
Panas api yang membara membakar segala yang dia sentuh. Sementara sebuah tombak berlapis air berusaha untuk menangkis jilatan api yang dengan gencar mengejarnya.
Di sisi lain, sebuah kapak batu saling beradu dengan sebuah pedang besar yang terbuat dari logam.
Empat individu dua pertarungan.
Duel antar kesatria akan ditentukan oleh siapa yang paling unggul di antara keduanya.
Pemenang akan membuktikan kalau dirinyalah yang terbaik sedangkan yang kalah akan menjadi seorang pecundang.
Semua adalah adil di dalam duel nan sakral.
Sayang, ini bukanlah duel.
Mereka tidaklah berada di dalam arena melainkan berada di medan perang.
Whooosh... suara panah mendesing membelah udara.
Occidens yang sedang sibuk menghindari tebasan pedang dari Ratu Titania terpaksa harus menerima sebuah anak panah menghantam punggungnya yang terbuka lebar. Terima kasih berkat Armor yang dia gunakan yang membuat luka yang diterima tidaklah begitu parah.
Akan tetapi serangan itu membuatnya kehilangan momentum yang menghantarkan pedang Ratu Titania berada tepat di wajahnya.
Jika bukan karena (Ocean Protection) maka wajahnya yang tidak terlindungi oleh Helm pasti sudah sirna. Meski begitu, hawa panas yang dikeluarkan oleh Ratu Titania membuat perisai air miliknya mendesis dengan keras.
Sementara itu, tubuh Bearnard bersinar terang diselimuti oleh cahaya suci yang tidak hanya menyembuhkan segala luka yang dia derita sepanjang pertempuran tapi juga meningkatkan kekuatan fisiknya.
Auster yang melihat ini segera mengalihkan perhatiannya pada sosok Penyihir Rosemary yang berdiri di sana dengan Staff di tangan yang mengeluarkan cahaya yang sama.
Tidak terima akan hal ini, Auster pun mengayunkan Great Axe yang dialiri oleh Mana sehingga kapak itu menjadi semakin kuat dan tajam lebih dari yang sebelumnya. Bearnard yang sudah kembali pulih menyambut serangan Auster dengan ayunan dari Great Sword miliknya sendiri.
Boom! Suara ledakan terdengar ketika serangan mereka saling bertemu. Suara yang dihasilkan tidaklah terdengar seperti batu dan logam yang saling di adu tapi memang begitulah kenyataannya.
Melihat kedua pertarungan yang sangat sengit ini, para prajurit dari kedua pihak menjadi terdiam bahkan ketika lawan mereka berada tepat di hadapan mereka.
Mereka tidak mampu memalingkan mata mereka dari pertarungan sengit yang pastinya akan di catat dalam sejarah dunia. Tidak lagi punya niat untuk bertarung, para prajurit dari kedua belah pihak sepakat untuk diam saja menunggu hasil dari pertarungan yang sangat sengit ini.
...
(Sharp Edge) (Quick Slice)
Mengeluarkan dua Skill secara bersamaan, Bearnard mengincar leher Auster namun berhasil di tangkis dan langsung di balas dengan (Stakes Wave) yang tumbuh begitu saja dari bawah kakinya. Menolak untuk menghindar,
Bearnard mengaktifkan (Sturdy Defense) untuk meningkatkan pertahanannya walau untuk sementara waktu.
"Kuh" menahan pasak-pasak yang berusaha untuk menembus Armornya, Bearnard kembali beradu serangan dengan Auster.
Walau Auster berhasil melukai Bearnard, tapi itu tidak membuatnya senang. Itu dikarenakan tidak peduli seberapa parah luka yang berhasil dia berikan, semua itu pasti akan langsung disembuhkan oleh Penyihir Rosemary yang
senantiasa berjaga di belakang Bearnard.
Berkat bantuan dari Penyihir Rosemary, Bearnard dapat dengan leluasa mengayunkan pedangnya dengan sesuka hati tanpa perlu memedulikan pertahanannya. Bahkan jika dia menerima sebuah luka yang fatal sekalipun, selama ada Penyihir Rosemary luka yang paling parah sekalipun tidak akan ada artinya.
Karena inilah Auster sangat ingin untuk menyingkirkan Penyihir Rosemary. Akan tetapi, Beruang di hadapannya tidak akan membiarkannya lewat.
"Diam dan tidurlah!"
