A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 107 : Battle of Nirvana (3)



Api perang bergejolak bersamaan dengan bentrokan yang terjadi di atas dinding Ibukota.


Menggunakan tangga yang dibuat menggunakan [Soil Magic] pasukan Aliansi naik ke atas dinding dengan tujuan untuk membuka gerbang yang masih terkunci rapat.


Dan sebagai rencana cadangan, kedua Tank yang masih tersisa terus saja menggempur pintu gerbang dengan harapan untuk menghancurkannya namun sampai sekarang masih belum membuahkan hasil.


Di tengah semua itu, Jenderal Boreas masih disibukkan oleh Pangeran Lapelis yang menantangnya dalam kontes adu memanah.


Whooosh... Boom!


Kedua anak panah yang saling beradu di udara meledak ketika mereka saling bertemu.


Pertarungan antara mereka berdua begitu sengit hingga membuat Jenderal Boreas tidak mampu lagi untuk memperhatikan para prajurit bawahannya yang kini sudah mulai kewalahan menghadapi serangan dari pasukan Aliansi.


"Aaarrghhhh...!!!" "Grroooaaa...!!!" "Grrraaagghh...!!!"


Teriakan monster ganas mulai menggema di medan perang.


Banyak prajurit Narsist Kingdom yang mulai terpojok dengan terpaksa menggunakan artefak yang mereka miliki untuk bisa membalikkan keadaan.


Apa yang dulunya adalah prajurit yang gagah berani kini digantikan oleh monster ganas dengan tampang yang menyeramkan.


Tidak lagi tahu mana kawan dan mana lawan mereka mengamuk menghancurkan segala yang ada di hadapan mereka.


(Sharp Edge)


Dengan pedang yang menyala merah Doragon menebas monster yang ada di hadapannya dan meninggalkan sebuah luka menganga pada tubuh monster itu.


Tidak cukup sampai di situ, Doragon lalu mengangkat perisainya dan melayangkan (Shield Rush) yang sontak menghempaskan monster itu ke sisi lain dinding dan akhirnya mendarat tepat di tengah-tengah prajurit Narsist Kingdom lainnya yang masih berbaris rapi.


Masih selamat bahkan dengan luka terbuka di dadanya, monster itu yang sudah kehilangan akalnya kini melampiaskan amarahnya kepada mereka yang dulunya adalah rekan seperjuangannya.


"Aaaa...!!!" teriakan para prajurit mulai menggema ketika mereka di paksa harus bertarung dengan rekan mereka sendiri.


Walau memang terlihat kejam, tapi ini adalah sebuah strategi yang paling efektif dan yang paling efisien dalam menghadapi prajurit yang telah masuk ke dalam mode Berserk dan berubah menjadi monster tidak berakal.


Menahan perasaan yang bergejolak di hatinya, Doragon kembali fokus pada apa yang ada di hadapannya. Menggenggam erat pedang di tangan, dia kembali mengayunkannya.


"Hoooraaaa...!!!" di sisi lain dinding terdapat sosok Beruang ganas yang mengayunkan Kapaknya dengan liar.


Tidak perlu melihat kemana dia mengayunkan kapaknya, pada setiap ayunannya pasti ada lebih dari dua prajurit yang terluka.


Yakin benar kalau tidak ada pasukan Aliansi yang berada di dekatnya. Bearnard dapat dengan bebas mengayunkan kapaknya seolah tidak ada hari esok.


"Grraaahhh...!!!" menemukan prajurit yang menjadi Berserk menerjang tepat ke arahnya. Bearnard tidaklah gentar.


Dengan kapak di tangan dia menyambut monster itu dengan (Lumberjack) dan sukses mendaratkan kapaknya tepat di perut monster itu. Kapaknya menggali dalam dan hampir saja membelah monster itu menjadi dua.


"Haaaa...!!!" mengerahkan segenap tenaga yang dia miliki, Bearnard membawa monster itu yang masih menempel pada kapaknya berputar-putar seperti sebuah pusaran angin.


Prajurit Narsist Kingdom yang berada dekat dengannya berusaha untuk menjauh namun masih menemukan diri mereka terhempas oleh Bearnard yang berputar-putar tanpa henti.


