A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 118 : Another Battle



Terbaring lemas di atas kasur adalah Lavender yang terpaksa Log Out karena menggunakan kekuatannya secara berlebihan. Meski ini bukan kali pertama dia menggunakan kekuatan namun efek samping yang dia rasakan kali ini jauh lebih parah dari yang sebelumnya.


Dengan kompres di jidatnya, tubuhnya diselimuti oleh pakaian tebal serta selimut yang hangat. Walau keringat membasahi seluruh tubuhnya, hanya rasa dingin membeku yang dia rasakan. Kulitnya yang putih pucat kini semakin memucat hingga membuatnya mirip seperti mayat. Walau matanya terpejam mencoba untuk terlelap, mukanya menampakkan ekspresi kesakitan seolah sedang mengalami sebuah mimpi yang buruk.


Ibu dari Lavender, Orchid alias Anggrek sedari tadi duduk termenung di samping putrinya yang tercinta.


Berkat darah Iblis (Demon) serta darah Penyihir (Witch) yang mengalir di dalam tubuhnya, Lavender selalu tumbuh dengan sehat dan penyakit tidak pernah mampu untuk mencapai tubuhnya.


Hal itu membuat ini menjadi kali pertama Anggrek mendapati putrinya yang tercinta terbaring lemas seperti ini hingga dia tidak tahu harus bagaimana.


Ekspresi cemas tampak jelas di wajahnya. Jika saja kondisi Lavender yang sekarang bisa disembuhkan dengan sihir, maka pasti sudah lama dia menyembuhkan putrinya dengan sihir yang dia kuasai.


Sayang, baik itu sihir ataupun obat-obatan modern tidak mampu untuk meringankan penderitaan yang tengah Lavender rasakan sekarang. Satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menunggu sampai Lavender sadar dengan sendirinya.


Kesedihan yang Anggrek rasakan begitu dalam hingga dirinya tidak menyadari kalau suaminya, Oleander telah berada tepat di sampingnya. Sambil memegangi pundak Istrinya, Oleander pun berkata "Beristirahatlah, karena itu juga yang putri kita butuhkan sekarang".


"Tetap saja, ini adalah kali pertama Malika seperti ini..." dengan air mata yang mulai menetes, Anggrek tidak mampu menyelesaikan perkataannya. Melihat Istrinya yang seperti ini, Oleander hanya bisa berusaha untuk


menenangkannya.


"Kekuatan dari memang sangatlah kuat namun juga berbahaya. Fakta kalau putri kita sampai menggunakan kekuatan itu hingga ke tahap memaksakan dirinya, menandakan kalau musuh yang dia lawan bukanlah lawan sembarangan"


Memasang muka bangga di wajahnya, Oleander benar-benar terlihat senang.


Sebagai seorang ras Iblis (Demon) sejati, lawan yang kuat berarti sebuah pertarungan yang menyenangkan. Dia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk bersenang-senang merasa sangat bangga kalau Putri satu-satunya telah menemukan lawan yang tangguh dan sudah tidak sabar menunggu putrinya untuk bangun dan menceritakan semuanya.


Anggrek yang telah lama sadar kalau pandangan suaminya berbeda jauh dari orang biasa hanya bisa menghela nafasnya.


Akan tetapi, berkat sikap suaminya inilah yang membuatnya mampu menahan kesedihannya dan melihat kedepan. Tepat di hadapannya adalah mesin VR yang biasa Lavender gunakan untuk terhubung ke dunia sana.


Tampak memikirkan sesuatu, Anggrek pun memejamkan matanya untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya menghadap kepada suaminya.


"Katakan, alat itu bisa membawaku ke dunia sana kan?"


Paham betul apa yang baru saja terlintas di kepala Istrinya, sebuah seringai lebar pun tercipta di wajahnya.


...


Kembali ke Dungeon Ibis.


Di kediaman Penyihir Lavender, terlihat sosok Penyihir Lavender yang juga tengah terbaring lemas di atas ranjangnya yang mewah.


Dengan tubuhnya yang ditutupi oleh selimut tebal, tampak sebuah kompres dari daun melekat di jidatnya.