Mengayunkan Great Axe nya secara horizontal, Auster mengincar sisi samping Bearnard sembari mengaktifkan Skill (Great Lumber) yang jika terkena bahkan pohon paling besar sekalipun akan langsung tumbang dalam sekali tebas.
Dengan [Danger Sense] yang berteriak keras, Bearnard berusaha untuk menghindari serangan Auster dengan segala cara. Pada saat dirinya hendak berguling ke samping, tiba-tiba saja sebuah perisai cahaya tercipta yang melindunginya dari ayunan Great Axe yang berbahaya.
BANG! Suara dentuman keras berdentang ketika Great Axe Auster menghantam (Holy Shield) milik Penyihir Rosemary. Retakan besar terlihat pada permukaan perisai cahaya itu bukti dari kekuatan Auster yang memang tidak bisa diremehkan.
Akan tetapi, walau memang benar dia berhasil merusak perisai itu, tapi Auster tetap tidak mampu untuk menghancurkannya. Dari penglihatannya, hanya butuh satu serangan lagi untuk menghancurkan perisai tersebut. Sayang, dampak dari serangan tadi membuat tangan Auster mati rasa sehingga mustahil baginya untuk mengayunkan Great Axe nya untuk sementara waktu.
Tentu saja hal ini tidak dilewatkan oleh Bearnard.
Mencondongkan tubuhnya, Bearnard mengarahkan mata pedangnya tepat ke arah leher Auster yang terlindungi oleh Armor batu yang kokoh bagaikan baja.
Mengerahkan segala tenaga yang dia punya, Bearnard mengaktifkan Skill (Grand Piercing) yang mana membuat mata pedangnya diselimuti oleh cahaya terang kebiruan.
Melihat ini, tentu saja Auster berusaha untuk menghindar.
Sayang, hal itu tidak diperbolehkan.
(Luminous Ring)
Total 10 cincin cahaya muncul dan menjerat Auster yang membuatnya mustahil untuk bergerak.
Krak!
Retakan tercipta di leher Auster seraya Great Sword Bearnard menancap menembus Armor tanah milik Auster. "Keras" karena serangan yang dangkal, Bearnad berusaha untuk memuat Great Swordnya menggali lebih dalam lagi hingga menembus atau bahkan memenggal kepala Auster.
"Sialan!"
Tidak mau kalah, Auster tidak hanya akan memperkuat area di mana Armornya retak tapi secara bersamaan dia juga mengaktifkan (Ground Hole) yang mana menciptakan sebuah lubang di tanah tempat Bearnard berdiri.
"Kau...!!!"
Tak ayal Bearnard pun terjatuh ke dalam lubang gelap seolah tidak berdasar. "Rasakan itu" menutup kembali lubang yang baru saja dibuatnya, kini Auster hanya perlu berhadapan dengan Penyihir Rosemary... Atau itu yang
dia kira.
"!" mengangkat tangan kirinya sebagai perisai, Auster menyambut sebuah pedang dengan bilah bagaikan magma yang membara. Ketajaman pedang itu beserta panas yang dihasilkannya memang tidak setara dengan pedang milik Ratu Titania. Hanya saja itu masih cukup tajam dan masih cukup panas untuk memberikan kerusakan kepada (Terra Armor) milik Auster.
Mendorong pedang itu menjauh, barulah Auster bisa melihat sosok lawan barunya.
Dia adalah seorang pemuda dengan rambut merah dan mata keemasan. Wajahnya cukup tampan untuk memenuhi standar kecantikan di Narsist Kingdom. Selain pedang merah, pemuda itu juga membawa sebuah perisai bundar di
tangan kirinya.
Mata emas pemuda itu menatap tajam kepada Auster seolah tidak mau melepaskannya dari pandangannya.
Walau ini adalah kali pertama mereka saling berhadapan seperti ini, tapi ini bukan kali pertama Auster melihat sosok pemuda yang berada di hadapannya sekarang. Tidak salah lagi, pemuda itu adalah salah satu prajurit
terkuat dari pihak Aliansi yang telah mengalahkan banyak sekali prajuritnya bahkan ketika mereka telah meminjam kekuatan dari Yang Mulia.
"Doragon"
Menyiapkan pedang dan perisainya, Doragon siap menghadapi Auster. Menyeringai dari balik helmnya, Auster juga telah siap untuk menyambut lawan barunya.