Mulai merasa pusing sendiri, Bearnard pun menyudahi aksinya dengan melemparkan monster di kapaknya jauh ke tengah-tengah prajurit Narsist Kingdom yang berada di bawah.


Sontak saja itu menambah kepanikan di antara prajurit Narsist Kingdom karena jumlah rekan mereka yang harus di lawan kini kembali bertambah.


Ingin mereka untuk kabur, namun tidak ada tempat bagi mereka untuk lari.


Tidak punya pilihan lain, mereka harus menghunuskan pedang mereka jika tidak ingin mati.


"Rasakan ini!" "Makan ini!"


Pada medan perang yang kacau, terdapat sebuah pemandangan yang janggal.


Di tengah-tengah adegan pembantaian, terdapat dua sosok anak kembar yang mengayunkan senjata mereka masing-masing dengan senyuman besar di wajah mereka.


Penampilan mereka tampak seperti anak gadis yang belum mencapai usia 12 tahun. Akan tetapi, mereka berdua sudah terjun ke medan perang sambil mengayunkan senjata mereka ke kiri dan ke kanan.


Mereka berdua adalah Pelayan dari Penyihir Lavender.


Trita dan Vier.


Setelah sekian lama mereka absen dari panggung, mereka berdua akhirnya kembali dengan penuh semangat.


Tanpa adanya Zweite yang mengawasi, Trita dan Vier bisa mengamuk sesuka hati mereka.


Di tengah pertarungan yang kian sengit, hal yang mengkhawatirkan mulai terjadi di bawah Katedral.


Puluhan Pendeta dan Biarawati saling berbaris membentuk sebuah lingkaran sempurna dengan sebuah bola kristal di tengah mereka.


Mulut mereka tiada hentinya memanjatkan do'a yang tidak bisa dimengerti oleh orang awam. Setiap do'a yang mereka panjatkan mengandung Mana yang sangat murni yang keluar dari tubuh mereka dan dikumpulkan oleh bola


kristal.


Semakin lama mereka memanjatkan do'a semakin kuat cahaya yang bola kristal keluarkan.


Ketika cahaya dari bola kristal telah memenuhi seisi ruangan, terlihat kalau Mana yang terkumpul di dalam bola kristal mulai mengalir melalui kabel-kabel yang terhubung dengan bola kristal tersebut.


Kabel-kabel itu memanjang hingga jauh ke bawah tanah.


Berada jauh di dalam tanah tempat kabel-kabel itu berakhir adalah sebuah ruangan besar mirip seperti pabrik. Berjejer rapi adalah deretan boneka dengan wujud kesatria yang tengah tertidur.


Dengan kabel yang menempel pada punggung mereka, Mana yang tidak sedikit mulai mengalir memenuhi boneka tersebut.


Ketika Mana telah terisi hingga batas tertentu, Einherjar pun aktif sepenuhnya.


...


Dengan suara gerigi yang berputar, sebuah lubang besar terbuka tepat di depan Katedral.


Dari lubang yang terbuka, ratusan boneka berwujud Kesatria merembes keluar bagaikan gelombang pasang. Hanya dalam kurun waktu beberapa detik, boneka-boneka itu telah memenuhi jalanan.


Mengenakan Armor berwarna putih susu, penampilan mereka terlihat artistik yang memanjakan mata. Terlihat sebuah perisai besar menempel pada tangan kiri mereka, sementara tangan satunya di isi oleh tiga jenis senjata.


Ada yang membawa pedang dengan gagang seperti sayap.


Ada yang membawa sebuah tombak raksasa.


Dan ada yang membawa sebuah senjata mirip dengan senapan dari era modern.


Di temukan di dalam reruntuhan yang kini di sulap menjadi sebuah Katedral, mereka adalah boneka tempur yang diberikan nama berdasarkan roh para pejuang dari masa lampau.


Einherjar.


Para penduduk kota yang mengintip dari balik jendela sontak terkejut ketika mendapati ratusan hingga ribuan Einherjar yang mulai memadati jalanan kota. Meski begitu, ketika mereka akhirnya sadar kalau para Einherjar


itu keluar dari dalam Katedral. Seketika mereka mengira kalau para Einherjar adalah senjata rahasia dari Agama Narsist.


Yang artinya para Einherjar berada di pihak mereka.