Berada di sampingnya adalah Pelayannya yang paling setia, Lif. Yang dengan tekun merawat Masternya yang kini tengah dalam keadaan tidak berdaya.


Tidak terbayang bagaimana ekspresinya ketika menyaksikan sosok Victoria yang kembali dengan Masternya yang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tanpa mendengarkan penjelasan apapun, Lif segera menghentikan segala


pekerjaannya dan hanya fokus untuk merawat Penyihir Lavender.


Sudah lebih dari sehari semenjak Penyihir Lavender tidak sadarkan diri.


Itu wajar mengingat kalau kesadarannya sudah kembali ke dunia sana dan meninggalkan sebuah tubuh yang kosong.


Meski begitu Lif tetap setia berusaha untuk mengobati Masternya dengan berbagai macam pengobatan berharap kalau itu akan mengurangi penderitaan yang Masternya rasakan.


Baru juga Lif hendak mengganti kompres yang ada di jidat Masternya, terdengar suara ribut dari bawah dan tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki seperti orang yang sedang berlari. Bang! Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka dan menunjukkan sosok Victoria dengan tampang pucat di wajahnya.


Atas tingkahnya yang tidak sopan, Lif yang biasanya lembut juga bisa merasa kesal "Kenapa ribut-ribut seperti itu? Apakah engkau tidak tahu Master tengah beristirahat?".


Seolah tidak mendengarkan perkataan Lif, Victoria segera berteriak "Nyonya Besar telah datang!" yang tentu saja membuat Lif tidak paham akan apa yang baru saja dia ucapkan.


Ketika Lif hendak meminta penjelasan lebih dari Victoria, tiba-tiba saja sosok seorang Wanita muncul dan mendorong Victoria menyingkir dari depan pintu.


Melihat Wanita itu main masuk begitu saja, Lif yang hendak menegurnya segera menelan perkataannya ketika melihat sosok Wanita itu secara keseluruhan.


Mengenakan jubah hitam panjang dengan aksen merah tua, sebuah topi segitiga duduk dengan manis di atas rambut panjangnya yang berwarna ungu gelap. Parasnya sangalah cantik nan rupawan hingga membuat siapapun yang melihatnya akan dibuat terpana.


Akan tetapi, apa yang mengejutkan Lif adalah wajah Wanita itu yang sangat mirip dengan Penyihir Lavender sebelum darah Iblis (Demon)nya bangkit. Hanya saja Wanita itu tampak lebih dewasa baik itu dari segi penampilan


ataupun dari aura yang dia keluarkan.


Meski dirinya sempat terpana, dengan cepat Lif kembali seperti semula dan segera menghentikan langkah Wanita itu.


"Permisi, ini adalah Kamar Pribadi dari Masterku, Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender. Sekarang Beliau sedang dalam masa pemulihan sehingga diriku tidak bisa membiarkan sembarang orang untuk datang menemuinya. Kalau


bisa, sebaiknya Anda memberitahukan siapakah Anda sebenarnya atau Saya terpaksa untuk meminta Anda keluar dari tempat ini"


Atas perkataan Lif yang sopan namun mengandung ancaman, Wanita itu pun menghentikan langkahnya. Matanya yang awalnya terpaku pada Penyihir Lavender yang sedang terbaring lemas di ranjangnya kini akhirnya berpaling ke arah Lif seolah dia baru saja menyadari keberadaannya.


Matanya yang berwarna ungu gelap menatap sosok Lif dari atas hingga bawah sebelum akhirnya berkata dengan lantang "Namaku adalah Orchid La Ciel, Ibunda dari Lavender La Ciel. Aku datang kemari untuk menemui Putriku


dan Pelayan sepertimu tidak memiliki hak untuk menghentikanku".


Mendengar hal ini, Lif segera menundukkan kepalanya "Maaf atas kelancangan hamba" sebelum akhirnya menyingkir dan memberikan jalan bagi Orchid.


Tanpa ada lagi yang menghalangi langkahnya, Orchid segera menghampiri Putrinya yang sedang terbaring lemas sama seperti di dunia yang satunya.