(Luminous Rays)
Tiba-tiba saja sebuah sinar cahaya menghantam Auster yang terlambat untuk menangkisnya. Hantaman sinar cahaya itu sangatlah kuat hingga baru beberapa detik saja sudah cukup untuk mengikis bagian luar dari (Terra
Armor) yang seharusnya cukup kuat untuk menerima serangan sihir dari peringkat kedua.
Tidak mau menerima serangan ini lebih lama lagi, Auster pun menghentakkan kakinya dan mengaktifkan (Stone Wall) yang menciptakan sebuah dinding batu yang kini menggantikan Auster untuk menerima sinar cahaya itu.
Berhasil menghalau serangan dari Penyihir Rosemary, berkat itu perhatian Auster menjadi teralihkan dari lawan yang ada di hadapannya.
Ketika sadar sebuah perisai bundar sudah berada di depan matanya.
(Massive Knockback)
Walau kerusakan yang ditimbulkan tidaklah seberapa, tapi hantaman perisai itu sangatlah kuat hingga membuat Auster yang seharusnya cukup berat berkat (Terra Armor) nya menjadi terhempas 2 Meter ke belakang.
Berkat ini keseimbangan Auster menjadi terganggu sehingga dia tidak siap menyambut serangan yang datang kepadanya.
Whooosh...!!!
Sebuah anak panah kembali melesat kencang membelah medan perang.
Tidak seperti sebelum-sebelumnya, anak panah itu diselimuti oleh pusaran angin kencang hingga membuatnya terlihat bagaikan sebuah tornado yang melesat lurus menembus segalanya.
Ditembakkan sendiri oleh Pangeran Lapelis, anak panah itu mengenai sasarannya dengan sempurna.
Sebuah anak panah berlapis angin tornado menghantam Auster tepat di kepalanya.
Hantaman anak panah itu sangatlah kuat hingga membuat Helm yang dia pakai hancur seketika. Kembali harus berguling-guling di atas tanah, Auster yang kini wajahnya kembali terpampang jelas bersimbah darah berusaha untuk menyapu darah di matanya dan kembali berusaha untuk bangkit sekali lagi.
Sayang beribu sayang, baru juga dia bangkit dan berusaha untuk mengambil kembali Great Axe yang tergeletak di atas tanah, sebuah bilah pedang berwarna hitam legam menembus dari belakang kepalanya hingga timbul dari
Tidak mampu untuk melihat sosok seorang gadis berambut hitam panjang yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya, kesadaran Auster perlahan menghilang seraya Sisteen menggunakan pedang keduanya untuk memenggal kepala Auster.
Jika ada yang Auster sesalkan, itu adalah fakta kalau dia gagal memenuhi janjinya kepada Yang Mulia serta dia menyesal tidak sempat untuk menggunakan pemberian dari Yang Mulia.
Dengan kepala Auster yang di angkat tinggi ke udara, salah satu Jenderal dari Narsist Kingdom kini telah gugur.
...
Menggunakan tombaknya yang telah dilapisi oleh (Oceans Blessing) Occidens bersusah payah untuk menghalau setiap serangan dari Ratu Titania yang diarahkan kepadanya. Bahkan setelah menggunakan (Ocean Warrior) yang membuatnya mengenakan Armor yang terbuat dari air murni, Occidens masih bisa merasakan panas yang menyengat di permukaan kulitnya.
(Trident)
Melancarkan sebuah serangan yang membuat mata tombaknya seakan ada tiga, Occidens berharap untuk mengenai atau setidaknya menjauhkan Ratu Titania agar dia bisa punya waktu untuk bernafas.
Sayang, serangannya itu dapat dengan mudahnya dihindari oleh Ratu Titania dan bahkan langsung di balas dengan sebuah tebasan diagonal yang terpaksa harus di tahan oleh Occidens dengan menggunakan (Ocean Shield) yang mana menciptakan sebuah perisai air tepat di hadapan matanya.
Ssshhh... Suara desis air yang menguap setelah terkena panas yang ekstrim terdengar jelas di telinga. Hal ini semakin membuat Occidens berkeringat deras. Bukan karena hawa panas tapi karena rasa gugup bercampur takut yang kini dia rasakan.
Sejak awal pertarungan di mulai dirinya terjebak dalam posisi bertahan tidak mampu untuk balik menyerang.
