
Ahh... Akhirnya aku tiba di rumah juga.
Sumpah biar ini rumah cuman punya tiga lantai tapi gedenya minta ampun. Wajar kalau rumah ini disebut sebagai rumah utama.
Kalau dilihat sekali lagi, rumah ini terlihat seperti rumah yang biasa terlihat di film horor. Yah, mengingat siapa yang mendiaminya kurasa itu wajar saja.
Yang tidak wajar adalah tidak adanya 'Mereka' di sekitar rumah. Bahkan terakhir aku melihat 'Mereka' berkeliaran adalah sekitar 100 meter dari gerbang. Seolah 'Mereka' memang sengaja menghindari rumah ini karena sebuah alasan.
"Nona, Tuan dan Nyonya sudah menunggu"
Dibimbing oleh seorang pelayan, aku dibimbing menuju ruang makan di mana kedua orang tuaku telah menunggu.
Secara keseluruhan, interior rumahku termasuk ke dalam kategori mewah dengan dipenuhi oleh perabotan yang mahal dan mencolok serta dihiasi oleh berbagai macam dekorasi yang juga tidak kalah mencoloknya.
Untuk interior ruang makan, ruang makan bangsawan adalah apa yang bisa aku deskripsikan. Interior mewah, meja makan yang panjang, pokoknya seperti yang ada di film-film.
Duduk di kursi utama adalah ayahku.
Dia adalah seorang bule dengan rambut pirang dan mata biru tua. Walau ini hanyalah pertemuan keluarga, Papa mengenakan setelah mewah seolah ini adalah acara resmi.
Selanjutnya adalah ibuku yang duduk di samping kanan papa.
Wajah Mama kurang lebih sama sepertiku karena memang wajah ini aku warisi darinya. Rambut dan matanya hitam pekat sama seperti rambutku yang sekarang. Entah mengapa ekspresi Mama tampak cemas saat melihatku yang membuatku merasa curiga.
Tanpa mengucapkan separah kata pun aku duduk di kursi di seberang Mama. Tidak ada di antara kami yang membuka mulut sampai para pelayan selesai menyusun piring dan mengantarkan makanan ke hadapan kami.
Sampai sini semua biasa saja. Sampai para pelayan mulai menuangkan Wine ke gelas yang telah disiapkan. Wine yang di tuangkan kepadaku memiliki warna sejernih air putih namun aromanya sangatlah menyengat. Bukan aroma
yang memuakkan, tapi sebuah aroma yang memancing nafsu makanku.
Yang aneh adalah hanya aku yang mendapatkan Wine ini. Gelas milik Papa dan Mama berisi anggur merah biasa.
Saat aku menatap ke arah Papa untuk meminta penjelasan, Papa hanya menyeringai.
Aneh.
Mama juga tampak lebih cemas dari yang sebelumnya. Mama bahkan terlihat selalu memperhatikan gerak-gerikku. Mama juga tampak memberi sinyal agar aku tidak meminum Wine yang ada di hadapanku.
Pertama mereka memanggilku, sekarang curiga padaku. Maunya apa sih?
...ini tidak seperti yang aku bayangkan kan?
Masih belum selesai, pelayan yang mengantarkan kami makanan pamit dan digantikan oleh pelayan lainnya yang berdiri di dekat dinding berjaga-jaga jika kami ada butuh sesuatu.
Yang menjadi masalah adalah Mana milik mereka bukanlah Mana milik Manusia. Bahkan aku berani mengatakan kalau mereka memiliki aura yang mirip dengan diriku namun juga terasa asing.
Seringai Papa kian menjadi ketika tahu kalau aku menyadari ada yang berbeda dari para pelayan.
Sial, ternyata memang itu tujuan aku dipanggil pulang.
"Hehe... Ternyata kau itu memang putriku"
Oke.... Itu seram.
"Sayang, kau bercanda kan? Tentu terjadi sebuah kesalahpahaman. Malika hanyalah gadis biasa"
"Kau masih saja berkata seperti itu setelah putri kita telah menunjukkannya dengan jelas?"
Mama seolah menyangkal sesuatu. Wajahnya terlihat sangat putus asa seolah benar-benar menolak sesuatu yang berkaitan denganku.
