
Kami sekarang berada di dalam rumah pribadiku yang sekarang telah beralih fungsi menjadi markas darurat bagi para Petualang.
Berkat adanya laporan mengenai para Mobs yang mulai berkumpul tanpa mengenal spesies mereka, pihak Union beserta kerajaan segera mengirim para Petualang dan prajurit menuju hutan Barriere untuk berjaga dan menghalau
Wave yang akan datang.
Aku sudah mengalami ini di Event sebelumnya dimana itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.
Sebagai pemimpin dari Party peringkat A, The Guardian.
Aku, Doragon. Bertanggung jawab untuk memimpin para Petualang lainnya sebagai komandan dalam Quest kali ini.
"Berapa banyak Petualang yang telah berkumpul?"
"Untuk saat ini, sudah ada sekitar 5.000 Petualang. Yang lainnya terlalu jauh untuk bisa datang tepat waktu, tapi mereka berjanji akan datang sebagai bala bantuan"
Menjawab pertanyaanku, adalah rekanku yang terpercaya, Yari. Dia adalah seorang Spearman dengan kepribadian yang cerah meski sedikit bermasalah dengan wanita.
Jumlah prajurit yang pihak kerajaan kirimkan ada sekitar 10.000 orang. Jika digabungkan maka akan ada setidaknya 15.000 orang yang akan berpartisipasi.
Meski terdengar banyak, tapi ini hanyalah pas-pasan jika kau membandingkan dengan Wave terdahulu yang meski jumlah kami ada 10.000 orang, kami tetap gagal dalam menghalau mereka.
"Bagaimana dengan garis pertahanan?"
"Kita sudah menggunakan [Soil Magic] untuk membangun dinding dan di beberapa titik di perkuat dengan menggunakan [Stone Magic], tapi Komandan Onlay mengatakan kalau itu masih belum cukup"
Itu memang benar.
(Dirt Wall) dari [Soil Magic] ataupun (Stone Wall) dari [Stone Magic] tidak ada artinya di hadapan serbuan para Mobs yang datang menerjang bagaikan sebuah tsunami yang ganas.
Sialnya, tidak ada benteng yang di bangun meski ini adalah perbatasan antar kerajaan. Tampaknya mereka terlalu percaya diri dengan hutan Barriere yang merupakan pemisah alami yang dihuni oleh berbagai macam Mobs
berbahaya yang telah terbukti efektif dalam menghalau serangan dari kerajaan lain selama ratusan tahun.
Akan tetapi, mereka tampaknya tidak pernah menyangka kalau pertahanan alami ini sebenarnya adalah pedang bermata dua.
Selain pos penjagaan biasa untuk memungut pajak masuk, tidak ada bangunan militer lain di sini.
Aku pernah dengar kalau kedamaian akan membuat orang terlena, tapi tak kusangka kalau aku akan melihatnya secara langsung seperti ini.
"Jika saja ada seseorang yang mampu membangun benteng dalam satu malam"
"Oh ayolah, orang yang bisa melakukan itu hanyalah seorang jenderal terkenal atau tokoh utama dalam cerita"
Perkataannya benar juga, tampaknya aku memang terlalu berharap...
Drrtdrttttdrtt......
Tiba-tiba saja terdapat sebuah gempa bumi yang membuat rumahku berguncang hebat.
"Serangan?!"
Dengan segera kami keluar dari rumah, hanya untuk menyaksikan sebuah pemandangan yang di luar akal sehat.
Sebuah dinding terbuat dari tanaman setinggi lebih dari 10 meter tiba-tiba saja muncul dan berdiri dengan kokohnya.
Tampak semua orang terkejut akan hal ini.
Di saat aku hendak bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi, rekan sekaligus istriku, Winzi. Datang sambil mengenakan apron dengan motif yang imut.
Mengikutinya ada Feline yang juga mengenakan apron di atas pakaian yang dia pakai.
Mereka berdua tampaknya bergegas kemari dari tugas mereka di dapur umum.
"Apa yang terjadi?"
"Kami juga tidak tahu, dinding tanaman itu tiba-tiba saja muncul begitu saja"
Untuk mencari jawaban, kami segera pergi ke pos penjaga.
Sudah menunggu di sana, terdapat anggota terakhir dari Party yang aku pimpin. Dia adalah seorang Fire Mage dengan penampilan seperti ahli sihir tua yang biasa terlihat di film.
