A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 86 : It's the SEA!



Mendengar suara deburan ombak di pagi hari yang diiringi oleh hembusan angin dingin yang terasa asin memang adalah sebuah pengalaman yang sangat baru bagiku.


Jika saja pemandangan di sini bisa lebih bagus lagi maka mungkin saja aku lebih bisa menikmati lautan yang seharusnya indah ini.


"Sungguh, memang benar kalau pelabuhannya sangatlah bobrok dan jorok. Tapi dengan pemandangan laut yang indah ini, serta pantai dengan pasir putih di sana, apakah tidak ada yang mau datang untuk melihatnya?"


Sial, bahkan aku melihat ada banyak pulau-pulau kecil di kejauhan yang dapat dengan mudah dimanfaatkan sebagai objek wisata.


Melirik ke arah Meno yang ada di sampingku, dia tidak lagi mengenakan pakaian ala gadis desa seperti yang dia kenakan saat kami pertama kali bertemu. Sekarang dia mengenakan seragam Maid dengan sebuah topeng polos yang menutupi seluruh wajahnya.


Oke, aku tahu banyak yang ingin kalian katakan.


Memang benar kalau aku awalnya berencana untuk membuat Meno dan adiknya kembali menjadi Bangsawan. Langkah pertama yang aku ambil adalah untuk mengambil alih wilayah yang sudah ditinggalkan oleh paman mereka yang kini pindah ke wilayah yang dulu dikuasai oleh orang tua mereka.


Untuk bisa mengambil alih wilayah yang memiliki satu-satunya Pelabuhan di Kerajaan ini secara damai dan tidak terlalu menarik banyak perhatian, aku berniat untuk meminta bantuan dari Pangeran Argenti yang kebetulan


sudah terpincut oleh pesona Luna.


Di saat aku meminta hal ini di pertemuan kami sebelumnya, Pangeran Argenti dengan mudah menyetujuinya. Hanya saja Putri Margarita berkata lain.


"Jika kau ingin meminta sebuah wilayah, maka sebaiknya kau sendirilah yang mengurusnya. Bukan hanya karena gadis dari Keluarga Avanzado ini masih muda dan kurang berpengalaman, jika kau yang mengurus wilayah itu dan


menjadi seorang Bangsawan bersama dengan 'Adik' mu itu, maka Adikku yang satu ini tidak perlu dipermalukan karena menikahi rakyat jelata"


Itu adalah sebuah alasan yang valid yang dia berikan. Sampai-sampai aku jadi tidak tahu bagaimana cara untuk menyangkalnya.


Putri Margarita juga menambahkan, jika orang asing yang mengambil alih wilayah ini maka Baron Monaco selaku pemilik aslinya akan dengan senang hati melepaskannya. Karena jika dia tahu kalau keponakannya yang akan


mengambil wilayahnya, tidak perlu diragukan lagi kalau dia akan melakukan segala cara untuk mempersulit kehidupan mereka. Di sisi lain, jika orang yang akan mengambil alih wilayahnya adalah keluarga dari seorang gadis yang di taksir oleh Pangeran Argenti. Bukan hanya Baron Monaco tapi juga Bangsawan lain yang melihat ini pasti akan mengira ini hanyalah akal-akal dari Pangeran Argenti untuk merayu seorang rakyat jelata. Yang mana itu adalah hal yang cukup wajar untuk dilakukan di kalangan Bangsawan.


"Sebagai gantinya, Putri dari Keluarga Avanzado akan ikut bersamamu dengan menyamar sebagai Pelayan agar mereka bisa belajar langsung darimu tentang bagaimana caranya untuk mengurus sebuah wilayah"


Dan untuk alasan kenapa mereka harus menyamar, tentunya itu untuk mencegah Paman mereka mengetahui keberadaan keponakannya yang seharusnya masih hidup melarat di luar dinding Ibukota.


Begitulah cerita singkat tentang kenapa Meno mengenakan seragam Maid dan kenapa sekarang aku berada di dalam Mansion yang menjadi kediaman sekaligus kantor Walikota di kota Pelabuhan yang tidak bernama ini.


