A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 36 : My Childhood



Itu adalah sebuah taman bunga yang sangat indah.


Aku berlari dengan riang gembira di tengah hamparan bunga warna-warni bersama seorang anak dengan rupa yang mirip denganku.


Kami bercanda, tertawa riang bersama.


Di saat rasa lelah menghampiri, kami beristirahat di dalam gazebo putih yang berdiri di tengah taman.


Membuka bekal yang kami bawa, kami menyantap makan siang yang di simpan di dalam kotak bekal yang imut sambil terus bercanda ria dan bercerita tentang segala hal.


"Hei, Lavy, mau lihat sesuatu yang menarik?"


Ucap anak itu dengan senyuman besar di wajahnya. Sebagai seorang anak yang penuh akan rasa penasaran, bagaimana bisa aku menolaknya?


Melihat aku mengangguk dengan penuh antusias, anak itu, Mary. Mengeluarkan sebuah bunga yang sangat indah.


Bunga itu memiliki kelopak yang hampir transparan yang mengeluarkan kilauan bagaikan bintang di langit yang sangat memanjakan mata.


Melihat ini, aku menjadi penuh semangat dan dengan senyuman bagaikan anak kecil, yah, aku juga masih kecil saat itu. Aku bertanya kepada Mary.


"Mary, Mary, bunga apa ini? Dapat di mana? Boleh aku ambil?"


Mary hanya tertawa melihat tingkahku. Wajahnya tampak puas akan reaksiku.


"Dengar yah..."


Mary lalu menceritakan kepadaku tentang bunga ini.


Nama bunga ini adalah Aurora Flower. Bunga ini hanya tumbuh di dataran Evernight. Bunga ini tidak tumbuh dari sinar mentari melainkan dengan menyerap cahaya bintang-bintang. Hal ini membuatnya memiliki kemampuan untuk menghilang di bawah cahaya matahari dan hanya mekar pada malam hari terutama saat hamparan bintang menghiasi langit malam.


Hal ini yang membuatnya terkenal akan kemampuannya untuk tidak terlihat oleh mata manusia saat siang hari. Untuk bisa melihat bunga ini kau harus menunggu sampai malam hari atau meletakkannya di bawah bayang-bayang.


Aku tidak tahu di mana dataran Evernight itu berada. Yang penting selain indah bunga ini juga luar biasa!


Setelah memberikan penjelasan, Mary lalu menyerahkan bunganya kepadaku.


Saat aku menyentuhnya, tanganku terasa dingin seperti sedang menyentuh es krim. Saat aku meletakkan bunga ini ke bawah sinar matahari, aku tidak lagi bisa melihat bunga itu seolah-olah bunga itu tidak pernah ada walau aku masih bisa merasakannya. Saat aku meletakkan bunga itu kembali ke dalam bayang-bayang, bunga itu terlihat kembali.


Aku terus membolak-balikan bunga itu dari cahaya ke bayang-bayang dengan senyum besar di wajahku.


"Mary, lihat! Bunganya benar-benar hilang!"


Tentu saja aku menjadi bersemangat. Bagaimana tidak, aku yang sejak itu sudah lama tergila-gila akan Penyihir tidak lagi mampu menahan diri karena ini adalah kali pertama aku melihat hal ajaib seperti itu di dunia nyata.


Di tengah rasa antusiasku, aku mendekatkan bunga itu ke wajahku untuk bisa melihatnya dengan lebih jelas lagi.


Kelopaknya yang bagaikan langit malam sangatlah indah dimataku.


Aroma yang bunga itu keluarkan terasa sangat manis melebihi permen paling mahal yang pernah aku makan.


"Hei Lavy, jangan dimakan!"


Tiba-tiba saja Mary menepuk tanganku dengan keras.


Aku sangat terkejut akan hal itu.


Saat aku ingin bertanya kenapa, aku tersadar kalau bunga itu tidak lagi berada di tanganku. Dan entah mengapa mulutku menjadi sangat dingin dan manis.


"Ah..."


Tampaknya aku tidak sengaja memakan bunga itu. Tidak heran Mary marah.


"Maaf"


"Tidak apa-apa. Tapi jangan bilang siapa-siapa yah. Terlebih nenek, nanti nenek bisa marah!"


"Um"


Aku hanya bisa mengangguk. Aku hanya pernah sekali melihat nenek marah.


