
Dengan menggunakan aku membuka sebuah portal dari batang pohon yang terbelah pada bagian tengahnya hingga membentuk sebuah portal yang terhubung langsung dengan rumahku di Hutan Ibis.
Walau hanya beberapa hari aku pergi, menginjakkan kakiku kembali ke rumah memang terasa sangat melegakan.
"Master, apa yang terjadi hingga Anda kembali secepat ini?"
Lif yang segera menghampiriku malah menanyaiku tanpa mengucapkan kata 'Selamat Datang' terlebih dahulu.
Akan aku hukum dia nanti.
"Bukan hal besar. Karena waktuku hanya sedikit, aku tidak bisa berlama-lama di sini"
Mengalihkan kembali perhatianku pada aku memastikan untuk tidak melewatkan ekspresi dari Lif yang terkejut ketika menyaksikan Percy membawa sekitar kurang lebih 30 gadis baru. Terlebih salah satunya adalah seekor kadal yang mengenakan Bikini Armor dengan banyak senjata di punggungnya serta mulutnya di kekang dan di lehernya terdapat rantai yang terhubung dengan Staff yang aku bawa.
Baiklah, fokus...
Menggunakan aku mengubah isi interior dari basemen milikku.
Lantai pertama adalah lantai khusus Pelayan dan itu tidak akan aku sentuh. Lantai kedua tampaknya sudah penuh sesak akan tahanan... Tahanan?
Oh iya, Hutan Barrier!
Heh, ternyata aku bisa dapat bahan percobaan sebanyak ini. Betapa beruntungnya diriku ini. Sisihkan itu, aku memindahkan mereka semua ke lantai ketiga dan seterusnya karena lantai kedua akan aku ubah.
Aku lalu mengubah struktur dari lantai kedua yang awalnya adalah ruang tahanan menjadi seperti kamar kos-kosan yang nyaman untuk ditinggali.
Aku juga sudah membuatkan ruang untuk kamar mandinya, lengkap dengan toilet serta sumber air. Aku membuatnya sebagai kamar mandi untuk umum sehingga mereka bisa menggunakannya bersama.
Sekarang yang aku butuhkan adalah perabotan...
"Quin!"
"Master, apakah Master memanggil?"
"Buatkan perabotan dan semacamnya untuk lantai kedua basemen. Buat saja interiornya mirip seperti kamar penginapan bagi gadis-gadis ini. Pastikan satu kamar mampu menampung 5 orang, serta buatkan juga perabotan di kamar mandi umum yang telah aku siapkan"
"Baik, akan hamba laksanakan"
"Oh, dan kalau sudah tolong buat semacam toko khusus di luar hutan. Kalau kau tidak sanggup, aku izinkan kau menggunakan uangku untuk menyewa tukang kayu dari Kota Gata"
"Ah, Master. Perihal itu saya mendapatkan surat dari Walikota..."
Singkatnya, berkat para pengungsi dari Narsist Kingdom yang berdatangan, membuat pihak Kota Gata terpaksa bertindak dengan membuatkan sebuah perkemahan sementara di luar gerbang. Rencana mereka selanjutnya adalah untuk membangun perkampungan di dekat Hutan Ibis.
Mereka beralasan kalau kampung itu nantinya akan digunakan sebagai persinggahan sekaligus pusat dagang untuk para Petualang yang hendak menjelajah Dungeon milikku.
"Begitu... katakan kepadanya aku akan mengizinkannya untuk membangun kota baru sekalipun. Asalkan aku diberikan sebuah lahan yang besar untuk mendirikan sebuah bisnis di sana. Bebas pajak tentunya"
"Baik, akan saya sampaikan... Tapi, kalau boleh tahu, bisnis macam apa yang ingin Master dirikan?"
"Prostitusi"
"Maaf?!"
Tampaknya Lif akhirnya paham kenapa aku membawa banyak budak perempuan bersamaku.
Setelah memerintahkan Lif untuk mengurus para perempuan itu dan mengirim Quin untuk segera mengerjakan pekerjaan yang aku perintahkan, aku segera menuju altar untuk melakukan [Summoning Magic]... Lebih tepatnya adalah sihir pertama dari [Demonic Magic] yaitu...