Melihat penampilan di dunia ini untuk pertama kalinya, muncul sebuah perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.


Walau sudah melihat bagaimana penampilan Putrinya yang sudah mendekati seorang Iblis (Demon) ketimbang Manusia biasa, namun penampilan Putrinya disini jauh lebih mendekati seorang Iblis (Demon) sehingga dirinya


tidak tahu harus berkata apa.


Setelah puas membelai rambut Putrinya, Orchid pun bangkit dan menghadap ke arah Lif yang sedari tadi berdiri diam di dekatnya.


"Katakan, siapa yang sebenarnya yang dia lawan hingga membuatnya sampai seperti ini?"


"Mohon maaf, hamba sendiri juga tidak tahu secara mendetail karena hamba tidak berada si sana ketika Master tengah bertarung sambil mempertaruhkan nyawanya. Jika Nyonya hendak bertanya, sebaiknya tanyakan itu kepada Victoria karena dia berada di sana bersama dengan Master"


Victoria yang mendapatkan tatapan tajam dari Orchid tidak punya pilihan lain selain menceritakan semuanya.


"Jadi begitu, dia melawan seorang Iblis (Demon)..."


Tidak pernah dia menyangka kalau ternyata ada seekor Iblis (Demon) yang bersembunyi di Narsist Kingdom. Bukan hanya keberadaannya menyebabkan banyak sekali penderitaan dan kematian, tapi seluruh benua bahkan sampai dibuat bertempur habis-habisan karenanya.


Orchid tidak tahu apakah Iblis (Demon) ini datang kedunia ini dengan sendirinya atau ada seseorang yang memanggilnya. Atau apakah dia adalah Iblis (Demon) yang belum lama ini muncul atau sudah berada di dunia ini


sejak masa lampau.


Yang jelas Iblis (Demon) ini harus dihentikan bagaimanapun caranya.


Setelah berpikir sejenak, Orchid pun tahu apa yang harus dia lakukan.


"Victoria... Antarkan aku ke medan perang"


...


Narsist Kingdom.


Pertempuran melawan Monster masih berlangsung tanpa terlihat adanya akhir dari pertempuran panjang ini. Gelombang Monster terus saja berdatangan sehingga kau akan penasaran darimana mereka semua berasal.


Karena pertempuran masih belum berhenti, Pasukan Aliansi yang lain sampai dipanggil untuk membantu melindungi gudang penyimpanan Buah Iblis.


Langkah ini terbukti efektif karena Pasukan Aliansi berhasil memukul mundur para Monster menjauh dari dinding pertahanan.


Hanya tinggal sehari lagi sampai Penyihir Cardinal menyelesaikan formasi yang mampu menyegel Iblis (Demon) itu sehingga dia tidak lagi bisa membuat masalah.


Karena hanya tinggal sehari lagi, Pasukan Aliansi pun tidak lagi menahan diri dan bertempur habis-habisan berharap untuk bisa melenyapkan semua Monster itu.


Sayang, semua tidaklah berjalan sesuai rencana.


"Serangan!!! Pasukan Monster sedang menuju Ibukota!!!"


Berita ini sontak mengejutkan semua orang.


Karena gudang penyimpanan tengah diserang, membuat pemindahan Buah Iblis menjadi terhenti dan semua buah-buah itu kini sedang disimpan di gudang sementara yang ada di Ibukota.


Menerima kabar ini, Pasukan Aliansi pun tidak tinggal diam.


Di pimpin langsung oleh Raja dari Ferox Kingdom, Leonidas Leo. Sebuah pasukan pertahanan pun dibentuk untuk melindungi Ibukota.


Dengan surai hitamnya yang tertiup oleh angin, Raja Leonidas berdiri dengan gagah di atas dinding pertahanan sembari memandangi pasukan Monster yang perlahan mendekati Ibukota. Dengan matanya yang tajam, Raja Leonidas berhasil menyadari kalau ada yang aneh dari pasukukan Monster yang datang.


Walau mereka semua memiliki wujud yang mengerikan dengan proporsi tubuh yang tidak proporsional, namun setidaknya mereka masih memiliki wujud humanoid sebagaimana dulunya mereka hanyalah Manusia biasa.