Rasa bingung kini telah berganti menjadi rasa bangga dan suka cita.


Sorak-sorai para penduduk mulai menggema di kota yang awalnya sunyi.


Berada di bawah sorak-sorai yang meriah. Einherjar yang tidak punya hati mulai menjalankan program yang tertanam pada kepala mereka.


Setelah bertahun-tahun masa penelitian, tidak hanya Paus Senor berhasil mengetahui bagaimana cara mengaktifkan mereka, dia bahkan telah berhasil mengetahui bagaimana cara memprogram mereka untuk mematuhi segala keinginannya.


Demi bisa sesuai dengan citranya sebagai seorang Paus. Paus Senor memprogram mereka untuk menjadi Kesatria yang melindungi Agama Narsist.


Yang artinya Paus Senor memprogram para Einherjar untuk memusnahkan segala kebatilan yang mengancam agama Narsist.


Karena agama Narsist adalah sebuah agama untuk orang rasis, membuat definisi 'Kebatilan' adalah setiap hal yang bertentangan dengan ajaran agama Narsist.


Itu artinya, setiap ras selain Manusia. Adalah sesuatu yang harus di singkirkan.


Mengingat banyaknya ras selain Manusia yang ada di pasukan Aliansi, Paus Senor mengaktifkan Einherjar dengan harapan kalau mereka akan langsung maju ke medan perang dan membantai para pasukan Aliansi yang datang menyerbu mereka.


Secara bersamaan, Einherjar juga di kirim untuk memusnahan prajurit Narsist Kingdom yang telah berubah menjadi monster tidak berakal karena artefak yang mereka bawa.


Walau penggunaan artefak itu adalah idenya sendiri. Tetap adalah hal yang buruk untuk memperlihatkan wujud mereka kepada penduduk Narsist Kingdom yang masih buta akan kenyataan yang sebenarnya.


Jika semuanya berjalan sesuai dengan rencana, maka Einherjar pasti sudah pergi menyerbu pintu gerbang di bagian Selatan tempat pertempuran sedang berlangsung.


Sayang sekali, ada satu hal yang tidak berhasil masuk ke dalam perhitungan.


Menuruti program yang ditanamkan pada mereka, para Einherjar segera berbaris dan bergerak ke arah yang berlawanan dari pintu gerbang.


Semua penduduk yang menyaksikan ini sontak dibuat terkejut karenanya.


Bahkan para Biarawati muda yang ditugaskan untuk memonitor pergerakan Einherjar juga dibuat bertanya-tanya.


Ingin melaporkan ini kepada Kepala Biarawati, sayangnya Kepala Biarawati beserta petinggi Katedral yang lain sedang sibuk memberikan Mana mereka untuk menggerakkan Einherjar sehingga mustahil untuk menghubungi mereka.


Bingung kenapa para Einherjar bertindak seperti itu, tidak butuh waktu lama sebelum mereka mengetahi alasannya.


!!!...Boooom...!!!


Tiba-tiba saja sebuah ledakan besar terjadi di pintu gerbang bagian Utara.


Asap hitam tebal membumbung tinggi ke udara. Terlihat jelas bongkahan baja yang dulunya adalah pintu gerbang kini berserakkan di mana-mana dengan sebagian besar dari mereka berada dalam kondisi setengah meleleh.


Tap... Tap... Tap... berjalan dengan santainya keluar dari asap yang tebal adalah sesosok Wanita berambut merah dengan wajah yang cantik jelita tanpa adanya bekas luka apapun di wajahnya.


Mengenakan Heavy Armor dengan hiasan minim namun memiliki perlindungan maksimum. Dia membawa sebuah Greatsword yang berlapis emas yang berkilauan.


"Jenderal Oriens?!" teriak salah satu prajurit yang beruntung karena berhasil selamat dari ledakan.


Matanya terbelalak ketika mendapati sosok salah satu 4 Jenderal Besar yang dirumorkan telah gugur dalam bertugas kini berdiri dengan gagah di hadapannya. Terlebih ketika Jenderal tersebut kini berdiri dengan tenang


di depan gerbang yang telah hancur berkeping-keping.


"Jenderal! Apa maksud..." belum sempat prajurit itu menyelesaikan perkataannya, sebuah pisau lempar melayang dan menancap tepat di tenggorokannya.


