A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 59 : Yet Another Delayed Journey



Namaku adalah Leon Leo.


Aku adalah anak termuda dari 10 bersaudara.


Ayahku adalah Kepala Suku dari suku Singa. Ayah sangatlah kuat hingga kekuatannya diakui oleh semua Kepala Suku lainnya yang menjadikannya sebagai pemimpin dari perkumpulan Kepala Suku.


Itu artinya Ayah adalah Raja dari Ferox Kingdom.


Sebagai keturunannya, aku bermimpi untuk menjadi kuat dan bertarung bersamanya di medan perang. Tidak hanya aku, semua saudara dan saudariku juga berpikiran sama.


Memiliki impian yang sama, kami semua mulai berlatih agar bisa menjadi kuat.


Akan tetapi, takdir berkata lain.


Sementara saudara dan saudariku yang lain menjadi semakin kuat setiap harinya, aku tidak merasakan perubahan apa pun pada diriku. Sebaliknya, semua Skill yang aku miliki tidak pernah melebihi level 5 tidak peduli seberapa keras aku berusaha.


Aku melaporkan ini kepada Ayah.


Mengetahui kalau Skill milikku tidak meningkat meski aku menerima pelatihan yang sama dengan saudaraku yang lain, membuat Ayah segera membawaku kepada Dukun (Shaman) yang bekerja padanya.


"Maafkan aku, Kepala Suku. Akan tetapi..."


Aku tidak tahu apa yang dia katakan karena Shaman tersebut berbisik kepada Ayah. Yang aku tahu, Ayah menjadi terkejut lalu mulai menatapku dengan pandangan sedih di matanya.


"Putraku, mungkin ini akan terdengar berat bagimu... Tapi, tampaknya medan perang bukanlah tempat bagimu"


Apa yang Ayah katakan sama saja dengan mengatakan kalau aku tidak cocok untuk bertarung.


Kenapa? Bukankah aku ini adalah putramu? Apakah itu berarti aku tidak berbakat meski aku adalah keturunan dari seorang Raja?


Ayah tidak menjawab pertanyaanku.


Dia hanya diam.


Keesokan harinya aku berhenti berlatih bersama saudaraku yang lain. Selain karena Ayah melarangku, tatapan kasihan bercampur cemooh yang saudara dan saudariku berikan sangat menusuk hatiku.


Bahkan Ibu yang awalnya selalu mendukungku mulai menyingkirkan semua perlengkapan miliku dan menggantinya buku-buku tebal yang tidak mungkin sanggup untuk aku baca.


Kenapa?


Kenapa mereka begitu cepat menerima keadaan sampai-sampai berusaha keras untuk menyingkirkanku dari medan pertempuran?


Apakah tidak ada cara lain?


Tidak mungkin aku akan tetap lemah selamanya kan? Kelak aku akan menjadi kuat dan bertarung bersama Ayah kan? Aku bisa menjadi kuat kan?


Demi membuktikan kalau aku bisa menjadi lebih kuat, diam-diam aku mengambil sebilah pedang yang berada di ruang penyimpanan dan pergi ke dalam hutan untuk berburu.


Pasti, pasti aku bisa menjadi kuat jika aku mengalahkan satu atau dua Mobs kan?


Terus masuk ke dalam hutan sampai rumahku tidak lagi terlihat. Semakin dalam hingga aroma peradaban tidak lagi tercium. Aku memulai perjalananku untuk menjadi kuat.


...


Di mana aku...?


Saat aku membuka mata, aku mendapati tangan dan kakiku dalam keadaan terikat serta mulutku di sumpal dengan kain hingga membuat mustahil bagi diriku untuk bergerak ataupun bicara.


Tempatku berada sekarang tampak seperti sebuah ruangan dari kayu yang lembab dan dipenuhi oleh lumut yang tumbuh berkembang memenuhi lantai dan dinding ruangan. Berkat cahaya yang masuk dari celah-celah atap yang terbuat dari daun yang telah lapuk dan berlubang, membuatku mampu melihat sekelilingku dengan mudah.


Melihat sekeliling, aku juga mendapati kalau aku tidak sendiri.


Selain diriku terdapat juga anak-anak lain yang seumuran denganku juga berada dalam keadaan yang sama dengan diriku. Kebanyakan masih dalam keadaan tidak sadarkan diri sementara tidak sedikit juga dari mereka yang sudah


tersadar dan bingung atau bahkan takut akan keadaan yang mereka alami sekarang.


