A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 35 : My Granddaughter is Hard to Handle



Aku tidak percaya akan apa yang baru saja aku lihat.


Cucu pertamaku, Lavender.


Setelah di bawa oleh ibunya ke dunia sana, dia akhirnya kembali pulang sebagai Otherworlder dan secara mandiri sukses menjadi seorang Penyihir (Witch) dan bahkan memiliki Dungeon sendiri.


Namun, hal yang paling tidak bisa aku percaya adalah apa yang sekarang sedang dia lakukan.


Pertama dia memerintahkan Golem miliknya untuk membawa sebuah batang pohon yang cukup besar. Selanjutnya dia membentuk batang pohon tersebut hingga terbentuk sebuah manekin kayu yang nampak sangat mirip seperti Manusia.


Pada saat dia mengatakan akan mendapatkan seorang Pelayan yang bertugas untuk mengawasi Dungeon, aku tidak menyangka kalau dia akan membuatnya sendiri!


Sekarang aku memikirkannya lagi, kalau tidak salah dia memiliki Pelayan dengan kristal melekat di bagian tubuh mereka. Saat memeriksa mereka menggunakan [Identify] aku menyadari kalau mereka adalah Golem. Terlebih mereka adalah (Advance Golem)!


Mampu menciptakan Golem yang sangat menyerupai Manusia seperti itu adalah sebuah prestasi besar. Tapi sepengetahuanku, untuk menciptakan Golem dengan kaliber seperti itu ada banyak hal yang mesti di lakukan dan


prosesnya akan sangat panjang.


Tapi apa yang cucuku sedang lakukan sekarang jauh dari bayanganku.


Dengan terampil dan cekatan dia dengan mudahnya membuat sebuah manekin yang sangat mirip dengan Manusia dalam waktu singkat.


Tidak hanya itu, dia lalu menempelkan (Watchers's Eye) pada tubuh manekin tersebut. Bukan hanya pada bagian soket mata pada normalnya, dia juga meletakkan di bagian lainnya yang seharusnya bukanlah tempat untuk


meletakkan mata.


Pada akhirnya manekin tersebut berubah menjadi objek horor dengan tubuh yang dipenuhi oleh mata.


Sebagai sentuhan akhir Lavender meletakkan (Greater Mana Orb) di bagian dada manekin tersebut sebelum kemudian meletakkannya di altar yang berada di luar.


Sejak pertama kali aku melihatnya, aku selalu penasaran akan altar ini.


Dari formasi sihir yang terdapat pada altar ini, jelas ini adalah sejenis altar serba guna yang bisa digunakan untuk berbagai macam ritual.


Kali ini altar itu tampaknya akan digunakan untuk menciptakan sebuah Golem.


Sekarang, mari kita lihat ritual macam apa yang akan...!


"Kenapa kau tidak mengenakan baju!?"


"... Keperluan ritual"


Jadi begitu... Mana mungkin aku percaya!


Astaga, sejak kecil Lavender memang tidak suka mengenakan pakaian tapi tidak kusangka kebiasaannya malah terbawa sampai dia dewasa.


Menjaga jarak dari altar, aku lalu menyaksikan bagaimana cucuku melakukan ritualnya.


Tanpa mengenakan busana sedikit pun dan hanya memegang sebuah Staff di tangannya, Lavender mulai menari sambil memutari altar berdasarkan arah jarum jam.


Itu adalah sebuah tarian yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.


Namun, aku bisa melihat dengan jelas kalau gerakan tariannya mampu untuk menarik Mana yang ada di sekitar untuk berfokus padanya.


Setelah putaran pertama, Mana yang ada di sekeliling mulai berkumpul di tengah altar dan bergerak bagaikan sebuah pusaran air.


Pada saat ini barulah aku menyadari bagaimana caranya Lavender menciptakan para Golem itu.


Untuk menciptakan Golem yang berkualitas tinggi, memerlukan Mana yang tidak sedikit. Tapi, dengan mengambil Mana yang berada di tempat yang padat akan Mana seperti ini dan memfokuskannya pada satu titik, jelas akan


menimbulkan mutasi pada manekin yang akhirnya mengubahnya menjadi sebuah Golem yang memiliki kesadaran dan pemikiran sendiri.


Setelah memutari altar sebanyak 12 kali, api yang menerangi altar berubah warna dari merah menjadi biru pucat tanda kekuatan mistis telah mempengaruhi api tersebut.


Tidak hanya itu, seluruh hutan mulai bergejolak dan udara yang ada mulai menjadi lebih berat.


