A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 109 : Battle of Nirvana (5)



Menyusup ke dalam Istana Nirvana, Pangeran Draco, Penyihir Rosemary, beserta rombongan masuk melalui jalur rahasia yang sebelumnya telah diberitahukan oleh Pangeran Argenti.


Karena pertahanan Istana ternyata sangat lengang, menjadi mudah bagi mereka untuk menyusup dalam diam tanpa keberadaan mereka diketahui oleh siapa-apa.


Berjalan melalui lorong rahasia yang sempit dan berliku-liku. Sungguh tidak mudah untuk bernavigasi di sana jika bukan karena denah yang kini dipegang oleh Feline.


Dengan Feline yang berjalan di barisan paling depan, mereka bernavigasi mengikuti denah yang ada menuju sebuah ruangan yang telah di tandai.


"Kita sudah sampai"


Terlihat sebuah tuas yang bergantung di dinding. Menariknya, seketika dinding itu terbuka dan menampakan sebuah ruang tidur mewah yang semuanya berhiaskan oleh emas dan permata. Tidak hanya itu, ditemukan juga


tumpukan gaun-gaun setengah jadi yang dibiarkan begitu saja.


"Ehh... Jadi ini adalah kamar seorang Tuan Putri yang sebenarnya yah"


"Aku dengar Putri Margarita itu seorang perancang busana"


"Itu menjelaskan semua gaun ini"


Sisteen, Turbo, dan Clara berbincang sambil berbisik ketika pertama kali memasuki kamar ini. Sementara itu Pangeran Draco dan Penyihir Rosemary tampak waspada selagi Feline dan Luna pergi lebih dulu untuk mengamati


keadaan sekitar.


Melihat tidak ditemukannya peralatan untuk menjahit serta terdapat sebuah sisi ruangan yang terlihat kosong melompong. Bisa di duga kalau Putri Margarita sudah mengemas semua perlengkapan serta material menjahitnya


dan hanya meninggalkan gaun-gaun yang tampaknya dia kira tidak apa-apa untuk dibiarkan begitu saja.


Feline dan Luna akhirnya kembali di saat yang hampir bersamaan.


Mereka berdua sama-sama melaporkan bahwa lorong di Istana sangatlah kosong dengan hanya satu atau dua Kesatria yang berpatroli dengan pandangan mata yang kosong.


"Aku merasakan adanya Aura Setan (Devil) pada setiap Kesatria yang berjaga. Tampaknya pikiran mereka telah dikendalikan oleh sosok Setan (Devil) ini!" sontak semua orang terkejut ketika mendengar laporan dari Luna.


Melihat kalau Feline juga mendukung laporan Luna, Pangeran Draco pun memutar otaknya.


Jika lawannya hanyalah makhluk hidup biasa, baik itu Manusia ataupun monster tidak berakal. Pangeran Draco dapat dengan percaya diri menghadapi mereka dan keluar sebagai juaranya.


Akan tetapi, jika itu adalah ras Setan (Devil) maka lain lagi ceritanya.


Masih ingat benar dengan cerita tentang leluhurnya yang gugur dalam pertempuran melawan seorang Setan (Devil) di Hutan Ibis yang kini telah menjadi sebuah Dungeon.


Pangeran Draco yang kini tahu kalau ada sosok Setan (Devil) yang bekerja dari balik layar. Dirinya tidak akan berani melawannya tanpa persiapan yang matang.


"Setan (Devil) yah... Nona Luna, apakah kau bisa mencari tahu dimana sekiranya Setan (Devil) ini sedang bersembunyi?" sayangnya Luna menggelengkan kepalanya "Maaf, kuasa Setan (Devil) ini jauh lebih kuat dari diriku


yang sekarang".


Melihat Luna tidak mampu untuk melakukannya, Pangeran Draco pun menoleh ke arah Penyihir Rosemary. Yang mana langsung disambut dengan senyuman "Tenang saja, Setan (Devil) ini biar kami yang mengurus. Pangeran Draco bersama dengan para Kesatria silahkan hadapi sang Raja Narsist dan akhiri peperangan yang tidak perlu ini".


"Nona Penyihir tenang saja. Atas nama Drakon Kingdom, aku. Draco Blut Drakon, bersumpah akan mengakhiri peperangan yang memilukan ini"


Dengan begitu mereka pun terbagi menjadi 2 tim.


