
Terbangun di ranjangku seperti biasa, entah mengapa aku merasa senang tanpa alasan. Bahkan saat aku sedang membasuh muka di kamar mandi, terlihat kalau aku sedari tadi cengar-cengir sendiri tanpa ada alasan yang jelas.
Baru pada saat sarapan aku mengetahui kenapa aku bisa begini.
"Persiapan dengan Putri Samira sudah selesai. Kau bisa melakukan pentahbisan kepadanya kapan saja"
"Ah, benar!"
Bagaimana aku bisa lupa?!
Putri Samira. Adik dari Canary yang dikorbankan kepada kami agar Canary bisa berpindah dunia demi bisa bersama dengan suami dan anak-anaknya.
Setelah Putri diserahkan kepada kami, Papa langsung membawanya ke suatu tempat yang isinya adalah sebuah kolam yang berisi darah segar. Menelanjangi dan mengikat Putri agar tidak bisa bergerak, Papa pun mengajariku
tentang Rune Iblis (Demonic Rune) yang bisa digunakan untuk mengubah orang biasa menjadi Setan (Devil) secara paksa.
Setelah mengukir Rune secara langsung di seluruh permukaan kulitnya, Putri pun dilemparkan ke dalam kolam darah dan dibiarkan begitu saja selama sebulan penuh lamanya.
"Setelah Putri Samira keluar dari kolam, pastikan untuk langsung mengikatnya sebagai bawahanmu. Apakah kau memiliki sihir yang mampu mengekang orang secara paksa?"
"Papa tenang saja, aku punya [Slave Magic]"
"Bagus sekali, kebetulan malam ini adalah malam bulan purnama. Pastikan kau terjaga dan tidak sedang berada di dunia sana pada saat itu"
Selagi aku dan Papa berbincang begini, tampak Mama sedari tadi tidak senang dengan isi pembicaraan kami. Namun, karena ini adalah ide dari Papa, maka Mama tidak punya pilihan lain selain diam.
"Ah, benar juga. Apakah saat Nenek dan Mary berkunjung dulu Papa beneran memberikan majalah militer kepada Mary?"
"Tunggu, apa!"
Di bawah tatapan tajam Mama, untuk pertama kalinya Papa terlihat gugup.
"Sayang... Bisa jelaskan?"
"Itu hanya sebuah suvenir. Selain majalah militer aku juga memberikannya majalah fashion dan buku masakan. Majalah militer adalah bonus"
Ah, sekarang aku paham.
Alasan kenapa Papa gugup tampaknya karena Mama dan Papa telah membuat sebuah perjanjian.
Sebuah perjanjian yang menyebutkan kalau Mama akan memalingkan mata kepada tindakan apa saja yang Papa ambil selama itu tidak menyakiti Sol Ciel.
Dan karena masalah tentang Mary sangat berhubungan erat dengan Sol Ciel, membuat Papa tidak kuasa untuk tidak berkeringat dingin ketika ditanyai oleh Mama.
Baiklah, mari kita tambah minyaknya!
"Ngomong-ngomong Mary sekarang menjadi sponsor utama dalam projek pembuatan senjata modern yang dilakukan oleh para Pemain. Mary bahkan sudah meminta untuk dibuatkan Tank miliknya sendiri"
"Oleander!!!!"
Setelah sarapan Mama pun pamit belanja dan pulang sambil membawa baju baru dan perlengkapan wanita lainnya yang kalau ditaksir, dengan uang yang sama kau bisa membeli dua buah mobil Sport langsung dari pabriknya.
Tidak perlu dikatakan lagi siapa yang sebenarnya membayar semua itu.
"Wahai putriku, selagi Ibumu pergi belanja, bagaimana kalau aku melatihmu tentang regenerasi?"
Umm... Papa?
...
Pada akhirnya malam pun tiba.
Mengenakan pakaian cosplay Penyihir koleksiku lengkap dengan topi kerucutnya, sendirian aku turun ke bawah basemen rumah yang belum lama ini aku ketahui.