"Pak Weise, apa yang terjadi?"
"Kebetulan, aku juga hendak mencari kalian"
Setelah itu, pak Weise menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Begitu, kalau tidak salah ingat, Penyihir dari Sol Ciel memang sedang berada di kerajaan ini"
"Yang kecil itu kan? Kalau tidak salah dia itu pemimpinnya kan?"
"Oh, yang kau ceritakan itu yah? Tidak heran kalau dia bisa melakukan hal seperti ini"
Rumor mengenai para Penyihir dari Sol Ciel adalah penyihir terkuat yang pernah ada memang bukanlah isapan jempol belaka.
Terlebih yang ada di sini adalah pemimpinnya.
Jika beliau membantu kami, maka kesempatan kami untuk menang akan meningkat secara drastis.
"Kalau itu, tampaknya yang membangun dinding ini bukankah si pemimpin melainkan cucunya"
Cucu?
Benar juga, kalau tidak salah beliau datang ke perjamuan bersama dengan cucunya.
Kalau begitu, jika cucunya saja sudah sekuat ini, bagaimana dengan dirinya?
Tunggu dulu, bukannya beliau hanya datang sendiri? Terlebih Turbo lah yang mengantarkannya ke Drakon Kingdom. Aku terlalu sibuk belakangan ini sehingga tidak masuk ke forum untuk informasi baru.
"Begini sudah cukup kan?"
"Bagus sekali, wahai cucuku. Tetap saja, sungguh sebuah benteng yang menakjubkan yang kau buat"
Di kejauhan aku bisa melihat sosok yang tidak asing.
Dia adalah Cardinal, pemimpin dari Sol Ciel yang sedang kami bicarakan. Di sampingnya terdapat seorang gadis yang tampaknya adalah cucunya. Dari wajahnya, dia sangat mirip dengan yang aku lihat di perjamuan. Yang
menjadi pembeda adalah dia sekarang terlihat jauh lebih muda.
Kulitnya juga tampak pucat.
Yah, jika yang dikatakan oleh pak Weise itu benar, maka tak heran kalau sekarang dia sedang dalam kondisi yang tidak baik setelah menghabiskan sebagian besar Mana di tubuhnya.
Tunggu, jika dilihat kembali gadis itu memiliki telinga runcing dan tato di tubuhnya.
Tato adalah satu hal, tapi telinga yang runcing menandakan kalau dia bukanlah Manusia. Setahuku hanya Elf yang memiliki telinga runcing. Tapi telinganya jauh lebih pendek ketimbang telinga Elf.
"Doragon, gadis itu terasa berbahaya"
Feline yang merupakan seorang Beastman tipe kucing mengatakan itu dengan ekspresi tegang yang terlihat jelas dari wajahnya dan semua rambut serta ekor di tubuhnya yang berdiri.
Orang mengatakan kalau insting seorang Beastman itu tidak bisa diremehkan. Aku mempercayai itu karena aku sudah menyaksikannya berkali-kali.
Kali ini juga tidak berbeda.
"Kalian diam disini, biar aku dan pak Weise yang menyapa mereka"
...
Hah... Aku capek, pengen tidur...!!!
"Bersabarlah sebentar, mereka mengatakan kalau tenda untuk kita sedang disiapkan"
"Tidak bisakah nenek membuat rumah instan dengan menggunakan sihir?"
"Jangan bodoh, para Mobs itu bisa menyerang kapan saja, menghabiskan Mana mu secara sembarangan hanya akan membawa petaka kemudian hari"
Dan nenek menyuruhku untuk membangun dinding sialan ini!
Meminum untuk memulihkan sedikit Mana ku, aku merasakan ada yang berjalan mendekati kami.
Tidak mungkin ada orang biasa yang berani mendekati kami. Yang berarti mereka adalah orang penting dan memiliki kuasa akan sesuatu.
Terdapat dua orang.
Yang pertama adalah seorang pria berwajah tampan dengan rambut berwarna merah dan mata berwarna keemasan. Armor yang dia kenakan memiliki kualitas tertinggi dibandingkan dengan semua prajurit maupun Petualang yang pernah aku lihat.
Itu menandakan kalau pangkatnya jelas tidaklah rendah.
