
Lihat apa yang aku temukan di sini.
Keputusanku untuk menyuruh Glaza untuk melihat-lihat terlebih dahulu seperti biasa memang sangat tepat.
Maksudku, siapa sangka kalau di Sol Ciel ternyata juga ada seorang Setan (Devil) meski hanya berdarah campuran mirip sepertiku.
Mengikuti insting alamiku sebagai seorang Iblis (Demon), akan sayang rasanya jika aku tidak menjadikan gadis itu sebagai muridku.
Lihat saja gadis kecil ini. Tampaknya dia juga sangat ingin menjadi muridku sampai-sampai dia mempertunjukkan kemampuannya kepadaku.
"Gadis kecil, bisakah kau beritahukan namamu kepadaku?"
Aww... Dia ternyata adalah seorang yang pemalu. Aku tidak bisa memaksanya kalau begitu.
Ah, benar. Mumpung ada kesempatan, bagaimana jika aku menggunakan [Demonic Charm] yang jarang aku gunakan?
Dengan Skill yang sudah di aktifkan, aku pun mengelus pipinya dengan lembut sambil berkata "Pertama, bisakah aku melihat wajahmu?" tidak lama setelah aku mengatakan itu, tubuh gadis itu yang awalnya transparan kini mulai menampakkan wujudnya.
Mengenakan jubah hitam tua sederhana yang tampak sudah sangat ketinggalan jaman. Kedua matanya berbeda warna dengan mata kiri berwarna cokelat sedangkan mata kanannya berwarna biru terang.
Rambut hitamnya dibiarkan memanjang namun rambutnya lurus dan halus seperti selalu di rawat setiap minggunya.
Telinganya tampak normal, jika dilihat lebih dekat lagi maka kau bisa melihat taring kecil yang di mulut kecilnya.
Walau dari luar dia tampak normal, tapi aku yakin dia memiliki aspek Setan (Devil) yang dia sembunyikan.
"Lihatlah wajahmu yang cantik ini, kenapa kau sembunyikan?"
Walau ada sedikit jeda, dia pun menjawab.
"A-aku... Lebih suka seperti ini. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian"
"Apakah itu karena rasmu?"
Gadis itu pun mengangguk pelan.
Sekarang aku sudah mengetahui sedikit tentang latar belakangnya.
Aku tidak tahu apakah ini terjadi sebelum atau sesudah dia berada di Sol Ciel, tapi karena dia yang memiliki darah Setan (Devil) dalam dirinya membuat gadis ini selalu di bully oleh banyak orang.
Karena itulah dia membangkitkan kemampuannya untuk menciptakan ilusi demi melindungi dirinya karena mereka tidak akan bisa mengganggunya jika mereka tidak bisa melihatnya.
Itu atau dia merasa sangat sakit hati hingga berharap kalau dirinya menghilang saja yang mana membangkitkan kekuatannya.
Itu benar, gadis yang ada di hadapanku ini adalah pemilik dari sihir langka yang bahkan aku saja tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya.
[Illusion Magic]
Sebuah sihir yang sama yang digunakan para Perapal Mantra (Caster) dari Narsist Kingdom untuk membawa ribuan Mobs menuju hutan Barrier tanpa terdeteksi.
Berbeda dari Skill sihir lainnya yang bisa di dapatkan asal kau memiliki SP, butuh keahlian yang kau miliki sejak lahir agar bisa mendapatkan [Illusion Magic] dan hanya aktif secara tiba-tiba dan bukan di sengaja.
Yang mana itu membuatku tidak akan pernah bisa memiliki sihir ini.
Nenek berkata kalau kebanyakan pemilik dari [Illusion Magic] itu adalah penduduk dari Narsist Kingdom atau keturunan mereka. Yang mana itu berarti kalau gadis yang ada dihadapanku sekarang dulunya adalah penduduk dari Narsist Kingdom.
"Sekali lagi, aku ingin bertanya. Siapakah namamu?"
Dengan [Demonic Charm] yang masih aktif, membuatnya kali ini mau memberitahukan namanya kepadaku.
"...Luna"
"Luna, Rembulan... Nama yang cantik"
Tanpa menunda lagi aku langsung menarik tangannya dan membawanya ke hadapan Nenek yang telah menunggu.
...
Sungguh, apa yang sebenarnya sedang terjadi?
"Nona Lavender, ini adalah kamar yang telah disediakan untuk Anda. Silahkan gunakan sesuka hati"
"Kau bilang seluruh rumah pohon ini sebagai kamar?"
"Kamar di sebelah adalah milik Nona Rosemary. Dan jika Anda butuh material untuk keperluan ritual atau alkemi, Anda bisa bebas mengambilnya dari gudang yang berada di belakang..."
