A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 103 : The Fallen Queen



"Kenapa ini tidak bekerja!!!"


Kehilangan ketenangannya, Ratu Impar dengan gelisah mengutak-atik sebuah artefak berbentuk seperti telur berharap agar artefak itu segera bekerja.


Sudah cukup lama semenjak keributan di luar berhenti.


Mengira kalau masalah apa pun itu sudah diselesaikan oleh Royal Guard, baru setelah sejam lamanya tidak ada kabar Ratu Impar menyadari kalau ada sesuatu yang salah.


Tanpa mengintip ke luar terlebih dahulu, Ratu Impar langsung mengambil artefak teleportasi miliknya berharap kalau artefak itu bisa menghantarkannya kembali ke dalam Istana Nirvana yang aman dari segala bahaya.


Sayang, tidak peduli apa yang dia lakukan. Artefak itu tampak tidak berfungsi dengan benar karena dia masih berada di dalam kereta emas.


"Bekerja! Bekerja lah kau artefak bodoh!"


Tidak peduli sumpah serapah apa yang dia ucapkan, artefak teleportasi yang hanyalah sebuah benda mati tetap tidak bisa menjawabnya.


Di saat kepanikan mulai melanda dirinya, tiba-tiba saja kereta emas yang dia tumpangi mulai kembali bergerak.


Bukannya merasa lega, hanya ada rasa takut dan gelisah yang muncul di dalam benak Ratu Impar.


Akhirnya memberanikan diri untuk pergi keluar. Baru dia sadar kalau pintu kereta telah terkunci dari luar sehingga mustahil bagi dirinya untuk membukanya.


Menyadari kalau dirinya terjebak di dalam keretanya sendiri, Ratu Impar pun akhirnya kehilangan akal sehatnya.


"BUKA! LEPASKAN AKU! APAKAH KAU TIDAK TAHU SIAPA DIRIKU YANG SEBENARNYA!!!"


Tidak peduli seberapa keras dia berteriak, tidak peduli seberapa keras pintu dia pukul, tidak peduli seberapa keras keributan yang dia buat.


Tetap tidak ada tanggapan.


Meski begitu, dia terus saja mengamuk seperti anak kecil. Sosoknya yang sombong sudah tidak lagi terlihat.


Rambutnya yang tersisir rapi kini sudah acak-acakan. Gaunnya yang rapi kini menjadi kumal dan bahkan terdapat robekan di sana-sini yang membuat gaun itu tidak lagi berharga.


Yang paling parah adalah riasan pada wajahnya yang kini mulai luntur.


Apa yang awalnya sebuah wajah yang cantik kini harus rusak oleh sisa riasan yang membuat wajahnya menjadi sebuah objek horor.


Yang patut di syukuri adalah tidak adanya cermin di kereta ini.


Jika tidak... Di saat Ratu Impar melihat wujudnya yang sekarang. Maka amukannya akan semakin menjadi.


Di tengah amukannya, barulah Ratu Impar teringat kalau terdapat pintu darurat yang bisa dia gunakan di saat dirinya berada dalam bahaya.


Membuka karpet merah yang menghiasi lantai kereta. Terlihat sebuah pintu kecil tepat di atas lantai.


Mencoba untuk membuka pintu tersebut, betapa senangnya Ratu Impar setelah mengetahui kalau pintu itu terbuka dengan begitu mudahnya.


Baru saja Ratu Impar merasa lega karena sekarang dia bisa lolos dari siapa pun itu yang berani macam-macam dengannya. Perasaan senang itu seketika sirna setelah apa yang dia lihat dari balik pintu itu bukanlah pemandangan yang dia kira.


Bukan tanah cokelat atau rumput hijau. Melainkan awan putih seperti kapas yang tampak di depan matanya.


Merasakan angin deras yang berhembus masuk ke dalam kereta, Ratu Impar pun sontak menutup kembali pintu tersebut dan angin pun berhenti berhembus.


Kembali duduk di atas sofa yang empuk untuk menenangkan dirinya. Ratu Impar masih tidak percaya akan apa yang baru saja dia lihat.


Dengan jantung yang masih berdetak kencang, Ratu Impar mencoba untuk kembali mengintip.


Benar saja, apa yang dia lihat memanglah lautan awan putih.