Tidak jauh di belakangnya, terdapat seorang pria tua yang mengenakan jubah khas ahli sihir (Mage).
Jubah dan Staff yang dia miliki juga memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada Petualang lainnya. Heh, tentu saja kualitasnya masih kalah jika dibandingkan dengan milikku.
Dari yang aku lihat, tampaknya dia adalah bawahan atau setidaknya rekan dari pria sebelumnya.
"Selamat siang, perkenalkan, saya adalah ketua Party kelas A, The Guardian. Doragon. Saya disini bertugas sebagai komandan para Petualang yang bekerja sama dengan prajurit kerajaan"
Oh, Doragon!
Dia cukup terkenal dan sering dibicarakan di forum sebagai Pemain paling sukses yang pernah ada.
"...di samping saya adalah ahli sihir kami, Weise"
"Senang bertemu dengan Anda"
"Oh, kalau tidak salah kau itu teman si Turbo kan? Meski tampaknya kalian sudah mengetahui siapa diriku ini, tapi izinkan saya memperkenalkan diri lagi.
Pemimpin dari Sol Ciel, Cardinal La Ciel. Di sampingku adalah cucu pertamaku, Lavender La Ciel"
Mengikuti adat sopan santun, aku memberikan salam kepada mereka, hanya untuk melihat mulut mereka yang ternganga.
"Lavender? Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender?"
"Oh, apakah namaku sudah menyebar seluas itu!"
Yah, aku tahu kalau mereka mengetahuinya dari Forum. Tapi forum hanya bisa diakses oleh Pemain, atau disini disebut sebagai Otherworlder. Karena mereka tidak tahu kalau aku secara teknis masih sama dengan mereka,
sedikit akting akan berguna.
"Sungguh sebuah kehormatan untuk akhirnya bisa bertemu dengan Anda. Kami telah banyak mendengar tentang Anda. Tapi berita mengenai identitas Anda sebagai bagian dari Sol Ciel masihlah baru bagi kami"
"Haha... Itu wajar. Kami tidak memiliki tradisi untuk secara aktif mengumumkan keberadaan kami kepada dunia"
Setelah bertukar sapaan singkat, kami akhirnya masuk ke topik utama.
"Begitu... Kalau begitu, selaku perwakilan semua Petualang yang ada disini, saya mohon kerja samanya"
Oh dasar pak tua. Kau terlalu memujiku.
Sebagai seorang ahli sihir, sudah sewajarnya bagi dirinya untuk terlena akan kemampuanku yang luar biasa.
Sekarang kau mengatakannya lagi, aku mampu mencapai sihir tingkat ketiga hanya dalam kurun waktu setengah tahun. Dua orang yang ada di hadapanku sudah berada di sini selama setahun lebih.
Terlebih yang ada di hadapanku ini adalah Otherworlder yang paling terkenal dan sudah banyak memiliki pengalaman.
Sudah sewajarnya bagi mereka untuk mencapai level yang jauh lebih tinggi dari diriku.
Tapi, melihatnya terkesan dengan apa yang baru saja aku lakukan, sebenarnya seberapa kuat mereka?
Bahkan dengan [Identify] dan [Mana Sight] milikku, aku tetap tidak bisa merasakan kalau mereka itu lebih kuat dariku.
"Wahai ahli sihir, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?"
"Hm? Boleh saja. Katakanlah, orang tua ini akan menjawabmu"
"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan... Seberapa kuat sebenarnya dirimu? Lebih tepatnya, seberapa tinggi tingkat sihir yang kau miliki?"
Atas perkataanku, si ahli sihir serta Doragon tampak terkejut akan pertanyaan yang aku ajukan.
Sedangkan nenek yang ada di sampingku tidak menunjukkan reaksi apa pun dan masih tetap memasang senyuman di wajahnya.
Tidak berselang lama akhirnya si ahli sihir membuka mulutnya.
"Mungkin ini akan terkesan pamer, tapi diriku sudah menguasai [Flame Magic] yang hanya tinggal kurang dari 10 level lagi sebelum akhirnya menuju tingkat tertinggi"
Hah... Lebih rendah dari yang aku duga.