Itu adalah saat nenek pertama kali datang ke rumah bersama dengan Mary dan ibunya.


Nenek marah kepada mama dan papa. Aku tidak tahu kenapa, tapi nenek terlihat sangat murka.


Melihat itu, jelas aku tidak ingin membuat nenek marah.


Setelah itu, kami kembali bermain sampai mama datang menjemput.


...


..


.


Hah!


Mimpi?


Tapi kenapa aku bermimpi tentang saat itu?


Juga, kenapa sekarang aku penuh dengan perban!?


"Oh, kau sudah bangun?"


Melihat ke samping, terdapat nenek yang sedang sibuk membaca buku sambil meminum teh.


Mendengar perkataannya, aku jadi teringat kalau sebelumnya aku dan nenek sedang


latih tanding. Dengan kondisiku yang sekarang, jelas bagaimana hasilnya.


"Caramu untuk menggunakan sihir sudah cukup bagus dan bahkan terbilang kreatif. Akan tetapi, eksekusinya masih kurang dan perlu dikembangkan lagi"


"Baik"


Nenek lalu menunjukkan satu-persatu kesalahanku dalam pertarungan dan bagaimana cara memperbaikinya. Mendengarkannya memberikanku banyak pelajaran berharga.


"Oh iya..."


Sambil meletakkan kembali buku yang dia baca ke atas meja, nenek lalu menatapku dengan pandangan yang serius.


"Saat bertarung, kau sempat menghilang beberapa kali, bagaimana kau melakukannya?"


Dengan itu, aku memberitahukan nenek segalanya.


Bermula saat aku membaca ensiklopedia yang nenek berikan, aku menemukan sebuah tanaman yang tampak familiar denganku.


(Aurora Flower)


Dari deskripsi serta ilustrasinya, aku sangat yakin kalau ini adalah bunga yang sama yang Mary berikan kepadaku dulu.


Aku sempat terkejut saat mengetahui kalau ternyata bunga ini berasal dari sini. Tapi setelah mengingat kalau nenek dan Mary adalah warga asli sini, kurasa wajar saja kalau aku menemukan bunga itu berasal dari sini.


Berawal dari situ, saat nenek memberitahukan kalau sihir (Nature Creation) milikku mampu untuk menciptakan kembali tanaman apa saja yang telah aku lihat dan sentuh secara langsung, terlintas sebuah cahaya inspirasi di kepalaku.


Karena sejak awal aku pernah 'secara tidak sengaja' memakan (Aurora Flower), maka sudah sepantasnya aku bisa menciptakan kembali bunga ini dengan efek yang sama dengan menggunakan sihirku.


Jika saja aku tidak mendengarkan penjelasan nenek sebelumnya, aku pasti sudah akan keheranan kenapa bisa hal yang terjadi di dunia sana bisa berefek pada diriku di dunia ini.


Mendengar hal ini, yang nenek lakukan adalah....


"Aduh!"


"Dasar anak nakal, apakah ibumu itu tidak pernah mengajarkan untuk tidak makan sembarangan!?"


"Ya maaf"


Setelah mendapat ceramah selama sejam penuh, nenek lalu menyuruhku untuk kembali beristirahat dan pergi keluar meninggalkanku sendiri di dalam kamar.


Karena tidak ada kerjaan, aku memutuskan untuk Log Out saja.


Oh, sebelum lupa...


•Skill [Forest Magic] telah mencapai level 5, mendapatkan 1SP•


Karena skill peringkat ketiga tidak lagi memberikan sihir baru, aku pun tidak mendapatkan apa-apa selain SP.


Hah... Aku harus segera menciptakan sihir baru yang efektif melawan nenek secepatnya.


Tapi sebelumnya, Log Out aja ah.


...


Aku kembali!


"Aduh!"


Oh, lukanya masih belum sembuh ya... (Light Heal) ...masih belum sembuh juga!


"Percuma"


"Aku memiliki skill bernama [Pain Giver] yang memiliki efek untuk mencegah luka yang aku berikan untuk disembuhkan dengan mudah"


Beberapa jam kemudian barulah nenek selesai bicara. Aku tahu apa yang nenek katakan itu penting, tapi yang paling penting, bagaimana caranya aku mendapatkan skill itu!


"...Sudah cukup bicaranya, mari makan siang"


Seperti biasa, makan siang disediakan oleh Lif. Jujur, makin hari makanan yang dia buat makin meningkat kualitasnya.