Secara bersamaan, Lavender berhenti menari dan kemudian menempatkan Staff yang dia bawa tepat di hadapannya dan mulai mengucapkan mantra.


"Dengan tubuh kayunya dia mengabdi"


"Dengan jiwa dan raganya dia melayani"


"Dengan matanya dia mengawasi"


"Wahai makhluk dengan seribu mata"


"Layanilah tuanmu ini dan jadilah mata dari Dungeon ini"


(Golem Creation)!


Seketika api yang ada di sekitar altar berkobar dengan kencang hingga mencapai langit dan membentuk sebuah tornado yang sepenuhnya menelan manekin yang berada di tengah-tengah altar.


Setelah api itu padam, yang muncul adalah sesosok wanita dengan kisaran umur sekitar 20 tahunan yang memiliki rambut panjang berwarna violet.


Yang paling mencolok dari wanita itu adalah tubuhnya di dipenuhi oleh mata berwarna ungu tua. Bahkan di wajahnya saja sudah terdapat 7 buah mata.


Dari posisi mata normalnya, terdapat sebuah mata di masing-masing bagian atas dan bawah matanya yang total menjadi 6. Mata terakhir tepat berada di bagian jidat yang berbentuk vertikal bagaikan mata iblis.


Mengalihkan pandanganku dari sosok wanita itu, aku melihat cucuku yang nampak kegirangan akan keberhasilannya.


Namun, aku bisa melihat dengan jelas kalau Mana yang ada di tubuhnya sudah terkuras habis yang mana kalau ini terjadi pada orang biasa mereka pasti akan pingsan atau bahkan koma selama beberapa hari.


"Mulai sekarang namamu adalah Acht"


Dengan itu, ritual untuk menciptakan Golem pun berakhir.


Sungguh, bisa-bisanya anak itu melakukan hal seperti ini.


Wahai anakku yang berada di dunia sana, putrimu telah memasuki jalan yang engkau tinggalkan. Jadi, tolong... jangan lah engkau mengekangnya lagi dan biarkan dia berada di tempatnya yang seharusnya.


...


Ha... Capeknya, tapi sepadan!


Di hadapanku sekarang adalah Pelayan baruku, Acht.


Name : Acht


Race : Advance Golem (Wood), Female (1)


Occupation : Servant (Lavender), Keeper


Active Skill :


[Wood Magic 10]


Passive Skill :


[Vision 15] [Appraisal 20] [Identify 10] [Mana Presence 10]


Baiklah, sekarang tinggal masalah pakaian apa yang harus dia kenakan.


Hmm... Karena dia hanya akan berada di dalam ruangan, kurasa tidak gunanya jika dia mengenakan pakaian. Toh, dia gak bisa kedinginan juga.


"Hei, meski dia hanya sebuah Golem, jangan paksakan fetishmu kepadanya!"


"Ini bukan fetish, tapi gaya hidup"


Setelah selesai menyiapkan ruangan khusus untuknya di lantai pertama basemen, aku lalu pergi ke ruang laboratorium bersama dengan nenek untuk belajar membuat .


Bahannya cukup mudah di dapat, hanya butuh (Mana Crystal). Ya hanya itu.


Karena aku sudah memiliki (Aqua Crystal) yang juga termasuk sebagai (Mana Crystal), maka kami langsung menuju proses pembuatan.


Karena bentuk (Aqua Crystal) masihlah kasar, kami harus membentuknya menjadi bentuk yang lebih sedap untuk dipandang. Aku memutuskan untuk membentuknya menjadi ke dalam bentuk berlian.


Normalnya kau membutuhkan seorang Jeweller untuk memproses (Mana Crystal). Tapi karena kami memiliki skill [Mana Control] kami bisa membentuk (Aqua Crystal) secara langsung.


Yah, aku sudah melakukan hal seperti ini sejak dulu.


Setelah selesai, tinggal langkah terakhir dan yang paling penting.


Inskripsi.


Dengan menorehkan inskripsi khusus pada (Aqua Crystal), kau dapat mengubahnya menjadi (Recording Crystal) atau item lainnya tergantung pada inskripsi apa yang kau masukkan.


Nenek lalu mengajariku inskripsi apa yang harus aku masukkan dan bagaimana cara melakukannya.


Beberapa menit kemudian...


\ ★★★


«Record»


Sebuah kristal khusus yang berfungsi untuk merekam sebuah pemandangan yang dapat di putar kapan saja.


