A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 76 : Into the Upper City



Karena malam sudah tiba, kami pun memutuskan untuk beristirahat.


Seperti yang kalian ketahui, ruang kosong di kota ini sangatlah langka atau bahkan tidak ada. Berkat itu aku terpaksa harus membangun ruangan sementara di bagian atap gedung Walikota.


Tentu saja aku sudah mendapatkan izin untuk ini. Bahkan setelah melihat ruangan buatanku, Dean meminta agar setelah kami pergi meninggalkan kota ini, ruangan yang aku buat agar dibiarkan saja.


Ya, walau sekarang gedung Walikota sudah tidak lagi terlihat estetik, tapi tampaknya mereka sama sekali tidak peduli dengan itu dan hanya memperdulikan setiap tambahan ruang yang tercipta.


Mungkin karena lelah karena ini adalah perjalanan panjang pertamanya, Luna seketika pergi ke alam mimpi sedetik setelah punggungnya menyentuh Kasur daun buatanku. Sementara itu aku masih harus berjaga untuk membuat


laporan rutin kepada Nenek.


Menggunakan aku pun menghubungi Nenek yang berada di Sol Ciel.


"Halo, Nenek, apakah sudah terhubung?"


"Tenang saja, suaramu itu terdengar... Astaga! Apa yang terjadi pada wajahmu!?"


Tentu saja Nenek akan terkejut ketika melihat wajah cucunya yang terluka. Agar Nenek tidak lagi panik, aku mulai menjelaskan alasan kenapa aku wajahku sampai seperti ini.


"Sebuah cermin yang mampu mengetahui keberadaan orang lain hanya dengan bertanya? Dan cermin itu sekarang digunakan untuk mengetahui siapa wanita tercantik? Sungguh, tidak kusangka kalau bukan hanya Rajanya saja


yang bermasalah, tapi Ratunya pun juga sama"


"Menurut pengakuan Ketua setempat, semua gadis di Kerajaan ini tanpa terkecuali akan melukai wajah mereka sendiri demi terhindar dari murka sang Ratu. Bahkan katanya ketika yang lahir adalah bayi perempuan, maka sang Ibu akan dengan cepat melukai wajah bayinya sendiri"


"Ya ampun, separah itukah situasi di sana?"


Setelah itu aku pun mulai menjelaskan semua informasi yang berhasil aku ketahui.


Dari situasi para Bangsawan, jumlah dan lokasi reruntuhan, hingga siapa saja yang harus diwaspadai di Kerajaan ini.


Khusus untuk reruntuhan kuno, dengan mengandalkan ingatanku aku menggambar ulang peta wilayah Narsist Kingdom lengkap dengan lokasi reruntuhan. Aku lalu menunjukkan peta tersebut kepada Nenek yang lalu memperhatikannya dengan seksama.


"Hmn... Tidak aku sangka jumlahnya akan sebanyak ini. Lavender, untuk saat ini cukup awasi reruntuhan tersebut. Jangan berbuat apa-apa yang akan membuat mereka menjadi waspada"


"Aku mengerti"


Menyelesaikan laporanku, kini giliran Nenek yang akan memberitahukan perkembangan di medan perang.


"Pasukan dari Narsist Kingdom sudah terlihat mendekati perbatasan Sanguine Kingdom. Tentu saja pihak Vampire, Elf, bahkan Spirit sudah berkumpul di perbatasan demi menyambut mereka. Rosemary juga sudah tiba di sana.


Bukan hanya pasukan dari Sanguine Kingdom saja, tapi pasukan dari Ferox Kingdom juga sudah tiba sebagai bala bantuan. Dan dalam hitungan hari pasukan dari Drakon Kingdom juga akan tiba.


Kau sudah bisa membayangkan kalau pertempuran selanjutnya akan menjadi sebuah pertempuran yang sangat dahsyat"


Begitu, jadi ketiga Kerajaan sudah membentuk aliansi yah.


