
(Flame Storm) (Dual-Casting) (Flaming Ground)
Menciptakan sebuah badai api yang membakar segalanya bahkan tanah yang dia pijak, Penyihir Orchid sama sekali tidak menahan diri untuk memusnahkan Iblis (Demon) yang telah menginfeksi seluruh kompleks reruntuhan.
Daging-daging merah yang awalnya melapisi seluruh permukaan ruangan baik itu lantai, dinding, hingga langit-langit seketika menjerit kesakitan ketika api merah membara menyentuh mereka.
Doragon dan yang lain yang berlindung ke belakang hanya bisa terpana ketika menyaksikan Penyihir Orchid menunjukkan kebolehannya. Sempat terpikir olehnya kalau kedatangan mereka kemari hanya sekedar sebagai penonton saja karena tampaknya Penyihir Orchid bisa menghabisi Iblis (Demon) ini sendirian saja.
Akan tetapi, dia segera membuang jauh-jauh pemikiran itu.
Tidak peduli seberapa kuat orang itu, mustahil baginya untuk bisa melakukan segalanya sendirian.
Sembari menunggu agar gilirannya tiba, dengan tatapan serius Doragon memperhatikan pemandangan merah yang ada di depan matanya.
Selang beberapa menit kemudian, api merah yang membara berangsur-angsur memudar. Apa yang tersisa hanyalah abu hitam yang memenuhi seluruh ruangan. Keberadaan Iblis (Demon) sudah tidak lagi bisa dirasakan. Itu
di dukung oleh Feline yang kini hanya bisa mencium bau daging yang terbakar dan tidak ada yang lain.
Yakin kalau dia telah membakar semuanya, Penyihir Orchid segera mengintruksikan yang lain untuk segera melanjutkan penjelajahan.
Dengan formasi yang sama, mereka mulai kembali melaju secara perlahan dan penuh dengan kewaspadaan.
Meski Penyihir Orchid telah membakar sebagian besar dari tubuh Iblis (Demon) itu, tapi karena kepingan Iblis (Demon) itu sendiri masih belum sirna, itu artinya mereka masih belum boleh menurunkan kewaspadaan mereka.
Setelah ruangan besar itu telah dibersihkan dari bagian tubuh Iblis (Demon), kini tampak beberapa pintu yang mengarah ke ruangan-ruangan yang berbeda.
Mencoba mencari arah menggunakan penciumannya yang tajam, Feline terpaksa harus menggelengkan kepalanya karena semua pintu memiliki aroma Iblis (Demon) yang kuat. Tidak punya pilihan lain, Penyihir Orchid terpaksa harus menggunakan [Sixth Sense] miliknya untuk menebak pintu mana yang harus dia lewati.
"Lewat sini" ucap Penyihir Orchid dengan penuh percaya diri.
Apa yang dia tunjuk adalah sebuah pintu yang berada di sisi kanan ruangan. Tidak ada yang bisa membedakan pintu itu dengan pintu-pintu lainnya sehingga sulit untuk mengetahui kalau itu memang pintu yang tepat. Tapi,
jika Penyihir Orchid menyebutkan kalau memang itu pintu yang tepat, maka tidak ada yang bisa membantahnya.
Mengikuti arahan dari Penyihir Orchid, mereka pun melewati pintu itu yang menuntun mereka menuju sebuah lorong yang panjang. Kembali menyalakan obor-obor yang terpajang di dinding, kini dapat terlihat jelas kalau
lorong ini memiliki dinding yang terbuat dari bebatuan yang halus dan terasa dingin saat di sentuh.
Terus menjelajahi lorong tersebut, tidak berselang lama mereka menemukan kalau lorong itu memiliki cabang-cabang yang membingungkan. Tetap saja, dengan arahan dari Penyihir Orchid mereka pun terus meneruskan
perjalanan mereka.