Bukan hanya itu membuatnya tidak lagi mampu untuk bicara, bahkan bernafas pun dia sudah tidak mampu.


Setelah sekarat selama beberapa detik, prajurit malang itu kini harus menyusul rekan-rekannya yang sudah pergi terlebih dahulu setelah terkena ledakan.


"Kau tahu aku bisa mengatasinya sendiri, kan?" menurunkan pedangnya, Oriens berbicara kepada pria yang kini berdiri tepat di sampingnya.


"Bukannya aku meragukan kekuatanmu..." menghunuskan Rapier yang tergantung di pinggangnya, mata merah Allucard memandang lurus ke depan "...hanya saja kita tidak punya waktu untuk basa-basi".


"Heh... Terserah kau saja" dengan Greatswordnya yang mulai menyala merah. Oriens bersama dengan Allucard kini bersiap untuk menyambut musuh yang datang.


Tap... Tap... Tap... suara kaki metalik mulai terdengar di telinga mereka.


Tidak lama kemudian munculah sosok Einherjar yang berlari kencang menerjang ke arah mereka bagaikan sebuah ombak yang ganas.


Menyaksikan pemandangan yang ada di hadapannya, Oriens tidak bisa tidak merasa jijik pada senjata rahasia yang selama ini Narsist Kingdom pegang. Jika Narsist Kingdom memiliki pasukan seperti ini, lalu apa gunanya nyawa para bawahannya yang kini terasa telah tewas secara sia-sia?


Dengan Greatsword di tangan, Oriens yang sadar kalau pasukan Einherjar yang ada di hadapannya bukanlah lawan yang mudah bersiap untuk mengerahkan segenap tenaganya.


"Jangan gegabah, ingatlah kalau kita tidaklah sendiri"


"Aku tahu itu!"


Tepat setelah dia mengatakan itu, dari arah belakang muncul sebuah pasukan lainnya.


Mereka semua bukanlah Manusia ataupun dari Ras lainnya.


Dengan tubuh yang sepenuhnya terbuat dari kayu yang menyala violet, penampilan mereka bagaikan monster yang keluar dari dasar Neraka.


Melaju bagaikan sebuah lautan ungu, mereka melewati Oriens dan Allucard begitu saja seolah mereka tidak pernah ada.


Melaju dengan kencang, tujuan mereka hanyalah satu.


Sesaat kemudian, bentrokan antara pasukan Woodland Creature yang adalah hasil ciptaan dari Penyihir Lavender dengan pasukan Einherjar yang adalah senjata rahasia dari Agama Narsist pun pecah dan pertempuran mereka


menggentarkan seisi Ibukota.


...


Ketika pertempuran kian memanas, terdapat beberapa sosok tidak kasat mata yang menyelinap di tengah kekacauan.


Yang pertama adalah murid dari Penyihir Lavender, Luna. Bersamanya adalah murid dari Penyihir Rosemary, Clara. Dari pihak Otherworlder adalah Turbo, Feline, dan Sisteen.


Lalu, yang memimpin tim kecil ini adalah sang Penyihir Cahaya Suci, Rosemary La Ciel.


Menggunakan kemampuan dari Luna, tubuh mereka diselimuti oleh tabir ilusi yang membuat wujud mereka tidak tampak oleh mata telanjang.


Sambil mengendap-endap mereka menyelinap di tengah-tengah medan perang yang tengah berkecamuk. Dengan Katedral Narsist Kingdom sebagai tempat tujuan, mereka melangkah dengan penuh kehati-hatian agar menghindari


pertarungan yang tidak perlu.


Walau menyelinap dalam diam adalah hal yang mudah bagi Feline, Sisteen dan juga Luna. Itu terbukti susah untuk Turbo dan Clara yang tidak pernah melakukan kegiatan mengendap-endap seperti ini.


Sedangkan Penyihir Rosemary tampak tenang seolah ini bukan pertama kalinya dia melakukan ini.


Dengan level [Illusion Magic] milik Luna yang sudah meningkat, semakin mudah baginya untuk membuat wujudnya


serta orang lain untuk tidak mampu di lihat serta di deteksi.


Tidak butuh waktu lama sebelum mereka akhirnya tiba di dekat Katedral.