Dari apa yang aku lihat, dia jelas adalah tipe orang yang hanya berfokus pada satu sihir saja. Bahkan jika dia mengambil sihir lain, dia pasti akan memperlakukannya sebagai sihir sekunder dan jarang menggunakannya.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi, wahai cucuku. Tidak semua orang memiliki bakat atau afinitas yang baik dengan sihir yang mereka ambil. Jadi sangatlah wajar bagi mereka untuk terhenti di sihir tingkat pertama atau kedua tanpa mampu untuk berkembang lebih jauh lagi meski telah berusaha selama puluhan hingga ratusan tahun"
Oh begitu, aku baru mengetahuinya.
Aku kira karena dia adalah seorang Otherworlder seperti diriku maka kecepatan berkembang juga akan sama.
Tapi ternyata berbeda yah.
"Begitu, karena terlalu lama berdiam diri di dalam hutan, aku tidak begitu tahu tentang pengguna sihir lainnya. Juga, nenek baru mengatakannya sekarang"
"Haha... Kau itu masih muda, masih perlu banyak belajar"
Merasa aneh dengan pembicaraan kami, si ahli sihir itu pun mengajukan pertanyaan.
"Maaf, dari pembicaraan kalian berdua, aman dikatakan kalau Anda memiliki sihir tingkat ke tiga?"
"Itu benar. Dinding yang kalian lihat ini adalah hasil dari sihir bernama [Forest Magic] yang merupakan versi lanjutan dari [Wood Magic]"
Heh, lihat ekspresi terkejut mereka. Jika kalian banyak menonton anime, coba bayangkan saja ekspresi para warga desa ketika baru mengetahui betapa luar biasanya si pemeran utama.
Setelah itu aku dan nenek pamit undur diri untuk beristirahat di tenda yang telah disiapkan khusus untuk kami berdua.
Tenda itu terbilang sederhana.
Tapi, jika dibandingkan dengan tenda lainnya, tenda yang ada di hadapan kami ini jelas terlampau lebih nyaman.
Percy dan yang lainnya yang tidak membutuhkan istirahat aku perintahkan untuk berjaga di luar.
Sedangkan kereta kami sudah terparkir dengan nyaman dan kuda-kuda yang aku panggil tengah di rawat bersama dengan kuda-kuda lainnya.
...
Di dalam tenda, aku melanjutkan belajarku sambil memulihkan Manaku sementara nenek sedang sibuk melakukan sesuatu sendiri.
Kami bebas melakukan apa pun yang kami mau sampai rapat besar yang akan dilakukan malam ini.
Karena nenek yang akan mewakili Sol Ciel, tugasku hanyalah menjadi asistennya.
Yang artinya aku hanya perlu berdiri mematung tanpa melakukan apa-apa. Yes!
"Permisi"
Yang memasuki tendaku adalah seorang gadis kecil... Bukan, dia adalah seorang Dwarf yang mengenakan apron merah jambu dengan hiasan bunga yang terkesan kekanak-kanakan. Meski begitu, terlihat jelas sebuah cincin
emas terpasang dengan manis di jemarinya yang menandakan kalau dia telah menikah.
Gadis Dwarf itu membawa nampan berisi sup serta teko yang berisi minuman.
Tanpa banyak bicara, dia hanya meletakkan nampan yang dia bawa ke atas meja lalu pamit undur diri.
"Tunggu!"
Sebelum dia pergi, aku memanggilnya.
Aku tidak punya keperluan yang berarti, hanya iseng saja.
"Ya, ada apa?"
"Siapa namamu?"
"Perkenalkan, aku adalah Winzi. Rekan satu Party sekaligus istri dari Doragon"
Ohh... Jadi dia toh istrinya Doragon!
Sudah menjadi pengetahuan umum kalau istrinya, Winzi. Adalah seorang Dwarf.
Itu masihlah normal, namun ada kabar burung kalau penampilan Winzi itu sama seperti penampilannya di dunia sana. Itu termasuk tinggi badannya.
Oh Doragon.
Engkau bertindak bagaikan kesatria yang gagah perkasa namun sebenarnya kau memiliki minat pada gadis berbadan kecil♪
"Begitu, dan mengapa istri dari orang penting sepertimu bertindak bagaikan pelayan di situasi seperti ini?"