Ketika mereka masih terus berjalan, tiba-tiba saja telinga Feline berkedut dan dia pun memberikan aba-aba untuk berhenti.
"Ada yang datang, satu orang..."
Atas perkataannya, sontak semua orang pun masuk ke dalam mode bertarung.
Dengan Doragon dan Victoria maju ke barisan paling depan, mereka pun siap untuk menyambut makhluk apapun yang datang ke arah mereka.
Tidak butuh waktu lama sebelum mereka akhirnya bisa melihat lawan mereka.
Berjalan dengan langkah yang berat, itu adalah sebuah armor kesatria yang berwarna putih kusam dengan lendir menjijikan yang melapisi seluruh permukaan Armonya. Dari celah-celah armor dapat terlihat gumpalan daging
berwarna merah cerah yang menggeliat mengisi seluruh ruangan kosong yang ada di dalam armor tersebut.
"Weise!" atas perintah Doragon, Weise pun melemparkan tiga (Flame Missile) yang melaju lurus ke arah armor menjijikan itu.
Boom! Mendarat dalam waktu yang bersamaan, sebuah ledakan besar melahap armor menjijikan itu dalam api yang membara.
Meski begitu, tampaknya serangan itu masih belum cukup untuk menjatuhkan armor menjijikan itu. Shrriieekk!!! Mengeluarkan teriakan yang melengking, Armor itu seketika berlari kencang ke arah mereka.
"Biar aku..." mengancungkan Rapiernya, Allucard pun mengaktifkan (Blood Stakes) yang menumbuhkan pasak-pasak dari darah yang tumbuh dari lantai, dinding, hingga langit-langit. Mendapati dirinya tertusuk oleh pasak
darah dari segala penjuru, armor menjijikan itu terpaksa harus menghentikan lajunya.
Memanfaatkan hal ini, Weise langsung menyerangnya menggunakan (Flamethrower) dengan niatan untuk membakar habis semua daging yang ada di dalam armor itu.
Sontak aroma daging terbakar menyelimuti seluruh lorong hingga membuat Feline terpaksa harus menutup hidungnya.
Tidak lama kemudian, setelah bermandikan api yang membara, armor menjijikan itu akhirnya jatuh juga dengan bagian-bagian armornya yang berserakan di atas lantai.
Tidak lagi merasakan aura Iblis (Demon) dari dalam armor itu, Penyihir Orchid segera memerintahkan untuk terus melanjutkan perjalanan.
...
(Flame Missile) (Blood Lance) (Quick Slice)
Sesampainya mereka di sebuah ruangan yang luas, mereka disambut oleh armor-armor menjijikan lainnya. Misil api dilepaskan, tombak darah melayang, dan sebuah tebasan cepat diayunkan untuk mengalahkan mereka.
Dengan bantuan (Flame Enchant) dari Penyihir Orchid, senjata semua orang telah dilapisi oleh api merah sehingga mereka sekarang mampu memberikan serangan fatal kepada semua armor yang menghadang.
Memegang erat belati di kedua tangannya, dengan lincahnya Feline bergerak seakan menari di antara para armor menjijikan yang mencoba untuk menyerangnya.
Mengayunkan kedua belatinya, jejak tebasan terlihat jelas di antara celah-celah armor yang membakar daging merah yang bersembunyi dibaliknya. Tidak jauh dari Feline, adalah Sisteen yang mengendap-endap di titik buta para armor. Ketika dia para armor itu sibuk melawan Doragon dan yang lain, Sisteen dengan cepat menghunuskan pedangnya dari belakang dan sukses menebas kepala armor yang menjadi mangsanya.
Meski serangannya itu tidaklah berakibat fatal, namun itu sukses membuat pergerakan armor itu berhenti untuk sementara waktu.
Berkat peluang yang diberikan oleh Sisteen, Turbo pun sukses mengaktifkan (Sword Dance) yang membuatnya mampu menebas dengan cepat dan halus seperti sedang menari. Setiap tebasan pedangnya sukses mengenai
persendian armor menjijikan itu hingga memotongnya dengan rapi.