Akan tetapi, dari sekian banyak Monster yang terlihat. Raja Leonidas menemukan ada Monster yang berjalan dengan keempat kakinya di atas tanah dan ada juga yang memiliki ekor dan kepala seperti Makhluk Buas.


Atas penemuannya ini, sebuah kemungkinan pun terlintas di kepalanya.


"Jadi, Anda juga telah menyadarinya yah"


Pangeran Lapelis dengan busur panah di punggungnya berjalan mendekati Raja Leonidas. Di sebelahnya adalah pemanah lainnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Jenderal Angin dari Utara, Boreas.


Melihat pasangan yang tidak biasa ini, Raja Leonidas hanya bisa tersenyum mengejek.


"Heh, hanya orang buta atau orang bebal saja yang tidak akan menyadarinya" dengan matanya yang masih terpaku pada pasukan Monster, sebuah ejekan pun keluar dari mulutnya "Siapa yang menyangka kalau mereka sampai


seputus asa itu hingga binatang liar pun mereka jadikan kawan".


Walau Jenderal Boreas merasa aneh ketika melihat Raja Leonidas yang mengatakan itu meski penampilannya lebih menyeramkan daripana Makhluk Buas lainnya. Dia memutuskan untuk tidak mengucapkan apa-apa karena


dirinya bisa merasakan dengan jelas kalau Kekuatan Raja Leonidas sama tingginya dengan Raja Pulchritudo.


Demi mengalihkan perhatiannya, Jenderal Boreas memandangi Pasukan Aliansi yang telah berbaris rapi di luar dinding pertahanan.


Tanpa memedulikan dari Kerajaan mereka berasal, seluruh Pasukan berbaris berdasarkan peran mereka masing-masing.


Berbaris dengan rapi di barisan paling depan adalah pasukan perisai yang di pimpin oleh Doragon. Berada tepat di belakang mereka adalah pasukan tombak yang di pimpin oleh Yari. Di bagian sayap kiri dan kanan adalah mereka yang bersenjatakan dengan pedang, kapak, serta senjata jarak dekat lainnya. Pasukan sayap kiri di pimpin oleh Bearnard sementara pasukan sayap kanan di pimpin oleh Turbo. Pada barisan tengah adalah pasukan sihir yang di pimpin oleh Penyihir Rosemary sementara di barisan paling belakang adalah pasukan pemanah yang di pimpin oleh Pangeran Lapelis.


Mengingat keahliannya, Jenderal Boreas secara otomatis dimasukkan ke dalam Pasukan pemanah.


Walau ini harus membuatnya berada di bawah perintah seseorang yang dulunya dia sebut sebagai lawan, terlebih dia adalah seorang Elf, membuat perasaan Jenderal Boreas menjadi campur aduk.


Sebagai seorang warga Narsist Kingdom sejati, susah bagi dirinya untuk menerima perintah dari ras Elf yang selalu di anggap sebagai ras sesat karena telah merenggut kecantikan serta keabadian dari warga Narsist Kingdom. Secara bersamaan, dirinya juga harus dibuat takjub oleh kemampuan memanah Pangeran Lapelis yang setara atau bahkan melebihi dirinya sendiri. Terlebih pihak lain adalah seorang Pangeran yang secara otomatis mengangkat derajatnya jauh lebih tinggi ketimbang seorang Jenderal seperti dirinya.


Lupakan itu.


Strategi awalnya adalah untuk pasukan perisai menahan serangan musuh secara langsung dengan pasukan tombak membantu mereka dari belakang. Sementara para Monster tertahan di barisan depan, pasukan dari sayap kanan dan kiri akan segera bergerak mengapit para Monster dari kedua sisi dan fokus untuk menjatuhkan mereka sebanyak mungkin.


Sedangkan pasukan sihir akan membantu dari belakang serta pasukan panah akan fokus untuk menembak dari jauh.


Walau strategi ini terbilang sederhana, tapi karena para Monster tidak berakal itu bisanya hanya menyerang dari depan saja, maka ada kesempatan besar kalau strategi ini akan berhasil asalkan pasukan pembawa perisai sanggup untuk menahan serangan musuh yang pastinya akan datang dengan kekuatan penuh.


