A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 25 : Girls in the City



"Oh... Kalau bukan Turbo dan Nos, ada perlu apa hari ini?!"


Orang yang menyapaku namanya adalah Malleus. Dia adalah seorang Locals yang biasa mengajari para pemula dalam hal menempa. Bisa dibilang dialah yang memberikan Tutorial menempa.


Dia memiliki tubuh kekar dan salah satu matanya ditutupi oleh kain hitam.


Sekilas dia terlihat seperti orang yang menyeramkan... Yah, dia memang terlihat begitu. Tapi sebenarnya dia adalah orang yang baik dan mudah diajak bicara.


"Kami ke sini hanya ingin berterima kasih karena telah mengajari anggota baru kami untuk menjadi seorang Penempa yang baik"


"Hahaha... Tidak masalah, tidak masalah!"


Dengan datangnya Gelombang ketiga, jumlah anggota Guild kami pun juga bertambah. Kebanyakan dari mereka memilih peran petarung. Namun, tidak sedikit dari mereka yang memilih peran yang lebih santai dan jauh dari pertarungan.


Menempa adalah salah satunya. Dan karena menempa bukanlah hal yang lumrah di dunia kami, seseorang harus mengajari mereka caranya untuk menempa. Karena itulah aku meminta pak Malleus untuk membantu.


"Memang benar kami ingin mengucapkan terima kasih atas jasa Anda, hanya saja alasan sebenarnya ketua datang ke sini tidak lain untuk menghindari seorang gadis"


"Woi Nos!"


Dia adalah Nos, dia memiliki rambut merah yang disisir rapi serta memakai kacamata. Ditambah pakaiannya yang terlihat mirip jas kantor, membuatnya terlihat seperti pengusaha ketimbang Petualang.


Nos adalah teman sekaligus wakil ku di Guild Iron Sword.


Meski ketuanya adalah diriku, tapi yang mengurus segala dokumen dan hal lainnya adalah dia. Karena itu aku sangat berhutang budi padanya.


"Hei Turbo, tidak kusangka kau ternyata seorang pengecut!"


"Bukan begitu, hanya saja gadis ini cukup berbahaya"


"Apanya yang berbahaya dari seorang gadis cantik yang menyukai dirimu?"


"Nos, kau diam saja!"


Ini terjadi saat Gelombang kedua baru saja tiba.


Saat aku sedang menjalankan sebuah Quest bersama dengan anggota Guild lainnya, aku tidak sengaja bertemu seorang gadis yang sedang kesusahan dan menolongnya.


Dia memiliki rambut hitam panjang dan mata gelap. Dia sebenarnya memiliki wajah yang cantik, hanya saja dia memberikan aura seperti orang yang kurang semangat.


Setelah aku menolongnya, dia lalu bersikeras ingin bergabung dengan Guild ku. Tentu saja aku menerimanya.


Sedikit aku tahu kalau kelak aku akan menyesalinya.


Semenjak dia bergabung, dia selalu berusaha untuk mendekatiku. Awalnya aku tidak terlalu masalah akan hal itu, tapi makin lama pendekatannya terasa semakin intim hingga terasa menakutkan.


Sampai pada akhirnya dia mendapatkan Occupation langka... Stalker.


Juga, aku tidak pernah mengatakan ini kepada siapa pun. Entah bagaimana, dia berhasil menemukan identitas asliku hingga datang ke depan rumahku tanpa pemberitahuan apa pun!


Yang paling sial adalah, pada saat itu kedua orangtuaku sedang datang berkunjung.


"Wow, jadi ada orang yang seperti itu yah!"


"Benar, aku bahkan tidak tahu lagi harus bagaimana"


"Ayolah ketua, tegarkanlah dirimu. Terlebih sore ini kau akan pergi bersamanya ke acara lahiran anak Nyonya Canary"


"Ohh... Jadi kau mengajaknya ke acara penting seperti itu! Bukankah itu artinya kau menyukainya!"


"Memangnya apa hubungannya?"


"Kau tidak tahu yah?! Jika seorang pria yang belum menikah datang ke acara penting bersama dengan seorang gadis, itu artinya mereka adalah tunangan atau sepasang kekasih!"


"Hei, aku baru mendengar hal ini!"


"Sudah, sudah... Kalian berdua sudah terlanjur akan datang. Juga, Guild kita sedang sibuk jadi kau tidak bisa mengajak anggota lainnya untuk ikut bersamamu"


"Kau tahu, terkadang aku menyesal menjadikanmu sebagai wakilku"


"Hahaha...!!!"


