A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 112 : The Great Alliance (1)



Di dalam sebuah tenda besar jauh di garis belakang pasukan Aliansi, duduk secara melingkar adalah para tokoh penting di seluruh Benua Libertas.


Mereka adalah Ratu dari bangsa Peri (Fairy), Ratu Titania. Pangeran dari ras Elf, Pangeran Lapelis Ast Regenwald. Pangeran dari Drakon Kingdom, Draco Blut Dracon. Pangeran dari Sanguine Kingdom, Verfolger Pes Sanguine.


Kepala Suku dari Suku Beruang, Bearnard Ursa. Penyihir dari Sol Ciel, Rosemary La Ciel. Dan yang baru bergabung bersama mereka adalah Raja dari Narsist Kingdom, Pulchritudo ol Narsist.


Mereka yang awalnya saling bertempur kini harus menyingkirkan segala perbedaan untuk mengatasi ancaman bersama yang sudah berada di depan mata.


Meski begitu, aura permusuhan masih begitu terasa di antara mereka.


Demi menghindari suasana yang tidak mengenakkan ini, sebagai Tuan Rumah, Raja Pulchritudo pun berinisiatif untuk memulai pembicaraan.


"Ada banyak sekali yang diriku ingin tanyakan. Akan tetapi, karena situasi yang tidak memungkinkan, diriku akan langsung masuk ke dalam inti pembicaraan... Apa sebenarnya itu!"


Jarinya menunjuk ke arah tempat yang dulunya adalah Istana Kerajaannya.


Apa yang berdiri di sana bukan lagi sebuah Istana megah melainkan seekor Makhluk menjijikan yang terbuat dari gumpalan daging yang pada setiap permukaan tubuhnya ditumbuhi oleh mata merah serta mulut yang menganga


lebar menampakkan deretan gigi yang tajam.


Tentakel yang tumbuh dari tubuhnya telah meratakan setiap bangunan yang ada disekitarnya dan asap hitam yang keluar dari tubuhnya telah melelehkan segala yang ada disekitarnya sehingga membuat area di sekelilingnya


tampak seperti rawa hitam yang mengerikan.


Ketika Raja Pulchritudo pertama kali melihat Makhluk tersebut, dirinya kehabisan kata-kata. Yang ada hanyalah perasaan marah sekaligus jijik karena Istana indahnya harus sirna oleh Makhluk yang menjijikan seperti itu.


Sebagai seseorang yang berada di tempat kejadian, sudah sewajarnya bagi Penyihir Rosemary untuk menjawab pertanyaan dari Raja Pulchritudo.


Dia menceritakan semuanya dari awal sampai akhir yang mana ini semakin membuat rasa murka di diri Raja Pulchritudo semakin menjadi "...dan begitulah. Termakan oleh rayuan Iblis (Demon) tubuh Paus Senor di ambil


alih oleh Makhluk yang saat ini sedang menghancurkan Kerajaanmu di saat kita sedang bicara".


"Senor!!!" tidak mampu menahan perasaannya, Raja Pulchritudo mengeluarkan sebuah Aura yang mencekik. Mengecualikan Bearnard yang masih asing dengan konsep Aura, semua orang tampak biasa saja sembari menunggu Raja Pulchritudo untuk kembali tenang.


Ketika Raja Pulchritudo akhirnya bisa kembali tenang, tampak Bearnard sedang kesusahan untuk bernafas. Setelah Penyihir Rosemary dengan santainya melemparkan sihir penyembuhan kepada Bearnard, dia pun kembali


menjelaskan.


"Untuk saat ini kami dari Sol Ciel beserta para Peri (Fairy) di bawah Ratu Titania sedang sibuk menciptakan penghalang agar mencegah pengaruh Iblis (Demon) itu semakin meluas. Akan tetapi, itu hanyalah solusi sementara


sampai kita tahu bagaimana cara menumpas atau setidaknya menyegel Iblis (Demon) tersebut"


"Lalu, apakah Anda memiliki cara untuk melakukan keduanya?" tanya Pangeran Draco.


Tidak menjawabnya, Penyihir Rosemary hanya menoleh ke arah Ratu Titania karena memang beliau lah yang jauh lebih berpengalaman dalam hal ini.


Sadar akan niatan Penyihir Rosemary, dengan senang hati Ratu Titania pun menjelaskan.


