A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 52 : Tower of Challenge



Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada di tempat ini, tapi aku merasa sudah lewat sehari semenjak aku datang ke kota ini.


Nama kota ini adalah kota Herausforderung... Jangan tanya bagaimana cara mengejanya karena aku sendiri saja tidak tahu.


Kota ini terkenal akan sebuah menara yang berdiri tepat di pusat kota yang menurut legenda siapapun yang berhasil menaklukkan menara itu, maka dia akan mendapatkan harta dan kekuatan yang melimpah.


Nama dari menara tersebut adalah Tower of Challenge.


Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan menara tersebut di bangun. Dikatakan menara tersebut sudah ada jauh sebelum kota ini di bangun.


Sejauh ini hanya ada dua orang yang disebut-sebut telah menaklukkan menara itu.


Yang pertama dikatakan telah menjadi seorang Kaisar yang berkuasa atas seluruh benua. Sementara orang kedua dikatakan telah menjadi seorang Penyihir Agung yang kekuatan sihirnya tidak tertandingi di seluruh benua.


Yup, aku tidak tahu namanya yang sebenarnya, tapi orang kedua sudah sangat jelas adalah leluhurku.


Oh, kalian ingin tahu dari mana aku mengetahui semua informasi ini? Itu mudah. Aku hanya singgah ke bar dan bertanya-tanya sambil minum bersama para penduduk kota ini.


Dari mereka aku juga berhasil mengetahui kalau mereka awalnya adalah Manusia biasa yang tinggal di dunia biasa dan bukan tempat mengerikan seperti ini dengan penampilan layaknya iblis.


Mereka hidup normal setiap harinya sampai suatu malam mereka tiba-tiba saja terbangun di tempat ini dan penampilan mereka kian lama kian bermutasi karena terpapar udara tempat ini yang tampaknya beracun bagi Manusia biasa.


"Ngomong-ngomong. Wajah Nona tampak asing. Apakah Nona baru di sini?"


"Oh, sebuah pertanyaan yang aneh bagi penjaga bar sepertimu. Apakah kau tidak pernah mendapatkan pelanggan baru sebelumnya?"


"He he. Inilah yang terjadi ketika kau terperangkap di kota yang sama selama ratusan tahun lebih. Mau tidak mau kau akan menghafal wajah semua orang"


"..."


Yah, itu masuk akal.


"Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku bisa sampai kesini. Yang aku tahu aku harus pergi ke menara itu jika mau keluar dari sini"


"Hahaha... Coba saja! Semua Satria dan Petualang yang ada di kota ini telah mencoba untuk menggapai puncak menara! Mau tahu bagaimana hasilnya? Mereka turun sebagai makhluk tak berakal seperti yang ada di luar sana!"


Jadi begitu.


Makhluk yang sebelumnya aku lawan bisa saja para Penantang yang gagal dan berakhir menjadi seperti itu hingga di asingkan ke luar kota.


Setelah itu aku tetap tinggal di kota ini selama beberapa hari.


Banyak informasi yang aku dapatkan. Namun aku jadi bertanya-tanya... apakah tidak apa-apa seperti ini? Aku sudah berjanji pada Nenek untuk menyelesaikan masalahku dalam tiga hari. Ini sudah lewat tiga hari!


Hah... mau bagimana lagi.


Terburu-buru juga bukanlah pilihan. Kurasa aku hanya bisa minta maaf setelah semua ini selesai.


"Baiklah, kurasa sudah saatnya aku menantang menara itu"


Tidak ada seorang pun yang menjaga pintu masuk menara. Yang ada adalah hanyalah sepasang patung batu yang berbentuk seperti anjing. Aku coba perhatikan lebih seksama, semakin aku yakin kalau mereka tidak akan bergerak secara tiba-tiba dan menyerangku.


Baiklah... mendorong pintu masuk yang terbuat dari baja hitam yang tebal, pintu menara terbuka sedikit cukup bagiku untuk masuk ke dalam.


Slam!


Dan.... Pintunya tertutup sendiri. Klasik.