Tim pertama terdiri dari Pangeran Draco, Turbo, Sisteen, serta para Kesatria. Mereka akan berhadapan langsung dengan Raja Narsist Kingdom dengan tujuan untuk membawa pulang kepalanya.


Sedangkan Tim kedua terdiri dari Penyihir Rosemary, Clara, Luna, dan Feline. Mereka akan menuju sarang persembunyian Setan (Devil) dan memusnahkannya dari dunia ini. Walau ini hanya perasaannya saja, tapi Penyihir


Rosemary bisa menduga kalau target pertama mereka, Paus Senor. Akan berada dekat dengan sosok Setan (Devil) ini.


Walau Turbo dan Sisteen sempat heran kenapa Feline ikut bersama tim Penyihir Rosemary dan bukan bersama mereka. Tapi, setelah melihat kalau tim Penyihir Rosemary tidak memiliki penyerang di garis depan, maka mereka


pun mewajarkan hal ini.


Keluar dari kamar Putri Margarita, kedua tim pun seketika berpisah.


Tim Pangeran Draco akan langsung menuju ruang tahta tempat Raja Pulchritudo telah menunggu. Sementara tim Penyihir Rosemary akan mengikuti Aura Setan (Devil) yang mereka rasakan.


...


"Ha!" dengan satu ayunan pedang, seorang Royal Guard yang bertugas untuk menjaga Istana Nirvana seketika menemui ajalnya.


Membersihkan darah dari pedangnya adalah Pangeran Draco yang baru saja selesai melakukan pemanasan.


Terlihat di sekitarnya sudah terdapat banyak sekali tubuh Royal Guard yang sudah terbaring di atas darah mereka sendiri. Tentu saja itu semua bukanlah kerjaan Pangeran Draco sendiri melainkan hasil kerja keras dari para


Kesatria yang mencegah para Royals Guard untuk mengepung tuan mereka namun masih meninggalkan satu atau dua sebagai rekan pemanasan Pangeran Draco.


Turbo yang melihat aksi ini dari samping hanya bisa tersenyum kaku.


Sebab, ini adalah kali pertama dia menyaksikan Pangeran Draco bertarung menggunakan pedangnya.


Dan apa yang terlintas di dalam pikirannya setelah menyaksikannya adalah dia kini sadar kalau Pangeran Draco memang adalah seorang Bangsawan sejati.


Seorang Bangsawan sejati yang selalu dilindungi namun juga ingin pamer unjuk kebolehan.


Ini sebenarnya bukanlah hal yang buruk, terlebih karena setelah ini adalah sebuah pertempuran besar jadi sudah seharusnya bagi Pangeran Draco untuk menghemat tenaganya.


Mengalihkan perhatiannya dari Pangeran Draco, kini Turbo kembali menatap ke arah tubuh para Royal Guard yang bergelimpangan di atas lantai yang dingin.


Walau sekarang mereka sudah tahu kalau para Royal Guard sejatinya sedang di kontrol oleh seorang Setan (Devil). Tapi, itu tidak mengubah fakta kalau mereka adalah pasukan musuh. Bahkan jika entah bagaimana mereka


berhasil melepaskan para Royals Guard dari jeratan Setan (Devil). Kecil kemungkinan kalau mereka akan menjadi bala bantuan mereka karena setelah ini mereka akan menuju ruang tahta untuk mengambil kepala sang Raja.


Tidak peduli seberapa jahat Raja mereka, sudah menjadi tugas seorang Kesatria untuk melindungi Tuan mereka sampai ajal menjemput.


Bukannya menjadi bala bantuan, besar kemungkinan bagi para Royals Guard yang terselamatkan akan tetap menyerang mereka namun kali ini para Royals Guard dalam keadaan prima tanpa ada lagi yang mengendalikan.


Oleh karena itu, walau sakit rasanya, Turbo tetap mengayunkan pedangnya.


Melihat pria yang dia cintai secara diam-diam. Sisteen yang bergerak dari bayangan ke bayangan dengan lihai memainkan Shortsword miliknya untuk menebas leher musuh tanpa ada yang menyadari sampai semua terlambat


ketika sebuah kepala sudah terguling di atas tanah.


Masih menganggap dunia ini hanya sekedar game belaka. Sisteen yang tidak punya alasan untuk mengasihani kumpulan data tidak sanggup untuk memahami gejolak batin yang sekarang sedang Turbo rasakan.


