
Ratu para Spirit, Cascade.
Sesaat setelah beliau memasuki ruang perjamuan, semua orang terpana akan parasnya yang cantik jelita.
Baik itu laki-laki maupun perempuan tidak ada yang bisa menolak pesona yang di pancarkannya.
Semua orang yang berada di hadapannya segera menyingkir dan memberikan jalan kepadanya.
Dengan langkahnya yang anggun, beliau berjalan menuju ke depan panggung tempat di mana Pangeran Lapelis beserta istri dan anak-anaknya berada.
Melihat Ratu para Spirit berdiri di hadapan mereka, Pangeran Lapelis dan Putri Canary segera membungkuk dan memberikan hormat yang sedalam-dalamnya.
"Terima kasih yang paling dalam karena Anda telah berkenan untuk datang ke perjamuan putri-putri kami tercinta"
Mendengar perkataan Pangeran Lapelis, Ratu Cascade hanya mengangguk singkat sambil tersenyum.
Meski hanya sekilas, namun senyumannya mampu untuk membuat semua yang melihatnya seolah pergi ke khayangan karena kecantikannya.
Dengan langkahnya yang tenang bagaikan air yang mengalir dan anggun bagaikan sebuah bunga yang menari terkena hembusan angin, Ratu Cascade berjalan menghampiri sepasang bayi kembar yang sedang terlelap.
Melihat sepasang bayi yang di balut oleh selimut putih yang lembut, Ratu Cascade kembali menampilkan senyuman yang memesona.
Perlahan, beliau membungkukkan badannya dan mencium kening kedua bayi kembar yang masih hanyut dalam alam mimpi.
Sebagai Ratu para Spirit, setiap kecupan yang diberikan oleh Ratu Cascade setara dengan berkah yang diberikan oleh para Dewa dan Dewi.
Sepanjang sejarah yang pernah tercatat, hanya keluarga kerajaan yang beruntung saja yang bisa menerima berkah dari Ratu para Spirit.
Bahkan Pangeran Lapelis dan Pangeran Velforger saja tidak menerima atau pernah melihat ada orang yang beruntung menerima berkah dari Ratu Cascade.
Dan sekarang, di hadapan para Raja dan bangsawan dari seluruh benua, Ratu Cascade memberikan berkahnya kepada sepasang bayi kembar yang terlahir dari pasangan Locals dan Otherworlder.
Perlu dicatat, kalau kedatangan Ratu Cascade pada malam hari ini adalah sebuah kejutan bagi semua orang.
"Terima kasih banyak, atas kebaikan Anda kepada putri-putri kami"
Dengan air mata kebahagiaan mengalir di wajahnya, Canary yang tahu betapa beruntung putri-putrinya karena telah menerima berkah dari seorang Ratu para Spirit.
♪Tak perlu berterima kasih♪
♪Cukup besarkan mereka menjadi pribadi yang baik dan rendah hati♪
♪Itu sudah lebih dari cukup♪
Suaranya yang bagaikan nyanyian bidadari membuat siapa pun terhanyut mendengarnya.
Setelah kembali memberikan terima kasih yang sedalam-dalamnya, Pangeran Lapelis dan Putri Canary melihat Ratu Cascade berbalik dan berjalan menuruni panggung.
Setelah menuruni panggung, Cardinal dan Rosemary yang sedari tadi menunggu kembali berjalan di belakang Ratu Cascade sebagai pengawal dan mengiringinya untuk pergi meninggalkan pesta perjamuan.
Sama seperti saat beliau datang, saat beliau pergi pun masih membuat banyak orang terpana.
Namun, berbeda dari sebelumnya. Ratu Cascade berhenti secara tiba-tiba.
Banyak orang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, sampai akhirnya mereka menyadari kalau Ratu Cascade sedang menatap ke arah seseorang.
Orang itu adalah Turbo.
Terlihat dari wajahnya kalau dia juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tidak memedulikan orang-orang yang ada di sekitarnya, Ratu Cascade hanya tersenyum sebelum akhirnya menoleh ke belakang.
♪Wahai pemimpin para Penyihir, Cardinal♪
♪Pergilah ke Hutan Ibis, di sana kau akan menemukan apa yang kau cari selama ini♪
Mendengar titah yang diberikan oleh Ratu Cascade yang tiba-tiba, Cascade menjadi terdiam sebelum akhirnya bersujud sambil berkata "Sesuai titah Anda!".
Tidak berhenti sampai di situ, Ratu Cascade kembali berucap.