Melewati lorong-lorong yang diterangi oleh cahaya obor yang menyala otomatis di saat aku mendekatinya, aku akhirnya tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu besi bergambarkan pemandangan sebuah kolam mendidih dengan banyak bayangan orang yang tersiksa sedang berenang di dalamnya.
Tanpa perlu menyentuhnya, pintu di hadapanku terbuka sendiri dan menampakkan apa yang ada di baliknya.
Sebuah kolam darah.
Dengan hanya menyisakan sedikit ruang untuk berpijak, seisi ruangan ini adalah sebuah kolam yang berisikan darah merah segar yang baunya sangatlah menyengat.
Walau permukaan kolam itu tampak tenang, secara samar aku bisa merasakan sebuah keberadaan di dalam kolam itu.
Tanpa merasa takut ataupun jijik, kakiku menyentuh permukaan kolam yang menimbulkan sebuah riak air yang menyebar ke seluruh permukaan kolam. Saat aku akhirnya mencelupkan sebelah kakiku, aku bisa merasakan aliran sihir yang sangat kental mulai meresap dari kakiku yang berada di dalam kolam.
Berjalan di kolam yang tidak di sangka cukup dangkal hingga permukaan darahnya hanya mencapai lututku, aku berjalan hingga sampai tepat di depan keberadaan yang aku rasakan.
Mencelupkan kedua tanganku, tidak butuh banyak usaha bagiku untuk akhirnya menyentuh sesuatu di dasar kolam.
Dengan kuat aku pun menariknya keluar dari dalam kolam darah.
Apa yang aku tarik dari dasar kolam adalah sesosok gadis muda yang seluruh tubuhnya berlumuran merah oleh darah. Meski begitu, terlihat rune-rune yang menyala keunguan bersinar di seluruh permukaan tubuh polosnya.
Matanya masih terpejam. Walau lemah, namun dia masih bernafas.
Melihat wujudnya sekali lagi, aku tidak melihat adanya perubahan yang berarti. Akan tetapi, kualitas Mana yang ada di dalam tubuhnya bukanlah Mana milik Manusia.
Sekarang yang harus aku lakukan membuat hubungan antara tuan dan bawahan padanya.
Akan tetapi, menggunakan [Slave Magic] begitu saja akan terasa membosankan.
Oleh karena itu, aku menambahkan beberapa hal.
Menggunakan «Soul Control» dari yang walau Item tersebut tidak ada di dunia ini tapi entah mengapa aku masih bisa mengaksesnya, aku mulai mengutak-atik jiwa Putri dan menanamkannya dengan aspek Nafsu dan sedikit benih dari [Forest Magic] yang adalah keahlianku.
Seolah bereaksi dengan apa yang baru saja aku lakukan, Rune yang ada di tubuhnya mulai bergerak dan menyesuaikan diri dengan «Soul Control» yang telah sepenuhnya mengubah komposisi jiwa dari Putri menjadi sesuai dengan keinginanku.
Sebagai sentuhan terakhir, aku memberikannya kondensasi Mana milikku yang karena dia sedang tidak sadarkan diri. Aku memberikannya dengan cara dari mulut ke mulut.
Benar sekali, aku menciumnya tepat di bibir.
Yakin kalau Putri telah meminum seluruh Mana yang aku berikan, barulah aku menggunakan (Submit) dari [Slave Magic] padanya.
Pada saat aku menggunakan (Submit), Rune yang ada di tubuhnya kembali bereaksi.
Kali ini Rune-Rune tersebut mengeluarkan cahaya ungu yang lebih terang sambil bergerak dengan cepat ke arah lehernya hingga membentuk sebuah tato kerah yang berbeda dari budakku yang biasanya.
Kalau biasanya budakku akan memiliki tato kerah berbentuk rantai yang berduri dengan simbol sebuah pupil dengan tiga buah tanduk, kerah yang ada di leher Putri berbentuk seperti tanaman berduri yang melilit sebuah gembok dengan simbol pupil mata dengan tiga buah tanduk.