"Bagaimana dengan tumpukkan Buah Iblis sialan itu? Apakah sudah dilindungi dengan benar?"


Melihat kalau pembicaraan Raja Leonidas dengan Pangeran Lapelis masih berlanjut, Jenderal Boreas pun keluar dari lamunannya dan kembali fokus untuk mendengarkan.


"Untuk masalah itu Anda tenang saja, semua Buah Iblis sudah dipindahkan ke tempat penyimpanan bawah tanah yang letaknya berada jauh di dalam selokan yang sudah tidak digunakan. Dan terima kasih berkat artefak yang


Pangeran Draco ambil dari Kerajaannya, tingkat keamanan tempat penyimpanan itu bisa dijamin"


"Ah, perisai itu yah!" mengingat kembali sebuah perisai yang Pangeran Draco tunjukkan sebelumnya, Raja Leonidas kembali merasa bersemangat.


Ketika dirinya pertama kali melihat perisai itu, Raja Leonidas merasa kagum akan keterampilan orang yang menempa perisai itu hingga dirinya merasa ingin memiliki perisai itu untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, karena


perisai itu tergolong sebagai senjata pusaka dari Drakon Kingdom, mau tidak mau Raja Leonidas mengurungkan niatnya.


Menggelengkan kepalanya, Raja Leonidas yang berusaha untuk menghilangkan hasrat yang timbul di hatinya segera kembali mengarahkan fokusnya kepada pasukan Monster yang kian mendekat.


Jumlah Pasukan Aliansi yang berada di bawah komandonya ada total 15.000 prajurit. Sedangkan untuk jumlah Monster yang datang menyerang, diperkirakan ada total 8.000 dari mereka. Walau jumlah Pasukan aliansi jauh lebih banyak, namun ketika menghitung perbedaan kekuatan antara individu, Raja Leonidas masih belum percaya diri apakah jumlah pasukan yang ada cukup untuk menahan invasi dari para Monster.


Bahkan ketika dia menghitung kekuatan dari individu khusus seperti Oriens yang kini sedang berada di garis depan, Pangeran Lapelis yang kini sedang berada di sampingnya atau bahkan ketika Alchemist Kehancuran Colette telah mengulurkan bantunanya, Raja Leonidas masih tidak berani untuk terlalu percaya diri dan meremehkan para Monster yang katanya tidak berakal itu.


Satu-satunya hal yang bisa membuat hatinya tenang adalah fakta kalau dia hanya harus menahan para Monster ini selama sehari.


Karena ketika Penyihir Cardinal menyelesaikan formasi sihirnya, maka pertempuran panjang ini sama saja dengan telah berakhir.


Melihat kalau saatnya telah tiba, perintah pun dia turunkan.


"Pasukan! Bersiap!!!"


Suaranya yang lantang menggelegar nyaring ke seluruh medan pertempuran.


Tanpa perlu membuat Kapten Pasukan menghantarkan perintahnya, pasukan perisai telah membenamkan Giant Shield mereka dengan kuat ke tanah. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Skill seperti (Fortress) mereka aktifkan yang sontak membuat dinding pertahanan mereka menjadi jauh lebih kokoh.


Mengikuti dari belakang adalah pasukan bertombak yang secara terlatih mengarahkan Long Spear mereka ke depan tepat di antara sela-sela perisai sembari membenamkan bagian belakang tombak mereka ke tanah.


Menyusul mereka adalah pasukan pemanah yang telah menarik busur mereka dengan kencang dan mengarahkannya ke angkasa.


Pangeran Lapelis serta Jenderal Boreas juga turut menarik busur mereka masing-masing. Khusus bagi mereka berdua, efek pusaran angin yang dahsyat muncul pada mata panah mereka yang membuat penampilan mereka


terlihat jauh lebih mencolok ketimbang pemanah yang lainnya.


Di sisi lain, pasukan sihir sekarang sedang fokus untuk memperkuat pasukan yang lain. Ada yang memperkuat pertahanan pasukan perisai, dan ada juga yang memperkuat daya serang dari pasukan pemanah.