Hah... Sungguh, bahkan dari luarnya saja Mansion ini terbilang mewah dan bahkan dapat dengan mudah bersaing dengan kediaman Bangsawan lainnya yang berada di Ibukota meski dari segi ukuran Mansion ini jauh lebih kecil dengan hanya memiliki dua lantai saja.


Meski begitu, jika kau membandingkannya dengan perumahan... Atau lebih tepatnya pemandangan di sekitar Mansion ini secara keseluruhan. Maka Mansion ini akan terlihat seperti sebongkah emas di tengah tumpukan


sampah.


Aku tidak bercanda!


Daerah di sekitar Mansion ini sangatlah jorok bahkan melebihi Undercity yang secara harfiah tinggal di dalam selokan!


Sudah aku putuskan. Langkah pertama yang akan aku ambil untuk membenahi kota ini adalah dengan cara membersihkannya.


"Penyi... Master, apakah Anda yakin kalau kota ini mampu untuk dibenahi?"


"Oh, Meno. Memang akan butuh usaha dan kerja keras. Tapi aku berjanji kalau dalam kurun waktu satu bulan kota ini akan terlihat baru hingga bahkan warga kota ini akan merasa kalau mereka baru saja pindah ke kota lain"


Meninggalkan Meno yang terdiam di balkon lantai dua, aku masuk ke dalam Mansion untuk melakukan segala persiapan yang aku butuhkan.


...


Kota Pelabuhan. Itulah bagaimana orang-orang memanggil kota kecil yang sejatinya tidak bernama ini. Dengan penduduk hanya berjumlah tidak lebih dari 10 ribu jiwa, perekonomian di kota ini terbilang kurang terutama dalam hal ketersediaan pangan.


Penyebab utama masalah ini adalah wilayah kota Pelabuhan yang sebagian besar terdiri dari tanah berbatu yang tidaklah cocok jika dibuat sebagai lahan pertanian. Hal terbaik yang bisa mereka lakukan adalah mengembalakan


hewan ternak di daerah berumput yang jaraknya cukup jauh dari kota atau mencari ikan di lautan.


Lebih dari setengah penduduk kota Pelabuhan bekerja sebagai Nelayan yang selalu pergi melaut di malam hari dan baru pulang pada pagi harinya.


Meski tangkapan mereka setiap harinya bisa terbilang melimpah, tapi penghasilan yang mereka dapatkan tetaplah tidak seberapa karena harga ikan yang sangatlah murah.


Bau ikan yang amis dan banyaknya tulang-tulang kecil pada tubuh ikan membuat para Bangsawan dan orang-orang kaya lainnya menolak untuk mengkonsumsinya.


Satu-satunya kalangan yang masih menikmati hidangan laut hanyalah mereka yang tidak berada.


Jika bukan karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa mereka kerjakan, maka para Pelayan yang ada pasti sudah lama berhenti melaut karena pendapatan mereka setiap harinya sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan


mereka sehari-harinya.


Situasi menjadi bertambah buruk karena Baron yang memerintah di Kota Pelabuhan adalah orang yang tamak dan gemar menghambur-hamburkan uang.


Dia tanpa ragu menaikkan pajak hanya demi bisa membangun rumah besarnya yang berada di sebuah bukit kecil yang menghadap kota. Melihat Mansion mencolok itu setiap harinya membuat hati para penduduk semakin panas.


Kota yang tidak terurus kian lama menjadi semakin jorok dan mulai tidak layak huni sementara rumah Baron itu semakin lama semakin besar.


Bahkan dermaga tempat mereka menyandarkan kapal kecil mereka kini mulai lapuk dan di tutupi oleh lumut yang licin. Jika saja para nelayan tidak berinisiatif untuk membenahinya, maka dermaga itu pasti sudah lama hancur diterjang ombak.


Sampai pada akhirnya Bangsawan yang selama ini memerintah dan menyiksa mereka sudah meninggalkan kota ini dan berdiam di wilayahnya yang baru. Tidak lama setelah itu terdengar kabar kalau sekarang ada seorang Bangsawan baru yang menduduki posisi sebagai pemilik wilayah ini.