Tidak memedulikan angin deras yang mengacak-acak seisi ruangan, Ratu Impar menatap tajam ke lautan awan berharap untuk bisa menemukan daratan.


Namun sayang, tampaknya posisinya yang sekarang berada jauh di atas langit hingga daratan pun mustahil dia lihat.


Dengan ketinggian ini, maka tidak perlu disebutkan lagi apa yang akan terjadi jika dirinya tetap nekat dan terjun bebas dari dalam kereta.


Baru saja rasa putus asa menerpanya, kini rasa putus asa itu menjadi semakin kuat.


Pada saat Ratu Impar sedang sibuk memandangi lautan awan, tiba-tiba saja tanaman merambat dengan daun yang mengeluarkan cahaya violet merayap yang sontak itu sangat mengejutkannya.


Tidak memedulikan Ratu Impar yang tersentak ke belakang. Tanaman merambat itu terus bergerak seperti ular dan masuk ke dalam kereta melalui pintu lantai yang terbuka.


Panik, mengira tanaman merambat itu akan meraih dirinya. Tanaman merambat itu malah meraih daun pintu yang terbuka lalu menutupnya dengan rapat.


Heran. Ratu Impar memberanikan dirinya untuk kembali mendekat.


"Terkunci?!"


Mencoba untuk membuka pintu lantai untuk ke tiga kalinya, Ratu Impar mendapati kalau pintu itu sekarang terkunci rapat dan menolak untuk membuka.


Baru sekarang Ratu Impar sadar kalau tanaman merambat itu juga lah yang membuat pintu samping kereta sulit untuk di buka. Dan siapa pun yang mengendalikan tanaman merambat itu juga adalah orang yang sama yang


menculiknya.


"Siapa kau sebenarnya..." merasa kalau dirinya punya terlalu banyak musuh. Ratu Impar sampai tidak bisa menebak siapa gerangan yang telah merencanakan penculikannya dan apa yang sebenarnya mereka inginkan.


Hanya untuk jaga-jaga, Ratu Impar mengenakan sebuah artefak berbentuk cincin dengan permata besar berwarna hitam malam pada jari kecilnya.


Jujur, ini adalah cincin yang paling tidak dia sukai.


Cincin ini tidaklah modis. Tidak serasi dengan gaun yang dia kenakan. Serta terlalu berat untuk jari mungilnya. Jika bisa dia tidak akan pernah mengenakannya.


Akan tetapi, karena keadaan memanggil. Mau tidak mau dia harus mengenakannya kalau dia mau selamat.


Dengan semua persiapan telah selesai, Ratu Impar pun memilih untuk sabar menunggu sampai dia bisa bertemu dengan penculiknya.


Selagi menunggu, sebuah cermin tangan serta perlengkapan rias dia keluarkan dari berbentuk anting di telinga kanannya.


Berniat untuk merias diri agar kecantikannya tetap terjaga, malah jeritan yang memekikkan telinga yang terdengar dari dalam kereta.


...


"Itu apa sih ribut-ribut?!"


Berkendara di atas punggung Victoria aku jadi penasaran akan apa lagi yang pelacur itu lakukan di dalam sana.


Setelah sukses menghabisi semua pengawal Ratu dan menangkap sang Ratu dari Narsist Kingdom itu sendiri, aku pun memerintahkan kepada para Pelayanku untuk pergi menyusul Luna yang sedang bersama pasukan Aliansi yang sudah siap untuk menyerbu Ibukota Narsist Kingdom sementara aku dan Victoria kembali ke Dungeon Ibis untuk membawa Ratu Narsist Kingdom sejauh mungkin dari Kerajaannya.


Oh, aku lupa mengatakannya yah.


Victoria sekarang sudah memiliki Skill bernama [Dragonification] yang memungkinkannya untuk kembali ke wujud Naganya (Dragon).


Yah, meski dia berhasil berubah ke wujud Naganya kembali. Tapi wujudnya yang sekarang jauh lebih kecil dari saat aku pertama kali melawannya.


Dengan hanya sebesar 5 meter. Wujudnya tidaklah sama mengerikan seperti yang sebelumnya.


Setidaknya dia masih cukup besar untuk membawa seluruh kereta kuda terbang kembali menuju Drakon Kingdom.


