
Berdiri di tengah padang pasir yang tandus adalah seekor kadal raksasa setinggi 10 Meter yang seluruh bagian tubuhnya terdiri dari air yang terus mengalir tanpa henti. Hanya memiliki dua kaki depan yang berselaput, apa yang
seharusnya menjadi kaki belakangnya digantikan oleh sepasang sirip raksasa sepanjang 3 Meter.
Menyeret ekornya yang panjang di atas pasir, makhluk yang dulunya adalah Jenderal dari Narsist Kingdom mendongak ke angkasa dengan lehernya yang seperti ular serta kepala bagaikan Komodo yang dilengkapi oleh
taring-taring kecil nan tajam. Membuka rahangnya lebar-lebar, terdengar sebuah auman yang memekakkan telinga.
"GHHRROOOAAAA...!!!"
Menyaksikan sosok itu dari atas langit, Ratu Titania menghembuskan nafas lelah sambil memejamkan matanya.
"Untuk berakhir menjadi makhluk menyedihkan seperti itu, apakah sebegitu pentingnya kemenangan bagi kalian?"
Membuka kembali kelopak matanya, apa yang terlihat kini adalah sepasang bola api yang berkobar merah menyala. Mengangkat pedangnya tinggi di udara, Ratu Titania berniat untuk mengakhiri penderitaan Occidens dengan satu serangan.
"Lima menit! Berikan aku waktu lima menit dan akan aku musnahkan makhluk nista itu!"
Atas deklarasi dari Ratu Titania, semua orang yang mendengarnya kini menjadi satu.
"SERANG!!!"
Tidak ada yang tahu siapa yang menyuarakan itu, tapi berkat itu semua Prajurit Aliansi sontak maju secara bersamaan menyerbu seekor Naga (Dragon) yang kini berdiri dengan sombongnya di tengah medan perang.
Para Prajurit dari Narsist Kingdom yang melihat kalau satu Jenderal mereka telah mati sedangkan yang satu lagi telah berubah menjadi monster raksasa secara serentak memutuskan kalau pertempuran telah berakhir dengan kekalahan mereka.
"Mundur!"
Membiarkan pasukan Aliansi untuk mengurus apa yang dulunya adalah Jenderal mereka, para Prajurit dari Narsist Kingdom memutuskan untuk mundur kembali ke Kerajaan mereka tercinta.
Melihat kerumunan orang-orang kecil yang berlari ke arahnya, Occidens yang kini telah kehilangan seluruh akal sehatnya langsung mengikuti apa yang instingnya katakan.
Serang. Makan. Hancurkan.
"Grraaooo...!!!"
Sebuah bola air dengan diameter 3 Meter dilontarkan dari rahangnya yang terbuka. Melesat lebih kencang dari sebuah peluru, bola air itu mengenai sasarannya sebelum mereka sempat menghindar atau bahkan menangkisnya.
Boom!
Ledakan terjadi ketika bola air itu menghantam tanah berpasir dan menghempaskan semua Prajurit yang berada di sekitarnya.
"Jangan gentar! Tetap maju!!!"
Atas teriakan Nos, Wakil Ketua dari Iron Sword. Seluruh Prajurit yang ada menjadi tidak gentar dan maju menyerbu seekor Naga (Dragon) dengan gagah berani.
"""!!!...YAAAAA...!!!"""
Teriakan gagah berani menggema di medan perang.
Bersamaan dengan itu, serangan balasan dari pihak Aliansi akhirnya dimulai juga.
(Aurora)
Dengan Staff yang mengeluarkan cahaya terang menderang, Penyihir Rosemary menciptakan sebuah aurora cantik di atas langit yang mampu mengurangi kekuatan dari Naga Occidens yang tampak jelas dari ukurannya yang menyusut dari ukurannya semula yaitu 10 Meter hingga kini hanya sebesar 6 Meter.