"Hei, apakah kau sudah dengar? Kita akan punya Walikota baru"


"Tentu saja aku mendengarnya"


"Walikota yang baru ternyata adalah seorang Perempuan. Apakah dia tahu bagaimana caranya mengurus wilayah ini?"


"Alah, mau lelaki maupun perempuan semuanya pasti sama saja. Tidak peduli siapa pemilik wilayah ini sekarang, kehidupan kita tidak akan berubah"


Kabar pun menyebar ke seluruh penjuru kota kalau alasan kenapa Walikota yang baru bisa mendapatkan posisinya yang sekarang adalah dengan cara merayu Pangeran Kedua yang semakin membuat para penduduk tidak berekspetasi apa-apa kepada pemimpin baru mereka.


Sampai pagi itu tiba...


Ketika matahari masih belum muncul, para Nelayan yang pada malam sebelumnya pergi melaut sekarang sudah kembali sambil membawa tangkapan yang melimpah. Akan tetapi, mengingat harga ikan yang tidak seberapa, hanya ada muka masam yang di tampilkan di wajah setiap Nelayan yang ada.


Sambil melamun memikirkan bagaimana mereka bisa bertahan bulan ini, para Nelayan mengarahkan kapal mereka melaju menuju dermaga.


Sesampainya mereka di dermaga, mereka tidak menemukan adanya petugas yang biasa membantu mereka dalam membongkar muatan mereka. Malahan, dermaga yang biasanya sibuk kini terlihat sepi melompong tanpa ada seorangpun yang terlihat.


Keheranan, mereka mengirim salah satu rekan mereka untuk memeriksa ke rumah petugas dermaga. Belum juga sampai ke rumah petugas dermaga, dia tidak sengaja melihat warga lainnya yang sedang berkerumun di depan papan bulletin yang ditempatkan di dekat pintu masuk dermaga.


"Apakah ada kenaikan pajak lagi?"


Mengingat hanya itu yang akhir-akhir ini di pajang, nelayan itu dengan langkah berat menghampiri kerumunan yang kian lama semakin bertambah. Walau dia tidak menyukainya, tapi setiap informasi yang di pajang di papan bulletin selalu akan membawa dampak besar pada kehidupan mereka.


Baik itu dampak baik ataupun dambak buruk.


Dengan susah payah nelayan itu memanfaatkan tubuh kecilnya untuk menyelinap di antara kerumunan. Kerja kerasnya pun akhirnya terbayangkan setelah dia sampai tepat di depan papan bulletin dan mampu membaca kertas yang di pajang di sana.


"Huh?" suara keheranan keluar dari mulutnya ketika melihat kertas yang biasanya di pajang hanya berupa kertas lusuh berwarna kecoklatan kini berganti menjadi sebuah kertas putih mulus dengan tulisan indah tertulis di atas kertas itu dengan tintah yang berwarna ungu cerah.


Dan apa yang tertulis di sana semakin membuat nelayan muda terkejut.


"Wahai warga kota Pelabuhan yang tercinta, selaku penguasa sekaligus Walikota baru kalian. Diriku berniat untuk melakukan sebuah perubahan besar pada kota ini.


1. Menggunakan 'Hadiah' dari Pangeran Pertama\, Pangeran Argenti ol Narsist. Seluruh jalanan di kota ini akan dibersihkan oleh para (Metal Golem) yang secara patuh akan membersihkan kota ini sampai bersih dari segala jenis 'Kotoran'. Jika kalian benar-benar sayang pada kota kecil ini\, tolong tunjukkan dengan cara membersihkan rumah kalian sendiri dan area di sekitarnya.


2. Demi mendongkrak ekonomi kota ini. Akan di adakan beberapa pelatihan yang akan mengajarkan kalian segala sesuatu yang kalian butuhkan untuk bisa meningkatkan kualitas pekerjaan kalian secara berkali-kali lipat hingga


akan membawa kalian untuk membuka sebuah usaha baru. Pelatihan akan di adakan pada pagi hari ini pukul 08.00 pagi sampai pukul 11.00 pagi di dermaga.