"Jika itu melenyapkan, diriku takut kalau saat ini hanya Yang Mulia Ratu Cascade yang memiliki kuasa untuk melakukan itu... Akan tetapi, jika ingin menyegelnya, maka diriku ini tahu satu atau dua metode penyegelan


yang ampuh untuk menahan seekor Iblis (Demon)"


"Kalau begitu cepat panggil Ratu para Roh (Spirit) itu kesini!" ucap Raja Pulchritudo yang jelas sekali tidak ingin membiarkan Iblis (Demon) menjijikan itu untuk hidup lebih lama lagi.


Sayang, keinginannya itu jelas ditentang oleh Ratu Titania "Maaf untuk mengecewakanmu, kecuali keadaan memang sangatlah mendesak. Yang Mulia Ratu Cascade tidak akan meninggalkan wilayah Sanguine Kingdom".


"Apakah keadaan saat ini terlihat kurang mendesak bagimu!!!" Bang! Menghentakkan kedua telapak tangannya ke atas meja, meja kayu yang tidak mampu menahan kekuatan dari seorang Raja seketika hancur berkeping-keping.


Terlihat Raja Pulchritudo menatap Ratu Titania dengan tatapan tajam yang penuh dengan amarah. Membalasnya, Ratu Titania balik menatap dengan pandangan yang tidak kalah tajamnya.


Jelas sekali kalau kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah.


Mencegah agar keadaan tidak tambah kacau, Penyihir Rosemary segera melerai mereka.


"Mohon tenang! Meskipun Yang Mulia Ratu Cascade tidak mampu hadir, sebagai gantinya. Ketua dari Sol Ciel, Cardinal La Ciel akan datang kemari untuk membantu melawan Iblis (Demon) itu. Perlu diketahui kalau Ketua kami


sudah memiliki pengalaman dalam melawan seorang Iblis (Demon) secara langsung. Juga, selain beliau ada juga satu lagi anggota kami yang pasti akan datang karena dari seluruh Penyihir di Sol Ciel, dia adalah yang paling akrab dengan ras Iblis (Demon)"


Mendengarkan penjelasan dari Penyihir Rosemary, mau tidak mau Raja Pulchritudo harus menahan amarahnya "Aku percaya jika itu adalah Pimpinanmu. Akan tetapi, apakah Penyihir yang kau maksud itu memang berpengalaman dalam menangani makhluk hina itu?!" mendapatkan balasan "Anda bisa memegang kata-kataku" Raja Pulchritudo pun memilih untuk percaya walau sedikit enggan.


Setelah itu perbincangan pun dilanjutkan dengan menghitung berapa banyak pasukan yang terisa dan berapa banyak yang masih bisa bertarung.


Terima kasih berkat kerja keras dari Jenderal Boreas serta arahan dari Oriens, pasukan Narsist Kingdom yang lari berhamburan segera dikumpulkan dan nantinya pasukan dari para Bangsawan yang tersebar di seluruh Narsist


Kingdom akan segera dikumpulkan sebagai bala bantuan.


"Terima kasih berkat kerja keras seseorang, Kerajaanku kini hanya memiliki tiga reruntuhan saja yang masih bisa beroperasi. Akan tetapi kami sudah menggali cukup banyak artefak yang bisa digunakan untuk memperkuat


pasukan. Silahkan gunakan sesuka hati"


Atas proposal dari Raja Pulchritudo, sontak semua orang berkata "Kami menolak" yang mana ini sangat mengejutkan Raja Pulchritudo.


Barulah setelah menerima penjelasan dari Pangeran Verfolger dirinya paham kenapa niat baiknya ini ditolah oleh semua orang.


"Impar sialan! Wanita itu tidak pernah memberitahukanku tentang efek sampingnya!!!"


"Apakah Anda benar-benar tidak mengetahui kalau artefak yang selama ini kau serahkan kepada para prajurit memiliki efek samping yang akan mengubah mereka menjadi Monster tidak berakal?"


"Tentu saja! Mana sudi diriku memiliki pasukan buruk rupa seperti itu! Jika bisa berubah maka setidaknya mereka harus berubah menjadi Monster yang artistik!"


"Sekarang kau menyebutkannya, bagaimana bisa setiap artefak yang pihak Narsist Kingdom gali bisa memiliki efek yang serupa? Bukankah setiap artefak itu adalah unik dan sangat jarang ada yang memiliki efek yang sama?"