Jika aku melihat lebih dekat, maka akan terlihat kalau seluruh tanaman berduri itu sebenarnya terdiri dari Rune-Rune kecil yang tadi memenuhi tubuhnya.
"Sudah selesai?"
Dan di sini aku berharap kalau ada cahaya terang yang lebih meriah yang terjadi. Atau seluruh darah di ruangan ini mengering karena di serap oleh Putri.
Sialnya tidak ada satupun yang terjadi.
Karena secara teknis aku sudah selesai dan tidak ada lagi yang bisa aku lakukan di sini, aku pun keluar ruangan sambil menyeret Putri yang berlumuran darah dan masih belum sadarkan diri.
...
Kembali ke Narsist Kingdom.
Aku yang baru Log In segera di dandani oleh Percy dan Glory. Sementara itu Victoria sedang bersantai di lantai sementara Percy berjaga di pintu kamar.
Zweite tidak ada di sini karena dia bertugas untuk menemani Luna yang masih bermalam di rumah si Pangeran kedua, Argenti ol Narsist.
Lima hari sudah berlalu sejak Luna di bawa pergi oleh Pangeran Argenti.
Jika rumor yang dikatakan benar, maka Luna akan dikembalikan dua hari lagi. Jika ternyata rumor itu salah, maka dengan senang hati aku akan pergi 'mengunjungi' Pangeran Argenti di kediamannya yang jauh di atas gunung
sana.
Berkat Zweite aku jadi tahu posisi Luna yang sebenarnya. Dan berdasarkan pengamatan dari Glaza, mansion milik Pangeran Argenti seluruhnya dikelola oleh para gadis dari berbagai macam ras.
Baik itu Elf, Dwarf, Beastman, hingga Arachne dan Lamia semua ada di sana.
Aku tidak melihat ada kerah di leher mereka, jadi mereka bukanlah budak. Mereka juga mengenakan pakaian Maid serta seragam resmi lainnya, itu berarti mereka benar-benar bekerja di sana.
Walau setiap malam Pangeran Argenti selalu dihabiskan bersama Luna, saat siang hari dia akan 'menyapa' para gadis di sana satu-persatu dengan mesra dan penuh dengan kasih sayang.
Sungguh... "Sebuah harem. Heh, dia memang seorang Pangeran".
Tidak aku sangka kalau aku akhirnya akan melihat harem yang sebenarnya. Terlebih ini adalah harem milik seorang Pangeran suatu Kerajaan yang seluruh anggota haremnya terdiri dari gadis dari berbagai macam ras. Sungguh sebuah selera yang dimiliki oleh Pangeran Argenti.
Aku bahkan yakin kalau dia sebenarnya sudah tahu siapa Luna yang sebenarnya jauh sebelum dia menyapanya di kasino. Itulah kenapa dia menjadi tertarik pada Luna dan bahkan membiarkan Luna berada di dalam wujud Setan (Devil) sepanjang waktu.
"Oh, Luna, muridku sayang. Kau sudah dewasa"
Milim pasti akan menari riang gembira ketika mendengar berita ini. Terlebih pasangan pertama Luna adalah seorang Pangeran.
Baiklah, sudah cukup soal Luna.
Selesai mengenakan pakaian yang aku sudah mulai bosan untuk menjelaskannya, pokoknya ini sangat meriah. Aku mempersilahkan masuk seorang bawahan Dean untuk mengaplikasikan [Illusion Magic] pada diriku dan juga Pelayanku agar kami bisa terlihat seperti Manusia pada umumnya.
Hah, karena Luna tidak ada di sini maka aku sampai harus meminta kepada Dean untuk meminjamkan bawahannya yang mampu menggunakan [Illusion Magic] atau aku tidak akan mampu untuk keluar dan mencari informasi.