Itu berarti di pertempuran selanjutnya akan menjadi 3 lawan 1. Kalau soal jumlah, jelas pasukan aliansi akan menjadi yang paling banyak. Jelas tampak mustahil bagi Narsist Kingdom untuk bisa berharap untuk menyaingi


jumlah pasukan aliansi.


Sebagai gantinya mereka pasti akan meningkatkan kualitas pasukan mereka agar bisa bersaing melawan pasukan aliansi.


Dengan item dan Equipment terkutuk yang mereka dapatkan dari reruntuhan, itu akan menjadi persoalan mudah bagi mereka.


"Oh, benar juga. Lavender, apakah kau tahu apa itu Tank?"


Tank? Tunggu sebentar, apa yang Nenek maksud dengan Tank?


"Tampaknya anak-anak Otherworlder itu telah mendapatkan Blueprint dari sisa-sisa (Ultima Arca) dan dengan menggunakan itu sebagai dasarnya mereka sukses membuat ulang kendaraan dari dunia mereka. Aku tidak tahu mengapa tapi Rosemary tampak sangat bersemangat saat membahasnya. Tank adalah sesuatu dari dunia sana kan? Apakah kau mengetahui sesuatu tentang ini?"


Oh astaga, ternyata yang Nenek maksud memang Tank yang itu...


Aku pun mulai memberikan penjelasan sederhana mengenai Tank kepada Nenek. Tentu saja aku yang tidak punya ketertarikan terhadap dunia militer tidak bisa menjelaskan secara terperinci apa itu Tank. Tapi bagiku pengetahuan umum tentang Tank sudah lebih dari cukup untuk memberikan gambaran kepada orang awam tentang apa itu Tank.


"Jadi, kau berkata kalau Tank ini adalah sebuah kendaraan lapis baja yang kebal terhadap anak panah dan memiliki kemampuan untuk menembakkan proyektil yang mampu menghancurkan sebuah rumah beton hanya dengan


sekali tembak?"


"Secara umum, itu benar. Ah, iya. Beberapa variasinya juga memiliki kemampuan amfibi untuk bisa bergerak di perairan dalam sekalipun"


"Jadi mereka bahkan bisa menjadi kapal? Ya ampun, apa yang sebenarnya para Otherworlder itu bawa ke dunia ini?"


Aku paham perasaan Nenek.


Dunia fantasi seperti ini tidak seharusnya memiliki persenjataan modern seperti Tank.


"Nenek tenang saja. Walau anak panah tidak berarti di hadapan Tank, tapi bukan berarti itu tidak bisa dihancurkan. Dunia ini memiliki sihir, dengan daya ledak yang cukup, akan mudah untuk menghancurkan sebuah Tank"


"Itu yang menjadi masalahnya. Menurut penjelasan Rosemary, Tank tersebut di buat dari bahan Mithril. Jika kau tidak tahu, Mithril itu memiliki ketahanan fisik dan sihir yang luar biasa. Yang membuatnya lebih buruk adalah adikmu itu telah memperkuat Tank tersebut dengan Rune sehingga benda itu sekarang memiliki kekebalan terhadap sihir hingga ke peringkat kedua"


"...Apa yang Rosemary pikirkan!"


"Hah, tampaknya anak itu membuat perjanjian dengan Otherworlder kalau dia akan membiayai semua pembuatan Tank dengan syarat kalau dia lah yang akan menjadi pemegang hak paten dari Tank tersebut serta dia akan


dibuatkan sebuah Tank khusus untuk dirinya seorang"


"Nenek bercanda?! Tank itu tidaklah murah! Darimana Mary mendapatkan semua uang itu?!"


Aku sungguh tidak bisa mempercayainya.


Aku tidak mau membayangkan Mary yang tampak seperti seorang Penyihir suci pergi ke medan perang sambil mengendarai sebuah Tank.


Seorang Penyihir seharusnya mengendarai makhluk fantasi seperti Gryphon, Pegasus, atau Unicorn. Sial, bahkan jika itu hanya sekedar kuda biasa, aku tidak akan mempertanyakannya.