"Justru karena situasi seperti inilah, aku harus melakukan segala yang aku bisa demi mendukung suamiku yang akan berjuang demi melindungi kerajaan ini"
"Heh, suamimu adalah pria yang beruntung karena bisa mendapatkan wanita seperti dirimu"
"Terima kasih atas pujiannya"
Setelah itu dia pergi untuk melakukan pekerjaannya kembali.
Kali ini aku tidak menghentikannya karena urusanku dengannya telah selesai... Untuk saat ini.
...
Malam telah tiba.
Aku dan nenek sekarang berada di ruang tamu milik Doragon yang di sulap menjadi tempat untuk rapat besar diadakan.
Yang duduk di sekitar meja ada nenek selaku perwakilan dari Sol Ciel, Komandan Onlay yang mewakili Drakon Kingdom, dan Doragon yang mewakili seluruh Petualang.
Sedangkan diriku berdiri tidak jauh di belakang nenek sebagai asistennya.
Begitu juga dengan Doragon dan komandan Onlay yang memiliki asistennya sendiri yang juga berdiri tidak jauh di belakang mereka.
Rapat sudah berlangsung cukup lama.
Secara garis besar, mereka membahas tentang posisi pasukan masing-masing, formasi apa yang akan mereka terapkan, berapa banyak pasokan makanan yang dimiliki jaga-jaga kalau kami harus bertahan selama beberapa hari, dan lain sebagainya.
Meski dibilang sebagai diskusi, hanya Onlay dan Doragon saja yang paling aktif dalam bertukar pendapat.
Nenek tidak terlalu aktif dalam diskusi karena dirinya hanya berperan sebagai penasihat saja.
Sol Ciel biasanya jarang membantu kerajaan lain selain dalam situasi yang genting. Satu-satunya alasan kenapa kali ini nenek memberikan bantuannya adalah karena murni kebetulan.
Jika saja Wave ini tidak menghalangi jalan kami, kami akan terus melanjutkan perjalanan meski mengetahui kalau Wave sedang berlangsung.
Rapat ini berlangsung sangat lama.
Saking lamanya aku sampai bosan dan menggunakan (Vision Sharing) agar bisa melihat pemandangan yang dilihat oleh Glaza yang sedang terbang di luar.
Pada akhirnya rapat telah mencapai ujungnya.
Rapat ini akhirnya mencapai puncaknya... Sebentar lagi rapat membosankan ini akan berakhir dan aku bisa pergi tidur...
"Hm?!"
Berkat (Vision Sharing) yang aku aktifkan, aku jadi melihat sesuatu yang terlewat penting yang seharusnya tidak aku lihat jika saja aku ingin segera istirahat.
"Oh, apakah ada sesuatu?"
Nenek yang menyadari sesuatu segera bertanya kepadaku. Berkat itu Doragon dan Onlay yang tadinya sedang berdiskusi segera menolehkan perhatian mereka kepadaku.
Dengan semua mata yang tertuju kepadaku, aku tidak punya pilihan lain selain mengatakan apa yang aku lihat.
"Baiklah, familiar yang aku kirim berhasil melihat sesuatu yang tidak akan kalian senangi"
"Dan apakah itu?"
"Seorang pria dengan mahkota perak berduri sedang mengomandoi para Mobs di tengah hutan"
""!!!""
Jelas semua orang akan terkejut jika mendengar ini.
Tidak pernah terdengar sebelumnya ada seseorang selain bangsa iblis yang mampu memerintah Mobs sebanyak ini sendiri.
Bahkan seorang Summoner sekalipun hanya mampu untuk mengontrol kurang dari selusin dalam waktu yang bersamaan.
"Apakah dia seorang Demon?!"
"Tidak, dari ciri-cirinya dia adalah seorang Manusia murni di usianya yang berkisar antara 60-70 tahunan"
"Apa lagi yang berhasil kau lihat?"
"Selain mahkota perak berduri di atas kepalanya, dia mengenakan sesuatu seperti baju keagamaan yang berwarna putih murni dan dipenuhi oleh ornamen emas. Di sekitarnya terdapat empat kesatria dengan Armor mewah... Tunggu sebentar, lambang ini!!?"
Semua orang menunggu dengan tegang untuk apa yang aku katakan selanjutnya.
Setelah yakin dengan apa yang aku lihat, aku memberitahukan mereka identitas asli dari orang-orang tersebut.
"Narsist Kingdom"