Bagaikan sebuah mainan rusak, armor yang terkena serangan dari Turbo kini berserakan di atas lantai.
Karena senjata Turbo telah dilapisi oleh api, membuat daging yang dia potong terbakar oleh api merah yang sukses mencegah untuk daging-daging itu kembali beregenerasi dan hanya bisa menggeliat di dalam potongan armor yang dia diami.
(Burn Marks)
Hanya dengan jentikan jarinya, dengan mudahnya Penyihir Orchid membakar habis potongan armor yang berserakan beserta daging-daging yang ada di dalamnya.
Pada barisan paling depan, terdapat Doragon dan Victoria yang saling bahu-membahu dalam menghadapi kumpulan armor menjijikan yang dengan ganasnya menyerang mereka.
Menggunakan (Parry) Doragon sukses menangkis ayunan pedang yang diarahkan kepadanya. Sebagai serangan balasan, Doragon menggunakan (Defense Cutter) yang diarahkannya pada bagian perut dari Armor tersebut. Ketika
perut Armor itu terbakar, Doragon lalu menghantamnya menggunakan (Shield Bash) dan sukses membuat armor itu terpental dan menghantam armor lainnya yang berada di belakangnya.
Secara bersamaan Victoria baru saja menggunakan (Spear Swing) yang dia arahkan pada bagian kaki dan sukses membuat armor yang menjadi lawannya terjungkal dan tersungkur dengan keras ke atas tanah.
"Ha!" menendang armor itu dengan keras, kebetulan sekali armor itu berakhir di dekat armor yang baru saja terpental setelah terkena serangan dari Doragon.
Tanpa banyak basa-basi Victoria langsung menyebur mereka dengan menggunakan (Dragon Breath) hingga mereka semua berubah hangus terpanggang dengan sempurna.
Setelah bertempur selama beberapa menit, mereka akhirnya sukses mengalahkan semua armor menjijikan yang datang menyerang mereka.
Membiarkan Doragon dan yang lain untuk mengambil nafas, Penyihir Orchid mengamati armor bekas yang kini berserakan di atas lantai.
Dengan banyaknya sampel yang ada di hadapannya, membuat Penyihir Orchid dapat dengan mudah mengetahui kalau semua armor itu bukanlah sejenis armor yang akan kau pakai untuk bertarung, melainkan semua armor itu adalah sejenis armor yang dibuat khusus hanya sebagai pajangan belaka.
Hal itu terbukti dari armor yang tipis serta terbuat dari logam murahan. Pedang dan tombak yang mereka bawa juga adalah memiliki bilah yang tumpul namun memiliki bentuk yang indah.
Dari semua bukti yang ada, Penyihir Orchid pun menyimpulkan kalau kalau armor-armor ini sebenarnya adalah armor pajangan yang awalnya terpajang di Istana Narsist Kingdom namun kini telah menjadi mainan Iblis (Demon)
dan berakhir di sini.
Tentu saja Iblis (Demon) itu tidak akan menggunakan semua armor hiasan ini tanpa alasan yang jelas.
Penyihir Orchid menduga kalau armor-armor berfungsi sebagai pengawal dari kepingan Iblis (Demon) yang telah menginfeksi seseorang dan menjadikannya sebagai wadah sementara. Karena tubuh utamanya telah dikalahkan, kepingan itu pun lari ke sini untuk berlindung dan memulihkan diri.
Karena armor-armor ini muncul untuk menghadang mereka, itu artinya mereka sudah berada di jalur yang benar.
"Iblis itu ada di depan sana, bersiaplah"
Atas aba-aba dari Penyihir Orchid, mereka pun kembali melanjutkan penjelajahan.
...
(Flame Storm) (Dual-Casting) (Flaming Ground)
Kembali membakar semuanya, Penyihir Orchid sukses membersihkan jalan dari daging-daging Iblis (Demon).