"Heh, kau sengaja untuk mengalihkan pembicaraan yah..."
Aku yang beberapa saat yang lalu hanyalah Pelajar biasa kini berdiri sebagai murid dari seorang Ciel. Mengikuti Guru baruku, kami berdiri di depan sebuah rumah pohon, atau lebih tepatnya sebuah pohon besar yang di pahat hingga menjadi sebuah rumah.
Sama seperti yang Guru Lavender katakan, aku masih tidak mengerti kenapa mereka menyebut seluruh rumah ini sebagai 'Kamar'.
"...Kalau begitu Saya permisi"
Penyihir Senior yang memandu kami pamit undur diri.
Guru Lavender terus memperhatikan Penyihir Senior itu sampai sosoknya menghilang di kejauhan. Berpaling, Guru Lavender lalu memerintahkan para budaknya untuk memasukkan barang-barang milikku yang di ambil dari asrama ke dalam Kamar.
"Baiklah, mari kita masuk juga"
Masih digandeng oleh Guru, kami berdua masuk ke dalam Kamar dengan para Pelayannya yang mengikuti dari belakang.
Masuk ke dalam, kami di sambut oleh interior ruangan yang seluruhnya terbuat dari kayu putih yang dilapisi oleh ukiran-ukiran sihir yang tidak aku mengerti.
"Rune Pelindung... Peredam Suara... Tahan Api... Heh, daripada rumah pohon akan lebih tepat kalau menyebut tempat ini sebagai sebuah benteng"
Jadi ini yang namanya Rune?
Instruktur hanya akan mengajarkan kami tentang itu ketika kami naik kelas sebagai seorang Penyihir (Witch). Guru bisa mengetahui kegunaan semua Rune ini hanya dengan sekali pandang? Aku harap Guru segera mengajarkannya kepadaku walau aku masih seorang Forest Dwellers.
Selanjutnya kami menghabiskan waktu untuk berkeliling kamar.
Di lantai pertama adalah ruang tamu, dapur, serta ruang santai.
Di lantai kedua adalah kamar tidur dan kamar mandi serta toilet.
Di lantai ketiga adalah laboratorium, tempat ritual, dan gudang untuk menyimpan material.
Di lantai paling atas adalah ruang kosong serta balkon untuk melihat keluar.
Terdapat dua kamar tidur di lantai kedua. Satu jelas untuk Guru sedangkan yang satunya lagi adalah untukku yang adalah muridnya.
Sudah menjadi adat bagi seorang Guru dan murid untuk tinggal bersama. Karena itulah seluruh barang milikku di pindahkan dari asrama pelajar ke sini.
Tunggu sebentar, karena kamar ini hanya punya dua buah kamar tidur (Sial, ini mulai menyebalkan), di mana para Pelayan dan Budak Guru akan tidur?
Kalau budak masih bisa di suruh untuk tidur di sembarang tempat. Tapi kalau Pelayan?
Tampak sedang memikirkan sesuatu, Guru hanya berdiri di tengah ruangan kosong di lantai teratas sambil memandang ke udara kosong.
Aku yang tidak tahu harus bagaimana hanya diam memperhatikan.
"Mereka bilang aku bebas melakukan apa pun terhadap 'kamar' ini kan?"
Walau aku merasakan firasat buruk, aku hanya mengangguk.
Guru pun seketika tersenyum.
"Baiklah, Percy. Kau dan yang lain segera keluar dan menjauh setidaknya 100 meter dari tempat ini"
"Siap!"
"...Oh, Luna. Kau tetap di sampingku"
Melihat dari balkon, para Pelayan dan Budak Guru Lavender berdiri di kejauhan sambil melihat ke arah kamar. Sementara itu Guru mulai mengukir sebuah lingkaran sihir yang rumit di atas lantai dengan menggunakan ujung
Staffnya yang tampak seperti sebuah bor.
Tidak butuh waktu lama bagi Guru untuk menyelesaikan lingkaran sihir itu dan tersenyum puas karenanya.
"Luna, menjauh dari balkon karena itu akan berbahaya"
"Ba-baik"
Mengikuti arahan dari Guru, aku pun berdiri tidak jauh dari Guru sambil menyandarkan punggungku ke arah dinding.
Memejamkan matanya, Guru pun memulai ritualnya.