Acaranya baru akan dimulai dua hari lagi. Jarak antara Drakon Kingdom dengan Sanguine Kingdom sangatlah jauh. Jika pergi dengan menggunakan kuda, maka akan membutuhkan waktu setidaknya setengah bulan untuk sampai di sana. Itu pun jika tidak menghitung waktu istirahat di jalan atau pun jika ada kejadian lainnya yang menghambat perjalanan.


Oleh karena itu aku akan pergi dengan menggunakan Wyvern yang membuat kami bisa sampai dalam waktu satu setengah hari.


Saat aku bilang Wyvern, mereka adalah Mobs dengan wujud seperti kadal raksasa dengan dua kaki belakang dan sepasang sayap mirip kelelawar yang menggantikan kedua kaki depannya.


Total Guildku memiliki tiga Wyvern yang kami beli dengan harga yang selangit. Tapi berkat itu kami bisa bepergian ke banyak tempat dalam waktu singkat.


Hah... acaranya akan berjalan selama 3 hari dan 3 malam.


Selama itu, bersamanya, apakah aku bisa bertahan?


Cling clang


Bel toko berbunyi tanda seorang pelanggan datang. Saat aku menoleh ke arah pintu, aku melihat wajah yang familiar.


"Nona Lif?!"


Dia adalah seorang wanita dengan kulit eksotis dan rambut panjang hingga mencapai lututnya yang berwarna hijau daun. Dia masih mengenakan gaun yang sama seperti saat terakhir kami bertemu.


Namanya adalah Lif, pelayan dari Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender.


"Lif, maksudmu yang dari laporan?"


"Apa ini, apakah dia kenalanmu?!"


Nos adalah wakilku, jadi wajar kalau dia mengetahui apa yang aku ketahui. Sedangkan pak Malleus tampak tidak tahu apa-apa.


"Selamat siang semuanya, alasan saya datang kemari adalah untuk bertemu dengan pak Malleus. Apakah beliau ada di sini?"


"Oh, itu aku. Ada perlu apa?!"


"Saya datang kemari atas rekomendasi dari Ibu Mebel untuk membeli "


Mebel? Bukannya dia adalah Locals yang menangani semua pengrajin kayu di kota ini? Apakah Nona Lif telah mengambil skill [Woodworking]?


"Oh, Mebel yah! Kau ingin membeli yang tingkat pemula atau lanjut?!"


"Kalau memungkinkan, saya ingin yang paling lengkap"


"Oke, tunggu di sini!"


Setelah itu Malleus langsung pergi ke belakang meninggalkan kami bertiga. Karena ada kesempatan, kurasa ini waktu yang tepat untuk bertanya.


"Selamat siang, Nona Lif"


"Selamat siang, Tuan Turbo. Sungguh kebetulan kita selalu bertemu seperti ini"


"Haha... Takdir memang aneh. Oh iya, perkenalkan. Ini wakilku, Nos"


"Selamat siang, nama saya adalah Nos. Saya adalah Vice Headmaster dari Guild Iron Sword"


Setelah itu kami pun berbincang singkat sampai Malleus datang sambil membawa sebuah item bernama yang merupakan paket lengkap untuk peralatan pengrajin kayu.


Kalau aku tidak salah ingat, harganya sangatlah mahal.


"Harganya 100 Emas. Tidak bisa kurang!"


Sial, itu lebih mahal dibandingkan dengan harga 5 ekor kuda tempur. Guildku saja hanya memiliki satu Workshop yang peralatannya dilengkapi secara perlahan dan membutuhkan waktu 10 bulan penuh serta uang patungan dari setiap anggota untuk melengkapinya.


Jika saja kami tidak membeli Wyvern atau pun kebutuhan mendadak lainnya, kami mungkin bisa melengkapinya dalam waktu kurang dari seminggu.


"Tidak masalah"


Dan... Nona Lif membayarnya secara kontan. Penyihir Lavender pasti sangatlah kaya.


"Oh, benar. Untuk referensi, berapa sekiranya harga peralatan menempa yang paling lengkap?"


"Hm?! Apakah kau ingin mengambil skill [Forging] juga!"


"Bukan saya, tapi ada kemungkinan kalau Master saya hendak memiliki Penempa"


Apakah Penyihir Lavender hendak menambah bawahan lagi? Empat orang terakhir saja masih membawa


pertanyaan dan sekarang akan bertambah?