Oh, iya. Malika itu adalah nama yang aku gunakan di sini. Nama yang jelek jika dibandingkan dengan nama asliku.
"Mah, sudah kubilang namaku itu Lavender"
"Itu adalah nama yang nenekmu berikan. Bukan nama yang aku putuskan!"
"Ya ampun Mah, memangnya ada masalah apa sih sama nenek? Nanti beliau nangis loh kalau sampai dengar"
"Itu tidak penting! Yang penting sekarang adalah kau yang selalu terobsesi dengan Penyihir! Kau itu sudah besar! Berhentilah kekanak-kanakan!"
"Mama mengatakan itu padahal Mama sendiri itu Penyihir. Benarkan, Orchid La Ciel..."
Tepat setelah aku mengucapkan itu, Mama langsung melemparkan sebuah bola api yang tampaknya merupakan (Fire Shoot) tepat ke wajahku. Untungnya aku sempat menangkisnya menggunakan (Space Barriere) sehingga aku tidak terluka sedikit pun.
Hanya saja makanan yang telah tertata rapi kini berserakan di mana-mana... Terkecuali gelas Wine yang tetap berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.
Atas kejadian ini, Mama menjadi sangat terkejut sementara Papa malah tertawa.
"Hahaha.... Tampaknya kita memang tidak bisa lagi menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya!"
"Malika, dari mana kau mempelajari itu?"
"Sekali lagi, namaku Lavender. Soal di mana aku mempelajari sihir, itu..."
Aku lalu menceritakan semua perihal game Freedom 2 hingga pertemuanku dengan nenek. Untuk pertama kalinya Papa menampilkan ekspresi terkejut setelah mengetahui kalau kau bisa berpindah dunia menggunakan game.
Sedangkan Mama hanya bisa bersedih karena keinginannya agar aku hanya menjadi gadis biasa telah sirna sepenuhnya.
"Ya ampun Mah, mana mungkin aku bisa menjadi gadis biasa jika Mama itu seorang Penyihir sedangkan Papa itu seorang Iblis?!"
"Oh, jadi darah iblismu itu benar-benar telah bangkit yah"
"Mau bagaimana lagi. Terima kasih berkat yang aku ambil dari paman Dominic, aku bangkit sebagai Half-Demon"
"Tunggu! Dominic masih hidup!!?"
Dengan kecemasan Mama yang berganti menjadi murka, dengan cepat aku menceritakan apa yang telah terjadi. Itu termasuk berita bahwa aku telah mengamankan tubuh bibi Filia yang sekarang bersemayam di bawah rumahku.
"Sebuah Dungeon yah. Lain kali tolong ajak kami jalan-jalan ke sana"
"Tentu saja! Oh, benar juga. Bagaimana cara kalian berpindah dunia?"
"Itu kita bahas nanti saja. Untuk sekarang bagaimana kalau kita makan sebelum makanannya menjadi dingin?"
Tanpa aku sadari makananku yang awalnya berantakkan kini sudah kembali menjadi seperti semula.
Atas ajakan dari Papa, kami pun akhirnya makan siang bersama setelah sekian lama. Seperti biasa, makanan rumah memang yang paling enak. Minumannya pun.... Sial.
Baru satu tenggak saja sudah cukup bagiku untuk merasakan efeknya.
Tenggorokanku seolah terbakar ketika Wine itu melewatinya sebelum akhirnya tiba di perutku. Sontak perutku ikut terasa terbakar yang lalu menyebar ke seluruh tubuhku.
"Malika!"
Mama yang panik langsung menghampiriku dan membantu diriku yang hendak tersungkur ke atas lantai. Dengan pandanganku yang mulai kabur, aku melihat Papa yang sedang tersenyum lebar.
...
Pada saat aku akhirnya tersadar, aku sudah berada di sebuah tempat yang aneh.
Tanah di sini semuanya terbakar yang menimbulkan hawa panas melebihi gurun terpanas di dunia dengan angin yang berembus seolah membawa silet yang menyayat kulit. Tidak tampak adanya mentari di angkasa. Yang ada
hanyalah awan gelap yang menutupi langit seolah hendak turun hujan.
Saat itulah aku menyadari wujud apa yang aku gunakan sekarang.