"Hmm... Haruskah aku membaca mantra? Sudahlah, aku buat singkat saja"
"Wahai kediaman alami, dengarkanlah perintahku"
"Jadikanlah batangmu menjadi rumah tempatku berdiam"
"Wahai kediaman sejati, turutilah perintahku"
"Terima aku sebagai tuanmu dan lindungi aku dari dunia luar"
(Nature Overlord)
Dengan lingkaran sihir yang bersinar semakin terang seiring dengan mantra yang Guru ucapkan, aku merasakan Mana di sekitar menjadi bergejolak seolah sedang terjadi badai di dalam ruangan ini. Pusaran angin bertiup kencang sampai-sampai aku harus memegangi topi segitigaku agar tidak terbang terbawa angin.
Menyelesaikan mantranya, Guru dengan kuat menghentakkan Staffnya ke atas lantai.
Cahaya ungu terang terpancar dan memenuhi seluruh pandanganku.
Secara refleks aku menutup mata karena cahaya yang begitu terangnya. Sedetik kemudian aku merasakan pijakanku menjadi tidak stabil seolah seluruh kamar berguncang. Takut terjatuh, aku segera berjongkok dan meletakkan kedua tanganku di atas lantai.
Dengan hanya pendengaranku yang bisa di andalkan, terdengar suara kayu yang saling bergesekkan seolah seluruh kamar ini menjadi hidup.
Tidak hanya itu, aku bisa merasakan komposisi Mana di tempat ini berubah secara drastis yang mana hal itu membuatku mual dan kepalaku terasa sakit.
Aku tidak tahu berapa lama proses ini akan berlanjut. Aku terus saja menutup mata takut untuk membukanya.
"Sudah sele..."
Belum sempat Guru selesai bicara, aku segera berlari ke arah balkon.
"Huuueeekkkk..."
"Oh, ya ampun. Apakah ini terlalu berlebihan untukmu?"
Berjalan ke belakangku, Guru lalu mengelus punggungku dengan lembut. Walau dunia masih terasa berputar, tapi kondisiku sudah semakin membaik.
"Sudah baikan? Mau buah beri?"
Sambil di suapi, hanya dengan satu gigitan buah beri yang ada di dalam mulutku seketika pecah dan mengeluarkan cairan yang manis dan nikmat yang menyebar ke seluruh mulutku. Tidak hanya itu, aku bisa merasakan kondisi
tubuhku seketika membaik dan rasa mual yang tadi aku rasakan sudah tidak ada lagi.
"Terima kasih, apakah masih ada lagi?"
Tersenyum, Guru lalu menumbuhkan sebuah buah beri berwarna ungu gelap dari telapak tangannya. Melihat buah beri yang segar, aku memakannya langsung dari telapak tangan Guru... Tunggu!
"Ini yang terakhir untuk hari ini, oke? Terlalu banyak mengkonsumsi kondensasi Mana itu tidak baik bagi tubuhmu"
Glek... Apa yang baru saja aku makan!?!
Wahai diriku yang bodoh! Seharusnya kau sudah curiga saat Guru menumbuhkan buah beri dari tangannya. Kenapa malah langsung kau makan dasar tolol!!!
Tanpa memedulikan gejolak yang ada di pikiranku, Guru berteriak menyuruh agar para Pelayan dan Budaknya untuk segera masuk dan mulai menata ruangan.
"Kak, apakah kalian tidak apa-apa?!"
Dengan sepasang sayap putih di punggungnya, Nona Rosemary yang berada di kamar sebelah langsung terbang kemari dan mendarat tepat di samping Guru. Tepat saat Nona Rosemary mendarat, sayap di punggungnya menjadi lunglai sebelum akhirnya berubah kembali menjadi jubah putih.
"Mary, darimana kau mendapatkan jubah itu! Aku juga mau!"
"Oh, ini. Ini adalah pemberian dari Mama... Tunggu, aku yang bertanya terlebih dahulu. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?!"
Setelah itu Guru lalu menjelaskan semua yang terjadi kepada Nona Rosemary.
"...Jadi, Kakak memiliki kemampuan untuk mengambil alih segala jenis tumbuhan ke bawah kendalimu. Bahkan seluruh hutan sekalipun?"
"Ya, aku baru dua kali mengambil alih seluruh hutan. Hei, Mary. Nenek bilang kau menguasai [Holy Magic]? Apakah kau tidak punya sihir khusus atau semacamnya?"
"Punya sih, sihir spesialku membuatku mampu untuk membuat sebuah area khusus yang bisa menyembuhkan segala jenis luka termasuk menumbuhkan kembali organ tubuh yang hilang"
"Hei, bukankah itu sihir yang luar biasa? Jelas sekali Nenek akan mengirimmu ke garis depan yang memiliki banyak korban luka"
"Aku tidak bisa menyangkalnya"
Guru dan Nona Rosemary terus berbincang akrab untuk beberapa waktu. Melihat mereka berdiri berdampingan seperti ini membuatku menyadari perbedaan mereka meski mereka berdua memiliki rupa yang serupa.