Interior menara ini tampak seperti sebuah aula yang sangat luas. Terdapat tiang-tiang yang berdiri seolah menopang menara ini agar tidak runtuh. Seluruh ruangan hanya diterangi oleh obor yang menyala redup yang hanya mampu menerangi sebagian kecil tempat ini.


Satu-satunya tempat yang menyala terang adalah bagian tengah ruangan yang terdapat obor yang di susun melingkar mengelilingi sebuah figur yang hanya berdiri di sana dalam diam.


Yup, baru masuk sudah ketemu bos.


Ini memang tidak terelakkan.


Itu dikarenakan konsep dari menara ini adalah melawan musuh sekelas bos di setiap lantainya.


Tidak ada jebakan, tidak ada labirin rumit, hanya melawan bos dari awal sampai akhir.


Menara ini memiliki total 100 lantai...


Sisihkan itu dulu, bos yang berdiri di hadapanku berwujud seperti seorang satria yang mengenakan zirah besi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Di punggungnya terdapat sebuah pedang yang dua kali lebih panjang dari tubuhnya.


Satria tersebut tiba-tiba saja bergerak dan mengambil senjata di punggungnya.


(Darkness Restraint)!


Tali-tali kegelapan muncul dari balik bayang-bayang dan menahan satria itu di tempatnya. Tanpa menunggu reaksinya, aku langsung menembakinya dengan (Dual-Casting) (Light Lance). Sepasang tombak cahaya muncul dan terbang tepat ke wajah satria itu.


"Kau serius!"


Satria itu hanya menggerakkan lehernya sedikit dan dia berhasil menghindari dua tombak cahaya yang terbang ke arahnya.


Tidak sampai di situ, satria itu hanya maju selangkah dan (Darkness Restraint) yang seharusnya menahannya langsung hilang begitu saja.


(Aero Press)


Aku mencoba menahannya dengan menggunakan tekanan udara namun satria itu hanya terlihat sedikit membungkuk dan masih mampu bergerak dengan mudahnya.


(Ground Hole)


...tidak bekerja!?


(Stakes Wave)


...tidak bekerja juga?!


(Root Bind)


...kau bercanda!!?


Tidak punya waktu lagi, aku menggunakan (Shadow Switch) untuk bergerak di dalam bayang-bayang demi menghindari satria itu yang telah mengayunkan pedang besarnya ke arahku.


Berhasil menghindari serangan yang datang, aku muncul kembali jauh dari satria itu berada dan langsung menembakkan (Light Burst) yang meledak tepat di wajah satria itu.


Melihat satria itu bermandikan cahaya, aku lanjut mengaktifkan (Flaming Ground) yang langsung membakar tempat satria itu berpijak.


Sebagai sentuhan terakhir, aku menembakkan (Space Crack) hanya untuk memastikan.


"...Kau bercanda!!!?"


Bahkan setelah segala yang aku keluarkan, satria itu tampak baik-baik saja. Memang terdapat goresan di sana-sini, tapi itu tidak ada bedanya dengan mengatakan kalau seranganku tidak efektif padanya.


Dengan ini aman mengatakan kalau info yang aku kumpulkan ternyata benar adanya.


Musuh di sepuluh lantai pertama punya ketahanan tinggi terhadap serangan sihir.


Kembali menggunakan (Shadow Switch) untuk menghindari serangan yang datang, aku mencoba memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari situasi ini.


Sebagai seorang Penyihir murni, aku tidak punya satu pun metode untuk menyerang secara fisik. Biasanya aku akan mencoba menggunakan (Stone Armament) atau (Wooden Armament) dalam situasi ini.


Sayangnya mereka sama sekali tidak bisa digunakan di dalam ruangan ini.


Berkat ini sihir utamaku jadi tidak berguna dan aku terpaksa harus melawannya dengan sihir seadanya.


Pada saat aku sibuk menghindar, tidak sengaja aku tersudut ke salah satu tiang penyangga. Tentu aku kembali menggunakan (Shadow Switch) untuk menghindari pedang yang berayun ke wajahku. Luput dari targetnya, pedang


milik satria itu menghantam tiang penyangga dengan keras dan berhasil menghancurkannya dalam sekali tebas.