Heh, itu baru namanya Mahakaryaku.


Makan siang berjalan dengan lancar, meski nenek kembali banyak bicara, tapi aku tidak keberatan. Toh, aku cuman tinggal tutup telinga semua kembali menjadi tenang.


Setelah itu aku kembali melanjutkan latihan.


Latihannya sangatlah berat tapi sangat bermakna dan bermanfaat.


Akan jauh lebih bermanfaat lagi jika saja luka di tubuhku ini disembuhkan.


•Skill [Two-Handed Staff] telah mencapai level 10, mendapatkan 1SP•


•Skill [Mana Sight] telah mencapai level 5, mendapatkan 1SP•


•Skill [Clear Mind] telah mencapai level 5, mendapatkan 1SP•


•Skill [Mana Control] telah mencapai level 25, mendapatkan 1SP•


•Skill [Magic Researcher] telah mencapai level 25, mendapatkan 1SP•


•Skill [Body Strengthening] telah mencapai level maksimum, mendapatkan 2SP•


•Skill [Greater Mana Enchant] telah mencapai level 5, mendapatkan 1SP•


•Skill [Greater Mana Recovery] telah mencapai level 5, mendapatkan 1SP•


•Skill [Intuition] telah mencapai level 15, mendapatkan 1SP•


•Persyaratan telah terpenuhi, Skill [Power Boost] berhasil terbuka•


Cuman 2SP ambil!


Ha... Aku lelah.


Latihan yang nenek berikan terlebih sangat berat. Terlebih aku masih dilarang untuk menggunakan sihir lain selain [Forest Magic]. Berkat itu aku tidak bisa menaikkan level sihirku yang lain.


Tapi sebagai gantinya, kemampuanku dalam menangani [Forest Magic] menjadi kian mahir dan aku bahkan berhasil menciptakan beberapa trik baru.


Malamnya aku kembali mendapatkan pelajaran dari nenek.


Pelajaran kali ini adalah mengenai sejarah dan hubungan antar negara dari dulu hingga sekarang.


Dalam kesempatan ini, nenek juga menceritakan tentang hubungannya dengan paman Dominic secara lebih mendetail.


"Tetap saja, membunuh pamanku sendiri tetap terasa tidak enak"


"Jaga bicaramu! Orang itu bukanlah dan tidak pantas disebut sebagai pamanmu!"


Nenek lalu menceritakan tentang sejarah dari Verloren Kingdom.


Awalnya itu adalah negara tetangga dari Drakon Kingdom.


Aku pernah mengatakan kalau Raja Verloren pada saat itu sempat menjalin hubungan satu malam dengan nenek kan? Alasan mengapa mereka tidak bisa bersama adalah karena Raja Verloren telah jatuh cinta pada seorang Penyihir (Witch) lainnya dan akhirnya menjadikannya sebagai ratunya.


Penyihir itu, adalah adik dari nenek.


Mengejutkan bukan?


Sampai bisa membuat dua bersaudari jatuh cinta kepadanya dan menghabiskan malam bersama keduanya. Heh, hebat juga Raja itu. Lebih tepatnya, kakekku itu hebat juga!


Raja dan Ratu Verloren memerintah kerajaan mereka dalam damai.


Kerajaan makmur, rakyat sejahtera, dan berkat koneksi dari adiknya nenek (Serta dengan nenek sendiri), kerajaan itu akhirnya dijaga oleh seekor Naga yang perkasa yang membuat kerajaan itu menjadi salah satu negara terkuat ada pada zamannya.


Mereka juga dikaruniai banyak keturunan.


Salah satunya adalah seorang putri yang sangat manis dan berbakat dalam sihir.


Ya, dia adalah Filia Allein Verloren.


Sejak usia belia, bibi Filia sudah menunjukkan bakat yang luar biasa dalam hal sihir dan menguasai banyak sekali sihir dan saat berusia 10 tahun bibi Filia sudah memegang gelar sebagai Penyihir (Witch).


Itu adalah era keemasan bagi Verloren Kingdom.


Akan tetapi, itu tidak bertahan lama.


Yup, berkat Dominic yang jatuh cinta pada bibi Filia yang saat itu baru berusia 15 tahun sedangkan Dominic sendiri sudah jadi kakek-kakek, semuanya menjadi kacau.