Selama lima hari ini aku sudah mengunjungi sebagian besar dari Ibukota Narsist Kingdom.
Terkecuali pusat kota di mana Istana Raja berada, aku sudah mengunjungi distrik perbelanjaan, distrik umum, distrik hiburan, hingga ke daerah pinggiran kota tempat di mana orang-orang yang di anggap 'kotor' berdiam.
Tempat yang akan aku kunjungi hari ini akan menjadi tempat terakhir yang bisa aku kunjungi di Ibukota.
"Aku tidak percaya tempat seperti bisa berada di Ibukota"
Tidak peduli dari mana aku melihatnya, apa yang ada di hadapanku sekarang tidak bisa di deskripsikan lebih akurat lagi selain dengan menyebutnya sebagai sebuah desa.
Aku tidak sedang bercanda. Apa yang ada di hadapanku sekarang benar-benar adalah sebuah desa dengan bangunan terbuat dari kayu dan beratapkan jerami.
Mengingat tempat ini secara teknis berada tepat di luar dinding Ibukota, kurasa wajar jika tidak terlalu diperhatikan oleh pihak Kerajaan. Tapi bukankah perbedaannya tidak terlalu besar? Dari kota futuristik aku merasa di tarik kembali ke desa abad pertengahan.
Berjalan di atas jalan tanah, aku tidak memedulikan tatapan para penduduk setempat yang memandangiku dengan tatapan penuh waspada.
Dari yang terlihat, kebanyakan penduduk di sini adalah pekerja kasar.
Seperti buruh, pekerja bangunan, Blacksmith, hingga aku bisa melihat petani yang sedang bekerja di sawah dan ladang di kejauhan.
Selagi aku berjalan di jalanan yang tidak di sangka ramai, secara tidak sengaja aku menemukan sebuah sosok yang tidak aku sangka bisa aku temukan di tempat seperti ini.
Dia adalah seorang gadis muda dengan rambut pirang panjang bergelombang dan mata biru yang cantik. Wajahnya akan menjadi menarik jika bukan karena bekas luka di pipi kirinya. Mengenakan gaun sederhana khas gadis desa
pada umumnya, dia terlihat sedang sibuk menyapu pelataran toko roti.
Walau dia terlihat seperti gadis desa pada umumnya, tapi aku tahu kalau dia tidaklah sesederhana itu.
Meninggalkan burung hantuku yang lain untuk terus mengawasinya, aku terus berkeliling sambil di dampingi oleh Percy dan Glory.
...
Namaku adalah Meno Von Avanzo.
Aku adalah putri kedua dari Keluarga Bangsawan Avanzo di Narsist Kingdom.
Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang akan menjadi pewaris utama, dan dua orang saudari.
Saudari pertama yang lebih tua dariku sekarang sudah menikah dengan pewaris dari Keluarga Bangsawan lain dan sekarang sudah dikaruniai oleh seorang Putra. Sedangkan saudariku yang lain yang jauh lebih muda dariku kini
sudah menginjak usia 10 tahun.
Terlahir dari Keluarga Viscount, aku yang hanya putri kedua tetap mendapatkan Pendidikan ketat khas putri seorang Bangsawan.
Aku di didik dengan ketat untuk mempersiapkan diriku agar siap menjadi seorang Pengantin dari Putra Bangsawan lainnya. Itu adalah hal yang umum di sini, bahkan aku sebenarnya sudah di jodohkan dengan seorang Putra dari Keluarga Earl yang satu tingkat di atas kami.
Aku awalnya senang akan hal ini.
Bukan hanya itu berarti aku mampu menunaikan tugasku sebagai seorang gadis Bangsawan, tapi aku juga bisa membahagiakan orangtuaku yang sudah berusaha keras demi pendidikanku.
Kehidupanku terasa sangat lancar dan damai hingga aku berharap agar ini bisa bertahan selamanya.
Sayang, itu semua hanya angan belaka.
Kota Ayu.