♪Headmaster dari Guild Iron Sword, Turbo♪
♪Bimbinglah Cascade ke dalam Hutan Ibis dan beritahukan segala yang engkau ketahui kepadanya♪
Turbo yang juga mendapat titah dari Ratu Cascade secara spontan meniru Cardinal dengan segera bersujud sambil berkata "Sesuai titah anda!".
Setelah itu Ratu Cascade kembali berjalan meninggalkan tempat perjamuan sambil ditemani oleh Rosemary.
Meski dia khawatir dengan neneknya, tapi karena ini adalah titah langsung dari Ratu Cascade, maka tidak ada yang bisa dia perbuat.
Sedangkan Cardinal dan Turbo baru berdiri setelah yakin kalau Ratu Cascade telah benar-benar pergi.
Setelah itu ruangan menjadi ramai oleh perbincangan tentang apa yang baru saja terjadi.
Berkat itu Raja Viridi sibuk berusaha untuk mengendalikan suasana.
Di sisi lain, Cardinal yang ditinggal sendiri segera menghampiri Turbo dan memperkenalkan dirinya.
"Saya adalah Pemimpin dari Sol Ciel, Cardinal La Ciel, senang berkenalan dengan Anda"
"Perkenalkan juga, Headmaster dari Guild Iron Sword, Turbo. Sungguh sebuah kehormatan untuk berkenalan dengan Anda"
Setelah saling berkenalan, Cardinal pun segera meminta Turbo dan Sisteen untuk meninggalkan perjamuan lebih awal dan segera pergi menuju Hutan Ibis.
Karena ini adalah permintaan, atau lebih tepatnya Quest yang diberikan langsung oleh seorang Ratu para Spirit, maka mereka bertiga pun segera diberikan izin untuk pulang lebih awal.
...
Setelah mengemasi semua barang-barang yang mereka miliki, Turbo, Sisteen dan Cardinal pun segera berangkat menuju Kota Gata sebelum akhirnya pergi menuju Hutan Ibis.
Saat mereka berada di depan landasan pacu tempat Wyvern mereka menunggu, Sisteen teringat akan sesuatu.
"Ketua, bagaimana caranya kita kembali? Wyvern kita hanya muat untuk dua orang kan?"
"...Ah!"
Turbo dan Sisteen datang dengan menggunakan seekor Wyvern yang dimiliki oleh Guild Iron Sword.
Mereka meletakkan pelana di atas punggung Wyvern dan menungganginya bagaikan menunggangi seekor kuda.
Meski Wyvern secara fisik sangat kuat, namun pelana yang terpasang di punggungnya hanya mampu untuk menampung dua orang.
Berbanding terbalik dengan Turbo dan Sisteen yang tampak kesulitan, Cardinal dengan santainya berkata.
"Tidak apa-apa, tubuh ini cukup kecil sehingga kita bertiga bisa menunggangi Wyvern yang sama. Juga..."
Cardinal lalu merogoh ke dalam tas pinggangnya yang kecil sehingga lebih tampak seperti ikat pinggang dengan kantung.
Cardinal lalu mengeluarkan sebuah pelana yang berhiaskan permata dan jelas dibuat khusus dengan bahan terbaik yang membuatnya tampak seperti pelana yang biasa dipakai oleh keluarga bangsawan.
Selain modelnya yang mewah, ukurannya juga cukup besar sehingga bisa memuat setidaknya tiga sampai empat orang di atasnya.
"Dengan ini tidak akan ada masalah kan?"
...
Di atas langit malam yang berbintang, terdapat seekor Wyvern sebesar lima meter yang berwarna hijau tua terbang dengan gagahnya di angkasa.
Di punggungnya terdapat sebuah pelana besar yang berhiaskan permata yang berkilau bagaikan Kilauan bintang di langit.
Turbo berada di bagian paling tengah sedang memegang tali kekang yang memungkinkannya untuk mengendalikan Wyvern yang mereka kendarai.
Di belakangnya terdapat Sisteen yang dengan erat memeluk pinggang Turbo dan tampak sangat menikmatinya. Itu terlihat jelas dari wajahnya yang penuh dengan senyuman ditambah dengan rambutnya yang berkibar karena ditiup angin menambah kecantikannya.
Duduk di bagian paling depan terdapat Cardinal yang dengan santainya menikmati langit malam. Tubuhnya yang kecil bagaikan gadis berusia lima belas tahun ditambah dengan pelana besar yang di pakaikan kepada Wyvern membuatnya mampu duduk bertiga seperti ini.