Dan... Karena aku sudah menceritakannya kepada kalian sebelumnya, aku tidak akan mengulanginya lagi.


"Meski begitu, aku telah membunuh pamanku sendiri yah..."


"Berapa kali kau mau mengatakan itu! Dia memang pantas mendapatkannya. Bahkan kau seharusnya bangga karena telah menyapu aib keluarga yang telah ada selama puluhan tahun"


Yah, nenek memang benar.


Meski aku tidak bicara banyak dengannya, tapi pendapatku terhadap paman Dominic sejak awal memang tidak bagus. Selain dia adalah lawan yang harus aku kalahkan, dia juga langsung merendahkanku saat kami baru bertemu.


Meski dia secara teknis adalah pamanku sendiri, dia memang pantas mati.


Saat aku baru saja merasa lebih baik, nenek malah terlihat muram.


"Ha... Meski kematian Dominic adalah sebuah berita gembira, tapi tubuh si kecil Filia masih belum ditemukan. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi pada tubuhnya"


Nenek mulai bergumam tentang betapa berharganya tubuh dari seorang keluarga kerajaan itu. Terlebih karena bibi Filia juga merupakan seorang Penyihir (Witch) yang membuatnya menjadi material atau bahkan katalis sihir paling berharga yang pernah ada.


Jika saja bibi masih perawan, maka nilainya pasti bisa jadi lebih tinggi lagi... Woi! Kenapa aku harus tahu hal ini!!!


Menilai akan jadi tambah buruk jika nenek terus begini, aku memutuskan untuk segera menarik lengannya dan menyeret nenek keluar dari ruangan.


"Hei, jangan kasar terhadap orang tua!"


"Nek, diam dan ikut saja"


Sambil terus menggenggam tangan nenek dengan erat, aku menuntunnya menuju jauh ke dalam basemen.


Tujuan kami adalah lantai paling dasar dari basemen milikku.


Di sana terdapat sebuah ruangan yang mewah dengan dinding berlapis emas dan permata. Di setiap sudutnya terdapat sebuah patung Dewi yang memegang sebuah kendi berisi air yang terus menerus tumpah tiada henti.


Air dari keempat patung Dewi tersebut mengalir di jalur air yang aku buat yang akan saling bertemu di tengah ruangan.


Tepat di tengah ruangan, terdapat semacam pulau kecil yang ditumbuhi oleh bunga putih yang memancarkan aroma yang sangat harum.


Bunga-bunga tersebut tumbuh mengelilingi sebuah peti emas yang tutupnya terbuat dari kaca yang sangat jernih yang memungkinkan siapa pun untuk mengintip kebagian dalamnya.


Di dalam peti tersebut, terbaring sesosok gadis berusia sekitar 15 tahun dengan rambut pirang panjang bagaikan sutra.


Pakaian yang dia kenakan adalah sebuah gaun putih murni yang dihiasi oleh permata yang berkilau bagaikan bintang.


Gaun itu menutupi tubuhnya yang mungil namun dan di desain khusus untuk menonjolkan lekuk tubuhnya yang menawan.


Kulitnya yang mulus terlihat pucat karena tidak ada lagi darah yang mengalir membawa kehidupan pada tubuhnya.


Wajahnya yang sangat mirip denganku tampak tertidur dengan lelap dan damai. Jika saja aku tidak mengetahui fakta yang sebenarnya, aku pasti akan mengira kalau dia hanyalah sedang tertidur.


Ya, dia adalah Filia.


Semenjak aku mengambilnya dari Dominic, aku meletakkannya di ruangan khusus yang aku buat sendiri demi menghormatinya.


Tidak pernah aku menyangka kalau dia adalah bibiku sendiri.


Hal ini membuatku bersyukur untuk tidak mengubur atau mengkremasinya.


"Lavender... Ini..."


Nenek tampak tidak percaya akan apa yang dia lihat. Dengan gemetar nenek menyentuh permukaan peti yang terbuat dari kaca. Matanya mulai basah dan mulutnya terbuka lebar tampak hendak mengatakan sesuatu namun tidak mampu untuk mengutarakannya.


"Itu bibi Filia"


"..."


Hanya tangisan hening yang terdengar.


Tanpa mengatakan apa pun, aku hanya berdiri di sana.


Meski kami berada di dalam tanah, namun hujan tetap saja turun dengan deras.