Sekarang aku mengingatnya kembali.


Aku yang seharusnya sedang sibuk melawan Mobs yang ada di dalam hutan... Tidak, aku berhasil mengalahkan (Wild Golem) yang aku jumpai di dalam hutan. Kan? Karena kelelahan, aku mencoba beristirahat di bawah sebuah


pohon... Apakah aku tertidur?


Karena mulut kami semua tertutup oleh kain, membuat kami tidak bisa saling berkomunikasi. Kami hanya bisa saling menatap satu sama lain dengan pandangan penuh akan ketakutan dan tanda tanya memenuhi mata anak yang berada di hadapanku.


Namun, jika harus menebak, situasi saat ini hanya bisa berarti satu hal.


Penculikan.


Sebagai anak dari seorang Kepala Suku, wajar saja kalau aku menjadi target penculikan. Dengan menculik anak seorang Kepala Suku, membuat pelakunya dapat dengan leluasa meminta tebusan yang besar dengan ancaman kalau aku akan dilukai atau bahkan dibunuh.


Akan tetapi, melihat kalau aku tidaklah sendiri menandakan kalau aku bukanlah target utama mereka. Aku bahkan mulai meragukan kalau mereka tahu identitasku.


Tapi ini juga berarti kalau target mereka adalah anak-anak.


Apa untungnya mereka menculik anak-anak? Kalau ingin meminta tebusan bukankah jumlah ini terlalu banyak? Di jual? Memangnya laku?


Kalau gadis cantik atau orang kuat aku bisa paham.


Yang pertama bisa dijadikan sebagai hiburan dan yang terakhir bisa dijadikan sebagai pekerja kasar.


Sedangkan anak-anak?


Tubuh kami itu lemah sehingga tidak cocok sebagai pekerja kasar. Kami juga tidak bisa menari sebaik para penari yang biasa tampil saat perjamuan besar.


Sungguh, apa untungnya menculik anak-anak bagi mereka?


Whoo... Whoo...


Tiba-tiba saja terdengar suara burung hantu. Sontak semua anak yang telah tersadar segera mencari sumber suara tersebut, tidak butuh waktu lama sampai akhirnya aku menemukan seekor burung hantu dengan bulu seputih


salju dengan kedua mata besarnya sedang mengintip dari celah atap yang bolong. Setelah puas mengintip, burung hantu tersebut segera menarik kepalanya dan terbang menjauh.


...apa itu tadi?


Tidak lama berselang.


Terdengar suara ribut dari luar yang membuat kami semua terkejut dan bahkan sampai membangunkan mereka yang masih tidak sadarkan diri. Dari suara yang terdengar, seolah sedang terjadi sebuah pertarungan di luar sana.


Bersamaan dengan itu, aroma darah yang menyengat mulai tercium di udara.


"Mereka hanya tiga orang. Cepat habisi mereka!"


"Dasar ******, jangan harap kau bisa berdiri lagi setelah aku selesai denganmu!"


"Tidak mungkin aku akan kalah oleh seekor budak Lizardman sepertimu!"


Jadi para penculik itu memang sedang di serang. Belum lagi yang menyerang hanya tiga orang saja. Aku juga mendengar mereka menyebutkan budak Lizardman. Seingatku jarang seorang dari suku Lizardman yang menjadi


budak. Jika ada, mereka adalah Gladiator yang kalah dalam duel.


Itu artinya pihak penyerang memanglah kuat meski hanya tiga orang saja!


Karena hanya tiga orang, mereka mungkin saja Petualang atau bahkan Petualang Otherworlder yang memang sedang mengincar para penculik itu?


Tidak butuh waktu lama sebelum suara pertarungan untuk mereda hingga akhirnya hilang. Tanpa sadar aku beserta anak-anak yang lain menahan nafas menantikan hasil pertarungan yang hanya bisa kami dengar.


Brak!


Tiba-tiba pintu kayu yang memisahkan kami dengan dunia luar hancur begitu saja. Sontak semua mata tertuju pada orang yang menghancurkan pintu kayu tersebut.


Apa yang kami lihat adalah seorang kesatria dengan Full Armor berwarna hitam kelam. Di tangannya terdapat sebuah perisai kecil yang tampaknya tadi dia gunakan untuk mendobrak pintu kayu hingga hancur.


Karena mengenakan Armor yang menutupi seluruh badannya, membuatku tidak mampu mengetahui apakah dia itu laki-laki atau perempuan. Bahkan hidungku tidak mampu mengenali jenis kelaminnya karena tampaknya Armor yang dia gunakan juga menutupi aroma badannya.