Untuk bisa terbang di atas angkasa sambil mengendarai punggung seekor Naga adalah sebuah impian bagi semua orang. Merasakannya langsung seperti ini, sungguh senang hatiku karena telah berhasil memperbudak satu.


Yang aku sesali adalah fakta kalau Equipment yang Victoria kenakan kini hancur sepenuhnya tepat ketika dia berubah menjadi seekor Naga (Dragon). Berkat itu Bikini Armor yang mahal-mahal aku belikan untuknya kini


hanya tinggal kenangan.


Kini aku harus menghukumnya untuk itu♪


"Master, kenapa aku merasa kau kembali marah kepadaku tanpa alasan yang jelas?"


"Oh, tenang saja. Wahai budakku sayang... Paling parah aku hanya akan memintamu mandi air es selama seminggu penuh"


"Master!"


Hah... Sampai tidak tahu atas kesalahannya sendiri. Sungguh, aku harus mendidik budakku yang satu ini dengan benar.


Kesampingkan itu...


Menggunakan (Flower Vision), sebuah bunga kecil dengan mata di dalam kelopak bunganya. Yang diam-diam aku tempatkan di dalam kereta untuk mengawasi Ratu Narsist Kingdom. Aku melihatnya memasang sebuah cincin di jari tengahnya.


Yakin kalau cincin itu adalah sebuah item aneh lainnya. Aku pun meningkatkan kewaspadaanku ketika nanti menyapanya secara langsung.


Terima kasih berkat kecepatan terbang Victoria yang melebihi Wyvern. Tidak sempat sejam aku sudah mampu untuk melihat cahaya ungu di kejauhan.


Menyuruh Victoria untuk menurunkan kecepatannya, kami pun bersiap untuk mendarat.


...


Merasakan kalau kereta sudah mendarat, Ratu Impar yang telah merapihkan penampilannya kini berdiri tegap di depan pintu kereta.


Mengelus cincin di jarinya, wajah sombong kembali terpasang di wajahnya.


Tidak perlu menunggu lama pintu kereta pun terbuka. Namun, tidak seperti yang Ratu Impar duga, pintu hanya terbuka sedikit. Cukup untuk memberikan celah untuk melempar sesuatu ke dalam kereta.


Melihat ke botol kaca yang menggelinding di bawah kakinya. Mata Ratu Impar terbelalak ketika botol kaca itu pecah dan menumpahkan cairan yang berada di dalamnya.


Tidak repot-repot untuk menahan nafasnya, Ratu Impar percaya diri akan kalung berlian yang dia kenakan karena kalung itu merupakan artefak yang memberikannya ketahanan terhadap segala jenis racun yang berbahaya.


Sial bagi Ratu Impar.


Memang benar kalau botol kaca tadi memang berisikan yang cukup kuat untuk menidurkan 100 orang dewasa. Tapi tujuan sebenarnya kenapa item itu dilemparkan adalah sebagai pengalih perhatian.


Sebelum Ratu Impar sadari, sudah terdapat tanaman merambat yang merayap di kakinya dan dalam sekejap mengikat seluruh tubuhnya. Dalam kondisi tubuh terikat, Ratu Impar menyadari kalau tanaman merambat itu masuk ke dalam kereta melalui pintu lantai yang dia kira telah terkunci.


Mengira kalau hanya sampai di situ saja, tidak butuh waktu lama bagi dirinya untuk menyadari kalau ini hanyalah sebuah permulaan.


"...arkh... Aaarghhh...!!!"


Tidak cukup menjerat tubuhnya saja supaya tidak lagi bisa bergerak, tanaman merambat itu menjerat tangan kanannya dengan sangat erat hingga tulang tangannya retak sebelum akhirnya remuk sepenuhnya.


Teriakan yang memekikkan telinga keluar dari mulut Ratu Impar.


Rasa sakit yang tidak tertahankan ini adalah yang kali pertama dia rasakan seumur hidupnya.


Jika saja tubuhnya tidak di tahan oleh tanaman merambat. Maka dia pasti sudah berguling-guling di atas lantai karena rasa sakit yang dia rasakan memanglah bukan sesuatu yang bisa dia tahan.


Dengan tangan kanannya yang mulai membiru, jeratan dari tanaman merambat itu akhirnya berhenti.


