
Selepas sarapan pagi yang biasa tanpa adanya minuman aneh atau semacamnya, aku diminta untuk mengenakan baju yang memudahkanku untuk bergerak sehingga aku pun memilih baju training berwarna hitam yang adalah satu-satunya baju olahraga yang aku miliki dan aku sekarang berada di halaman belakang bersama seorang Pelayan yang entah mengapa membawa sebilah pedang di tangannya.
Perlu aku perjelas, itu adalah pedang besi yang tajam dan bukan sebilah pedang mainan yang terbuat dari plastik ataupun kayu.
"Selamat pagi, Nona Muda. Tuan Besar telah meminta saya untuk mengajari Nona Muda bagaimana caranya untuk bertarung dalam jarak dekat"
"Baiklah, tapi bisakah kau jelaskan kepadaku kenapa aku yang seorang Penyihir harus belajar cara bertarung dalam jarak dekat?"
"Tentu saja. Latihan ini dilakukan berdasarkan evaluasi dari pertarungan Nona Muda yang terakhir"
Oke... aku paham kalau terkadang memang ada kalanya penggunaan sihirku bisa terbatas atau bahkan tidak berguna sama sekali. Tapi langsung belajar bertarung tanpa sihir bukannya terlalu mendadak? Hanya belajar teori
sihir aku tidak apa-apa kau tahu?
"Lagi pula, Mana yang ada di dunia ini cukup terbatas dan tidak sesuai untuk mempelajari sihir seperti yang Nona Muda inginkan"
Baiklah, aku bisa menerima alasan itu.
"Kalau begitu, silakan pilih senjata sesuai kehendak Nona Muda"
Tidak jauh dariku sudah tersusun deretan senjata dari pedang hingga sabit semua tersedia.
Dari semua senjata itu, tanpa ragu aku memilih cambuk kulit.
"Kalau begitu, Nona Muda, mari kita mulai latihannya"
Tanpa memasang kuda-kuda terlebih dahulu, Pelayan itu langsung menerjang ke arahku. Aku berusaha menghindar ke samping hanya untuk menyadari kalau tubuhku tidak bergerak sesuai dengan keinginanku.
Gerakanku terasa lebih berat dan lamban ketimbang yang biasanya. Hal itu membuatku menghindar sedikit lebih lambat yang mengakibatkan sebuah sayatan tercipta di baju trainingku.
Saat itulah aku teringat kalau ini bukanlah tubuhku di Fredom 2 melainkan tubuhku yang biasa. Sebuah tubuh yang jarang di latih dan jarang digerakkan akibat terlalu lama berbaring demi bisa terhubung ke dunia itu.
Yang menambah buruk adalah fakta kalau kualitas Mana di dunia ini sangatlah tipis. Meski Mana di rumahku ini terbilang lebih tebal, namun ini masih kalah jika dibandingkan dengan rumahku di Hutan Ibis.
Hal ini membuatku tidak bisa memperkuat diriku dengan sihir secara maksimal yang jelas membuat performaku menjadi menurun dan tidak seperti yang aku inginkan.
"Selalu tajamkan indramu dan janganlah lengah meski sedetik pun"
Pelayan itu terus menyerang sembari memberikan saran. Ayunan pedangnya tidaklah cepat namun sangat terlatih sehingga sulit bagi amatiran sepertiku untuk bisa menghindarinya.
Sesekali aku mencoba untuk mengayunkan cambukku namun berhasil dihindari dengan mudahnya.
Aku tidak pernah menyangka kalau perbedaan antara tubuh di sana dan tubuh yang ini bisa jauh berbeda.
Menghadapi serangan yang bertubi-tubi, mau tidak mau aku jadi kewalahan. Baju training yang awalnya baru kini sudah compang-camping penuh akan bekas sayatan pedang.
Kekurangan utama dari cambuk adalah mustahil untuk bisa menggunakannya sebagai alat untuk bertahan.
Oleh karena itu... [Psychokinesis]
Mengambil perisai bundar yang juga terpajang bersama senjata lainnya, aku segera mengenakannya di tangan kiriku dan menggunakannya untuk menangkis serangan yang datang.
"Oh!"
Seakan terkejut karena tindakanku, aku tidak memberikannya waktu untuk mengucapkan sesuatu karena cambukku sudah melayang ke arah wajahnya... Tch, berhasil dihindari.