Walau aku masih mengenakan pakaian Penyihir yang aku beli di toko Cosplayer, aku tidak lagi berwujud seperti gadis dengan rambut dan mata berwarna hitam. Sekarang aku adalah gadis berkulit pucat dengan tato bergambar
seperti akar tanaman memenuhi seluruh tubuhku.
Kuku yang tampak seperti cakar berwarna violet menghiasi jari-jemariku. Rambutku yang panjang kini berwarna ungu gelap dengan tiga buah tanduk tumbuh di jidatku. Meski aku tidak bisa melihatnya, mataku sekarang pasti berubah menjadi mata seekor predator yang menyala merah darah.
Benar. Ini adalah wujud Iblis (Demon) milikku.
...
Merangkul putrinya yang tidak sadarkan diri, Orchid menatap suaminya dengan penuh amarah.
"Anak kita masih muda, apakah perlu melakukan ini?"
"Dirinya yang mendambakan sihir membuatnya akan selalu mencari kekuatan. Fakta kalau Lavender sekarang memiliki gelar yang sama dengan dirimu sudah tidak terbantahkan lagi"
Ayah Lavender, Oleander. Berjalan mendekati putrinya yang berada di rangkulan istrinya. Belum sempat dia menyentuhnya, hal yang mengejutkan mereka berdua terjadi.
Tanaman merambat tumbuh dari kursi dan meja makan yang terbuat dari kayu menuju Lavender yang tidak sadarkan diri.
Tanaman tersebut mulai melilit tubuhnya dari bawah hingga atas yang membuat Orchid dengan terpaksa memisahkan diri dari putrinya.
"Apa yang sedang terjadi?"
"Sudah kuduga, dia sudah membangkitkan kekuatannya sendiri. Di sini aku berharap kalau dia mewarisi kekuatanku"
"Berhenti bercanda!"
Pada akhirnya tanaman tersebut telah sepenuhnya menutupi tubuh Lavender bagaikan kepompong. Tanaman yang awalnya berwarna cokelat kini berubah dengan corak keunguan muncul di batang dan daunnya. Darinya cahaya ungu berkelap-kelip mengikuti irama detak jantung dari Lavender.
"Dengan ini kita hanya bisa menunggu..."
...
Aku masih bisa menggunakan [Magical Garment] jadi kekuatanku masih ada. Hanya saja aku tidak bisa mengeluarkan Equipment milikku jadi ini jelas tidak berada di dalam game.
Hah, untungnya aku masih bisa membuat Staff baru dengan menggunakan (Nature Creation) jadi setidaknya aku tidak berdiri di tempat aneh ini tanpa senjata.
Yah, kurasa ini adalah saat di mana [Sixth Sense] bersinar!
Oke... Kurasa aku tepat sasaran.... Atau tidak!!!
Menghindari serangan yang datang ke arahku, aku menatap langsung ke arah seekor katak raksasa yang memiliki enam lengan dan bagian tubuh bawahnya seperti seekor siput. Setiap lengan katak itu membawa senjata berupa
cambuk yang tampak seperti ular yang masih hidup.
Berbeda dari katak biasa yang berwarna hijau, kulit katak tersebut berwarna merah kehitaman bagai magma yang membeku.
Baiklah, [Identify] !!!
Agh!!! Kepalaku sakit!
Oke, jangan menggunakan [Identify] di sini. Pokoknya fokus hindari serangannya baru balas serang.
Mengaktifkan (Natural Wall) aku menahan lecutan cambuknya yang sangatlah ganas dan susah di prediksi. Mengambil celah yang ada, aku menggunakan (Darkness Restraint) demi menghambat gerakannya.
Krowowkrowokrorw!!!
Dengan gerakannya yang terhenti, aku langsung saja membombardirnya dengan (Dual-Casting) (Hydro Cannon). Dua buah meriam air ditembakkan yang dengan telak mengenai wajah katak itu yang mirip seperti wajah kakek-kakek tua.
Seranganku sukses menghancurkan wajah katak itu beserta kepalanya yang membuatnya sekarang tidak lagi punya kepala dan seketika sirna begitu saja.
...lemah!
Serius, aku kira dia adalah lawan yang tangguh. Sungguh mengecewakan. Sudahlah, lanjut jalan lagi.
....
Aku tarik Kembali perkataanku.
Benar mereka itu lemah bila sendiri. Tapi jika banyak begini susah juga menghadapinya.