"Apakah kalian baik-baik saja?"


Menyusul kesatria tersebut adalah seorang wanita berambut hijau yang membawa sebuah busur di punggungnya. Sekilas dia tampak seperti seorang Manusia. Namun permata yang terpasang di jidatnya memberitahukan kalau dia berasal dari ras lain.


Memangnya ada ras yang memiliki kristal yang tumbuh di jidat mereka?


"Tenang saja, sekarang kalian sudah aman"


Kalimat yang dia ucapkan mampu menenangkan tangisan anak-anak yang lain seraya dirinya melepaskan ikatan kami satu-persatu sementara si kesatria berjaga di depan pintu.


Walau sempat menunggu, ikatanku akhirnya dilepaskan juga.


"Terima kasih. Jika bukan karena kedatangan kalian, tidak terbayang nasib kami kedepannya"


"Tidak apa-apa... Sekarang sudah aman. Para orang jahat itu sudah tidak ada lagi"


Ah, dia adalah orang yang baik. Berbeda dari orang lain yang pernah aku temui, kata-katanya benar-benar tulus akan keselamatan kami.


Setelah semua anak telah dilepaskan, kami di bawa keluar dari ruangan yang menahan kami. Saat di luar, aku mendapati kalau tempat kami di tahan adalah semacam perkampungan kumuh yang telah ditinggalkan di tengah


hutan yang lebat.


Saat aku sibuk melihat sekeliling, aku mendapati seorang gadis Lizardman dengan rambut kelabu serta sisik berwarna hitam dengan kerah di lehernya serta mulutnya yang di kekang sedang sibuk melucuti perlengkapan dari


orang-orang yang terbaring bersimbah darah.


Melihat lebih dekat, aku akhirnya menyadari kalau orang-orang yang menculik kami semua berasal dari ras Manusia.


Manusia? Apa yang Manusia inginkan dari menculik anak-anak Beastman?


"Tampaknya sudah semua... Glaza, apakah masih ada yang lain?"


Whoo!


"Baik, itu berarti sudah semua..."


Jadi burung hantu itu adalah seekor Familiar. Melihat lagi, terdapat lambang sebuah mata dengan tiga tanduk di dadanya.


"...anak-anak, sebentar lagi kita akan menuju kota berikutnya. Sesampainya kita di sana maka kalian akan segera kembali ke keluarga kalian"


Sontak semua anak bersorak gembira ketika mengetahui kalau mereka telah selamat dan akan kembali ke keluarga mereka masing-masing.


Keluarga...


"Permisi, aku sebenarnya adalah..."


...


Hah... bagaimana bisa jadi seperti ini.


Aku awalnya gembira karena pada akhirnya kereta kami di hadang oleh kawanan bandit. Aku tahu kalau hal ini seharusnya menyeramkan. Tapi bagiku bandit tidak lebih dari kantong harta berjalan.


Belum lagi aku telah menemukan sarang mereka.


Terakhir aku masuk ke dalam sarang bandit aku mendapatkan lima budak segar... Yah, dua di antaranya sudah habis pakai sih... Pokoknya aku mengharapkan jarahan yang lezat dari mereka.


Apa yang aku dapatkan?


Memang sih ada beberapa kantung emas. Namun yang paling besar adalah satu ruangan penuh dengan anak-anak Beastman. Darah murni dan campuran.


Aku seharusnya senang akan hal ini.


Jika aku bawa pulang, aku bisa menjadikan mereka budak dan melatih mereka sesuai dengan yang aku inginkan.


Belum lagi para gadis kecil yang berdarah campuran. Orang-orang dengan selera khusus itu lebih banyak dari yang kau kira.


Hanya saja... Nenek sekarang berada bersamaku.


Yang artinya aku harus bersikap selayaknya orang normal lakukan saat menyelamatkan anak-anak dari sarang bandit.


Mengembalikan mereka.


Serius.


Untuk kereta pertama akan di kemudikan oleh... Victoria. Sedangkan kereta kedua yang berada di paling belakang akan di kemudikan oleh Zweite.


Dan... Coba tebak siapa yang termasuk ke dalam anak-anak yang diselamatkan?


"Bagaimana bisa para bandit itu bisa sampai mendapatkan anak Kepala Suku seperti dirimu?"