Sisteen sudah lama sadar kalau Turbo itu menganggap kalau dunia ini adalah lebih dari sekedar permainan. Itu adalah wajar mengingat betapa realistisnya 'game' ini hingga sering kali membuat orang terhanyut ke dalam dunia ini hingga melupakan dunia nyata.


Sisteen sangat menyukai Turbo.


Oleh karena itu dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat pasangannya ini untuk selalu merasakan kebahagiaan.


Meski begitu, Sisteen masih punya akal sehat untuk bisa membedakan mana dunia game mana dunia nyata. Mana yang hanya sekedar permainan dan mana tempat kau seharusnya mencurahkan segenap tenaga untuk menjalaninya.


Untungnya Turbo masih bisa menjaga gaya hidup yang seimbang antara game dengan dunia nyata sehingga Sisteen tidak akan berbuat apa-apa.


Jika tidak, maka Turbo harus rela bangun dan menemukan kalau perlengkapan VR nya sudah hilang entah kemana.


"Tampaknya mereka sudah tidak berdatangan lagi. Mari kita lanjutkan, ruang tahta sudah tidak jauh lagi"


Terima kasih berkat arahan dari Pangeran Draco, Sisteen kini tersadar dari lamunannya dan mulai menyusul para Kesatria dari belakang.


Melihat sosok Turbo yang berbaris gagah dengan para Kesatria, sebuah senyuman pun mekar di wajah Sisteen.


...


Dengan denah di tangan, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di depan ruang harta.


Setelah mengalahkan semua Royal Guards yang berjaga, kini Pangeran Draco hanya tinggal membuka pintu emas yang ada di hadapannya.


"Buka"... Memerintahkan dua orang Kesatria untuk membukakan pintu, Pangeran Draco dan yang lain pun akhirnya masuk ke ruang tahta.


Permadani merah membentang hingga ke ujung ruangan. Apa yang berada di bawah permadani merah itu bukanlah lantai biasa melainkan sebuah lantai sebening kaca yang memantulkan pemandangan langit-langit yang dihiasi


oleh emas dan permata.


Dengan bendera Narsist Kingdom menghiasi dinding di belakangnya, sebuah tahta emas berdiri dengan megah sambil berhiaskan beragam permata yang indah.


Duduk di atas tahta emas itu adalah sesosok Raja yang memandang rendah kepada para tamu yang datang untuk menghadap.


Boom... baru selangkah saja sebuah Aura yang kuat terasa menekan mereka ke tanah memaksa untuk membuat Pangeran Draco beserta para Kesatria untuk bersujud di hadapan sang Raja.


Akan tetapi, hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada para bawahannya.


Sebagai Kesatria yang setia kepada Drakon Kingdom, membuat para Kesatria yang datang kemari berusaha sekuat tenaga untuk tidak bersujud dihadapan seorang Raja yang bukan Raja mereka. Terlebih jika itu adalah Raja dari Kerajaan musuh.


Sambil berkeringat deras, mereka semua berusaha agar lutut mereka tidak bertekuk. Meski begitu, pancaran Aura yang Raja Pulchritudo keluarkan tampaknya masih terlalu kuat bagi mereka.


Hal yang sama juga terjadi kepada Turbo dan Sisteen.


Dengan pedang sebagai tumpuan, Turbo berusaha keras untuk tetap berdiri sementara Sisteen sampai menggertakkan giginya menolak untuk tunduk.


Takjub akan usaha keras yang mereka tunjukkan. Pangeran Draco yang tidak ingin melihat anak buahnya menderita lebih lama lagi akhirnya memancarkan Aura miliknya sendiri.


Ketika Aura yang Pangeran Draco pancarkan menyelimuti tubuh mereka, Aura kuat yang memaksa mereka untuk tunduk seketika lenyap begitu saja. Ketika tidak ada lagi yang memaksa mereka untuk menunduk. Para Kesatria pun akhirnya bisa kembali berdiri dengan gagah dihadapan tuan mereka.


Puas melihat kesetiaan yang para Kesatria tunjukkan. Pangeran Draco pun kembali memancarkan Auranya.


Kali ini bukan untuk melindungi namun untuk menyerang.


Merasakan Aura yang serupa dengan dengan dirinya. Raja Pulchritudo akhirnya sadar kalau orang yang ada di hadapannya bukan orang biasa melainkan seorang dengan darah biru sama seperti dirinya.