"Wahai engkau yang termakan oleh nafsu"
"Wahai engkau yang dimabukkan oleh nafsu"
"Wahai engkau yang dibutakan oleh nafsu"
"Wahai engkau yang menyebarkan hawa nafsu"
"Wahai engkau yang tidak lagi bisa berpisah dengan nafsu"
"Engkau adalah simbol dari nafsu"
"Engkau adalah perwujudan dari nafsu"
"Datanglah kepadaku"
"Dengarkanlah titahku"
"Datang dan tunduklah kepadaku"
(Devil Summoning)
Lingkaran sihir di atas altar lalu mengeluarkan cahaya keunguan yang menyilaukan. Bersamaan dengan itu, deretan obor yang biasanya akan berkobar dengan api kebiruan kini menyala oleh api hitam yang seolah menelan segala cahaya.
Menahan rasa sakit di kepalaku, aku menyaksikan sosok yang muncul dari dalam lingkaran sihir.
"Terima kasih telah memanggilku♥ Wahai tuanku♥"
Apa yang muncul adalah seorang gadis muda dengan wajah yang sangat imut. Tidak seperti imut pada anak-anak, keimutan yang dia miliki tampak sensual dan menggoda.
Rambutnya berwarna merah marun dengan gaya twin tail. Matanya yang berwarna merah darah juga memiliki pupil vertikal sama seperti diriku.
Fitur lainnya yang mengatakan dengan jelas menunjukkan kalau dia bukanlah Manusia adalah telinganya yang lancip sama seperti ras Elf. Di tambah lagi dia juga memiliki taring mungil yang tajam di mulutnya serta sepasang sayap kelelawar yang tumbuh di bagian bawah pinggangnya. Terakhir, terlihat juga sebuah ekor yang tampak seperti cambuk yang ujungnya berbentuk seperti hati yang tumbuh di bagian belakangnya.
Pakaian yang dia kenakan adalah pakaian paling sensual yang pernah aku lihat. Jauh lebih sensual jika dibandingkan denga Bikini Armor yang sekarang sedang di gunakan oleh si kadal.
Mengenakan semacam kemeja putih lengkap dengan dasinya, namun karena kekurangan bahan atau apa, kemeja yang dia kenakan hanya kurang dari setengahnya hingga bagian bawah dadanya yang ranum terlihat jelas karena dia tampaknya juga tidak mengenakan daleman.
Untuk bagian bawah tubuhnya, dia hanya mengenakan apa yang disebut sebagai ****** ***** seksi berwarna hitam yang hampir transparan.
Hal ini membuat tato berbentuk hati yang berada tepat di bagian atas *********** terpampang jelas untuk dilihat.
Terakhir, dia tidak mengenakan sepatu atau semacamnya. Itu mungkin karena dia memang tidak memerlukannya dikarenakan gadis yang ada di hadapanku ini mampu melayang di udara dengan cara mengepakkan sayap kecilnya.
Kurasa dari penjelasan ini saja, kalian sudah bisa menebak apa yang sebenarnya telah aku panggil.
"Wahai tuanku♥ Tolong anugerahkan hambamu ini dengan sebuah nama♥"
"Hmm... Baiklah, mulai sekarang namamu adalah Milim"
"Terima kasih atas nama yang telah tuanku berikan♥ Mulai sekarang hambamu ini akan dikenal sebagai Milim♥"
Name : Milim
Race : Devil (Succubus), Female (???)
Occupation : Familiar (Lavender), Courtesan
Active Skill :
[Black Magic 20] [Darkness Magic 30] [Abyss Magic 50] [Demonic Magic 20]
[Dream Magic 30] [Slave Magic 30] [Odalisque 50]
Passive Skill :
[Magic Knowledge 20] [Magic Researcher 30] [Magic Expert 50] [Sexual Knowledge 20]
[Sexual Activist 30] [Mana Sight 20] [Levitation 20] [Magic Eye : Charm 30] [Dance 20]
Benar sekali, apa yang aku panggil adalah seorang Succubus.
Sebagai ras yang dikenal sebagai iblis nafsu, memanggilnya dan menjadikannya sebagai bawahanku adalah sebuah langkah penting untuk bisa mewujudkan rencanaku dengan lebih mudah.