Setelah lorong itu bersih, apa yang menyambut mereka adalah sebuah lorong yang jauh berbeda dari yang selama ini mereka lewati.
Jika lorong sebelumnya berdindingkan bebatuan yang halus, lorong yang satu ini memiliki kesan modern dengan lantai dan dinding yang telah dilapisi oleh lempengan baja yang kokoh serta langit-langitnya telah dipasangi oleh lampu yang mengeluarkan cahaya yang terang.
Belum selesai mereka dibuat terkejut, di sepanjang kiri dan kanan lorong tersebut terdapat tabung-tabung besar berlapis kaca yang di dalamnya terdapat sesosok humanoid yang berendam di dalam air kehijauan.
Kenapa sosok-sosok itu disebut sebagai humanoid, itu karena walau sebagian besar tubuh mereka tampak seperti Manusia, namun mereka juga memiliki karakteristik hewan seperti cakar, kulit bersisik, tanduk di kepala, sayap di punggung, hingga ekor yang mirip seperti ekor kadal.
Melihat pemandangan ini, Doragon dan yang lain merasa kalau mereka baru saja memasuki sarang ilmuan gila dan apa yang mereka lihat adalah hasil kreasi gilanya.
Ketika Doragon dan yang lain dibuat keheranan akan hal ini, Penyihir Orchid sudah mengeluarkan bola api di telapak tangannya.
"Mereka semua sudah terinfeksi! Hancurkan sebelum mereka tersadar!"
Melemparkan bola api di tangannya, itu sebenarnya adalah (Flame Missile) yang sukses mengenai semua tabung yang ada di dekat mereka.
Berkat serangan dari Penyihir Orchid, tabung-tabung itu seketika pecah dan menumpahkan cairan yang tersimpan di dalamnya. Meskipun efek ledakan dari (Flame Missile) sukses menimbulkan kerusakan yang besar, namun
cairan yang terkandung di dalam tabung-tabung itu ternyata cukup kental untuk memadamkan api yang Penyihir Orchid ciptakan.
Akibatnya, walau mereka terluka, namun sosok-sosok Humanoid itu masih hidup.
(Spear Charge) (Sharp Edge)
Melihat sosok humanoid itu yang mulai bangkit, Victoria dengan cekatan maju dengan tombak di tangan dan di susul oleh Doragon dari belakang.
Terjangan tombak Victoria sukses menusuk salah satu sosok Humanoid itu tepat di jantung hingga menembis melewati punggungnya. "HA!" tidak cukup hanya menusuk saja, dengan sosok itu masih menancap di tombaknya, Victoria lalu mengangkat tombaknya tinggi di udara, mengayunkannya, lalu membanting sosok tersebut dengan keras ke lantai hingga suara tulang yang patah pun terdengar dengan jelas.
Secara bersamaan, Doragon sukses menorehkan sebuah luka sayatan di sepanjang dada sosok itu yang mana itu langsung membuat sosok itu berteriak dengan keras. Meski teriakannya terdengar menyedihkan, namun Doragon tidaklah gentar.
Menyambung serangannya dengan (Massive Knockback) yang mana membuat sosok itu terpental sangat jauh hingga ke ujung ruangan.
Dengan Victoria dan Doragon sebagai sinyal, yang lain pun segera maju sembari mengeluarkan serangan mereka masing-masing.
"MATI!" "MATI!" "MATI!"
Terus mengucapkan satu kata itu, sosok-sosok humanoid itu segera balas menyerang.
Walau terdapat jarak beberapa meter di antara mereka, namun siapa sangka kalau sosok humanoid itu mampu memperkecil jarak hanya dengan satu lompatan saja.
Mendapatkan serangan yang tidak terduga, untungnya Doragon sigap menggunakan (Stand) dan sukses menerima serudukan salah satu sosok humanoid dengan tanduk di kepalanya.