Sedetik kemudian pintu kereta akhirnya terbuka lebar dan menampakkan sosok Penyihir Lavender yang mengenakan Equipment serta miliknya yang sudah lama tidak dia kenakan.


Wajahnya kini tidak lagi mengenakan topeng. Terlihat juga luka yang dia torehkan sendiri di wajahnya juga sudah menghilang.


Dengan wajahnya yang kembali cantik dan mulus seperti yang seharusnya, Lavender menatap dingin pada sosok Ratu Impar yang terbaring lemas di atas lantai kereta.


Riasan yang dia aplikasikan pada wajahnya kini harus kembali luntur oleh air mata serta keringat. Mulutnya yang terbuka lebar membuat air liurnya mengalir bebas bercampur dengan ingus yang keluar dari hidungnya.


Jangankan cantik, kata 'menyedihkan' jauh lebih pantas ditujukan kepada dirinya yang sekarang.


Menyadari kalau Ratu Impar sudah tidak sadarkan diri. Kekecewaan pun terisat pada wajah Lavender seraya dirinya kembali keluar dari kereta dan menyuruh Victoria untuk membawa Ratu Impar menuju bawah basement rumahnya.


Pada saat Ratu Impar kembali tersadar, dia menemukan kalau dirinya sudah di salib di dalam sebuah ruangan penjara kotor dengan pencahayaan minim.


Terlihat lumut memenuhi dinding ruangan bahkan terlihat jamur aneh yang tumbuh di sana-sini.


Merasa jijik akan tempat di mana dia sekarang berada. Baru kemudian Ratu Impar sadar kalau ada yang salah pada tubuhnya.


Dia bisa merasakan kedua kakinya serta tangan kirinya terikat kencang dengan tanaman merambat. Tubuhnya juga terasa dingin karena dirinya sekarang tidak sedang mengenakan apa-apa.


Memasung serta melucuti tahanan adalah hal yang wajar.


Hal yang sama juga telah dia lakukan kepada setiap gadis yang berani menunjukkan wajah mereka seolah menantangnya dalam hal kecantikan. Begitu juga dengan para gadis yang cermin ajaib akui sebagai seorang


perempuan tercantik di seluruh Narsist Kingdom melebihi dirinya.


Ratu Impar tahu kalau itu adalah hal yang wajar.


Hanya saja, sekarang, di saat dirinya yang terikat. Ratu Impar sangat tidak menyukainya.


Dan sekarang... hal yang paling dia takutkan dan hal yang paling tidak ingin dia akui.


Menengok ke arah kanannya, ke tempat di mana tangan kanannya berada, dia tidak menemukan apa-apa.


Dari siku ke bawah tidak terlihat apa-apa.


Ratu Impar mencoba untuk menggerakkan tangan kanannya tapi tidak merasakan apa-apa.


Wajahnya semakin memucat ketika melihat tempat tangannya terpotong tidaklah di perban sehingga dia bisa melihat bekas luka yang mengerikan.


Itu bukanlah seperti bekas luka yang disebabkan oleh senjata tajam. Melainkan sebuah bekas luka yang disebabkan oleh gigitan binatang buas.


Dengan darah yang menghilang dari wajahnya, Ratu Impar berusaha untuk berteriak namun tidak mampu. Hanya teriakan senyap yang keluar dari mulutnya membuka dan menutup selayaknya ikan yang terdampar di daratan.


Selesai sudah.


Tidak peduli seperti apa dia merias wajahnya. Tidak peduli gaun macam apa yang dia kenakan. Tidak peduli apa yang dia lakukan.


Dirinya sudah tidak lagi sempurna.


Jika dirinya tidak lagi sempurna, maka dia tidak akan pernah bisa menjadi wanita tercantik sejagat.


Jangankan menantang Ratu Cascade yang telah menjadi musuh bebuyutannya. Bahkan gadis yang tumbuh besar di daerah kumuh pun jauh lebih cantik dari dirinya.


Di saat segala harapan menghilang dari diri Ratu Impar. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah sel tahanan tempat dia di tahan.


Tidak butuh waktu lama bagi sosok tersebut untuk menampakkan dirinya dan berdiri di depan jeruji besi.


Melihat sosok tersebut, kata 'Lizardman' terlintas di pikiran Ratu Impar.