"Hmm... Besar kemungkinan alasan kenapa semua artefak itu mampu mengubah penggunanya menjadi monster tidak berakal adalah karena campur tangan Iblis (Demon) tersebut! Perlu diketahui kalau setiap Iblis (Demon)


memiliki rupa serta kemampuan yang berbeda-beda. Bisa jadi kalau Iblis (Demon) yang sedang kita hadapi sekarang memiliki kemampuan untuk menginfeksi targetnya dan mengubah mereka menjadi bawahannya yang


setia?"


"Tch, jadi semuanya akhirnya menjadi salah makhluk nista itu!"


Melihat kalau Raja Pulchritudo memang tidak tahu apa-apa mengenai masalah ini, yang lain pun tidak akan membahasnya lebih jauh lagi.


Tentu saja setelah ini Raja Pulchritudo akan langsung memerintahkan agar para pasukannya untuk membuang jauh-jauh artefak yang diserahkan kepada mereka.


Selanjutnya adalah Bearnard yang melaporkan kalau 'Raja' dari Ferox Kingdom, Leonidas Leo. Beserta tiga orang Kepala Suku lainnya akan datang membawa pasukan untuk membantu melawan Iblis (Demon).


Pangeran Draco dan Pangeran Verfolger juga memberitahukan kalau ada juga bala bantuan yang akan datang dari Kerajaan mereka masing-masing. Tidak lupa Pangeran Draco juga akan meminjam Senjata Pusaka dari kerajaannya untuk memperbesar kemungkinan untuk menang jika saja mereka harus melawan Iblis (Demon) secara langsung.


Ketika diskusi semakin memanas, tiba-tiba saja Ratu Titania mendongak ke langit seolah telah merasakan sesuatu. "Ada apa?" tanya Pangeran Draco.


Diam sejenak, Ratu Titania menjawab "Meski tipis, namun diriku merasakan sesosok Iblis (Demon) telah mendekat ke arah sini.


"Apa?" ketika semua orang masuk ke dalam posisi siaga, tiba-tiba saja datang seorang Kesatria yang memberitahukan kalau Ketua dari Sol Ciel, Cardinal La Ciel. Beserta Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender La Ciel telah tiba.


Mendengar nama itu barulah Penyihir Rosemary sadar akan siapa sebenarnya yang Ratu Titania rasakan. Memberitahukan kalau keberadaan yang Ratu Titania rasakan itu adalah kawan, meski kurang yakin namun Ratu Titania memilih untuk mempercayainya.


"Bawa mereka masuk" atas izin dari Ratu Titania, Kesatria itu pun segera pamit untuk menjemput kedua Penyihir tersebut.


Selagi menunggu, Raja Pulchritudo yang penasaran pun segera bertanya.


"Lavender La Ciel... Padahal diriku mengira telah mengetahui semua nama Ciel yang masih aktif. Namun ini adalah kali pertama aku mendengar nama itu. Apakah dia itu kerabat jauhmu?"


"Kakak Lavender adalah Putri dari Bibiku, karena suatu alasan Kakak Lavender menjauhkan diri dari dunia luar. Dan baru sekarang dia muncul ke publik"


"Oh, Jadi rumor kalau Penyihir Cardinal memiliki dua orang Putri itu memang benar adanya"


"Tepat sekali, juga. Kakak Lavender adalah orang yang diriku maksud yang paling berpengetahuan tentang ras Iblis (Demon) di seluruh Sol Ciel. Sebagai tambahan, mohon jangan menyerang beliau ketika melihatnya... Ini juga berlaku kepada Ratu Titania"


"Hm?" bingung kenapa dirinya juga disebut, tidak sempat dia bertanya sosok Penyihir Cardinal beserta satu orang lagi akhirnya memasuki tenda.


Seorang gadis kecil berambut merah tua terlihat mengenakan jubah Penyihir berwarna putih bersih lengkap dengan sebuah topi kerucut yang tampak kebesaran untuknya. Meski ini adalah pertama kalinya dirinya melihatnya


secara langsung. Namun, Raja Puchritudo yakin benar kalau sosok tersebut adalah sang Ketua dari Sol Ciel, Cardinal La Ciel.


Mengikuti Penyihir Cardinal dari belakang adalah sesosok Penyihir lainnya yang mengenakan Equipment yang lebih terbuka. Berwarna hitam kelam, tampak motif seperti sebuah sisik pada permukaan Equipmentnya. Dengan sebuah topi kerucut di atas kepalanya, Penyihir itu tampak berjalan dengan santai mengiringi Penyihir Cardinal.