3. Mengingat kalau ikan dan produk lainnya yang tidak terlalu populer. Akan dilaksanakan sebuah kursus yang akan mengajarkan kalian tata cara untuk mengolah ikan dan segala jenis hidangan laut lainnya hingga menjadi


sebuah hidangan yang bahkan pantas untuk disajikan ke atas meja seorang Raja. Kursus akan dilaksanakan pada sore hari ini pukul 15.00 sore sampai pukul 18.00 sore di alun-alun kota.


Jika kalian sayang kepada kota ini, jika kalian berminat untuk meningkatkan kualitas hidup kalian, jika kalian ingin melihat keluarga kalian tersenyum setiap harinya, dan jika kalian berniat untuk menjadi seorang pengusaha yang kaya raya. Tolong berpartisipasi dan mengikuti setiap program yang dilaksanakan dengan tekun dan serius.


Semoga program ini akan membuat kota ini menjadi kota baru yang disukai oleh semua orang.


Pertanda, Walikota baru kalian.


Baron Malika Von Verloren"


Membaca pengumuman itu, nelayan itu segera bergegas memberitahukan hal ini kepada rekan-rekannya yang masih menunggu di atas kapal.


Sosok metalik itu tidak memiliki wajah. Sebagai gantinya di tempat di mana wajah seharusnya berada terdapat sebuah 'Mata' bulat yang terletak tepat di bagian tengah kepalanya yang mengeluarkan cahaya keunguan yang


terang.


Sambil membawa sapu dan perlengkapan bersih-bersih lainnya, sosok metalik itu yang total berjumlah 50 unit secara serempak membersihkan jalanan kota dari lumpur dan lumut yang menempel.


Para Ibu-Ibu yang takut kepada sosok asing itu segera menyembunyikan anak-anak mereka agar tidak bertemu atau ditemukan sosok itu. Sedangkan bagi anak-anak yang sudah terlanjur melihat sosok itu segera di tarik


orang tua mereka untuk masuk ke dalam rumah.


Melihat sosok itu hanya fokus bersih-bersih tanpa memedulikan apa-apa bahkan ketika seorang pemuda berani yang dengan canggung mencoba menyentuh sosok itu. Para warga yang melihat hal ini mulai mengira kalau sosok itu bukanlah Mobs yang berbahaya.


Dan ketika ada orang yang memberitahukan kalau sosok itu sebenarnya adalah (Metal Golem) yang berada di bawah kendali Walikota baru mereka. Barulah mereka menurunkan penjagaan mereka. Walau masih terdapat rasa takut terhadap hal yang tidak diketahui, tapi para warga kota tidak akan mengganggu para (Metal Golem) itu ketika mereka hanya melakukan pekerjaan mereka.


Setelah seluruh warga kota membaca isi pengumuman yang tersebar di seluruh penjuru kota, para warga yang optimis segera berniat untuk mengikuti program yang direncanakan oleh Walikota baru mereka berawal dari


membersihkan rumah mereka sendiri. Mereka yang sebenarnya pesimis tapi juga penasaran tetap berniat untuk mengikuti program dari Walikota walau hanya sekedar untuk coba-coba saja. Sedangkan mereka yang beanr-benar


pesimis sontak menolak program ini dan tidak punya niatan untuk menurutinya.


Setelah dikhianati dan diperlakukan secara tidak layak oleh Walikota sebelumnya, banyak dari mereka mengira kalau Walikota yang baru pasti juga akan melakukan hal yang sama.


Tapi, tidak sedikit juga dari mereka yang masih menaruh harapan kepada sang Walikota baru karena kehidupan yang jauh lebih baik pastinya di impikan oleh semua orang.


Dengan isi pengumuman ini sebagai topik utama dari pembicaraan, seluruh warga kota mulai tidak sabar akan apa yang sebenarnya Walikota baru mereka rencanakan.


...


Belum juga hari menunjukkan pukul sebelas pagi, para warga yang antusias untuk mengikuti program pelajaran yang direncanakan oleh sang Walikota sudah berkerumun di dermaga. Tepatnya di dalam sebuah bengkel besar yang biasanya digunakan untuk membuat atau memperbaiki kapal untuk melaut.


Melihat para warga yang sudah berkumpul, Zweite yang ditugaskan sebagai pengawas program ini mengamati para warga yang sudah berkumpul dari balik topengnya. Di sampingnya adalah Meno yang berada di sana karena di


suruh oleh Lavender sebagai bagian dari latihannya untuk menjadi seorang Penguasa yang baik.