"Karena kontraknya sudah diresmikan... Yaay♥ Akhirnya aku bisa jadi bawahan seorang Demon♥♥♥"
"Tadi kau terdengar serius sekarang kau terdengar kekanak-kanakan"
"Mau bagaimana lagi tuanku♥ Kau harus berbicara formal saat acara resmi♥"
"Yah, bukan berarti aku tidak paham apa yang kau rasakan"
Seperti yang kalian lihat pada stats miliknya, Milim adalah seorang setan (Devil) yang mana berbeda dari diriku yang adalah seorang Iblis (Demon) walau hanya setengahnya.
Devil adalah sebuah ras yang lebih rendah dari Iblis (Demon).
Dan karena Devil memiliki adat untuk melayani makhluk yang lebih kuat dari mereka, hal ini membuat mereka sering dijumpai melayani Demon sebagai anak buahnya. Hal ini bahkan menjadi sebuah kehormatan bagi mereka.
Hehe... Sebuah ras yang mendedikasikan diri mereka sebagai bawahan dari ras lain. Sungguh sebuah ras yang menarik.
"Jadi♥ Tuanku♥ Apakah alasan utama tuanku memanggilku ada hubungannya dengan gadis-gadis yang ada di sana♥"
"Tentu saja..."
Aku lalu menjelaskan kepada Milim tentang rencanaku yang mana membuat matanya menjadi berbinar.
"...kau boleh saja menggunakan para tahanan di lantai ketiga sebagai peraga. Hanya saja jangan terlalu boros. Ingat! Mereka yang masih perawan harus dijaga keperawanan mereka sampai malam pertama mereka tiba"
"Siiaaappp...♥"
"Juga, Feather, Shy, Vixen... Kemarilah"
Saat aku panggil, tiga orang gadis segera datang ke arahku.
Mereka adalah tiga gadis yang paling menonjol dari semua perempuan yang aku beli. Berurutan, mereka adalah di gadis Flugel, si gadis bangsawan dan si gadis rubah ekor enam.
Feather tampak bergetar ketika berhadapan dengan Milim. Kurasa ini karena ras mereka yang saling berlawanan atau apa, tapi Feather tampaknya sangat takut terhadap Milim melebihi rasa takutnya terhadap diriku.
Shy di sisi lain berusaha untuk menutupi wajahnya dengan rambutnya yang panjang. Aku ingin sekali memotongnya tapi nanti pesonanya akan menurun makanya aku akan menahan diri.
Vixen... apakah gadis ini sudah sehancur itu? Dari tadi dia diam saja dengan tatapan kosong di matanya. Yah, selama dia masih menyahut saat di panggil kurasa dia tidak apa-apa.
"Mereka akan menjadi tiga gadis utama di toko yang akan aku buka nanti. Berikan mereka perhatian lebih dan latih mereka lebih keras dari yang lain"
"Tentuuu sajaaaa♥"
Setelah itu aku membiarkan Milim untuk bekerjasama dengan Lif untuk menangani para gadis itu.
Karena aku sudah cukup lama berada di sini, aku harus segera kembali atau nenek akan marah. Tapi, sebelum itu...
"Sechs!"
"Master memanggil?"
"Apakah barang drop dari Naga kemarin masih ada?"
"Tenang saja, material dari Naga kemarin masih banyak. Saya saja bahkan masih belum menyelesaikan Armor baru untuk Percy seperti yang Master pinta"
"Bagus, aku ingin kau membuatkanku senjata seperti pedang dan perisai ini..." aku lalu menunjukkan dan kepada Sechs yang lalu dia perhatikan sebentar sebelum akhirnya mengangguk "...aku juga ingin kau membuatkan satu set Bikini Armor untuk kadal itu beserta semua senjata di punggungnya"
"Apakah dia budak Master yang baru?"
"Aku akan senang kalau kau menyebutnya sebagai Peliharaan"
"Oke, Baiklah!"
"Oh, sekalian..." aku lalu menunjukkan "...apakah kau bisa meniru Skill dari cambuk ini?"