Sebuah benteng berjalan yang di gali oleh pihak Kerajaan tidak jauh dari reruntuhan yang berada tepat 10 Km dari Ibukota.
Pada awalnya benteng itu terlihat biasa saja sampai akhirnya di sulap menjadi sebuah kota benteng yang megah atas perintah Yang Mulia.
Aku tidak pernah menginjakkan kakiku ke kota itu. Namun dari cerita dari kakak tertuaku, dia berkata kalau isinya adalah sebuah Kota yang tidak kalah cantik dengan pusat Ibukota. Mendengar ini, bukan hanya aku tapi bahkan adikku juga dibuat tercengang karenanya.
Menggunakan kuasanya, Ayahku berhasil membeli sebuah lahan di dalam Kota Ayu dan langsung pindah ke sana sambil membawa Ibu dan Kakak tertuaku.
Tidak hanya mereka, saudari pertama juga berada di sana karena ikut dengan suaminya. Serta orang yang adalah tunanganku juga ikut ke sana bersama Keluarganya.
Meninggalkan aku dan adikku di Ibukota, Kota Ayu berangkat sambil membawa banyak Keluarga Bangsawan demi bisa 'membuka lahan' di Ferox Kingdom tempat para Beastman bersarang.
Rencana awalnya adalah menggunakan Kota Ayu untuk menghancurkan kota-kota Beastman dan secara perlahan memperluas wilayah kekuasaan Narsist Kingdom. Karena itulah mereka membawa banyak Keluarga Bangsawan yang nantinya akan ditugaskan untuk mengurus wilayah yang baru ditaklukkan. Aku dengar kalau pihak Kerajaan juga berniat untuk memperbudak para Beastman dan menjadikan mereka sebagai pasukan bunuh diri saat menyerang Sanguine Kingdom nantinya.
Tapi, siapa sangka kalau Kota Benteng yang di gadang-gadang untuk tidak akan pernah tertembus bisa hancur lebur hanya dengan satu serangan dari pihak musuh.
Rumor mengatakan kalau pelaku utama yang menghancurkan Kota Ayu adalah seorang Alkemis yang dijuluki sebagai sang Alkemis Kehancuran.
Aku tidak peduli siapa dia sebenarnya. Yang aku pedulikan sekarang adalah fakta kalau Kota Ayu telah hancur beserta semua orang yang menaikinya telah tiada habis tidak bersisa.
Termasuk Keluargaku, tunanganku, dan masa depanku.
Meninggalkan aku dan adikku, kami berdua di paksa untuk bekerja keras agar bisa menyambung hidup.
Aku awalnya berniat untuk melanjutkan usaha milik Ayahku, tapi sialnya pamanku malah membohongiku dan sukses menyita seluruh aset milik Ayah dan hanya meninggalkan sebuah lahan kecil di luar Ibukota untuk aku dan
adikku tempati.
Terusir dari kediaman kami sendiri, aku dan adikku terpaksa mendiami sebuah gubuk reyot dengan sebuah ladang kecil di sebelahnya.
Karena kami berdua tidak tahu apa-apa tentang dunia di luar dunia Bangsawan, kami jadi kewalahan hanya untuk bisa bertahan hidup.
Awalnya kami berniat untuk mengolah kembali ladang kecil yang kini terbengkalai. Tapi bahkan aku pun tahu kalau untuk bisa bercocok tanam membutuhkan benih yang kami tidak tahu bagaimana bisa mendapatkannya.
Untuk itu aku sampai memberanikan diri untuk bertanya pada seorang petani yang sedang mengolah ladangnya yang tidak jauh dari rumah baru kami.
Pada awalnya aku sempat khawatir kalau dia bisa tahu identitasku sebagai bekas bangsawan. Tapi ternyata itu tidak perlu karena petani itu sama sekali tidak mengenali wajahku. Kurasa itu wajar saja, mengingat semasa
menjadi bangsawan, aku terus menutupi separuh wajahku dengan topeng dan aku bahkan jarang keluar rumah.