"Sebuah Langkah yang bijak. Kalau begini maka kurasa senjata yang paling cocok untuk Nona Muda adalah sebuah Snake Sword"
Snake sword? Maksudnya pedang cambuk gitu? Memangnya senjata seperti itu beneran ada?
Istirahat sejenak, si Pelayan pergi ke suatu tempat sebelum akhirnya kembali dengan membawa sebuah pedang dan menyerahkannya ke arahku.
Mengeluarkan pedang itu dari sarungnya, aku mendapati kalau bilah pedang itu memiliki semacam ruas-ruas dengan pola segitiga.
"Coba alirkan Mana Nona Muda pada pedang tersebut"
Mengikuti perkataannya, aku terkejut ketika bilah pedang yang aku pegang benar-benar memanjang seperti pedang cambuk yang biasa aku lihat di film atau game.
Saat diayunkan, pedang tersebut mampu merenggang hingga lebih dari dua meter padahal panjang awalnya tidak lebih dari 100 cm.
"Kuasailah Snake Sword itu terlebih dahulu, baru kita bisa kembali melanjutkan"
"Baiklah"
Dengan begitu aku menghabiskan sepanjang pagi hanya untuk belajar mengenai senjata baruku.
...
Sementara Lavender sibuk berlatih, Oleander yang kini sedang menggunakan nama samarannya yaitu Candra Buana. Kini sudah berada di kantornya di suatu tempat di tengah kota.
Saat dirinya sedang disibukkan oleh pekerjaan kantor, salah satu anak buahnya datang mengetuk.
"Masuk"
Memasuki ruangan adalah seorang pria di antara 20-30 tahunan. Dia mengenakan seragam mirip seragam keamanan yang berwarna hitam.
"Lapor, baru saja terdapat laporan mengenai adanya penggunaan sihir yang tidak terdaftar"
Tertarik akan berita yang dia dengar, Candra menghentikan pekerjaan yang saat ini sedang dia kerjakan.
"Oh, lanjutkan"
"Baik\, di kompleks perumahan *** baru saja dilaporkan adanya kekerasan rumah tangga. Korbannya adalah sepadang suami istri serta putri termuda mereka yang saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Si Ibu dan si Putri
dilaporkan menderita patah tulang serta memar di tubuh mereka. Sedangkan si Ayah menderita luka paling parah dengan sebagian besar tulang di tubuhnya telah patah atau retak serta dia menderita trauma berat pada otaknya hingga membuatnya kini dalam keadaan koma.
Kondisi rumah mereka ditemukan berantakkan dengan segala perabotan telah hancur berserakkan beserta terdapat noda darah di pintu kamar Putri yang tertua yang setelah di periksa adalah miliknya"
"Kau berkata hanya si Ayah, Ibu, serta Putri termuda yang dilarikan ke rumah sakit. Apakah Putri tertua tidak dikirim ke sana?"
"Itu dia masalahnya, si Putri tertua saat ini sedang mengurung diri di kamarnya. Satpam beserta warga setempat sudah mencoba untuk mendobrak pintu kamar namun tidak membuahkan hasil. Menurut pengakuan si Putri
termuda yang telah sadarkan diri, si Putri tertua saat ini pasti sedang bermain game di kamarnya"
"Game? Jangan katakan kalau nama game yang sedang dia mainkan adalah Freedom 2?"
"I-itu tepat sekali"
Menghela nafas yang dalam, Candra seolah telah mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Kau berkata sudah mendapatkan sampel darah dari si Putri tertua. Bagaimana hasil lengkapnya?"
"Baik, dari sampel darah tersebut, bisa dipastikan kalau si Putri tertua memiliki jejak Mana di dalam darahnya. Besar kemungkinan kalau dialah pelaku yang menyebabkan orang tua beserta adiknya terluka. Juga... ditemukan jejak Elf pada darahnya"
"Elf? Apakah keluarga itu adalah keturunan Elf?"
"Tidak, dari seluruh keluarga, hanya si Putri tertua yang memiliki darah Elf pada tubuhnya"
Memejamkan matanya untuk berpikir, Candra memikirkan langkah apa yang harus dia ambil untuk mengatasi masalah ini.
...
"Aduh, Malika, kalau kau merasa tidak kuat, kau bisa berhenti kapan saja"
"Mama, namaku itu Lavender"
Selesai berlatih, Mama segera datang dan sontak terkejut setelah melihat diriku yang sudah compang-camping.
Dengan segera Mama membawaku kembali ke kamar dan segera mengobati luka yang ada di tubuhku.