Bersama dengan mereka adalah dua orang lainnya.


Satu orang adalah seorang pria berbadan kekar yang mengenakan pakaian khas Nelayan lengkap dengan sebuah topi jerami di atas kepalanya. Sedangkan di sampingnya adalah seorang gadis muda dengan rambut pirang panjang


bergelombang yang seluruh tubuhnya dihiasi oleh berbagai macam aksesoris modis berbagai rupa.


Si pria kekar bernama Mania sedangkan si gadis muda bernama Asesori.


Mereka berdua bukanlah Locals melainkan Otherworlder dari gelombang ketiga yang Lavender bawa (culik) jauh-jauh dari Sanguine Kingdom.


Alasan utama kenapa mereka berdua di bawa ke Kota Pelabuhan tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjadi tenaga pengajar yang bertugas untuk mengajari para warga Kota Pelabuhan tentang berbagai macam hal.


Mania di pilih karena berbanding terbalik dari penampilannya yang kekar berotot, nilai utama dari dirinya adalah otaknya yang encer dan penuh akan pengetahuan. Apa yang akan dia ajarkan adalah topik mengenai tata usaha dan ekonomi untuk bisa memanfaatkan hasil lautan secara maksimal.


Sedangkan alasan kenapa Asesori di pilih adalah karena keahliannya dalam membuat aksesoris yang cantik dan berharga. Dengan harapan agar bisa membuat cinderamata khas kota Pelabuhan, dia pun di bawa ke sini bersama dengan Mania dan satu orang lagi.


"Hei, Asesori. Apakah kau punya pengalaman mengajar?"


"Kalau itu anak-anak TK maka aku punya banyak. Tapi kalau bapak-bapak kumisan sama Ibu-ibu komplek aku tidak pernah... Kau?"


"Hanya teman sekelas ketika belajar kelompok"


Saling berbisik satu sama lain, mereka berdua tampak gugup mengingat tanggung jawab besar yang diserahkan kepada mereka.


Pada akhirnya waktu menunjukkan tepat pukul sebelas.


Naik ke atas panggung yang telah di sediakan, penampilan Zweite seketika menarik perhatian semua orang.


"Perhatian, terima kasih bagi kalian yang telah meluangkan waktu kalian yang berharga untuk berpartisipasi dalam sesi pelajaran pada hari ini.


Pertama, perlu diketahui kalau kami tidak akan memaksa kalian untuk mengikuti setiap pelajaran yang ada. Kalian bebas untuk mau atau tidaknya mengikuti pelajaran yang akan kami berikan"


Suaranya yang halus sontak membuat semua warga yang mendengarnya dibuat terhanyut dengan setiap kata yang Zweite ucapkan dan tanpa sadar membuat mereka fokus mendengarkan penjelasan dari Zweite dengan lebih seksama.


"Pada kesempatan kali ini, ada dua pelajaran yang bisa di ambil. Yaitu cara bagaimana untuk memproduksi garam dan cara untuk membuat aksesoris dan kerajinan lainnya"


Zweite lalu meminta dua orang yang ada di belakangnya untuk maju.


Mania yang pertama kali menjadi pusat perhatian tampak sangat gugup yang ditunjukkan dengan gerakannya yang tiba-tiba saja menjadi kaku. Berbanding terbalik dengan Mania, Asesori tampak biasa saja ketika seluruh mata tertuju kepadanya. Malahan dia merasa senang ketika mengetahui kalau para Ibu-ibu yang datang melirik dengan kuat setiap aksesoris yang dia kenakan.


"Pria terhormat yang satu ini bernama Tuan Mania. Dialah yang akan mengajari kalian tentang bagaimana caranya untuk memproduksi garam yang berguna untuk mengawetkan makanan membuat masakan kalian menjadi lebih sedap"


Ketika mendengar kalau garam ternyata bisa digunakan untuk mengawetkan serta membuat makanan menjadi lebih enak, kebanyakan warga menjadi bersemangat. Terlebih ketika mereka sudah merasa bosan akan rasa makanan yang begitu-begitu saja.