Betapa terkejutnya mereka ketika setibanya mereka sampai di sana, apa yang menyambut mereka adalah pasukan Einherjar yang keluar dari bawah tanah Katedral.


"Senjata Narsist Kingdom lainnya?"


"Mungkin saja, tapi mereka menuju kemana?"


Mengikuti arah kemana Einherjar menuju, mereka dibuat terkejut oleh pasukan Mobs ganas dengan wujud yang menyeramkan. Clara, Turbo dan Sisteen yang melihat ini bertanya-tanya darimana dan kenapa Mobs itu melawan pasukan Einherjar.


Sedangkan Penyihir Rosemary, Luna dan Feline bisa dengan mudah menebak darimana, atau lebih tepatnya siapa pencipta dari Mobs yang menyeramkan itu.


"Tidak perlu takut, mereka adalah sekutu"


Demi menenangkan muridnya yang gemetaran, Penyihir Rosemary menunjuk ke arah Allucard dan Oriens serta pasukan dari Drakon Kingdom yang sedang bertarung bersama dengan para (Woodland Creature).


Masih terpaku pada pertempuran sengit yang ada di hadapan mereka, Feline yang memiliki mata yang tajam menemukan sosok yang tidak asing baginya.


Mengayunkan tombaknya dengan lihai, adalah sahabatnya Yari.


Berbaur bersama pasukan dari Drakon Kingdom, Yari dengan penuh semangat menerjang ke depan menghancurkan semua Einherjar yang datang kepadanya.


"Apa yang anak itu sedang lakukan?"


Mendapati dua sosok Kesatria Wanita yang bertarung berdampingan dengan Yari, Feline hanya bisa geleng-geleng kepala sekaligus merasa lega setelah tahu kalau kawannya itu baik-baik saja.


Sementara itu, tidak jauh dari Yari adalah Allucard yang sedang bertarung bersama dengan Oriens.


Siapa yang menyangka kalau mereka berdua yang dulunya adalah musuh kini bisa bertarung bersama sebagai rekan seperjuangan.


"Tempat pertemuan sudah dekat, mari kita bergegas"


Di pandu oleh Penyihir Rosemary, mereka tiba di atas atap sebuah bangunan yang berada tepat di belakang Katedral. Sudah menunggu di sana adalah Pangeran Draco yang kini telah mengenakan Full Armor dengan lambang Drakon Kingdom di dadanya.


Bersenjatakan sebuah pedang dengan gagang berbentuk kepala Naga, sosoknya terlihat gagah seolah dia adalah seorang Kesatria yang berpengalaman.


Bersama dengan sekitar 10 kesatria yang mendampinginya, Pangeran Draco menoleh ke arah mereka walau tabir ilusi masihlah aktif.


Membatalkan ilusi yang menyelimuti mereka, sosok Penyihir Rosemary dan yang lain akhirnya terlihat jelas yang mana itu mengejutkan para Kesatria yang sedang menunggu terkecuali Pangeran Draco yang masih memasang ekspresi tenang.


"Penyihir Rosemary, sungguh senang ketika melihat Anda berhasil sampai kemari dengan selamat"


"Hal yang sama juga saya ucapkan kepada Pangeran Draco. Untunglah posisi Anda tidak diketahui oleh musuh sehingga kita bisa berjumpa seperti ini"


Setelah saling bertukar sapaan singkat, mereka akhirnya menjadi serius.


"Pangeran Draco, apakah semua berjalan sesuai rencana?"


"Sayang sekali, ada sedikit perubahan. Intel kami menemukan kalau Paus Senor memasuki pintu rahasia di dalam Katedral. Jika dugaan saya benar, pintu tersebut bukan mengarah ke ruang persembunyian melainkan sebuah jalur


yang terhubung dengan Istana Kerajaan"


"Apakah itu artinya Paus Senor sekarang berada di dalam Istana?"


"Kemungkinan besar. Karena itulah tujuan kita yang berikutnya adalah Istana Kerajaan sementara yang di sini bisa kita serahkan kepada Allucard"


Melihat tidak ada yang keberatan, rombongan Penyihir Rosemary dan Pangeran Draco bergabung bersama dan langsung berlari menuju Istana Nirvana tempat di mana lawan terbesar mereka telah menunggu.