Occidens awalnya sangat membanggakan kemampuan bertombaknya yang jauh di atas rata-rata sehingga membuatnya pantas untuk menyandang gelar Jenderal dari Laut Barat. Namun, apa daya. kemampuan bertombak yang telah di asah sepanjang hidupnya yang singkat tentu saja tidak akan pernah mampu menyaingi kemampuan berpedang dari Ratu para Peri (Fairy) yang telah di asah selama ratusan hingga ribuan tahun lamanya.
Yang lebih menakutkan lagi adalah fakta kalau sedari tadi Ratu Titania tidak pernah melemparkan sihir atau bahkan Skill kepadanya. Sejak awal hingga sekarang Ratu Titania hanya melawannya dengan menggunakan ilmu pedang
murni saja.
(Aqua Prison)
Berniat mengurung Ratu Titania untuk mengulur waktu, malah sebuah anak panah yang Occidens dapat.
"Ghak!" teriaknya ketika anak panah itu menancap tepat di dadanya. Untungnya (Ocean Warrior) dan Armor yang dia kenakan mampu untuk menahan laju anak panah itu sehingga hanya menggali dangkal ke dalam dagingnya.
Meski dangkal, tetap mustahil untuk mencabutnya begitu saja. Mematahkan batang anak panah itu, Occidens kini dihadapkan dengan keputusasaan.
Walau hanya sekedar sihir tingkat pertama, tapi (Aqua Prison) miliknya seharusnya sanggup untuk menahan bahkan Mobs kelas Boss selama semenit lamanya. Akan tetapi, di hadapan sang Ratu para Peri (Fairy) (Aqua
Prison) itu bahkan tidak sanggup untuk bertahan selama lebih dari satu detik.
Meluncur cepat hingga membuatnya terlihat bagaikan sebuah panah api, Ratu Titania keluar dari (Aqua Prison) dan menerjang langsung ke arah Occidens.
Dengan pedang dalam posisi menusuk, tujuannya hanya satu...
"Ghh! (Ocean..."
Belum sempat mengeluarkan sihirnya, rasa terbakar meraba kakinya membuat konsentrasinya pecah. Menengok ke bawah, Occidens terkejut melihat sesosok Beastman Kucing hitam yang telah menancapkan belatinya tepat di
celah-celah pelindung kakinya.
"******!!!"
Dengan teriakan itu, Occidens yang tidak sempat mengeluarkan Skill atau bahkan menghindar kini harus rela menerima sebuah bilah pedang yang panas membara menembus tepat di jantungnya.
Semua jenis pertahanan yang dia miliki seakan tidak ada gunanya di hadapan pedang Ratu Titania. Bilah pedang yang panas membara menembus tubuh Occidens bagaikan sebilah pisau panas memotong sebongkah mentega.
Satu detik, satu menit, waktu seolah berhenti di mata Occidens.
Yang ada di pandangannya sekarang hanyalah warna merah menyala yang seakan membutakan segalanya. Yang dia rasakan sekarang hanyalah panas yang membakar dirinya dari luar dan dalam. Apa yang Occidens pikirkan
sekarang hanyalah bagaimana caranya agar dirinya bisa selamat dan membalas semua rasa sakit yang sekarang sedang dia rasakan.
Satu detik, satu menit, satu jam, waktu seolah berjalan sangat lambat.
Perlahan namun pasti bilah pedang panas membara itu sedikit-demi sedikit menggali dalam dan semakin dalam menembus tubuhnya.
Satu detik, satu menit, satu jam, waktu seolah kekal abadi ketika Occidens hanya memikirkan satu hal...
Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati!
Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati!
Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati!
Kata-kata itu terus saja berulang di pikirannya seolah tidak ada hal lain yang bisa dia pikirkan ketika ajalnya sudah di depan mata.
Occidens berdo'a. dia berdo'a sepenuh hati agar dirinya bisa tetap hidup dan bisa tetap selamat tanpa lecet dan noda sedikitpun melewati pertempuran ini.
Tentu saja itu adalah hal mustahil yang dia angankan.
Apakah benar begitu?
"?!"
Menendang Feline yang masih berada di bawah kaki Occidens menjauh, Ratu Titania tampaknya menendang terlalu keras sehingga Feline terhempas sejauh kilometer jauhnya. Feline baru berhenti setelah Turbo yang kebetulan berada di jalurnya menyambutnya dan mengurangi dampak kerusakan yang dia terima.