Drtrtrtrttr...!!!!


Tidak ada lagi yang menjadi penyangga, bebatuan di atas tiang penyangga berguguran dan menimpa si satria dengan keras hingga membuatnya tidak bisa bergerak untuk sementara waktu.


"...!?"


Di saat asap dan debu menghilang, yang ada adalah si satria dengan zirah yang tertutup debu dan dihiasi penyok di sana-sini.


"Oh.... Jadi begitu rupanya"


Masih ada banyak tiang yang berdiri dengan kokohnya. Bahkan tanpa perlu aku jelaskan sekalipun kalian pasti akan langsung paham apa yang akan aku lakukan sekarang kan?


...


"Dan... tamat sudah riwayatnya"


Terkubur di bawah reruntuhan batu, aku menyaksikan ruangan yang luluh lantak bagai bangunan terlantar. Tidak di sangka aku harus merobohkan lebih dari setengah tiang yang ada. Tapi karena tidak ada cara lain, ini memang mesti terjadi.


Hal yang aku sayangkan adalah aku tidak mendapat apa-apa dari semua ini. Bahkan jika aku diberikan Armor atau Pedang satria itu maka aku akan senang. Sayang mereka terkubur di bawah tumpukkan batu yang entah kenapa


tidak bisa aku gerakkan bagaimanapun aku berusaha.


Di tengah ruang yang gelap gulita, muncul sebuah lingkaran sihir yang menyala terang.


Lingkaran teleportasi?


Menginjakkan kakiku di atasnya, tiba-tiba saja tubuhku terselimuti oleh cahaya terang dan aku merasakan perasaan seolah sedang melayang di udara sebelum akhirnya aku tidak lagi terselimuti oleh cahaya dan di hadapanku terdapat sebuah pemandangan yang baru.


"Kali ini kawasan berbatu yah... ?!!"


[Sixth Sense] ku bereaksi dan aku segera bersembunyi di balik bebatuan.


Whoooosh...!!! ...clang!


Melewati tempat aku berdiri sebelumnya adalah sebuah anak panah yang di cat hitam. Anak panah itu menciptakan percikan api ketika menghantam permukaan batu yang keras.


Jadi begitu. Yang pertama satria kini adalah pemanah jitu yah.


Sama seperti yang sebelumnya, ruangan ini hanya diterangi oleh cahaya obor dengan posisi yang saling berjauhan sehingga hanya sedikit tempat di mana cahaya bisa mencapai.


Di tengah ruangan yang gelap gulita, aku dipaksa untuk menghadapi seorang pemanah jitu yang punya ketahanan tinggi terhadap sihir.


...saatnya AOE!


(Dual-Casting) (Fire Pillar)


Dua buah pilar api menjulang tinggi yang menerangi sekitarnya dengan jelas. Kembali menghindari panah yang ditembakkan, aku berhasil menemukan targetku.


Menggabungkan kedua sihir, aku berhasil menciptakan sebuah terpaan angin yang membawa hawa panas yang menyala merah seolah itu adalah sebuah tabir api yang menyelimuti lebih dari setengah ruangan.


Seranganku sukses mengenai si Pemanah yang menjadi bos di lantai ini.


Si pemanah mencoba menahan tabir api dengan jubah bertudung yang dia kenakan. Hasilnya dia sukses menghindari luka yang parah.


Tahu kalau ini memang tidak akan menyakitinya, aku mengaktifkan sihir yang awalnya tidak bisa aku gunakan di lantai pertama.


(Root Bind)


Berkat lantai ruangan ini yang adalah tanah biasa, aku berhasil menumbuhkan akar menjalar yang sukses menjerat si pemanah dengan erat hingga membuatnya mustahil untuk meloloskan diri.


Menggunakan [Psychokinesis] aku mengangkat batu besar yang ada di sampingku tinggi di udara.


Sukses membuat pemanah penyek, aku kembali melangkah ke atas lingkaran sihir yang muncul dan menghantarku ke lantai selanjutnya.


Di lantai ketiga.


Apa yang menantiku adalah hutan yang lebat... dan tentu saja, gelap.