(Nature Serpent)
Sambil menunggangi (Nature Serpent) aku menghindari setiap musuh yang menghadang. Selain katak tadi, ada juga belalang sembah dengan sabit raksasa, lalat gemuk yang menjijikan, serta semacam siput tanpa cangkang
raksasa yang memiliki lengan dan membawa pedang yang tiga kali lebih panjang dari tubuhnya.
Tentu saja masih ada banyak lagi tapi aku tidak punya waktu untuk mendeskripsikan mereka semua.
(Dual-Casting) (Ice Lance)
Menembakkan sepasang tombak es ke arah lalat dan siput, aku membuat (Nature Serpent) terus meliuk-liuk dan menggilas segala yang dilaluinya.
(Purification)
Sebuah cahaya terang menyinari segala yang ada di sekitarku. Para makhluk aneh itu yang bermandikan oleh cahaya suci menguap sambil berteriak kesakitan. Walau mereka tidak memiliki wajah layaknya manusia, namun
ekspresi mereka jelas menunjukkan kalau mereka sangatlah tersiksa.
"Berhentilah bergumul dan mati saja!"
(Aqua Burst) di tembakkan yang tepat mengenai wajah seekor gorila jelek dan meledak hingga melukai makhluk aneh yang berdiri di dekatnya.
Seperti itu aku terus membombardir segala yang ada di sekitarku sampai akhirnya (Nature Serpent) membawaku ke sebuah tempat yang tampak penting.
...
Berdiri di tengah padang tandus adalah sebuah menara yang tinggi menjulang hingga menggapai awan.
Menara tersebut tampak terbuat dari semacam logam yang berwarna hitam legam dengan garis-garis merah menyala yang berkedip-kedip mengalir dari bawah hingga atas dan kembali lagi.
Tepat di bagian dasar menara tersebut adalah sebuah perkotaan yang dilindungi oleh dinding yang tinggi dengan sebuah gerbang yang di jaga oleh sepasang raksasa yang berdiri di samping kiri dan kanan gerbang tersebut.
Mengendarai (Nature Serpent) aku mendekati menara tersebut.
"Tahan! Apa yang engkau lakukan di sini?!"
Oh, jadi mereka bisa bicara yah.
Hmm... Ngomong-ngomong aku harus ngomong apa yah? Ah, itu saja!
"Biarkan aku masuk! Diriku memiliki urusan di Menara itu!"
"Ternyata kau adalah seorang penantang. Silakan masuk!"
Pintu gerbang pun terbuka lebar dan aku diperbolehkan masuk.
Turun dari (Nature Serpent) dan menonaktifkannya, aku berjalan di tengah kota yang tampak kuno namun penuh akan kehidupan.
Para penghuni kota ini bukanlah Manusia ataupun ras lainnya yang pernah aku lihat sebelumnya.
Mereka semua memiliki karakteristik yang serupa seperti memiliki tanduk di kepala mereka, ada yang memiliki kulit yang pucat sampai berwarna merah menyala, ada yang memiliki banyak lengan hingga mereka yang memiliki
ekor dan sayap yang tumbuh di tubuh mereka.
Dan yang sedari tadi menggangguku adalah Bahasa yang mereka ucapkan.
Jelas sekali Bahasa itu seharusnya asing bagiku namun entah mengapa aku bisa memahaminya dengan mudah.
Walau aku sudah bisa menebak sebenarnya tempat apa ini, namun aku tidak akan mengambil kesimpulan terlebih dahulu.
Apa yang harus aku pikirkan sekarang adalah apa yang raksasa itu katakan padaku.
Penantang.
Aku yang ingin mendatangi menara itu sebagai alasan agar aku bisa masuk disebut sebagai Penantang oleh mereka.
Aman dikatakan kalau menara tersebut bisa saja adalah menara yang dibangun sebagai tempat ujian yang mana jika kau berhasil menaklukannya maka kau bisa saja mendapatkan hadiah yang melimpah.
Untuk sekarang aku tidak akan memasuki menara itu terlebih dahulu dan fokus untuk mengumpulkan informasi.
...