"Hmm... bisa saja. Tapi karena harus coba-coba, pasti bakal ada produk yang gagal"
"Tidak masalah. Kalau sudah selesai, serahkan kepada Milim yang ada di sana"
"Gadis melayang yang bersama dengan kak Lif? Tentu saja!"
Baiklah, karena semua urusanku di sini telah selesai... Oh, aku masih harus mengambil sebuah \ agar si kadal itu bisa dengan mudah menyimpan semua senjata miliknya.
Sudah. Sekarang, bersama dengan Percy dan si kadal, aku segera kembali ke Ferox Kingdom.
...
Hari sudah sore saat aku kembali ke penginapan.
Apa yang menantiku adalah Nenek yang tengah menikmati teh di sebuah restoran yang di belakangnya terdapat Zweite beserta si kembar yang bertugas sebagai pengawalnya.
Nenek menatap tajam kepada si kadal yang aku biarkan merangkak layaknya anjing sebelum Nenek mengalihkan tatapannya kembali kepadaku.
"Memangnya Nenek ingin aku bagaimana?"
"Kurangilah penderitaannya atau setidaknya biarkan dia berdiri dan berjalan seperti orang pada umumnya"
"Aku baru akan melakukan itu ketika kadal ini sudah menunjukkan kegunaannya kepadaku"
"Aku akan pegang kata-katamu itu. Juga, sekalian panggil dia dengan namanya jika saat itu sudah tiba"
"Hah... Baik"
Dasar Nenek. Aku tahu kalau kadal ini sejatinya adalah kenalan lama Nenek. Tapi, Hah... Sudahlah. Aku turuti saja daripada Nenek marah nantinya.
Sekarang aku berpikir kembali. Kenapa aku bisa sekasar ini kepada si kadal? Apakah karena dia tidak mau menurut padaku? Jika aku memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih sayang, maka lambat laun... Itu kan yang kalian harap untuk aku lakukan? Maaf saja, tapi aku ini tidak akan pernah tiba-tiba menjadi baik atas alasan yang tidak jelas.
Aku memperlakukan si kadal begini karena dia susah untuk dibilangi dan suka melawan. Coba kalau dia menurut saja, aku pasti akan memperlakukannya lebih baik daripada yang sekarang.
"Duduklah, aku sudah memesankan makanan. Setelah makan cepat tidur karena kita akan berangkat pagi-pagi sekali"
"Baik..."
...
..
.
Subuh menjelang pagi hari.
Kami sudah menaiki kereta milikku dan keluar dari... Apa nama kota ini tadi? Taurus? Benar, pagi-pagi sekali pada saat kebanyakan orang masih tertidur kami sudah melaju keluar dari Kota Taurus menuju destinasi kami yang selanjutnya.
Percy dan Zweite kembali bertugas untuk bergantian mengendalikan kuda. Sementara si kembar duduk di belakang kereta sebagai pengawal.
Di dalam kereta hanya ada aku dan Nenek... Atau itulah yang aku harapkan.
"Kenapa kadal ini harus duduk di dalam kereta?"
"Ini adalah hukuman karena bukannya tidur kau malah begadang semalaman"
"Mau bagaimana lagi! Aku harus mencoba cambuk baruku! Juga, aku punya [Sleepless] jadi seharusnya tidak apa-apa kan?"
"Justru [Sleepless] itu adalah Skill yang tidak seharusnya kau miliki!"
Selagi aku diceramahi oleh Nenek, si kadal yang sekarang duduk di samping Nenek dalam diam sambil matanya memperhatikan kami.
Yah, memang sih dia diam karena mulutnya aku kekang.
Tapi aku bisa melihat kelegaan di wajahnya. Apakah karena kadal itu tidak perlu lagi diseret di belakang kereta seperti sebelumnya atau karena keberadaan kawan lamanya? Aku tidak tahu dan tidak peduli.
Yang jelas cambukku telah menunggu karena berkatnya sekarang aku kena omel oleh Nenek.
Setelah dua atau tiga hari perjalanan, kereta kami di paksa untuk berhenti.
Alasan kenapa kereta berhenti tiba-tiba adalah karena kerumunan orang yang sekarang sedang menutup jalan di hadapan kami.
"Cepat turun dari kereta dan serahkan semua harta yang ada!"