Tidak ingin menyia-nyiakan lawan mereka yang melemah, dua buah Tank yang masih berjalan dalam waktu yang hampir bersamaan menembakkan peluru mereka tepat ke arah Naga Occidens.
Boom! Boom!
Dua peluru ditembakkan dan keduanya mengenai sasaran mereka.
Satu peluru mengenai tubuh bagian samping sedangkan peluru lainnya mengenai tepat di leher.
"Ghraaa...!!!"
Meski tubuhnya terdiri dari air yang mengalir, tapi tampaknya Naga Occidens masih bisa untuk merasakan sakit. Walau tubuhnya sempat terluka, tapi dirinya kembali pulih ketika air mengalir dan membentuk tubuhnya kembali
seperti semula.
Marah, Naga Occidens hendak menembakkan bola air ke arah salah satu Tank yang baru saja menyerangnya. Sayang, niatnya batal karena sebuah bola api yang meledak tepat di wajahnya.
Anggota dari The Guardian, Weise memimpin para Pengguna Sihir (Mage) lainnya untuk menembaki Naga Occidens dengan semua jenis sihir yang mereka miliki.
Bola api, kilat petir, batu besar, hingga tombak es semua jenis sihir yang mereka ketahui ditembakkan tanpa peduli dengan sisa Mana yang mereka miliki.
Hasilnya sudah jelas.
Kewalahan karena semua serangan yang diarahkan kepadanya membuat para petarung jarak dekat akhirnya mampu menggapai Naga Occidens.
Yang pertama kali menyerang adalah Feline dan Turbo yang sejak awal berada paling dekat dengan Naga Occidens. Memegang kedua belati di tangannya, dengan cekatan Feline menebas tubuh Naga Occidens yang terbuat dari air yang mengalir.
Di sisi lain, Turbo dengan pedangnya juga ikut menebas tubuh Naga Occidens yang terbuat dari air yang mengalir.
Sebagaimana menyerang air pada umumnya, tempat yang mereka berdua serang dalam sekejap kembali seperti semula seolah serangan yang baru saja mereka lancarkan tidak pernah terjadi. Meski begitu, itu tetap tidak mencegah mereka untuk berhenti menyerang.
(Rapid Slice) (Aura Sword)
Dengan kedua belatinya Feline kembali menyayat tubuh Naga Occidens dengan kecepatan yang tidak mampu diikuti oleh mata telanjang. Menyelimuti pedangnya dengan cahaya berwarna kebiruan, Turbo melayangkan sebuah
tebasan yang sangat tajam dan dalam hingga tinggal sedikit lagi maka dia akan mampu untuk memotong salah satu kaki Naga Occidens.
Meski serangan mereka terbilang fatal, tapi itu seolah tidak ada artinya karena tempat yang baru saja mereka tebas dapat dengan cepat kembali seperti semula.
Tapi bukan berarti serangan mereka itu benar-benar tidak ada artinya.
Di bawah bombardir serangan sihir yang ditujukan kepadanya, perhatian Naga Occidens teralihkan oleh dua sosok kecil yang baru saja menyerangnya.
"Ghhraaooo...!!!"
Meliukkan lehernya yang bagaikan ular, Naga Occidens berusaha untuk menerkam Feline yang baru saja selesai menyayat punggungnya. Mengandalkan kelincahannya sebagai Beastman dari suku Kucing, Feline dapat dengan
mudahnya menghindari terkaman dari Naga Occidens dan balas menebasnya tepat di mata.
"Ghhrraaaa!!!"
Walau lukanya dapat kembali seperti semula, tapi tampaknya apa yang sakit tetaplah sakit. Marah, Naga Occidens kembali berusaha untuk menerkam Feline yang sekarang berada di samping perutnya. Memanfaatkan ini, Turbo sukses menebas salah satu sirip milik Naga Occidens yang walau mampu kembali seperti semula. Tapi itu tetap mampu memancing amarah serta perhatian dari Naga Occidens.