Tunggu sebentar, apakah alasan Nona Lif membeli peralatan kerajinan kayu adalah untuk bawahan yang baru?


"Begitu yah!"


Setelah itu Malleus menjelaskan kalau harga peralatan menempa itu adalah yang paling mahal dan harus dibeli secara satu-persatu. Mengingat mereka membutuhkan tungku tempa, kurasa itu wajar saja.


"Juga, jika kau ingin membelinya, kau perlu persetujuan dariku terlebih dahulu!"


"Baiklah, jika Master saya ingin memiliki seorang Penempa, saya akan memberitahukan hal ini kepada beliau"


Setelah itu Nona Lif pamit undur diri. Tapi sebelum itu...


"Mohon tunggu sebentar"


"Ya, ada apa?"


"Maaf jika kasar, tapi kalau boleh tahu, sebenarnya dari ras apa Empat orang yang Nona bawa kemarin?"


Nona Lif tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab.


"Maaf, saya takut kalau Master tidak memperbolehkan hal ini"


"Ah, tidak masalah"


Yah, setidaknya aku telah berusaha.


Setelah itu kami pun menyaksikan Nona Lif pergi meninggalkan toko dan berbaur dengan kerumunan yang ada di luar.


...


Tidak kusangka aku akan bertemu dengannya lagi. Entah mengapa setiap kali aku pergi ke kota, dia selalu saja ada.


Mengingat dia memperkenalkan diri sebagai Headmaster dari sebuah Guild, jelas kalau dia adalah orang yang penting. Tapi tampaknya aku agak sedikit meremehkannya.


Aku sudah membeli apa yang aku butuhkan. Sekarang saatnya menjemput Quin lalu segera pulang.


Quin, dia adalah Pelayan Master yang terbaru.


Berbeda dari Percy, Zweite, dan juga diriku. Quin terlihat seperti gadis macho yang tidak banyak bicara kecuali di saat-saat tertentu.


Saat aku sampai di Workshop pengrajin kayu terbesar di kota ini, aku mendapati pemandangan yang jauh berbeda dari saat pertama kali aku datang.


"Guru, apakah ini sudah benar?"


"Ya begitu. Sedikit haluskan lagi dan kau sudah selesai"


"Siap guru!"


Entah sejak kapan dia sudah memanggil wanita ini, Mebel. Sebagai gurunya.


Mebel memiliki rambut pirang panjang yang di kuncir kuda dan mata berwarna biru. Tubuhnya jauh lebih macho ketimbang Quin hingga ketahap dia lebih tampak seperti laki-laki ketimbang perempuan.


"Quin, apakah kau sudah selesai?"


"Oh, senior! Tenang saja, kami sudah selesai"


"Apakah kalian sudah ingin pulang? Sayang sekali, padahal masih ada banyak yang ingin aku ajarkan. Oh iya, terima ini sebelum kalian pergi"


Dia lalu menyerahkan kepada Quin beberapa resep untuk membuat item. Dengan senang hati Quin menerimanya dan mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih Guru! Aku berjanji akan berlatih keras!"


Karena tidak ada yang perlu dibeli lagi, kami pun langsung pulang.


Tapi, sebelum itu, ada hal yang mengganjal diriku.


"Quin, dari mana kau mendapatkan pakaian itu?"


"Ini? Guru yang memberikannya kepadaku sebagai hadiah"


Berbeda dari yang sebelumnya, di mana Quin hanya mengenakan pakaian yang mirip seperti diriku, sekarang dia mengenakan pakaian yang jauh berbeda.


Sekarang Quin mengenakan pakaian kulit yang agak longgar dengan celana dan celemek kulit berwarna cokelat.


Secara keseluruhan, penampilannya benar-benar mirip seperti seorang pengrajin kayu.


Karena dia mendapatkannya secara gratis, Master tidak akan keberatan kan? Jujur, aku baru saja diizinkan untuk berpakaian. Aku tidak ingin dipaksa untuk berjalan-jalan tanpa sehelai pakaian lagi.


Tunggu sebentar, sejak kapan Quin menjadi bersemangat seperti ini?!


"Pencuri...!!!"


Bagus, sekarang ada seorang pria yang menutupi wajahnya dengan kain berlari langsung ke arah kami.


Pada saat dia hendak melewati kami, aku dan Quin sontak bergerak ke samping untuk membukakan jalan... Atau itulah niat kami.


"Agghh!"


... bagaimana bisa orang ini tersandung begitu saja?


