaku"


"Penyihir Lavender?!" mendengar nama itu, sontak Asesori menjadi bersemangat. Tanpa punya sopan santun sama sekali dia bergegas masuk ke dalam dapur selagi aku masih sibuk memotong sayuran.


"Cepat ceritakan!"


"Sabar, aku sedang memegang pisau!"


Setelah bersusah payah menenangkan Asesori yang bersemangat, aku pun mulai bercerita kepadanya.