Karena topi kerucutnya terlalu besar dan menghalangi penglihatan Turbo yang ada di belakangnya, Cardinal dengan terpaksa menyimpan topinya ke dalam tas pinggangnya yang adalah sebuah .
Tidak ada yang berbicara, mereka hanya duduk diam sambil menikmati pemandangan langit malam.
Membutuhkan waktu setidaknya satu setengah hingga dua hari untuk mencapai Drakon Kingdom jika menggunakan Wyvern.
Selain karena lokasi kedua kerajaan yang saling berjauhan, terdapat sebuah kerajaan bernama Ferox Kingdom yang memisahkan kedua kerajaan tersebut.
Oleh karena itu, mau tidak mau mereka harus melewati Ferox Kingdom terlebih dahulu sebelum akhirnya bisa mencapai Drakon Kingdom.
Waktu telah berlalu, langit malam telah digantikan oleh matahari yang bersinar di angkasa.
Mereka bertiga telah sampai di wilayah Ferox Kingdom dan berniat untuk beristirahat terlebih dahulu.
Mereka singgah di sebuah kota yang bernama Kota Feder.
Kota tersebut terletak di sebuah dataran tinggi dan merupakan kota yang mayoritas penduduknya adalah Beastman dengan tipe burung. Oleh karena itu, sesampainya kau di sana kau akan melihat banyak sekali Beastman tipe burung yang beterbangan dengan bebas di angkasa.
Setelah mendaratkan Wyvern mereka di salah satu landasan pacu yang telah disediakan, mereka bertiga pun segera mencari sebuah penginapan untuk beristirahat selama sehari.
"Jadi, apakah ada sesuatu yang harus diriku ketahui sebelum kita mencapai Hutan Ibis?"
Cardinal yang telah selesai menyantap makan siangnya dan sekarang sedang menikmati makanan penutup bertanya kepada Turbo yang berada di hadapannya.
Turbo yang juga sudah selesai makan segera menjawab pertanyaan dari Cardinal.
Bermula dari keanehan yang terjadi di Hutan Ibis, kemunculan seorang Forest Dwellers, dan beberapa kejadian lainnya yang berhubungan dengan Forest Dwellers tersebut.
Turbo juga memberikan ciri-ciri dan nama dari Forest Dwellers tersebut sekaligus fakta kalau dia memiliki paras yang sama dengan cucu Cardinal, Rosemary.
Cardinal yang mendengar semua itu tampak terhanyut dalam pikirannya sendiri.
Tidak lama kemudian, dia berkata.
"Begitu yah..."
Hanya itu yang dia katakan. Turbo dan Sisteen yang melihat ini tidak tahu harus berkata apa dan hanya terdiam menatap Cardinal tidak mengatakan apa pun lagi dan hanya menyantap makanannya dalam diam.
Hari telah berlalu, karena Turbo dan Sisteen harus Log Out mereka segera menyelesaikan semua urusan yang mereka miliki dan segera kembali Log In. Meski agak terlambat, sekarang mereka telah kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Beberapa waktu telah berlalu, matahari telah kembali berganti menjadi rembulan saat akhirnya mereka sudah mendekati kota Gata.
Hal pertama yang seharusnya mereka lihat adalah pemandangan sebuah kota yang diterangi oleh cahaya obor. Namun, apa yang mereka lihat adalah sebuah pemandangan yang jauh berbeda.
"Apa-apaan itu?!"
"Oh, jadi engkau juga tidak tahu apa-apa?"
"Ya, sebelum kami berangkat semua masih normal"
Apa yang mereka lihat adalah pemandangan sebuah hutan yang sangat luas. Normalnya hutan itu akan menjadi sangat gelap di malam hari sehingga kau tidak akan bisa melihat apa pun.
Namun, apa yang mereka lihat adalah sebuah hutan yang bersinar dengan cahaya violet yang terang menderang.
Baik itu batang, daun, hingga rumputnya memancarkan cahaya hingga membuatnya tampak seperti pertunjukan lampu yang sangat mewah.
Melihat ini, Cardinal pun menggumamkan sesuatu.
"Ya ampun, apa sih yang anak itu lakukan"
Karena suaranya yang kecil, Turbo dan Sisteen tidak bisa mendengarnya.
Merasa keadaan cukup genting, dengan lihai Turbo mengarahkan Wyvern yang dia tunggangi menuju sebuah Mansion yang menjadi markas bagi Guild Iron Sword.