Bandit!!! Akhirnya ada Bandit!!!
Ahh... aku tidak sabar untuk turun dan menghajar mereka...
"Lavender..."
"Ya, ada apa?"
"Janjimu"
Tch, sialan.
Membuka pintu kereta, aku menendang si kadal keluar. Meski terjatuh di atas tanah dengan keras, kadal itu dengan cepat berdiri dan menyiapkan senjatanya. Apa yang dia ambil adalah sepasang kapak kembar.
Tampaknya dia menjadi sangat bersemangat karena tahu akan janjiku dengan Nenek.
"Oh! Lihat ini... mereka mengirim kita seekor Lizardman!"
"Hahaha... belum lagi dia hanya sendiri"
"Hei lihat! Dia adalah seorang budak!'
"Waduh... ini harus langsung bunuh atau kita nikmati terlebih dahulu"
Tidak memedulikan perkataan klasik para bandit, aku menghitung setidaknya ada lebih dari 50... Semua anggota mereka adalah Manusia yang mana aneh karena kami sekarang berada di Ferox Kingdom...
"Perlengkapan mereka bagus. Mustahil Bandit memiliki perlengkapan seperti itu"
"Nenek benar...Yah, itu tidak mengubah akan apa yang akan terjadi pada mereka"
Melihat ancaman yang datang, jelas Pelayanku yang lain tidak tinggal diam.
Si kembar segera turun dari kursi belakang dan bergabung dengan si kadal. Percy juga turun dari kursi kusir dan berdiri di barisan paling depan. Sedangkan Zweite langsung menyiapkan panahnya dan naik ke atas kereta agar dia bisa melihat medan tempur dengan lebih mudah.
"Kalian... Bunuh semua bandit itu!"
""!SIAP!"" "Hmph!"
...
Walau ini tidak akan membuatku bebas, tapi setidaknya perjanjian yang Cardinal buat dengan cucu Iblisnya itu akan membuatku diperlakukan lebih manusiawi lagi.
Mengambil kedua kapak kembar yang baru aku miliki, aku memegangnya di kedua tanganku. Walau ini akan menjadi pertama kalinya bagi diriku untuk bertarung dalam wujud Manusia, tapi dengan Skill pasif yang aku miliki,
setidaknya itu akan membantuku dalam menangani senjata yang aku pegang.
Belum lagi aku masih bisa menggunakan sihir.
Walau [Abyss Magic] jelas bukanlah pilihan karena efeknya yang terlalu berbahaya bahkan bagi diriku sendiri, tapi sihir lainnya masih bisa aku gunakan dengan leluasa.
Bersama dengan para Golem Pelayan, aku pun maju ke medan pertempuran.
(Curse Weapon)
Membuat kedua kapak yang aku pegang menjadi senjata terkutuk untuk sementara waktu, aku melesat maju melewati Percy yang baru hendak menggunakan Skillnya.
...(Taunt)
Dengan perhatian pada bandit teralihkan kepada Percy, membuat bandit yang ada di hadapanku tidak mampu menanggapi seranganku yang datang kepadanya.
Dengan satu ayunan, membawa kapakku mengenai pundak kanannya lurus melewati dada hingga hampir membelahnya menjadi dua.
Bekas luka yang terbuka lebar tiada hentinya menyemburkan darah segar yang mengenai diriku dan para bandit yang ada di sekitarnya.
"AAaaAAAAAAAAaaaaa....!!!"
Suara jeritan terdengar dari seorang bandit yang terkejut mendapati rekannya tewas begitu saja.
Aku tidak membuang waktu dan lanjut menyerang dengan kedua kapakku.
Berkat kutukan yang aku letakkan pada senjataku, membuat semua luka yang terbuka mustahil untuk tertutup dan darah akan selalu mengalir darinya. Ya, bukan berarti aku bisa melihat efek ini karena semua bandit yang aku
serang akan selalu tewas seketika.
"Heiii... Jangan main sendiri!" "Heii... Kami juga mau ikut!"
Si Golem kembar tanpa aku sadari sudah berada di dekatku. Dengan senjata masing-masing mereka mulai menggila.