Di teras rumah, tampak Ibu dari Lavender, Orchid La Ciel. Yang kini mengambil nama sebagai Anggrek Permatasari seorang Ibu rumah tangga sekaligus pemilik butik ternama sedang meminum teh dengan ekspresi cemas memenuhi wajahnya yang cantik jelita.
Menemaninya adalah para Pelayan yang siap untuk melayaninya kapan saja.
Walau di permukaan mereka terlihat seperti Pelayan pada umumnya, namun mereka sebenarnya jauh dari kata biasa.
Ayah dari Lavender, Oleander adalah seorang Iblis yang sangat kuat.
Berbeda dari Iblis lainnya yang suka akan kehancuran dan pertumpahan darah, Oleander lebih menyukai ketenangan dan kestabilan.
Namun bukan berarti dia adalah orang yang lembek dan asing dengan darah.
Demi menjaga agar kehidupannya tetap stabil, Oleander menggunakan kemampuan Iblisnya untuk mengubah Sebagian Pelayan yang bekerja di rumahnya menjadi bawahannya.
Para Pelayan itu memiliki tugas utama untuk menjaga istri dan anaknya yang tercinta.
Orchid atau Anggrek awalnya menentang ini. Namun dirinya yang menjalin hubungan dengan Iblis yang mana adalah tabu jelas tidak bisa melawan perkataan suaminya.
Itu termasuk ketika Oleander kini hendak mengubah putri satu-satunya menjadi Iblis yang sepenuhnya.
"Nyonya tidak perlu cemas, Nona muda pasti akan berhasil melewati ujian yang Tuan Besar siapkan"
"Justru itu yang membuatku khawatir, aku tidak ingin anak itu lulus"
Dengan menggunakan sihir teleportasi yang bahkan bisa melewati batas dunia, Anggrek melepaskan dirinya dari keluarganya dan ingin hidup tenang bersama dengan pria yang dia nikahi dan putri mereka yang belum lama terlahir ke dunia.
Dirinya yang terlahir dari keluarga Penyihir jelas memiliki kemampuan tinggi dalam menggunakan sihir.
Namun lambat laun dirinya menjadi benci akan sihir dan tidak ingin lagi menggunakannya kecuali terpaksa.
Anggrek yang suatu hari dikirim oleh Ibunya untuk menyelidiki fenomena aneh di mana sebuah kota besar menghilang begitu saja bersama dengan sebuah menara yang menjadi keunggulan dari kota tersebut, menemukan seekor Slime kecil berwarna hitam pekat yang menggeliat di atas tanah kosong yang dulunya terdapat sebuah kota berdiri di atasnya.
Sebagai keturunan dari Penyihir Agung, Anggrek langsung menyadari identitas sebenarnya dari Slime tersebut.
"Mengingat Kembali, Malika saat masih kecil terkadang menggunakan sihir secara tidak sadar dari waktu ke waktu. Tidak peduli seberapa besar usahaku untuk menyegel kekuatan sihirnya, entah bagaimana dia selalu saja
berhasil melepas segel itu"
"Nona Muda memanglah anak yang berbakat"
"Alangkah lebih baiknya jika dia tidak punya bakat dan hidup sebagai gadis pada umumnya"
"Bahkan jika Nona Muda tidak memiliki sihir di tubuhnya, instingnya sebagai seorang Iblis akan tetap ada"
"Itu benar, tidak terhitung berapa kali aku di panggil ke ruang kepala sekolah karena si kecil mematahkan jari teman sekelasnya atau mencabuti gigi mereka satu-persatu"
Terhanyut ke dalam lautan nostalgia, Anggrek mengingat sebuah kejadian yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.
"Hari di mana anak itu kehilangan kesuciannya, satu geng mafia musnah dalam semalam"
"Maaf karena saat itu kami gagal melindungi Nona Muda ketika Nyonya dan Tuan Besar sedang berada di luar kota"
"Tidak apa-apa, yang berlalu biarlah berlalu... itu yang ingin aku katakan. Walau aku berhasil mengembalikan kesuciannya menggunakan sihir dan menghapus ingatan anak itu tentang hari itu, fakta tentang dia yang membangkitkan kekuatan iblisnya untuk pertama kalinya tetap tidak bisa aku lupakan"
Kembali meminum teh untuk mengembalikan suasana hatinya, Anggrek menatap ke kejauhan dengan ekspresi cemas dan kesepian di wajahnya.