Melihat Penyihir itu, sontak Ratu Titania, Raja Puchritudo, hingga Pangeran Verfolger berteriak secara hampir bersamaan.


"Half-Demon!"


Meski penampilannya kurang lebih mirip dengan Manusia, namun dari Aura yang dia pancarkan, serta aroma darahnya memberitahukan dengan jelas kalau dia tidaklah berasal dari ras Manusia.


Dan berkat gumpalan daging yang sedang mengamuk di luar sana, membuat mereka akhirnya bisa tahu seperti apa Iblis (Demon) itu yang sebenarnya.


Karena itulah yang membuat mereka bertiga bisa langsung mengenali ras Lavender yang sebenarnya.


Sontak Aura membunuh keluar dari tubuh Ratu Titania dan Raja Pulchritudo. Mereka berdua sudah siap untuk maju dan membasmi Iblis (Demon) yang sekarang berdiri di hadapan mereka.


Menatap mereka berdua dengan tatapan yang tajam, jelas sekali kalau Penyihir Cardinal tidak menyukai apa yang baru saja mereka berdua lakukan.


"Hah, Bukankah diriku baru saja mengatakan untuk jangan langsung menyerang?" mendengar hal ini, sontak Ratu Titania dan Raja Pulchritudo terkejut dan segera meminta penjelasan.


"Penyihir Cardinal! Tolong jelaskan kenapa ada seorang Half-Demon di dalam Sol Ciel?!"


"Dasar Penyihir! Apakah selama ini Sol Ciel telah bersekongkol dengan ras Iblis (Demon)?"


Tidak terima akan tuduhan yang dilayangkan kepadanya, Penyihir Cardinal kembali menghentakkan Staffnya ke atas lantai. Namun kali ini dia melakukannya dengan lebih kencang sembari mengeluarkan Aura yang jauh


lebih menekan yang memberitahukan dengan jelas akan betapa kesalnya dirinya yang sekarang.


"Jangan asal bicara! Diriku datang kemari bersama dengan Cucuku untuk bekerja sama dengan kalian untuk menghadapi masalah yang mengancam keselamatan seluruh orang yang ada di Benua ini. Akan tetapi, baru saja kami tiba tapi apa yang kami dapatkan adalah sebuah penghinaan?!" kedua matanya seketika mengeluarkan cahaya merah menyala. Hal ini sontak membuat semua orang dibuat bergidik melihatnya.


Bahkan Ratu Titania dan juga Raja Pulchritudo sampai harus menelan apa yang ingin mereka ucapkan.


"Diriku tahu kalau ras Cucuku yang satu ini memang akan membuat orang lain waspada. Karena itulah baru sekarang diriku membawanya ke dunia luar. Walau begitu, fakta kalau dia adalah seorang Ciel tetap tidak akan


berubah!


Karena itulah! Jika ada dari kalian berani macam-macam dengannya, maka jangan harap untuk menerima bantuan dari Sol Ciel selama 100 tahun kedepan!"


Mendengar ancaman dari Penyihir Cardinal, tidak ada seorangpun yang berani angkat bicara.


Sol Ciel sudah sangat terkenal akan andil mereka dalam mengatasi setiap masalah yang ada di seluruh penjuru dunia. Tidak mampu meminta bantuan kepada Sol Ciel di saat Kerajaan mereka berada dalam masalah adalah


sebuah ancaman yang sangat nyata karena bisa saja perilaku mereka saat ini bisa menentukan hidup dan matinya rakyat Kerajaan mereka.


Meskipun Raja Pulchritudo tidak begitu peduli kalau Kerajaannya bisa meminta tolong kepada Sol Ciel atau tidak, tapi Aura yang Penyihir Cardinal keluarkan memberitahukannya kalau dirinya bukanlah lawan yang setimpal bagi gadis kecil yang ada hadapannya.


Raja Pulchritudo bahkan tidak yakin apakah dirinya akan mampu bertahan selama lima menit jika harus menghadapi Penyihir Cardinal yang sedang murka.


Melihat kalau tidak ada lagi yang mau membuka mulutnya, Penyihir Cardinal pun juga tidak mau membahasnya lagi. Berjalan dengan penuh wibawa, dirinya menghampiri Penyihir Rosemary yang langsung bangkit untuk memberikan kursinya kepada sang Nenek sementara dirinya akan berdiri di belakangnya bersama dengan Penyihir Lavender.