Setelah menendang Feline dan memastikannya aman, Ratu Titania sontak menumbuhkan tiga pasang sayap mirip capung berwarna merah membara dan terbang menjauh hingga berkilo-kilo meter ke angkasa hanya dalam satu kepakan saja.
Menggenggam erat pedang miliknya, mata merahnya memandang lurus ke arah Occidens yang kini memiliki sebuah lubang menganga di dadanya.
Tampak seperti orang yang tengah sekarat, Occidens yang entah bagaimana masih bisa berdiri meski terdapat lubang besar di tubuhnya seketika menunjukkan sebuah perubahan yang dramatis.
"Tch, ternyata dia juga punya yah"
Menggumamkan rasa tidak senangnya, Ratu Titania memandang dari angkasa mengamati perubahan yang terjadi pada tubuh Occidens.
(Ocean Armor) yang awalnya menyelimuti tubuhnya kini seolah tidak lagi terkendali hingga dengan ganasnya menyelimuti seluruh tubuh Occidens hingga membuatnya menjadi semacam telur atau bahkan kepompong.
Whooosh.... Sebuah anak panah kembali di tembakan.
Itu adalah Skill yang sama yang Pangeran Lapelis gunakan untuk menghancurkan Helm Auster. Berharap untuk menembus kepompong air itu, apa yang di dapat adalah serangannya gagal total ketika anak panahnya yang sudah diselimuti oleh angin tornado sirna begitu saja ketika bersentuhan dengan permukaan kepompong yang tampak seperti terjangan ombak di lautan yang ganas.
Sontak saja semua orang tertegun ketika melihat kejadian yang tiba-tiba ini.
Ketika semua orang mengira Occidens akan kalah, dia malah berubah menjadi sebuah kepompong air yang mampu menahan bahkan serangan andalan dari Pangeran Lapelis.
Meski terkejut akan perubahan pada Occidens yang tiba-tiba, semua orang sudah bisa menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi namun tidak ada yang berani untuk mengucapkannya secara lantang.
Berserk
Tidak ada yang tahu harus berbuat apa, semua orang terdiam menunggu ada sebuah perubahan yang terjadi.
Untung atau tidak, mereka tidak perlu menunggu lama.
Kurang dari semenit kepompong yang menyelimuti Occidens kini sudah pecah, atau mungkin akan lebih tepat jika menyebutnya sebagai meledak.
!!!...Booom...!!!
Sebuah ledakan besar tercipta dan menghempaskan segala yang ada di sekitarnya.
Berkat Ratu Titania, Feline yang awalnya berada dekat dengan Occidens bisa selamat karena kini dia sekarang berada jauh di luar jangkauan ledakan. Meski harus tetap menghadapi angin ledakan yang tentunya tidaklah kecil,
berkat Turbo yang kebetulan berada di dekatnya mereka berdua bisa saling bahu-membahu agar tidak terhempas terbawa angin.
Meski Feline berhasil selamat, hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada Doragon dan Sisteen yang cuma berjarak kurang dari 200 Meter dari sumber ledakan.
Mengangkat perisainya ke depannya, Doragon berharap agar bisa menerima ledakan itu sambil melindungi Sisteen yang berlindung di belakangnya.
Hanya tinggal beberapa Meter lagi sebelum ledakan itu menghantam mereka, tiba-tiba saja terdapat sepasang tangan berbulu yang meraih kaki mereka dari bawah pasir. Tidak sempat bertindak, Doragon dan Sisteen sama-sama tertarik ke bawah pasir.
Sedetik kemudian ledakan yang dahsyat menghempaskan segalanya bahkan tubuh Auster yang terbaring tidak bernyawa di atas pasir kini terhempas jauh entah ke mana.
Sementara itu, para prajurit lainnya yang sedari tadi menonton mulai berlindung dari angin ledakan dengan cara mereka masing-masing. Baik itu menggunakan perisai ataupun Skill, mereka hanya ingin selamat tanpa terhempas atau terbawa angin ledakan yang dahsyat.
Di saat ledakan itu akhirnya berakhir, seluruh medan perang tertutup oleh asap pasir yang tebal sehingga mustahil untuk melihat apa-apa.
Semua orang masih sibuk memperhatikan sekeliling sementara Ratu Titania mampu melihat dengan jelas dari atas langit akan apa yang kini berdiri di tengah-tengah pusat ledakan.
"Naga"