Duduk di hadapanku adalah seorang bocah lelaki dari suku Singa. Pakaian yang dia kenakan adalah pakaian tidak lagi terlihat mewah karena sudah kotor oleh lumpur dan kotoran lainnya.


Dari model pakaiannya, kurasa itu adalah semacam Armor sederhana yang biasa dikenakan oleh para anak bangsawan ketika hendak berlatih.


Dirinya yang masih muda membuatnya lebih terlihat seperti seekor kucing ketimbang singa yang perkasa.


"Pertama, mari kita dengarkan ceritamu terlebih dahulu..."


Mengikuti saran Nenek yang sekarang duduk di sampingku, si bocah singa, Leon pun mulai bicara...


Singkat cerita, dia yang tidak bisa menaikkan level Skillnya tidak peduli seberapa keras dia berlatih mencoba untuk membuktikan kalau dia masih bisa naik level dengan cara mengalahkan Mobs. Kelelahan, dia pun tertidur dan saat tersadar dia sudah di tangkap oleh bandit.


"Kau cukup ceroboh untuk seorang anak Kepala Suku"


"Ugh... Tapi, tapi aku ingin menjadi kuat!"


Hah... Tipe bocah seperti ini yang menyusahkan. Mereka biasanya adalah tipe yang akan menerima item mencurigakan dari orang yang jelas-jelas mencurigakan dengan senang hati asal item tersebut bisa memberi mereka kekuatan...


Item?


"Wahai anak muda, apakah Ayahmu mengetahui kenapa kau tidak mampu untuk menaikkan level skillmu?"


"Ayahku sudah membawaku kepada seorang Shaman. Dia lalu membisikkan sesuatu kepada Ayah yang membuat Ayah memintaku menyerah untuk berlatih"


"Begitu yah..."


Nenek lalu tampak mengamati Leon dengan seksama sambil menggumamkan sesuatu. Karena penasaran, aku juga ikut melihat dengan menggunakan [Mana Sight] kepadanya.


"Wow... Ini..."


Apa yang aku lihat adalah kekacauan.


Aliran Mana dalam dirinya sangatlah kacau balau bagaikan sebuah aliran pipa yang di pasang asal-asalan serta penuh dengan kebocoran di sana-sini.


Pokoknya Mana di dalam dirinya sangatlah amburadul sampai-sampai aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku lihat.


"Nenek..."


Nenek lalu menggelengkan kepalanya "Dia mustahil untuk tertolong".


"A-apa yang sebenarnya berbeda dari diriku? Kenapa aku tidak bisa bertambah kuat?!"


Tidak ada dari kami yang mampu menjawabnya.


Apa yang Leon alami adalah sebuah kejadian yang tidak biasa sampai-sampai Nenek saja tidak tahu harus bagaimana.


Seperti yang telah aku katakan sebelumnya, tubuhnya itu bagaikan sebuah saluran pipa yang di pasang oleh amatiran yang membuatnya mengalami kebocoran dan penyumbatan di sana-sini.


Tidak heran jika dirinya tidak mampu meningkatkan level skillnya lebih jauh lagi karena semua sumber daya yang dia butuhkan untuk naik level kalau tidak tersumbat ya terbuang percuma.


Jika ingin menyembuhkannya, maka kau harus memperbaiki semua penyumbatan dan kebocoran itu secara manual. Yang mana akan jauh lebih mudah jika mengganti semuanya dengan yang baru.


"Sungguh, apa yang sebenarnya orangtuamu lakukan saat kau masih berada dalam kandungan?"


"I-itu..."


Yah, mustahil dia bisa tahu jawabannya.


"Anak muda, tidak peduli apa yang kau lakukan, tidak peduli seberapa keras kau berusaha. Tubuhmu sendirilah yang tidak mengizinkanmu untuk berkembang"


Kata-kata Nenek memang keras. Namun itu diperlukan.


Kau tidak bisa memberikan harapan palsu kepadanya. Yang dia perlukan sekarang adalah untuk menerima kenyataan.


"Kenapa! Apa yang sebenarnya salah dengan diriku!"


"Leon, aku akan jujur kepadamu. Jika kau ingin 'sembuh' maka satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah mengganti seluruh tubuhmu!"


Mendengar ini, Leon pun terdiam.


Tubuhnya melemas seolah seluruh impiannya hancur di hadapannya.


Dengan suasana yang sedih dan canggung ini, kami terus melaju menuju tujuan kami yang berikutnya.


...


Berjalan bersama dengan Sisteen, kami berdua keluar dari kota menuju ke area konstruksi yang berada di antara Kota Gata dan Dungeon Ibis.