(Nature Manipulation)


Tanpa perlu menunggu lama, batang serta akar pohon yang aku gerakkan sukses menjerat sebuah keberadaan yang aku rasakan mencoba bersembunyi di tengah rimbunnya hutan.


Berani melawanku di dalam hutan. Dasar bodoh.


Dengan sedikit Gerakan, aku membuat akar pohon yang menahan Boss lantai ini bergerak menuju kepala si Boss dan langsung memelintirnya.


Sebelum masuk ke dalam lingkaran sihir yang muncul di hadapanku, aku mengintip sedikit penampilan dari Boss lantai ini.


"Assassin toh"


Puas, aku lanjut menuju lantai berikutnya.


...


Lantai keempat merupakan sebuah area dengan tebing yang curam.


Boss di lantai ini merupakan seorang pria kekar dengan jaket dari bulu beruang. Dia menyerang dengan cara melempar bongkahan batu dari jarak jauh.


Aku mengalahkannya dengan cara melempar balik batu yang dia lempar.


...


Lantai kelima.


Semacam dojo dengan ratusan hingga ribuan senjata yang berserakan di atas lantai.


Bossnya adalah seorang Samurai dengan Armor khas samurai dan mampu menggunakan semua senjata yang ada di ruangan ini... atau itu yang aku bisa duga.


Mau bagaimana lagi.


Aku langsung menggunakan [Psychokinesis] untuk melemparinya dengan semua senjata yang ada yang mana langsung mengubahnya menjadi seekor landak.


...


Lantai keenam.


...ini selokan kan?


Boss di sini adalah seorang gembel dengan pisau di tangannya. Gerakannya sangatlah lincah yang membuatnya sulit untuk di tebak hingga dirinya sanggup untuk melukaiku walau aku telah berusaha untuk menghindar dengan


sekuat tenaga. Yang paling menyebalkan adalah racun yang ada di pisaunya.


Jika bukan karena [Poison Resistance] yang aku miliki serta (Cure Heal) yang mampu menyembuhkan racun, nyawaku pasti akan berada dalam bahaya.


Aku baru berhasil mengalahkannya setelah menggunakan kombo (Aqua Prison) untuk menahan si Boss sebelum akhirnya aku melemparkannya ke dalam air got yang dalam lalu menggunakan (Ice Control) dan (Combine-Ice Wall)


untuk membekukan seluruh permukaan air yang mana membuat si Boss terjebak di dasar air yang membuatnya mati tenggelam.


...


Lantai ketujuh.


Kali ini adalah sebuah desa dengan rumah-rumah yang terbuat dari kayu dan beratapkan jerami.


Boss yang aku lawan adalah seorang petani tua lengkap dengan topi jerami dan cangkul di tangan.


Oh, kau anggap dia lucu?


Hahaha... aku juga sama. Sampai itu bajingan mulai bersiul dan memanggil ratusan banteng bertanduk besar yang menerjang langsung ke arahku secara bersamaan.


Si petani? Dia telah bersembunyi entah di mana saat aku sedang sibuk menghindari banteng yang dia panggil.


Tidak peduli berapa kali aku membasmi banteng-banteng yang ada, mereka terus saja muncul seolah tidak ada habisnya.


Aku masih bisa mendengar suara siulan si Petani yang terus saja memanggil pasukan bantengnya. Kurasa sekarang tampak lebih tepat untuk menyebutnya sebagai seorang penggembala ketimbang petani.


Walau suaranya terdengar jelas, namun wujudnya tetap tidak tampak.


Aku baru berhasil menemukannya setelah menggunakan (Nature Rush) yang secara instant membuat area ini menjadi sebuah Kawasan hutan yang lebat.


Si bangsat ternyata bersembunyi di bawah tanah.


Kesal, aku memelintir badannya menggunakan akar pohon bagaikan sedang mengeringkan kain yang basah.


...


Lantai kedelapan.


Kali ini aku berada di area perkotaan.


Yang harus aku lawan kali ini adalah seorang kesatria yang bersenjatakan pedang dan perisai. Aku tidak melihat ada yang spesial darinya.