Tidak butuh waktu lama bagi orang-orang di sekitar kami untuk menangkap orang ini. Seorang wanita tua yang dagangannya kecurian tiada hentinya berterima kasih kepada kami.


"Tidak perlu berterima kasih, kami tidak melakukan apa pun"


"Oh, kau terlalu baik. Meski sedikit, tolong terima ini sebagai rasa syukurku"


Wanita tua itu pun memberikanku 10 Perunggu. Serius, kami benar-benar tidak melakukan apa pun.


Karena tidak mau berlama-lama lagi, kami segera pergi menjauh dan berusaha untuk pulang secepat mungkin.


...


"Selamat datang"


Yang menyambut kami adalah Percy yang sedang duduk santai di teras rumah. Dia tidak lagi mengenakan Armor hitamnya dan hanya mengenakan pakaian aslinya.


Kalau boleh jujur, aku cukup menyukai Armor barunya.


"Kami pulang, di mana Master?"


"Master sedang tidur. Tapi Master sempat berpesan kalau Quin boleh membangun Workshop nya di dekat gubuk budak"


Begitu, itu artinya Master tidak akan terbangun setidaknya 1 atau 2 hari. Master memang begitu, beliau bisa begadang seharian dan tidur seharian.


"Membangun? Apakah kali ini Master tidak akan membuatnya sendiri?"


"Tidak, Master bilang 'Dia punya [Wood Magic] kan? Itu artinya dia bisa melakukannya sendiri' Oh, Master juga bilang kalau kau boleh membantu"


"Baiklah, Quin, mari kita membangun workshop mu"


"Oke! Lagi pula aku juga ingin cepat-cepat membuat sesuatu"


Setelah berpamitan dengan Percy, kami pun segera menuju gubuk budak. Seperti namanya, tempat ini adalah tempat di mana para budak Master terkecuali si kecil tinggal.


Tempatnya berada di dekat sungai tidak jauh dari rumah Master.


Tempatnya cukup kecil untuk menampung empat orang. Karena itulah si Kecil tinggal di ruangan yang sama denganku.


Ruanganku berada di lantai pertama dekat dengan dapur. Sedangkan ruangan untuk Pelayan Master yang lain berada di basemen dekat dengan ruang tahanan.


Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk melihat sebuah gubuk yang menyatu dengan sebuah pohon. Tentu saja, lagi pula Master membuatnya langsung dari pohon tersebut.


Tepat di depan pintu gubuk tersebut, terdapat sepasang wanita yang tidak mengenakan sehelai pakaian.


Mereka berdua memiliki rambut pirang. Yang satu panjang sepinggang, sedangkan yang satunya berambut pendek. Kulit mereka cukup bersih karena selalu dibasuh di sungai.


Mereka berdua adalah budak Master yang paling tua.


Mereka biasa bertugas untuk mengurus kebun menggantikan (Stone Golem) yang Master buat.


Saat melihat kami, mereka langsung memberikan hormat. Tidak menghiraukan mereka, kami menuju tempat yang dimaksud.


Di sana sudah ada Zweite dan si kembar.


"Kak Lif, pondasinya sudah siap!" "Kak Lif, pondasinya sudah siap!"


Begitu yah, tampaknya mereka membantu dengan cara menyiapkan pondasi untuk Workshopnya. Setelah berterima kasih kepada mereka berdua, kami pun mulai bekerja.


Bersama dengan Quin dan Zweite, kami membangun sebuah Workshop yang mampu membuat Master bangga.


...


"Selesai!" "Selesai!"


Pada akhirnya kami berhasil menyelesaikan Workshop ini.


Total terdapat tiga buah ruangan.


Yang paling besar adalah ruang kerja. Tempat ini diisi oleh berbagai macam peralatan yang berasal dari yang terlalu banyak untuk disebutkan secara satu persatu.


Yang kedua adalah tempat penyimpanan. Meski Master telah mendapatkan banyak tapi alangkah baiknya jika kami tidak terlalu bergantung padanya. Tapi kurasa dua buah sudah cukup.


Yang terakhir adalah ruang tidur. Meskipun kami tidak butuh tidur, tapi kami masih butuh tempat untuk menyimpan barang pribadi kami. Bahkan jika kami berusaha tidur sekalipun, itu hanyalah tindakan untuk menghabiskan waktu.


Benar, tentang eksterior dari Workshop ini.


Dari luar tampak seperti sebuah rumah kecil yang terbuat dari tanaman merambat dan atap yang terbuat dari daun segar. Karena Workshop ini sepenuhnya terbuat dari tanaman hidup, daun di atap tidak akan pernah layu dan akan selalu berwarna hijau.