Dan itu membuatnya tidak merasa senang.


"Kerja bagus untuk bisa datang sampai kemari..." dengan nada yang arogan, Raja Pulchritudo bangkit dari tahtanya "Namun, penghinaan untuk berani menyentuh tanah suci ini harus di bayar setimpal".


Raja Pulchritudo yang awalnya hanya memakai jubah kerajaan seketika berganti menjadi sebuah Full Armor yang sepenuhnya terbuat dari emas. Dengan penampilannya yang megah, sebuah pedang dengan bilah berwarna biru


muncul di tangannya.


Jika di lihat dari dekat, maka kau akan tahu kalau bilah pedang itu seluruhnya terbuat dari berlian murni sama seperti mahkota yang dia kenakan hanya saja yang satu ini di pahat sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah bilah pedang tajam dan berkilau.


Sedetik kemudian sebuah jubah merah yang mewah menyelimuti tubuh Raja Pulchritudo.


Dengan ini perubahan Raja Pulchritudo pun telah sempurna.


"Tunduklah di bawah kaki Dewa ini, atau binasa!"


Boom!


Sebuah Aura yang jauh lebih kuat dari yang sebelumnya seketika menyapu seluruh ruangan. Saking kuatnya Aura tersebut, seluruh Istana Nirvana pun sampai bergetar dibuatnya.


Fokus untuk melindungi para bawahannya, Pangeran Draco sampai dibuat berkeringat dingin karena Aura penguasa yang Raja Pulchritudo pancarkan itu setara atau bahkan lebih kiat dari Aura yang Ayahnya biasa


pancarkan.


Melihat kalau Raja Pulchritudo tidak memiliki niatan untuk berbicara, Pangeran Draco pun menyimpan pidato yang telah dia siapkan.


Sebagai gantinya, sebuah kata pun dia ucapkan... "Serang!"


Mendapatkan perintah dari Pangeran mereka, ke sepuluh Kesatria yang ada pun seketika maju dengan gagah berani.


"Demi Drakon Kingdom!"


"""!!Demi Drakon Kingdom!!"""


Dengan pedang di tangan mereka menerjang maju menghadapi Raja Pulchritudo yang berdiri dengan penuh rasa percara diri.


Menatap ke arah para Kesatria yang berlari ke arahnya, Raja Pulchritudo dengan santainya mengangkat pedang berliannya.


Walau dirinya tidak menggunakan Skill apa-apa, tapi dia melapisi pedangnya dengan Aura miliknya yang sontak membuat bilah pedangnya mengeluarkan cahaya kebiruan sehingga membuatnya seolah sedang menggunakan Skill.


Para Kesatria yang melaju tentu saja tidak menyadari hal ini dan hanya mengira kalau Raja Pulchritudo sedang mengaktifkan sebuah Skill dan bersiap untuk menahannya.


Masih dalam formasi, dua Kesatria yang berada paling depan mengangkat perisai mereka sambil mengaktifkan Skill pertahanan. Niat mereka adalah untuk menahan serangan yang datang sehingga rekan mereka yang lain bisa fokus untuk menyerang.


"Menyebar!"


Atas perintah dari Pangeran Draco, para Kesatria yang masih dalam formasi sontak menyebar menuruti perintah yang diberikan.


Walau para Kesatria tidak bisa menyadarinya, namun Pangeran Draco yang juga bisa menggunakan Aura dengan cepat mengetahui kalau apa yang Raja Pulchritudo gunakan bukanlah Skill melainkan Aura yang dimanipulasi


sedemikian rupa sehingga berubah menjadi senjata yang berbahaya.


Tahu benar kalau para Kesatrianya tidak akan mampu untuk menahan serangan semacam itu, dia pun memerintahkan mereka untuk menghindar.


Sayang, perintahnya sedikit terlambat.


Sriiing! Dengan satu ayunan indah Raja Pulchritudo membelah udara kosong.


Berkat perintah dari Pangeran Draco, para Kesatria sudah pergi menyingkir menjauh dari jangkauan serangan Raja Pulchritudo.


Semua sudah menyingkir terkecuali dia Kesatria yang sedang mengangkat perisai mereka.


"?!"


Seolah tidak menyadari apa yang baru saja terjadi, kedua Kesatria itu terdiam di tempat dengan perisai yang masih terangkat. Sedetik kemudian darah mulai mengucur ketika tubuh mereka terbelah menjadi dua dengan sebuah


potongan yang rapi dan sempurna.