Sekitar satu setengah minggu yang lalu.


Tiba-tiba saja terdapat satu rombongan besar yang terdiri dari ratusan orang yang berdatangan menuju Kota Gata demi mencari perlindungan.


Setelah di tanyai, mereka mengaku kalau mereka semua berasal dari Narsist Kingdom yang keluar dari Kerajaan mereka sendiri karena keadaan di sana sudah tidak aman lagi bagi mereka.


Awalnya aku tidak percaya akan apa yang aku dengar. Bagaimana tidak? Narsist Kingdom dan Drakon Kingdom sama-sama berada di ujung benua yang saling berlawanan. Belum lagi terdapat dua Kerajaan lain serta sebuah gurun yang luas yang memisahkan kedua kerajaan ini.


Mampu sampai ke sini dengan jumlah sebanyak ini adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dipercaya.


Untuk menangani masalah ini, pemimpin dari para Pengungsi yang bernama Bleach. Bersama dengan Walikota Lambert mulai mendiskusikan tindakan apa yang harus di ambil.


Karena Kota Gata sejak awal sudah penuh akan penduduk, maka mustahil untuk menerima mereka masuk dan tinggal di dalam dinding kota. Belum lagi mengingat kalau kerajaan asal mereka saat ini sedang mengibarkan bendera perang kepada seluruh Kerajaan yang ada.


Agaknya mustahil bagi penduduk Kota Gata untuk menerima keberadaan mereka begitu saja.


Oleh karena itu, di usulkanlah rencana untuk membangun pedesaan bagi mereka di luar dinding.


Tempat pertama yang terpikirkan untuk membangun perkampungan tersebut adalah area di dekat Dungeon Ibis.


Saat aku bertanya kepada Headmaster Alfred yang juga berada saat diskusi itu berlangsung, dia mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa tempat itu dipilih.


"...Aku tahu ini mungkin akan terdengar kejam bagimu. Tapi mohon pahamlah... Alasan kenapa tempat itu dipilih, agar jika saja Penyihir Lavender merubah pikirannya dan malah menyerang kota..."


Maka tempat pertama yang akan terkena imbasnya adalah perkampungan baru tersebut.


Memang benar kalau Kerajaan mereka adalah musuh terbesar di benua ini saat ini. Akan tetapi, dosa sebuah kerajaan tidak bisa di tanggung oleh rakyatnya. Terlebih, mereka adalah pengungsi yang hanya ingin mencari


tempat baru yang bisa disebut sebagai rumah.


Pada akhirnya keputusan tidak berada di tanganku.


"Pembangunannya cukup cepat juga"


Ucap Sisteen yang kagum akan kecepatan konstruksi yang ada di hadapan kami.


Baru beberapa hari semenjak kontruksi dilakukan, sudah banyak pondasi bangunan yang sudah berdiri dan bahkan ada sebuah bangunan yang sudah setengah jadi.


Semua itu wajar dan bisa terjadi karena di sini terdapat Skill yang mampu membuat semua hal menjadi cepat dan mudah.


Tapi aku tetap sulit untuk percaya karena Skill saja bisa membuat pembangunan sebuah kota terlihat sebagai sebuah perkara yang mudah.


Untuk bisa membangun di dekat Dungeon Ibis, jelas akan butuh izin dari tuan rumahnya terlebih dahulu.


Karena Penyihir Lavender diketahui sedang pergi, aku menyangka akan butuh waktu sampai izin kami dapatkan. Namun siapa sangka kalau izin akan datang secepat ini.


Belum lagi...


"Sampai memperbolehkan membangun kota hanya agar dia bisa membangun sebuah toko... Aku jadi penasan toko apa yang akan dia buka"


"Karena dia itu Penyihir... mungkin toko perlengkapan sihir?"


Kami berjalan di antara bangunan yang sedang di bangun. Sebagian akan dijadikan sebagai rumah sedangkan sebagian lain akan di ubah menjadi


tempat bisnis.


Berdasarkan cetak biru yang dibuat, kelak kota baru ini akan dihubungkan dengan Kota Gata dan menjadi sebuah distrik baru yang nantinya akan berfokus pada perdagangan dan hiburan.


Karena tempatnya yang bersebelahan dengan sebuah Dungeon, maka wajar saja jika kebanyakan barang jualan yang ada akan berhubungan dengan perlengkapan dan kebutuhan para Petualang serta jual beli material yang di dapatkan dari dalam Dungeon.