Sementara itu aku hanya berdiri diam tidak tahu harus bagaimana. Melihat ke bawah, terlihat kerumunan orang yang berdatangan karena keributan yang Guru buat.
Aku bisa memaklumi mereka.
Dinding dari kayu berwarna putih yang aku lihat sebelumnya kini tidak ada lagi. Sekarang seluruh interior kamar dilapisi oleh kayu gelap dengan corak ungu yang berpendar memancarkan cahaya berwarna ungu terang.
Rune-rune yang terukir pada dinding masih ada namun posisinya berpindah dan kini Rune tersebut juga ikut memancarkan cahaya ungu yang sama.
Mendongak ke atas, daun-daun hijau kini sudah tidak ada dan digantikan oleh daun ungu yang memancarkan aroma yang wangi.
Jika melihat dari luar, semua orang pasti akan terkejut jika menemukan sebuah pohon ungu menyala tiba-tiba saja muncul begitu saja.
Para penonton yang berdatangan lalu bubar setelah beberapa Penyihir Senior datang dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Aku yakin pasti Ketua Cardinal yang memerintahkan mereka tahu kalau ini adalah ulah Cucu pertamanya.
Menepukkan tangannya seolah baru teringat akan sesuatu, Guru lalu bicara...
"Benar juga. Aku baru mau pulang. Jadi, Mary, apakah kau mau ikut?"
"Pulang? Pulang kemana?"
"Kerumahku, tentu saja. Yang ada di Drakon Kingdom"
"Drakon Kingdom! Bukankah Kakak baru saja sampai... Tunggu, jangan bilang Kakak mau teleportasi ke sana?"
"Hehe..."
Menampilkan senyuman nakal, Guru lalu memunculkan sebuah bola kristal yang melayang di telapak tangannya. Menghentakkan Staffnya ke lantai, bola kristal itu kemudian memancarkan cahaya ungu terang.
Pada dinding yang awalnya kosong kini tumbuh batang kayu yang menggeliat hingga membentuk semacam pintu gerbang.
Dari dalam gerbang tersebut, muncul sebuah tabir asap putih yang tebal dan berputar seperti sebuah pusaran air.
"Ayo, silahkan masuk. Luna, kau juga ikut"
"Ah, baik!"
"Tunggu sebentar, aku akan memberitahukan Clara kalau semuanya baik-baik saja"
Sementara Nona Rosemary kembali menuju kamarnya, aku mengikuti Guru dan melangkahkan kakiku melewati tabir asap yang ada di hadapanku.
Apa yang menantiku dari balik tabir asap itu adalah sebuah hutan yang menyala ungu.
Baik itu pohon, rumput, segalanya memancarkan cahaya ungu yang menggoda.
Hal pertama yang menarik perhatianku adalah sebuah Mansion besar yang berdiri dengan megahnya di tengah hutan ungu ini.
Di sekitarnya terdapat beberapa banguan lainnya yang seluruhnya terbuat dari kayu dan beratapkan dedaunan berwarna ungu.
Tidak jauh dari Mansion juga terdapat ladang yang ditumbuhi oleh segala jenis tanaman. Tepat di sebelah ladang adalah sebuah sungai kecil yang mengalir dan dipenuhi oleh gadis-gadis yang telanjang bulat.
APA!?
...
Hah... Akhirnya aku bisa pulang juga.
Walau baru sekitar satu atau dua bulan waktu dunia ini, tapi aku tetap merindukan wilayahku yang tercinta yang aku bangun dengan seluruh jerih payahku.
Baiklah, berhenti bernostalgia dan mari kita mulai menyombongkan rumahku kepada muridku yang manis.
"Selamat datang di... Hm? Kenapa kau terdiam seperti itu?"
Dengan tampang seolah sedang tidak percaya yang bercampur dengan pipinya yang merona seolah telah melihat sesuatu yang memalukan, Luna menunjuk ke arah sungai yang berada tidak jauh dari Mansionku.
Melihat ke arah yang dia tunjuk, seketika aku paham kenapa dia bertindak seperti itu.
Langsung saja aku tarik tangannya.
"Guru?!"
"Ayolah, jangan bertingkah seperti gadis perawan dan ikut denganku"
"Tapi aku memang perawan!"
Dan itu, wahai muridku. Adalah sebuah informasi yang seharusnya tidak pernah kau beritahukan kepadaku.
Sebelum lupa, Mary yang datang menyusul juga bertingkah sama seperti Luna.