Walau Mama benci dengan Penyihir, tapi itu tidak menghalanginya untuk menggunakan sihir penyembuhan untuk menyembuhkan putrinya yang tercinta.
"Ayahmu memang begitu. Dia tidak akan setengah hati ketika melatih seseorang. Setiap kali kita membuka lowongan pekerjaan di rumah pasti ada lebih dari setengah pendaftar yang mati atau terkena gangguan jiwa"
Mama, sebenarnya latihan macam apa yang diberikan sampai ada korban jiwa begitu?
Berganti ke baju santai (Mama tidak mengizinkanku untuk mengenakan baju cosplay), aku dan Mama menikmati makan siang bersama ketika salah satu Pelayan mendatangi kami dan mengatakan kalau Papa memanggilku ke
kantornya yang ada di kota.
Pada saat aku ingin berganti baju Penyihir, Mama kembali menghalangiku dan memaksaku untuk mengenakan pakaian resmi yang biasa dikenakan saat pergi ke kantor. Tidak bisa melawan, dengan terpaksa aku menurutinya.
Sampai di sebuah gedung pencakar langit, aku melihat sebuah logo besar yang terpajang di sisi depan gedung yang menjadi penunjuk akan identitas dari pemilik gedung ini.
Ditemani oleh Anna, aku memasuki gedung tersebut.
Tanpa perlu mendaftar pada resepsionis yang berjaga, aku berjalan langsung ke arah elevator yang menghantarkanku ke lantai teratas.
Berjalan menyusuri lorong yang panjang, aku tiba di kantor Papa.
"Kau sudah sampai. Bagus, ada yang ingin aku bicarakan"
Tanpa berbasa-basi, Papa segera memberitahukan padaku tentang sebuah kejadian yang menimpa sebuah keluarga yang bisa dibilang cukup mengejutkan bahkan bagi diriku.
"Papa bilang kalau ini ada hubungannya dengan Freedom 2?"
"Benar sekali. Si Putri tertua sudah dipastikan memainkan game tersebut. Tampaknya berkat game tersebut dia tidak hanya mampu menggunakan sihir namun juga membuatnya memiliki darah seorang Elf"
"Apakah Papa yakin? Bisa saja keluarga itu sejak awal memang keturunan Elf dan bukan karena game Freedom 2 yang memberikan sihir kepada si Putri tertua?"
"Silsilah keluarga mereka sudah diselidiki hingga ke akar-akarnya. Mereka hanyalah Manusia biasa"
Baiklah, ini sangat menarik.
Aku tahu benar kalau game Freedom 2 bukan hanya sekedar game biasa namun penghubung antar dua dunia.
Tapi siapa kira kalau orang biasa juga bisa terpengaruh seperti ini.
"Jadi, alasan kenapa Papa memanggilku kesini..."
"Tentu saja, aku meminta dirimu untuk mengatasi hal ini. Anggap saja ini sebagai bagian dari latihanmu"
Hah... sudah kuduga ini akan menjadi seperti ini.
Walau ini mendadak, tapi ini juga membuatku penasaran tentang bagaimana orang biasa bisa terpengaruh oleh Freedom 2.
Papa lalu menyerahkan dokumen yang berisi data dari keluarga yang bersangkutan.
"Fitria Samira... nama panggilan Pipit?"
"Aku menyarankan agar dirimu menemui keluarga Samira di rumah sakit terlebih dahulu. Mungkin saja kau bisa mendapatkan informasi yang penting dari mereka"
"Baiklah"
Dengan begitu aku bersama Anna kembali ke dalam mobil dan segera menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit terbesar di kota ini, aku menunggu Anna mengurus prosedur untuk menjenguk pasien. Kembalinya dari meja resepsionis, Anna memberitahukan di mana kamar tempat keluarga Samira di rawat.
Karena si Ayah menderita luka yang paling parah dan berada dalam keadaan koma, dia kini di rawat di ruang khusus sementara si Ibu dan Putri termuda di rawat di ruang umum.
Dengan arahan dari Anna, aku berjalan menuju ruangan tempat keluarga Samira di rawat. Lebih tepatnya tempat di mana si Ibu dan Putri termuda berada.
Sesampainya di depan ruangan, karena pintu ruangan yang terbuka lebar, membuatku bisa masuk begitu saja tanpa mengucapkan salam.