"Turbo, lihat!"


Sisteen yang berjalan sedikit di depanku menunjuk ke arah sebuah konstruksi besar yang posisinya berada tepat di tengah-tengah kota baru.


Konstuksi tersebut tampaknya baru saja selesai menggali tanah yang nantinya akan dijadikan sebagai basemen dan sekarang mereka mulai memasang pondasinya.


Terlihat banyak pekerja yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing demi menyelesaikan bangunan itu.


Yang paling menonjol di antara mereka adalah seorang gadis dengan rambut hijau pendek dengan kulit eksotis dan mengenakan seragam tukang kayu yang berbeda dari yang lain. Fitur utama yang paling menonjol darinya adalah sebuah permata ungu yang ada di jidatnya.


Dia tampak bertugas sebagai mandor dan sibuk memerintah pekerja yang lain.


"Nona Quin!"


"Hmm? Oh, siapa kalau bukan Turbo dan Sisteen! Tolong jangan katakan kalian datang ke sini untuk kencan karena kalau begitu kau gagal sebagai pria"


"Tolong jangan bercanda seperti itu. Kami kesini mewakili Guild Iron Sword untuk melihat perkembangan pembangunan"


Quin... Dia adalah salah satu Golem buatan dari Penyihir Lavender dan bekerja sebagai Pelayan setianya.


"Haha... Tentu saja. Hanya orang gila saja yang mengajak pacarnya pacaran di tempat bising dan berbahaya seperti ini"


"Hahaha..." Apakah semua orang sudah memperlakukan Sisteen sebagai kekasihku? Memang benar sih di dunia nyata sana kami bahkan sudah tinggal bersama. Sisteen pun juga sudah berkenalan dengan orangtuaku.


Tapi itu karena dia tiba-tiba saja sudah memindahkan semua barangnya ke rumahku yang alamatnya entah dia dapat dari mana dan Sisteen yang tiba-tiba saja mengaku sebagai kekasihku saat orangtuaku datang berkunjung.


Aku tidak tahu dia belajar di mana, tapi akting yang Sisteen lakukan pada saat itu sangatlah sempurna hingga dengan sukses meyakinkan kedua orangtuaku kalau dia itu adalah sosok putri ideal yang tentu saja membuat kedua orangtuaku langsung menerimanya sebagai menantu mereka.


Sial, jika begini caranya bisa-bisa tanpa sadar kami malah sudah menikah.


"Jadi, kalau boleh tahu, kira-kira dengan kecepatan seperti ini kapan kiranya kota ini akan selesai di bangun?"


"Hmm... kalau terus begini tanpa ada kejadian apa pun yang akan menunda pembangunan... kira-kira dalam kurun waktu sebulan kota ini sudah layak huni. Eh, Guru Mebel bilang kalau dia sudah memanggil Carpenter dari kota lain. Kalau mereka tiba bisa saja bulan depan kota ini sudah setengah jadi"


"Wow, secepat itu?"


"Ya... itu pun palingan hanya pusat kota dan di sekitarnya. Area pinggiran paling baru akan dibangun berbarengan dengan pembangunan dinding kota"


Bagaimanapun membangun sebuah kota sampai layak huni hanya dalam sebulan adalah hal yang besar.


Aku tidak tahu berapa besar dana yang telah dikeluarkan. Tapi jelas tidak sedikit uang telah dikeluarkan demi membangun kota ini.


"Ngomong-ngomong. Kalau boleh tahu toko apa yang Penyihir Lavender ingin buka?"


"Oh, apakah kau penasaran?"


"Kalau tidak mau mengatakannya tidak apa-apa. Tapi kalau di tanya penasaran atau tidak, jelas aku penasaran"


"Haha... Itu wajar saja. Terlebih kau itu adalah kenalannya Lif. Kalau kau mau jadi pelanggan tetap, kau mungkin akan dapat diskon permanen"


"Oh, kau serius?!"


"Tentu saja!"


Saat kami sedang asyik bicara, Sisteen tiba-tiba saja menyela dengan tatapan tajam di matanya.


"Tunggu sebentar! Bisakah kau mengatakan toko apa yang akan dibuka sebelum memberikan Turbo diskon?"


"Ah, benar. Hampir lupa... Bangunan di belakangku ini nantinya akan menjadi rumah bordil..."


Langsung saja Sisteen memukul perutku dengan keras dan menyeretku menjauh. Malamnya di dunia nyata... Aku tidak ingin mengatakannya.