Tapi Penyihir yang mengendarai Tank? Itu sudah lewat batas yang bisa aku maafkan.


"Nenek, kalau boleh bertanya ada berapa banyak Tank yang mereka miliki?"


"Dari laporan yang ada, mereka punya tiga"


"Ya ampun, ada satu saja di medan perang sudah menjadi prioritas utama untuk dihancurkan. Dan Nenek bilang mereka punya tiga?"


Tamat sudah riwayat dari pasukan Narsist Kingdom. Mustahil pedang dan sihir mereka untuk bisa merusak bahkan sebuah Tank sekalipun.


"Sebelum lupa, Lavender, kau sempat menyinggung tentang Empat Jendral Besar kan?"


Empat Jendral Besar. Mereka adalah empat individu yang wajib di waspadai di Narsist Kingdom. Di namakan berdasarkan empat arah mata angin, mereka menjaga perbatasan Narsist Kingdom dari ancaman luar.


Dikatakan kalau satu Jendral saja sudah cukup untuk menghancurkan satu batalion musuh.


"Itu benar, apakah salah satu dari mereka akan ikut di pertempuran yang akan datang?"


"Seperti yang kau duga, salah satu dari Empat Jendral Besar, Jendral Daratan dari Selatan (The South Land) diketahui akan memimpin pasukan yang akan menyerang Sanguine Kingdom. Jika kau memiliki informasi tambahan tolong katakan"


"The South Land, Auster El Austellus. Seperti gelarnya, dia menguasai sihir tingkat ketiga [Terra Magic]. Dia menggunakan Battle Axe sebagai senjata dan memiliki pertahanan yang luar biasa. Jika itu dirinya, aku tidak akan heran kalau dia mampu menjatuhkan ketiga Tank itu ke dalam celah bumi dengan begitu mudahnya"


Mendengar penjelasan singkat dariku, Nenek pun tampak mulai berpikir dengan serius.


"Begitu, baiklah, diriku akan menyampaikan informasi ini kepada Rosemary. Tetaplah pada tugasmu dan jangan sampai ketahuan"


"Nenek tidak perlu khawatir"


Nenek lalu menyudahi percakapan kami. Meski hanya berbicara selama beberapa menit, aku merasakan Mana ku terkuras banyak hingga aku harus beristirahat untuk memulihkannya.


Sungguh, tidak bisakah ini di buat untuk lebih ramah pengguna?


Melihat Luna yang masih tertidur lelap, aku pun mengelus kepalanya dengan lembut menjaga agar tidak membangunkannya. Luka di wajahnya masih ada seperti yang aku harapkan. Meski begitu, masih ada rasa bersalah dalam diriku karena memaksanya untuk mengalami ini.


"Tenang saja wahai muridku, setelah semua ini selesai, bersama-sama kita akan memberikan hukuman yang setimpal kepada Ratu pelacur yang membuat kita harus mengalami hal ini"


Karena hari yang sudah larut, aku pun memanjat naik ke tempat tidurku dan akhirnya menutup mata untuk pergi ke alam mimpi.


...


Walau tampaknya matahari masih belum terbit, tapi kami sudah kembali menyusuri gorong-gorong yang rumit nan gelap.


Untungnya kali ini kami ditemani oleh seorang Penjaga kepercayaan Dean yang bertugas sebagai pemandu kami menuju permukaan.


Setelah melewati jalan yang berliku, kami akhirnya tiba di depan sebuah pintu baja yang tebal dan kokoh.


"Pintu ini terhubung dengan gudang tua tepat di pinggir kota. Pergilah menuju arah tenggara dan temukan hotel bernama Lost Peacock. Hotel itu dikelola oleh kami sehingga kalian semua bisa bersembunyi di sana. Untuk kode


rahasinya cukup katakan 'Mahkota Perunggu' pada meja resepsionis"


"Terima kasih, aku akan mengingat hutang budi ini"


Melewati pintu baja, kami tiba di dalam sebuah gudang kosong yang berdebu. Tanda kalau gudang ini sudah lama tidak digunakan.