...
Pada pagi harinya, di kantor Walikota kota Gata.
Terdapat empat orang yang berada di ruangan itu, pertama adalah Walikota Lambert Von Gata selaku pemilik ruangan sekaligus orang terpenting di kota ini.
Yang kedua adalah Headmaster dari Union yang mengatur semua Petualang yang berada di kota Gata, Headmaster Alfred.
Ketiga adalah Headmaster dari Iron Sword, Turbo.
Yang terakhir adalah Pemimpin dari Sol Ciel, Cardinal La Ciel.
Dari penampilan, Cardinal adalah orang termuda di ruangan ini. Namun, sebenarnya dialah yang tertua. Bahkan Walikota Lambert yang sudah berumur lebih dari lima puluh tahun harus berbicara dengan penuh rasa hormat kepadanya.
Alasan kenapa mereka semua berada di sini adalah untuk membahas tentang apa yang terjadi pada Hutan Ibis.
Setelah Walikota Lambert dan Headmaster Alfred menjelaskan semua yang mereka ketahui, Cardinal tampak mendapatkan pencerahan.
"Begitu, jadi begitu... Kalian berkata kalau dia muncul bersamaan dengan datangnya Otherworlder kan?"
"Benar, Penyihir Lavender pertama kali menampakkan dirinya dua minggu setelah gelombang ketiga dari Otherworlder datang"
Setelah mengkonfirmasi apa yang telah Turbo beritahukan sebelumnya, Cardinal pun kembali bertanya.
"Juga, kejadian ini baru-baru saja terjadi kan?"
"Benar, perubahan yang terjadi para Hutan Ibis baru terjadi dua hari yang lalu"
Seketika wajah Cardinal menampakkan sebuah senyuman yang terlihat imut sekaligus membuat merinding.
Melihat ini, Lambert, Alfred dan Turbo tampak kebingungan sekaligus merasakan rasa takut menjalar di tubuh mereka. Mereka tidak tahu apa yang Cardinal pikirkan namun mereka bisa merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Jadi, Walikota Lambert. Apakah engkau ingin agar wargamu bisa memasuki Hutan Ibis lagi?"
Walikota Lambert pun mengangguk. Hutan Ibis menyimpan banyak material berharga. Selain itu, kau juga bisa mendapatkan drop dari Mobs yang hidup di dalam hutan. Kehilangan akses ke dalam hutan telah berakibat buruk terhadap roda perekonomian di kota Gata.
Oleh karena itu, Walikota Lambert berharap agar sebisa mungkin kembali mendapatkan akses ke dalam hutan Ibis.
"Baiklah, setelah ini aku akan langsung menuju Hutan Ibis. Alfred dan Turbo akan ikut denganku, tidak ada yang keberatan kan?"
Semua orang mengangguk setuju terhadap usulan Cardinal.
Tidak lama kemudian, berdiri di depan gerbang kota terdapat Cardinal yang berpakaian Penyihir putih lengkap dengan topi kerucut yang agak kebesaran serta di tangannya terdapat sebuah Staff kayu yang jauh lebih tinggi darinya.
Di sampingnya ada Turbo yang sekarang memakai pakaian khas Petualang. Dia mengenakan Armor berwarna cokelat tua yang memiliki motif seperti sisik kadal pada permukaannya. Di pinggangnya terdapat sebuah broadsword yang gagangnya tampak terbuat dari perunggu.
Meski tampak biasa saja, pedang tersebut memiliki ketajaman luar biasa yang sanggup memotong kulit (Stone Lizard) dengan sekali tebas.
Mengikuti mereka adalah Headmaster Alfred.
Meski dia sudah pensiun sebagai Petualang dan sekarang bekerja sebagai seorang Headmaster. Tapi kemampuannya masih belum berkurang sedikit pun.
Dengan sebuah Armor baja yang menutupi seluruh tubuhnya, ditambah dengan sebuah Greatsword dengan panjang melebihi 1.8 meter membuatnya tampak sangat mengintimidasi.
Kombinasi mereka bertiga sudah cukup untuk membuat semua orang yang hendak keluar atau pun memasuki kota untuk berhenti dan melihat mereka bertiga dengan penuh kekaguman dan tanda tanya.
Tanpa memedulikan semua perhatian yang tertuju pada mereka, mereka pun berjalan menuju ke arah Hutan Ibis yang telah banyak berubah.