"Lalu, wanita terhormat ini bernama Nona Asesori. Jika kalian ingin belajar bagaimana cara membuat aksesoris seperti yang saat sedang dia kenakan, maka dengan senang hati Nona Asesori akan mengajari kalian bagaimana


cara untuk membuatnya"


Sontak saja semua perempuan dari segala usia yang hadir pada hari ini memperlihatkan pandangan yang membara.


Sebagai warga Narsist Kingdom sejati, mustahil bagi mereka untuk melewatkan kesempatan untuk mempercantik diri mereka sendiri.


"Baiklah, sekali lagi. Bagi mereka yang ingin tahu bagaimana caranya untuk memproduksi garam, silahkan datang ke tuan Mania. Sedangkan bagi mereka yang ingin belajar bagaimana caranya untuk membuat aksesoris, silahkan


datang ke Nona Asesori"


Atas arahan dari Zweite, para warga pun dengan rapi membagi menjadi dua.


Lebih dari setengah dari mereka datang kepada Mania. Sedangkan sebagian lagi yang kebanyakan berasal dari kalangan perempuan datang ke arah Asesori.


Dengan mereka yang telah mendapatkan murid mereka masing-masing, pelajaran pun dimulai.


Asesori tetap diam di bengkel kapal karena segala peralatan yang di butuhkan untuk membuat aksesoris sudah berada di sana. Asesori hanya tinggal membagikan perlengkapan serta bahan-bahan kepada murid-muridnya dan


tinggal mendemonstrasikan bagaimana cara membuat sebuah aksesoris di hadapan mereka semua.


Dengan pengalamannya ketika mengajari para murid taman kanak-kanak, penjelasan yang diberikan oleh Asesori sangatlah mudah untuk dipahami dan para warga yang mengikuti pelajaran ini pun sangat menyukai gaya mengajar


Asesori.


Di sisi lain, Mania membawa para warga yang ingin belajar di bawahnya menuju daerah pantai yang luas. Karena jarang dikunjungi, membuat pantai ini tidak terawat dan penuh dengan sampah yang hanyut terbawa oleh ombak


laut.


Untungnya sudah ada bagian yang sudah dibersihkan pada malam sebelumnya sehingga mereka bisa menggelar pelajaran di bagian itu.


Terlihat juga kalau tanah di sana sudah di gali hingga menjadi petak-petak tanah yang sebagian dari petak itu sudah terisi oleh air laut, sebagian yang sudah kering dan hanya menyisakan kristal-kristal putih, dan sisanya masih kosong.


Dengan semua mata yang tertuju padanya, Mania yang menekan rasa gugupnya berusaha untuk melakukan yang terbaik.


...


"Respon dari warga yang belajar di bawah Nona Asesori sangatlah baik. Banyak dari mereka yang sudah mampu membuat aksesoris sendiri dan bahkan sudah tidak sabar untuk ikut serta dalam pelajaran selanjutnya.


Sedangkan untuk warga yang belajar di bawah Tuan Mania, karena alasan penjelasan yang sulit, banyak dari mereka yang masih kurang mengerti dengan apa yang dia jelaskan. Namun untungnya masih ada warga yang paham dan mengerti dengan penjelasan yang diberikan dan bahkan sudah mampu untuk mempraktikkan pelajaran yang diberikan kepada mereka"


"Bagus, dengan ini sesi belajar pagi sudah selesai"


Mendengarkan laporan dari Zweite, aku merasa sangat puas akan hasil yang di dapat.


Walau cukup sayang karena hanya ada sedikit orang yang paham tentang bagaimana caranya untuk membuat garam, tapi itu sudah masuk ke dalam perhitungan. Malahan aku terkejut karena belajar bagaimana caranya


membuat aksesoris berjalan dengan sangat lancar.


Seperti yang di duga dari warga Kerajaan ini.


Puas akan laporan yang Zweite berikan, aku pun menoleh kepada sosok perempuan yang berdiri di sampingnya.


"Ini sungguh sebuah awal yang sangat bagus. Sekarang hanya tinggal kursus memasak pada sore hari. Apakah kau sudah siap, Juni?"