Duduk di kursi yang sebelumnya di duduki oleh Penyihir Rosemary, Penyihir Cardinal langsung melanjutkan diskusi yang tertunda.


"Sebelum kita bisa melanjutkan, bolehkan kalian memberitahukan kepadaku situasi yang sekarang?"


...


Selesai mendengarkan laporan tentang situasi terkini, Penyihir Cardinal tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya memberikan pendapatnya.


"Perlu diketahui, membunuh seorang Iblis (Demon) dalam artian yang sebenarnya itu adalah mustahil..." atas informasi ini, sontak semua orang terkejut. Namun, karena melihat kalau Penyihir Cardinal masih belum selesai


bicara, mereka pun hanya memilih diam dan terus mendengarkan. "...Itu dikarenakan mereka yang tiba di dunia ini bukanlah wujud mereka yang sebenarnya. Melainkan hanya secuil dari tubuh mereka yang mereka lempar


ke dunia ini untuk membuat kekacauan".


"Jadi, maksud Anda apa yang kita lawan sekarang bukanlah tubuh utuhnya?!"


"Benar sekali, jika kita bandingkan, apa yang ada di sana hanyalah secuil dari potongan kukunya atau sehelai rambutnya saja"


"Apakah kau berkata yang sebenarnya?!" masih menolak untuk percaya, mana sudi Raja Pulchritudo kalau Kerajaannya hancur karena sepotong kuku.


Melihat ekspresi serius di wajah Penyihir Cardinal, dia pun menjadi kehilangan kata-kata.


"Kalau apa yang ada di hadapan kita sekarang tidak lebih dari sekedar secuil dari potongan tubuhnya. Lalu dimanakah tubuh asli dari Iblis (Demon) itu berada?"


Untuk pertanyaan yang satu ini, Penyihir Cardinal pun menjawabnya dengan santai "Dimana lagi kalau bukan di Dimensi aslinya, Underworld".


Mendengar kata 'Underworld' reaksi semua orang beragam.


Ratu Titania, Pangeran Verfolger, dan Pangeran Lapelis tetap diam karena mereka tahu apa itu yang disebut sebagai 'Underworld'. Raja Pulchritudo sontak memasang ekspresi jijik karena dia juga tahu Dimensi macam apa


yang Penyhir Cardinal maksud. Sementara itu, Kepala Suku Bearnard menjadi keheranan sementara Pangeran Draco malah menjadi tertarik setelah mendengar nama itu untuk pertama kalinya.


Tidak mampu menahan rasa penasarannya, Pangeran Draco segera bertanya "Penyihir Cardinal, kalau boleh tahu. Tempat macam apa 'Underworld' itu sebenarnya?".


Tidak memiliki alasan untuk tidak memberitahukannya, Penyihir Cardinal pun segera menjelaskan apa itu yang disebut sebagai Underworld.


Underworld.


Dunia para Iblis (Demon) dan juga Setan (Devil).


Berada di bawah langit malam abadi, tanah di sana tidak hanya tandus tapi juga terbakar oleh api yang membara. Apa yang mengalir di sungai mereka bukanlah air yang biru melainkan lava merah yang akan membakarmu hanya


dengan mendekatinya saja.


Udara di sana sangatlah beracun hingga hanya dengan sekali hirupan saja sudah cukup untuk membakar paru-parumu.


Mustahil bagi orang biasa untuk bisa berada dan bahkan sampai berdiam di sana.


Yang mampu hanyalah Ras Iblis (Demon) yang memiliki kekuatan setara dengan para Dewa dari Kahyangan serta para Setan (Devil) yang menjadi pelayan mereka.


Tidak hanya mampu berdiam di sana, para Iblis (Demon) yang menjadikan Underworld sebagai rumah mereka pada akhirnya mampu menarik kekuatan dari Underworld. Sehingga selama mereka berada di sana, maka tangan kematian tidak akan pernah mampu untuk meraih mereka.


"Tidak ada yang tahu darimana mereka sebenarnya. Yang diriku tahu kalau sudah sejak lama ras mereka suka mencari masalah di dunia ini. Setiap kali mereka muncul di dunia, maka lautan mayat akan menyusul mereka. Jika


saja bukan karena keberadaan para Dewata, maka pasti sudah sejak lama para Ras Iblis (Demon) itu untuk masuk ke dunia ini bukan dengan cara melemparkan bagian tubuh mereka melainkan masuk dengan tubuh asli mereka"


Selesai menjelaskan, sontak seisi ruangan pun dilanda oleh keheningan.