Mengalihkan perhatiannya ke arah Turbo, maka Feline akan langsung menyerangnya. Mengalihkan perhatiannya ke arah Feline, giliran Turbo yang akan menyerangnya.
Terus saja seperti itu sampai pada akhirnya Prajurit Aliansi tiba juga.
(Heavy Stomp) (Quick Slice) (Lumber) (Pierce)
Tanpa membuang waktu mereka langsung melancarkan serangan masing-masing yang mana itu membuat Naga Occidens semakin murka.
Serangan panah dan sihir dari jauh dan serangan fisik tepat berada di bawah kakinya.
Walau dia tidak lagi punya akal untuk berpikir rasional, tapi instingnya sebagai makhluk buas membuatnya tidak bisa terima direndahkan seperti ini.
Apa yang Naga Occidens lakukan selanjutnya adalah sesuatu yang tidak akan pernah terlintas di benak siapa pun.
"Dia menyelam!?!"
Menukikkan kepalanya ke bawah, sosoknya dari atas kepala hingga ke ujung ekor perlahan menghilang ke dalam pasir hingga tidak ada lagi yang tahu di mana dia sekarang.
Sontak saja semua orang tercengang akan apa yang baru saja terjadi.
"Ke mana dia pergi?!"
"Kita ini ada di gurun, bagaimana bisa dia menyelam ke dalam pasir?!"
"Mana aku tahu!"
Jelas saja kepanikan menyebar ke semua orang terutama pada para Locals yang baru pertama kali menyaksikan kejadian aneh seperti ini. Akan tetapi, hal yang sama tidak bisa disebutkan kepada para Otherworlder terutama
kepada mereka yang sudah banyak bermain berbagai macam jenis game.
Dari monster ikan yang bisa berenang di daratan hingga paus yang melayang di angkasa semua sudah pernah mereka lihat. Walau sempat terkejut, tapi dengan sigap mereka menaikkan kewaspadaan mereka ke tingkat tertinggi.
Pada saat ini, tiga sosok keluar dari dalam pasir.
Membersihkan butiran pasir yang menutupi tubuh mereka, mereka yang tidak tahu akan situasi terbaru sontak terkejut ketika melihat ada semacam punuk berwarna kebiruan menyembul dari dalam pasir sebelum akhirnya kembali menghilang.
Masuk ke dalam posisi siaga, mata mereka memperhatikan sekeliling mengamati setiap pergerakan yang ada.
"Di sana!"
Tunjuk seorang prajurit yang baru saja melihat punuk itu menyembul dari dalam pasir sebelum akhirnya kembali menyelam ke dalamnya.
Hal ini terus terulang sebanyak lima kali sebelum akhirnya serangan yang sebenarnya diluncurkan.
Melompat tinggi dari dalam pasir, Naga Occidens menelan bulat-bulat prajurit malang yang kebetulan berada di atasnya. Diam di udara untuk beberapa saat, Naga Occidens membiarkan tubuh besarnya jatuh bebas ke atas tanah.
Booom!!!
Sebuah ombak besar tercipta yang tidak akan pernah kau sangka akan terjadi di tengah gurun pasir yang mana itu menyapu setiap orang yang berada di dalam jarak jangkauannya.
Dan salah satu orang itu adalah Penyihir Rosemary.
Mengembangkan jubahnya menjadi sepasang sayap putih yang indah, Penyihir Rosemary meluncur ke angkasa dan sukses menghindari ombak besar yang hendak menerjangnya.
Sosoknya yang sekarang bagaikan seorang malaikat yang jelas saja itu membuat banyak mata tertarik kepadanya.
Namun, sayangnya, ini bukanlah saat yang tepat untuk diam terkagum.
Setelah deru ombak mereda, perintah pun disampaikan.
"Menyebar! Jangan berkumpul! Langsung serang ketika kau melihatnya!"
Atas perintah dari Turbo, dengan patuh semua Prajurit yang ada pun mengikutinya.