"Berhasil pada percobaan pertama, bagus juga"


"Heh, siapa dulu"


"Jangan sombong dulu"


Nenek lalu memberikanku sebuah buku yang sampulnya dipenuhi oleh lambang-lambang aneh. Saat aku buka, buku tersebut ternyata adalah sebuah buku yang mengajarkan cara untuk menorehkan berbagai macam


inskripsi.


"Siap!"


•Persyaratan telah terpenuhi, Skill [Inscription] berhasil terbuka•


1SP ambil!


"Kurasa itu cukup untuk hari ini, pastikan untuk membaca buku itu setiap malam. Sekarang, mati kita latih [Forest Magic] milikmu"


Baru juga membaca sedikit aku sudah harus melakukan latihan lain.


Yah, kurasa latihan praktik seperti ini jauh lebih menyenangkan ketimbang hanya membaca.


...


Aku meremehkan nenekku.


Setelah melihat bagaimana biasanya aku menggunakan [Forest Magic], nenek lalu mengajakku untuk latih tanding.


Untuk latihan ini, aku tidak diperbolehkan untuk menggunakan sihir lain dan hanya menggunakan [Forest Magic].


Sedangkan nenek bisa dengan bebas menggunakan semua skill yang dia miliki.


Apalagi kami bertarung di sebuah ruang khusus yang dibuat nenek dengan menggunakan [Space Magic].


Yang menambah buruk adalah ruang ini terputus sepenuhnya dari dunia luar sehingga aku kehilangan koneksi dengan Hutan Ibis yang merupakan wilayah kekuasaanku.


Berkat itu aku jadi kehilangan keuntungan dari bertarung di wilayah sendiri.


Yang bikin lebih parah lagi, ruang yang dibuat nenek adalah sebuah padang tandus tanpa ada tumbuhan sedikit pun.


Memintaku untuk melawan nenek dengan kondisi seperti ini.


Itu sangat susah!!!


Terlebih [Space Magic] miliknya.


Apa-apaan itu!


Nenek menggunakannya sebagai perisai dan terkadang untuk menyerang. Berkat itu aku tidak bisa menembus pertahanannya ataupun menahan serangannya.


Tidak bisakah aku melatih [Space Magic] milikku sendiri atau setidaknya mengizinkanku untuk menggunakan sihir lain?


"Apakah cuma itu batasmu?"


Tch, dasar nenek tua!


...


Hehe, mari kita lihat bagaimana kau bertarung dengan batasan sebanyak ini.


Sebagai permulaan, Lavender menyerang dengan menggunakan (Wooden Stake). Pasak kayu bermunculan dari bawah tanah yang mengarah langsung ke arahku.


Tanpa perlu menghindar, aku tetap berdiri di tempat sambil menyiapkan seranganku yang selanjutnya.


Tidak lama kemudian suara dentuman terdengar dengan keras saat pasak kayu menghantam (Space Barrier) yang mengelilingi tubuhku.


Tanpa memedulikan pasak tersebut, aku menembakkan (Flamethrower) tepat ke arah cucuku.


Menanggapi ini, dia lalu menaikkan (Natural Wall) untuk melindungi dirinya. Tapi sayang, (Flamethrower) milikku masih terlalu kuat untuknya.


Api yang membara dengan ganasnya melahap dinding kayu hingga hanya menyisakan arang dan abu. Setelah api padam, aku tidak melihat penampakan dari cucuku.


Shreeet...


Seketika terdengar suara seperti ada yang mencakar papan tulis.


Melihat ke samping, ternyata terdapat daun-daun yang beterbangan dan menghantam (Space Barrier) miliku.


Oh, (Leaf Blade) yah.


Tidak sampai di situ, akar-akar muncul dari bawah tanah dan menjalar hingga mengelilingi (Space Barrier) dan nampak berusaha untuk melilitnya dengan kencang.


Melihat ini aku hanya diam saja dan menunggu langkah apa yang cucuku akan lakukan selanjutnya.


(Nature Rush)!


Seketika dari belakang muncul akar-akar pohon yang sangat tebal mengarah langsung kepadaku. Di kejauhan aku bisa melihat cucuku berdiri dengan Staff yang bercahaya di tangannya.


Heh, menarik.


Meskipun aku percaya diri kalau serangan ini tidak akan mampu untuk menghancurkan (Space Barrier) miliku, tapi jika sampai aku terkubur di bawah akar-akar tersebut maka hasilnya tidak akan bagus.