Tidak peduli seberapa terlatih mereka, semua orang pasti akan merasa gentar untuk kembali maju setelah menyaksikan rekan mereka gugur dengan begitu mudahnya.


Walau ini terhitung sebagai sebuah penghinaan, tapi Pangeran Draco sama sekali tidak merasa marah.


"Mundur! Jangan mendekatinya!?"


Sambil menggertakan gigi mereka, para Kesatria terpaksa untuk mundur kembali ke belakang tuan mereka.


Melihat hal ini, sebuah tawa menghina keluar dari mulut Raja Pulchritudo.


"Hah, apa hanya itu kemampuan kalian?! Sungguh terlalu, kalian sudah banyak menghabisi bawahanku namun kehilangan nyali ketika rekan kalian terbunuh"


Tentu saja para Kesatria murka setelah mendengar ini. Jika bukan karena perintah dari Pangeran Draco, mereka pasti sudah mengucapkan sumpah serapah demi menyangkal perkataan dari Raja Pulchritudo.


Sebaliknya, Pangeran Draco tidak sedikitpun merasa murka melainkan senang karena kini dia punya kesempatan untuk melakukan perbincangan dengan Raja Pulchirutudo.


"Sungguh sedih rasanya ketika menyaksikan Kesatria yang telah mengucapkan sumpah kesetiaan mereka untuk gugur tepat di hadapan mata. Akan tetapi, apalah daya ketika lawan yang mereka lawan adalah seorang Penguasa dari Negeri seberang"


"Hm, senang rasanya ketika melihat kau akhirnya sadar akan posisimu sekarang, wahai Pangeran dari Negeri sesat! Minta maaflah dan tunduklah kepadaku, maka seluruh dosamu mungkin akan aku maafkan!"


"Negeri sesat... Walau memang benar para Kesatriaku tidak akan punya kesempatan untuk melawanmu. Diriku tidak pernah mengatakan kalau aku akan tunduk kepadamu!"


"Oh, masih berniat untuk melawan? Memangnya apa yang bisa kau lakukan?"


Menghunuskan pedangnya, Pangeran Draco menggunakan sihir tingkat ketiga [Storm Magic] yang dia kuasai untuk melapisi bilah pedangnya dengan aliran petir kebiruan yang menggelegar hingga membuat para bawahannya secara refleks menutup telinga mereka.


Tidak sampai di situ, mencoba meniru apa yang Raja Pulchritudo lakukan. Pangeran Draco juga mencoba untuk melapisi pedangnya dengan Aura yang dia miliki.


Walau hasilnya tidak sebagus dengan apa yang Raja Pulchirutudo lakukan, tapi pada akhirnya Pangeran Draco sukses melapisi pedangnya dengan Aura hingga membuat kilatar petir yang melapisinya menjadi semakin mengganas.


"Walau teknik untuk menggunakan Aura menjadi semakin jarang dan bahkan pantas untuk disebut sebagai sebuah teknik yang hilang. Sebagai seorang Pangeran dari Drakon Kingdom, sudah sepantasnya bagi diriku untuk bisa


menggunakannya!"


Mengancungkan pedangnya tepat ke hadapan Raja Pulchritudo, dengan ini Pangeran Draco secara resmi mendeklarasikan kalau dia sendirilah yang akan menghadapi Raja Pulchritudo.


"Putra Mahkota dari Drakon Kingdom, Draco Blut Drakon!"


Menerima tantangan duel dari Pangeran Draco, sebuah seringai ganas pun muncul di wajah Raja Pulchritudo yang tampan.


Ikut mengancungkan pedangnya, Raja Pulchritudo pun menerima tantangan dari Pangeran Draco.


"Raja sekaligus Dewa dari Narsist Kingdom, Pulchritudo ol Narsist!"


Boom!


Bersamaan dengan deklarasi mereka, dua buah Aura meledak yang akhirnya saling beradu yang membuat seluruh ruang tahta seolah sedang dilanda oleh badai yang tidak terlihat.


Hal ini membuat Turbo beserta para Kesatria untuk mundur menghindari pertarungan antara dua penguasa yang sebentar lagi akan berlangsung.


Setelah Aura mereka saling beradu, Raja Pulchritudo serta Pangeran Draco yang merasa ini sudah cukup akhirnya memulai pertarungan yang sebenarnya.