Seketika mereka menjauhkan diri mereka dari rekan mereka yang lain. Tanpa butuh waktu lama setiap Prajurit Aliansi pun menyebar di atas permukaan pasir yang panas. Setiap kali Naga Occidens menunjukkan punuknya, mereka yang memiliki metode menyerang dari jarak jauh tanpa ampun akan membombardirnya dengan serangan.
Lima kali hal ini terulang, Naga Occidens kembali melompat dari dalam pasir dan melahap bulat-bulat prajurit malang yang berdiri di atasnya sebelum akhirnya kembali jatuh bebas yang seketika menciptakan ombak besar yang menyapu segala yang ada di jalurnya.
Jika ada yang berbeda itu adalah jumlah korban yang jauh lebih sedikit karena strategi mereka untuk menyebar terbukti ampuh untuk meminimalkan jumlah korban yang jatuh.
Setelah kembali menyelam ke dalam pasir, Naga Occidens akan kembali berenang mengitari medan pertempuran dengan sesekali menunjukkan punuknya untuk diserang oleh para Prajurit yang melihatnya.
Bersiap untuk pertempuran repetitif. Utungnya itu tidak akan pernah terjadi.
Tepat di saat Naga Occidens melompat ke udara untuk yang ketiga kalinya, Penyihir Rosemary yang sudah siap menunggu di angkasa membuat Staff di tangannya bersinar terang seraya dia mengaktifkan sebuah Skill sihir.
(Magnify-Holy Chain)
Seratus rantai putih muncul dari atas tanah hingga di udara kosong yang semuanya meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah Naga Occidens yang baru saja hendak membiarkan tarikan gravitasi menariknya kembali ke atas
tanah.
Dengan total 100 rantai yang menusuk dan melilitnya, Penyihir Rosemary pun sukses mengekang Naga Occidens di tengah-tengah udara tanpa membiarkannya mampu berbuat apa-apa karena ada juga rantai yang menahan leher dan juga menutup rahangnya agar tidak terbuka.
Alasan kenapa Penyihir Rosemary mengeluarkan sihir ini hanyalah satu.
Itu karena Ratu Titania sudah menyelesaikan persiapannya.
Dengan dua bola api yang bersinar di dalam soket matanya, Ratu Titania memandang lurus ke arah sosok Naga Occidens yang kini ditahan oleh seratus rantai cahaya di tengah-tengah udara.
Menggenggam erat gagang pedangnya yang diangkat tinggi ke angkasa, sebuah lingkaran sihir raksasa tercipta di atas langit dengan dirinya sebagai pusatnya.
Meski mulutnya tetap tertutup, tapi suaranya menggema jelas di kepala semua orang.
"Wahai mentari yang bersinar"
"Wahai sang api kuno pemberi kehidupan"
"Wahai sang pelita penerang dunia"
"Dengarkanlah suara putrimu ini"
"Kabulkanlah permintaan putrimu ini"
"Terangilah dunia ini, dengan musuhku sebagai bahan bakarmu"
Dari awal Ratu Titania mulai mengucapkan mantranya, cahaya mentari menjadi semakin terik. Gurun yang sudah sejak awal diselimuti oleh hawa panas kini bertambah semakin panas bersamaan dengan setiap kata yang Ratu
Titania ucapkan.
Hingga mantra selesai dilafalkan, semua orang tanpa terkecuali merasa seperti sedang berada di dalam oven yang menyala.
Mereka yang mengenakan Armor dengan terburu-buru melepas Armor yang mereka kenakan karena panas yang Ratu Titania hasilkan telah membuat segala jenis logam yang ada di bawah efek Skillnya menjadi merah menyala. Tentu saja ini juga berlaku kepada senjata sehingga segala jenis logam kini telah dilemparkan ke atas pasir.
Masih belum cukup, bahkan ada juga dari mereka yang sampai melepaskan segala jenis pakaian sampai-sampai ada yang bertelanjang bulat demi bisa membebaskan tubuh mereka dari hawa panas yang berlebih.