"Baiklah, semua ganti pakaian kalian. Luna, tolong buat kita semua tampak seperti Manusia biasa"


Pelayanku pun segera menanggalkan pakaian mereka di tempat. Walau kedua budakku awalnya tampak ragu, tapi setelah menerima tatapan tajam dariku mereka pun dengan malu-malu mulai berganti pakaian.


"Guru, apakah aku juga..."


"Tentu saja, sekarang cepat buka pakaianmu"


Dengan paksa aku pun melepaskan pakaian Luna yang masih malu-malu. Dalam sekejap Luna pun sudah menjadi polos tanpa sehelaipun benang yang menyelimuti tubuh kecilnya.


Mengambil pakaian dari kami pun mulai berganti pakaian.


Karena secara teknis aku masih menggunakan [Magical Garment] aku hanya tinggal mengubah baju yang aku kenakan untuk mengganti pakaianku.


Aku kini menggunakan gaun panjang berwarna hijau tua dengan sebuah selendang berwarna sama yang melilit leherku. Karena aku tidak mungkin bisa menggunakan topi kerucutku, aku pun menghilangkannya yang mana


membuat yang telah aku ubah penampilannya menjadi sebuah tiara yang cantik terpampang jelas. Aku juga mengganti gaya rambutku menjadi gaya kepang samping serta menggunakan sebuah topeng yang hanya menutupi wajahku yang terluka.


Tentu saja aku baru saja membuat topeng ini dengan (Nature Creation).


Karena topeng ini hanya aku gunakan untuk menutupi luka di wajahku, hanya sebagian wajahku saja yang tertutup oleh topeng. Hal yang sama juga dikenakan oleh Luna.


Untuk Luna, kini dia mengenakan gaun dengan gaya Gothic Lolita serba hitam dan penuh dengan renda. Gaun ini di rancang oleh Milim jadi kau bisa mengharakan sesuatu yang nakal dari gaun ini. Hanya saja aku masih tidak tahu apa itu.


Oh, benar juga.


Gaun yang aku kenakan sekarang di rajut dengan menggunakan rambut dari Lif. Benar, hukuman yang aku berikan kepadanya sudah dilaksanakan.


Yang membuatku kesal adalah fakta kalau Lif ternyata mampu menumbuhkan kembali rambutnya hanya dalam hitungan detik. Yang mana itu berarti rambutnya sekarang masih sangatlah panjang seolah tidak pernah di


potong.


Sedangkan untuk para Pelayan dan Budakku, mereka berganti menjadi seragam Maid. Seragam yang mereka kenakan adalah seragam Maid klasik yang tampak polos dan minim akan dekorasi.


Tentu saja mereka semua mengenakan topeng tapi topeng yang mereka kenakan menutupi seluruh wajah mereka. Alasannya sederhana, Pelayan tidak perlu untuk memamerkan wajah mereka.


"Sekarang, Luna, saatnya kau melakukan tugasmu"


"Baik... (Minor Illusion)"


Menggunakan sihirnya, Luna membuat penampilanku menjadi kembali mirip seperti Manusia. Telingaku kini tidak lagi panjang dan tato di tubuhku kini sudah tiada lagi. Untuk Percy dan Zweite, kristal yang tersemat di tubuh


mereka kini sudah tidak lagi terlihat. Glory kini tidak lagi memiliki telinga kucingnya yang digantikan oleh sepasang telinga Manusia. Ekornya bisa dia sembunyikan di balik roknya yang panjang jadi dia masih aman.


Victoria yang paling banyak mengalami perubahan.


Cakarnya kini digantingan oleh sepasang tangan Manusia yang mungil dan tampak bisa patah kapan saja. Tanduk di kepalanya kini sudah tiada dan begitu juga dengan sisik yang ada di tubuhnya. Karena ekornya itu besar dan


tebal, membuatnya mustahil untuk disembunyikan seperti ekor Glory.