Menghentakkan Staffnya dengan kencang ke atas tanah, Penyihir Rosemary mengaktifkan sihir (Aurora) yang menciptakan sebuah Aurora yang indah di angkasa. Walau terlihat cantik, sihir ini terbukti sukses menurunkan kekuatan dari para Monster yang datang menyerbu.


Melihat kalau jarak pasukan Monster hanya tinggal beberapa ratus meter lagi dari pasukan perisai, Raja Leonidas pun segera memberikan perintah keduanya.


"Pemanah...!!! ...Tembak!!!"


Bersamaan dengan perintah itu, Whooosh...! dua pasang panah seketika melaju kencang yang lalu di susul oleh panah-panah lainnya.


Meninggalkan jejak angin hijau di belakang mereka, kedua anak panah yang melaju duluan telah sampai di target mereka masing-masing.


Booom!!! Ledakan besar tercipta dengan efek pusaran angin yang mencincang segala yang hal yang mereka sentuh. Berkat serangan itu setidaknya ada selusin Monster yang terluka parah namun mereka masih belum gugur.


Melihat hal ini, sontak Pangeran Lapelis serta Jenderal Boreas terkejut karena serangan mereka gagal untuk merenggut nyawa target mereka. Ketika serangan dari kedua pemanah terkuat gagal untuk menjatuhkan bahkan


seekor Monster saja, panah-panah yang akhirnya menyusul tentu tidak punya kesempatan.


Meski serangan pertama mereka gagal, namun itu tidaklah mematahkan semangat mereka. Malah sebaliknya, hal ini membuat kedua pemanah terbaik untuk semakin terpacu untuk mampu menghabisi Monster itu dengan satu serangan saja.


Ketika gelombang panah kedua dilepaskan, perintah ketiga akhirnya diturunkan.


"Pasukan sihir! Berisap...!!! Tembak!!!"


Bergabung bersama hujan panah adalah hujan api, air, angin, hingga tanah dan cahaya ikut memborbardir para Monster yang kian mendekat.


Boom! Booom! Boom!


Tanpa ampun ratusan serangan sihir ditembakkan ke arah para Monster ganas. Debu tebal mulai berterbangan ketika suara ledakan bergema di telinga semua orang.


Belum sempat asap debu mereda, pasukan Monster muncul dari balik asap dengan tampak menyeramkan di wajah mereka serta luka menganga di sekujur tubuh mereka.


Melihat penampilan para Monster, sontak membuat hati para pasukan perisai menjadi gentar. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena ada seseorang yang tidak akan mengampuni mereka ketika tahu kalau rasa takut telah melanda diri mereka.


"Jangan takut!" dengan sebuah Greatsword di tangannya, Oriens berdiri di barisan paling depan dengan pasukan perisai berada jauh di belakangnya. "Mereka tidak lebih dari makhluk tidak berakal. Apakah kau adalah seorang pengecut atau orang dungu yang takut kepada makhluk yang jauh lebih rendah dari dirimu sendiri?" bersamaan dengan pidatonya yang menggelegar, sebuah aura panas keluar dari tubuhnya yang membakar bahkan permukaan tanah yang ada di dekatnya.


Melihat penampilan Oriens yang gagah berani, seketika mereka melupakan rasa takut yang sebelumnya mereka rasakan dan kini telah digantikan oleh rasa kagum dan hormat kepada sosok Oriens yang melambangkan seorang Kesatria sejati.


Bahkan Doragon yang seharusnya menjadi Kapten mereka seolah tidak berdaya ketika perannya di ambil begitu saja oleh Oriens.


Melihat wajah penuh tekad dari para pasukan perisai, sebuah seringai puas pun tercipta di wajah Oriens yang cantik jelita.


Sembari menyelimuti Greatswordnya dengan api yang membara, Oriens pun mendeklarasikan dengan lantang...


"Dengan pedang ini aku bersumpah! Tidak ada satupun dari kalian yang boleh melewati kami semua!"


Mengancungkan Greatswordnya kedepan, Oriens pun menyambut kedatangan para Monster dengan seringai di wajahnya.