Mereka yang memiliki [Water Magic] beserta turunannya berusaha untuk mendinginkan diri dengan menciptakan air untuk membasuh atau bahkan merendam tubuh mereka. Hanya untuk mendapati air yang mereka ciptakan segera mendidih karena suhu yang ekstrim.
Bahkan Penyihir Rosemary yang tadinya berada di atas langit segera turun ke bawah menolak untuk berada dekat dengan sumber panas.
Ketika semua orang menderita karena panas, orang yang paling menderita tentu saja adalah Naga Occidens. Itu dikarenakan lingkaran sihir yang menjadi penyebab utama panas yang amat ekstrim ini sekarang berada tepat di atas kepalanya.
Masih dikekang oleh sihir Penyihir Rosemary membuatnya tidak bisa kabur dari panas yang mendera tubuhnya. Berada di posisi paling dekat dengan lingkaran sihir tentu saja menambah penderitaannya karena panas yang dia
rasakan berkali-kali lipat dari yang lain rasakan.
Tubuhnya yang terbuat dari air sedari tadi terus mendesis dengan asap putih yang mengepul dari tubuhnya yang perlahan mulai menguap.
Hingga pada akhirnya, Ratu Titania menyelesaikan mantranya.
(Spirit of the Sun – Lamplight)
Masih mengangkat pedangnya tinggi di udara, Ratu Titania memutar pedangnya bagaikan sedang memutar kunci.
Seketika lingkaran sihir yang menyala merah kini semakin menjadi.
Cahayanya begitu terang hingga semua orang secara refleks menutup mata atau melihat ke bawah karena tidak mampu menahan sinar cahaya yang sangat terang itu.
Naga Occidens, di sisi lain, tidak mampu mengalihkan pandangannya pada cahaya itu karena dia tahu, kalau itu adalah cahaya yang akan merenggut nyawanya.
Seketika sebuah sinar cahaya yang teramat sangat terang jauh melampaui (Luminous Rays) yang Penyihir Rosemary keluarkan. Sinar cahaya terang itu menyinari seluruh tubuh Naga Occidens secara menyeluruh dari atas hingga bawah.
Tidak ada teriakan, tidak ada suara, tidak ada apa-apa.
Tidak ada seorangpun yang berani bersuara ketika sinar cahaya itu turun dari langit menghantam bumi. Tidak ada seorangpun yang berani bergerak ketika panas yang melebihi panas apa pun mendera seluruh area.
Hingga pada akhirnya sinar cahaya itu berhenti.
Udara masih terasa panas namun tidaklah sepanas yang sebelumnya.
Walau semua orang masih bingung akan apa yang baru saja terjadi, tapi secara bersamaan mereka semua lega karena telah terbebas dari hawa panas yang membakar kulit.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana dengan nasib Naga Occidens.
Yah, itu adalah sebuah pertanyaan yang tidak pantas untuk ditanyakan.
Sosoknya sudah tidak ada lagi di udara.
Rantai-rantai cahaya yang tadinya melilitnya kini sudah tidak ada lagi.
Apa yang tersisa hanyalah sebuah kawah berbentuk lingkaran sempurna yang ada di permukaan tanah berpasir. Mungkin itu juga tidak bisa dikatakan benar karena apa yang dulunya butiran pasir kini telah berubah menjadi
kaca yang tercipta secara alami karena menerima panas yang berlebih.
Bearnard, Doragon, serta Turbo yang sama-sama hanya bertelanjang dada (Terkecuali Bearnard yang telanjang sepenuhnya). Mereka bertiga memberanikan diri untuk mengintip ke dalam lubang.
Apa yang mereka temukan adalah sebuah lubang yang teramat-amat sangat dalam jauh lebih dalam dari lubang tempat Bearnard sebelumnya jatuh.
Ratu Titania.
Menyaksikan hasil perbuatannya sendiri dari atas langit segera mendeklarasikan.
"Pertempuran sudah berakhir"