Oleh karena itu, aku pun memotongnya.


Tenang saja, aku sudah menyediakan sebuah Potion yang sangat ampuh hingga mampu menumbuhkan kembali anggota tubuh yang hilang.


Mau bagaimana lagi kan? Ekornya itu selalu menyembul dari balik roknya. Walau ditutupi dengan ilusi sekalipun, roknya tetap terangkat yang mana itu akan membuat orang menjadi curiga padanya.


Sedangkan untuk Luna, karena hanya ekornya saja yang memberitahukan kalau dia itu bukanlah Manusia, Luna tidak perlu menggunakan ilusi untuk dirinya sendiri dan hanya melilitkan ekornya pada pahanya yang tertutup oleh rok berenda seperti biasa.


Entah mengapa aku jadi bersyukur karena Nenek telah meminjam si kembar. Jika saja mereka ada di sini, maka aku tidak yakin penyamaran ini akan berjalan dengan lancar.


Maksudku, mereka itu terlalu terlihat seperti anak kecil yang tidak akan cocok jika diberikan peran sebagai seorang Maid.


Memang benar sih kalau tinggi Victoria tidak jauh berbeda dari si kembar. Tapi karena Victoria memiliki wajah yang jauh lebih dewasa, maka orang-orang hanya akan menganggap kalau dia adalah seorang Maid dengan tubuh yang


pendek dan bukan anak kecil yang mengenakan seragam Maid.


Bahkan jika dia mengenakan topeng sekalipun, aura yang dia pancarkan sudah lebih dari cukup untuk memberitahukan kalau dia itu bukanlah anak kecil yang lemah.


Melihat kalau semua orang sudah selesai menyamar, kami pun sudah siap untuk pergi ke luar.


"Ingatlah, peran kita di sini adalah sebagai seorang gadis bangsawan beserta para Pelayannya. Juga, aku dan Luna akan bersikap selayaknya kakak adik. Jadi, Luna, mulai sekarang panggil aku sebagai kakak. Oke"


"Baik, Guru, maksudku, kakak"


"Bagus, juga, namaku sekarang adalah Malika Verloren. Sedangkan namamu sekarang adalah... Selene Verloren. Paham? Bagus. mari kita segera berangkat"


Dengan Percy yang membukakan pintu gudang, terlihat pemandangan pemukiman kumuh yang biasa terlihat di pinggiran kota.


Berjalan di jalanan yang tidak di sangka bersih, kami pun melangkahkan kaki menuju arah tenggara di mana hotel Lost Peacock berada.


Demi mendalami peran, aku dan Luna sama-sama membawa payung kecil selayaknya gadis bangsawan pada umumnya.


Payung milikku berwarna putih polos sedangkan payung Luna tentunya adalah payung hitam kecil yang berenda.


Setelah melewati jalanan yang sepi, kami akhirnya tiba di jalan utama yang dipenuhi oleh orang yang berlalu-lalang.


Pemandangan yang aku lihat sekarang mengingatkanku akan film tentang seorang gadis pemanah yang ikut dalam permainan hidup dan mati hanya demi memuaskan para orang kaya.


Apa yang aku lihat sekarang sama persis seperti pemandangan kota yang ada di sana.


Gaya arsitektur yang tidak disangka sangat modern yang sangat mirip dengan kota di dunia sana hanya saja di sini terlihat sedikit lebih futuristik atau mungkin lebih cocok aku sebut sebagai abstrak?


Banyak sekali bangunan dengan gaya aneh yang jelas sekali kalau bangunan-bangunan tersebut di bangun dengan mengutamakan penampilan ketimbang fungsi dan keamanan.


Sedangkan para warga setempat baik itu laki-laki maupun perempuan semuanya mengenakan pakaian yang sangat meriah seolah mereka hendak pergi ke pesta.