Masuk ke dalam, aku menemukan seorang ibu-ibu dengan perban di kepala dan kakinya yang dipasangi penyangga sedang duduk di atas ranjang rumah sakit. Di hadapannya terdapat seorang gadis kisaran 16-17 tahun berambut hitam panjang sebahu dengan penyangga di tangannya juga sedang duduk di atas ranjang rumah sakit sambil menghadap si ibu-ibu tadi.
"Siapa kau?!"
Yah, tentu saja mereka akan terkejut. Haruskah aku menenangkan mereka dengan kata-kata manis? Oh, siapa yang aku kibuli.
"Jika diriku mengatakan kalau diriku adalah seorang Penyihir, apakah kalian akan percaya?"
Yang menjawab adalah si gadis.
"Penyihir? Kau bercanda! Kalau kau tidak punya urusan maka pergilah sebelum aku memanggil penjaga!"
"Oh, kau tidak percaya? Meski kakakmu tersayang sudah melakukan itu padamu?"
Kataku sambil menunjuk pada pergelangan lengannya yang patah. Berkat ini si Ibu dan si Gadis sama-sama menampilkan ekspresi terkejut dan aku bisa merasakan ketakutan dari mereka.
"Biar aku buat lebih jelas lagi. Kedatanganku ke sini adalah untuk mengurus Kakakmu yang mengeluarkan sihir sembarangan hingga melukai keluarganya sendiri"
"Sihir! Sihir itu hanya mitos! Apa yang menimpa kami adalah ledakan gas! Putriku tidak bisa mengeluarkan sihir!"
"Heh, masih menyangkal..."
Aku lalu mengeluarkan (Wind Control) untuk menciptakan terpaan angin yang cukup lemah untuk melukai namun cukup kuat untuk membuat ruangan ini berantakan.
Hasilnya...
Pasangan Ibu dan anak segera saling memeluk satu sama lain dengan wajah penuh akan ketakutan. Yang membuatku takjub adalah meski gadis itu ketakutan dia tetap berusaha untuk melindungi ibunya yang tidak bisa berjalan.
"Apakah kalian sudah puas? Bagus. Mari kita langsung ke inti pembicaraan..."
"Tunggu!... Apa yang ingin kau lakukan terhadap kakakku?"
"Tergantung. Aku tidak bisa memutuskan tindakan apa yang harus aku ambil. Semua itu akan tergantung pada pertanyaan yang mesti kalian jawab. Jika kalian ingin Fitria baik-baik saja, maka aku harap kalian bisa menjawab dengan tepat dan jujur. Paham?"
Melihat mereka mengangguk, aku mulai memberikan mereka beberapa pertanyaan.
...
Setelah satu jam penuh akan sesi tanya jawab, aku mendapatkan apa yang aku butuh kan.
Berkat itu aku berhasil menebak nama Fitria di dunia sana beserta identitasnya yang sebenarnya. Sungguh, aku cukup terkejut ketika pertama kali mendengarnya.
"Terima kasih atas kerjasamanya. Setelah ini aku akan langsung menemui Fitria untuk melihat keadaannya"
Berbalik, aku berjalan keluar dari ruangan sebelum akhirnya di cegat oleh si Putri termuda... kalau tidak salah namanya...
"Putri Samira. Apa ada yang ingin kau katakan?"
"Jika kau ingin menemui kakakku, maka aku akan ikut denganmu"
"Tunggu, Puput...!"
Membuat si Ibu terdiam, aku menunggu Putri untuk memberikan penjelasannya.
"Jujur, aku tidak begitu peduli dengan apa yang akan kau lakukan kepadanya. Akan tetapi, sebagai adiknya setidaknya aku hendak bertanya kepadanya sesuatu"
"Apakah itu?"
"Apa yang membuatnya lebih memilih keluarganya di dalam game ketimbang keluarga aslinya"
Oh, pertanyaan seperti ini toh. Heh, kalau ini sih gampang jawabnya.
"Kalau hanya itu pertanyaanmu, maka biar aku yang menjawabnya. Sebagai seorang Wanita yang telah jatuh cinta, menikah, hingga memiliki keturunan. Sudah sepantasnya bagi kakakmu itu untuk memilih keluarga barunya yang
mengasihinya ketimbang kalian yang selalu saja mengomelinya hingga berusaha untuk memisahkannya dengan suami dan putri-putrinya"
"Ta-tapi... itu hanya game kan? Dan itu tidak..."
"Nyata? Itukah yang ingin kau katakan?"
"..."