Membantu Doragon dari belakang, Turbo segera maju sembari mengaktifkan (Sharp Edge). Mengayunkan pedangnya, Turbo sukses membelah tubuh sosok humanoid itu menjadi dua tepat di bagian pinggangnya.
(Flame Javelin) (Blood Lance)
Menembakkan sihir mereka, Weise sukses membakar beberapa sosok humanoid dengan tombak apinya sementara Allucard sukses menahan sosok humanoid yang berusaha untuk melompat dengan menggunakan tombak darahnya.
Tidak mau kalah, Felien dan Sisteen segera maju untuk menghadapi sosok-sosok Humanoid tersebut.
Memanfaatkan kelincahannya, Feline mengaktifkan (Continuous Slice) dengan kedua belatinya. Terus melaju tanpa berhenti, Feline menebas siapa saja yang dia lewati dengan kecepatan yang tidak manusiawi namun secara bersamaan gerakannya juga terlihat indah dan gemulai.
Sasaran dari tebasannya adalah bagian persendian dan kalau sempat dia akan menebas tepat di bagian leher.
Akibat dari serangannya itu, banyak sosok-sosok humanoid itu yang tidak lagi mampu bergerak dengan benar kalau tidak sekarat sembari memegangi leher mereka.
Setelah dirasa cukup jauh, Feline segera kembali sembari mengulangi gerakan yang sama.
Berbeda dari Feline yang mencolok, Sisteen bergerak dalam diam sembari menghindari serangan para sosok humanoid itu yang terlalu cepat jika dia lawan secara langsung. Oleh karenanya, Sisteen akan terus bersembunyi
di dalam bayangan dan hanya akan menyerang ketika dirasa sudah saatnya.
Akibatnya, setiap serangan yang dia lancarkan adalah sebuah serangan fatal yang akan merenggut nyawa setiap sosok humanoid yang menjadi mangsanya.
Dengan momentum seperti ini, butuh waktu sejam lamanya sebelum akhirnya mereka bisa mengalahkan semua sosoh Humanoid berhasil mereka kalahkan.
Sama seperti armor menjijikan, Penyihir Orchid lalu menggunakan (Burn Marks) pada tubuh-tubuh yang bergelimpangan agar mencegah mereka untuk bisa bangkit kembali.
Menyaksikan sosok-sosok itu perlahan terbakar menjadi abu, Feline yang sedari tadi memperhatikan wajah sosok humanoid itu akhirnya teringat dimana dia pernah melihatnya.
"Wajah mereka mirip seperti wajah Ratu Narsist Kingdom di saat dia masih muda"
Sontak saja perkataannya itu mengejutkan semua orang. "Apakah kau yakin tentang hal itu?" tanya Penyihir Orchid yang lalu Feline jawab dengan menceritakan dimana dia pernah melihatnya.
"Di depan pintu masuk rahasia di Istana Narsist Kingdom, terdapat sebuah lukisan raksasa yang adalah lukisan dari Ratu Narsist Kingdom selagi dia masih muda. Meski terdapat sedikit perbedaan, tapi tidak salah lagi. Wajah sosok-sosok ini pastilah berdasarkan wajah dari Ratu Narsist Kingdom"
Setelah mendengar penjelasan dari Feline, dan kembali mengamati apa yang ada di sekitarnya, Penyihir Orchid pun sampai pada satu jawaban "Jadi mereka adalah Homonculus".
Homonculus atau manusia buatan. Mendengar sebutan ini, sontak semua orang terkejut sementara Weise menjadi penuh dengan semangat.
"Wahai Nyonya Penyihir, apakah kau berkata kalau makhluk-makhluk yang baru saja kita lawan adalah makhluk buatan hasil dari kreasi Alchemy?"