Jika di bandingkan dengan pakaian yang kami kenakan... Yah, Luna mungkin bisa berbaur dengan mudah karena pakaian Gothic miliknya ternyata setara dengan pakaian warga setempat. Tapi, gaun milikku yang kalau di Kerajaan lain akan terlihat mewah, di sini aku malah terlihat polos karena gaun milikku tidak memiliki banyak dekorasi atau hiasan lainnya.


Selagi kami masih belum memasuki jalan utama, aku segera menggunakan (Nature Creation) pada gaunku demi membuatnya terlihat lebih meriah namun tetap tidak mencolok.


Seperti yang sudah aku beritahukan sebelumnya, gaun ini di rajut menggunakan rambut Lif yang adalah seorang Dryad. Karena Dryad adalah roh tanaman, membuat gaun ini secara teknis sama seperti terbuat dari tanaman hidup yang memungkinkan diriku untuk memodifikasinya dengan menggunakan sihir.


Gaun yang awalnya polos kini dipenuhi oleh pola seperti tanaman merambat yang menghiasi setiap permukaannya. Pada bagian kerahnya aku buat agar ditumbuhi oleh daun yang membuatnya seperti sebuah surai yang terbuat


dari tanaman.


Selendang yang aku gunakan juga tidak luput dari modifikasiku.


Apa yang awalnya adalah selendang polos kini penuh akan pola tanaman yang dua kali lebih rumit dari pola pada gaun milikku.


Sedangkan untuk payung yang aku bawa, aku segera menyimpannya kembali karena terlihat terlalu polos. Sebagai gantinya aku segera menumbuhkan payung baru dari dalam tanah.


Hasilnya sekarang aku membawa sebuah payung baru yang seolah dibuat langsung dari daun pohon kelapa yang lebar yang di susun satu sama lain hingga membentuk sebuah payung.


Topeng yang aku gunakan juga aku ubah agar memberikan kesan misterius sedangkan topeng milik Luna aku ubah agar memberikan kesan berbahaya.


Setelah yakin kalau kali ini kami benar-benar sudah siap, kami akhirnya melangkahkan kaki memasuki jalan utama.


Seperti yang aku harapkan, kami dapat dengan mudah berbaur dengan warga setempat.


Menjaga agar gaya berjalanku tetaplah anggun, aku menyaksikan warga Kerajaan ini dari dekat.


Selain pakaian meriah yang mereka kenakan, para perempuan di sini semuanya tanpa terkecuali mengenakan topeng yang hanya menyembunyikan setengah wajah mereka sama seperti topeng yang sekarang aku kenakan.


Alasannya sangatlah sederhana.


Sama halnya dengan para warga dari Undercity, para gadis di atas sini juga tidak luput dari ancaman Ratu Narsist yang tergila-gila akan kecantikan.


Sejak kecil wajah mereka sudah di rusak agar cermin ajaib sang Ratu tidak mengendus keberadaan mereka.


Karena Kerajaan ini mengutamakan kecantikan dan keindahan, maka tidak termaafkan bila ada cacat yang merusak keindahan tersebut.


Oleh karena itu, para perempuan di atas sini akan menutupi wajah mereka dengan menggunakan topeng sehingga tidak ada seorangpun yang akan melihat 'kecacatan' mereka.


Walau aku sempat ragu, tapi untungnya tidak ada seorangpun yang mempertanyakan pakaian yang para Pelayanku kenakan.


Melihat-lihat, aku senang ketika mengetahui kalau para Pelayan yang sedang menemani majikan mereka semuanya mengenakan pakaian polos yang berbanding terbalik dengan pakaian yang majikan mereka kenakan.


Belum lagi semua Pelayan wanita juga mengenakan topeng yang menutupi seluruh wajah mereka.


Yakin sudah kalau penyamaran kami yang sempurna, aku pun dengan penuh percaya diri mulai berusaha untuk terlihat seperti seorang gadis bangsawan yang sombong dan angkuh.


Berjalan di dalam kota musuh, operasi penyusupan kami pun akhirnya benar-benar di mulai.