(Quick Slice) (Whirlwind)
Trita mengayunkan pedangnya dengan cepat menebas semua bandit satu-persatu. Sedangkan Vier mengayunkan Halberd miliknya dengan cepat hingga menebas siapapun yang berani mendekatinya.
Meremukkan tengkorak dari bandit yang berani berdiri di belakangku dengan ekorku, aku segera mengganti senjataku menjadi sebuah Greatsword dan kembali melanjutkan pembantaianku.
"Mereka gila!"
"Kita tidak akan bisa menang, mun..."
Belum sempat orang itu menyelesaikan perkataannya, sebuah anak panah telah bersarang di tengkoraknya.
Menggunakan (Shadow Switch) aku bergerak menuju bagian belakang barisan para bandit dan memotong jalur pelarian mereka.
Tampak mengetahui tujuanku, Zweite yang berdiri di atas kereta segera menembakkan anak panahnya ke samping kanan dan kiri para bandit. Anak panah yang dia lepaskan lalu mengenai pohon... Hah? Apakah dia meleset?
(Gatling Arrow) (Wooden Stakes)
Dari pohon yang terkena anak panah, muncul pasak-pasak kayu yang membuat barikade alami yang membuat para bandit untuk mustahil kabur ke dalam hutan.
...baru pertama kali ini aku tahu kalau [Wood Magic] bisa diaplikasikan seperti ini.
"Sial! Bantai saja mereka!"
Dengan jalan kabur mereka telah terpotong, para bandit yang tersisa tidak punya pilihan lain selain bertarung sampai akhir.
Hal itu membuat setidaknya sepuluh bandit datang menerjang langsung ke arahku berharap agar bisa membuka jalan dengan cara menumbangkanku.
Jangan harap!
(Darkness Stake)
Hanya dengan satu sihir, aku berhasil menusuk setengah dari mereka dengan pasak kegelapan yang mana langsung merenggut nyawa mereka.
"Dasar Lizardman sialan! (Heavy Slash)"
"Jangan harap kau bisa lolos dari ini! (Sharp Edge)"
"Dasar anak kecil! (Axe Crusher)"
Menghadapi serangan yang datang, aku hanya diam di tempat dan menyambutnya secara langsung. Menggunakan Greatsword milikku sebagai perisai, aku sukses menahan setiap serangan dari ketiga bandit itu. Tidak hanya itu, aku juga sempat mengaktifkan (Darkness Aura) yang mana menyelimuti seluruh tubuhku dengan aura kegelapan yang juga meningkatkan kekuatan serta pertahanan diriku.
Belum lagi... (Cursed Touch)!
Kutukan mengalir kepada siapapun yang menyentuh atau aku sentuh. Yang mana membuat ketiga bandit itu terkena kutukan yang memiliki efek untuk merenggut kekuatan mereka.
"Ugh... Apa ini?"
"Kekuatanku..."
"Aku... Akh..."
Dengan mereka yang melemah dan aku yang menjadi lebih kuat, mudah saja bagiku untuk menghabisi mereka.
...
Menyaksikan dari dalam kereta, aku dan Nenek melihat dengan jelas bagaimana para Pelayanku dan kadal itu dengan mudahnya membereskan para bandit itu.
"Walau dirinya telah kehilangan sebagian besar kekuatannya, Naga tetaplah seekor Naga"
"Yah... Harus aku akui dia kuat"
"Bicara soal kuat, aku lihat para Pelayanmu itu menjadi lebih kuat jika dibandingkan saat pertempuran sebelumnya. Bukankah Golem seharusnya tidak bisa tumbuh lebih kuat dari saat pertama kali mereka diciptakan?"
"Apakah Nenek tidak tahu? Kau bisa memperkuat Golem dengan cara memberikan mereka (Magic Core)"
"Oh, benarkan? Sebuah penemuan baru. Hebat juga kau bisa mengetahuinya"
"Maaf, aku mempelajari ini dari catatan Paman Dominic"
"...Sialan!"
Selagi Nenek sedang kesal, Glaza yang aku suruh memeriksa sekeliling tiba-tiba saja memberikan sinyal kepadaku untuk segera menggunakan (Vision Sharing).
"Nenek, tampaknya aku telah menemukan sarang bandit itu"