"Jadi, apakah itu artinya pilihan kita satu-satunya hanyalah dengan menyegelnya saja?"


"Benar sekali..." jawab Penyihir Cardinal singkat. "Walau benar mereka bisa melemparkan potongan tubuh mereka sesuka hati. Tapi itu ada batasnya! Dalam satu dunia, hanya akan terdapat satu Iblis (Demon) yang sama.


Sekali potongan tubuhnya tersegel, maka mustahil bagi tubuh yang asli untuk mengirimkan potongan tubuhnya yang lain. Sebaliknya, jika potongan tubuhnya dihancurkan, maka yang asli hanya akan mengirim yang baru


tanpa harus merasa kehilangan apa pun".


Mendengarkan ini, semua orang pun merasa lega. Walau membunuh itu mustahil, setidaknya mereka bisa menahan Iblis (Demon) itu dengan cara menyegelnya sehingga kerusakan yang ditimbulkan tidak akan bertambah banyak.


"Tapi pertama-tama kita harus mengurangi ukuran tubuhnya hingga tidak lebih besar dari sebuah rumah satu lantai. Dengan begitu metode penyegelan yang akan diriku usulkan akan menjadi lebih efektif dan akan bertahan jauh lebih lama".


"Kalau boleh tahu, metode penyegelan macam apa yang akan Anda usulkan?"


"(Eternal Labyrinth)" mendengar ini, sontak ekspresi cerah pun muncul di wajah Ratu Titania. "Oh, sihir dari [Space & Time Magic] yah! Benar sekali, dengan ini maka 10 ribu tahun pun makhluk hina itu tidak mungkin bisa keluar!".


Mengangguk, Penyihir Cardinal pun mulai menjelaskan.


(Eternal Labyrinth) adalah sebuah sihir yang memungkinkan seseorang untuk menciptakan sebuah dimensi saku yang berwujud seperti sebuah labirin tanpa batas yang jika ada seseorang yang masuk ke dalam sana, maka orang


tersebut tidak akan mampu untuk keluar terkecuali dengan izin dari orang yang menciptakan dimensi saku tersebut.


Ini adalah sebuah sihir pamungkas yang tidak mungkin untuk dihancurkan bahkan dengan kematian sang pelafal mantra.


"...Tentu saja membutuhkan waktu lama serta persiapan yang tidak sedikit untuk menyiapkan sihir ini"


"Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan?"


"Satu minggu, minimum"


Mendengar hal ini, Raja Pulchritudo hanya bisa berkata "Terlalu lama!" yang selanjutnya di dukung oleh Kepala Suku Bearnard "Aku setuju dengan Raja Pulchritudo. Seminggu? Aku bahkan tidak yakin kalau pasukan kita bisa


menahan Iblis (Demon) tersebut sampai besok hari!".


Penyihir Cardinal pun tersenyum.


"Tenang saja, selama Cucuku berada di sini maka beban yang akan ditanggung oleh Pasukanmu tidak akan begitu besar. Malahan diriku yakin kalau dia seorang mampu untuk menahan Iblis (Demon) itu selama lima hari lamanya


sendirian saja"


Sontak seluruh mata tertuju kepada Penyihir Rosemary yang berdiri di belakang Penyihir Cardinal. Melihat semua orang memandang ke arahnya, Penyihir Rosemary lalu menggelengkan kepalanya dan menunjuk ke arah Penyihir


Lavender yang sedari tadi diam mendengarkan.


Penyihir Lavender yang mendapati tiba-tiba saja dirinya menjadi pusat perhatian segera berbisik kepada Neneknya "Nek, Nenek tidak serius kan?". Berbeda dari sang cucu yang berbisik, Penyihir Cardinal berbicara dengan


lantang.


"Tentu saja! Dengan sihir yang cucuku miliki, dirinya dapat dengan mudah menahan dan bahkan melemahkan Iblis (Demon) itu sehingga ketika Pasukan kalian akan melawannya, Iblis (Demon) itu sudah tidak lagi berada dalam kondisi primanya"


Mendengar ini, senyuman kaku pun tercipta di wajah Penyihir Lavender.