Untungnya petani yang aku tanyai itu baik hati dan mau mengajariku tentang tata cara untuk bercocok tanam.
Tidak aku sangka kalau berkebun itu ternyata bukanlah sebuah perkara mudah seperti yang aku bayangkan sebelumnya.
Berusaha keras untuk mengingat apa yang baru saja diajarkan, aku pun mengucapkan terima kasih kepada petani baik hati itu.
Tapi... Apakah cara bicaraku itu aneh?
Aku sudah di didik keras untuk selalu berbicara seperti ini. Tapi, karena sekarang aku bukan lagi bangsawan kurasa tidak apa-apa jika aku bicara sedikit lebih vulgar?
Setelah pulang ke rumah, aku menceritakan kepada adikku tentang apa yang baru saja aku pelajari. Melihat adikku menyimak dengan penuh perhatian, aku jadi sedikit senang karena setidaknya aku tahu kalau aku tidak sendiri.
Namun, walau sekarang kami tahu bagaimana caranya menanam benih, tapi kami tidak punya uang untuk membeli benih serta peralatan yang dibutuhkan.
Dengan itu di putuskan kalau mulai besok kami akan mencari pekerjaan.
...
"Kalau sudah selesai membersihkan kamar di atas kau sudah boleh pulang"
"Iya!"
Menjawab pemilik penginapan tempat aku bekerja, aku pun segera membersihkan ruangan terakhir tempat para pelancong biasa menginap.
Demi bisa mendapatkan cukup uang untuk bertahan hidup, aku sampai harus menerima pekerjaan di banyak tempat sekaligus.
Bekerja di toko roti pada pagi hari, kedai makanan pada siang hari, dan terakhir adalah membantu di penginapan pada malam hari.
Meski begitu, bayaran yang aku dapat bahkan tidak mencapai 1 keping Perak.
Tapi, untuk bertahan hidup, 1 Perak itu sudah lebih dari cukup untuk menghidupi aku dan adikku dalam waktu dua hari.
Mendapatkan bayaranku, aku pun bergegas pulang sambil membawa makan malam untuk adikku yang sudah menunggu di rumah.
"Aku pulang!"
Kembali ke rumah kecil kami, aku sudah tidak sabar untuk makan malam bersama adik kecilku tercinta.
"Ah, Kakak! Lihat baju baru adek!"
Karena kehilangan hampir semua harta kami, hanya baju bekas yang sudah lusuh yang kami miliki. Atau seharusnya itulah yang terjadi. Namun, sekarang, entah bagaimana caranya adikku sedang mengenakan sebuah gaun cantik seperti saat kami masih menjadi bangsawan dulu.
"Dari mana kau mendapatkan gaun itu?!"
Menahan pundak adikku yang sedang berputar-putar demi memamerkan gaun cantik yang dia kenakan, aku yang panik kalau adikku telah di tipu tidak menyadari sosok yang sedari tadi berdiri tepat di belakang adikku.
"Diriku yang memberikannya. Kalau mau, aku juga bisa memberikan satu set gaun padamu"
Melihat ke arah sumber suara, aku mendapati sesosok perempuan misterius yang mengenakan gaun hitam serta sebuah topi segitiga di atas rambutnya yang panjang dan lurus. Setengah wajahnya tertutup oleh topeng berbentuk aneh sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya dengan begitu jelas.
Walau hanya setengah wajahnya yang tampak, tapi jelas kalau dia adalah seorang wanita yang cantik jelita.
"Siapa kau!"
Dengan hanya separuh senyuman yang terlihat, dia pun berkata.
"Perkenalkan, Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender La Ciel. Alasanku datang kemari adalah untuk menawarkanmu cara untuk terbebas dari jerat kemiskinan dan mengangkatmu kembali menjadi seorang gadis Bangsawan sebagai mana kau seharusnya... Apakah kau tertarik?"