Walaupun Lizardman itu memiliki tubuh yang kecil serta paras yang imut, Lizardman tetaplah Lizardman. Mereka adalah ras yang derajatnya jauh lebih rendah dari Manusia dan akan terus begitu.


Menduga kalau Ferox Kingdom lah yang menjadi pelaku utama dalam penculikkannya, wajahnya kian memucat ketika menyadari apa yang sebenarnya Lizardman itu pegang.


Itu adalah sebuah tangan.


Lebih tepatnya itu adalah sebuah potongan dari tangan kanan.


Walau wujudnya sudah membiru dan darah tidak lagi menetes dari potongan tangan itu. Ratu Impar yakin benar kalau itu adalah tangan kanannya.


"Kembalikan... KEmbAlikaN tAngaNku!!!"


Seolah kerasukan sesuatu, Ratu Impar memberonkan dengan kuat tanpa memedulikan kalau tindakannya itu hanya akan melukai dirinya sendiri.


Melihat Ratu Impar yang memberontak, Lizardman itu tetap tenang.


Membawa potongan tangan itu ke depan mulutnya, apa yang Lizardman itu lakukan selanjutnya sangat mengejutkan Ratu Impar.


'Crunch!' satu gigitan dan suara mengunyah pun terdengar jelas di telinga Ratu Impar. 'Crunch!' satu gigitan lagi dan barulah Ratu Impar sadar akan apa yang baru saja terjadi.


"Jangan.... JANGANAKANSIUAYDSIJQY*EY*!HEANSN...!!!"


Kata-kata tidak lagi terucap jelas dari mulutnya.


Ratu Impar hanya berharap kalau Lizardman itu berhenti.


Sayang, permohonannya itu tidaklah dikabulkan.


'Glek...' menelan potongan terakhir. Lizardman itu tampak puas sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan Ratu Impar sendirian.


"Jangan..."


Memohon agar Lizardman itu tidak pergi, suaranya terdengar lemah seolah tidak ada semangat di dalam dirinya.


Seketika semuanya kembali senyap.


Dengan hati yang telah hancur, Ratu Impar sampai tidak menyadari darah yang menetes dari pergelangan tangan kiri serta kedua kakinya.


Berkat amukan yang dia lakukan sebelumnya, membuat kulitnya mengelupas karena bergesekan dengan tanaman merambat yang menjeratnya.


Akan tetapi, kondisi mentalnya yang sekarang tidak memungkinkannya untuk memedulikan hal itu.


Tap... Tap... Tap...


Tidak tahu ini sudah berapa lama, tapi suara langkah kaki kembali terdengar.


Mengira kalau itu adalah Lizardman yang tadi, betapa terkejutnya Ratu Impar ketika melihat siapa yang muncul di hadapannya.


Mengenakan gaun putih panjang yang indah, gaun tersebut berhiaskan bunga-bunga putih yang memberikannya kesan suci dan polos.


Rambutnya yang panjang tergerai lurus hingga melewati bahunya. Bagaikan helaian sutra, rambutnya yang halus bersinar keemasan di bawah cahaya lilin yang redup.


Mata emasnya yang tajam menatap lurus ke arah Ratu Impar.


Rasa kasihan serta cemooh dapat terlihat jelas dari kedua mata itu.


Dengan wajahnya yang sangat cantik jelita, Ratu Impar bahkan sampai dibuat minder karenanya.


Di tengah keterkejutannya, Ratu Impar akhirnya sadar kalau sosok yang ada di hadapannya bukanlah sosok yang asing bagi dirinya.


Mencoba mengingat di mana sebenarnya mereka pernah bertemu, apa yang sosok itu sebutkan selanjutnya akhirnya memberitahukan segalanya.


"Akhirnya kita bisa berjumpa lagi, wahai Ibunda ku yang tersayang"


Melihat ekspresi terkejut yang luar biasa di wajah Ratu Impar. Putri Margarita tersenyum lebar karena akhirnya salah satu impiannya bisa terwujud.


Dengan pisau kecil di tangan, itu adalah pisau yang sama dengan yang Ratu Impar sering bawa ke mana-mana.


Dengan langkah ringan bagaikan berjalan di atas awan, Putri Margarita masuk ke dalam sel tahanan dan menghabiskan saat-saat yang berharga bersama Ibundanya yang tercinta.