"Kau mungkin tidak akan mempercayai ini tapi percayalah. 'Game' yang kakakmu itu mainkan bukanlah sembarang game"
Melihatnya terdiam, aku menggunakan [Psychokinesis] untuk membuatnya menyingkir dari depan pintu.
Saat berjalan di lorong menuju elevator, Putri berlari sebelum akhirnya mengikutiku dari belakang.
Jadi dia masih mau ikut yah. Baiklah, jika itu maunya.
...
Sesampainya di lokasi kejadian. Tepatnya di sebuah kompleks perumahan yang diperuntukan untuk kalangan menengah ke atas, kami tiba di depan sebuah rumah yang telah dipasangi garis polisi lengkap dengan para polisi yang berjaga menghalau para warga serta wartawan yang telah berkumpul mengerumuni rumah yang bersangkutan.
"Hah... mereka selalu saja akan langsung berkerumun ketika mendengar berita viral seperti ini"
Dengan Anna yang membukakan pintu, aku turun dari mobil sambil diiringi oleh Putri yang ikut menumpang.
"Anna, katakan pada Polisi yang berjaga untuk memberikanku izin untuk masuk. Katakan juga kalau aku bersama dengan pemilik rumah"
"Baik, Nona Muda"
Melihat Anna yang langsung berlari ke tengah kerumunan, aku mendapati kalau Putri sedang menatapku dengan penuh keheranan.
"Ada apa?"
"Ti-tidak. Hanya saja aku tidak mengira kalau seorang Penyihir bisa memiliki mobil mewah dan Pelayan Pribadi"
"Haha... jika kau berpikir kalau semua Penyihir itu menunggangi sapu terbang dan hidup di gubuk lusuh di tengah hutan maka buang jauh-jauh imajinasimu itu"
Bosan menunggu Anna yang makan waktu lama, aku melihat sekeliling dengan penuh rasa bosan. Hanya untuk menemukan sebuah pemandangan yang menarik.
Di atas atap sebuah rumah yang berada tepat di sebelah rumah Putri. Terdapat sesosok gadis yang mengenakan pakaian jogging sedang berdiri di atas atap seolah bersiap untuk melompat. Bukan terjun bebas ke atas tanah melainkan melompat menuju rumah selanjutnya.
Jika diperhatikan lebih seksama, aku menemukan sebuah familiaritas pada wajah gadis tersebut.
Hanya untuk memastikan, diam-diam aku menembakkan (Aero Bullet) yang tidak mengeluarkan suara serta tidak tampak oleh mata telanjang kepadanya.
Tidak tanggung-tanggung, aku membidik tepat ke arah kepala gadis itu.
Jika tebakanku salah, maka kepala gadis itu akan meledak. Jika beruntung, tubuhnya akan tetap di atas atap dan kemungkinan baru bisa ditemukan ketika tubuhnya mulai membusuk dan mengeluarkan aroma tidak sedap. Jika
aku sedang sial, tubuhnya akan terjatuh ke atas tanah yang di mana akan menarik perhatian banyak orang, termasuk para Polisi dan wartawan.
Untungnya tebakanku kali ini terbukti benar.
Gadis itu dengan lihainya menggerakkan kepalanya menjauh dari jalur (Aero Bullet) dan sukses menghindarinya.
Terkejut akan serangan yang tiba-tiba, gadis itu segera menoleh ke arahku dengan posisi bersiap untuk bertarung. Yang aneh adalah gadis itu yang mencoba untuk mengambil sesuatu di pinggangnya hanya untuk menemukan tidak ada apa-apa di sana.
Pada saat gadis itu menatap lurus padaku, wajahnya menampilkan ekspresi terkejut yang tidak terlukiskan.
Karena Anna yang masih belum selesai juga, aku dan Putri segera bergerak ke belakang rumah untuk menemui gadis tadi.
Dengan gerakan yang lincah bagaikan kucing, gadis itu dengan mudahnya mendaki turun dari atap rumah seolah itu sudah biasa baginya.
Berdiri di hadapanku sekarang adalah seorang gadis dengan mata dan rambut berwarna hitam yang di potong pendek. Pakaian yang dia kenakan adalah pakaian yang biasa dipakai untuk jogging yang berwarna putih dengan
corak biru.
Tatapannya yang tajam menatap lurus ke arahku seolah mengukurku dari atas hingga bawah.
"Kau... Penyihir Lavender?"
"Kita bertemu lagi, anggota dari The Guardian. Feline"