Kesatria itu mulai berlari ke arahku dengan kecepatan sedang. Armornya yang berat membuatnya mengeluarkan suara nyaring saat dia bergerak.


Aku tidak tahu kemampuan spesialnya dan aku tidak ingin mencari tahu.


(Root Bind)


Akar tanaman tumbuh dari bawah jalanan yang di paving dan menjerat si kesatria... dan tentu saja itu tidak akan menahannya lama.


Seolah akar-akar itu tidak berarti, kesatria itu terus saja melaju sambil merobek akar yang seharusnya menahannya hanya dengan kekuatan fisiknya semata.


(Ground Hole)


Berharap dia terjatuh, kesatria itu melompat tinggi ke udara dan berhasil menghindari lubang yang tercipta di atas tanah. Tidak hanya itu, kesatria itu sekarang berhasil mendarat tepat di hadapanku.


Menggunakan (Shadow Switch) aku menyelam ke dalam bayang-bayang dan muncul kembali jauh di belakangnya.


Sekarang, mari kita lihat sekeliling sejenak.


Jika ini sama seperti Boss-Boss sebelumnya, pasti terdapat satu atau dua trik untuk mengalahkannya.


Serangan sihir secara langsung jelas bukan pilihan. Aku harus menggunakan serangan fisik untuk bisa mengalahkannya.


Aku sekarang beda di area perkotaan.


Selain bangunan rumah yang kebanyakan terbuat dari bata dan kayu, aku tidak melihat adanya hal lain yang sekilas tampak berguna.


Kembali menggunakan (Shadow Switch) aku kembali menjauh dari kesatria yang datang menyerang.


Hmm... haruskah aku membuatnya gepeng di bawah reruntuhan seperti di lantai pertama? Namun kali ini bukan tiang melainkan satu rumah utuh.


Baiklah, kurasa aku akan gunakan cara itu saja.


Menggunakan (Nature Manipulation) aku menumbuhkan pohon raksasa di bagian bawah rumah-rumah yang ada dan mengangkatnya tinggi ke udara. Sementara itu, aku juga menggunakan (Metal Wall) untuk menghambat si kesatria untuk sementara waktu.


Pada saat kesatria itu berhasil memotong dinding baja yang menahannya dengan menggunakan pedangnya, dia sudah berada tepat di bawah rumah-rumah warga yang aku angkat tinggi ke udara.


Drtrtrtrtrrtrtrt.... Booom!!!!


Karena terdapat lingkaran sihir yang muncul di hadapanku, aman mengatakan kalau kesatria itu sudah tamat terkubur di bawah reruntuhan rumah.


...


Lantai kesembilan.


Kali ini aku muncul di dalam sebuah ruangan yang dari mana pun kau melihatnya, ini adalah kamar tidur. Lebih tepatnya lagi ini adalah kamar tidur penginapan.


Hmm... membuka pintu yang ada di hadapanku, aku masuk ke dalam sebuah ruang makan dengan meja kayu yang penuh dengan makanan yang hangat seperti baru keluar dari dapur.


"Hahaha.... Akhirnya ada penantang baru"


Duduk di bangku kehormatan, adalah seorang pria tua yang hanya bertelanjang dada dan memamerkan tubuhnya yang kurus dan renta.


"Apakah kau Boss lantai ini?"


"Dan apa yang membuatmu berpikir begitu?"


"Karena sejak lantai pertama aku selalu diserang oleh pria sepertimu"


"Hahaha... maafkan mereka, mereka hanyalah bayangan dari para pahlawan yang gugur menentang pembangunan menara ini"


"Kalau begitu, siapakah kau gerangan?"


"Aku, aku adalah orang yang merancang menara ini"


"Oh, dan sekarang kau terjebak di menara rancanganmu sendiri?"


"Hahahaha...... kau gadis yang tidak tahu sopan santun. Mari duduk. Mari kita bicara"


Tidak punya pilihan, aku duduk di bangku di seberangnya tanpa menurunkan kewaspadaanku.


"Pertama, mari kita bicara tentang Ayahmu yang menahan semua orang yang ada di kota ini"