Oleh karena itu, akan aku bakar semuanya.


(Flame Storm)


Sebuah badai api yang sangat besar muncul dari lingkaran sihir berwarna merah menyala dan menyapu habis segala yang ada di hadapannya.


Setelah badai berlalu, yang tersisa hanyalah sebuah daratan yang hangus terbakar.


"Anak itu cepat juga kaburnya"


Sebagai seorang Penyihir, aku cukup kagum dengan kemampuannya untuk bergerak cepat dan kabur ke tempat aman.


Sekarang... Di mana anak itu berada?


"Di sana!"


Aku menembakkan (Space Cutter) tepat ke arah tempat kosong. Tidak lama kemudian, dari tempat yang awalnya kosong tersebut muncul sesosok perempuan yang memiliki luka segar di pergelangan tangannya.


"Aku pikir aku melarangmu untuk menggunakan sihir lain. Bagaimana caranya kau bisa menghilang?"


"Hah... Hah... Trik"


Begitu, tidak ingin bicara yah.


(Electro Whip)


Sebuah cambuk dari listrik bergerak bagaikan ular dan menuju tempat cucuku berdiri.


Melihat ini, Lavender lalu kembali menaikkan (Natural Wall) untuk menahannya. Sayang, setelah dua kali cambukan, dinding itu hancur sementara sosok Lavender yang seharusnya berlindung di baliknya sudah tidak lagi terlihat.


"Trik yang sama tidak akan menyelamatkanmu lagi"


Aku lalu menyambuk sebuah tempat kosong dan seperti yang aku duga, cucuku berada di sana.


"Ugh..."


Tidak bisa berlindung, cucuku terkena serangan secara langsung yang melukai tubuhnya dengan sangat parah.


Akan tetapi, melihat senyuman di wajahnya dan Staffnya masih bercahaya, aku yakin dia merencanakan sesuatu.


Grrroooaaaaa....!!!!


Seketika tanah yang aku pijak hancur dan menampakkan sesosok makhluk mirip ular yang tubuhnya sepenuhnya terbuat dari kayu.


Mulutnya yang menganga melahap diriku bulat-bulat.


Namun, aksinya untuk menelan diriku gagal karena tertahan oleh (Space Barrier) yang terlalu besar bagi rahangnya sehingga dia hanya mampu untuk mengunyah berusaha untuk menghancurkan (Space Barrier) dengan menggunakan rahangnya yang kuat dan gigi-giginya yang tajam.


Jika (Space Barrier) yang melindungiku hancur, aku yakin tubuhku pasti akan langsung remuk dan terkoyak habis dibuatnya.


Meski (Space Barrier) miliku itu kuat dan mampu untuk menahan hampir semua serangan fisik maupun sihir, tapi tetap ada batasannya. Suara retakan kaca mulai terdengar dari (Space Barrier) yang menandakan kalau ini bukanlah hal yang baik.


(Overheat)


Suhu udara di sekitarku naik secara drastis.


Tubuh ular kayu yang mencoba melahapku seketika menyala dengan terangnya dan api mulai berkobar berusaha untuk melahap ular itu hingga menjadi abu.


Meski begitu, ular itu masih belum berhenti dan tekanan dari rahangnya malah menjadi semakin kuat. Aku bahkan mulai bisa melihat retakan dari (Space Barrier) miliku.


"Hahaha... Bagus... Bagus... Itu baru cucuku. Tapi, masih terlalu cepat 100 tahun bagimu untuk bisa menang melawanku"


(Distortion)


Seketika pemandangan di sekitarku menjadi aneh seolah-olah ada yang memelintirnya dengan paksa. Tidak lama kemudian, ular kayu yang awalnya menahanku juga ikut menjadi aneh dan dengan seketika hancur berkeping-keping.


Setelah lolos dari rahang ular, saatnya menghadapi cucuku.


Melihat Mana yang ada di tubuhnya tinggal sedikit, kurasa ini waktu yang tepat untuk mengakhiri sesi latihan pada hari ini.


"Itu sudah bagus, sekarang, tidurlah"


(Electro Wave)


Sebuah badai listrik meluncur bagaikan ombak yang menyapu segala yang ada di hadapannya. Lavender yang kembali berusaha untuk berlindung di balik (Natural Wall) harus rela menyaksikan dinding yang dia buat hancur tak


tersisa sementara tubuhnya dihantam oleh badai listrik yang ganas.


"Hmm... Sudah pingsan yah. Baiklah, latihan hari ini sudah selesai"