Kurasa Master pasti akan puas saat melihat ini.


"Kakak Lif"


Pada saat kami sedang mengagumi hasil kerja keras kami, seseorang memanggilku dari belakang. Dia adalah si kecil. Seorang anak yang menjadi budak Master.


Dia memiliki rambut dan mata berwarna cokelat. Umurnya masih kurang dari 10 tahun, kulitnya terlihat pucat karena kekurangan sinar matahari. Namun tubuhnya masih sehat karena aku sering memberinya makan secara teratur.


"Ada apa?"


"Ada bunga tumbuh di sekitar rumah"


Bunga? Selain Material obat tidak ada tanaman lain yang tumbuh di sekitar sini. Saat aku hendak bertanya bunga apa yang dia maksud, Percy berlari dengan terburu-buru ke arah kami.


"Lif, ada bunga tumbuh di teras!"


Mendengar Percy dan si kecil mengatakan hal yang sama, kami semua pun segera menuju ke rumah Master.


Bahkan sebelum mencapai rumah sekalipun, aku sudah bisa melihat ada yang tidak biasa.


Rumah Master yang didominasi oleh warna cokelat dan hijau, sekarang mulai diwarnai oleh warna ungu kebiruan.


Pada saat kami akhirnya sampai, aku melihat bunga apa yang mereka berdua maksud.


Itu adalah sebuah bunga berwarna ungu yang berbagi nama yang sama dengan Master yang aku layani.


Tapi, untuk berjaga-jaga...


"Quin, tolong [Appraisal] bunga ini"


"Tidak masalah"


(Lavender) ★★★


«Aromatheraphy : Medium» «Mana Recovery : Small»


Sebuah bunga yang tumbuh dari sisa-sisa Mana yang dilepaskan oleh Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender secara tidak sadar.


Memiliki efek menenangkan jiwa dan raga dan mampu memulihkan Mana siapa pun yang menghirup aromanya meski hanya sedikit.


Mendengar hal ini aku hanya bisa terpana.


Tidak pernah kusangka kalau Master bisa memiliki pengaruh seperti ini. Tidak hanya aku, yang lain pun juga memiliki ekspresi yang sama.


"Apakah Master masih tertidur?"


"Pada saat aku melihat bunga-bunga ini tumbuh begitu saja, aku langsung melapor kepada Master. Tapi beliau masih tertidur. Karena itulah aku langsung mencari Lif untuk meminta pendapat"


"Jadi, apa yang harus kita lakukan?"


Bahkan jika kalian berkata seperti itu sekalipun, tidak ada yang bisa aku lakukan selain menunggu Master untuk terbangun dari tidurnya.


Whoooosh....


Tiba-tiba saja seluruh hutan tampak menari mengikuti hembusan angin. Aku juga bisa merasakan Mana yang ada di sekitar kami berputar seperti pusaran air yang mengelilingi rumah Master.


Tidak! Sekarang terasa seperti pusaran badai yang sangat kuat!


"Kyyaaaaaa....!!!"


Aku bisa mendengar teriakan dari dalam rumah. Tidak hanya satu, tapi teriakan itu berasal dari dua orang perempuan. Aku cukup mengenal suara ini. Mereka berasal dari 2 orang budak Master yang lain. Berdasarkan waktu saat ini, mereka sekarang seharusnya sedang memberi makan para tahanan yang ada di basemen.


Whooooo....! Whooooo....!


Glaza dan Burung Hantu yang lain berusaha terbang menjauh sebelum akhirnya mereka tertelan ke dalam pusaran badai dan suara mereka tidak terdengar lagi.


Ini buruk, jika terus seperti ini kami juga akan tertelan pusaran itu!


"Lebih baik kita menjauh..."


Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, tiba-tiba saja kesadaranku memudar. Satu-persatu dari kami pun tersungkur di atas tanah.


Bahkan si kecil pun sudah tidak sadarkan diri.


Dengan susah payah aku berusaha meraihnya. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi setidaknya aku harus melindungi anak ini!


Meski dia hanyalah seorang budak, tapi dia masih anak-anak. Dia yang masih tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa harus bisa tumbuh besar tanpa perlu merasakan banyak penderitaan.


Dengan susah payah aku berhasil meraihnya. Dengan erat aku memeluknya dan berusaha untuk melindunginya.


Apa pun yang terjadi, aku akan melindungi anak ini!