"Itu benar, walau itu sebenarnya termasuk ke dalam ilmu yang hilang, tapi tampaknya Narsist Kingdom telah berhasil menghidupkannya kembali"
Mendengar ini, sontak saja semangat Weise menjadi tidak terbendung. Hendak mengamati sosok homonculus itu lebih dekat dan lebih jelas lagi, betapa kecewanya dirinya ketika melihat tumpukkan abu di atas lantai.
Tidak mengindahkan Weise yang muram, Allucard pun maju dan bertanya.
"Jika apa yang Anda katakan itu benar, lalu apa sekiranya alasan bagi Ratu Impar ol Narsist untuk menciptakan Homonculus yang menyerupai dirinya ketika dia membenci semua ras selain Manusia?"
"Itu mudah, seperti yang telah kalian ketahui, Ratu Impar sangatlah terobsesi dengan kecantikan dan keabadian. Sebenarnya ada banyak cara bagi Manusia untuk mendapatkan semua itu, dari sekian banyak cara, salah satunya adalah untuk mengganti tubuh Manusiamu dengan tubuh yang memiliki umur yang jauh lebih panjang"
Memandang kembali tumpukkan abu yang kini mengotori lantai, Penyihir Orchid kembali melanjutkan "Namun, seperti yang kalian lihat, mendapatkan tubuh yang baru bukanlah perkara mudah".
Mengingat penampilan para Homonculus, sontak kata "Eksperimen gagal" terlintas di benak semua orang.
Setelah mengetahui kenyataannya, Penyihir Orchid tidak ingin berlama-lama lagi dan segera memaksa mereka untuk melanjutkan penjelajahan.
Untungnya setelah ini adalah sebuah jalan lurus yang mengarah ke sebuah aula besar.
Sama seperti di lorong, aula itu juga dipenuhi oleh tabung-tabung yang berfungsi sebagai wajah bagi Homonculus untuk tumbuh dan berkembang.
Yang menjadi pembeda adalah semua tabung yang ada di sini telah kosong atau lebih tepat mengatakan kalau semuanya telah pecah.
Semuanya terkecuali satu tabung yang ada tabung paling besar yang terletak tepat di tengah-tengah ruangan.
Terpasang pada sebuah mesin raksasa, sebagian mesin raksasa itu telah ditutupi oleh daging merah yang berdenyut. Hal yang sama juga bisa dikatakan kepada kabel dan selang yang terhubung pada mesin tersebut.
Sementara permukaan tabung itu masih terlihat bersih dan bebas dari daging Iblis (Demon) yang menjijikan, hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada apa yang ada di dalamnya.
Jika tabung-tabung sebelumnya di isi oleh cairan hijau yang kental, tabung yang satu ini terisi penuh oleh cairan merah seperti darah.
Saking kentalnya cairan merah tersebut, sampai membuat kau tidak bisa melihat apa yang ada di dalamnya.
Akan tetapi, [Intuition] serta [Danger Sense] yang dimiliki semua orang menerikakkan dengan keras kalau ada sesuatu yang berbahaya yang ada di dalam tabung tersebut.
(Vermilion Nova)
Tanpa banyak basa-basi Penyihir Orchid segera melemparkan serangan terkuatnya pada tabung tersebut.
Bagaikan ledakan sebuah bintang, cahaya merah yang terang memenuhi seluruh ruangan hingga memaksa Doragon dan yang lain untuk menutup mata mereka.
Dengan cahaya terang itu sebagai pusatnya, semua material yang ada di sekitarnya seketika hangus terbakar tanpa menyisakan abu sekalipun.
Walau cahaya itu hanya berlangsung selama beberapa detik, namun kerusakan yang dia hasilkan tidak bisa dipandang sebelah mata.
Tabung besar yang ada di tengah ruangan sudah tidak ada lagi. Begitu juga dengan mesin raksasa serta lapisan daging merah yang menyelimutinya.
Yang ada hanyalah sebuah kawah raksasa, serta sebuah gumpalan daging ditengahnya.